28 September 2012
Batik Sebagai Identitas Bangsa Indonesia
Batik adalah ekspresi budaya yang memiliki makna simbolis dan nilai estetika yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Keunikan yang indah itu membentuk karakter bangsa yang membedakan dengan bangsa lain sehingga dapat menjadi jati diri bangsa.
Lala Palupi Santyaputri Mahasiswa UPH memperhatikan koleksi batik Tati Suroyo

 

Sepekan lagi masyarakat Indonesia akan memperingati hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober. Hal tersebut ditetapkan pemerintah agar seluruh masayarakat Indonesia menyadari dan turut menghargai warisan budaya leluhur Indonesia.

 

 

Batik adalah ekspresi budaya yang memiliki makna simbolis dan nilai estetika yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Keunikan yang indah itu merupakan salah satu pembentuk karakter bangsa Indonesia yang membedakan kita dengan bangsa lain sehingga dapat menjadi identitas dan jati diri bangsa.

 

 

”Kalau dulu bagi sebagian besar  orang Indonesia, batik hanya pantas digunakan pada kesempatan tertentu saja. Seperti untuk upacara adat, pada saat pernikahan, atau acara –acara resmi, maka sekarang penggunaan batik semakin meluas, bahkan pada masyarakat perkotaan, dimana identitas sulit digali, semakin banyak orang yang mengenakan batik dalam berbagai kesempatan dan waktu,” demikian demikian diungkapkan Lala Palupi Santyaputri, dosen Desain Komunikasi Visual pada FDTP UPH, pada kesempatan bedah buku Isen-Isen dalam Batik Tati Suroyo, di kampus UPH.

 

 

Batik bukan hanya untuk orang Jawa, atau untuk kalangan tertentu saja. Setiap orang dari berbagai suku dan kelas, kini merasa bangga menggunakan batik. ”Makna batik kini mengalami pergesaran,” tambah Lala.

 

 

Lala mengutip teori yang dikemukakan Stuart Hal mengenai identitas. Menurut Hall: identitas merupakan persoalan hak untuk menjadi diakui. Ini ada dalam masa depan dan masa lalu. Identitas bukan sesuatu yang sudah terbentuk dan tidak bisa berubah, tetapi  ini terus berubah sesuai berjalannya waktu. Jadi ini menyangkut kemampuan untuk beradaptasi dengan ruang dan waktu.

 

 

Menurut Lala, pergeseran makna batik sebagai identitas, terjadi dalam masayarakat kita. Misalnya di jaman penjajahan, batik membedakan orang pribumi dengan non pribumi. Dulu batik dipakai untuk membedakan kelas sosial seseorang, atau menunjukkan asal daerah seseorang. Tetapi kini makna batik sebagai identitas mengalami pergeseran dari lingkup daerah ke lingkup nasional, bahkan internasional. Misalnya, batik menunjukkan identitas orang Indonesia, batik juga berkolaborasi dengan dengan material lainnya sehingga unsur tradisional menjadi modern, yang dikenal dengan budaya hybrid. Dari segi fungsi juga mengalami pergeseran. Kalau dulu batik untuk baju, kemudian bergeser ke interior, bahkan kini bergeser ke product desain. Lala mencontohkan dalam sebuah lelang, ada mobil yang dicat khusus dengan corak batik. Atau casing handphone dengan corak batik.

 

 

Keberadaan batik sebagai identitas dan warisan budaya bangsa Indonesia semakin diakui sejak ditetapkannya batik sebagai world heritage oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Dan disambut oleh pemerintah Indonesia dengan ditetapkannya 2 Oktober sebagai hari batik nasional. Dengan demikian dalam perkembangan ini ada peran pemerintah, masyarakat, dan  organisasi dalam masyarakat.

 

 

Lala menutup penjelasannya dengan statement bung karno: negri kita kaya, kaya, kaya raya, berjiwa besarlah, berimajinasi, gali bekerja, gali bekerja, kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia. ”Memang indonesia kaya dan saya percaya bukan hanya batik, tapi masih banyak hal-hal lain yang bisa kita gali dari budaya Indonesia,” kata Lala mengakhiri presentasinya. Selamat memperingati hari batik nasional. (rh)


 

UPH Media Relations