Our Graduates

We are proud of our alumni! They are the fruits of our labour and they are our future leaders. Read some of their stories!

Alumni Update.

Ketika kita punya keyakinan akan arah yang kita tuju sebagai passion dan jalan hidup kita maka itu menjadi kompas kehidupan kita
Calvin Khoe
Associate Researcher Main Campus

Pentingnya Mengetahui Passion sejak Awal


Surrendered to God, Faith, Persistent, Resilient dan mengetahui passion menjadi kunci bagi seorang Calvin Khoe, Alumni Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, 2014 yang kini tengah berkarir sebagai Associate Researcher di Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Berlandaskan prinsip tersebut Khoe, begitu biasa dia dipanggil, berhasil menyelesaikan studinya di HI UPH dan mendapatkan berbagai penghargaan, diantaranya sebagai delegasi terbaik se-Indonesia dari Universitas Indonesia dalam Indonesia Model United Nations 2015 dan penghargaan dari Harvard University dalam Harvard National Model United Nations 2016. Pengalaman ini juga yang memantapkan langkahnya berkarir di bidang Hubungan Internasional.

Baginya bekerja memerlukan visi yang jelas untuk mengerti apa yang ingin dicapai melalui karier. Tentunya kematangan visi dan keyakinan akan passion-nya tidak diperolehnya begitu saja. Ia mengaku, berkuliah di Hubungan Internasional UPH juga turut berperan mematangkan passionnya. Mulai dari kualitas pendidikan HI UPH yang memiliki kelas internasional dan fokus studi Asia Tenggara, dengan pendekatan kawasan/regional mampu membekalinya dengan wawasan yang luas. Tidak hanya itu, baginya UPH mendorong mahasiswa untuk aktif berkarya melalui kompetisi, konferensi, dan juga dalam organisasi mahasiswa. Sebagai kampus, Khoe melihat UPH merupakan kampus yang mendukung serta mendorong mahasiswanya untuk aktif diberbagai kegiatan.

Khoe juga bercerita bahwa selama menjadi mahasiswa banyak pengalaman menarik di UPH, beberapa di antaranya yakni berkontribusi dalam membentuk sistem pelatihan diplomasi jurusan dan membentuk UPH Model United Nations Community bersama mahasiswa HI UPH lain yang bertujuan untuk melatih pola pikir, menulis, dan bicara para mahasiswa di luar teori yg didapatkan di kelas. Tidak hanya itu, ia juga menjadi salah satu inisiator pembentukkan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) chapter UPH yang menjadi fasilitator bagi mahasiswa agar dapat bertemu dengan korps diplomatik dan dunia pemerintahan.

Dari seluruh pengalaman yang didapatnya di UPH akhirnya memberikan kepercayaan diri Khoe untuk berkecimpung di area hubungan internasional Indonesia. Khoe pernah bekerja sebagai assistant researcher dan personal staff untuk perwira tinggi di Lemhannas RI dan pernah ditugaskan di Canberra, Australia dalam urusan penelitian akan kerjasama pertahanan Indonesia dan Australia. Tidak hanya itu, dia juga dipercaya sebagai research staff langsung bagi Dr. Dino Patti Djalal (mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, mantan Dubes Indonesia untuk AS, dan mantan penasihat dan juru bicara Presiden RI) di samping mendampingi Dr. Dino dalam kunjungan luar negeri dan meng-organisasi kegiatan konfrensi.

Tentunya karir yang diraihnya hingga saat ini tidak terlepas dari kerja keras dan jejaring yang dibangunnya sejak dini. Dia sadar sebagai individu dengan latar belakang keluarga yang tidak bersentuhan dengan politik atau pemerintahan, karirnya harus dibangun sejak dari bangku kuliah. Hal ini dimulai dari menjadi delegasi Model United Nations conferences, staff reporter relawan di DPR-RI, intership di Kementerian Luar Negeri dan menempati posisi sebagai research assistant di Lembaga Ketahanan Nasional RI (Lemhannas RI).

Berangkat dari pengalaman studi dan kariernya, Khoe berpesan kepada para mahasiswa UPH, khususnya kepada para lulusan yang akan menghadapi persaingan dunia kerja mengenai pentingnya memiliki visi dan mengetahui panggilan hidup sejak awal, pola pandang yang luas, kemauan untuk membangun jejaring koneksi, tahan banting, dan berhati besar dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. (mt/tm)

Graduated Year: December 2018
Keluarga punya peran yang sangat besar dalam keberhasilan saya. Mereka sangat mendukung dan memberikan semangat. Mereka sumber kekuatan saya dan inspirasi saya
Maria Rahajeng
Public Figure Main Campus

Tak hanya cantik, Maria juga memiliki prestasi akademis yang patut dibanggakan. Ia lulus dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif 3,7. Selama kuliah dia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti mengikuti kontes Miss UPH Scholar 2011, Program Student Exchange, dan menjadi delegasi Indonesia untuk APEC Voices of The Future pada tahun 2013 di Bali. Tekadnya membawa nama Indonesia ke ajang dunia menjadi kenyataan setelah terpilih sebagai pemenang Miss Indonesia 2014.

Kepada Alumni Relations UPH, Maria menceritakan kesan-kesannya selama kuliah di UPH, hingga pengalaman terpilihnya sebagai Miss Indonesia 2014. Kuliah di UPH memberikan pelajaran dan pengalaman luar biasa. ”Saya bisa mengembangkan diri dan lebih percaya diri. Dosen di UPH tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga dekat dengan mahasiswa dan sangat membantu mahasiswa. Kegiatan organisasi kemahasiswaan seperti ajang Miss UPH Scholar membuat saya mengenal potensi saya dan lebih percaya diri,” kata Maria. ”Sebelumnya saya tidak pernah memikirkan bisa ikut kontes Miss Indonesia. Saya banyak dimotivasi dan didukung oleh senior saya Astrid Elena, yang sudah lebih dulu menjadi Miss UPH Scholar 2009 dan Miss Indonesia 2011. Dia banyak membantu dan menginspirasi saya,” kesannya. Menurutnya suasana global kampus sangat terasa di UPH. Bertemu dan berteman dengan mahasiswa dari negara lain seperti Korea, German, AS, dan Belanda sangat menambah wawasan. It’s global community. Saya juga mendapat kesempatan ikut program student exchange ke German, di Elmenau University.

Meskipun dia hanya sempat mengambil 6 kredit, namun ilmu dan pengalaman yang diperolehnya sangat bermanfaat. Diantaranya belajar untuk dewasa, mandiri, berani berpendapat dan berdebat. Meskipun bersama mahasiswa dari berbagai negara, di Jerman saya hampir tidak mengalami kesulitan. Selain itu saya memang sudah belajar bahasa Jerman. Dan saya membangun networking dengan teman-teman Jerman serta dari negara lain,” paparnya. ”Banyak nilai-nilai yang ditanamkan selama kuliah di UPH, diantaranya saya harus memiliki good plan, kerja keras, supel, dan spirit in God. Saya percaya nilai-nilai itu memimpin saya meraih masa depan,” akunya.

Dalam menjalankan tugas sebagai Miss Indonesia saya harus banyak persiapan, termasuk belajar banyak tentang Indonesia. Diakhir kesempatan interview Maria berpesan untuk teman-teman UPH, supaya terus semangat, berusaha keras dan percaya pada Tuhan, jangan mengandalkan diri sendiri. Berserah pada Tuhan dan Dia akan membimbing kamu. (rh)

Graduated Year: June 2009
Bioteknologi merupakan bidang keilmuan yang mempengaruhi kehidupan banyak orang dan dapat digunakan untuk tujuan mulia. Saya meyakini Bioteknologi memiliki prospek internasional dan terus berkembang. Begitu juga Bioteknologi UPH terus berkembang dan tidak ketinggalan di dunia internasional.
Danny Laurent
Mahasiswa Program Doktor Main Campus

Lulusan Bioteknologi UPH Mampu Bersaing di Tingkat Internasional

Danny Launrent, alumni Bioteknologi UPH 2009, satu dari 20% alumni jurusan Bioteknologi UPH yang mengikuti studi lanjut ke jenjang S2. Danny merupakan Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) untuk program Master. Ia berhasil melewati proses dan persaingan yang ketat untuk memperoleh beasiswa program Master di University of Edinburgh (UoE), Scotland, yang merupakan universitas peringkat 21 dunia berdasarkan QS World University Rankings® 2015/16. Tekad dan ketekunannya dalam menjalani studi membuahkan hasil yang memuaskan, dengan lulus tepat waktu dalam 1 tahun dengan IPK konversi 3.75, dan mendapatkan gelar Master of Science in Biotechnology konsentrasi medis, khususnya deteksi kanker. Tidak berhenti sampai di situ, Danny pun mendapatkan beasiswa studi lanjut program Doktor di universitas yang sama, dari pemerintah Indonesia melalui program BPI.

Keberhasilan studinya diakui tidak terlepas dari pendidikan di UPH. ”Bekal ilmu serta gemblengan para dosen di Bioteknologi UPH membentuk saya menjadi mandiri,” kata Danny. Ia menceritakan saat kuliah di Jurusan Bioteknologi UPH tidak hanya fokus pada materi, tetapi juga mengutamakan transferable skill, dimana proses belajar dengan tutorial melatih mahasiswa untuk studi mandiri. ”Fasilitas belajar serta suasana belajar yang kondusif memungkinkan saya melakukan riset, menghasilkan publikasi di jurnal nasional dan konferensi internasional,” tambahnya.

Selain aktif dalam studi, semasa kuliah di UPH Danny berkesempatan 3 kali mengikuti kompetisi Olimpiade Nasional Matematika dan IPA (ON MIPA) bidang Biologi dan berhasil meraih medali. ”Saya yakin prestasi yang saya peroleh di olimpiade, pengalaman penelitian dan publikasi, sangat membantu saya memperoleh beasiswa,” jelas Danny.

Meskipun sistem pembelajaran di UPH dan di University of Edinburgh (UoE) cukup berbeda, namun Danny dapat mengikuti proses belajar dengan baik bahkan mendapatkan hasil memuaskan. “Standard UoE jauh lebih tinggi dari UPH. Di sana sangat mengutamakan orisinalitas dan substansi dari karya ilmiah yang dihasilkan mahasiswa. Hal yang cukup mirip antar UPH dengan UoE adalah keharusan untuk studi independen. Khusus di jurusan Bioteknologi UPH, saya belajar untuk mandiri dan terlibat dalam riset sehingga ketika harus riset mandiri di UoE saya tidak terlalu kaget,” jelas Danny.

Bagi Danny pengalaman berharga dari studi S2 di UoE adalah peningkatan dalam kemampuan analitik, dari segi menganalisis data maupun memulai riset dari nol dan membuat keputusan-keputusan sulit dalam riset. “Saya juga mendapatkan sangat banyak pengetahuan terkini yang belum banyak diketahui, bahkan di kalangan peneliti Indonesia, dan sulit diakses. Selain itu saya juga mendapatkan opini ilmiah dari sudut pandang berbeda yang memperkaya pola pikir saya,” papar Danny yang akan melanjutkan studi program Doktor di UoE bidang deteksi kanker dalam waktu dekat.

Graduated Year: January 2009