Lulusan Kami

Kisah Inspiratif – Cerita Di Balik Kesuksesan Para Alumni UPH

Alumni kami adalah kebanggaan kami! Mereka adalah buah kerja keras kami dan para pemimpin masa depan. Baca sebagian kisah inspiratif mereka!

“Selama saya kuliah di UPH, saya diberikan kesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi matematika di luar kampus. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain itu, saya juga merasakan keakraban dan kebersamaan lintas angkatan yang tinggi dengan teman-teman satu jurusan, bahkan satu fakultas.”

PANJI WIDIARDA RABOWO (MATEMATIKA, 2009)

Corporate Actuary at PT Tugu Reasuransi Indonesia

KISAH INSPIRATIF – PANJI WIDIARDA RABOWO, CORPORATE ACTUARY YANG BEKERJA DENGAN INTEGRITAS DAN PROFESIONALISME

Kecintaannya pada bidang matematika membawa pria dengan nama lengkap Panji Widiarda Rabowo, alumni jurusan Matematika UPH angkatan 2009, menjadi salah satu dari segelintir Corporate Actuary di PT Tugu Reasuransi Indonesia. Sebagai satu-satunya aktuaris yang memiliki gelar FSAI atau kualifikasi seorang aktuaris, Panji – sebagaimana ia disapa, mengakui bahwa tanggung jawab yang diembannya sebagai aktuaris tidak mudah. Tugasnya termasuk pada menjaga dan meningkatkan kualitas data, melakukan perhitungan cadangan teknis, dan menyusun sekaligus menandatangani Laporan Aktuaris tahunan.

“Tugas aktuaris sebenarnya sangat penting. Dalam hal kualitas data, saya harus memastikan kualitasnya baik dan semakin baik agar keputusan yang diambil manajemen berdampak baik pada profitabilitas dan solvabilitas perusahaan. Dan dalam perhitungan cadangan teknis juga penting, karena besarnya cadangan teknis yang dihitung oleh aktuaris akan mempengaruhi profit perusahaan saat ini dan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban klaim di masa yang akan datang,” jelas Panji.

Dalam menjalani kariernya sebagai seorang aktuaris, Panji mengakui bahwa banyak tantangan yang harus dilaluinya. Pertama, ia harus mampu menjaga profesionalitas dan etika profesi. Hasil kerja aktuaris yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan manajemen perusahaan, baik itu berupa hasil perhitungan maupun saran, mengharuskan Panji untuk harus mampu menjaga konsistensi hasil pekerjaannya serta mampu meyakinkan perusahaan bahwa hasil tersebut sudah tepat dan adalah demi kebaikan perusahaan. Kedua, penyesuaian teori dengan aplikasi industri reasuransi. Perbedaan teori dan metode yang ada untuk bisnis asuransi dan reasuransi sering kali tidak dapat langsung diaplikasikan. Maka dari itu, tak jarang Panji harus menyesuaikan dahulu teori dengan bisnis sebenarnya.

Panji merasa beruntung mendapat kesempatan untuk menjalani pendidikannya di UPH, terutama dengan mata kuliah Matematika Keuangan, Matematika Aktuaria, dan Teori Risiko yang disesuaikan dengan mata ujian PAI sehingga ia dapat mempelajari dan menyelesaikan 10 mata ujian PAI dengan lebih cepat. Ilmu yang didapatkannya dari UPH, ditambah dengan profesionalitas yang diterapkannya dalam pekerjaan, ia percaya bahwa semua fasilitas yang didapatkannya ini membantu mendorong kariernya dalam bidang aktuaria.

“Selama saya kuliah di UPH, kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi matematika di luar kampus, baik tingkat propinsi maupun tingkat nasional. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga untuk saya dan teman-teman yang mengikuti kompetisi itu. Selain itu, saya juga merasakan keakraban dan kebersamaan lintas angkatan yang tinggi dengan teman-teman satu jurusan, bahkan satu fakultas,” tutup Panji dengan senyuman.

kisah inspiratif

Lulusan Kami.

Kisah Sukses Lulusan Kami

Saya beruntung mendapatkan beasiswa penuh yang ditawarkan oleh International Teachers College (ITC) UPH. Awalnya, saya ragu untuk menjadi seorang guru, namun, pengalaman yang saya dapatkan – termasuk persahabatan dengan teman sekelas dari berbagai benua, bimbingan dengan profesor yang sangat peduli terhadap mahasiswanya, dan kesempatan magang yang luas – membuat saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya saat ini sekaligus jatuh cinta dengan pendidikan yang ditawarkan oleh UPH. Saya bangga telah berjuang dengan sampai akhir dan menjadi bagian dari alumni ITC UPH
Thomas F Harefa (International Teacher's college 2016)
Life International School Cambodia’s Secondary Principal

A Teacher and A Steward, Thomas F. Harefa Responds to God’s Calling

At such a young age, Thomas Ferdinand Harefa, Alumnus to International Teacher’s College UPH cohort 2016 has been entrusted to be Life International School’s Secondary Principal, a Christian school located at Sihanoukville, Cambodia. This Balikpapan-born principal is responsible to co-lead a diverse international team of Christian educators in creating an optimal learning environment and spiritual climate for their Secondary students, one to which will support the community to meet the school’s vision, mission and expected student outcomes.

“For a Christian school administrator, the most important aspect of leadership is one’s relationship with God. I believe it is important (and to some extent rewarding) to become a ‘Martha’ in handling various things at a time, but the Lord calls us to be a ‘Mary’ — to commune with Him and love Him with all our heart, mind, soul, and strength. I aim to exhibit Christ-like authenticity, accountability, and compassion as a school

administrator. This is only possible through my daily commitment to be under His Word,” Thomas, or so is he known in his day-to-day errand, explains.

‘A smooth sea never made a skilled sailor’, so the saying goes. And the same applies for Thomas in his responsibility as a Secondary Principal. He makes use most of his time juggling day-to-day academic and administrative matters that pertains to our school community. Ranges from setting strategic school-wide policies to pastoral care of the teaching staff. Despite the difficulties however, Thomas believed that the Lord works in all things and has provided meaningful milestones throughout the past academic year.

Furthermore, Thomas believes that education has played in important role in his life. And as an administrator that strives to bring Shalom to wherever God calls him to administer, Thomas is humbled and grateful to have been able to attend UPH for his undergraduate education.

“I was fortunate enough to have attained the full scholarship offered by the International Teachers College (ITC) at UPH. At first, I was hesitant to be a teacher, however, the experience that I was enabled to have – including friendship with classmates across continents, mentorship with caring professors, and purposeful internships – made me fell in love with the high level of meaningful education that was offered. I am proud to have fought the good fight and call myself an alumnus of ITC at UPH,” Thomas closes with a smile.

Tahun Kelulusan: 28/02/2020
Sebagai angkatan pertama di UPH, tentunya banyak pertimbangan saat hendak memilih UPH sebagai tempat studi. Tapi pada akhirnya, saya meyakini bahwa UPH adalah universitas yang sangat memperhatikan kualitas lulusannya. Dimana hal itu tampak pada komitmen UPH dalam dunia pendidikan tinggi, bagaimana interaksi mahasiswa dan dosen, kualifikasi dosen pengajar, serta diikutsertakannya mahasiswa dan orang tua dalam memberikan penilaian terhadap kualitas pendidik serta metode pendidikan yang dirancang dengan baik
Ricky Rizky (Teknik Industri 1994)
Business Development Director at Rayspeed Asia

Ricky Rizky, Business Director Rayspeed Asia Rencanakan, Implementasikan, serta Percepat Proses Akselerasi Perkembangan Human Resource

“Sebagai angkatan pertama di UPH, tentunya banyak pertimbangan saat hendak memilih UPH sebagai tempat studi. Tapi pada akhirnya, saya meyakini bahwa UPH adalah universitas yang sangat memperhatikan kualitas lulusannya. Dimana hal itu tampak pada komitmen UPH dalam dunia pendidikan tinggi, bagaimana interaksi mahasiswa dan dosen, kualifikasi dosen pengajar, serta diikutsertakannya mahasiswa dan orang tua dalam memberikan penilaian terhadap kualitas pendidik serta metode pendidikan yang dirancang dengan baik,” ucap Ricky, salah satu alumni Teknik Industri UPH angkatan 1994.

Saat ini, Ricky – sapaan pria kelahiran Malang ini – menjabat sebagai Business Development Director di Rayspeed Asia, salah satu perusahaan yang menyediakan jasa pengiriman barang secara internasional. Tanggung jawab utama Ricky terletak pada development services, dimana ia dituntut untuk selalu mempelajari perkembangan terbaru dan menyesuaikan jasa yang tersedia dengan cepatnya perkembangan yang terjadi – baik untuk layanan baru maupun yang layanan yang masih berjalan. Dengan dukungan dari orang-orang terdekat, orang tua dan keluarganya, Ricky tetap berpegang untuk bekerja dengan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.

Bagi Ricky, tantangan terbesar yang harus ia taklukkan di era ini terletak pada Human Capital Development. Kemudahan akses terhadap informasi menghasilkan perubahan besar-besaran, terutama dalam kultur tempat kerja. Lingkup pekerjaan yang dulunya sudah diatur secara berkala kini memaksa Ricky untuk mampu menyesuaikan layanan perusahaan dan bahkan merencanakan, mengimplementasi, serta mempercepat akselerasi proses tersebut. Metode baru dalam pengajaran dan training yang tepat saat ini adalah proses yang tidak bisa dikatakan statis namun harus bersifat dinamis.

Ricky bersyukur bahwa pendidikannya di UPH telah memperlengkapinya untuk menjalani tanggung jawabnya hari ini. Terlebih lagi, ia juga percaya bahwa sampai hari ini pun, UPH masih memberikan kualitas pendidikan yang sangat baik untuk mahasiswa/i-nya.

“Saya yakin bahwa UPH masih tetap pada komitmennya diawal dalam bidang pendidikan ini dengan fasilitas laboratorium, perpustakaan, serta dosen-dosen yang berkualitas yang ada. Sangat sayang sekali apabila mahasiswa yang berkesempatan kuliah di UPH tidak memanfaatkan semua resources yang ada itu dengan maksimal. Terutama dalam proses belajar mengajar, sistem dua arah dari awal sudah dibuktikan oleh UPH, dimana dosen dan mahasiswa bisa berdiskusi dan berdebat dalam hal akademis,” tutup Ricky.

Tahun Kelulusan: 26/11/1998
Berkuliah di UPH memberikan banyak kenangan menyenangkan, terutama dalam berbagai macam event seperti UPH Festival maupun acara-acara fakultas selama 4 tahun saya berkuliah. Tetapi hal yang paling berkesan bagi saya adalah menjadi calon ketua senat pada periode 2006 dan bisa aktif bergorganisasi menjadi wakil ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM-UPH). Pengalaman ini memberikan saya bekal yang luar biasa dalam hal bergorganisasi dan bekerja sama dengan berbagai macam karakter orang
Alvin Jufitrick (Arsitektur 2004)
Director for UOB Asset Management Indonesia

Alvin Jufitrick, Alumni Arsitektur UPH 2004, Menjalani Kehidupan yang Berintegritas dan Unggul

Integritas dan spririt of excellence menjadi etos kerja yang selalu diutamakan oleh Alvin Jufitrick, Alumni Arsitektur UPH Angkatan 2004, dalam menjalani kariernya sebagai sebagai salah satu direktur UOB Asset Management Indonesia. Dalam rangkaian kepercayaan yang diberikan kepadanya, terutama dalam bidang distribusi dan pengembangan produk investasi UOB asset management, Alvin dituntut untuk merencanakan dan memperhatikan perkembangan overseas distribution, digital partnership dan alternative investment – tiga area yang membutuhkan perhatian ekstra seiring dengan pengembangan literasi keuangan dan peningkatan kesadaran investasi terjadi secara eksponensial di Indonesia. Alvin percaya bahwa dua nilai tersebut tidak hanya berlaku dalam kariernya, namun juga dalam menjalani kehidupan diluar dunia kerja. Baginya, dua nilai ini turut menjadi cerminan diri seseorang dalam setiap keputusan yang diambil, karena setiap keputusan akan berdampak bagi lingkungan sekitar.

“Menurut saya, menjaga konsistensi dalam pekerjaan dan karir yang selaras dengan nilai-nilai yang saya pegang sangatlah penting karena saya sedang berjuang untuk keluarga dan menjadi pribadi yang berdampak positif bagi sesama. Secara sadar ataupun tidak, setiap keputusan yang kita ambil akan memiliki dampak bagi lingkungan sekitar kita,” ucap Alvin.

Pendidikan yang berkualitas turut mengambil andil dalam kehidupan Alvin hari ini. Dan menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan S1 di UPH merupakan pilihan yang tepat baginya. Reputasi dan fasilitas yang ditawarkan oleh UPH tentu menjadi faktor penting selain dari bagaimana pengalaman berorganisasi yang ia jalani di UPH dulu menjadi bekal bagi kariernya hari ini.

“Berkuliah di UPH memberikan banyak kenangan menyenangkan, terutama dalam berbagai macam event seperti UPH Festival maupun acara-acara fakultas selama 4 tahun saya berkuliah. Tetapi hal yang paling berkesan bagi saya adalah menjadi calon ketua senat pada periode 2006 dan bisa aktif bergorganisasi menjadi wakil ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM-UPH). Pengalaman ini memberikan saya bekal yang luar biasa dalam hal bergorganisasi dan bekerja sama dengan berbagai macam karakter orang,” tutup Alvin

Tahun Kelulusan: 13/03/2009
UPH menurut saya unik, baik dari sisi lingkungan, mahasiswa-mahasiswanya, dan juga cara mengelola jalannya pendidikan. Saya senang dengan perpustakaan UPH yang lengkap dan dosen yang selalu available on-time di kampus
Ni Putu Sri Artati (Teknik Informatika 2001)
Vice President of Performance Measurement at PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Ni Putu Sri Artati, Alumni Teknik Informatika UPH Mengkontribusikan Kemampuannya Untuk Masyarakat Luas

“Perjalanan karir saya hari ini sebetulnya adalah cita-cita sejak remaja. Saya ingin sekali dapat mengkontribusikan kemampuan saya kepada masyarakat luas, terutama setelah saya melihat masih banyak masyarakat yang belum mampu atau belum memiliki akses yang sama untuk pendidikan maupun hal yang lainnya,” kisah Ni Putu Sri Artati, alumni Teknik Informatika UPH angkatan 2001.

Sri, sapaan akrab wanita kelahiran Tabanan, Bali yang kini menjabat sebagai Vice President of Performance Measurement untuk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, secara khusus untuk bidang Direktorat Keuangan & Strategi. Merupakan tanggung jawab Sri untuk mengelola Corporate Performance Management dan berfokus pada analisa kinerja finansial bank, serta membuat pedoman untuk menilai kontribusi unit business, product, branch, dan electronic channels dalam mendorong peningkatan return Bank.

“Perusahaan saya saat ini adalah perusahaan BUMN dan disana saya mendapat kesempatan untuk berbagi pada masyarakat Indonesia karena BUMN diberi mandat untuk tidak hanya run the business namun juga berkegiatan guna mendorong kemaslahatan masyarakat Indonesia,” Sri melanjutkan.

Tentu, kepercayaan yang diberikan kepada Sri hari ini tidak datang tanpa tantangan. Sebagai Vice President of Performance Measurement, ia dituntut untuk mampu berkolaborasi lintas bidang, mencari dan mengembangkan ide-ide baru agar timeline dan kualitas laporan kinerja keuangan terus meningkat, serta menghasilkan analisa dan strategi yang tajam agar perusahaannya dapat terus bersaing secara sehat. Namun dengan selalu mengingat bahwa belajar merupakan bagian dari proses hidupnya, persisten, belajar dari pengalaman, dan juga menghormati adat istiadat di tempat kerjanya, Sri percaya bahwa ia akan terus berkembang.

Bagi Sri, UPH seperti pelita yang berdayaguna untuk sesama. Fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang hijau bukan menjadi fokus utama baginya, namun dalam uniknya persahabatan yang ditemukannya ketika menjalani kuliah.

“UPH menurut saya unik, baik dari sisi lingkungan, mahasiswa-mahasiswanya, dan juga cara mengelola jalannya pendidikan. Selain karena saya senang dengan perpustakaan UPH yang lengkap dan dosen yang selalu available on-time di kampus, saya belajar banyak hal dari teman-teman di UPH, khususnya untuk terus berjuang, pantang menyerah, dan selalu ada jalan untuk survive,” Sri menyimpulkan.

Tahun Kelulusan: 18/03/2005
Dosen-dosen yang ahli dibidangnya serta kesediaan mereka dalam membimbing dan memfasilitasi mahasiswa/i seperti saya untuk berkembang menjadi salah satu alasan saya kembali melanjutkan pendidikan S2 saya di UPH. Saya tertarik untuk memahami pengelolaan SDM karena saya melihat dosen-dosennya memiliki pengalaman yang luar biasa dan saya merasa berada di tempat yang tepat
Mariska Makmud (Hubungan Internasional 2006 & Magister Manajemen 2011)
Regional Human Capital Business Partner (HCBP) at Siloam Hospitals Group

Mariska Makmud, Regional Human Capital Business Partner Siloam Hospitals Group Terus Asah Kemampuan Berpikir Strategis

Bekerja secara jarak jauh tentu memberikan tantangan tersendiri bagi Mariska Makmud, alumni UPH jurusan Hubungan Internasional 2006 & Magister Manajemen 2011. Sejak pertengahan 2007 lalu, Mariska – sapaan wanita kelahiran Jakarta ini – bekerja untuk Siloam Hospitals Group dan saat ini dipercaya sebagai Regional Human Capital Business Partner (HCBP) untuk area Kalimantan dan Sulawesi. Selain dituntut untuk melakukan berbagai improvement dalam human capital agar mencapai Operational Excellence, Mariska juga diharapkan dapat menjadi business partner yang tidak hanya mendukung pimpinan Regional dan pimpinan unit rumah sakit, namun juga memberikan masukan dalam penerapan kebijakan dan prosedur human capital disetiap unit Siloam di area Kalimantan dan Sulawesi. Maka dari itu, Mariska terus mengasah kemampuannya dalam berpikir strategis agar dapat mendukung dan memfasilitasi pimpinan regional serta direktur unit rumah sakit secara maksimal.

“Saya pribadi sangat menjunjung sikap profesionalisme dan integritas dalam menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya saat ini. Saya yakin bahwa untuk menjadi pribadi yang unggul dalam pekerjaan, saya harus menjadi contoh bagi human capital unit agar apa yang mereka lakukan juga sesuai dengan nilai yang benar. Selain itu, saya percaya empati dan kepedulian juga penting. Saya ingin dapat terus menghargai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap orang dan berorientasi pada development mereka agar dimanapun mereka ditempatkan, mereka dapat memberikan layanan yang terbaik terhadap setiap orang yang datang, terlepas dari jabatan kami masing-masing,” kisah Mariska.

Mariska tidak pernah menyesali keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di UPH. Baginya, UPH tidak hanya menjadi tempat yang tepat untuk belajar, namun juga untuk bertumbuh. Dengan banyaknya organisasi kemahasiswaan dan kegiatan character building, Mariska merasakan betul karakternya terasah melalui berbagai aktivitas seperti mentoring, tutor, serta program character building. Dan terlebih penting, pengalaman dibimbing oleh dosen-dosen yang ahli dibidangnya menjadi alasan pendidikan Mariska di UPH begitu berkesan.

“Dosen-dosen yang ahli dibidangnya serta kesediaan mereka dalam membimbing dan memfasilitasi mahasiswa/i seperti saya untuk berkembang menjadi salah satu alasan saya kembali melanjutkan pendidikan S2 saya di UPH. Saya tertarik untuk memahami pengelolaan SDM karena saya melihat dosen-dosennya memiliki pengalaman yang luar biasa dan saya merasa berada di tempat yang tepat. Saya berdoa UPH selalu menjadi tempat terbaik untuk belajar dan bertumbuh bagi mahasiswa/i-nya,” tutup Mariska dengan hangat.

Tahun Kelulusan: 03/08/2011
Bagi saya, UPH sebetulnya sudah seperti rumah kedua, atau mungkin lebih tepatnya sekarang adalah kantor kedua karena saya masih aktif mengajar disini. Mulai dari saya berkuliah di UPH, saya melihat bahwa dengan visi misi UPH yang ada telah melahirkan banyak pemimpin-pemimpin baru, dan saya tidak pernah ragu atas kemampuan UPH dalam hal ini
David Widyanto (Design Produk 2002 & Magister Teknik Industri 2009)
Co-Founder of Axocraft & Part-time Lecturer for Product Design UPH

David Widyanto, Alumni Desain Produk UPH yang Terus Menantang Diri Untuk Keluar Dari Zona Nyaman

“Salah satu pengalaman paling berkesan yang saya lalui di UPH adalah selama di workshop Desain Produk (sekarang School of Design), membangun suatu produk dari bahan-bahan mentah, dimana hal itu mempunyai kepuasan sendiri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Semua keseruan itu harus dibayar dengan baju berlubang karena kena percikan las dan pulang kampus dengan aroma serbuk kayu,” kisah David, diiringi dengan sebuah tawa ringan.

David Widyanto, Alumni Desain Produk UPH angkatan 2002 dan Magister Teknik Industri angkatan 2009, sampai saat ini masih aktif mengajar untuk Desain Produk UPH, ia juga mengisi kesehariannya dalam product development dan operasional workshop Axocraft – sebuah workshop yang menyediakan jasa produksi dalam skala kecil dan konsultasi desain produk yang ia dirikan sejak 2013 bersama rekannya. David mengakui bahwa dengan latar belakang pendidikannya dibidang Desain Produk dan Teknik Industri, ia harus menyesuaikan diri lagi untuk mengurus administrasif, akuntansi, dan pemasaran Axocraft. Namun dengan minat yang besar dan kapabilitas yang ia percaya dapat terus dikembangkan, David tak henti belajar dan berkembang dalam bidang karier yang ditekuninya.

Bagi David, UPH tidak hanya menjadi tempat mengemban ilmu, namun juga ditempa menjadi pemimpin yang berkontribusi bagi sekitarnya. David percaya bahwa dengan support system yang memberikan masukan membangun serta mendukung keputusannya, ia dapat terus berdampak bagi sekitarnya.

“Bagi saya, UPH sebetulnya sudah seperti rumah kedua, atau mungkin lebih tepatnya sekarang adalah kantor kedua karena saya masih aktif mengajar disini. Mulai dari saya berkuliah di UPH, saya melihat bahwa dengan visi misi UPH yang ada telah melahirkan banyak pemimpin-pemimpin baru, dan saya tidak pernah ragu atas kemampuan UPH dalam hal ini. Harapan saya adalah pemimpin-pemimpin tersebut menjadi pemimpin yang berempati dan relevan dengan lingkungannya,” tutup David.

Tahun Kelulusan: 07/03/2011
Saya masuk UPH tahun 1996, orang tua saya yang mendorong untuk mengambil pendidikan hukum. Harapan mereka saat itu sangat besar supaya saya bisa sukses. Saat ini saya melihat bahwa harapan dan mimpi kedua orang tua saya tercapai, salah satunya dengan menyekolahkan saya di UPH
Iqbal Farabi (Magister Hukum 2002)
Director at PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk

Direktur PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk, Iqbal Farabi, Maksimalkan Peluang Melalui Penggunaan IT

“Waktu saya bergabung, yang pertama kali saya benahi adalah penguatan teknologi informasi – yang kalau kata anak-anak sekarang sih, ‘ngonten’. Saya mulai mengerahkan tim untuk memanfaatkan media sosial, termasuk Instagram, TikTok, podcast, serta kanal-kanal lain yang mengikuti perkembangan jaman. Ternyata hasilnya luar biasa, terutama dalam dua tahun belakangan ini ketika kita semua bergantung sekali dengan IT. Dari sana, perusahaan GMTD justru mendapatkan perhatian dan mendapat respon baik berupa peningkatan jumlah sales,” Kisah Iqbal, ketika diminta untuk menceritakan sedikit mengenai pendekatan yang ia gunakan untuk meningkatkan public awareness terhadap proyek terbaru yang dijalankannya.

Ialah Iqbal Farabi, Alumni UPH jurusan Hukum 1996 dan Magister Hukum 2002, yang saat ini dipercaya untuk mengembangkan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD), salah satu proyek properti terbaru Lippo Group di area Makassar, Sulawesi Selatan. Kepercayaan ini tentu tidak mudah untuk siapapun, mengingat banyaknya kompetitor serta melambatnya daya beli masyarakat akibat pandemi yang melanda. Terlebih lagi, Iqbal juga harus beradaptasi dengan pola kerja yang memaksa dirinya untuk bekerja jarak jauh atau harus lebih fleksibel karena lokasi site berada di kawasan Indonesia Timur.

Bagi Iqbal, peran orang tua dan keluarga merupakan kunci baginya untuk terus memberikan yang terbaik dan berkontribusi bagi masyarakat. Ia percaya, bahwa selain menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras, keinginan untuk terus belajar, ikhlas, serta mengerjakan segala sesuatu sampai tuntas, orang tua dan keluarga menjadi titik berat fokusnya hari ini.

“Saya masuk UPH tahun 1996, orang tua saya yang mendorong untuk mengambil pendidikan hukum. Harapan mereka saat itu sangat besar supaya saya bisa sukses. Saat ini saya melihat bahwa harapan dan mimpi kedua orang tua saya tercapai, salah satunya dengan menyekolahkan saya di UPH,” lanjut Iqbal. Bagi mahasiswa yang sedang melanjutkan pendidikan, Iqbal berpesan, “Jadilah mahasiswa yang pintar sekali atau aktif sekali berorganisasi karena UPH dengan network yang sudah dibangun sampai detik ini akan memberikan kemudahan bagi siswanya untuk bisa beraktualisasi di masyarakat. Sayang sekali jika ilmu yang kita dapat plus pergaulan yang dijalankan semasa kuliah, tidak bisa dimaksimalkan nilai nilai positifnya baik di kampus maupun saat nanti lulus.”

Tahun Kelulusan: 27/02/2004
Saya sangat bersyukur berkesempatan untuk dididik oleh dosen yang juga sangat perhatian. Saat bimbingan di FISIP dengan dosen pembimbing, tidak hanya melulu soal akademik yang dibahas tapi dosen juga memberikan banyak nasehat yang berguna sebagai bekal hidup. Mereka tidak hanya mengajarkan akademik tapi moral, etika, teladan dan terus menginspirasi para mahasiswanya untuk menjadi pemimpin masa depan
Sandra Rani (Applied Communication Sciences 2007)
VP Sales for PT. Cempaka Kreasi Sekawan

Bekerja Tanpa Mengorbankan Integritas, Sandra Rani Menjalani Tanggung Jawab Sebagai VP Sales PT. Cempaka Kreasi Sekawan

Sandra Rani Juwita, Alumni Ilmu Komunikasi UPH Angkatan 2003, saat ini menjabat sebagai VP Sales dari PT. Cempaka Kreasi Sekawan yang merupakan pemilik dari merk Artisan Professionnel dan Mercredi Beaute untuk penjualan produk bulumata dan kosmetik lokal ke kota-kota di seluruh Indonesia. Dengan persaingan ketat yang dihadapi Artisan Professionnel dan Mercredi Beaute, Sandra terus mengusahakan pemasaran produk yang kreatif agar produk perusahaannya dapat dipasarkan secara merata dan diterima dengan baik oleh pasar di Indonesia baik melalui jalur online maupun offline.

“Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam membangun perusahaan ini, terutama untuk melihat kemajuan masing-masing individu baik dari segi karier maupun kesejahteraan, baik founder maupun anggota tim lainnya, mengambil bagian untuk mencapai titik dimana kami berada saat ini, yaitu melihat produk kami diterima dan dipakai oleh Makeup Artist ternama baik dalam maupun luar negri. Energi dan semangat merekalah yang memotivasi saya untuk terus memberikan yang terbaik dalam tugas dan tanggung jawab saya ini,” kisah Sandra dengan antusias.

Sandra percaya bahwa keberadaannya saat ini tak lepas dari suatu keputusan penting yang pernah ia ambil dulu, yaitu keputusan untuk menempuh pendidikan di UPH. Baginya, UPH telah memperlengkapinya dengan ilmu praktis, nilai-nilai seperti keinginan untuk terus maju dan bertumbuh tanpa mengorbankan integritas, serta komunitas suportif yang terus mendorong Sandra untuk menjadi pemimpin yang membawa dampak positif bagi sekelilingnya.

“Saya tidak pernah lupa bagaimana saya bertemu dengan teman-teman yang saat ini masih memegang integritas dan nilai-nilai yang baik dalam hidup saat saya bergabung dengan kegiatan kemahasiswaan dulu. Mereka adalah teman-teman sejati yang dulu saling mendukung dan saling menyemangati baik dalam segi akademik, sosial ataupun kerohanian. Di saat satu sibuk membuat tugas sampai kurang tidur, kita saling menyemangati. Saat bersama-sama berjibaku mencari dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan event kampus, kita sama-sama berjuang sekuat tenaga. Saat salah seorang mengalami masalah keluarga, semua mendukung dan memberikan masukan-masukan positif. Belum lagi kakak kelas, dosen yang juga sangat perhatian. Kadang ketika bimbingan di FISIP dengan dosen pembimbing, tidak hanya melulu soal akademik yang dibahas tapi dosen juga memberikan banyak nasehat yang berguna sebagai bekal hidup. Mereka tidak hanya mengajarkan akademik tapi moral, etika, teladan dan terus menginspirasi para mahasiswanya untuk menjadi pemimpin masa depan,” kenang Sandra sambil tersenyum.

Tahun Kelulusan: 01/03/2007
Menjalani pendidikan di UPH merupakan waktu yang menyenangkan untuk saya, dimana saya berkesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang luar biasa dan juga diajar pendidik yang berdedikasi. Saya merasa bahwa gaya belajar yang dibawakan oleh beberapa dosen saya sangat menarik karena mereka datang dari latar belakang professional sehingga mampu memberikan contoh kasus yang nyata terjadi dalam pekerjaan mereka terkait materi yang sedang dibahas
Naomi Michelle (Applied Communication Science 2013)
Industry Lead, Brand Partnership at Indonesia's Renowned Ride-hailing Company

Young and Professional, Naomi Michelle is Entrusted To Grow Industry Lead, Brand Partnership at Indonesia’s Renowned Ride-hailing Company

Age does not define what one achieves if they rely on God, work hard, work smart and always gives their best. And for Naomi Michelle, UPH’s Applied Communication Science alumnus cohort 2013, being as young as 26 does not hinder her to be an Industry Lead & Brand Partnership for Indonesia’s well-known ride-hailing company. In her day to day responsibilities, Naomi is required to be able to create blueprint and go-to market strategies for collaborative purposes, lead her team in achieving common goals, as well as work together across division to create business strategies and developing or innovate new products.

Naomi’s education at UPH has indeed become an important stepping stone in her career. UPH’s strategic location, complete facilities and also availability of international classes have provided Naomi more assurance to choose UPH. And more importantly, UPH has opened opportunities for her to develop spiritually, contribute to society and eagerness for high achievement in all aspects of her life.

“My undergraduate years at UPH was few of the most exciting years for me. I’ve had the opportunity to meet amazing friends and be taught by dedicated lecturers. Amongst the many lecture styles my lecturers had, I enjoyed learning from my lecturers who are also practitioners. They provided real case examples that occur in their work as the course progresses,” Naomi concluded.

Tahun Kelulusan: 28/02/2017
Bagi aku, bagian yang paling menyenangkan dari berkuliah di UPH adalah teman-teman yang aku dapatkan, karena sampai sekarang pun aku masih berkolaborasi bersama mereka dalam beberapa project
Kezia Amelia (Conservatory of Music 2008)
Indonesian Solo-Violinist

Kezia Amelia, Solo-Violinist Asal Indonesia yang Konsisten dan Kreatif dalam Mengunggah Konten di Sosial Media

Bermain musik seperti sudah menjadi denyut nadi bagi kehidupan seorang Kezia Amelia, Alumni UPH Conservatory of Music angkatan 2008. Ia dan biolanya adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, sebagaimana ia ingin menyampaikan musik dengan warnanya sendiri melalui biola seperti Vanessa Mae, David Garrett dan Ayasa. Untuk mengembangkan karier solo violin-nya tersebut, Kezia tak hanya rutin mengunggah konten lagu-lagu terkenal di sosial media, namun juga berkolaborasi dengan rekan-rekan musisi lainnya.

“Aku mulai belajar biola umur 14 tahun. Waktu itu les privat di Surabaya, kota asalku. Agak terlambat memang, tapi untungnya sejak umur 6 tahun aku belajar piano, jadi sudah ada dasar teori musik. Setelah lulus SMA aku memutuskan untuk kuliah di UPH Conservatory of Music karena aku suka bermain musik dan juga sudah ikut kegiatan musik di Surabaya seperti orkestra, masterclass dan masih banyak lagi. Awalnya aku masuk dengan major instrument piano, tapi setelah setahun aku memutuskan untuk pindah ke major instrument violin. Sebenarnya waktu itu tingkat permainan biolaku masih belum ‘mumpuni’ untuk anak kuliah, tapi Alm. Dr. Tomislav Dimov bersedia membimbing aku dan kami bekerja sama untuk mengejar ketinggalanku,” kisah Kezia dengan antusias.

Konsistensi, kreativitas, dan juga manajemen emosi yang baik menjadi tiga dari banyaknya rintangan yang harus Kezia lalui dalam meniti karier dalam industri entertainment. Belum lagi harus berada jauh dari keluarga, Kezia terus berjuang agar dapat tetap produktif disituasi yang baik maupun buruk. Dengan menyampaikan musik dengan warna mereka sendiri melalui biola Kezia percaya bahwa dengan excellence dalam apapun yang dikerjakannya, maka ia akan dapat terus memberikan yang terbaik – bahkan ketika client tidak meminta hal tersebut dari project yang sedang digarap. Dan Kezia bersyukur bahwa dengan menjalani pendidikan di UPH, ia telah dipertemukan dengan pendidik yang suportif dan rekan-rekan yang hingga saat ini aktif berkolaborasi dengannya.

“Bagi aku, bagian yang paling menyenangkan dari berkuliah di UPH adalah teman-teman yang aku dapatkan, karena sampai sekarang pun aku masih berkolaborasi bersama mereka dalam beberapa project. Selain itu, pengalaman dibimbing oleh dosen major Violin-ku, alm. Tomislav Dimov, sampai aku bisa menggelar 3 konser klasik untuk project kelulusan UPH adalah sesuatu yang akan selalu aku ingat,” tutup Kezia.

Tahun Kelulusan: 05/03/2012
Pendidikan di UPH banyak mengajarkan saya mengenai cara bekerja sama dengan orang lain, pentingnya memiliki target dan rencana terstruktur, melatih saya menjadi pribadi yang rajin dan bertanggungjawab, serta membuka peluang perkenalan dengan pribadi-pribadi hebat
Janice Malinda (Ilmu Komunikasi 2014)
Product Marketing Manager at Gojek

Menerapkan Pola Kerja “Amati, Temukan Solusi, dan Mengatur Kembali Strategi”, Janice Malinda Tingkatkan Traffic GoFresh

Melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan dan peran yang dipercayakan kepadanya merupakan nilai yang dijunjung tinggi oleh Janice Malinda, Alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2014, yang saat ini berkarier sebagai Product Marketing Manager pada perusahaan Gojek untuk produk GoFresh. Menjadi tugas utama Janice untuk memikirkan, menyiapkan dan mengimplementasikan campaign serta communication plan agar pelaku usaha memiliki awareness terhadap platform ini, meningkatkan traffic dalam aplikasi, dan mengubah traffic tersebut menjadi kosumen tetap bagi GoFresh. Dalam peran ini, Janice juga banyak bekerja sama lintas divisi untuk memastikan seluruh jajaran divisi terkait sudah siap menghadapi campaign yang akan dijalankan.

 

“Secara teknis, mencapai target yang sudah kita buat dalam tim adalah sebuah tantangan tersendiri,” ucap Janice. “Saya dan teman-teman product marketing harus jeli untuk melihat jika ada hal-hal yang tidak berjalan dengan baik, mencari tahu apa yang salah, lalu kemudian menyesuaikan diri lagi untuk menentukan langkah selanjutnya,” kisah Janice ketika ditanya mengenai tantangan tersulit yang harus dihadapinya.

Bagi Janice, pendidikan memiliki peranan penting dalam perjalanan self-actualization serta self-improvement. Ilmu dan praktik yang diperolehnya selama masa studi di UPH tidak hanya mengukuhkan fondasi iman Kristen yang selaras dengan apa yang Janice dan keluarganya percayai, namun juga membentuk pola pikir yang dibutuhkan untuk kariernya saat ini.

 

“Mungkin pekerjaan saya saat ini terkesan tidak selaras dengan peminatan jurnalistik yang saya ambil, tapi ada banyak hal yang saya pelajari saat kuliah yang kini bermanfaat untuk pekerjaan saya saat ini. Dari segi ilmu, kelas public speaking adalah kelas yang paling memorable. Saya diminta bicara di depan semua orang pada saat kelas, jadi terasa betul praktiknya, dan skill yang diasah di kelas ini pun masih berguna hingga hari ini. Dari segi pengalaman organisasi, klub debat PHASED memainkan peran yang penting bagi saya. PHASED membuka kesempatan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan menyediakan ruang bagi saya untuk membahas topik-topik yang real dan relevan secara terstruktur. Terlebih dari itu, pendidikan di UPH banyak mengajarkan saya mengenai cara bekerja sama dengan orang lain, pentingnya memiliki target dan rencana terstruktur, melatih saya menjadi pribadi yang rajin dan bertanggungjawab, serta membuka peluang perkenalan dengan pribadi-pribadi hebat,” Janice menyimpulkan.

Tahun Kelulusan: 04/09/2019
Ketertarikan saya terhadap audio engineering bermula ketika saya kuliah di COM UPH. Memahami science di balik dunia musik, merupakan hal yang sangat menarik bagi saya. Mengerjakan tugas kuliah dan bertemu teman-teman yang memiliki ketertarikan serupa, pun punya peran penting dalam membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang. Bahkan pertemanan kami berlanjut sampai sekarang dan berlangsung dengan baik sampai ke ranah professional
Ivan Gojaya (Musik 2007)
Founder of ROEMAHIPONK & Music Producer/Audio Engineer

Menghasilkan Karya Kelas Dunia, Perjalanan Ivan Gojaya Dimulai Dari Alat Seadanya

Mahasiswa/i dan Alumni Conservatory of Music UPH (COM UPH) pasti akrab dengan nama ROEMAHIPONK, sebuah studio produksi musik dan audio yang berlokasi di Lippo Karawaci, Tangerang. Bagaimana tidak, ROEMAHIPONK yang dirintis oleh Music Producer dan Audio Engineer, Ivan Gojaya, Alumni Conservatory of Music angkatan 2007 telah menjadi “rumah” bagi banyak mahasiswa/i sejak 2009 lalu untuk memenuhi kebutuhan rekaman mereka. ROEMAHIPONK tidak hanya telah menjadi saksi atas ratusan lagu diciptakan, namun juga telah mengasah kemampuan Ivan, atau yang lebih sering disapa Iponk, sebagai mahasiswa sound design dalam mempraktekkan ilmu yang dipelajarinya. Pada tahun 2011, ROEMAHIPONK memperluas ruang lingkup kerjanya ke sebuah ruko, dan perlahan-lahan berkembang menjadi studio komersil. Iponk kini dipercaya untuk menangani berbagai macam kebutuhan produksi musik dan audio post, baik untuk artis independen, label rekaman, maupun untuk kebutuhan iklan, film, dan gambar bergerak lainnya.

“Saya menemukan ketertarikan terhadap instrumen musik yang bersifat ritmis, terutama drums, sejak usia 7 tahun. Namun, karena tidak memungkinkan bagi saya untuk memiliki drumset pada saat itu, saya akhirnya menekuni instrumen gitar dan kemudian menyadari bahwa yang saya cintai adalah music as a whole, tidak terpaut pada salah satu instrumen musik. Sampai akhirnya dibangku SMA, saya mulai memproduksi musik di kamar dengan alat yang ada sampai kemudian orangtualah yang mendukung secara penuh dan meyakinkan saya untuk mengambil pendidikan formal di dalam bidang yang saya cintai, yaitu musik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kecintaan saya pada musiklah yang memotivasi saya untuk menjalani karier saya saat ini,” kisah Iponk dengan antusias.

Kerja keras, keinginan belajar, memahami dan mengerjakan setiap project dengan sepenuh hati, serta ketulusan menjadi nilai yang Iponk pegang dalam membangun kepercayaan dari para musisi, klien, dan calon klien yang selera dan preferensinya berbeda-beda. Menurut Iponk, dalam bidang yang ia jalani, banyak hal ditentukan oleh selera dan selera tidak bisa dipaksakan kepada semua orang, sehingga menjadi sangat penting untuknya membangun kepercayaan tersebut. Selain itu, komunikasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi Iponk. Pemahaman dan pembahasaan teknis yang digunakan dalam industri musik masih berbeda-beda, sehingga tantangan komukasi seringkali muncul dan berpengaruh di dalam kultur kerja, mindset, dan ekspektasi klien terhadap peran producer/audio engineer. Bersyukur bagi Iponk, UPH telah memperlengkapinya dengan banyak ilmu dan networking yang kini menjadi support system baginya dalam industri musik.

“Ketertarikan saya terhadap audio engineering bermula ketika saya kuliah di COM UPH. Memahami science di balik dunia musik, merupakan hal yang sangat menarik bagi saya. Mengerjakan tugas kuliah dan bertemu teman-teman yang memiliki ketertarikan serupa, pun punya peran penting dalam membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang. Bahkan pertemanan kami berlanjut sampai sekarang dan berlangsung dengan baik sampai ke ranah professional,” tutup Iponk.

Tahun Kelulusan: 15/09/2014
Pendidikan MHI UPH ini merupakan hal yang di luar ekspektasi saya di awal. Ternyata, para Dosen pengajar sangat kompoten, kritis dan memiliki track record dan latar belakang professional yang luar biasa sehingga memberi pengalaman terhadap pengetahuan Politik, Ekonomi, Sosial, antropolgi hingga teori yang sangat memadai. Selain itu, letak strategis kampus pascasarjana UPH serta jam kuliah yang sesuasi dalam adaptasi dengan kegiatan pekerjaan-pekerjaan saya menjadi nilai tambah untuk saya melanjutkan pendidikan saya
Abhiram Singh Yadav (Magister Hubungan Internasional 2018)
Staf Khusus Wakil Ketua DPR RI Bidang Politik dan Keamanan, Founder & CEO dari PT. Arya Sinergy Yadavas (Yadavas Group), Komisaris di Archean Group Indonesia dan Pengamat & Peneliti Politik Hubungan Internasional

Memanfaatkan Waktu Dengan Sebaik-baiknya, Abhiram Singh Yadav Berkontribusi untuk Indonesia Melalui Karir dan Pemikiran

Pepatah yang mengatakan “do it with passion or not at all” menjadi kutipan yang sangat menggambarkan Abhiram Singh Yadav, Alumni Magister Hubungan Internasional UPH 2018. Saat ini, pria yang akrab disapa Abhi tak hanya aktif menjabat sebagai Staf Khusus Wakil Ketua DPR RI Bidang Politik dan Keamanan, namun juga mengemban tanggung jawab sebagai Founder & CEO dari PT. Arya Sinergy Yadavas (Yadavas Group), Komisaris di Archean Group Indonesia, Pengamat & Peneliti Politik Hubungan Internasional, dan juga Ketua Umum untuk IKA (Ikatan Alumni) Magister Hubungan Internasional UPH. Sejak muda, Abhi memang menikmati kegiatan berorganisasi dan melalui pengalamannya inilah yang kemudian memperlengkapinya dengan network dan ilmu pengetahuan yang luas. Salah satu cara Abhi mengatur kesibukannya adalah mengoptimalkan berkegiatan dari pagi, lalu diikuti dengan mengatur ritme meeting sehingga berbagai agenda dapat terlaksana sesuai rencana setiap harinya. Memiliki berbagai kesibukan tentunya tak luput dari berbagai tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam menghadapi pandemi yang menghambat pertumbuhan diberbagai industri, dimana dibutuhkan kreatifitas tersendiri dalam mengelola investasi bisnis dan seni bekerja yang baru untuk mengoptimalkan kinerja dalam pemerintahan. Dengan dukungan dari orangtua dan istri, Abhi terus berpacu melawan waktu, bergerak dengan efisiensi serta berkontribusi secara intelektual dalam bentuk opini diberbagai media nasional. Beberapa judul tulisan Abhi yang diterbitkan termasuk “Indonesia Dalam Diskursus Indo-Pasifik”; “Gotong Royong Melawan Pandemi“; dan “HAM dan Inklusivitas Indo-Pasifik”. Mendalami ilmu Hubungan Internasional telah memperlengkapi Abhi dalam perjalanannya berkiprah pada organisasi tingkat nasional dan internasional. Selain itu, ia juga diasah untuk memiliki pola pandang yang konstruktif terhadap berbagai isu global yang terus terjadi, serta nilai-nilai yang selalu dipegangnya yakni kejujuran, kehausan untuk terus mencari ilmu, dan membantu orang lain tanpa pamrih. “Pendidikan MHI UPH ini merupakan hal yang di luar ekspektasi saya di awal. Ternyata, para Dosen pengajar sangat kompoten, kritis dan memiliki track record professional yang luar biasa. Latar belakang para Dosen pun sangat beragam, baik dari Pembuat Kebijakan, LIPI, Professor senior, hingga Lembaga-lembaga internasional sehingga memberi pengalaman terhadap pengetahuan Politik, Ekonomi, Sosial, antropolgi hingga teori yang sangat memadai. Dan mereka semua sangat humanis dan memahami pebutuhan masing-masing mahasiswa. Sebagai hasil, selama menekuni ilmu di MHI UPH, para dosen telah mendorong dan menginspirasi saya untuk menulis dua jurnal berscopus. Selain itu, letak strategis kampus pascasarjana UPH serta jam kuliah yang sesuai dalam adaptasi dengan kegiatan pekerjaan-pekerjaan saya menjadi nilai tambah untuk saya melanjutkan pendidikan saya,” tutup Abhi.

Tahun Kelulusan: 14/09/2020
Ada dua hal yang sangat berkesan bagi saya dalam menjalani pendidikan Magister Administrasi Rumah Sakit: pertama adalah pembiasaan target waktu yang mepet. Tugas-tugas yang banyak dengan deadline pendek, sangat melatih saya pada posisi sekarang. Jadinya terbiasa dengan begitu banyak target dengan limited deadlines. Aspek kedua adalah Case Studies yang di bahas bersama team. Hal ini memberikan kesempatan dan tantangan dalam cara berpikir dari pemikiran sempit ke pemikiran yang lebih luas, lebih sistematis
Abedneju G W Sangkaeng (Hospital Administration Management 2014)
President Director of PT Gunung Raja Paksi Tbk

Abedneju G W Sangkaeng, Seorang Pembelajar Dalam Setiap Bidang Kehidupan

Menjalani pendidikan Magister Administrasi Rumah Sakit di UPH 2014 silam telah memberikan kesan mendalam untuk seorang Abedneju G W Sangkaeng, kerap disapa Argo. Bagi pria kelahiran Manado ini, pendidikan tidak hanya menjadi pintu masuk untuk pengetahuan, namun terlebih dalam pembentukan cara berpikir yang sistematis serta memberikan landasan untuk mengembangkan analytical skills dan critical thinking.

“Ada dua hal yang sangat berkesan bagi saya dalam menjalani pendidikan Magister Administrasi Rumah Sakit: pertama adalah pembiasaan target waktu yang mepet. Tugas-tugas yang banyak dengan deadline pendek, sangat melatih saya pada posisi sekarang. Jadinya terbiasa dengan begitu banyak target dengan limited deadlines. Aspek kedua adalah Case Studies yang di bahas bersama team. Hal ini memberikan kesempatan dan tantangan dalam cara berpikir dari pemikiran sempit ke pemikiran yang lebih luas, lebih sistematis dengan menggunakan energy team work. Saya menjadi lebih terlatih dan terbuka bekerja secara team,” ucap Argo.

Peran dan tanggung jawab Argo sebagai President Director di PT Raja Gunung Paksi Tbk adalah untuk memastikan agar seluruh kegiatan operasional perusahaan berjalan sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. Beberapa tahun belakangan ini, Argo dan Board of Directors lainnya di PT Raja Gunung Paksi Tbk bertindak bersama-sama dalam satu tim untuk mereformasi 3 hal: transformasi tata kelola organisasi dari perusahaan yang berbasis pada manajemen keluarga menjadi perusahaan yang professional; mengimplementasi ESG (Environment, Social & Governance) sebagai salah satu persyaratan Green Initiative yang diterapkan Pasar International Green sebagai salah satu kriteria yang diminta dari semua produk baja yang mereka beli; dan juga beradaptasi pada industry 4,0 dimana PT Gunung Raja Paksi Tbk melanjutkan transformasi kearah digitalisasi semua aspek dalam organisasi.

Dalam menjalani seluk beluk dunia professional, Argo menemukan banyak sosok mentor luar biasa yang memberikan inspirasi dan teladan baginya. Dua diantaranya adalah Bapak Charlo Mamora, seorang mentor yang membantu Argo untuk memahami bahwa Human Resource adalah sebuah divisi yang tak ayalnya membutuhkan kemampuan berpikir kritis, holistik, dan strategis dan Bapak Paulus Bambang Widjanarko, pribadi yang menginspirasi Argo – sebagai seorang professional yang juga adalah seorang ayah – untuk terus berjuang dalam membagi waktu untuk Tuhan, keluarga, dan pekerjaan. Dan terlebih dari itu, Argo juga percaya bahwa penting bagi dirinya untuk dapat menerapkan kerendahan hati, sifat dapat dipercaya, serta resiliensi. Argo percaya bahwa jika kita menyadari bahwa semua adalah pemberian Tuhan – bukan atas kuat gagah manusia, bertanggung jawab dan transparan atas setiap keputusan yang diambil, dan kemampuan untuk mencari solusi ketimbang mengeluh, maka kita akan berhasil dalam setiap tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.

 

“Tahun ini adalah tahun yang sangat menantang pagi pencari kerja. Pertama karena banyak sekali lapangan kerja baru yang dapat dilakukan secara remote, dan kedua karena pasar tenaga kerja semakin banyak menghasilkan lulusan dari sekolah-sekolah terbaik dari seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, penting sekali bagi anak-anak muda untuk menemukan passionnya terlebih dulu. Kedua kembangkan karakter yang baik. Karena knowledge without Character, will lead to destruction. Tapi sebaliknya Character without knowledge will lead you to nowhere,” tutup Argo, untuk teman-teman yang tahun ini akan memulai kariernya didunia professional.

Tahun Kelulusan: 07/10/2016
Pengalaman terbaik dan paling berkesan saya selama di Teknologi Pangan UPH adalah saat saya berkesempatan untuk mengambil Dual Degree program ke University of Newcastle, Australia. Pengalaman tersebut yang membentuk profil terbaik diri saya yang membantu saya saat pertama melamar kerja di sebuah perusahaan setelah saya lulus kuliah
Veliana Lim (Food Technology 2010)
Brand Manager at PT Mayora Indah, Tbk

Veliana Lim, Pribadi yang Memiliki Ide Kreatif Dalam Memasarkan Produk & Berkolaborasi Dengan Berbagai Tim

Menjadi pribadi yang memiliki ide-ide kreatif untuk memikirkan cara memasarkan produk dengan unik dari yang sudah ada di pasar, jeli dalam melihat peluang pasar dan melakukukan riset mengenai apa yang dibutuhkan konsumen, serta menetapkan marketing treatment apa yang tepat dilakukan untuk meningkatkan market share menjadi tantangan yang harus ditaklukkan Veliana Lim, Alumni Teknologi Pangan UPH angkatan 2010. Saat ini, Veliana dipercayakan tanggung jawab sebagai Brand Manager untuk PT Mayora Indah Tbk, dimana ia harus mampu berkolaborasi dengan berbagai tim dalam menciptakan, memonitor, dan mengevaluasi aktivitas pemasaran yang dilakukan untuk mendukung strategi yang telah ditetapkan sebelumnya serta berkolaborasi dengan berbagai tim yang berkaitan dengan produk dan pemasaran.

Tanggung jawab Veliana tentu terdengar terlalu mudah jika hanya dirangkum dalam satu kisah singkat, namun membangun brand equity dengan strategi terbaik berlandaskan consumer and market research yang baik sejatinya adalah sebuah tugas panjang yang membutuhkan waktu dan ketelitian untuk dilaksanakan. Dengan berbagai macam kesulitan yang ditemui Veliana sepanjang perjalanan kariernya, ia terus berjalan dengan integritas, rasa tanggung jawab yang tinggi, bekerja sepenuh hati, dan keinginan untuk terus belajar. Veliana percaya bahwa dengan menerapkan empat nilai ini, ia akan menjadi pribadi yang lebih baik dan terus melihat kemajuan dalam banyak sisi. Terlebih dari itu, Veliana juga percaya bahwa dukungan teknis dan moral yang diberikan oleh atasan, kolega, teman-teman dan keluarganya menjadi penyemangat yang Tuhan sediakan baginya.

Bagi Veliana, pendidikan merupakan sebuah asset penting yang harus dimiliki setiap orang, terlepas dari bidang pekerjaannya saat ini. Ditempa dengan hard-skill, soft-skill serta attitude didapatkan Veliana dari pendidikan lanjutan. Baginya, ketiga hal ini menjadi faktor pendukung yang krusial untuk membuka jendela dunia dan peluang kesempatan yang lebih besar untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan bertemu orang-orang terbaik.

“Pengalaman terbaik dan paling berkesan saya selama di Teknologi Pangan UPH adalah saat saya berkesempatan untuk mengambil Dual Degree program ke University of Newcastle, Australia. Pengalaman tersebut yang membentuk profil terbaik diri saya yang membantu saya saat pertama melamar kerja di sebuah perusahaan setelah saya lulus kuliah,” tutup Veliana.

Tahun Kelulusan: 04/03/2014
UPH membuka gerbang saya untuk masuk ke dalam industri musik. Pendidikan formal yang didapat membuat saya paham bahwa musik sangatlah luas dan kompleks, baik dari segi praktik dan juga ilmunya. COM mengajarkan saya tidak hanya sekedar bermain gitar/musik namun lebih daripada itu. Filosofi, sejarah, dan ilmu lainnya membangun saya sebagai musisi yang berkarakter, berwawasan luas, dan professional
Nathania Jualim (Conservatory of Music 2014)
Gitaris Wanita Indonesia

Ibarat Kupu-Kupu yang Harus Bermetamorfosis, Demikianlah Karier Nathania Jualim Sebagai Musisi Wanita Indonesia

“Mengingat kaum musisi wanita yang minoritas dibandingkan dengan pria khususnya di dunia pergitaran, seringkali memang musisi/gitaris wanita dianggap sebelah mata, dianggap tidak berkompeten untuk dapat bersaing di industri musik. Masyarakat pun akhirnya mengganggap kalau musisi wanita itu hanya menggunakan ‘kekuatan fisik’ dan visual untuk dapat bertahan di industri musik Indonesia, padahal nyatanya ada saja musisi wanita yang memang mempunyai kemampuan bermusik yang setara atau bahkan melebihi kaum pria,” kisah Nathania Jualim, musisi sekaligus gitaris lulusan Conservatory of Music UPH angkatan 2014.

Perjalanan karier wanita kelahiran Bandung ini tidak semudah yang banyak orang bayangkan. Ia mulai diperkenalkan pada alat musik piano pada usia 9 tahun, lalu diikuti dengan drum pada usia 11, sampai akhirnya berlabuh pada gitar di usia 12 tahun. Layaknya seekor kupu-kupu yang harus berevolusi dari seekor ulat, dibentuk melalui sebuah kepompong, lalu kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, demikianlah filosofi dibalik album “Metamorfosa” karya Nathania.

“Metamorfosa adalah mini album perdana saya yang dirilis tahun 2019. Analogi proses seekor ulat menjadi kupu-kupu tersebut kemudian digambarkan lewat proses perjalanan diri seorang Nathania Jualim sebagai musisi/gitaris dari awal mula bermusik hingga saat ini. Sebuah album yang menjadi buah perkenalan akan musikalitas Nathania Jualim yang bermetamorfosis seiring menekuni karier bermusiknya. Metamorfosa berisikan 5 lagu (4 lagu instrumental dan 1 lagu bervokal) yang dimana kelima lagu tersebut diciptakan dan diaransemen oleh saya sendiri,” ucapnya.

Dengan dukungan penuh dari ayah, ibu, dan kakaknya, Nathania kemudian memutuskan untuk terjun sepenuh hati ke dunia musik dan melanjutkan pendidikan sarjananya di UPH setelah lulus SMA. Dengan kerendahan hati, integritas, profesionalisme, Nathania terus mengasah kemampuannya dalam bermain gitar, untuk dapat ‘hidup’ dari musik dan berkembang diindustri musik. Baginya, pribadi yang mau bekerja sama, komunikatif, dan memiliki manajemen waktu yang baik akan membuktikan perjuangan yang kini diperjuangkannya.

“UPH membuka gerbang saya untuk masuk ke dalam industri musik. Pendidikan formal yang didapat membuat saya paham bahwa musik sangatlah luas dan kompleks, baik dari segi praktik dan juga ilmunya. COM mengajarkan saya tidak hanya sekedar bermain gitar/musik namun lebih daripada itu. Filosofi, sejarah, dan ilmu lainnya membangun saya sebagai musisi yang berkarakter, berwawasan luas, dan professional,” tutup Nathania.

Tahun Kelulusan: 04/09/2018
Saya belajar banyak selama masa pendidikan saya di Teknik Elektro UPH. Dosen-dosen saya selama kuliah telah membimbing saya untuk menjadi seorang sarjana yang kemudian mendapatkan beasiswa ke Jerman. Itu adalah pengalaman yang mengubah hidup yang selalu saya syukuri
Wandi Susanto (Teknik Elektro 2004)
Senior Manager, Data Science at Lazada South East Asia

Berkontribusi Pada Perkembangan Ilmu Data dan Kecerdasan Artifisial, Wandi Susanto Menjawab Panggilan Sebagai Senior Manager, Data Science Lazada South-East Asia

Pada era yang semakin terdigitalisasi ini, peran seorang data scientist menjadi kian penting dalam perusahaan besar. Tanggung jawab inilah yang diambil oleh Wandi Susanto, Alumni Teknik Elektro UPH angkatan 2004, untuk mengembangkan proyek Ilmu Data seperti sistem rekomendasi dan kecerdasan kompetitif menggunakan AI (Machine Learning/Deep Learning). Sebagai Senior Manager, Data Science untuk Lazada South East Asia, tantangan yang dihadapinya pun tidak main-main. Pertumbuhan pesat ilmu data serta kecerdasan artifisial membuat Wandi harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan makalah penelitian baru.

Dalam menjalani kariernya, dukungan orang tua menjadi motivasi utama Wandi untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ia percaya, bahwa selain memiliki dorongan yang kuat untuk maju dari dalam diri sendiri, pendidikan juga menjadi elemen penting dalam kariernya saat ini. Menurut Wandi, pendidikan menjadi sebuah faktor krusial dalam kariernya karena pendidikan meletakkan dasar dan mempersiapkan dirinya untuk menjadi profesional.

“Saya belajar banyak selama masa pendidikan saya di Teknik Elektro UPH. Dosen-dosen saya selama kuliah telah membimbing saya untuk menjadi seorang sarjana yang kemudian mendapatkan beasiswa ke Jerman. Itu adalah pengalaman yang mengubah hidup yang selalu saya syukuri,” ucap Wandi.

Untuk teman-teman yang baru akan memulai karier didunia profesional, Wandi berpesan untuk kita dapat berpikiran terbuka dan mengenali peluang. Situasi yang kita hadapi telah berubah selama pandemi dan sekarang adalah waktunya untuk menjadi dunia pascapandemi bersama dengan teknologi & industri yang berubah dengan cepat.

Tahun Kelulusan: 17/03/2008
Pendidikan Usaha Wisata UPH mengajarkan banyak hal kepada saya, antara lain bagaimana untuk selalu sabar dan tersenyum dalam menghadapi bermacam-macam jenis pelanggan. Hal ini menurut saya sangat penting dalam mengembangkan usaha toko yang saya miliki
Ansela Astrid Bayudi (Usaha Perjalanan Wisata 1997)
Owner of Toko Teguh Mas and TM Diamond

Mengikuti Dinamika Perkembangan Zaman, Ansela Astrid Bayudi Beralih Menjual Perhiasan Emas Online

Berbelanja online sudah menjadi seperti nafas kehidupan bagi masyarakat Indonesia. Semua produk, mulai dari pakaian, peralatan rumah tangga, sampai perhiasan sekalipun kini bisa kita dapatkan hanya dalam beberapa kali ketuk saja pada ponsel pintar. Kesempatan inilah yang diambil oleh Ansela Astrid Bayudi, Alumni Usaha Perjalanan Wisata UPH angkatan 1997, dalam mengalihkan penjualan Toko Teguh Mas dan TM Diamond, dua toko miliknya yang menjual perhiasan emas, logam mulia dan juga perhiasan berlian dari offline menjadi online. Astrid melihat bahwa dengan semakin besarnya minat masyarakat akan pembelanjaan online, maka akan semakin besar pula minat masyarakat untuk belanja perhiasan emas secara online.

Toko Teguh Mas dan TM Diamond merupakan sebuah usaha yang yang dirintis oleh ayah Astrid pada tahun 1980-an. Bermodalkan ketekunan, mental baja dan kerja keras, beliau berhasil membesarkan Toko Teguh Mas bersama dengan sang istri. Kini, saat usaha ayahnya dipercayakan kepadanya, Astrid terus berinovasi serta memberikan harga yang kompetitif untuk pelanggan Toko Teguh Mas. Astrid percaya bahwa kejujuran dan kerja keras yang ia terapkan dalam menjalani usahanya ini sangat membantunya saat menghadapi berbagai macam tantangan.

“Intinya, janganlah takut untuk memulai sebuah bisnis baru, jatuh bangun dalam merintis usaha adalah hal yang biasa. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bangun saat kita terjatuh, itu merupakan pengalaman yang paling berharga,” ucap Astrid.

Inovasi yang berhasil Astrid terapkan dalam usahanya tentu tidak terlepas dari pendidikan yang ia dapatkan di UPH. Walaupun usaha yang dijalaninya kini berbeda dari pendidikan yang diterimanya, Astrid tetap percaya bahwa pendidikanlah yang sejatinya telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang mampu berpikir dan menyelesaikan masalah yang dihadapi secara sistematis dan efisien. Menurut Astrid, bekal pendidikan yang baik memudahkan jalan seseorang menuju kesuksesan.

“Pendidikan Usaha Wisata UPH mengajarkan banyak hal kepada saya, antara lain bagaimana untuk selalu sabar dan tersenyum dalam menghadapi bermacam-macam jenis pelanggan. Hal ini menurut saya sangat penting dalam mengembangkan usaha toko yang saya miliki,” tutup Astrid.

Tahun Kelulusan: 14/09/2000
Pengalaman paling penting saat menjalani pendidikan pascasarjana di UPH menurut saya adalah bisa bertemu dengan berbagai karakter manusia, dan juga berdiskusi secara bebas dan terbuka. Dosen pun memberikan ruang agar kita bisa berdiskusi, saling memberikan gambaran dan pola pikir baru – hal ini mengembangkan pemikiran dasar tentang bagaimana kita bisa melihat suatu permasalahan.
Aji Aditra Perdana (Magister Ilmu Komunikasi 2017)
Head of Marketing at Mandalika Grand Prix Association

Berkolaborasi dan Bersinergi, Aji Aditra Perdana Kelola Area Komersial Mandalika Grand Prix Association

Aji Aditra Perdana, Alumni Magister Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2017, saat ini mengemban tugas sebagai Head of Marketing di Mandalika Grand Prix Association, dimana ia mengelola semua area komersial Mandalika Grand Prix Association, termasuk sponsorship, ticketing, event, intelectual property, dan brand development acara Grand Prix, seri kejuaraan balap motor kelas utama yang diselenggarakan di sirkuit jalanan. Tak hanya itu, ia juga harus menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak yang terlibat, untuk melakukan kordinasi dan bersinergi dalam menyelenggarakan acara tahunan berskala internasional agar dapat mengembangkan intellectual property, dimana monetisasinya menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi.

Dalam menjalani kariernya, Aji percaya bahwa dukungan dari keluarga inti memberikan semangat dan dorongan yang luar biasa. Keinginannya untuk memiliki banyak cerita dan juga pengalaman yang nantinya bisa menjadi pegangan hidup anak-anaknya kelak menjadi motivasi terbesarnya dalam meniti kariernya saat ini. Dengan demikian, ia selalu melakukan yang terbaik bagi pekerjaan yang sedang dijalani, dengan nilai integritas yang tinggi serta kemauan untuk menjadikan pekerjaan adalah sebuah karya adalah nilai krusial yang ia pegang teguh dalam menjalani kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.

“Saat ini dunia profesional mengalami banyak guncangan, diperlukan penetrasi kreatif yang akan mengubah dunia kedepannya. Bekerja tidak lagi memerlukan kehadiran fisik, hal ini bisa memaksimalkan waktu untuk lebih efisien bekerja. Berikan extra miles dan juga tunjukan terobosan baru di tengah dunia yang sedang beradaptasi ini,” saran Aji, terutama bagi anak muda yang akan terjun ke dunia bekerja.

Bagi Aji, pendidikan memainkan peranan penting, tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi semua orang. Melalui pendidikan, seseorang akan bisa mendapatkan wawasan baru dan juga landasan berpikir yang ilmiah. Dengan berlandaskan pemahaman tersebut, ia kemudian memilih untuk menempuh pendidikan pascasarjananya di UPH.

“Pengalaman paling penting saat menjalani pendidikan pascasarjana di UPH menurut saya adalah bisa bertemu dengan berbagai karakter manusia, dan juga berdiskusi secara bebas dan terbuka. Dosen pun memberikan ruang agar kita bisa berdiskusi, saling memberikan gambaran dan pola pikir baru – hal ini mengembangkan pemikiran dasar tentang bagaimana kita bisa melihat suatu permasalahan. Yang tidak kalah penting juga bagaimana berkuliah di UPH membuka banyak networking baru yang berperan untuk berkembangnya kita di masa depan,” tutup Aji.

Tahun Kelulusan: 09/09/2019
Pendidikan di Magister Ilmu Komunikasi UPH sangat berkesan bagi saya karena diskusi dan interaksi dengan para pengajar berjalan dua arah secara efektif. Saya diberikan ruang untuk menyampaikan argumen dari berbagai perspektif dan mendapatkan esensi dari pentingnya media dan komunikasi dari dosen yang profesional di bidangnya. Banyak konsep dan teori yang relevan bahkan hasil diskusi dengan para dosen menjadi inspirasi untuk pekerjaan sehari-sehari saya sebagai praktisi komunikasi
Vicky Dwi Saputra (Magister Ilmu Komunikasi 2016)
Internal Communications Lead at Unilever Indonesia

Menerapkan Nilai Servant Leader, Vicky Dwi Saputra Menjalani Tanggung Jawab Sebagai Internal Communications Lead di Unilever Indonesia

Dipercayakan tanggung jawab sebagai seorang Internal Communications Lead untuk Unilever Indonesia bukanlah sebuah perkara mudah, karena dibutuhkan kemampuan komunikasi yang efektif, relevan, dan kreatif agar pesan yang disampaikan oleh korporasi dapat diterima dengan baik oleh seluruh karyawan dari berbagai latar belakang yang berbeda. Adalah tugas seorang Vicky Dwi Saputra, alumni Magister Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2016, untuk memimpin divisi komunikasi internal di Unilever Indonesia, dimana ia diminta untuk menghidupkan nilai-nilai dari Unilever Indonesia serta memastikan setiap karyawan mengetahui dan memahami dinamika internal. Melalui tanggung jawabnya ini, Vicky berharap dapat mendorong partisipasi aktif tim dan membangun kultur organisasi yang inklusif.

Bagi Vicky, orang-orang disekitarnya merupakan penyemangat yang krusial untuknya terus bertumbuh, baik secara personal maupun professional. Dengan dukungan dari orang tua, keluarga, serta teman-teman seperjuangan di Unilever Indonesia, Vicky terus berjuang untuk mengejar purpose hidupnya. Vicky percaya bahwa tugas yang dipercayakan kepadanya ini memberinya ruang yang lebih luas untuk dapat membuat orang lain merasa lebih diakui dan berdaya. Nilai yang Vicky pegang, yakni seorang pemimpin yang melayani, telah membentuk dirinya dalam menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menahan ego, bertoleransi, serta berempati saat berinteraksi dengan banyak orang dengan karakteristik yang berbeda.

Harapan Vicky dalam mengembangkan potensi diri telah menghantarkannya kepada pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di UPH. Vicky yakin bahwa pendidikan adalah modal penting untuk dirinya dapat memaksimalkan potensi dan menguatkan purpose hidupnya.

“Pendidikan di Magister Ilmu Komunikasi UPH sangat berkesan bagi saya karena diskusi dan interaksi dengan para pengajar berjalan dua arah secara efektif. Saya diberikan ruang untuk menyampaikan argumen dari berbagai perspektif dan mendapatkan esensi dari pentingnya media dan komunikasi dari dosen yang profesional di bidangnya. Banyak konsep dan teori yang relevan bahkan hasil diskusi dengan para dosen menjadi inspirasi untuk pekerjaan sehari-sehari saya sebagai praktisi komunikasi,” ucap Vicky.

Untuk teman-teman yang akan memulai perjalanan kuliahnya tahun ini, Vicky berpesan agar teman-teman dapat jalani prosesnya dengan hati dan tetap menikmati dinamika perkuliahan dengan bahagia dan penuh rasa syukur. Selalu ingat tujuan awal menjalani perkuliahan bahkan saat menghadapi masa-masa sulit sekalipun dan terus jaga komitmen untuk lulus tepat waktu dengan hasil terbaik.

“Percaya bahwa dibalik kerja keras teman-teman, ada kebahagiaan dari orang-orang tercinta. Good luck!” tutup Vicky.

Tahun Kelulusan: 14/09/2018
Yang paling berkesan adalah pengalaman berorganisasi di kampus, karena dapat bertemu dengan individu dari jurusan lain sehingga bisa mendapatkan perspektif yang beragam, serta membangun relasi dengan banyak pihak. Tidak hanya murid dari jurusan lain, tapi juga para pemimpin kampus dan pihak luar lainnya. Hal ini sangat mempersiapkan saya dalam memasuki dunia kerja
Christine Go (Management 2008)
Project Manager at RefillMyBottle

Atasi Isu Lingkungan Indonesia, Christine Go dan RefillMyBottle Bangun RefillStation di Seluruh Indonesia

Isu lingkungan yang terjadi di Indonesia menarik perhatian Christine Go, Alumni Management UPH angkatan 2008, untuk tergabung dalam gerakan RefillMyBottle, sebuah komunitas non-profit yang bergerak untuk mengurangi sampah botol plastik sekali pakai. RefillMyBottle merupakan sebuah gerakan yang dimulai dari Bali, dimana jumlah wisatawan yang tinggi tiap tahunnya berdampak terhadap jumlah penggunaan botol minum plastik sekali pakai. Air keran yang tidak dapat langsung di minum membuat para wisatawan harus mengkonsumsi air minum dalam kemasan plastik, ditambah dengan manajemen sampah yang belum maksimal, maka jutaan sampah botol berakhir di TPA, terbuang ke laut atau dibakar dan menghasilkan gas beracun. RefillMyBottle membangun jejaring dan membuat peta isi ulang yang menunjukkan lokasi di mana saja seseorang bisa mengisi botol air minum sehingga tidak lagi perlu membeli air kemasan plastik. Saat ini, Christine dan rekan-rekan komunitas telah berhasil membangun jaringan RefillStation menjadi lebih dari 4,000 titik, dimana Christine bekerja sama dengan toko, restoran, hotel, kantor, dan tempat umum lainnya yang bersedia menjadi RefillStation.

Berawal dari keresahan Christine terkait masalah sampah plastik yang ia lihat saat diving di laut, Christine kemudian memutuskan untuk memberikan edukasi kepada anak pesisir tentang kelestarian laut sekaligus melanjutkan pendidikan dibidang Climate Change and Development. Dalam pedidikannya tersebut, Christine melakukan riset mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan barang-barang pakai ulang, salah satunya botol minum dan hasil risetnya tersebut menunjukkan bahwa faktor infrastruktur seperti ketersediaan mesin isi ulang menjadi salah satu alasan utama seseorang untuk membawa atau tidak membawa botol minum. Melalui riset tersebut, Christine memutuskan untuk bergabung dengan RefillMyBottle dan bersama-sama membangun jejaring isi ulang air minum tanpa kemasan plastik sebagai solusi untuk permasalahan yang ingin ia selesaikan. Bersama komunitas RefillMyBottle, Christine berharap bahwa ia dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan konsep keberlanjutan dan memberikan akses untuk hidup lebih selaras dengan bumi, karena sustainability adalah sebuah tujuan akhir yang harus diusahakan bersama-sama sebagai sebuah kesatuan.

Christine percaya bahwa pendidikan merupakan aset penting yang harus dimiliki setiap orang, baik itu pendidikan formal maupun informal. Selain berkomunitas di dalam dan di luar kampus serta pembelajaran mandiri melalui situs online, Christine melihat bahwa akses pendidikan formal yang berkualitas membuka opsi perjalanan karier yang lebih luas. Melalui pendidikan yang didapatkannya di UPH, Christine semakin memahami pentingnya berkomunitas dan melihat sebuah isu dari sudut pandang lain.

“Yang paling berkesan adalah pengalaman berorganisasi di kampus, karena dapat bertemu dengan individu dari jurusan lain sehingga bisa mendapatkan perspektif yang beragam, serta membangun relasi dengan banyak pihak. Tidak hanya murid dari jurusan lain, tapi juga para pemimpin kampus dan pihak luar lainnya. Hal ini sangat mempersiapkan saya dalam memasuki dunia kerja,” tutup Christine.

Tahun Kelulusan: 05/03/2012
Pendidikan di UPH sangat berkesan untuk saya. Terutama, karena UPH mengajarkan para mahasiswa dan mahasiswi-nya untuk selalu mengutamakan Tuhan dan memiliki karakter yang saleh (Godly Character). Menurut saya, penanaman nilai-nilai seperti inilah yang membedakan UPH dengan kebanyakan Universitas yang lain. Di UPH, selain dibimbing untuk meraih kesuksesan secara jasmani, mahasiswa dan mahasiswi juga diarahkan untuk memilki pengenalan dan pengertian akan Tuhan dengan benar
Rachel Angela (Hukum 2017)
Pencipta lagu dan Penyanyi Lagu Kristen Indonesia

Menjadi Berkat Melalui Sosial Media, Rachel Angela Rutin Unggah Cover Lagu Rohani

Membawa dampak bagi anak muda adalah impian semua orang, termasuk Rachel Angela, alumni Fakultas Hukum UPH angkatan 2017. Dengan suara merdu yang Tuhan berikan kepadanya, ia kini menjalani karier dibidang tarik suara, menyanyikan lagu-lagu rohani Kristen melalui platform sosial media yang dimilikinya. Dengan doa dan dukungan luar biasa dari keluarga terdekat, ia memantapkan hati untuk fokus membagikan konten rohani setelah mengumulkan jenis konten seperti apa yang akan dibawakan.

“Keputusan itu merupakan mujizat bagi saya, karena tidak mungkin rasanya, kalau bukan Tuhan yang mengubah hati dan mimpi saya. Impian yang saya pupuk sejak kecil berubah arah 180 derajat, tanpa adanya kekecewaan maupun penyesalan sampai hari ini. Saya pernah mencoba untuk menuruti saran teman-teman saya tersebut dengan hanya fokus menggunakan sosial media saya untuk keperluan pekerjaan saja tanpa melibatkan pelayanan (fokus untuk kover lagu sekuler saja), dengan pemikiran bahwa pelayanan tidak harus dilakukan lewat sosial media, tapi bisa dilakukan lewat tempat lain. Tapi hati saya sangat-sangat tidak damai, malah lebih galau dari sebelumnya, sampai-sampai ‘fokus untuk pekerjaan saja’ itu hanya saya lakukan selama 2 hari. Dari situ saya berdoa lagi, saya terus berdoa sampai akhirnya pada suatu pagi Tuhan memberikan kemantapan hati kemana saya harus melangkah. Hari itu saya menelepon mama saya, saya bilang: ‘Ma, Rachel sudah tahu apa yang Rachel akan pilih, Rachel memilih untuk sepenuhnya melayani Tuhan, mengenai pekerjaan, Rachel yakin Tuhan sudah sediakan, bagi Tuhan terlalu mudah untuk memberkati Rachel lewat caraNya’,” kisah Rachel.

Rachel mengakui bahwa dalam melayani sekalipun, ia menemukan tantangan yang harus dihadapi. Namun dengan kedisiplinan, konsistensi, kreativitas, Rachel melawan rasa jenuh tersebut agar konten yang dihasilkannya tetap relate dan dapat menyampaikan pesan yang dititipkan kepadanya dengan baik kepada anak-anak muda seusianya. Rachel percaya, bahwa saat ia mengandalkan Tuhan, menjalani pelayanan dengan kasih, serta membangun hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan, maka pelayanan yang ia lakukan akan berbuah manis pada waktunya.

Selain itu, Rachel juga percaya bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam perjalanan kariernya. Ia percaya bahwa melalui pendidikan yang ia dapatkan di UPH, ia belajar untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan, lebih disiplin, konsisten, serta kreatif. Dan lebih dari itu, Rachel percaya bahwa sejalan dengan pelayanan yang dilakukannya ilmu hukum sangat bermanfaat untuk mengurus kontrak-kontrak tertulis ketika ia mendapat tawaran pekerjaan seperti endorsement dan Brand Ambassador.

“Pendidikan di UPH sangat berkesan untuk saya. Terutama, karena UPH mengajarkan para mahasiswa dan mahasiswi-nya untuk selalu mengutamakan Tuhan dan memiliki karakter yang saleh (Godly Character). Menurut saya, penanaman nilai-nilai seperti inilah yang membedakan UPH dengan kebanyakan Universitas yang lain. Di UPH, selain dibimbing untuk meraih kesuksesan secara jasmani, mahasiswa dan mahasiswi juga diarahkan untuk memilki pengenalan dan pengertian akan Tuhan dengan benar” tutup Rachel dengan senyuman.

Tahun Kelulusan: 17/07/2021
Masa kuliah di UPH sungguh berkesan bagi saya karena saya terekspos dengan banyaknya pengalaman dan pengetahuan yang membentuk diri sebagaimana pribadi saya saat ini. Menurut saya, selain tentunya pengalaman, yang paling berguna hingga saat ini adalah social skill kita, sebagai investasi dalam networking di masa mendatang dan seterusnya
Elrica Sofridia (DKV 2004 & MTI 2009)
Chief Operating Officer at Creative Nest Indonesia

Memfasilitasi Pegiat Industri Kreatif untuk Berkolaborasi Elrica Sofridia Mengemban Tanggung Jawab Sebagai Chief Operating Officer untuk Creative Nest Indonesia

Pepatah yang berkata “tidak ada kekuatan yang setara dengan seorang wanita yang bertekad untuk bangkit” – adalah pepatah yang sangat menggambarkan Elrica Sofridia, Alumni Desain Komunikasi Visual UPH 2004 sekaligus alumni Magister Teknik Industri UPH 2009. Sebagai seorang Chief Operating Officer untuk Creative Nest Indonesia, adalah tugas Elrica – sapaan sehari-hari wanita kelahiran Malang ini – untuk memastikan bahwa setiap divisi berfungsi dengan baik dalam menjalankan tugasnya, mengarahkan perusahaan, dan juga mencari peluang lain yang lebih inovatif untuk mengembangkan perusahaan itu sendiri. Creative Nest Indonesia, sebuah creative hub dan juga training center yang memiliki visi untuk menjadi wadah sekaligus memfasilitasi para pelaku dan pegiat industri kreatif telah menjadi rumah kedua Elrica sejak 2019. Ia berharap, melalui Creative Nest, banyak pelaku kreatif untuk dapat saling berkolaborasi, saling melengkapi, dan terus berkembang dalam membuat karya-karya yang berkualitas.

Dalam menjalani tugasnya, Elrica memegang teguh integritas, sikap kritis, dan adaptatif. Ia percaya bahwa dengan tuntutan zaman yang mengharuskannya selalu kreatif dan up-to-date untuk mengikuti kebutuhan, pergerakan, dan perkembangan zaman dalam industri kreatif ini, tiga nilai tersebut tidak boleh luput dari perhatiannya. Selain itu, dukungan dari keluarga, partner, serta team juga harus diakui Elrica memberi dorongan yang luar biasa baginya dari hari ke hari.

Bagi Elrica, pendidikan merupakan modal yang sangat penting untuk dimiliki. Jika pendidikan yang diterima baik, maka kerangka atau pola pikir dalam diri seseorang akan terbentuk dengan baik – dimana kerangka berpikir ini akan menghasilkan life-skill yang solutif. Terlebih dari itu, pendidikan juga membantunya menjadi lebih open-minded dan mengolah informasi atau pengetahuan dengan lebih baik untuk dapat diaplikasikan.

“Masa kuliah di UPH sungguh berkesan bagi saya karena saya terekspos dengan banyaknya pengalaman dan pengetahuan yang membentuk diri sebagaimana pribadi saya saat ini. Menurut saya, selain tentunya pengalaman, yang paling berguna hingga saat ini adalah social skill kita, sebagai investasi dalam networking di masa mendatang dan seterusnya,“ tutup Elrica.

Tahun Kelulusan: 23/01/2008
Psikologi UPH telah membantu saya tidak hanya dari segi pendidikan akan tetapi juga pengembangan karakter. Saya lebih percaya diri ketika saya bertemu dengan orang dalam hal bisnis maupun pribadi. Sebagai contoh, ketika ada konflik diantara karyawan-karyawan saya, bekal yg saya terima dari waktu saya kuliah bisa saya pakai untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut
Aviana Nastasia (Psikologi 2006)
Director of Operations at I Can Read Indonesia - Solo

Mengandalkan Tuhan dan Tidak Takut Gagal, Aviana Nastasia Jalani Mandat Sebagai Director of Operations I Can Read Indonesia – Solo

Bahasa Inggris menjadi aset yang sangat penting dalam masa globalisasi ini. Dan terutama bagi Aviana Nastasia, Alumni Psikologi UPH 2006, Director of Operations I Can Read Indonesia, cabang Solo, adalah panggilan hidupnya untuk dapat membantu anak-anak Indonesia memahami bahasa Inggris dengan lebih efektif dan efisien. Pertengahan 2020 lalu, Aviana bergabung dengan I Can Read, salah satu Lembaga Kursus Bahasa Inggris yang terkemuka di Asia, terutama di Indonesia. Sebagai Director of Operations di salah satu center mereka di Solo, Aviana mengatur semua kegiatan operasional center tersebut, termasuk proses perencanaan hingga pelaksanaan operasional. Melalui metode pembelajaran yang menggabungkan berbagai gaya belajar seperti auditori, visual, dan kinestetik, Aviana percaya bahwa Bahasa Inggris akan lebih mudah dan lebih cepat dipahami anak-anak.

Dalam menjalani kariernya saat ini, Aviana mengakui bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi adalah menyesuaikan ide-ide marketing yang didapat dari I Can Read Pusat (Jakarta) dengan kondisi Solo yang adalah kota kecil, baik secara harga dan metodenya. Namun melalui tantangan inilah Aviana belajar untuk semakin bergantung pada Tuhan, tidak takut pada kegagalan, dan juga secara rutin mengambil waktu untuk beristirahat dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Ia percaya, bahwa ketika ia selalu melibatkan Tuhan dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya, Tuhan akan bekerja dan membantunya untuk dapat bangkit dan belajar dari kegagalan yang dihadapinya.

Aviana percaya bahwa pendidikan adalah modal penting yang harus dimiliki tiap orang, termasuk dirinya. Dukungan yang diberikan oleh ayahnya untuk dapat terus belajar dan meraih mimpi setinggi-tingginya selaras dengan pendidikan yang dijalani Aviana di Psikologi UPH. UPH diakuinya tidak hanya telah memperlengkapinya dengan ilmu praktis, namun juga pengembangan karakter.

“Psikologi UPH telah membantu saya tidak hanya dari segi pendidikan akan tetapi juga pengembangan karakter. Saya lebih percaya diri ketika saya bertemu dengan orang dalam hal bisnis maupun pribadi. Sebagai contoh, ketika ada konflik diantara karyawan-karyawan saya, bekal yg saya terima dari waktu saya kuliah bisa saya pakai untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut,” tutup Aviana.

Tahun Kelulusan: 07/09/2010
Semua yang saya dapatkan di Conservatory of Music UPH sangat penting dan berguna dalam dunia kerja saya sekarang ini, termasuk juga dosen-dosen pengajar saya yang berkualitas dan memang sudah teruji dalam bidang mereka masing-masing
Joshua Setiawan (Conservatory of Music 2010)
Founder of Joshua Setiawan Entertainment

Menyediakan Musik Berkualitas untuk Acara Pernikahan, Alumni Conservatory of Music UPH Cetuskan Joshua Setiawan Entertainment

Memberikan dan menampilkan musik yang berkualitas dalam acara-acara seperti pernikahan dan lain sebagainya merupakan tujuan Joshua Setiawan, Alumni Conservatory of Music UPH 2010, dalam membangun Joshua Setiawan Entertainment, sebuah Music Entertainment yang bergerak dalam industri Wedding di Indonesia. Dengan ketekunan, kekuatan mental, dan kegigihan dalam bekerja, Joshua memulai usahanya ini 2018 lalu, tak lama setelah dirinya menyelesaikan pendidikan di Conservatory of Music UPH.

Joshua, sapaan akrab pria kelahiran Bali ini, mengakui bahwa merintis sebuah Music Entertainment di Indonesia bukanlah perkara mudah. Sebagai seorang seniman yang lahir dengan latar belakang keluarga yang bermusik, Joshua paham betul bahwa ada banyak music entertainment diluar sana yang tidak memahami musik namun sudah menawarkan jasa dengan harga sangat terjangkau. Resikonya, ada banyak acara pernikahan yang memperdengarkan musik yang kurang berkualitas. Dengan demikian, Joshua ingin memperbaiki hal tersebut.

Menurut Joshua, pendidikan adalah modal yang penting untuk dimiliki, terutama untuknya merintis usaha Joshua Setiawan Entertainment. Joshua percaya bahwa ia pertama-tama harus paham produk apa yang akan ia jual kepada konsumen, sehingga konsumen merasa keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik dalam memberikan jasa tersebut. Dan salah satu cara yang ia yakini untuk dapat mengetahui apa yang harus berikan adalah melalui pendidikan yang tepat, sesuai, benar, dan professional.

“Semua yang saya dapatkan di Conservatory of Music UPH sangat penting dan berguna dalam dunia kerja saya sekarang ini, termasuk juga dosen-dosen pengajar saya yang berkualitas dan memang sudah teruji dalam bidang mereka masing-masing,” tutup Joshua.

Tahun Kelulusan: 04/03/2014
Banyak yang menganggap pendidikan hanya didapat pada saat kita ada di kelas dan belajar, namun menurut saya pendidikan juga bisa didapat pada saat kita aktif berkegiatan dan berorganisasi di kampus. Pengalaman dan pelajaran yang saya terima selama mengikuti organisasi di kampus masih saya bawa sampai sekarang
Fadi Filip Anugerah (Hubungan Internasional 2012)
Tenaga Ahli Muda Komunikasi di Bidang Air Minum dan Sanitasi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)

Fadi Filip Anugerah, Alumni Hubungan Internasional 2012 Berkontribusi Untuk Meningkatkan Profil Dari Sektor Air dan Sanitasi Indonesia

Satu lagi alumni UPH lulusan Hubungan Internasional angkatan 2012 memberikan sumbangsih bagi Indonesia dalam bentuk pemikiran. Ialah Fadi Filip Anugerah, yang dipercaya sebagai salah satu tenaga ahli muda komunikasi di Bidang Air minum dan Sanitasi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dalam kesehariannya, Fadi – sapaan sehari-hari pemuda kelahiran Malang ini – dipercaya mencari cara untuk meningkatkan profil dari sektor air dan sanitasi, agar dapat menjadi isu prioritas baik itu di tingkat nasional sampai ke tingkat daerah. Selain itu, ia dan rekan-rekan kerjanya juga dipercaya untuk mempersiapkan perhelatan Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) pada bulan November 2021, sebuah wadah kolaborasi dan advokasi terbesar di sektor air dan sanitasi.

Dalam menjalani perannya sebagai seorang tenaga ahli muda komunikasi, Fadi mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini adalah untuk mengemas strategi komunikasi dan advokasi yang tepat agar dapat diterima dengan baik diseluruh lapisan masyarakat. Berangkat dari data terkait capaian akses sanitasi yang aman di Indonesia, saat ini akses sanitasi dan air minum di rumah tangga hanya sekitar 7,6% dan air minum aman sekitar 11,9% – kedua angka ini masih jauh dari target nasional, sehingga diperlukan kerja ekstra untuk meningkatkan angka tersebut. Namun Fadi meyakini pepatah yang mengatakan, ‘sebuah hasil pasti tidak akan mengkhianati prosesnya’. Ia percaya bahwa dengan kerja keras, mau mengikuti proses dengan baik, dan pantang menyerah, maka hasil yang didapatkan pun akan baik.

Kepercayaan yang diberikan kepada Fadi di Bappenas tentu tidak terlepas dari pendidikan yang didapatnya selama di UPH. Fadi yang selalu menyempatkan waktu untuk belajar dari orang- orang hebat di lingkungannya, baik dari yang lebih senior maupun junior, meyakini bahwa pendidikan tidak hanya didapatkan melalui pelajaran dalam kelas, namun juga dari kegiata- kegiatan lain yang diikutinya selama di kampus, seperti aktif dalam kepanitaan, kepengurusan dalam organisasi, dan pada saat ia berkesempatan magang di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Filipina.

“Banyak yang menganggap pendidikan hanya didapat pada saat kita ada di kelas dan belajar, namun menurut saya pendidikan juga bisa didapat pada saat kita aktif berkegiatan dan berorganisasi di kampus. Pengalaman dan pelajaran yang saya terima selama mengikuti organisasi di kampus masih saya bawa sampai sekarang. Selain itu, saya juga sangat terkesan dengan pengalaman saya menjadi anak magang di Kedutaan Besar Indonesia di Filipin tahun 2014 lalu – banyak hal yang saya pelajari dengan “terjun bebas” ke dunia pekerjaan saat itu, mulai dari bekerja dengan orang orang yang lebih dewasa, membangun relasi dengan teman-teman baru yang mempunyai latar belakang yang berbeda sampai bagaimana caranya memberikan hasil kerja yang baik walaupun dibawah tekanan.” tutup Fadi.

Tahun Kelulusan: 03/03/2016
Saya ingat ketika pertama kali melangkahkan kaki masuk ke lobi kampus UPH, ada ukiran besar bertuliskan ‘Responsibility Begins With Me’. Ini menjadi slogan yang menjadi pedoman ketika saya menuntut ilmu maupun berinteraksi dengan para sahabat seperjuangan saya di UPH. Saya yang awalnya sangat academic mindset juga jadi lebih terbuka wawasannya akan berlimpahnya peluang di dunia bisnis dan investasi dari sesama kawan UPH lintas jurusan
William O. Mamudi (Fisika 2003)
Senior Technical Analyst at PT Samuel Sekuritas Indonesia

Bekerja Dengan Disiplin dan Optimisme, William O. Mamudi Dipercaya Mengemban Tugas Sebagai Senior Technical Analyst di PT Samuel Sekuritas Indonesia

Melakukan investasi pada pasar modal kini semakin diminati masyarakat Indonesia. Kesadaran mengenai perencanaan finansial yang baik untuk memenuhi kebutuhan dimasa depan kini sudah menjadi seperti kebutuhan utama. Dibalik hasil analisa yang dapat diakses nasabah PT Samuel Sekuritas Indonesia, adalah tugas William Oktafbipian Mamudi, Alumni Fisika UPH 2003 untuk memberikan update situasi pasar modal terbaru serta memberikan rekomendasi saham-saham dengan dinamika yang menarik bagi para nasabah. Dengan kepercayaan yang diemban William sebagai Senior Technical Analyst, ia harus jeli membaca peluang, baik dari saham-saham pada sektor penggerak ekonomi tradisional maupun saham-saham yang luput dari radar para investor tetapi berpeluang memberikan nilai return lebih dimasa depan.

Sejak duduk dibangku kuliah dulu, William memegang teguh nilai kedisiplinan dan optimisme. Ia percaya, bahwa dengan menerapkan disiplin mengikuti strategi yang sudah dibangun susah payah, strategi investasi yang sudah teruji akan berhasil dalam jangka panjang. William juga percaya bahwa optimisme harus dibangun dalam diri sendiri serta melalui networking yang baik. Ketika ia berdiskusi dengan rekan-rekan seperjuangannya di UPH, ia mulai terbiasa dengan ide bahwa orang Tionghoa percaya krisis memberikan bahaya sekaligus peluang, dimana ia kini percaya bahwa dalam keadaan krisis akan selalu bangkit investor generasi berikut yang berhasil karena berani mengambil peluang di tengah bahaya. Dengan demikian, William terus merasa optimis dengan dunia investasi Indonesia.

Dalam menjalani kariernya, William tentu menemukan kesulitan yang harus ia lalui. Sebagai seorang chartist professional, William pertama-tama harus mampu mempertahankan objektivitasnya, terutama dalam menghadapi karakter klien yang berbeda-beda. Selain itu, William juga harus mampu menjelaskan dengan hasil analisa chart-nya dengan bijak jika rekomendasinya bertentangan dengan bias personal investor. William sangat percaya bahwa Indonesia akan mengarah lebih baik di masa depan. Kesuksesan William saat ini dalam bidang analisa pasar modal tentu tidak lepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH. William yang saat itu mendapatkan kesempatan untuk menerima beasiswa fisika dan diajarkan langsung oleh Prof. Yohanes Surya mengakui bahwa ia percaya bahwa tanggung jawab dimulai dari diri sendiri dan ia terus mengingat pedoman ini dalam menjalani karier.

“Saya ingat ketika pertama kali melangkahkan kaki masuk ke lobi kampus UPH, ada ukiran besar bertuliskan ‘Responsibility Begins With Me’. Ini menjadi slogan yang menjadi pedoman ketika saya menuntut ilmu maupun berinteraksi dengan para sahabat seperjuangan saya di UPH. Saya yang awalnya sangat academic mindset juga jadi lebih terbuka wawasannya akan berlimpahnya peluang di dunia bisnis dan investasi dari sesama kawan UPH lintas jurusan,” tutup William.

Tahun Kelulusan: 08/03/2007
Di pendidikan Magister Manajemen UPH, saya terkesan pada sesi presentasi proyek kelompok dimana dosen memberikan kami studi kasus yang real dan tidak berdasarkan text book. Disini saya belajar untuk menganalisis kasus secara comprehensive sekaligus berlatih cara mempresentasikan suatu proyek dengan baik di depan khalayak umum, yang mana amat sangat penting untuk role saya saat ini yaitu untuk convicing the professionals
Yoselin Indrawati (Magister Management 2018)
Senior Research Executive & Creative Expert

Mengubah Angka Menjadi Cerita, Yoselin Indrawati Menekuni Karier Sebagai Senior Research Executive Sekaligus Creative Expert

Beberapa tahun belakangan ini, iklan-iklan yang bermunculan dihadapan konsumen Indonesia menjadi kian menarik dan meyakinkan. Apalagi didukung dengan hadirnya platform belanja online yang memberikan banyak kemudahan, konsumen tentu tidak terhindarkan dari kegiatan berbelanja. Perubahan perilaku masyarakat ini membuat tugas Yoselin Indrawati, Alumni Magister Manajemen UPH angkatan 2018, menjadi semakin menantang. Sebagai Senior Research Executive sekaligus creative expert untuk salah satu firma yang memfasilitasi kebutuhan perusahaan-perusahaan di Indonesia terkait perilaku belanja konsumen, merupakan tugas Yoselin untuk memahami dinamika reaksi audience ketika terekspos terhadap jenis-jenis iklan tertentu kemudian mengolah serta menuangkan data tersebut dalam bentuk laporan yang didasarkan pada kombinasi human understanding dan big data. Terlebih dari itu, Yoselin juga dituntut untuk mampu memberikan presentasi laporan, workshop, dan serta penulisan beberapa artikel terkait big data learning.

Tentu perjalanan menjadi seorang Senior Research Executive yang sekaligus dipercayakan tugas seorang creative expert tidak mudah. Ternyata, mempresentasikan laporan hasil analisanya kepada klien merupakan tantangan terbesar yang Yoselin masih harus ia taklukkan sampai saat ini.

“Membuat report adalah satu tantangan tersendiri, tapi mempresentasikan di hadapan professionals dan panggung yang cukup besar, itu adalah tantangan saya yang sesungguhnya. Dulu saya berpikir bahwa presentasi hanya sebatas menceritakan angka: baik atau buruk – tapi ternyata, presentasi adalah bagaimana kita mengubah angka jadi suatu cerita yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya, dan bagaimana mengubah angka jadi suatu keputusan yang dapat kita berikan tindakan setelah itu dan harus disesuaikan dengan human understanding,” ucap Yoselin, yang memegang teguh kerendahan hati dan sikap mau belajar.

Rasa ingin tahu dan sifat yang suka mengamati membuat Yoselin bersemangat dalam meniti kariernya dalam bidang consumer-behavior research dan creative. Baginya, menganalisa reaksi manusia terhadap commercial advertising yang saat ini bertebaran didunia maya merupakan sebuah kegiatan yang menyenangkan. Bagi Yoselin, ada kekaguman tersendiri ketika ia melihat iklan dengan dikemas dengan sangat baik dan terlebih pada pengiklan yang mampu membawa emosi konsumen dengan cara menuangkan suara kolektif masyarakat kedalam iklan tersebut.

Bagi Yoselin, pendidikan adalah modal penting yang harus dimiliki setiap orang, terlepas dari pekerjaannya. Selain memperlengkapinya dengan dasar-dasar untuk berkomunikasi serta cara jitu untuk memahami reaksi seseorang yang didasarkan oleh tingkat kebutuhan mereka, Pendidikan pasca-sarjana yang Yoselin jalani di UPH terlebih mengasah kemampuannya untuk menganalisa kasus secara lebih mendalam dan lengkap.

“Di pendidikan Magister Manajemen UPH, saya terkesan pada sesi presentasi proyek kelompok dimana dosen memberikan kami studi kasus yang real dan tidak berdasarkan textbook. Disini saya belajar untuk menganalisis kasus secara komprehensif sekaligus berlatih cara mempresentasikan suatu proyek dengan baik di depan khalayak umum, yang mana amat sangat penting untuk peran saya saat ini yaitu untuk meyakinkan para profesional,” tutup Yoselin.

Tahun Kelulusan: 17/07/2021
Buat saya, yang paling berkesan saat kuliah dulu adalah banyaknya organisasi yang tersedia di UPH. Melalui pengalaman saya mengikuti organisasi, saya mempelajari time management dan project management yang saya terus pakai dalam pekerjaan saya sampai hari ini
Karnika Grikanandini (Ilmu Komunikasi 2012)
Brand Manager at Unilever Indonesia

Terus Belajar dan Pantang Menyerah, Karnika Grikanandini Terus Dorong Diri untuk Jadi Pribadi yang Membawa Nilai Tambah Bagi Perusahaan

Dibalik promosi sebuah brand yang efektif, tentu ada banyak perencana hebat dibelakang layar yang mengatur strategi pemasaran produk tersebut. Karnika Grikanandini, Alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2012 adalah salah satunya. Sebagai Brand Manager di Unilever Indonesia, tugas Nika – sapaan wanita kelahiran Jakarta ini – adalah untuk mengembangkan berbagai jenis produk yang dijual Unilever dari end to end, mulai dari mencari consumer insights sampai mencari solusi untuk menjawab insights tersebut agar setiap brand yang dimiliki Unilever dapat terus menghasilkan produk yang diperlukan masyarakat.

Sebagai seorang Brand Manager, tentu ada banyak tantangan yang harus Nika hadapi, termasuk untuk memahami sisi pemasaran sekaligus sisi bisnis perusahaannya secara keseluruhan. Ia harus belajar mengenai mesin yang ada di pabrik, kemasan, hingga proses pembuatan produk. Melalui pemahaman yang selalu diperbaharui ini, ia kemudian dapat memberikan solusi yang lebih maksimal untuk perkembangan brand-nya from end to end. Melalui setiap tantangan maupun kegagalan yang dihadapinya, Nika terus bertekun dan pantang menyerah. Ia percaya bahwa setiap kesulitan yang dihadapinya akan menjadi batu loncatan yang berharga dimasa yang akan datang.

Nika mengakui bahwa pendidikan adalah modal yang penting dalam kariernya saat ini. Menurutnya, pendidikan yang ia jalani di UPH telah memperlengkapinya dengan ilmu praktis serta soft-skill, termasuk problem solving, time management, dan juga semangat pantang menyerah. Nika percaya bahwa dengan ilmu yang ia miliki, ia dapat menjadi pribadi yang bermanfaat untuk perusahaan, orang-orang sekitarnya, serta Indonesia.

“Buat saya, yang paling berkesan saat kuliah dulu adalah banyaknya organisasi yang tersedia di UPH, mulai dari organisasi kemahasiswaan seperti HMJ atau BEM sampai organisasi club yang luar biasa di ilmu komunikasi seperti TV Club dan juga Radio Club. Melalui pengalaman saya mengikuti BEM, club radio, dan membantu acara-acara HMJ ilkom lainnya, saya mempelajari time management dan project management yang saya terus pakai dalam pekerjaan saya sampai hari ini,” tutup Nika.

Tahun Kelulusan: 03/03/2016
Saya bersyukur, di UPH mendapatkan pengalaman-pengalaman yang baik termasuk di luar bidang akademis juga, seperti leadership dan spiritual
Iven Kawi (Akuntansi 2004)
Founder & Baker of IVENOVEN

Memanggang Kue Dengan Cinta, Iven Kawi, Founder Ivenoven, Ingin Selalu Memberikan yang Terbaik untuk Pelanggannya

Kue – sebuah kue adalah representasi hari spesial seseorang atau keluarga yang biasanya tersedia dalam pesta perayaan keluarga Indonesia. Kurang pas rasanya jika pada hari tersebut dirayakan tanpa kue. Selain rasa kue yang enak, tentu kue yang cantik dan bisa didekorasi khusus atau custom-design menjadi keinginan semua orang. Adalah Iven Kawi, alumni Akuntansi UPH angkatan 2004, founder IVENOVEN yang membuat semua harapan kue ulang tahun masyarakat Indonesia terwujud: selain andal membuat dekorasi kue menggunakan buttercream sesuai yang diinginkan oleh pembeli, ia juga menciptakan sendiri rasa kue berikut isi di setiap lapisan untuk menciptakan penggabungan rasa yang enak dan seimbang.

Perjalanan Iven dalam dunia cakery berawal ditahun 2014 ketika anak pertamanya memasuki usia balita dan meminta dibelikan kue dari toko kue untuk dinikmati sebagai kudapan. Iven yang sedari kecil memang menyukai kue dan sudah terbiasa membantu Ibunya membuat kue sendiri akhirnya memutuskan untuk melakukan hal yang sama untuk anaknya karena kue buatan sendiri dibuat menggunakan bahan-bahan yang terbaik termasuk penggunaan telur ayam kampung dan tidak menggunakan bahan artifisial dalam campuran kue. Tidak berhenti pada membuatkan kue untuk anaknya, Iven kemudian mulai mencoba membuat berbagai macam jenis kue dan membaginya kepada teman-teman komunitas gereja. Dari salah satu teman gereja yang kemudian memesan kue secara profesional kepada Iven untuk ulangtahun-nya, Iven kemudian memutuskan untuk menekuni bisnis ini dengan bantuan suaminya untuk mengatur pemasaran IVENOVEN di media sosial sampai sekarang dan sudah membawahi kurang lebih 20 orang tenaga kerja profesional lulusan di bidang pastry.

Dalam mengembangkan IVENOVEN, Iven bertekad untuk selalu memberikan yang terbaik. “Bake with love; to bake as if it is for my own family,” ucap Iven – inilah prinsip yang menjadi landasannya untuk terus berkreasi dan memanggang kue. Iven percaya, dukungan dari mama, teman-teman yang menjadi pembeli pertamanya, serta suami dapat terus memberikan dirinya semangat untuk terus berkarya. Dan betul saja, apa yang dimulai 1 sampai 2 kue dalam seminggu kemudian berkembang menjadi 10 sampai 15 kue, dan terus berkembang lagi menjadi 60 sampai 70 kue per minggu. Bahkan Iven juga diundang untuk membagikan kemampuannya dalam mendekorasi kue di beberapa negara.

Kesuksesan Iven saat ini tentu tidak terlepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH. Menurutnya, pendidikan tidak hanya membuka pintu akademis, namun terlebih pintu untuk mengembangkan diri serta untuk membangun relasi.

“Hal penting yang saya pelajari saat kuliah dulu yang kini sangat bermanfaat dalam bisnis saya adalah cara membuat laporan keuangan. Sekecil apapun usaha kita, penting untuk membuat laporan, membuat anggaran dan manajemen biaya, menghitung harga pokok produksi, harga pokok penjualan, menghitung inventory, dan masih banyak lainnya. Saya bersyukur, di UPH mendapatkan pengalaman-pengalaman yang baik termasuk di luar bidang akademis juga, seperti leadership dan spiritual,” cerita Iven.

Iven berpesan untuk memulai dari apa yang kita punya sekarang, sekecil apapun itu. Era digital ini telah membantu setiap orang untuk dapat mengakses informasi menjadi lebih mudah sehingga bisa mendapatkan inspirasi dan belajar di mana saja kapan saja. Oleh sebab itu setiap anak muda yang ingin sukses di bidang yang diminati agar terus belajar, sesuaikan, kembangkan, terapkan, lalu ulangi, karena dunia terus berputar, kita juga perlu terus-menerus belajar agar selalu bisa berkembang.

Tahun Kelulusan: 28/03/2008
Pendidikan di UPH mengajarkan kami untuk tetap berusaha dan gigih, bertahan untuk melakukan yang terbaik ditengah banyaknya tantangan
Natalia M. Christina (Kedokteran 2004)
Dokter Spesialis Bedah Umum di Siloam Hospitals Lippo Village

Memenuhi Panggilan Menjadi Dokter Dengan Keterampilan dan Sikap yang Excellent

Tentu tidak sedikit dari anak Indonesia yang ketika ditanya “apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?”, jawabannya adalah “mau menjadi seorang dokter”. Pun demikian bagi dr. Natalia M. Christina Sp.B, dokter Spesialis Bedah Umum Siloam Hospitals Lippo Village, Alumni Kedokteran UPH 2004. Baginya, menjadi seorang dokter tidak hanya menjadi sebuah cita-cita, namun juga sebuah upaya yang ia kejar terus sampai hari ini untuk dapat membantu anggota keluarganya yang membutuhkan pertolongan medis. dr. Natalia berkisah bahwa di keluarga besarnya, tidak ada anggota keluarganya yang memiliki latar belakang medis dan ia merasa sangat terpukul ketika harus kehilangan akibat kurangnya pemahaman maupun pertolongan medis yang tersedia saat itu.

dr. Natalia menyadari penuh bahwa menjadi seorang dokter merupakan tanggung jawab yang besar. Diperlukan kasih, sukacita, dan ikhlas yang sama besarnya saat ia bertemu pasien dan membantu mencari solusi terbaik terhadap kebutuhan pasien. Menurut dr. Natalia, tantangan terbesar yang dihadapinya merupakan keterbatasan obat, alat, maupun finansial yang tersedia sehingga ia tidak selalu dapat bergerak cepat. Sebelum ia dipanggil untuk kembali melayani di Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Natalia sempat bekerja dibeberapa rumah sakit dan disanalah ia melihat ada begitu banyak pasien yang membutuhkan tindakan segera, namun dengan sumber daya yang terbatas, ia tidak dapat membantu lebih banyak. Namun mengingat masa pendidikannya di UPH, dr. Natalia terus menjalankan semuanya dengan tepat dan sukacita.

Menurut dr. Natalia, pendidikan merupakan modal yang penting bagi siapapun untuk meniti karier, terutama untuk seorang dokter. Ia bersyukur bahwa UPH tidak hanya menitikberatkan pendidikan pada ilmu (science), namun juga pada skill dan terlebih attitude. Selain itu, mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan Hospital Exposure ditahun pertamanya kuliah dulu juga merupakan tolok ukur penting. Melalui pengalaman tersebut, dr. Natalia dapat melihat lebih dekat kehidupan seorang dokter, mulai dari tuntutan waktu, tantangan, serta baik buruknya secara lebih dekat. Hal-hal ini telah mempersiapkan dirinya lebih baik untuk menjadi dokter yang bertanggung jawab dimasa kini.

“Pendidikan di UPH mengajarkan kami untuk tetap berusaha dan gigih, bertahan untuk melakukan yang terbaik ditengah banyaknya tantangan. Pandemi Covid saat ini menggoda kami untuk diam saja dan tidak berbuat apa-apa, tapi pendidikan UPH memotivasi kami untuk tetap bertahan dalam pelayanan, dan bahkan ikut serta dalam bakti sosial untuk vaksin demi kesehatan masyarakat yang lebih lagi,” tutup wanita kelahiran Manado ini dengan senyuman.

Tahun Kelulusan: 23/01/2008
Pengalaman yang berkesan untuk saya ketika berkuliah di DKV UPH diantaranya adalah latihan ketahanan mental, dimana dalam tugas-tugas yang diberikan, saya dilatih untuk tidak mudah menyerah, teliti, fokus, presisi, rapih, cepat, namun di saat yang sama dituntut untuk hasil yang maksimal. Sehingga, ketika keluar ke dunia kerja bidang apapun, nilai-nilai di atas masih selalu saya terapkan
Glory Josephine Immanuela (DKV 2016)
Founder & Designer of Rupa Cerita

Berkreasi Sambil Menyampaikan Pesan Positif, Glory Josephine Immanuela Cetuskan Rupa Cerita

Dibalik design warna-warni menarik hati Rupa Cerita, sebuah artwear apparel yang lahir 2018 lalu, adalah Glory Josephine Immanuela, alumni Desain Komunikasi Visual UPH angkatan 2016. Berbagai jenis desain yang dituangkan pada media jaket denim karya Rupa Cerita-pun sudah eksis di panggung Indonesian Idol musim ke-sebelas. Nama-nama yang menghiasi panggung tersebut menyukai pesan positif yang disuarakan oleh Rupa Cerita. Kini, Rupa Cerita semakin banyak diminati masyarakat – termasuk gubernur Bank Indonesia di Singapura serta cucu presiden ke-7 Indonesia.

“Waktu awal Rupa Cerita meluncurkan produk-produknya Agustus 2018, komunitas gereja kami sangat suportif dan mendukung. Banyak dari teman kami yang membeli dan menggunakan diberbagai acara, sehingga gerakan ini sangat mempromosikan Rupa Cerita. Aku selalu percaya kalau Tuhan-lah yang menjadi akses utamaku. Ia yang dapat memegang pintu-pintu kesempatan. Jadi kalau Rupa Cerita sudah berjalan sejauh ini, aku dapat saksikan bahwa Tuhan-lah yang menjadi penolongku,” kisah Glory, yang juga rindu untuk membuat orang tuanya senang dan bangga.

Perjalanan Glory membangun Rupa Cerita sebagai sebuah custom artwear yang membawa nilai positif kepada generasi muda tentu bukannya tanpa tantangan. Sebagai sebuah bisnis start-up, seluruh kegiatan Rupa Cerita dijalankan oleh Glory dan tim kecilnya. Ia mengakui, bahwa dengan pesanan yang kian hari kian bertambah, ia sempat merasa kewalahan untuk menentukan alur pekerjaan dalam tim. Selain itu, menemukan partner pelukis yang memiliki kemampuan baik dalam mentransfer desain ke dalam lukisan jaket juga menjadi salah satu tantangan yang harus ditaklukkannya kini. Namun Glory percaya bahwa ketika ia setia dalam perkara kecil, baik itu project maupun client, maka satu saat nanti ia akan dipercayakan perkara besar. Maka dari itu, Glory tetap tekun, bekerja keras, dan selalu mengandalkan Tuhan di dalam langkah yang ia lalui.

Glory percaya bahwa pendidikan yang dijalaninya di UPH merupakan sebuah aset penting yang dimilikinya sebagai seorang desainer. Menurut Glory, ilmu yang didapatkannya di Desain Komunikasi Visual (Desain Grafis) lebih dari sekedar pengetahuan dasar untuk membangun sebuah brand, mempresentasikan karya seni, ataupun untuk memasarkan produk tersebut, namun juga melatih ketahanan mentalnya sebagai seorang desainer.

“Pengalaman yang berkesan untuk saya ketika berkuliah di DKV UPH diantaranya adalah latihan ketahanan mental, dimana dalam tugas-tugas yang diberikan, saya dilatih untuk tidak mudah menyerah, teliti, fokus, presisi, rapih, cepat, namun di saat yang sama dituntut untuk hasil yang maksimal. Sehingga, ketika keluar ke dunia kerja bidang apapun, nilai-nilai di atas masih selalu saya terapkan,” tutup Glory.

Tahun Kelulusan: 17/07/2021
Pengalaman yang berkesan selama saya di UPH adalah masa praktikumya. Karena kita dapat langsung mempraktekkan teori yang dipelajari di kelas pada masyarakat yang membutuhkan
Jessica Hariwijaya (Conservatory of Music 2013)
Medical Music Therapist at Siloam Hospitals Lippo Village

Bantu Rehabilitasi Motorik Pasien, Jessica Hariwijaya Jalani Panggilan sebagai Medical Music Therapist

Musik – sebuah elemen kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia. Dalam sejarah perkembangannya, musik tak hanya menjadi sarana untuk manusia mengungkapkan perasaan, namun juga untuk menyembuhkan kesehatan. Adalah tugas Jessica Hariwijaya sebagai seorang Medial Music Therapist di Siloam Hospitals Lippo Village, Alumni Conservatory of Music UPH angkatan 2013, untuk membantu pemulihan fungsi motorik, bicara, kognisi, psikologis dan sosial, serta mengurangi kegelisahan dalam masa perawatan pasien rawat inap. Setelah magang di rumah sakit yang sama tahun 2017 lalu, kinerja Jessica yang memuaskan membuat pihak rumah sakit menawarkan posisi tetap baginya didepartemen Rehabilitasi Medik untuk program Music Therapy. Sejak saat itu, departemen rehabilitasi medik sudah jauh berkembang dan membantu banyak pasien selama masa pemulihannya.

Menjadi seorang Medial Music Therapist tentu membutuhkan ketangguhan, determinasi dan intuisi dalam menangani pasien yang berbeda-beda. Jessica mengakui bahwa tekanan fisik dan psikologis yang bersamaan selalu ada telah membentuknya menjadi pribadi yang sabar dan berempati.

“Secara fisik, kita dituntut harus selalu siap on-foot selama 6 hari seminggu. Secara psikologis, pasien yang datang ke kita pastinya semua memiliki masalah dan stress yang sangat berat. Sebagai Medial Music Therapist, selain saya harus menghadapi stress yang diproyeksikan pasien, saya harus tetap mampu membantu pasien mencapai tujuan rehabilitasinya,” ucap wanita yang mencintai musik sejak kecil ini.

Panggilan hidup yang Jessica temukan untuk melayani sebagai seorang Medical Music Therapist tentu tidak lepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH. Ia merasa bahwa pendidikannya menjadi salah satu landasan penting yang membawa dirinya menjadi siapa dirinya hari ini, sebagaimana ia percaya bahwa making an impact is as important as making an income.

“Pengalaman yang berkesan selama saya di UPH adalah masa praktikumya. Karena kita dapat langsung mempraktekkan teori yang dipelajari di kelas pada masyarakat yang membutuhkan,” tutup Jessica.

Tahun Kelulusan: 15/09/2017
Teknik Industri UPH mempersiapkan saya ke kondisi nyata ketika kami bekerja. Logika, organisasi, operational, prosedur, ergonomi, efektivitas dan efisisiensi merupakan hal-hal yang sangat unik yang hanya dipelajari di Teknik Industri. Lulusan Teknik Industri sangat diuntungkan karena dapat dengan cepat beradaptasi dengan dunia pekerjaan di bidang apapun dengan menggunakan prinsip-prinsip ini.
Mendi Susanto (Teknik Industri 1996)
President Director of PT Data Labs Analytics

Mendi Susanto, Lulusan Teknik Industri UPH yang Memimpin Dengan Kejujuran, Kesetiaan, Integritas, dan Hidup Benar

Kejujuran, kesetiaan, integritas, dan hidup benar dihadapan Tuhan adalah nilai yang dipegang teguh oleh seorang Mendi Susanto, presiden direktur untuk PT Data Labs Analytics sekaligus Alumnus Teknik Industri UPH angkatan 1996. Dalam menjalani kariernya, Mendi, sapaan akrab pria kelahiran Bengkulu ini, dituntut untuk berjalan berdasarkan nilai-nilai tersebut terutama dalam mengambil keputusan penting dan strategis dalam perusahan, manajemen kegiatan operasional ataupun sumber daya perusahaan, dalam memastikan kepuasan stakeholder dan konsumen terhadap kinerja perusahaan, maupun dalam menjaga cashflow perusahaan agar tetap sehat. Menurut Mendi, pikiran dan tindakan yang diambil berdasarkan nilai-nilai tersebut akan terlihat dari hasil, kualitas dan standar pekerjaan yang ia lakukan – pohon yang baik akan mengeluarkan buah yang baik pula.

Sebagai salah satu orang yang merasakan perubahan kemajuan teknologi dari analog menjadi digital, sikap adaptif bukanlah sesuatu yang baru untuk Mendi. Namun menurutnya, semua orang termasuk dirinya akan harus terus beradaptasi pada perubahan dan memikirkan cara-cara baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Mengelola kondisi keuangan ditengah pandemi, ditambah dengan sumber daya manusia Indonesia yang belum terampil yang mempunyai integritas dalam pekerjaannya menjadikan tugas Mendi kian menantang. Namun berada ditengah keluarga, mentor, dan orang-orang hebat mendorong Mendi untuk selalu memberikan yang terbaik dalam berkarier.

Kesuksesan Mendi tentu tidak terlepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH dua puluh tahun silam. Sebagai salah satu angkatan awal UPH, Mendi percaya bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam hidupnya. Pendidikan telah mengajarkannya cara berpikir, bersikap, bertingkah laku dalam masyarakat dan pengetahuan mengenai dunia sekitarnya dan kemungkinan untuk mengubahnya menjadi lebih baik.

“Teknik Industri UPH mempersiapkan saya ke kondisi nyata ketika kami bekerja. Logika, organisasi, operational, prosedur, ergonomi, efektivitas dan efisisiensi merupakan hal-hal yang sangat unik yang hanya dipelajari di Teknik Industri. Lulusan Teknik Industri sangat diuntungkan karena dapat dengan cepat beradaptasi dengan dunia pekerjaan di bidang apapun dengan menggunakan prinsip-prinsip ini. Maka tidak heran lulusan Teknik Industri dapat ditemui di berbagai bidang dari yang klasik seperti manufaktur, sampai ke bidang yang kekinian seperti Pengusaha Properti, Desainer, Pengusaha Kuliner, Banker, IT, Startup Founder, Venture Capital Stakeholder sampai ke jenjang nasional seperti politikus dan pejabat di Lembaga Pengelola Investasi Nasional,” tutup Mendi.

Tahun Kelulusan: 19/12/2000
UPH menjadi stepping stone bagi saya dalam berkarir, karena di UPH saya mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman, karakter saya dibentuk, dan kemampuan saya diasah. Semua itu menjadi bekal bagi saya ketika saya terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya.
Cindy Lim (DKV 2009)
Founder of Fortelin Creative Studio

Alumni DKV UPH Tawarkan Jasa Desain yang Berkarakter dan Inovatif Melalui Fortelin Creative Studio

Dengan perkembangan di berbagai sektor bisnis, teknologi, dan sosial media yang begitu pesat di Indonesia, peran desain yang berkarakter dan berdampak menjadi kian penting. Melihat peluang dalam kebutuhan tersebut, Cindy Lim, Alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH angkatan 2009 melahirkan Fortelin Creative Studio – sebuah studio desain grafis dan kreatif yang berbasis di Jakarta dengan visi untuk menyediakan jasa solusi kreatif dan inovatif agar brand dari berbagai lini dapat berkembang melalui branding yang terintegrasi. Berasal dari kata “Fortælling” yang memiliki makna cerita atau narasi, Fortelin memiliki visi untuk menjadi solusi bagi banyak brand dalam mengembangkan bisnis, membangun identitas, dan menceritakan kisah mereka melalui karya desain dan bahasa visual.

Cindy mengakui bahwa berkecimpung dalam dunia desain grafis dan seni berangkat dari kecintaannya terhadap bidang gambar dan lukis. Cindy yang sewaktu kecil senang menuangkan apa yang ada dalam imajinasinya pada secarik kertas kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di UPH setelah lulus SMA dan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual untuk memperdalam dan mengeksplorasi passion dan skill di bidang seni. Tentu dalam perjalanannya sebagai designer dipenuhi dengan tantangan – tuntutan untuk terus memperbarui ilmu, beradaptasi, dan mengikuti perkembangan teknologi dan selera pasar menjadi beberapa kriteria yang menurut Cindy harus ia asah terus untuk bersaing di industri kreatif yang ketat. Ia berharap dengan keunggulannya tersebut, ia dapat selalu memberikan servis yang terbaik dan menciptakan desain berkualitas tinggi.

“Kepercayaan yang diberikan oleh klien-klien saya dalam mengerjakan desain untuk membantu bisnis mereka berkembang adalah motivasi utama saya dalam memperjuangkan Fortelin. Saya merasa sangat puas ketika saya dapat berkontribusi dan memberikan solusi untuk bisnis mereka dari segi visual atau desain. Desain bukan hanya pekerjaan bagi saya – it’s who I am. Hal ini juga yang mendorong saya untuk terus berkarya, memberikan dan menciptakan desain yang terbaik,” ucap Cindy dengan penuh antusiasme.

Kesuksesan Cindy dalam mengembangkan sebuah studio kreatif tentu tidak terlepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH. Dengan memegang teguh kejujuran, integritas, konsistensi, menghormati orang lain, serta kerendahan hati, Cindy yang saat kuliah mendapat kesempatan untuk mengikuti program beasiswa ternyata juga turut aktif dalam kegiatan organisasi dan kepanitiaan yang diselenggarakan. Cindy percaya bahwa melalui pengalaman akademis dan non-akademisnya selama di UPH membentuk dirinya saat ini dan merupakan proses yang sama penting dalam kehidupannya.

“Saya yakin dengan nilai-nilai, kurikulum serta fasilitas yang sangat memadai dan baik yang dimiliki oleh UPH. UPH menjadi stepping stone bagi saya dalam berkarir, karena di UPH saya mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman, karakter saya dibentuk, dan kemampuan saya diasah. Semua itu menjadi bekal bagi saya ketika saya terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya,” tutup Cindy.

Tahun Kelulusan: 28/08/2013
Saya bersyukur memiliki pertemanan yang tulus di kampus, baik dengan sesama jurusan maupun berbeda jurusan, yang lahir atas dasar kecintaan dan semangat yang sama, yaitu kecintaan terhadap seni dan semangat membangun ekosistem seni yang sehat di Indonesia.
Nina Sari Ishak (Conservatory of Music 2006)
Indonesian Music Producer/Composer/Arranger

Music For Sleeping: Lelap, Sebuah Portable Speaker Karya Alumni CoM UPH untuk Dunia

“Karya yang baik adalah yang menjawab kebutuhan banyak orang, dibuat dari hati dan sampai ke hati”, begitu prinsip Nina Sari Ishak dalam berkarya lewat musik.

Alumni UPH Conservatory of Music angkatan 2006 ini baru saja meluncurkan karyanya, sebuah album musik pengantar tidur yang dikemas dalam bentuk portable speaker dan dilengkapi dengan lampu tidur. Album yang berjudul “Music for Sleeping: Lelap” ini juga telah dirilis secara digital bertepatan dengan World Sleep Day 2021 dan mendapat sambutan yang baik. Sejak peluncurannya, produk Lelap Speaker Lamp telah terjual hampir 1,000 unit ke berbagai kota di Indonesia dan juga mancanegara seperti Taiwan, Singapura, Australia, hingga Amerika Serikat.

“Lelap adalah ide yang muncul ketika saya mendengar banyak orang yang sering mengeluh karena susah tidur. Mereka yang mengalami stress, gangguan kecemasan, depresi dan kesepianlah yang menginspirasi saya untuk berbuat lewat musik. Komposisi musiknya dibuat berdasarkan siklus tidur manusia ketika tidur. Mulai dari tahap relaksasi, mengantuk, tertidur pulas hingga bermimpi. Judul-judulnya sengaja saya tulis dalam bahasa Indonesia, agar bahasa Indonesia dapat dikenal di pasar musik internasional,” ujar Nina yang memulai kariernya sebagai seorang guru musik di UPH College.

Di tengah masa sulit, Nina berusaha untuk konsisten menulis karya dengan inovasi dan semangat kreatifitas. Lewat Stretta Music Production, rumah produksi musik yang dirintisnya, Nina kini berkarya di balik layar membuat musik untuk iklan, jingle, dan film.

“Stretta merupakan proyek tugas akhir saya ketika masih berkuliah di UPH tahun 2010 silam. Idenya kemudian berkembang menjadi Stretta Chamber Orchestra, komunitas musik untuk berkarya bersama teman-teman di kampus. Project pertama Stretta adalah mengiringi UPH Awards tahun 2011. Sebuah kenangan manis dan pencapaian membanggakan buat anak kampus kala itu. Sejak saat itu, Stretta Music berjalan dan tampil dari event ke event, dari pesta pernikahan kecil-kecilan hingga festival jazz seperti Locafore Jazz Festival di Bandung dan Java Jazz International Festival di Jakarta. Stretta Music pernah diundang ke Taiwan untuk merepresentasikan musik Indonesia di Taiwan,” kisah Nina mengenang perjalanan kariernya.

Keberhasilannya dalam meniti karier tidak lepas dari hubungan pertemanan tulus saat masa kuliah di UPH. Melalui kegiatan-kegiatan organisasi kampus yang diikutinya, Nina bertemu dengan teman-teman yang memiliki semangat dan kecintaan yang sama untuk membangun ekosistem seni yang sehat di Indonesia.

“Nilai yang selalu saya pegang adalah lakukanlah apapun yang Tuhan percayakan untuk tangan kita kerjakan dengan terhormat dan belajarlah kepada siapapun yang datang ke dalam hidup kita dengan penuh hormat. Karena masa depan kita ditentukan oleh dengan siapa kita bergaul dan belajar hari ini,” tutup Nina dengan senyuman.

Tahun Kelulusan: 02/03/2011
DKV UPH didukung dosen-dosen praktisi sehingga melengkapi saya dengan ilmu praktis dalam pengajarannya. Selain itu, faktor lingkungan kampus yang nyaman serta adanya pelajaran character development, menjadi poin plus untuk UPH
Anastasia Callista, Desain Komunikasi Visual 2006
Co-founder of ‘Takita by Fusion Art Studio

Mengaktivasi Desain Kreatif Melalui Studio Kreatif ‘Takita Fusion Art Studio

Apa yang membuat Anda memutuskan membeli produk atau menggunakan jasa suatu brand? Ternyata pengaruh dari brand image atau citra dari suatu perusahaan, bahkan termasuk personal brand, merupakan salah satu faktor yang penting bagi konsumen untuk dapat mempercayai suatu produk/jasa/perusahaan, sampai akhirnya memutuskan untuk membeli produk/jasa brand tersebut lalu akhirnya menjadi konsumen setia.

Dalam membangun identitas sebuah brand, peran visual nyatanya menjadi bagian yang tidak terpisahkan, bukan sekedar menciptakan visual yang enak dilihat secara estetika semata, namun dapat berkomunikasi dengan baik, bahkan menjadi solusi. Demikian diungkapkan oleh Anastasia Callista atau yang biasa dipanggil Anast—co-founder and creative director di ‘Takita by Fusion Art Studio, dan juga alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH 2006. Anast membagikan pengalaman studi dan kariernya kepada peserta webinar yang umumnya siswa/i SMA dari berbagai daerah di Indonesia, pada acara ‘Liburan Bareng Yuk,’ yang digelar Universitas Pelita Harapan (UPH). Webinar ini bertujuan untuk menginspirasi dan membuka wawasan para siswa SMA yang akan melanjutkan kuliah.

Anast memulai kisahnya dari bagaimana dia memilih program studi sesuai minatnya hingga awal memulai karier di bidang desain. Terinspirasi dari film-film animasi Walt Disney yang ditonton sejak kecil, membuat Anast tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai cara pembuatannya, bagaimana menuangkan imajinasi yang abstrak ke dalam rupa visual (nyata), bagaimana cara menggambarnya, membuat gambar-gambar tersebut bergerak dan hingga akhirnya menjadi satu film animasi yang utuh. Hal ini juga yang membawanya tertarik ke dunia seni dan desain, hingga memutuskan untuk berkuliah di program studi (prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH dan akhirnya fokus ke dunia desain grafis.

Bagi Anast, keputusan memilih DKV UPH juga punya alasan yang mendasar. Selain karena memiliki akreditasi A, prodi DKV UPH juga didukung dosen-dosen praktisi (pekerja profesional di bidangnya), sehingga akan dilengkapi oleh ilmu praktis dalam pengajarannya. Selain itu, faktor lingkungan kampus yang nyaman serta adanya pelajaran character development, menjadi poin plus untuk UPH.

“Ini menarik banget ya karena selain memang kita perlu ilmu pengetahuan, karakter yang baik juga diperlukan banget buat kita nanti bekerja ataupun di social life kita,” ungkap Anastasia.

Setelah lulus kuliah, Anast bekerja di salah satu creative studio di Jakarta, kemudian pada tahun 2013 Anast dan partner mulai membangun creative studio sendiri yakni ‘Takita by Fusion Art Studio.

Berawal dari mulut ke mulut, di studio kecil, Anast mengerjakan pekerjaan-pekerjaan desain untuk bisnis milik keluarga, kerabat serta teman-teman dekat, sampai akhirnya sekarang Anast dan tim bekerjasama dengan brand-brand ternama, baik skala nasional maupun internasional.

Menjadi lulusan dari Program Studi DKV, ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari dan dikerjakan. Anast memberikan contoh, beberapa di antaranya adalah membangun identitas visual brand (logo dan aplikasinya), mendesain Point of Purchase (POP)—untuk membantu konsumen memutuskan dalam membeli produk/jasa dari suatu brand dibandingkan dengan kompetitornya, mendesain packaging (desain kemasan), menjadi illustrator, dan bahkan yang saat ini sedang berkembang pesat adalah ke arah digital media seperti desain website, social media, apps dan lainnya.

Selain fokus membangun creative studio sendiri, Anast juga aktif berbagi ilmu dan keahlian praktis, sebagai dosen tamu di prodi DKV UPH. Tentunya kehadiran para praktisi seperti Anast menjadi salah satu nilai lebih dalam proses pendidikan di DKV UPH, guna menghasilkan lulusan desainer grafis yang mampu berkompetisi.

Tahun Kelulusan: 01/09/2010
Selama saya kuliah di UPH, saya diberikan kesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi matematika di luar kampus. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain itu, saya juga merasakan keakraban dan kebersamaan lintas angkatan yang tinggi dengan teman-teman satu jurusan, bahkan satu fakultas
Panji Widiarda Rabowo (Matematika, 2009)
Corporate Actuary at PT Tugu Reasuransi Indonesia

Panji Widiarda Rabowo, Corporate Actuary yang Bekerja Dengan Integritas dan Profesionalisme

Kecintaannya pada bidang matematika membawa pria dengan nama lengkap Panji Widiarda Rabowo, alumni jurusan Matematika UPH angkatan 2009, menjadi salah satu dari segelintir Corporate Actuary di PT Tugu Reasuransi Indonesia. Sebagai satu-satunya aktuaris yang memiliki gelar FSAI atau kualifikasi seorang aktuaris, Panji – sebagaimana ia disapa, mengakui bahwa tanggung jawab yang diembannya sebagai aktuaris tidak mudah. Tugasnya termasuk pada menjaga dan meningkatkan kualitas data, melakukan perhitungan cadangan teknis, dan menyusun sekaligus menandatangani Laporan Aktuaris tahunan.

“Tugas aktuaris sebenarnya sangat penting. Dalam hal kualitas data, saya harus memastikan kualitasnya baik dan semakin baik agar keputusan yang diambil manajemen berdampak baik pada profitabilitas dan solvabilitas perusahaan. Dan dalam perhitungan cadangan teknis juga penting, karena besarnya cadangan teknis yang dihitung oleh aktuaris akan mempengaruhi profit perusahaan saat ini dan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban klaim di masa yang akan datang,” jelas Panji.

Dalam menjalani kariernya sebagai seorang aktuaris, Panji mengakui bahwa banyak tantangan yang harus dilaluinya. Pertama, ia harus mampu menjaga profesionalitas dan etika profesi. Hasil kerja aktuaris yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan manajemen perusahaan, baik itu berupa hasil perhitungan maupun saran, mengharuskan Panji untuk harus mampu menjaga konsistensi hasil pekerjaannya serta mampu meyakinkan perusahaan bahwa hasil tersebut sudah tepat dan adalah demi kebaikan perusahaan. Kedua, penyesuaian teori dengan aplikasi industri reasuransi. Perbedaan teori dan metode yang ada untuk bisnis asuransi dan reasuransi sering kali tidak dapat langsung diaplikasikan. Maka dari itu, tak jarang Panji harus menyesuaikan dahulu teori dengan bisnis sebenarnya.

Panji merasa beruntung mendapat kesempatan untuk menjalani pendidikannya di UPH, terutama dengan mata kuliah Matematika Keuangan, Matematika Aktuaria, dan Teori Risiko yang disesuaikan dengan mata ujian PAI sehingga ia dapat mempelajari dan menyelesaikan 10 mata ujian PAI dengan lebih cepat. Ilmu yang didapatkannya dari UPH, ditambah dengan profesionalitas yang diterapkannya dalam pekerjaan, ia percaya bahwa semua fasilitas yang didapatkannya ini membantu mendorong kariernya dalam bidang aktuaria.

“Selama saya kuliah di UPH, kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi matematika di luar kampus, baik tingkat propinsi maupun tingkat nasional. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga untuk saya dan teman-teman yang mengikuti kompetisi itu. Selain itu, saya juga merasakan keakraban dan kebersamaan lintas angkatan yang tinggi dengan teman-teman satu jurusan, bahkan satu fakultas,” tutup Panji dengan senyuman.

Tahun Kelulusan: 06/09/2013
Saya merasa kuliah di UPH saya bisa dapat komunitas yang baik, jaringan yang luas. Dosen-dosen yang saya temui juga semuanya membangun. Kekeluargaannya kental sekali. Kegiatan kemahasiswaannya juga banyak dan sangat membekali kita dengan soft skill yang dalam dunia karir sangat dibutuhkan
Agata Verencia (Ilmu Komunikasi 2015)
Singer for Impact Music Indonesia

Bagi Agata Verencia, Setiap Kesempatan Menyanyi adalah Anugerah

Suara merdu wanita kelahiran Jember satu ini pasti sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Selain berduet dengan Mike Mohede dalam lagu “Terlalu Besar” ditahun 2010, ia juga menyanyikan single berjudul “Anugerah Terindah” dalam album rohaninya “Ku Berserah” ditahun 2016. Ialah Agata Verencia, alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2015, yang memulai perjalanan karier menyanyinya pada usia dini melalui sebuah kompetisi menyanyi. Lalu ketika umurnya menginjak usia 7 tahun, ia mendapat kesempatan untuk mempelajari teknik-teknik vokal yang baik. Sisanya, adalah sejarah.

“Usia saya 12 tahun ketika saya pertama kali datang ke Impact Music Indonesia. Saat itu saya diminta untuk menyanyikan sebuah lagu diiringi langsung oleh Produser di tempat tersebut. Kebetulan pada saat itu Impact Music sedang mengerjakan sebuah album dari Jason Irwan ‘Tuhan Selalu Punya Cara’. Beliau merasa cocok dengan karakter vokal saya dan langsung memberikan sebuah lagu untuk dipelajari dan direkam untuk masuk ke album tersebut. Puji Tuhan, respon dari satu lagu itu cukup baik sehingga Impact Music memberikan saya kesempatan-kesempatan berikutnya,” kisah Veren dengan antusias.

Seperti judul singlenya, ‘Anugerah Terindah,’ Veren mengakui bahwa banyak hal dalam hidupnya merupakan anugerah. Setiap kesempatan menyanyi yang dipercayakan kepadanya merupakan anugerah untuk mengucap syukur atas talenta yang Tuhan berikan. Keluarga dan mentornya juga merupakan anugerah Tuhan berikan agar ia bisa terus berkembang dan menjadi berkat bagi sekitarnya. Pun, Veren percaya bahwa memilih program studi Ilmu Komunikasi di UPH merupakan sebuah anugerah yang tidak luput dari rencana Tuhan untuk hidupnya.

Ilmu Komunikasi dirasa telah mengajarkannya banyak dan sangat relevan dengan kariernya. Ilmu Public Speaking, salah satu kelas yang diambil pada tahun pertama kuliah, dirasa menjadi sangat berguna ketika ia diminta untuk bernyanyi dan berbagi Firman Tuhan. Kemampuan untuk beradaptasi dengan jumlah dan target audience, situasi dan culture tempat, serta membangun karakter dalam berpakaian dan keunikan dalam gaya penyampaian juga dipelajarinya melalui kelas tersebut. Selain itu, cara membangun image dengan Media Sosial pribadi juga dipelajarinya selama menjalani kuliah. Dan yang paling berkesan baginya, adalah rasa kekeluargaan yang didapatkannya di UPH – baik dari dosen maupun organisasi yang dijalaninya.

“Saya merasa kuliah di UPH saya bisa dapat komunitas yang baik, jaringan yang luas. Dosen-dosen yang saya temui juga semuanya membangun. Kekeluargaannya kental sekali. Kegiatan kemahasiswaannya juga banyak dan sangat membekali kita dengan soft skill yang dalam dunia karir sangat dibutuhkan,” tutup Veren.

Tahun Kelulusan: 10/09/2019
Selama menempuh pendidikan di UPH, saya sangat terkesan dengan pembelajaran yang dibawakan oleh para dosen. Materi yang disampaikan bersifat informatif dan sangat berguna untuk diterapkan dalam berbisnis maupun kehidupan sehari-hari
Eveline Wirawan (Management 2012)
Founder of Kitakita

Eveline Wirawan, Alumni Management UPH, Cetuskan Usaha Piyama yang Nyaman dan Stylish “The first step is always the hardest. Saya memulai Kitakita di tahun 2018. Pada saat itu media sosial dan toko daring belum seramai saat ini sehingga brand kami sulit untuk ditemukan dan dikenal banyak orang,” kisah Eveline Wirawan, founder Kitakita, ketika ditanya mengenai kesulitan yang dihadapinya dalam merintis usahanya tersebut.

Sebagai sebuah brand yang produk utamanya adalah piyama, Eveline – sapaan akrab wanita manis alumni Management UPH angkatan 2012 ini – mengakui bahwa peran sosial media serta minat masyarakat terhadap tren fashion sangat membantunya dalam mengembangkan piyama yang tidak hanya nyaman dipakai, namun juga memiliki desain up to date agar bisa dipakai keluar rumah. Dengan menerapkan nilai produksi quality over quantity, Eveline berharap dapat terus berkontribusi membantu pekerja lokal dalam menciptakan karya-karya yang kreatif dan dapat diturunkan ke generasi selanjutnya.

Menurut Eveline, UPH merupakan tempat yang membantunya bertumbuh secara emosional dan berkembang secara karakter menjadi pribadi yang lebih baik. Ia juga percaya bahwa pendidikan merupakan modal penting yang dimilikinya untuk menjalani usahanya. Melalui pendidikan yang dijalaninya di UPH, ia mendapatkan pandangan, gambaran, dan motivasi dunia berbisnis bahkan sebelum terjun ke dunia bisnis sesungguhnya.

“Selama menempuh pendidikan di UPH, saya sangat terkesan dengan pembelajaran yang dibawakan oleh para dosen. Materi yang disampaikan bersifat informatif dan sangat berguna untuk diterapkan dalam berbisnis maupun kehidupan sehari-hari,” tutup Eveline.

Tahun Kelulusan: 08/03/2017
Menjalani pendidikan di UPH telah membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan gigih. Selain ilmu dari teori yang saya dapat dalam kelas, saya diperlengkapi dengan skill membangun relasi dan komunikasi dengan masyarakat, menjadi pribadi yang profesional, serta kemampuan untuk mengatasi masalah dengan baik melalui berbagai macam organisasi yang ada
Kevin Addy Sjahputra (Manajemen Perhotelan 2011)
Head Chef at William's Casual Dining

Kevin Addy Sjahputra, William’s Casual Dining Head Chef, Membawa Kreativitas dan Konsistensi Naik Level

Industri FnB di Indonesia adalah salah satu bisnis yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan banyaknya inovasi menu dan konsep restoran yang bermunculan, tidak heran jika seorang Kevin Addy Sjahputra, alumni Manajemen Perhotelan UPH angkatan 2011, juga menemukan denyut nadinya dalam dunia kuliner. Sebagai Head Chef di William’s Casual Dining, restoran yang menyajikan hidangan rumahan Western-Asian di bilangan Jakarta Selatan, pria yang biasa disapa Kevin ini menikmati kehidupan dapur yang terus bergerak, serba cepat, dan penuh tantangan.

“Menjadi seorang Head Chef menuntut saya untuk memiliki ide-ide terbaru sehingga pelanggan tidak merasa bosan terhadap makanan yang kami sajikan di William’s. Dan terlebih penting, adalah tanggung jawab yang saya pegang untuk menjaga kepuasan pelanggan dengan standar kualitas restoran yang konsisten,” ungkap Kevin.

Bagi Kevin, menjadi pribadi yang kreatif dan konsisten dalam menjaga kualitas adalah proses yang menyenangkan untuk ia jalani. Apalagi mengingat juga bahwa tidak ada batas waktu yang mengharuskannya untuk berhenti berkarya sebagai seorang koki, Kevin yang berangkat dari masa kecil yang nakal membuatnya terus belajar dan termotivasi untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Dalam menjalani kariernya, Kevin mengakui bahwa menjalani pendidikan di UPH telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan gigih. Selain ilmu dari teori yang didapatkannya dalam kelas, Kevin merasa diperlengkapi dengan skill membangun relasi dan komunikasi dengan masyarakat, menjadi pribadi yang profesional, serta kemampuan untuk mengatasi masalah dengan baik melalui berbagai macam organisasi yang ada di UPH. Pelajaran-pelajaran ini, ditambah dengan sikap jujur dan hasrat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam keterampilan dan rohani, membuat langkahnya kian mantap untuk mengembangkan kariernya dalam dunia kuliner.

“Untuk teman-teman yang juga ingin merintis usaha dibidang FnB, pesan saya, be creative and innovative! Selama masih muda, jangan takut gagal. Dunia FnB akan selalu menuntut kita untuk menghasilkan produk-produk yang menarik dan tidak ada salahnya untuk mencoba dan mengeluarkan ide-ide yang ada,” tutup Kevin dengan senyuman.

Tahun Kelulusan: 15/03/2015
Standar tinggi yang saya dapatkan selama berpendidikan di UPH memicu saya untuk give back to the society dengan standar terbaik pula
Rieke Caroline (Hukum 2006)
Founder & CEO of kontrakhukum.com

Kesulitan Masa Kecil Rieke Caroline Menjadi Pemicu untuk Mencetuskan Kontrakhukum.com

Kontrak Hukum adalah platform digital yang memberikan layanan legal untuk bisnis secara terpercaya, termudah, dan terjangkau; serta merupakan bukti nyata dari tekad seorang Rieke Caroline, alumni Ilmu Hukum UPH angkatan 2006, untuk memberikan akses kepada informasi dan layanan legal secara merata kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Berangkat dari pengalaman masa kecil tentang kerugian bisnis yang dialami oleh sang ayah karena kurangnya pemahaman akan legal, Rieke bertekad mempelajari ilmu hukum dan berjanji untuk melindungi keluarganya dari kejadian serupa. Belasan tahun kemudian, Rieke mempunyai tujuan hidup yang lebih besar, yaitu untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya legalitas dalam membangun bisnis kepada masyarakat luas, sehingga kejadian pahit yang pernah menimpa keluarganya tidak terulang kepada orang lain.

Mengembangkan sebuah layanan legal berbasis digital pertama di Indonesia merupakan tantangan besar. Salah satu tantangan tersebut adalah mengubah persepsi masyarakat terkait proses legalitas yang selama ini rumit, mahal, dan memakan waktu. Menurut Rieke, dengan bantuan inovasi teknologi yang dimanfaatkan oleh Kontrak Hukum, proses melengkapi legalitas bisnis dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Meski demikian, Rieke berkomitmen untuk memberikan layanan yang tetap berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat Indonesia.

Keberhasilan Rieke tidak terlepas dari pendidikan yang dia tempuh saat kuliah di UPH. Lulusan terbaik Fakultas Hukum pada wisuda 2010 ini mengakui bahwa standar tinggi pendidikan yang UPH berikan telah berpengaruh banyak akan kesuksesannya.

“Standar tinggi yang saya dapatkan selama berpendidikan di UPH memicu saya untuk give back to the society dengan standar terbaik pula,” ucapnya.

Untuk teman-teman yang saat ini sedang menjalani pendidikan secara daring, Rieke berpesan untuk bersyukur bahwa selama pandemi ini kita tidak perlu menghabiskan waktu dalam perjalanan untuk mengejar pendidikan karena energi yang sama bisa kita alokasikan untuk berbagai hal yang lebih bermanfaat, seperti untuk pengembangan diri. Terlebih, pastikan kita selalu bertanggung jawab, disiplin dalam menyelesaikan tugas, tidak lupa bersenang-senang, dan menjaga kesehatan!

Tahun Kelulusan: 07/09/2010
Kehidupan selama 4 tahun di UPH dan lingkungan sekitar Lippo Karawaci memberikan pengalaman dan pola hidup positif yang terus saya gunakan sampai hari ini
M. Noor Sutrisno (Teknik Sipil 2005)
CEO of Wehelpyou.id

Wehelpyou.id, Jasa Pengiriman barang Door to Door on Demand, Dicetuskan Oleh M. Noor Sutrisno, Alumni Teknik Sipil UPH

Aktivitas berbelanja online kini semakin mudah saja – dengan segala kemudahan yang tersedia dalam genggaman tangan kita, jasa pengiriman yang efisien dan berintegritas turut menjadi kunci kenyamanan berbelanja konsumen. Efisiensi dan integritas inilah yang diberikan oleh Wehelpyou.id melalui Wehelpyou-Delivery, sebuah platform digital yang menyediakan pelayanan pengiriman barang door to door secara on-demand, untuk pengiriman barang dalam dan luar kota dan bahkan luar negeri. Diinisiasi oleh M. Noor Sutrisno, alumni Teknik Sipil UPH angkatan 2005, Wehelpyou.id mengorkestrasi consumer service platform yang ada di Indonesia. Dan dalam kurun waktu beberapa tahun saja, Wehelpyou-Delivery telah mengorkestrasi 1.000.000 armada first mile dan lebih dari 14.000 drop point di seluruh Indonesia.
Dalam mengembangkan Wehelpyou.id, Ino – sebagaimana ia biasa dipanggil, menemui beberapa tantangan menarik dalam perjalanannya. Dengan latar belakang pendidikan yang cukup berbeda dengan bidang yang digelutinya kini, tantangan pertama yang harus dihadapi Ino adalah untuk menemukan sumber daya manusia IT yang berkualitas dan memiliki pengalaman di dalam membangun mobile apps. Setelah tantangan tersebut berlalu dan aplikasi Wehelpyou sudah siap dipasarkan, tantangan berikutnya adalah strategi yang tepat untuk memperkenalkan aplikasi tersebut kepada masyarakat. Tantangan ketiga dan tidak kalah penting, adalah tahap penggalangan dana. Diakuinya bahwa dalam proses penggalangan dana ini dibutuhkan koordinasi yang baik dan kesatuan hati dari berbagai divisi yang ada dalam perusahaan.
Selain dari memegang integritas, keinginan untuk terus berkembang, berinovasi, dan memiliki prinsip untuk selalu bersinergi dalam berkarier, Ino mengakui bahwa pendidikan memainkan peran penting dalam kesuksesannya.
“Pendidikan itu mengajarkan kita untuk memiliki pola kerja yang nantinya dibutuhkan di dunia kerja. Metode kita di dalam menyelesaikan setiap permasalahan itu yang setiap orang perlu pelajari. Kehidupan selama 4 tahun di UPH dan lingkungan sekitar Lippo Karawaci jelas memberikan pengalaman dan pola hidup positif yang terus saya gunakan sampai hari ini,” ucapnya.
Salah satu kesan Ino dalam menjalani pendidikannya di UPH adalah usahanya bersama teman-teman dari jurusan Teknik Sipil untuk membentuk tim sepak bola agar dapat bertanding dalam acara-acara olahraga kampus.
“Ketika saya masuk di Teknik Sipil tahun 2005, jurusan tersebut bahkan tidak memiliki tim sepak bola untuk mengikuti Porseni. Namun dengan sebuah visi sederhana, pelan-pelan kami membangun tim sepak bola sehingga sejak tahun 2007, Teknik Sipil menjadi sebuah tim sepak bola yang diperhitungkan. Ini mengajarkan saya untuk jangan pernah takut untuk membuat sesuatu dari nol,” tutup Ino.

Tahun Kelulusan: 13/10/2009
Kuliah di UPH sangat mempengaruhi saya dalam berprofesi di bidang hukum. Selain didukung dengan dosen-dosen yang handal dan sangat ahli dibidangnya, UPH memberikan saya kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan yang sampai saat ini menjadi jaringan bisnis saya
Dea Tunggaesti (Ilmu Hukum 2000)
Sekjen Partai PSI, Partner untuk Tungga Ramli, Counselor untuk Assegaf & Kawilarang Law Firm, Arbiter untuk BAORI, dan Dosen Universitas Pancasila

Dea Tunggaesti, Lulusan Hukum UPH Aktif Berpartisipasi untuk Penegakan Hukum Lebih Baik

Bagi seorang Dea Tunggaesti, alumni Ilmu Hukum UPH angkatan 2000, memenuhi panggilan untuk berkecimpung dalam bidang hukum merupakan sebuah kehormatan. Kesibukannya dalam menjadi seorang Sekjen di PSI, Partner untuk Tungga Ramli, Counselor untuk Assegaf & Kawilarang Law Firm, Arbiter untuk BAORI, serta dosen disalah satu universitas swasta di Jakarta menjadi caranya untuk berkontribusi terhadap penegakan hukum di Indonesia. Dengan segudang kesibukannya tersebut, Dea mengaku bahwa ia ingin memanfaatkan waktu yang ia miliki dengan sebaik-baiknya dan mengerjakan tanggung jawab setiap pekerjaan dengan maksimal.

Menurut Dea, kariernya dalam menjadi seorang pengacara wanita di Indonesia tidak menjadi masalah. Dimuka hukum, baik pengacara wanita maupun pria memiliki ruang gerak yang sama untuk membela kebenaran, walaupun menurutnya bagi sebagian besar wanita, harus beradu pendapat membela klien bukanlah sebuah kegiatan yang menyenangkan. Tantangan terbesar baginya justru berakar pada sumber daya manusia Indonesia, dimana sebagian besar masyarakat dirasa masih memiliki kesadaran yang rendah terhadap hukum, ditambah lagi dengan aparat yang belum bekerja dengan “bersih”. Dengan demikian, Dea aktif berpartisipasi dalam berbagai gerakan untuk penegakan hukum yang lebih baik.

“Saya mencoba menjalani peran yang saya lakukan dengan ikhlas. Saya yakin bahwa ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk saya, jadi tugas saya adalah untuk menjalaninya dengan sungguh-sungguh tanpa ada ambisi apapun dibaliknya,” ungkap Dea.

Dalam menjalani kariernya, Dea mengakui bahwa pendidikannya di UPH memegang peranan penting. Saat menjalani pendidikannya tersebut, Dea mengakui bahwa ia terkesan dengan pendidik yang tegas dan padat ilmu. Melalui kelas tersebut, ia belajar untuk menyimak bahan bacaan yang diminta untuk dibaca sebelum kelas, siap jika sewaktu-waktu diminta untuk menjawab pertanyaan, sekaligus menjadi semakin kompak untuk brainstorming dengan teman-teman terkait dengan artikel yang diberikan.

“Kuliah di UPH sangat mempengaruhi saya dalam berprofesi di bidang hukum. Selain didukung dengan dosen-dosen yang handal dan sangat ahli dibidangnya, UPH memberikan saya kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan yang sampai saat ini menjadi jaringan bisnis saya,” tutup Dea.

Tahun Kelulusan: 12/03/2004
Nilai yang saya pelajari dari UPH adalah True Knowledge, Faith in Christ dan Godly Character. Menurut saya, dengan kesehatan rohani yang baik, karakter yang positif, ditambah dengan pengetahuan yang baik, maka saya bisa terus dan bahkan lebih lagi bermanfaat bagi banyak orang
Desiree M. Roring (International Relations 2015)
Puteri Indonesia Intelegensia sekaligus Puteri Indonesia Favorit Sosial Media

Puteri Indonesia Intelegensia 2020, Alumni Hubungan Internasional Indonesia, Bergerak Dibidang Kesejahteraan Sosial

Tahun 2020 merupakan tahun yang bersejarah bagi wanita manis kelahiran Manado satu ini. Baru sebentar ia lulus pendidikan sarjana, ia dinobatkan menjadi Puteri Indonesia Intelegensia sekaligus Puteri Indonesia Favorit Sosial Media dalam ajang Puteri Indonesia 2020, kontes kecantikan skala nasional. Adalah Desiree Magdalena Roring, alumni Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan angkatan 2015, yang kini mengemban tugas menjadi pembicara dalam berbagai acara terkait pendidikan, mencetuskan LEBIH DARI MIMPI, sekaligus melanjutkan pendidikan double degree dalam bidang bisnis dan kesejahteraan sosial.

Wanita yang dalam kesehariannya kerap disapa Esi mengakui bahwa keputusannya untuk mengikuti ajang Puteri Indonesia merupakan keputusan yang tepat dan juga berperan besar dalam kehidupannya. Melalui ajang tersebut, Esi membuktikan bahwa ia dapat menantang dirinya untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi, mendapatkan koneksi secara lebih luas dan strategis, serta membuka banyak kesempatan untuk berkarya lebih lagi untuk Indonesia.

Esi percaya bahwa latar belakang pendidikan dan kontes kecantikan yang diikutinya merupakan proses timbal balik yang saling melengkapi. Baginya, menjadi seorang duta bagi isu anak adalah bagian dari tanggung jawab yang ingin ia raih melalui LEBIH DARI MIMPI, sebuah organisasi non-profit yang memberikan pendidikan softskill untuk anak-anak berumur 6-12 tahundi area Tangerang. Passion yang dimiliki Esi dalam bidang child issues membuatnya rindu menjangkau lebih banyak anak-anak di Indonesia dan membekali mereka untuk bisa menjadi seperti yang mereka cita-citakan, terutama dalam mengembangkan kepercayaan diri masing-masing anak sehingga nantinya mereka memiliki bekal yang sama dalam proses mencapai cita-cita.

Selama menempuh pendidikannya di UPH, Esi mengakui bahwa ia senang dan sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk turut aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kampus. “Nilai yang saya pelajari dari UPH adalah True Knowledge, Faith in Christ dan Godly Character. Menurut saya, dengan kesehatan rohani yang baik, karakter yang positif, ditambah dengan pengetahuan yang baik, maka saya bisa terus dan bahkan lebih lagi bermanfaat bagi banyak orang,” tutup Esi.

Tahun Kelulusan: 22/03/2019
Yang paling berkesan saat berkuliah di UPH adalah networking-nya Bertemu dengan teman-teman & orang-orang hebat pasti selalu menyenangkan bagi saya. Mereka banyak sekali memberikan saya masukan, inspirasi & pengetahuan.
Antakirana (Magister Pendidikan, 2010)
Founder and CEO dari ANTAKIRANA Learning & Development Center

Komitmen untuk Menggunakan Waktu Sebaik-baiknya Adalah Kunci Bekerja Efektif Seorang Antakirana

Fajar menyingsing, elang menyongsong, sebuah peribahasa yang sangat menggambarkan seorang Antakirana, alumni Magister Pendidikan Universitas Pelita Harapan angkatan 2010. Anta, sebagaimana ia biasa dipanggil, adalah seorang ayah, Founder dan CEO dari PT. Komunika Cipta Performa, sekaligus penulis lima buku motivasi. Bagaimana ia mempunyai waktu dan semangat untuk melakukan semua kegiatan tersebut?

“Kuncinya disini adalah komitmen mempergunakan waktu sebaik-baiknya dan tidak menunda-nunda. Saya mempraktekkan apa yang diajarkan oleh John C. Maxwell, yaitu Energy Management dimana saya perlu memutuskan kapan akan mengalokasikan waktu dan energi terbaik saya untuk bekerja. Begitupun dalam menulis buku – buku terakhir saya – Success Guides from A to Z, saya tulis selama 2 tahun. Ini pun dengan disiplin memaksakan diri untuk menulis beberapa halaman tiap harinya,” sahutnya dengan antusias.

Anta mengakui bahwa dalam kesehariannya, ia terbiasa membagi waktu untuk bekerja, keluarga, pengembangan diri, dan juga pelayanan. Menurutnya, justru tantangan terbesar yang ia hadapi adalah menemukan cara untuk terus dapat mengembangkan diri. Sebagai soerang coach dan trainer, tentu diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang terbarukan dan relevan bagi klien-kliennya. Maka dari itu, ia selalu berusaha untuk mengikuti program tersertifikasi, membaca buku, serta melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Saat itu saya terinspirasi dengan salah satu mentor saya yang juga lulusan dari Master Pendidikan di UPH. Saya juga ingat pada waktu itu UPH memang memiliki akreditasi dan kualitas pembelajaran yang sangat baik saat saya mencari program S2 untuk Master Pendidikan. Dan yang paling berkesan saat berkuliah di UPH adalah networking-nya Bertemu dengan teman-teman dan orang-orang hebat, pasti selalu menyenangkan bagi saya. Mereka banyak sekali memberikan saya masukan, inspirasi dan pengetahuan,” ucap Anta.

Anta berpesan bagi mahasiswa/i dan semua anak muda Indonesia agar menerapkan prinsip ABC dalam kehidupannya. A untuk Accepting, yakni menerima diri sendiri dan perubahan yang terjadi; B untuk Believing, yakni mempercayai potensi dan kekuatan diri untuk berespon benar terhadap kehidupan; dan C untuk Connecting, yakni membangun hubungan, terkoneksi dan berkolaborasi dengan orang lain untuk pencapaian yang lebih besar. Dengan menerapkan prinsip ABC ini, Anta percaya bahwa setiap individu akan dapat menjadi bagian yang dari sebuah visi dalam mewujudkan sesuatu yang lebih bermakna.

Tahun Kelulusan: 26/03/2013
UPH selalu memukau saya secara pribadi, mulai dari sejak masa orientasi, hingga kelulusan. Rasa kagum tersebut memicu saya untuk ikut melayani melalui organisasi di UPH dan memperkuat koneksi dan support system dengan teman-teman alumni.
Samuel C. Tjahyadi (Sistem Informasi 2012)
Chief Marketing Officer at SOC Financial

Meresponi Panggilan Sampai Menjadi Tujuan, Samuel C. Tjahyadi Membangun Karier Sebagai Seorang Financial Advisor

Menjadi seorang Financial Advisor di usia muda bukanlah sebuah hal yang mudah. Apalagi untuk menjabat sebagai Chief Marketing Officer di sebuah financial firm, tentu dibutuhkan lebih dari sekedar skill untuk dapat mencapai prestasi tersebut. Adalah Samuel Christian Tjahyadi, alumni Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer UPH angkatan 2012 yang kini berkarier di SOC Financial sejak 2017. Dengan passion yang dimilikinya untuk dunia keuangan sejak duduk dibangku Sekolah Dasar, ia kemudian memutuskan untuk berkarier dibidang yang sama dan bahkan masuk dalam jajaran Global Premier Association of Financial Professionals: Million Dollar Round Table® dan Most Respected Advisor (MRA): Top 1000 Financial Advisor di Asia.

Sebagai seorang penasihat keuangan, Samuel percaya bahwa akumulasi kekayaan terletak pada pendapatan yang besar dan peran serta perencana dan penasihat keuangan yang kredibel. Baik untuk keuangan jangka panjang maupun jangka pendek, ketika disertai dengan perencanaan keuangan yang tepat, maka kekayaan yang dibangun dapat bertahan dan dimultiplikasi lebih lagi. Dengan pola pikir demikian, Samuel terbiasa menjadikan setiap hari sebagai tantangan terbesar sehingga ia selalu siap menerapkan perubahan demi perubahan yang terjadi.

Keberhasilan yang telah dicapai seorang Samuel tentu tidak lepas dari pembentukan yang dilalui sepanjang masa pendidikannya di UPH. Pola pikir kritis, analitis, dan matematis yang diterapkan selama menjalani pendidikan ilmu komputer telah membantu membentuk siapa dirinya kini dalam lingkup kerja. Ia percaya bahwa misi UPH yakni Faith in Christ, True Knowledge dan Godly Character menjadi fondasi dan akselerator dalam kehidupan kariernya.

“UPH selalu memukau saya secara pribadi, mulai dari sejak masa orientasi, hingga kelulusan. Rasa kagum tersebut memicu saya untuk ikut melayani melalui organisasi di UPH dan memperkuat koneksi dan support system dengan teman-teman alumni. Tak lupa hal utama, berkuliah dengan keharusan dan kehausan, dosen-dosen di UPH sangat suportif dan relevan dengan situasi kondisi dunia saat ini,” tutupnya.

Tahun Kelulusan: 08/03/2016
Saya percaya, melalui kegagalan, kita paling banyak mendapatkan pelajaran. Jangan pernah takut untuk mengeluarkan ide dan jangan takut untuk gagal. Oleh karena itu, ketekunan untuk terus berusaha demi menghasilkan yang terbaik dan kerendahan hati adalah nilai yang menurut saya penting dimiliki saat ide atau strategi kita gagal.
Pradhana Harsaputera (Ilmu Komunikasi 2005)
Managing Director at Magnus Digital Agency & Consultancy

Pradhana Harsaputera, Managing Director Magnus Digital Memegang Teguh Ketekunan dan Kerendahan Hati Dalam Bekerja

“Saya percaya, melalui kegagalan, kita paling banyak mendapatkan pelajaran. Jangan pernah takut untuk mengeluarkan ide dan jangan takut untuk gagal. Oleh karena itu, ketekunan untuk terus berusaha demi menghasilkan yang terbaik dan kerendahan hati adalah nilai yang menurut saya penting dimiliki saat ide atau strategi kita gagal. Kita tidak boleh menyerah dan harus saling menolong sesama yang membutuhkan bantuan kita,” ucap Pradhana ketika ditanya mengenai nilai yang dipegangnya selama menjalani kuliah dan karier.

Sebagai Managing Director dari Magnus Digital Agency & Consultancy, ketekunan dan kerendahan hati merupakan nilai yang diterapkan Pradhana Harsaputera, alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2005. Dengan tanggung jawab yang diembannya, ia harus menguasai infomasi mengenai pengoptimalan pemasaran digital dan aktivasi brand, menjadi pendengar yang baik untuk dapat memahami berbagai permintaan klien, serta adaptif terhadap strategi dan teknis baru di dunia digital. Sudah tidak mengagetkan jika perkembangan digital esok hari sudah berbeda dengan hari ini – semua pelaku usaha harus adaptif dan beralih menjual barangnya secara daring, apalagi dengan situasi yang tidak menentu, seperti pandemi. Menurut Pradhana, pendidikan juga menjadi fondasi penting di era yang berkembang pesat ini. Pendidikan menjadi modal utama seseorang untuk dipraktekkan di dunia professional, terutama untuk menerapkan nilai-nilai, teori, dan etika dalam menjalankan bisnis. Berlandaskan kesadaran tersebut, Pradhana yang kala itu menjalani pendidikan sarjananya di UPH turut mengakui bahwa momen paling berkesan adalah berkompetisi dengan rekan-rekan seangkatan untuk mencapai nilai terbaik. Sebagai individu, ia merasa tertantang untuk memahami konten yang diajarkan sekaligus untuk menghasilkan kreasi membanggakan untuk UPH.

Pradhana berpesan untuk semua pelajar yang sedang menghadapi pendidikan daring untuk menetapkan tujuan di awal semester dan melihat secara berkala apakah sudah sesuai dengan tujuan, membiasakan diri untuk membuat time-management schedule dengan baik (termasuk didalamnya daily, weekly, dan time-blocking schedule) agar dapat menetapkan prioritas pengerjaan, membuat ruang belajar senyaman mungkin untuk memperlancar kegiatan belajar online, aktif berpartisipasi dalam kelas online – termasuk bertanya dan berkomunitas, dan tidak lupa untuk berani gagal atau berani berbagi ide karena dari situlah kita akan mendapatkan ilmu terbaik.

Tahun Kelulusan: 13/03/2009
Di UPH saya diberikan kesempatan dan bahkan di dorong untuk bisa menjadi mahasiswi yang aktif. Pengalaman inilah yang mengasah softskill dan hardskill saya serta menjadi landasan kesuksesan saya baik dalam karir dan bisnis.
Karmela Christy (Manajemen 2005)
Co-Founder Sagensie Corporation

Sagensie Corp., Advertising Agency Co-Founded by Karmela Christy

“Go the extra mile, consistency, trustworthy and excellent services” adalah prinsip teguh yang dipegang oleh Karmela Christy, seorang co-founder Sagensie Corporation. Prinsip ini telah membawanya melahirkan karya terbaik yang diberikan kepada satu dan banyaknya client yang mempercayakan nama mereka pada Sagensie Corporation. Salah satunya adalah Astra International. Lomba 17 Agustus yang mengusung konsep virtual untuk tetap merayakan semangat kemerdekaan, diikuti oleh selebritas ternama seperti Jerome Polin, Raffi Ahmad dan Enzy Storia menjadi terobosan terbaik Sagensie Corporation ditengah peliknya tahun 2020. Sagensie Corporation yang mengusung excellent services, memberikan pelayanan terbaiknya dalam bentuk full-service marketing, digital dan entertainment yang mencakup branding, visual strategist, social media dan ads management, digital commercials, short movies, web series, dan lainnya.

Berangkat dari ketertarikan sebuah mata kuliah Integrated Marketing Communication, Karmela Christy yang lulus mengantungi Sarjana Ekonomi, Fakultas Manajemen, Universitas Pelita Harapan angkatan 2005, memiliki mimpi yang kuat untuk bisa mendirikan sebuah Advertising & Digital Agency yang tak hanya melahirkan sebuah ide kreatif namun inovatif dan kompetitif. Mimpi, tujuan dan doa yang kuat tersebut membuat Sagensie Corporation ada ditangannya kini. Menggabungkan kata Sage dan Agency, Sage yang memiliki arti bijak dalam refleksi dan pengalaman, Karmela berharap perusahaan dan tim-nya bersinergi untuk bisa menghasilkan karya dan inovasi terbaik serta mencetak generasi muda yang bijak, memiliki semangat untuk hasil yang excellent dan takut akan Tuhan.

Bagi Karmela, ilmu yang paling berharga selama berkuliah di UPH adalah berorganisasi dan bekerja part-time. Kedua hal ini mendorongnya secara maksimal untuk menjadi mahasiswi yang tak hanya aktif namun innovative. Baginya, hal itu adalah kesempatan berharga untuk bisa mengasah softskill dan hardskill yang saat ini menjadi landasan terkuat kesuksesannya dalam berkarir dan berbisnis.

Tahun Kelulusan: 17/09/2009
Segala bekal yang saya dapat selama berkuliah di UPH banyak menolong saya dari awal karier hingga saat ini, terutama untuk menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan aktif.
Ayudya Paramitha (Arsitektur 2006)
Founder of Hlaii

Arsitek Merangkap Desainer, Ayudya Paramita Cetuskan Hlaii, Brand Pakaian Zero-Waste Pattern

Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kebetulan, demikian kata pepatah bijak. Berangkat dari cita-cita masa kecilnya untuk menjadi seorang arsitek dan juga perancang busana, Ayudya Paramitha atau yang biasa disapa Mitha, alumni Arsitektur UPH angkatan 2006 telah mencapai kedua cita-citanya tersebut, yakni meniti karier di Andramatin, salah satu biro arsitek terbaik di Indonesia serta melahirkan Hlaii, sebuah lini usaha fashion yang mengedepankan teknik zero waste pattern. Dengan segala keterbatasan sumber daya manusia, modal, dan pengetahuan Mitha pada bidang fashion, Mitha percaya bahwa tantangan tersebut menjadi nilai lebih bagi Hlaii. Keterbatasan tersebut melahirkan ide sistem made by order, sehingga Hlaii tidak hanya menciptakan pakaian yang eksklusif bagi klien-kliennya, namun yang terpenting, berkontribusi dalam mengurangi limbah tekstil yang diproduksi industri fashion.

Berdiri sejak tahun 2016, Hlaii – yang dibaca “Helai”, memiliki makna “sehelai kain yang diolah sedemikian rupa namun dapat dikembalikan kepada bentuk awalnya” – yang berawal dari usaha Mitha untuk membuat pakaian untuk dikenakan pada sebuah acara kantor. Bermodalkan intuisi, teknik folding dan draping, serta bantuan tukang jahit langanannya, Mitha mengolah 1 helai kain tersebut menjadi sebuah karya yang layak dikenakan. Terlebih mengesankan, teman-teman kantor Mitha menyukai desain yang dibuatnya dan menawarkan untuk membeli pakaian buatan Mitha. Sejak saat itu, Mitha memberanikan diri untuk menjual baju buatannya ke pasar yang lebih luas dengan bantuan media sosial. Kepercayaan yang diberikan oleh klien-klien Hlaii terus mendorong Mitha untuk mengembangkan kemampuannya mengolah kain untuk beragam kebutuhan, terutama untuk gaun pernikahan dan lainnya. Dengan kepekaan terhadap lingkungan, rasa bertanggung jawab dalam mengelola bumi, serta usaha untuk terus menghasilkan pola-pola yang orisinil dan kreatif, Mitha terus maju dan menciptakan karya terbaiknya.

Keberhasilan Mitha kini tentu tidak terlepas dari pendidikan yang didapatkannya di UPH. Mata kuliah Studio Artsitektur terutama dalam kreativitas yang ditekankan bidang arsitektur mempertajam kepekaan Mitha terhadap proporsi dan komposisi, bahkan saat mendesain. Riset tugas akhir Mitha yang mengangkat topik revitalisasi pemukiman pemulung turut berkontribusi dalam mengembangkan kepekaannya terhadap pengelolaan limbah, sehingga dalam menciptakan karya-karya Hlaii, Mitha berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi limbah yang dihasilkan. Ia percaya, bahwa jika kita selalu memberikan yang terbaik, memiliki etika yang baik, dan bekerja dengan sepenuh hati, maka kita akan menggiring kita ke masa depan yang lebih baik.

“Saya bersyukur bisa diberi berkat dan kesempatan kuliah arsitektur di UPH. Segala bekal yang saya dapat selama berkuliah di UPH banyak menolong saya dari awal karier hingga saat ini, terutama untuk menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan aktif. Dosen-dosen banyak menghadirkan dosen tamu yang merupakan praktisi dari dalam maupun luar negeri untuk berbagi ilmu, insight, serta memperluas koneksi yang baik di kemudian hari,” tutup Mitha.

Tahun Kelulusan: 12/09/2011
Pengalaman paling berharga selama saya kuliah adalah menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Desain Interior, disitu saya belajar untuk berkomunikasi dan membawa diri saya lebih jauh, dan tidak hanya berpatokan pada ilmu design, tetapi berpikir secara ter-integrasi dan terstruktur.
Michael Handojo (Desain Interior 2013)
Partner at Fuze Collective

Bekerja Dengan Kreativitas dan Fleksibilitas, Michael Handojo, Alumni Desain Interior UPH Dirikan Fuze Collective

Sebagaimana medium komunikasi terus berkembang, demikian juga design dan style terus berubah untuk menyesuaikan gaya hidup generasi yang sedang berkembang di era digital ini. Adalah Fuze Collective yang berkantor pusat di Bali, sebuah studio desain yang dicanangkan oleh Michael Handojo, alumni Desain Interior UPH angkatan 2013 bersama Francisca Simon, salah satu rekan kerja ditempat kerja sebelumnya, sejak awal 2020 ini. Dengan mengedepankan fleksibilitas waktu dan tempat bahkan jauh sebelum pandemi berlangsung, Fuze berusaha mengintegrasikan komposisi sesuai dengan konteks untuk berekspresi. Dengan visi “an integrated design studio”, Fuze sudah dipercaya oleh beberapa klien besar, terutama oleh investor asing yang tertarik untuk membangun sebuah tempat persinggahan di Bali. Villa Massilia yang mendapat perhatian besar, merupakan salah satunya. Mengedepankan konsep interior yang modern sekaligus bersahaja, Villa Massilia menjadi salah satu hotel pamersatu di Bali yang memiliki desain kontemporer sekaligus natural. Berbekal latar belakang dan minat yang besar pada setiap proyek, Fuze hadir untuk memberikan hasil terbaik dan keleluasaan lebih pada klien dalam merealisasikan desain interior pada bangunan yang diimpikan. Nilai-nilai seperti kreativitas, berpikiran terbuka, komunikasi, dan fleksibilitas dalam konteks professional yang dipegang oleh Michael tidak terlepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH. Michael mengakui bahwa pendidikannya di UPH mempersiapkannya secara mental untuk dunia profesional, terutama untuk berimajinasi seluas-luasnya, menentukan sendiri kapan dan sampai dimana akan bekerja, serta untuk mengedepankan profesionalisme dalam bekerja. Terlebih dari itu, kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Desain Interior membentuknya menjadi pribadi yang berpikir secara terintegrasi dan terstruktur. “Tentu bagi kebanyakan mahasiswa design, lembur dan kerja keras kami selama kuliah menjadi cerita dan pengalaman yang sangat berharga. Salah satu pengalaman paling berharga selama saya kuliah adalah menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Desain Interior, disitu saya belajar untuk berkomunikasi dan membawa diri saya lebih jauh, dan tidak hanya berpatokan pada ilmu design, tetapi berpikir secara ter-integrasi dan terstruktur.

Tahun Kelulusan: 29/08/2018
Ilmu yang dipelajari mengenai bangunan dan utilitasnya sangat menunjang pekerjaan saya kini. Dimulai dari memahami pola pikir dan konsep arsitektur, alur sirkulasi hingga penyelesaian ruang demi ruang secara detail.
Lenny Pariyanto (Arsitektur 1995)
Founder & Principal at Lito Lighting Consultant

Lenny Pariyanto, Lulusan Aristektur UPH Menyalurkan Kecintaannya Terhadap Bangunan dan Utilitasnya Melalui LITO LIGHTING

Mengedepankan disain pencahayaan yang premium (premium lighting design) dengan perpaduan sempurna antara keindahan dan teknologi pada arsitektur, interior serta landscape dengan budget ekonomis merupakan jasa yang ditawarkan oleh Lito Lighting, perusahaan yang bergerak di bidang pencahayaan yang dipimpin oleh Lenny Pariyanto, Alumni Arsitektur UPH angkatan 1995. Dengan visi untuk menyediakan jasa special lighting yang bermutu dengan harga yang kompetitif, Lenny dan tim telah dipercaya untuk menangani pencahayaan berbagai gedung ternama, termasuk beberapa hotel di Surabaya dan Bandung, gedung-gedung komersil di Jakarta, serta toko di pusat perbelanjaan.

Didirikan pada Maret 2004, Lenny terus berusaha menjaga kepuasan klien yang beragam dan terus beradaptasi dalam mengembangkan kualitas pekerjaan Lito sebagai sebuah perusahaan. Sejak kecil Lenny yang memang menyukai kegiatan menggambar, mengoleksi aneka senter, dan mengagumi betapa cahaya sangat berperan dalam tampilan suatu bangunan, mendapat kepercayaan diri untuk terjun pada ranah disain special lighting, berkat dukungan dari sang Ayah yang mengajarkan dan menginspirasi Lenny untuk selalu belajar tanpa henti, mengerjakan hal-hal yang ia sukai, dan selalu memberikan yang terbaik dalam hal apapun yang ia kerjakan, tanpa meninggalkan moral dan nilai dalam kehidupan.

Keberhasilan Lenny dalam mengembangkan Lito tidak terlepas dari pendidikan yang didapatkannya di UPH. Ilmu yang dipelajari mengenai bangunan dan utilitasnya sangat menunjang pekerjaannya kini. Dimulai dari memahami pola pikir dan konsep arsitektur, alur sirkulasi hingga penyelesaian ruang demi ruang secara detail memberikan Lenny nilai lebih yang ia butuhkan untuk mengerjakan desain pencahayaan secara maksimal. Lenny percaya bahwa semua usaha yang dilakukannya akan membuahkan hasil yang manis jika berangkat dari hati yang tulus, ikhlas dan bersih, berintegritas, dan menjaga keharmonisan hubungan kekeluargaan dengan seluruh tim dan rekan kerja.

“Momen yang tak terlupakan sepanjang menjalani kuliah arsitektur di UPH adalah serunya sewaktu dateline yang sudah dekat untuk mengumpulkan tugas, entah kenapa selalu terjadi momen saat-saat begadang untuk mengejar setoran gambar, menyelesaikan maket, dan menyiapkan presentasi buat esok paginya, apalagi jika dikerjakan bersama teman – teman, rasa kebersamaan, tolong menolong, dan perasaan senasib sepenanggungan sebagai anak arsitek,” tutup Lenny.

Tahun Kelulusan: 09/11/1999
Pendidikan di UPH memperkuat ilmu yang saya dimiliki, terkhusus dalam ilmu pemasaran
Harta Sungana (Magister Management 2001)
Business Director di Generali Indonesia Young and Dynamic

Harta Sungana, Business Director Generali Indonesia yang terus mengukir prestasi

Menjadi inspirasi untuk mencapai financial freedom, serta keleluasaan untuk pensiun muda dan pensiun kaya merupakan cita-cita banyak orang. Demikian juga dengan Harta Sungana, Business Director Generali Indonesia Young and Dynamic, perusahaan asuransi jiwa asal Italia. Jauh melampaui cita-cita tersebut, Harta juga mengemban misi untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk masyarakat luas. Keinginannya untuk membuka lapangan pekerjaan, membawa timnya pada kesuksesan, membantu klien, keluarga, dan teman agar terhindar dari resiko keuangan ini membawanya untuk berkarier di Generali, salah satu dari 10 besar asuransi dunia yang memiliki pengaman investasi yang unik.

Memiliki segudang prestasi yang diperoleh tidak membuat Harta cepat puas dengan pencapaiannya. Dengan dorongan tersebut, Harta menyelesaikan pendidikan magisternya lebih awal. Ya, Harta adalah alumni Magister Manajemen UPH angkatan 2001. Harta turut mengakui bahwa pendidikannya di UPH telah melengkapi ilmu yang sudah dimilikinya, khususnya dalam ilmu pemasaran.

Harta berpesan untuk para agen insuransi masa kini agar menjadi pribadi yang bisa diandalkan oleh klien, memiliki jiwa yang terdorong untuk terus menorehkan prestasi, sekaligus untuk selalu rendah hati dan memiliki tabiat yang baik. Ia percaya, jika seorang agen memiliki tiga kualitas ini, maka dalam kondisi terburuk sekalipun, mereka akan mampu berjuang dan bangkit lagi hingga mencapai performa maksimal mereka selagi muda.

Tahun Kelulusan: 26/09/2003
Kesempatan sekolah di UPH adalah sebuah kesempatan emas. You are learning the best from the best, with the best of the best. Gunakan kesempatan ini sebagai saluran berkat bagi kita untuk memberikan manfaat.
Sandiaga Uno (Doktor of Research in Management)
Pengusaha Sosial Oke Oce, Rumah Kerja, dan Sembapur

Sembapur, Startup Buatan Sandiaga Uno, Seorang Doktor of Research in Management

Startup Sembapur, yang merupakan singkatan dari Sembako dan Bahan Dapur, adalah program nyata dari social enterpreneurship Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A. Pengusaha yang kini sudah menyandang gelar Doktor of Research in Manajemen (DRM) dari UPH menyatakan bahwa usaha yang diluncurkannya bulan Agustus 2020 ini sudah berhasil menggandeng ratusan mitra, termasuk UMKM dan perusahaan distributor. Sebagai kewirausahaan yang terlahir dari kepedulian Sandi terhadap masyarakat yang kurang mampu, Sembapur sekaligus diharapkan dapat mendorong kelahiran pengusaha makanan dan meningkatkan daya jual UMKM kepada pasar yang lebih luas melalui penggunaan teknologi informasi yang tepat dan mudah diakses.

Hanya melalui satu klik ke www.sembapur.com, bahan pangan seperti beras, minyak, mi instan, dan telur dapat dijangkau dengan harga yang stabil dan berkeadilan. Dimulai dengan program ‘Oke Oce’ yang kemudian dilanjutkan dengan ‘Rumah Siap Kerja’, Sembapur adalah program ketiga karya Sandi untuk memberikan solusi bagi masyarakat Indonesia. Dengan inovasi, proaktivitas, serta keberanian untuk mengambil resiko, Sandi menghadirkan solusi untuk menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjamin ketersediaan pasokan. Bahkan, saat ini Sembapur menjadi satu-satunya lokapasar di Indonesia yang terfokus pada kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Dalam waktu dekat, Sembapur diharapkan dapat segera melebarkan sayapnya ke daerah-daerah lain di pulau Jawa dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.

Selama menjalani studi di DRM UPH, Sandi mempelajari nilai kewirausahaan yang turut diterapkan pada startup Sembapur, seperti motivasi untuk memecahkan masalah yang ada disekitarnya dan mengukir prestasi, memiliki rasa peduli, serta memiliki orientasi kewirausahaan. Dengan nilai-nilai ini, Sandi bergerak maju untuk memberikan dampak lebih luas serta menyulut semangat kewirausahaan pada generasi muda Indonesia. Sandi berpesan, “Kesempatan sekolah di UPH adalah sebuah kesempatan emas. You are learning the best from the best, with the best of the best. Gunakan kesempatan ini sebagai saluran berkat bagi kita untuk memberikan manfaat. Ilmu pada akhirnya harus bisa bermanfaat bagi masyarakat. Be the best of the best”.

Tahun Kelulusan:
Belajar di Teknik Informatika UPH mendukung saya untuk membangun bisnis ini, terutama melalui kelas alogaritma, database, matematika, dan statistika.
Arvan Kusniawan (Teknik Informatika 2007)
Pendiri Popkon Teknologi Indonesia

Arvan Kusniawan: Lulusan Teknik Informatika UPH Bangun Usaha Optimalisasi Keuntungan

“Pendidikan yang saya dapatkan dari Teknik Informatika UPH mendukung saya dan tim untuk membangun bisnis ini, terutama melalui kelas alogaritma, database, matematika, statistika, dan bahkan saat saya menulis skripsi yang saya dapatkan dulu. Saya rasa, lingkungan UPH dan pendidikan yang up to date merupakan keunggulan jurusan ini,” buka Arvan.

Wajah dibalik kesuksesan IT Solusi Digital adalah Arvan Kusniawan, alumni Teknik Informatika UPH angkatan 2007. Selain menyediakan jasa pembuatan website toko online, perusahaan, atau aplikasi mobile yang lengkap dan up to date, perusahaan digital yang didirikan Arvan pada tahun 2011 ini, namun juga dapat diakses setiap pebisnis yang mengembangkan usaha mereka, baik itu usaha kecil, menengah, maupun profesional. Dengan visi dan misi Solusi dan Digital, Arvan percaya bahwa memahami kesulitan dan perjalanan pelanggan adalah kunci untuk terus berkembang dalam mengembangkan bisnis yang dimulainya.

Sejak tahun 2018, Arvan kembali merintis bisnisnya yang bernama Popkon Teknologi Indonesia. Arvan dipercaya untuk mengoptimalkan pendapatan usaha melalui produk Popkon, PopCorn Technology, untuk beberapa nama besar industri FnB Indonesia termasuk Kopi Soe, DumDum Group, Pick Cup, Wake Cup, dan S2 Group (restoran Seroeni, Merah Jambu, Tiger & Crane). Menurut Arvan, memahami kesulitan pelanggan adalah kunci yang penting untuk mengembangkan bisnisnya. Arvan memutuskan untuk membuat satu aplikasi eksklusif untuk satu pelanggan sehingga dengan demikian perusahaannya mampu menyediakan solusi yang lebih efektif untuk memudahkan pengguna. Dibalik setiap aplikasi yang dibuatnya, Arvan menerapkan kerendahan hati untuk terus mau belajar serta tidak lupa juga memberikan yang terbaik.

Keberhasilan Arvan dalam membangun dan mengelola bisnisnya sampai pada titik ini berawal dari pendidikan yang holistis dan up to date juga. Arvan mengakui bahwa pendidikannya di UPH telah memperlengkapinya dengan ilmu yang dibutuhkan. Arvan mengakui bahwa beberapa alumnus UPH juga kini bekerjasama dengan Arvan di PopCorn Technology adalah pribadi yang memiliki keinginan untuk terus belajar, pekerja keras, dan gigih dalam pekerjaan mereka sehingga output yang diberikan selalu memuaskan. Arvan berharap akan terus lahir pemuda yang bersikap seperti ini dalam pekerjaan mereka.

Tahun Kelulusan: 09/09/2011
UPH membekali saya dengan pola pikir yang kritis dan sudut pandang yang luas. Itulah yang saya pegang hingga menjadi jurnalis sekarang.
Retna Pramestiningrum (Ilmu Komunikasi 2010)
Associate Producer di KompasTV

Satu Lagi Lulusan Ilmu Komunikasi Menjadi Jurnalis Kompeten

Jika Anda pernah menonton program TV semi-dokumenter sejarah berjudul “SINGKAP” atau acara kuliner “FOOD STORY” di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, maka Anda baru saja melihat hasil karya yang dicetuskan oleh alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2010, Retna Pramestiningrum. Sebagai Associate Producer di KompasTV, ketertarikan Retna terhadap dunia komunikasi sudah ada sejak lama di bangku Sekolah Menengah Atas. Ia mengakui bahwa kesempatan untuk menjadi sosok dibalik pesan yang disampaikan melalui media cetak, media elektronik, maupun melalui media sosial memiliki daya pikat tersendiri baginya.

Retna melihat bahwa UPH memiliki fasilitas lengkap untuk menunjang mahasiswa/i jurnalistiknya, dan terlebih juga kesempatan untuk belajar langsung dari dosen yang berpengalaman dan kompeten. Melalui proses belajar mengajar tersebut, ia didorong untuk mampu membuka pikiran seluas-luasnya serta memahami teori dan praktek jurnalistik didalam kelas. Terlebih penting, Retna merasa bahwa UPH menawarkan sifat kekeluargaan antara dosen dan mahasiswa/i, sehingga ia merasa lebih percaya diri untuk berkarya dan menuangkan kreativitasnya.

“Bekal utama yang saya dapatkan selama berkuliah di UPH adalah berpikir kritis dan melihat sebuah masalah dari berbagai sudut pandang. Itulah yang saya pegang hingga menjadi jurnalis sekarang. Jika saya mendapat informasi dari berbagai sumber, wajib bagi para jurnalis untuk criticize it! Apalagi dengan maraknya informasi di sosial media, berbagai perspektif hadir untuk diteliti dan ditelaah terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada publik,” jawab Retna antusias.

Persaingan kerja yang ketat di industri media menjadikan Retna sebagai pribadi yang kreatif, disiplin, dan bertanggung jawab. Menurutnya, pengalaman mengikuti berbagai organisasi selama kuliah telah membantu membentuk kepribadiannya tersebut. Melalui klub UPH Radio dan UPH TV yang diikutinya, Retna mengasah ilmu, termasuk mencari berita, menulis naskah, hingga menjadi presenter. Dari kedua organisasi tersebut, Retna mengaku tidak canggung lagi ketika masuk ke dunia televisi karena bekal pengalaman tersebut hampir sama ketika memasuki dunia kerja. Ia yakin, bahwa melalui latar belakang ilmu akademis yang dimilikinya, ia akan dapat memberikan dampak lebih luas terhadap lingkungan, termasuk kesempatan untuk berbagi pengalamannya selama di dunia pertelevisian.

Tahun Kelulusan: 04/03/2014
Banyak valuable life skill saya dapat saat kuliah di TI UPH
Fanny Murhayati (Teknik Industri 1999)
Marketing Director di Kantar Indonesia

Lulusan Teknik Industri Sukses Berkecimpung Dibidang Konsultan Industri

Kuliah di Teknik Industri tidak melulu belajar tentang teknik. Berbagai ilmu juga dipelajari dalam program studi ini, seperti ilmu manajemen hingga bisnis. Bahkan di Teknik Industri Universitas Pelita Harapan (TI UPH) mahasiswa mendapatkan banyak valuable life skill yang sangat berguna untuk mendukung profesi di dunia kerja. Hal ini diakui Fanny Murhayati, alumni 1999, yang saat ini berkarier sebagai Marketing Director Kantar Indonesia, perusahaan multinasional di bidang research dan konsultasi yang berkantor pusat di United Kingdom (UK). Pengalaman Fanny di bidang konsultan industri selama 15 tahun, memberikan banyak pelajaran serta keahlian di bidang strategi atau business plan suatu brand, dari multi-national atau local companies dan di beragam industri, seperti di bidang Fast Moving Consumer Goods (FMCG), keuangan, telekomunikasi dan sebagainya. Menurut Fanny, ilmu yang didapat saat kuliah di Teknik Industri UPH sangat aplikatif dalam berbagai industri. Diantaranya pelajaran supply chain, yang mengajarkan bagaimana workflow di pabrik.

“Pelajaran ini membuat saya mengerti proses secara menyeluruh mulai dari pengadaan hingga memarketingkan suatu barang atau brand. Tidak hanya itu, banyak valuable life skill saya dapat saat kuliah di TI UPH,” cerita Fanny yang memulai kariernya di PT The Nielsen Company Indonesia.

Berbagai pelajaran life skill yang didapat seperti belajar bagaimana memprioritaskan tugas, membuat project management, serta keterampilan untuk membuat suatu pekerjaan lebih terorganisir. Selain itu ia juga mendapat pelajaran motivation, working with the other, speaking, independence, prioritizing, dan time management baik secara individu maupun dalam group, melalui berbagai kegiatan non-akademik.

Berawal dari kuliah di TI UPH, kini Fanny memiliki berbagai keahlian yang sangat diperlukan dalam industri saat ini, khususnya dalam bidang market research dan competitive analysis. Tentunya pencapaian ini tidak hanya dari pendidikan akademik yang berkualitas, namun didukung valuable life skills yang didapatkan sejak di bangku kuliah.

Tahun Kelulusan: 26/02/2003
Pendidikan di UPH telah mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang kreatif, toleran, dan gigih dalam menghadapi tantangan sebagai terapis.
Kezia Karnila Putri (Conservatory of Music 2012)
Dosen Musik UPH & Ethics & Research Team di World Federation of Music Therapy

Lulusan Musik UPH Menjadi Satu-satunya Pemegang Sertifikasi MMT, MTA, MT-BC di Indonesia

Satu-satunya orang yang memegang sertifikasi MMT, MTA, MT-BC di Indonesia adalah Kezia Karnila Putri, alumni sekaligus dosen Conservatory of Music Universitas Pelita Harapan (CoM UPH) angkatan 2012. Sertifikasi ini didapatkannya setelah ia memenuhi praktek klinis lapangan sebanyak 1,000 jam untuk membantu lansia yang menderita Alzheimer dan juga dewasa dengan isu mental seperti PTSD, borderline, bipolar di Kanada. Setelah menyelesaikan pendidikannya di UPH pada tahun 2015, Kezia langsung melanjutkan pendidikannya ke Kanada dimana ia kemudian menjalankan praktek klinis lapangan dan mendapatkan Certification Board of Music Therapy (America) maupun Canadian Association of Music Therapy (Canada), sebuah sertifikasi yang sudah diakui dunia.

Kezia yang kini juga dipercaya untuk menjabat sebagai Ethics & Research Team di World Federation of Music Therapy mengakui bahwa pendidikannya di UPH telah membentuknya untuk menjadi pribadi yang kreatif, toleran, dan gigih dalam menghadapi tantangan sebagai terapis. Melalui pendidikan musik pula ia melihat bagaimana musik mempengaruhi manusia begitu dalam, bagaimana Tuhan menciptakan manusia begitu unik dan multilayered, dan bahkan bermanfaat untuk mengenal dirinya sendiri.

“Saran saya, be open to learning. Dirimu sendiri yang akhirnya mementukan apa yang kamu mau pelajari. Sebaik-baiknya dosen, kalau kamu tertutup dengan pengetahuan, kamu akan dapat hanya sedikit dan sebaliknya. Dan, buatlah apa yang kamu lakukan bermanfaat untuk dirimu dan orang lain – bukan hanya salah satu. Dengan demikian, kepuasan yang kamu dapatkan akan seimbang,” tutup Kezia dalam Alumni Homecoming session UPH Festival, Agustus 2020 lalu.

Tahun Kelulusan: 09/09/2020
Dosen di UPH tidak menyulitkan mahasiswa ketika membutuhkan bantuan, peduli dan tulus saat mengajar.
Jessica Ariela (Psikologi 2007)
Ketua Program Studi Psikologi UPH

Alumni Psikologi UPH Memenuhi Panggilan Sebagai Ketua Program Studi

Menjadi pribadi yang berdampak bagi sekitar merupakan keinginan semua orang, termasuk Jessica Ariela, alumni Psikologi UPH angkatan 2007. Kerinduannya untuk bisa berbagi kepada lebih banyak orang dalam satu waktu membuatnya membulatkan tekad dan mengambil komitmen untuk menjadi Ketua Program Studi Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH). Jessica percaya bahwa sebagai sarana untuk melatih calon konselor maupun psikolog, pendidikan memberikannya ruang gerak lebih luas sehingga ia dapat memberikan dampak yang lebih luas juga. Melalui sesi alumni sharing pada acara UPH Festival 2020 lalu, Jessica juga mengakui bahwa selain memberikannya energi, mengajar menjadi tempat baginya untuk menjadi wadah untuk berbagi kebaikan khususnya dalam memajukan kesehatan mental dan psikologis di Indonesia lewat lulusan-lulusan dari Fakultas Psikologi UPH.

Pengalaman positif yang didapatnya selama menempuh pendidikan di UPH, terutama kepedulian dan ketulusan dosen-dosen yang selama ini telah mendidiknya menjadi faktor penentu dalam menentukan tempat untuknya berkontribusi bagi almamaternya. “Dosen di UPH tidak menyulitkan mahasiswa ketika membutuhkan bantuan – saya betul merasakan bahwa mereka mengajar dengan peduli dan tulus selama kita sebagai mahasiswa tahu batasannya. Di UPH, kita punya relasi yang baik antara dosen dengan mahasiswa,” kenang Jessica. “Jangan lupa juga untuk terus tanya Tuhan bagaimana ilmu psikologi bisa kalian manfaatkan sehingga kalian bisa pakai ilmu yang kalian punya untuk berdampak bagi orang lain,” tutupnya.

Tahun Kelulusan: 04/03/2011
Kalau dulu saya belajar menganalisa ruang, sekarang skala-nya satu wilayah atau pulau. Kalau dulu mendesain ruang, sekarang mendesain program. Saya bersyukur metode design thinking yang di ajarkan di UPH sangat terpakai di pekerjaan saya sekarang ini.
Dewie Anggraini Putri (Desain Interior 2013)
Bali Water Protection (BWP) Officer di IDEP Foundation

Alumni Desain Interior yang Piawai Mendesain Program Community Development

Bergabung dalam aktivitas Non-Governmental Organization (NGO), terlebih di bidang lingkungan dan budaya, menarik perhatian Dewie Anggaraini Putri, atau yang biasa disapa Dewie, alumni Desain Interior UPH 2013. Dewie yang mendalami ilmu desain, kini terjun ke dalam profesi yang berhubungan dengan pelayanan untuk kemanusiaan dalam tim Bali Water Protection (BWP) yang merupakan proyek dari IDEP Foundation. Dalam menjalankan pekerjaannya, Dewie mengaku banyak pengetahuan dan skill yang didapat saat kuliah di School of Design UPH, dapat diimplementasikan ke dalam pekerjaannya di NGO. Diantaranya, metode analisa dan pengumpulan data untuk mengatasi persoalan dalam suatu komunitas.

“Kalau dulu saya belajar menganalisa ruang, sekarang skala-nya satu wilayah atau pulau. Kalau dulu mendesain ruang, sekarang mendesain program. Saya bersyukur metode design thinking yang di ajarkan di UPH sangat terpakai di pekerjaan saya sekarang ini,” ungkap Dewie.

Oleh karenanya, Ia sangat bersyukur berkesempatan bergabung di IDEP Foundation, sebuah organisasi yang berfokuskan pada community development melalui permakultur dimana ada pemahaman antropologi dan budaya di dalamnya, yang merupakan bidang yang sangat diminati Dewie. Selain itu, melalui BWP ini ia dapat ikut memberikan kontribusi positif dalam tumbuh kembangnya komunitas lokal dan masyarakat luas. Bergabung dalam tim Bali Water protection di IDEP, tugas utama Dewie adalah untuk membangun hubungan dengan pemerintah, donor, partnerships, alliances, dan juga komunitas lokal. Selain itu, Dewie kini piawai untuk mendesain dan mengembangkan program aktivitas yang mendukung program utama, yang berfokus pada konservasi air tanah, membuat proposal, hinga report proposal.

Bagi Dewie, sebagai lulusan Desain Interior School of Design UPH, pengetahuan dan skill yang didapat sangat membantu untuk terjun dalam berbagai bidang profesi. Prinsipnya, jangan takut untuk belajar sesuatu yang baru, karena hal tersebut dapat membawa kita ke perspektif yang baru, menemukan berbagai macam peluang dan membawa kita ke pengalaman baru.

Tahun Kelulusan: 29/08/2018
FK UPH ada banyak kegiatan asistensi seperti misalnya bedah. Kami terjun ke pasiennya dan langsung hands-on. Beda dengan universitas-universitas lain yang tidak langsung dapat kesempatan tindakan.
Niken Ageng Rizki (Kedokteran 2007)
Spesialis THTKL Siloam Hospitals

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPH Dapat Banyak Kesempatan Hand-On Learning dan Soft Skill untuk Dukung Profesi

Tuntutan profesi membuat mahasiswa kedokteran harus siap menjalani pendidikan untuk dapat menangani pasien dalam situasi apapun. Selain banyak belajar teori, juga harus melakukan praktek menangani pasien di rumah sakit. Beruntung bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), memiliki sistem kuliah yang memberikan banyak kesempatan kepada mahasiswa mendapatkan pengalaman hands-on learning dan soft skill yang sangat mendukung profesi. Manfaat kuliah di FK UPH ini diakui dr. Niken Ageng Rizki, Sp.THTKL, saat membagikan kisahnya sebagai mahasiswa FK UPH dan perjalan kariernya sebagai dokter spesialis THT bedah kepala dan leher kepada ratusan siswa SMA yang mengikuti webinar ‘Ceritaku’ yang diadakan UPH pada Sabtu, 20 Juni 2020.

“Senangnya di FK UPH ada banyak kegiatan asistensi seperti misalnya bedah. Kami terjun ke pasiennya dan langsung hands-on. Beda dengan universitas-universitas lain yang tidak langsung dapat kesempatan tindakan,” cerita dr. Niken, alumni FK UPH 2007.

Selain mendapatkan pengetahuan yang mendalam di bidang kedokteran, mahasiswa FK UPH juga diperlengkapi dengan soft skill yang sangat berguna untuk menjalani profesinya sebagai dokter. Di antaranya, melalui mata kuliah non-akademis dan berbagai kegiatan dan kemahasiswaan baik di lingkungan universitas, tingkat nasional, hingga internasional.

“Waktu kuliah di FK UPH saya banyak diperlengkapi dengan mata kuliah non-akademis seperti kepemimpinan, critical thinking, dan kemampuan bahasa Inggris yang baik untuk menjadi batu loncatan menjalani pekerjaan saat ini. Saya juga aktif ikut di senat mahasiswa, dan ikut organisasi Asian Medical Student Association UPH (AMSA-UPH) di mana saya ditunjuk menjadi delegasi Indonesia buat konferensi luar negeri. Beruntung saya juga mendapat kesempatan mengikuti ajang Miss UPH Scholar tahun 2009,” ungkap dr. Niken yang mengaku kegiatan-kegiatan ini membentuknya menjadi dokter yang punya hati.

Terbukti, di masa pandemi ini dr. Niken terus aktif bertugas sebagai dokter spesialis di Siloam Hospitals dan RSU Cipto Mangun Kusumo, dan dikenal sebagai dokter yang ramah dan teliti dalam menangani pasien. Baginya sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab profesi untuk menangani pasien dalam situasi apapun. Semua ini berawal saat menempuh pendidikan kedokteran di FK UPH.

Tahun Kelulusan: 04/03/2011
Berani menjadi diri sendiri, berpegang pada prinsip dan tidak mentoleransi prinsip tersebut demi penerimaan orang lain.
Han Yoo Ra (Ilmu Komunikasi 2010)
Youtuber dan Content Creator

UPH Menolong Han Yoo Ra Menemukan Jati Diri

Menemukan jati diri menjadi kunci penting dalam kehidupan seorang Han Yoo Ra, Youtuber dan Content Creator asal Korea Selatan, yang juga alumni Ilmu Komunikasi UPH 2010. Bagi selebgram yang popular di kalangan anak muda Indonesia ini, studi di UPH tidak hanya memberinya kesempatan untuk mengikuti berbagai macam kegiatan organisasi yang sangat bermanfaat, namun juga membekali dia dengan ilmu serta integrasi iman Kristen yang aplikatif. Semua yang didapat di UPH inilah yang membantu Yoo Ra menemukan siapa dirinya. Yoo Ra, biasa Ia dipanggil, mengakui dirinya telah menemukan identitas dan tujuannya dalam Tuhan sehingga apapun yang orang lain katakan tentang dirinya tidak akan menggoyahkannya lagi. Termasuk kecantikan yang melebihi apa yang terlihat, akan terpancar dari dalam dirinya.

“Waktu aku kuliah dulu, aku berkesempatan mengikuti ajang Miss UPH Scholar (MUS) 2011. Aku justru dari kuliah ngga merasa secantik atau sepintar teman-teman yang waktu itu ikut berkompetisi, tapi aku memanfaatkan ajang MUS ini untuk menantang diri sendiri,” ungkap Yoo Ra.

Pergumulan malah datang setelah penobatan dirinya menjadi Miss UPH Scholar 2011. Gaya hidup yang cukup berbeda di luar kegiatan yang dijalankan selama masa jabatannya di Miss UPH Scholar membuatnya bertanya-tanya mengenai apakah sebetulnya Ia layak menjadi sosok yang merepresentasikan UPH. Secara kasat mata, Yoo Ra mendapatkan semua yang seseorang bisa inginkan: ketenaran, gelar, dan kesempatan untuk membawa pengaruh bagi sekitar. Namun, Yoo Ra merasa bahwa pencapaiannya kini malah bukan sesuatu yang diinginkannya dalam hidup. Ia terlalu sibuk menjadi sosok yang orang lain harapkan sehingga dirinya merasa kesepian dan kehilangan jati diri.

Tampil cantik merupakan sesuatu yang sangat biasa bagi Yoo Ra. Banyak orang pun sering memberikan pujian terkait penampilannya. Walaupun demikian, Youtuber asal Korea Selatan yang tumbuh di Indonesia ini ternyata mengalami kesulitan dalam menerima pujian “cantik”. Kisah perjalannya menemukan definisi beauty (cantik) kerap dibagikan Yoo Ra untuk menginspirasi anak-anak muda. Termasuk dia juga menjadi narasumber dalam berbagai acara yang diadakan UPH, di antaranya acara Summer Virtual ProgramBeauty Tamed the Beast” pada 30 Juni 2020 lalu, yang diikuti siswa/i SMA seluruh Indonesia.

“Tidak ada definisi mutlak untuk beauty (kecantikan). Beauty adalah kompilasi dari kualitas diri seseorang atau sesuatu. Kalau aku sendiri tidak tahu diri aku, bagaimana aku bisa menyebut diri aku cantik atau tidak? Kita harus selalu tanya lagi kepada Tuhan, siapa sih kita sebenernya? Tuhan, pencipta kita, yang tau seperti apa kita harus bertumbuh,” lanjut Yoo Ra.

Melalui kisahnya, Han Yoo Ra membukakan tentang pentingnya menemukan jati diri dan mengajak setiap anak muda untuk berani menjadi diri sendiri, berpegang pada prinsip dan tidak mentoleransi prinsip tersebut demi penerimaan orang lain. Ini yang membedakannya dari Youtuber lainnya, bahkan menjadikannya seorang influencer yang memiliki ciri khas.

Tahun Kelulusan: 04/03/2014
Kunci keberhasilan bisnis kami ada pada 3C yaitu Commitment, Consistency dan Care. Ini kami dapatkan dari pendidikan di UPH.
Franky Tanzil (Teknik Industri 1995) & Yunita Wellistya (DKV 1995)
Founder dan CEO Siomay LeeLoo

Pasangan Lulusan TI dan DKV UPH Berbagi Kisah Sukses Bawa ‘Siomay LeeLoo’ Raih 5 Penghargaan

Berawal dari passion untuk berbisnis di bidang Food and Beverage (F&B), Franky dan Yunita, pasangan suami istri alumni UPH, berhasil mengangkat produk lokal siomay menjadi bisnis dengan brand SIOMAY LEELOO dan telah mendapat 5 penghargaan bergengsi. Kelima penghargaan tersebut; Indonesia Most Admired Award 2020, Indonesia Excellent Quality Award 2018, Indonesian Best Quality Award 2017, Anugerah Wirausaha Indonesia 2016, The Most Enjoyable QuickBites 2016 by GoFood. Kunci keberhasilan bisnis ini diakui keduanya ada pada 3C yaitu Commitment, Consistency dan Care. Sehingga pelan-pelan Siomay LeeLoo bisa bertumbuh dan berkembang karena mendapat kepercayaan dan support dari para customer. Kemampuan menjalankan 3C ini diakui Franky dan Yunita, sangat didukung oleh apa yang mereka dapatkan dari pendidikan di UPH.

“Ilmu dari Teknik Industri sangat membantu untuk menjalankan bisnis ini. Apalagi usaha siomay ini dikelola sendiri dari produksi, sampai ke penjualan. Jadi semua ilmu yang dipelajari bisa terapkan mulai dari soal produksi, manajemen stok, sampai kepada manajemen penjualan, dan sebagainya,” Jelas Franky alumni Teknik Industri (TI) UPH 1995.

Sedangkan Yunita, istrinya, alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH 1995 menerapkan apa yang dipelajari saat kuliah ke dalam konsep desain untuk mendukung marketing Siomay LeeLoo, mulai dari desain packaging, desain logo/brand, sampai semua materi display dan marketing. Keberhasilan mengelola bisnis ini juga tidak terlepas dari kegigihan keduanya untuk terus bertahan dari membuka satu counter di tahun 2007, hingga saat ini Siomay LeeLoo telah membuka lebih dari 30 outlet di daerah Jakarta, Tangerang, Bogor dan Depok. Keunggulan dari Siomay LeeLoo ini sendiri ada pada rasa siomay-nya yang khas dan berasa ikannya yakni dari bahan baku ikan tenggiri pilihan, tanpa bahan pengawet dan bumbu kacangnya yang disukai oleh pembelinya. Didukung kejelian dalam berbisnis, Franky dan Yunita mampu membawa Siomay LeeLoo menjadi produk favorit.

Tahun Kelulusan:
Studi di UPH tidak hanya mengembangkan ilmu desain yang saya miliki, namun juga membentuk karakter saya untuk menjadi desainer andal.
Greta Elsa (Desain Interior 2014)
Pemenang Gelar "Asia Young Designer of The Year"

Lulusan Desain Interior UPH Raih Gelar “Asia Young Designer of The Year” Pertama dari Indonesia

‘Rumah Kopi’ sebuah konsep rumah komunal yang mengakomodir kearifan lokal sekelompok masyarakat kampung Buni Kasih di Jawa Barat, karya Greta Elsa, alumni Desain Interior UPH 2014, berhasil memenangkan kompetisi internasional Asia Young Designer Award (AYDA) 2019/2020 untuk kategori Interior Design. Prestasi Greta menjadi kebanggaan School of Design Universitas Pelita Harapan (SoD UPH) sekaligus Indonesia, karena menjadi Warga Negara Indonesia pertama yang memenangkan Asia Young Designer of The Year di ajang internasional AYDA Summit 2020. Greta berhasil meraih prestasi tertinggi di ajang AYDA mengungguli 700 peserta lainnya dari 15 negara. Prestasi ini diakui Greta diperoleh berkat ilmu desain dan pembentukan karakter untuk menjadi desainer andal yang diajarkan di SoD UPH.

“Studi di UPH tidak hanya mengembangkan ilmu desain yang saya miliki, namun juga membentuk karakter saya untuk menjadi desainer andal, melalui eksperimen, eksplorasi, berani gagal, berani mencoba hal baru, dan semangat terus mengejar yang lebih baik,” kata Greta antusias.

Greta berhasil menunjukkan kekuatan karakter dan budaya Indonesia yang luar biasa melalui karya desain yang dihasilkannya. Hal ini sekaligus membuktikan keunggulan pembelajaran di School of Design UPH, yang kuat dalam aspek disiplin ilmu desain serta dalam pembentukan karakter untuk menjadi designer yang andal. Konsep Rumah Kopi ini berangkat dari tujuan mulia sekelompok pemuda kota untuk mensejahterakan masyarakat di kampung Buni Kasih, dengan memanfaatkan potensi agrikultur kopi yang tumbuh di area tersebut. Konsep rumah komunal yang dirancang Greta ditujukan untuk melestarikan kearifan lokal melalui penggunaan material lokal serta meminimalisir dampak lingkungannya. Melalui adanya Rumah Kopi, siklus keberlanjutan Kampung Buni Kasih diharapkan akan bertahan dan bahkan berkembang dalam aspek budaya, sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Prinsip-prinsip untuk menjadi designer andal yang diajarkan di SoD UPH mendukung Greta menghasilkan karya ‘Rumah Kopi’ yang diakui tim juri mampu menunjukkan kekuatan karakter dan budaya Indonesia yang luar biasa. Bahkan mendapat penghargaan dan pujian dari tim juri sebagai karya yang melampaui harapan dengan tingkat detil dan visi dalam desainnya. Atas prestasinya, Greta mendapatkan beasiswa senilai USD 10.000 di Harvard Graduate School of Design di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Tahun Kelulusan: 04/09/2019
Ada banyak ilmu yang didapat saat kuliah di UPH dan diaplikasikan dalam bisnis saya saat ini. Mulai dari bagaimana running bisnis dari awal sampai sukses, bagaimana cara buat produk yang disukai banyak orang melalui test panel, dan lainnya."
Martin (Pengelolaan Hotel 2015)
Pemilik @ceritakoffie.id

Cerita Koffie – Sukses Memanfaatkan Peluang Bisnis Kopi Kekinian

 

Berbicara tentang kopi, tentu punya deskripsi yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan kopi ialah teman produktif ada juga yang mengatakan kopi itu seni. Dalam event virtual Liburan Bareng Yuk (LBY) pada tanggal 28 Mei 2020, yang digelar UPH untuk mengisi liburan para siswa SMA, hadir narasumber pebisnis muda yang merintis di bisnis kopi kekinian. Nah, dia adalah Martin, owner Cerita Koffie dan juga alumni Manajemen Perhotelan UPH 2015.

Berkecimpung dalam dunia kopi, ternyata berawal dari kegagalan Martin masuk dalam club Gastronomy saat kuliah. Kegagalannya tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk mengikuti lomba-lomba memasak lainnya. Sampai akhirnya Ia menemukan tempat untuk part timer di salah satu coffee shop di Gading Serpong. Dari situ Martin mulai menemukan bahwa belajar kopi itu seru.

November 2019 menjadi awal Martin memulai coffee shopnya sendiri dengan brand @ceritakoffie.id dengan tagline Every Cup Tells a Story, di Alam Sutera. Pengalaman menjadi barista memberikan Martin kemampuan membuat specialty coffee yang rasanya masih original misalnya Americano, Cappucino, Latte dan Manual Brew. Martin melihat peluang bahwa bisnis specialty coffee itu trennya mulai turun karena harga di specialty coffee lumayan mahal. Martin berpikir bagaimana jika create kopi dengan harga yang lebih ekonomis, mengikuti tren bisnis yang ada di Indonesia. Hasilnya, sampai dengan saat ini, bisnis kopi Martin bisa merambah ke 8 kota di seluruh Indonesia.

Keberhasilan Martin dalam mengembangkan bisnisnya tentu tidak lepas dari ilmu yang Ia dapatkan dari pendidikannya di Manajemen Perhotelan UPH. Ada banyak ilmu yang didapat saat kuliah dan diaplikasikan dalam bisnisnya saat ini. Mulai dari bagaimana running bisnis dari awal sampai sukses, bagaimana cara buat produk yang disukai banyak orang melalui test panel dll. Sampai dengan saat ini, Martin pun tetap menggunakan tes panel untuk mengembangkan menunya.

Sebagai alumni dan seseorang yang sudah mulai mengembangkan bisnis sendiri, Martin tak lupa memberikan tips dan saran kepada para anak muda yang ingin memulai bisnis. Pertama, tentukan mau buka bisnis seperti apa? Jika kopi mau buka coffee shop mewah dengan dekorasi atau tempat duduknya yang bagus atau mau buka coffee shop dengan model take away seperti cerita koffie? Kedua, harus punya signature menu dari bisnis kamu, yang unik dari coffee shop lainnya. Ketiga, baru cari modal, salah satunya bisa melalui investor dengan sistem bagi hasil 50:50.

Lewat pengalaman yang dibagikan Martin diharapkan dapat memotivasi para peserta webinar dan juga anak muda pada umumnya untuk tidak takut punya cita-cita. Tentunya harus didukung dengan pengetahuan yang mumpuni. Bisa dimulai dengan kuliah di fakultas yang tepat. Seperti Fakultas Pariwisata UPH, yang sudah banyak menghasilkan lulusan yang berhasil di bisnis kuliner. Yuk, cari tahu infonya di www.uph.edu.

Tahun Kelulusan:
Banyak part dari pendidikan yang didapatkan di UPH merupakan first-hand experience, di mana kita sendiri juga menjadi percobaan eksperimen dalam eksplorasi pendidikan arsitektur dalam konteks umumnya di Indonesia.
Bondan Petra Diponegoro (Arsitektur 2011)
Arsitek & Penulis buku “The Extraordinary of the Ordinary Gurusina”

ARSITEK & PENULIS BUKU “THE EXTRAORDINARY OF THE ORDINARY GURUSINA”

 

Bondan Petra Diponegoro, alumni Arsitektur UPH 2011 adalah salah satu yang menjadi perwakilan bidang arsitektur untuk mendampingi revitalisasi kampung Adat Gurusina yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun 2018 lalu, kampung yang terletak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur dimana 27 dari 33 rumah tradisional ditambah 6 struktur bangunan adat lainnya terbakar.

Bantuan lebih jauh dari Pemerintah tidak hanya berfungsi untuk merevitalisasi area keberlangsungan hidup mereka, namun juga agar budaya setempat yang tertuang pada bangunan adat tidak hilang begitu saja. Dengan demikian, tugas Bondan dalam pekerjaan ini tidak terbatas pada pemantauan lebih jauh perkembangan pembangunan, tetapi juga merencanakan adaptasi dan mitigasi bencana untuk meminimalisir dampak bencana serupa dimasa depan.

Selama masa pembangunan kembali Kampung Adat Gurusina, Bondan mengaku ada banyak pelajaran berharga yang Ia dapatkan dari terlibat langsung dalam proses pembangunan ini serta mampu untuk lebih menghargai material bangunan yang berasal dari alam sekitar. Sementara masyarakat setempat diingatkan kembali untuk menghargai tradisi dan budaya yang mereka miliki. Pengalaman tersebut, Bondan tuangkan juga dalam buku yang Ia tulis bersama rekannya “The Extraordinary of the Ordinary Gurusina”

Walaupun bukan pekerjaan pertama yang dipercayakan padanya, Pembangunan kembali Gurusina dirasa tepat bagi Bondan untuk dapat mengimplementasikan ilmu yang sudah didapatkannya selama menjajak kuliah di UPH. Kolaborator di Formologix Lab ini merasa bahwa menjalani studi di UPH merupakan sebuah pengalaman yang menarik.

“Banyak part dari pendidikan yang didapatkan merupakan first hand experience dimana kita sendiri juga menjadi percobaan eksperimen dalam eksplorasi pendidikan arsitektur dalam konteks umumnya di Indonesia,” ungkapnya.

Hubungan baik dengan teman dan para dosen sewaktu kuliah diakui oleh Bondan masih terus terjalin dan memberikan motivasi lebih untuk terus belajar dan tidak puas dengan satu proyek atau kegiatan yang dijalani.

Bondan bepesan agar mahasiswa UPH bisa lebih bebas dalam menentukan masa depannya sesuai dengan tujuannya masing-masing tanpa harus dibebani keterbatasan dalam mengembangkan diri. Bondan percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin dilakukan baik itu meneruskan yang sudah ada ataupun memulai kembali dari awal sebuah karir, dan tentunya pribadi yang terbentuk dari lingkungan pendidikan yang baik akan pula berdampak baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Tahun Kelulusan: 10/09/2015
Melalui pendidikan di UPH, saya diperlengkapi untuk melakukan riset mendalam dalam menganalisa suatu masalah sehingga jalan keluar yang diambil tidak hanya baik untuk perusahaan, namun juga untuk segenap karyawan dan hasil akhir produk yang akan dikonsumsi masyarakat.
Michael Susanto Pardi (Magister Manajemen 2017)
Ketua Umum AKIDA dan Direktur PT. Dunia Kimia Utama, PT. Indonesian Acids Industry, PT. Liku Telaga, PT. Mahkota Indonesia, PT. PKG Lautan & PT. Pacinesia Chemical Industry

BELAJAR KUNCI UNTUK MENJADI ADAPTIF DAN MENCOBA HAL BARU

 

Michael Susanto Pardi, alumni UPH Magister Manajemen 2017 yang saat ini memimpin 6 perusahaan sekaligus, mempunyai pengalaman karier yang menarik untuk dibagikan. Meskipun dia menjabat sebagai salah satu direksi dalam 6 perusahaan tersebut, namun mempunyai tanggung jawab yang berbeda-beda. Ada yang di bidang Sales & MarketingProcurementHRManufacturingBusiness DevelopmentIT, dll.

Perusahaan yang dipimpinnya juga bukan main-main, di mana 5 di antaranya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufacturing dan 1 lainnya di bidang produsen bahan kimia yang memasok seluruh kebutuhan bahan kimia penjernih pada Perusahaan Air Minum di Indonesia dan juga export ke lebih dari 40 negara. Selain untuk air bersih, target market dari perusahaan-perusahaan yang dipimpin Michael juga digunakan untuk industri-industri hilir, seperti makanan dan minuman, keramik, detergent, biodiesel, tekstil, minyak goreng, dsb. Karenanya, sangat penting untuk menjaga produksi tetap berlangsung bahkan dimasa PSBB seperti ini.

Bagi Michael, memimpin 6 perusahaan tentu membutuhkan juggling brain dan fisik yang sehat. Disamping itu, dalam mengembangkan tiap perusahaan pasti memiliki strategi, manajemen, permasalahan operasional, teknologi bahkan sampai ke sub culture yang berbeda-beda. Contohnya, secara umum Michael membangun culture perusahaan yang utama adalah People FirstKindnessTeamworkAutonomy, dan Trust.

“Dengan membangun culture tersebut, maka team management bisa menjalankan tugas dan direction dari Board of Directors dengan kreatifitas, freedom dan accountability,” ungkap Michael.

Hal tersebut diaplikasikan dari ilmu yang juga Ia dapatkan ketika kuliah di UPH. Terlebih, Ia diperlengkapi untuk melakukan riset mendalam dalam menganalisa suatu masalah sehingga jalan keluar yang diambil tidak hanya baik untuk perusahaannya, namun juga untuk segenap karyawan dan hasil akhir produk yang akan dikonsumsi masyarakat.

“Belajar adalah kata kunci di saat krisis seperti krisis Covid-19 ini. Kita perlu menjadi manusia atau organisasi yang aktif belajar sehingga kita punya kemampuan adaptif dan mencoba hal-hal baru. Belajar bisa dari mana saja, bisa dari rules, teori, data dari buku, podcast, atau youtube. Dengan memiliki ilmu yang memadai, kita bisa melakukan eksekusi dengan cepat, eksekusi cepat adalah kunci keberhasilan.” pesan Michael.

Kesibukannya dalam dunia bisnis, ternyata tidak membuat Michael lupa untuk mangabdikan ilmunya bagi kemajuan bangsa dan negara. Selain menjadi Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik Indonesia (AKIDA), ia juga rutin menjadi dosen tamu di beberapa kampus, terutama di jurusan engineering. Semangat, terus belajar dan berkontribusi bagi bangsa!

Tahun Kelulusan: 10/09/2019
Dosen di UPH sangat mendukung aku dalam menjalani studi sambil berkarir.
Mikha Tambayong (Hukum 2013)
Tokoh Masyarakat, Pengusaha dan Pendiri Sisters & Co. Advocacy

IEMM UPH JADI PILIHAN MIKHA UNTUK STUDI LANJUT DI HARVARD UNIVERSITY

Selain memiliki paras cantik dan multitalenta, public figure Mikha Tambayong tetap mengutamakan pendidikannya. Hal ini dibuktikan dengan keinginan besarnya untuk menempuh S2 di Harvard University. Alumni Ilmu Hukum UPH 2013 ini berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan menyandang predikat cumlaude. Kini Mikha telah melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di program International Executive Master of Management (IEMM) UPH. Melalui program tersebut, Mikha mendapat kesempatan untuk mengikuti short course pada Juni 2020 serta akan mendapatkan professional certificate dari Harvard University. Mikha mengakui bahwa kesempatan kuliah magister di Harvard University datang setelah dia mendaftar dan melakukan tes pada program International Master di UPH untuk program studi Manajemen. Dia akan menjalani masa studinya di dua kampus, yaitu UPH dan Harvard University, dengan jangka waktu masing-masing satu tahun.

“Kebetulan aku ambil program IEMM di UPH. Alasannya, karena aku sudah pernah kuliah di UPH saat S1 dan dosennya sangat mendukung aku dalam menjalani studi sambil berkarir. Selain itu, relevan juga karena sekarang aku juga punya bisnis. Environment di sini juga sangat nyaman dan mendukung untuk studi,” ungkapnya.

Pada studi magisternya ini, Mikha memilih program studi yang berbeda dari program studi pada program S1-nya yang membuat dirinya harus belajar lebih ekstra tentang mata kuliah dasar manajemen. Namun, hal ini membuatnya semakin gigih dan tertantang untuk keluar dari zona nyamannya. Program ini dirasa sangat relevan sama pekerjaannya saat ini karena Ia juga punya bisnis.

“Aku ambil kelas lain dulu sebelum ambil kelas manajemennya, karena nggak ada dasarnya cuma ya kebetulan aku lihat programnya bagus. Aku bisa dapat kelas di luar, terus juga mungkin lebih relevan sama pekerjaanku sekarang karena aku punya bisnis juga,” jelasnya.

Mikha juga sekaligus memberikan pesan kepada generasi muda yang memiliki mimpi, tetapi belum terwujud. “Bagi semua orang dengan mimpi yang mungkin mustahil, miliki keberanian untuk memulai dari yang kecil, dan yang paling penting hormati serta cintai orang tuamu setiap saat, karena doa mereka sangat membantumu,” tandas Mikha.

Tahun Kelulusan: 10/03/2017
Mercy Widjaja (Hubungan Internasional 2014)
Jurnalis di Metro TV

Ilmu HI Membuka Jalan Terjun ke Profesi Jurnalis

 

Ternyata lulusan Hubungan Internasional (HI) punya banyak peluang karier di berbagai bidang. Ilmu dan keterampilan dalam berkomunikasi yang dipelajari di program studi HI menjadi salah satu keunggulan dari bidang ini. Ternyata prodi HI justru menjadi jalan untuk untuk terjun ke profesi jurnalis, seperti pengalaman Mercy Widjaja, alumni HI UPH 2014. Menjadi jurnalis atau reporter adalah cita-cita Mercy sejak kecil dan Ia bersyukur ketika lulus langsung bekerja di Metro TV, stasiun televisi swasta terpercaya di Indonesia. Walau dalam perjalanannya ada banyak tantangan yang dilewati dan effort yang dilakukan secara khusus ketika Ia menjadi reporter di lapangan, namun tak membuatnya putus asa. Hanya dalam waktu 1 tahun ia berhasil masuk ke studio.

Sebagai fresh graduate HI UPH dan juga reporter muda, Mercy mengaku sebelum mendapat kesempatan tampil di studio, Ia harus benar-benar mengerti dan menguasai materi yang ada di lapangan sehingga Ia bisa mengkomunikasikannya kepada pendengar dengan jelas. Dan hal tersebut cukup mudah diadaptasi, berkat bekal ilmu yang Ia dapatkan ketika kuliah di UPH. Satu hal yang semakin membuat Mercy yakin untuk bekerja di industri media dan jurnalistik adalah sistem kerja yang dinamis. Baginya, setiap hari selalu ada hal baru yang bisa dipelajari baik dari kesempatan bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang maupun dari materi-materi yang Ia mesti persiapkan.

Saat ini Ia bertanggung jawab mencari analisa dan prediksi pergerakan saham, serta melaporkannya di program Zona Bisnis dan Newsline Bisnis. Selain itu, Ia juga melaporkan berita ekonomi terkini baik nasional maupun internasional.

Tahun Kelulusan: 16/03/2018
Banyak law firm besar di Indonesia yang selalu memberikan slot untuk lulusan UPH.
Hendra Ong (Hukum 2000)
Pengacara Dentons HPRP

Mengawali Studi Hukum di FH UPH untuk Jadi Pengacara Terkenal

Seperti anak muda umumnya, sejak di bangku sekolah Hendra Ong, alumni Fakultas Hukum UPH Angkatan 2000, sudah bercita-cita menjadi pengacara terkenal. Cita-cita ini semakin kuat sejak ia lulus sebagai Sarjana Hukum dari FH UPH. Setelah 14 tahun lebih berkiprah di bidang legal dan dalam memimpin berbagai proyek penting bagi perusahaan internasional dan multinasional terutama di industri penerbangan menjadikan Hendra seseorang yang strategis untuk digandeng Dentons HPRP, salah satu firma hukum terkemuka di Indonesia sebagai Corporate and Commercial and Resources & Infrastructure partner. Dalam menekuni kariernya, Hendra menyebutkan tiga hal utama yang menjadi kunci kesuksesannya, yaitu bekerja dengan smart, membina hubungan baik dengan setiap orang, serta memberikan pelayanan yang terbaik. Setiap elemen dari kunci tersebut diterapkannya dengan tanggung jawab yang besar, dimulai dari proses mencari individu yang tepat dan membentuk tim yang maksimal untuk setiap pekerjaan yang dilakukan. Menurut Hendra, sudah tugasnya sebagai team leader harus mampu melihat titik tersebut dan menempatkan setiap individu di tempat yang tepat bagi mereka sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat dicapai dengan lebih efisien dan efektif. Hendra mengakui bahwa karier yang dijalaninya ini sudah diinginkannya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pandangannya tentang bagaimana seorang advokat adalah seorang individu yang pandai dan sukses dalam hubungan sosial mejadi pemicu untuk Hendra bekerja keras dan mencapai milestones dalam kariernya saat ini. Cita-cita ingin menjadi pengacara terkenal, kerja keras untuk dapat memecahkan permasalahan dari setiap klien yang diwakilkan. Selain itu, dalam menjalani kariernya ia selalu berpegang pada prinsip tanggung jawab, dapat dipercaya, dan disiplin. Menurutnya, tiga hal ini adalah modal yang penting untuk dimiliki setiap individu selain memiliki pengetahuan yang dalam akan bidang yang dikerjakan dan tidak pernah berhenti dalam proses pengembangan diri. Dalam perjalanannya menuju sukses, pilihan Hendra untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya di UPH menjadi pilihan integral. Menurutnya, UPH tidak hanya memiliki dosen-dosen yang berpengalaman, namun juga lingkungan pendidikan yang mendukung proses belajar mengajar yang baik. Tidak kalah penting, network yang baik yang dimiliki teman-teman di UPH merupakan nilai tambah yang sangat berguna saat berkerja. Menurut Hendra, saat ini UPH saat ini sudah menjadi salah satu universitas yang menghasilkan lulusan berkualitas digaet perusahaan-perusahaan besar, termasuk di firma hukum besar di Indonesia. “Khususnya di dunia hukum, banyak law firm besar di Indonesia yang selalu memberikan slot untuk lulusan UPH,” ucap Hendra.Belajar dari pengalamannya, Hendra berpesan untuk mahasiswa/i yang masih menyelesaikan pendidikannya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dapat dipercaya, dan selalu disiplin dalam bekerja. ‘Proses tidak akan membohongi hasil’, pepatah ini sudah dibuktikan Hendra, demikian yang akan terjadi jika seseorang selalu memberikan yang terbaik untuk setiap pekerjaan yang dilakukan.

Tahun Kelulusan: 12/03/2004
Saya yakin saya bisa dipilih berduet dengan Andrea Bocelli karena saya punya gelar sarjana formal yang saya dapat dari CoM UPH.
Dira Sugandi (Musik 2000)
Penyanyi Pop dan Jazz Internasional

COM UPH MELAHIRKAN MUSISI BERKUALITAS INTERNASIONAL

 

BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) menyatakan bahwa musik memiliki potensi industri yang besar dan menjanjikan, dapat menjadi jaminan untuk kamu yang ingin terjun di industri kreatif ini. Misalnya, bermimpi jadi penyanyi ‘superstar’ yang berprestasi. Kenapa harus ragu? Contohnya Dira Sugandi, jebolan Conservatory of Music UPH 2000 – penyanyi Jazz Indonesia yang tidak perlu diragukan kualitasnya baik nasional maupun internasional. Beberapa musisi internasional kenamaan pun sudah pernah berduet dengan wanita kelahiran kota Bandung ini, sebut saja Jason Mraz, David Foster, dan musisi lainnya.

Memiliki kualitas dan track record yang unggul, tidak menjadikan Dira enggan membagikan pengalaman dan tips ‘How to Sing Like a Superstar’ kepada peserta seminar yang umumnya siswa/i SMA dari berbagai daerah, di acara UPH Featuring The Expert #dirumahajatetapseru, 10 Juni 2020 melalui ZOOM Meeting.

Menjadi seorang superstar menurut Dira artinya menjadi seorang yang profesional. Pengalamannya berduet dengan musisi internasional, membuat Dira semakin menyadari bagaimana seharusnya menjadi seorang profesional. Beberapa kriteria yang harus dimiliki diantaranya bersikap rendah hati, memiliki sikap yang baik, selalu lakukan persiapan maksimal, dan yang juga penting memiliki bekal pengetahuan praktis maupun teori di bidang musik. Dira menyebutkan pengalaman pendidikan formal yang Ia dapat dari Conservatory of Music UPH, sebagai faktor penting dalam kariernya. Hal ini terbukti ketika dirinya berhasil lolos dan terpilih berduet dengan Andrea Bocelli. Ia terpilih salah satunya karena Ia punya gelar sarjana formal yang didapatkan dari CoM UPH.

Dira juga memberi tips dasar menjadi seorang penyanyi profesional. Pertama, passion, membuat seseorang nyaman dengan diri sendiri ketika di panggung, kuasai teknik dasar menyanyi, adalah dasar untuk melangkah menjadi penyanyi profesional.

Kedua, penguasaan materi, tentunya bukan sekadar hafal lirik dan melodi, tapi paham pesan apa yang ingin kita sampaikan. Penguasaan materi membuat kita memiliki penguasaan panggung yang baik, menyanyi dari hati, dan bisa menjadi story-teller yang dapat merebut perhatian penonton. “Jangan lupa sempatkan diri untuk eye contact dengan penonton dan just have fun!

Melalui Webinar ini, Dira mengajak peserta untuk terus berlatih dan mempraktikan kemampuannya. “Bisa dimulai dengan melakukan imitating penyanyi favorit,” pesan Dira.

Melalui CoM UPH, setiap lulusan dibekali menjadi pemusik dan artis handal serta profesional dengan kualitas yang unggul, karakter yang baik, dan mampu menjawab kebutuhan industri musik di Indonesia maupun dunia Internasional.

Tahun Kelulusan: 28/08/2006
Pengalaman berorganisasi dan relasi alumni UPH itu sangat bagus.
Frebriansyah Hermawan (Teknologi Pangan 2009)
Co-founder Namazake & Managing Director Sabda Indonesia

Pengalaman Berorganisasi dan Relasi Alumni Kunci Sukses Mengembangkan Karier

 

“Building Brands, Telling Stories” adalah value yang dipegang teguh seorang Frebriansyah Hermawan dalam pengambilan keputusan karir maupun bisnisnya. Posisi kepemimpinan yang dipercayakan pada alumni Teknologi Pangan UPH 2009 ini membuatnya tak bisa main-main – terutama mengingat misi hidupnya, yakni untuk membangun dan mengembangkan brand Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam negeri. Ia ingin bisnis-bisnis ini dapat mempunyai akses kepada strategi dan branding yang sama dengan merek-merek besar. Ia berharap dapat membantu bisnis-bisnis tersebut untuk tidak hanya mampu bertahan di zaman ini, namun juga untuk memiliki level persaingan sekelas merek-merek besar.

Saat ini, Frebriansyah bergerak pada bidang marketing, branding, advertising. Beberapa perusahaan yang dipimpinnya termasuk Namakaze sebagai co-founder dan Managing Director Sabda Indonesia. Perhatian utamanya akhir-akhir ini banyak diberikan terhadap Sabda Indonesia, sebuah perusahaan branding yang membantu klien ternama seperti Danone, Lumix, Sosro, dan Mayora. Sebagai sebuah perusahaan yang tergolong masih muda, Frebriansyah percaya Sabda Indonesia memiliki peluang berkembang kedepannya sehingga usaha dan fokus secara khusus akan sepadan dengan perkembangannya.

Walaupun memiliki latar belakang yang sama sekali berbeda dengan dunia yang digelutinya kini, Frebriansyah merasa ilmu yang didapatkannya tidaklah sia-sia. Kemampuan menulis laporan yang terasah selama kuliah menjadi ilmu yang membedakannya sebagai seorang marketer. Justru melalui penulisan hingga 5 laporan mingguan dan membaca ratusan jurnal, bermanifestasi sebagai analytical dan strategic thinking yang terasah. Alhasil, Frebriansyah mampu memahami permasalahan dengan lebih cepat, tepat, dan rancangan pemikiran yang terstruktur dan jelas.

Selain itu, pengalaman berorganisasi dan relasi alumni yang baik menjadi kunci penting bagi Frebriansyah. Menurutnya, pengalaman berorganisasi menjadi pemicu pilihan kariernya kini. Melalui kegiatan berorganisasi, Frebriansyah belajar untuk bekerjasama dengan banyak orang, “menjual” acara kepada pihak sponsor, hingga cara membuat event yang sukses. Frebriansyah tidak luput memuji relasi alumni UPH yang bagus sehingga Ia mendapat kesempatan untuk bekerja di Nutrifood setelah lulus.

Dalam menemukan panggilannya, Frebriansyah menerapkan kerangka berpikir “Ikigai” dari Negeri Sakura. Setelah menjelajah sebanyak-banyaknya dibawah usia 25 tahun, Ia memfokuskan diri terhadap pekerjaan yang Ia geluti berdasarkan 3 kerangka “Ikigai”; (1) apakah ada market untuk produk yang ingin Ia jual, (2) apakah Ia pandai melakukannya, (3) apakah Ia memiliki dalam bidang tersebut. Menurutnya seseorang akan berhasil jika pribadi tersebut menjawab ‘ya’ untuk ketiga komponen ini.

Tahun Kelulusan: 06/09/2013
Yuni Priskila Ginting (Doktor Hukum 2018)
Legal Advisor di PT. Wahana Kreator Nusantara & PT. Meprofarm

Lulusan UPH Mampu Bersaing dan Menjadi Pemimpin di Masyarakat

 

Pada usia yang masih tergolong muda – yakni 25 tahun –Yuni Priskila Ginting tidak hanya sudah menjadi seorang legal advisor di 2 perusahaan besar, namun juga berhasil menyelesaikan studinya sampai mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hukum. Keinginannya untuk menjadi pemimpin yang menjadi berkat bagi sekelilingnya membuatnya bergegas menyelesaikan studi doktoralnya.

Sebagai praktisi di bidang hukum, kesibukan Yuni cukup padat. Selain tugas utamanya sebagai legal advisor untuk PT. Wahana Kreator Nusantara dan di PT. Meprofarm, ia juga aktif sebagai dosen tamu dan narasumber di bidang hukum pidana dan Haki. Baginya, menangani berbagai proyek baik di industri farmasi dan kreatif, seperti pengurusan ijin edar dan merek dagang serta pembuatan film/serial dengan beberapa perusahaan seperti PT. KHARISMA STARVISION PLUS dan PT. DUNIA VISITAMA PRODUKSI (fremantlemedia), membuatnya selalu antusias, karena di setiap pekerjaannya Yuni menikmati setiap proses, target dan pencapaian yang berbeda dalam setiap penanganannya.

Di tengah kesibukannya, Yuni terus memiliki semangat belajar, bahkan ia tercatat sebagai Doktor Ilmu Hukum termuda di Indonesia. Melalui disertasinya berjudul “Tindak Pidana Pencucian Uang Sebagai Tindak Pidana Lanjutan Dari Perdagangan Narkotika“, menjadi cerminan kepeduliannya terhadap upaya penerapan hukum di Indonesia.

Dengan tegas Yuni menekankan bahwa masih maraknya perdagangan narkotika di Indonesia menjadi bukti bahwa negara masih belum menerapkan sanksi yang menimbulkan efek jera, sehingga negara mengalami kerugian dari segala lini. Solusi yang Yuni tawarkan adalah penerapan dua sanksi bagi pelaku, yaitu sanksi menurut undang-undang narkotika dan sanksi menurut undang-undang tindak pidana pencucian uang. Berlandaskan desertasi ini pula Yuni kerap menjalankan sosialisasi anti narkoba dan mengingatkan mahasiswanya untuk menjauhi narkoba. Ia ingin mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan berkembangnya jenis kejahatan yang bersangkutan dengan tidak pidana narkotika.

Kecintaan pada ilmu hukum tidak terlepas dari almamaternya Fakultas Hukum UPH yang telah membekalinya dengan ilmu pengetahuan, karakter, dan critical thinking, sehingga ia lebih siap terjun ke masyarakat. Yuni mengakui UPH mampu memenuhi kebutuhan mahasiswanya, sesuai dengan tingkatannya. Itu sebabnya ia konsisten memilih FH UPH untuk setiap jenjang pendidikan, dari S1, S2, hingga S3. Bahkan mengikuti pendidikan advokat yang diselenggarakan di UPH dan lulus ujian Peradi.

Menyelesaikan pendidikan setiap strata dengan tepat waktu adalah krusial bagi Yuni. Karenanya, meskipun selama studi di program Magister dan Doktor di UPH Yuni tetap bekerja, namun ia dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Tidak lain, diakui Yuni, karena UPH memiliki program pascasarjana yang dirancang sangat baik, dengan pemilihan waktu belajar, lokasi yang tepat dan strategis, ditambah pengajar yang kompeten. Bukan hanya itu, ia juga mengakui banyak mendapatkan koneksi luas, yang sangat dibutuhkan dalam pekerjaannya.

Semua yang ia dapatkan di UPH memberikan bekal yang lengkap, bukan hanya ilmu pengetahuan tetapi juga mental untuk terjun ke masyarakat. Bahkan Yuni membuktikan, tamatan UPH mampu untuk bersaing dan menjadi pemimpin di bidangnya, serta memberikan kontribusi sebagai agent of change di tengah masyarakat, sesuai dengan visi dan misi UPH yang sudah ditanamkan.

Tahun Kelulusan: 13/06/2020
Saya mendapatkan sudut pandang yang baru dari kelas-kelas yang diajarkan oleh dosen-dosen selama perkuliahan, yang akhirnya dapat saya pakai dalam menghadapi masalah yang ada di dunia kerja dan mengatur pola pikir saya dalam mengambil keputusan.
Noviana Ong (Manajemen 2010)
Manajer Portofolio di Salim Group

GIVE THE BEST, NEVER STOP LEARNING, AND BE GRATEFUL

 

Prinsip give the best, never stop learning, and be grateful menjadi kunci keberhasilan Noviana, alumni Manajemen 2010, yang saat ini dipercaya sebagai Portfolio Manager di Salim Group, perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia. Dengan memegang prinsip tersebut, Ia dapat menghadapi setiap tantangan dalam menjalankan kariernya. Sebagai Portfolio Manager, Noviana bertugas menangani investasi, termasuk mengembangkan dan menerapkan strategi untuk perusahaan-perusahaan yang dimiliki atau yang bekerjasama dengan Salim Group. Bagi Noviana, tugas ini sangat menarik. Tidak tanggung-tanggung, dia berhasil memanage kurang lebih 20+ perusahaan dengan membuat standarisasi laporan keuangan. Melalui profesinya ini, Noviana belajar dari bermacam-macam industri dan bertemu dengan banyak owner perusahaan, mulai dari belajar berkolaborasi, berinteraksi, berbagi ide dan pemikiran serta mendapatkan cara pandang baru dalam menghadapi berbagai jenis masalah hingga menemukan solusi dari masalah-masalah tersebut.

Berbekal ilmu yang didapat ketika kuliah di Business School UPH, menjadi modal terjun ke dunia finance dan management. Menurutnya, tugas-tugas di masa kuliah, melatih dia untuk dapat mengatur waktu dan memprioritaskan tugas. Lingkungan kampus, serta komunitas yang baik dan dosen-dosen yang berkualitas, sangat berguna untuk membentuk dia menjadi individu yang bertumbuh dalam berbagai aspek. “Saya mendapatkan sudut pandang yang baru dari kelas-kelas yang diajarkan oleh dosen-dosen selama perkuliahan, yang akhirnya dapat saya pakai dalam menghadapi masalah yang ada di dunia kerja dan mengatur pola pikir saya dalam mengambil keputusan,” tutur Noviana.

Sebelum berkarier di Salim Group, Noviana memulai kariernya di PT Indofood Sukses Makmur sebagai Risk Analyst selama hampir 3 tahun. Project yang berhasil ia kerjakan saat itu adalah memegang project perbaikan SOP Risk Management secara keseluruhan. Kemudian tahun 2016 lanjut berkarier di startup company bidang FnB selama 2 tahun sebagai sebagai Head of Financial and Administration. Dari mengurus 1 brand hingga berkembang menjadi 5 brand, dari memanage team dibawah 10 orang menjadi 60 orang. Perjalanan karier Noviana tak lepas dari prinsip yang terus Ia pegang yakni always give the best in everything, never stop learning and be grateful. Dengan memegang prinsip tersebut, Ia dapat menghadapi setiap tantangan dalam menjalankan kariernya. Secara khusus dalam bidang pekerjaannya saat ini di Salim Group, diharapkan dengan management yang baik dan didukung dengan perhitungan finance yang matang, startup-startup yang dipegangnya dapat berkembang hingga mendukung perekonomian mikro, yang berdampak pada perkembangan perekonomian makro.

Tahun Kelulusan: 13/03/2014
Kolaborasi adalah kunci agar kita dapat mencapai tujuan bersama, dan impact yang akan dihasilkan dari kolaborasi pun pasti lebih besar.
Dyandrastra Mairavida (Arsitektur 2013)
Co-founder & Creative Director di Copa de Flores

COPA DE FLORES, BERANGKAT DARI DESAIN UNTUK MENCIPTAKAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

 

Desain bukan melulu soal keindahan, tetapi desain digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Inilah salah satu sisi penting dari mempelajari desain yang diperoleh Dyandrastra Mairavida, Alumni Arsitektur 2013, profesional Arsitek, yang juga co-founder & creative director dari brand fashion Copa de Flores, sebuah social enterprise di bidang fashion. Meskipun merupakan hal yang masih baru, namun Dyandra tertarik untuk memasuki dan mempelajari bisnis ini. Bersama dengan 7 partner, yang punya ketertarikan sama pada budaya, mereka ingin memperkenalkan warisan budaya Indonesia ke masyarakat luas, dimulai dari teman-teman anak muda disekitarnya.

Copa de Flores adalah purposeful textile catalyst dengan misi untuk menanamkan nilai kepada para konsumen sehingga menjadikan mereka sebagai fashionablyhumanist, dengan mengolah tenunan tangan tradisional untuk pemberdayaan para perempuan penenun Flores. Terinspirasi oleh cinta ibu kepada anak-anak, Dyandra dan partners menamai kreasi mereka sebagai faithful companion, dengan harapan bahwa produk yang dipasarkan dapat menjadi teman yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya untuk semua orang.

“Kami mendedikasikan setiap kreasi Copa de Flores untuk menghormati kesetaraan, melindungi keberadaan warisan budaya maupun sastra Indonesia, dan untuk memenuhi gerakan fashion yang bertanggung jawab untuk kehidupan yang lebih baik dengan sistem ekonomi sirkular yang kami buat. Karenanya, setiap koleksi yang dikeluarkan selalu memiliki story line dengan tema yang beda-beda. Tujuannya untuk meningkatkan awareness terhadap suatu peristiwa bersejarah yang pastinya memiliki banyak pelajaran bermakna. Sedangkan untuk tenunnya sendiri selalu memiliki pesan berdasarkan motifnya, yang biasanya merupakan curahan hati para mama-mama penenun. Poin-poin diatas, kami olah dan padupadankan sesuai tema setiap koleksi agar pesan yang diangkat tersampaikan dengan baik,” jelas Dyandra.

Kualitas dan orisinalitas kain tenun, menjadi keunggulan dan keunikan Copa de Flores. Bahan ditenun langsung oleh tangan mama-mama di desa Flores menggunakan alat tenun gedongan, dengan bahan-bahan alami, diolah menjadi produk dengan desain yang timeless with a twist and versatile. Setiap material post production juga dimanfaatkan kembali menjadi produk-produk turunan agar tidak terbuang percuma, sekaligus meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan.

Melalui Copa de Flores, Dyandra dan partners juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi, kesetaraan gender perempuan di Flores dengan mengangkat potensi diri mereka. Di antaranya bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat untuk melakukan kolaborasi antara pengrajin desa, komunitas perempuan adat, perempuan dengan sindrom paska psikologis korban pelanggaran HAM dan pelecehan seksual, juga komunitas penyandang cacat, bersama-sama melakukan kegiatan menenun sebagai media pemulihan jiwa berbasis meditasi visual.

“Bagi kami kolaborasi adalah kunci agar kita dapat mencapai tujuan bersama, dan impact yang akan dihasilkan dari kolaborasi pun pasti lebih besar,” ungkap Dyandra. Meski sebelumnya Dyandra menempuh studi pada jurusan Arsitektur, Dyandra merasa mendapatkan apa yang Ia butuhkan untuk menjalankan usaha ini. Salah satunya adalah pelajaran bagaimana desain digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Lewat beberapa mata kuliah saat belajar di UPH, Dyandra belajar menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar dengan mengasah nilai nilai sosial.

Tahun Kelulusan: 06/09/2017
Eliza Aristanto (Desain Produk 2014)
Pendiri Pakai Lagi

‘PAKAI LAGI’ PRODUK YANG LAHIR DARI KEPEDULIAN PADA LINGKUNGAN

 

Siapa sangka, berawal dari kesadaran memanfaatkan sampah plastik sekali pakai, bisa melahirkan bisnis. Nama produk yang sederhana tapi powerful, Pakai Lagi (@_pakailagi), yang digagas oleh Eliza Aristanto alumni Desain Produk UPH 2014. Persoalan yang disebabkan oleh sampah plastik memang menjadi masalah dunia. Data yang dipublikasikan The Asian Post, Juni 2018, menunjukkan Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ini bukanlah pencapaian yang dapat dibanggakan. Berangkat dari concern terhadap kondisi tersebut, Eliza berusaha mencari tahu bagaimana mengolah sampah plastik menjadi barang yang lebih bernilai dan dapat digunakan oleh masyarakat berkali-kali. Prosesnya tidak singkat, karena ada banyak eksplorasi plastik (fokusnya di kantong plastik) yang dilakukan oleh Eliza.

Saat ini, produk-produk yang diproduksi Pakai Lagi kebanyakan dari jenis plastik konvensional yakni plastik bekas yang biasa digunakan sehabis belanja dari supermarket. Plastik bekas tersebut diolah menjadi produk yang dapat digunakan kembali seperti contoh kotak pensil, clutchpouch serbaguna, tas dan card wallet. Pakai Lagi juga berusaha untuk mengurangi penggunaan bahan baru, sehingga untuk packaging menggunakan barang-barang yang sudah ada, misalnya kertas bekas atau dus bekas makanan. “Pakai Lagi berusaha untuk menggunakan 100% material limbah plastik yang sudah diolah tersebut, tapi apabila ingin menggunakan kombinasi material lain, kami juga berusaha menggunakan material yang pembuatan aman untuk lingkungan serta sustainable,” ungkap Eliza.

Selain disibukan dalam mengembangkan Pakai Lagi, Eliza juga sedang juggling dalam 2 pekerjaan lainnya yakni sebagai junior designer di studio desain dan menjadi asisten dosen di Desain Produk UPH. Ilmu desain yang Ia dapatkan ketika kuliah, dapat diimplementasikan dalam bisnis dan pekerjaannya saat ini, seperti contoh proses desain, technical drawing, membuat 3D dengan aplikasi maupun prototype. Bermodal keterampilan yang diperoleh, Eliza terus mengeksplore dalam berbagai bidang pekerjaan, hingga dapat bekerja dalam beberapa bidang. Kuncinya, terus melatih diri, tekun, mau berbagi dan menentukan prioritas pekerjaan serta mengatur waktu dengan sebaiknya.

Tahun Kelulusan: 29/08/2018
Saya juga mendorong para mahasiswa untuk selalu memanfaatkan waktu di semasa kuliah sebanyak-banyaknya, temukan apa passionmu, bekerja keras dan bangun network.
Masayu Octora (Hubungan Internasional 2011)
Penasihat Komersial untuk Makanan dan Pertanian di Kedutaan Besar Denmark di Indonesia

HI UPH MEMBEKALI ILMU DAN NETWORKING MENUJU KARIER DI DUNIA DIPLOMATIK

 

Bekerja di Kedutaan merupakan pengalaman yang luar biasa bagi Masayu Octoria, alumni Hubungan Internasional (HI) UPH 2011. Setelah melalui beberapa bidang pekerjaan, sejak lulus kuliah, kini Masayu mendapatkan kesempatan yang dia idam-idamkan, dunia diplomasi internasional. Sebagai seorang Commercial Adviser di bidang pangan dan pertanian di Kedutaan Denmark di Indonesia, tugasnya mengharuskan Ia untuk berinteraksi secara langsung dengan regulator dari kedua belah pihak. Secara bersama, Masayu mengembangkan sektor pertanian Indonesia dengan tujuan untuk memperbaiki petani Indonesia. Bermodal keterampilan diplomasi dan pengetahuan di bidang ekonomi politik yang diperoleh saat kuliah di HI UPH, baginya bukan hal baru untuk menavigasi politik dan ekonomi Indonesia yang dapat diandalkan oleh para diplomat. Melalui tugas yang diembannya, Masayu membantu untuk membangun dan mendorong hubungan kedua negara dengan mempromosikan kepentingan yang saling menguntungkan keduabelah pihak. Bukan hanya itu, ia juga dipercaya untuk memberikan masukan-masukan untuk pembuat keputusan tingkat tinggi dan regulator dari kedua negara. Hal ini merupakan suatu kehormatan bagi Masayu.

Tak heran jika ia memberikan hasil memuaskan dalam proyek-proyek yang dipimpinnya, baik dalam proyek pengembangan dan proyek komersial. Untuk proyek-proyek pengembangan, tugas Masayu adalah bekerja sama dengan para regulator Indonesia untuk mengidentifikasi bidang-bidang yang akan dikembangkan dan kerangka potensial untuk melaksanakan proyek-proyek tersebut. Sedangkan untuk proyek komersial, tugasnya adalah untuk mempromosikan dan menyesuaikan pihak Denmark dengan sektor bisnis Indonesia. Keduanya terkait dengan sektor pangan dan pertanian.

Di balik keberhasilannya, Masayu belajar untuk menemukan makna di dalam setiap pekerjaannya, baik bagi masyarakat, maupun bagi orang-orang yang bekerja sama para regulator. “Prinsip saya dalam bekerja adalah: tekun, selalu ingin berkembang, dan tetap rendah hati. Selalu berusaha untuk mengembangkan diri, dan jangan pernah membandingkan diri Anda dengan apa yang dilakukan orang lain, just continue and making your own path,” ungkap Masayu.

Perjalanan karier Masayu, salah satunya tak lepas dari dukungan dan bimbingan para dosen semasa kuliah yang memicu minatnya di bidang ekonomi politik, yang akhirnya mengantarnya mendapatkan kesempatan memperoleh tawaran dari salah satu universitas terkemuka dunia untuk melanjutkan pendidikan di bidang International Political EconomicsLondon School of Economics and Social Science. Lingkungan kampus UPH juga berkontribusi mengembangkan potensinya dalam berbagai bidang khususnya di bidang diplomasi.

“Belajar dari pengalaman, saya juga mendorong para mahasiswa untuk selalu memanfaatkan waktu di semasa kuliah sebanyak-banyaknya, temukan apa passionmu, bekerja keras dan bangun network. Suatu saat network yang dibangun akan membuka pintu untuk opportunity,” demikian pesan Masayu terkhusus untuk adik-adik kelasnya, mahasiswa/I UPH.

Tahun Kelulusan: 10/03/2015
Proses seleksi cukup ketat ketika tahap wawancara, di situlah kemampuan analisa saya diuji dan menurut saya apa yang saya dapat di bangku kuliah sangat terpakai.
Yolanda Luciana Tuasela (Manajemen 2015)
5th runner up pada Ajang Miss Indonesia 2019

BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN DENGAN MENCOBA HAL BARU

 

Mewakili provinsi Maluku dalam ajang Miss Indonesia 2019, Yolanda Luciana Tuasela berhasil menyisihkan 34 finalis lainnya dan meraih prestasi sebagai 5th runner up Miss Indonesia 2019. Tak hanya bermodalkan paras yang cantik, lulusan UPH Surabaya Prodi Manajemen ini juga punya bakat karate. Ia mengaku telah berkecimpung dengan karate sejak kelas 3 SD dan terus digeluti hingga kuliah.

“Saya masih sering aktivitas karate sewaktu kuliah, malah saya bisa kuliah karena beasiswa karate,” ungkap Yolanda. Yolanda bercerita bahwa pengalamannya semasa kuliah sangat membantu dalam memperluas relasi dan pengetahuannya sehingga pola pikirnya pun menjadi lebih kritis, detail dan perfeksionis dalam mengambil suatu keputusan. Yolanda juga menunjukkan bahwa pendidikan adalah modal utama Yolanda dalam ajang ini karena Ia sama sekali tidak ada background modelling.

“Menurut saya, proses seleksi cukup ketat ketika tahap wawancara, di situlah kemampuan analisa saya diuji dan menurut saya apa yang saya dapat di bangku kuliah sangat terpakai,” ujar Yolanda. Melalui ajang ini, Yolanda memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman dengan mencoba hal baru. Bukan hal yang mudah, namun Yolanda tak menyerah. Selama masa karantina, tak hanya mengembangkan potensi namun turut membentuk karakter Yolanda hingga akhirnya berhasil mengharumkan Provinsi Maluku dan tentunya membanggakan bagi UPH.

Tahun Kelulusan: 23/10/2018
Yang terpenting, selalu berani mengeksplorasi minat dan bakat, serta jangan meletakkan diri sendiri di dalam box tertentu.
Galih Sakti (Desain Interior 2002)
Pendiri Kelas Gambar

BANGUN KEPERCAYAAN DIRI DAN HARAPAN ANAK-ANAK MARGINAL LEWAT KOMUNITAS ‘KELAS GAMBAR’

 

Bagi sebagian orang, mengambar mungkin suatu hal yang biasa saja. Namun tidak bagi Galih Wismoyo, alumni dari Desain Interior UPH 2002 founder Kelas Gambar, sebuah komunitas sosial untuk anak-anak marginal. Berawal dari niat melakukan kegiatan sosial melalui kelas menggambar untuk anak-anak di panti asuhan di bulan Ramadan pada tahun 2017, Galih bersama rekannya, Teddy Afif, berhasil menjadikan aktivitas menggambar sebagai suatu kegiatan yang berguna dan berdampak bagi banyak anak-anak marginal di Jakarta. Membangun kepercayaan diri dan harapan, itulah dampak nyata dari kegiatan Kelas Gambar yang dibangun Galih dan partner. Ini dibuktikan dari antusias anak-anak berusia 6-12 tahun yang tergabung dalam komunitas Kelas Gambar, seperti dikutip dari Intisari.grid.id, Galih bersama dengan 10 anak didiknya yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu, Jakarta Timur, berhasil mengadakan pameran bertajuk “Krayon Kami Karya Kami” yang diselenggarakan di Atrium Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, menampilkan 43 karya, pada 23 Februari-3 Maret 2019.

Apa yang diajarkan lewat menggambar? Ternyata menurut Galih, lewat aktivitas menggambar bisa meningkatkan kemampuan anak-anak dalam melihat sesuatu, melakukan observasi, dan lebih dapat berempati baik dengan lingkungan maupun teman. Hasilnya dituangkan dalam gambar di atas kertas gambar menggunakan crayon. Kegiatan komunitas Kelas Gambar kini tumbuh menjadi workshop rutin yang diberikan secara gratis, dan terus berkembang tidak hanya di satu tempat tetapi juga di berbagai tempat di Jakarta, bahkan di beberapa daerah di Indonesia. Menariknya, Galih tetap memfokuskan aktivitasnya untuk menjangkau anak-anak marginal dan korban bencana. Ini tidak tidak terlepas dari keyakinannya bahwa semua lapisan masyarakat berhak mendapatkan pendidikan seni yang layak. Dengan kata lain, seni adalah untuk semua kalangan dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Semangat dari aktivitas seni ini terbukti sangat efektif membangun kepercayaan diri dan harapan. Khusus pada anak-anak yang mengalami berbagai tekanan, Galih menjadikan kegiatan ini sebagai art theraphy. Seperti yang dilakukannya di lokasi bencana di Lombok tahun 2019, anak-anak diajak untuk sejenak melupakan trauma setelah gempa atau kejadian-kejadian yang menimpa lingkungan mereka. Kelas Gambar juga dilakukan di Batam, untuk anak-anak yang mengalami trauma kekerasan seksual akibat perdagangan anak-anak. Metode yang digunakan adalah anak-anak bebas mengambar objek apa saja yang mereka lihat.

Selain kesibukannya dalam Kelas Gambar, Galih juga bekerja sebagai full time muralis/seniman dan seminggu sekali mengajar di UPH Prodi Desain Komunikasi Visual untuk mata kuliah Studio Pendukung, yang diajarkan yaitu basic storytelling and screenwriting. Tidak hanya itu saja, dia juga menjalankan perusahaan keluarga di bidang tata boga yakni Proklamasi Catering. Dalam menjalani aktivitas yang beragam dan padat, Galih selalu memanfaatkan setiap waktu dengan maksimal. Ini sudah dilatih sejak dia kuliah di UPH. Apa yang dipelajari di Desain Interior UPH, sangat membantu untuk bekerja dalam tekanan, mengorganisasi load pekerjaan dalam jumlah banyak dan men-delivery-nya dalam deadline yang sudah ditentukan. Bahkan disiplin ilmu Desain yang dipelajari, dapat diterapkan dalam hampir semua aspek kehidupan termasuk aspek sosial.

“Yang terpenting, selalu berani mengeksplorasi minat dan bakat, serta jangan meletakkan diri sendiri di dalam box tertentu. Dengan demikian kita akan selalu bisa mengejutkan diri kita sendiri dengan hal-hal hebat dan positif yang bisa kita lakukan,” pesan Galih untuk mahasiswa/I UPH saat ini.

Tahun Kelulusan: 24/03/2006
Rancangan bermakna adalah hasil desain yang berfungsi sesuai dengan kebutuhan klien (fungsi dan estetika).
Levina Putri Limanjaya (Desain Interior 2009)
Kepala Desainer Interior di Studio Talk

Menuangkan Talenta dalam Rancangan Bermakna

 

Mendalami ilmu desain pada program studi Desain Interior UPH 2009, menjadi awal bagi Levina Putri Limanjaya, untuk terjun ke profesinya saat ini sebagai interior designer. Pengalamannya mengerjakan proyek-proyek design seperti ritel dan resto terkemuka, telah menghasilkan karya-karya desain yang out of the box. Hingga tahun 2016, Levina bersama 4 partnernya mendirikan Studio.talk, sebuah studio konsultan yang berbasis kolaboratif dalam bidang arsitektur, desain interior, dan desain produk. “Motivasi utamanya dalam bisnis ini bukan menghasilkan uang semata, melainkan sebagai sarana yang dapat mengasah dan menuang talenta untuk menghasilkan rancangan-rancangan yang bermakna dan memuaskan.” Rancangan bermakna menurut Levina adalah hasil desain yang berfungsi sesuai dengan kebutuhan klien (fungsi dan estetika). “Jadi kita tidak hanya sekedar bekerja, tetapi saya mendapatkan kesempatan untuk terus belajar dari segi talenta dan personal self-growth,” ungkap Levina.

Motivasi tersebut, menurut Levina, menjadi keunggulan dari studio.talk yaitu terjalinnya sifat kekeluargaan yang erat di dalam satu tim, suka bereksperimen dengan hal-hal baru dan bertukar pikiran antar satu sama lain. Selain itu, semangat berkolaborasi, menjadi kekuatan dari karya-karya yang dihasilkan studio.talk. Tidak hanya kolaborasi dengan tim tetapi juga dengan klien. Karena melalui diskusi, akan ada titik tengah antara desainer dan klien, menghasilkan rancangan yang harmonis tetapi tetap unik.

Sebagai Interior Designer, Levina telah menyelesaikan beberapa proyek di antaranya hotel, rumah tinggal, restoran, perkantoran, ruang Instalasi dan desain furnitur. Ada juga beberapa proyek yang langsung dipimpin Levina, di antaranya kantor MRT (Mass Rapid Transit) di Depo Lebak Bulus dan desain furnitur rotan yang berhasil di showcase di Maison Objet, Paris pada tahun 2019, di bawah naungan BEKRAF. Setiap proyek sifatnya berbeda-beda. Levina menjelaskan, dalam setiap bagian yang dikerjakan, kita harus selalu all out dan mempunyai mindset yang positif, tekun, disiplin, dan mengerjakan pekerjaan sesuai dengan panggilan hidup. Untuk tantangannya tentu ada, namun hal tersebut tidak menjadi kendala asal selalu menjaga kualitas desain sesuai dengan keunikan masing-masing, terutama dalam segi teknis dan eksekusi.

Eksistensi Levina dalam bisnis design interior tidak terlepas dari modal pendidikan yang ditempuh di UPH. Menurutnya, ada banyak materi perkuliahan di UPH yang dapat diimplementasikan dalam profesinya saat ini, salah satunya yang krusial adalah proses pola pikir pada saat membuat suatu konsep ruang. Jelas, pendidikan dan profesi yang berjalan linear menghasilkan produktivitas dan kreativitas yang lebih maksimal. Semangat berkarya Levina dan terus hasilkan rancangan-rancangan bermakna!

Tahun Kelulusan: 28/08/2013
Beruntung sekali saya bisa masuk UPH, banyak yang saya dapatkan dan mendukung pekerjaan saya.
Aulia Mahariza (Teknik Elektro 1999)
Direktur PT. Dyandra Global Edutainment & Pendiri TMC (The Creative Producing Company)

To do Something New is Always Exciting

 

Lulusan Teknik Elektro tidak selalu terjun ke bidang yang serius. Aulia Mahariza, alumni Teknik Elektro UPH 1999 yang satu ini ternyata sukses di bisnis industry kreatif. Selama 15 tahun menjalankan bisnis di industry kreatif dengan membuat event, iklan dan film mengantarkan Aulia menjadi bagian dalam event besar Indonesia yakni Asian Para Games 2018. Menjadi Director of Ceremony dari INAPGOC (Indonesia Asian Para Games Organizing Committee) saat Opening dan Closing Ceremony Asian Para Games 2018 merupakan project paling berkesan bagi Aulia. Hal ini juga yang menjadi kontribusi terbesarnya untuk bangsa Indonesia.

“I’m part of history in the making. Mulai dari mengurus, mengatur dan menjalankan Opening dan Closing Ceremony ini – ya tentunya bersama dengan semua tim yang terlibat. Mungkin kalau di Asian Games ada Wisnutama – di Asian Paragames ada saya lah,” ungkapnya dengan bangga.

Dalam berbisnis, khususnya di industri kreatif, tentu ada banyak sekali tantangan yang dihadapi salah satunya yakni dituntut untuk selalu mengerti perkembangan zaman. Aulia juga memiliki kiat khusus untuk tetap eksis, diantaranya aktif mencari referensi perkembangan zaman, rajin nonton film, dan jalan-jalan. Kedepannya, Aulia ingin mengembangkan sayap untuk mencoba sesuatu yang baru yang menjadi passionnya yakni berbisnis kuliner. Karena baginya, to do something new is always exciting.

Selain Asian Para Games, ada beberapa proyek yang juga sukses di tangannya, dan banyak diantaranya menuntut kreativitas serta perhitungan yang berani, yakni: Musikal Lutung Kasarung sebagai produser (Bersama Didi Petet sebagai sutradara); 7 film layar lebar sebagai Produser dan produser eksekutif (Bersama Rudi Soedjarwo); Synchronize Festival sebagai tim awal dari Dyandra.

“Beruntung sekali saya bisa masuk UPH, banyak yang saya dapatkan dan mendukung pekerjaan saya. Mulai dari pelajaran di Elektro yang bermanfaat untuk diaplikasikan, khususnya dalam hitung-hitungan saya lumayan tajam dan yang utama adalah logika berfikir yang sangat berguna dalam kehidupan sebenernya. Selain itu, lingkungannya juga sangat kondusif karena dulu tahun 1998/1999 kan banyak banget demo-demo,” kenangnya.

Oleh karenanya dia berharap mahasiswa/I UPH bisa lebih kreatif, perbanyak sosialisasi dengan teman-teman kuliah karena itu berguna di kehidupan setelah kampus.

Tahun Kelulusan: 01/09/2003
Dengan fasilitas yang sudah jauh lebih memadai dibanding tahun saya dulu kuliah, harusnya mahasiswa/i UPH lebih berhasil. Manfaatkan kesempatan yang ada dan gunakan fasilitas yang disediakan lebih maksimal untuk menunjang pendidikan.
Tritan Saputra (Teknik Industri 1994)
Direktur Utama Lima Benua

Berawal Mencari Solusi Kini Sukses Membangun Beragam Bisnis

 

Berawal dari ide untuk menjual 100 produk terbaik IT saja, jadi tidak banyak produk atau bahkan ribuan atau jutaan item di website, Tritan Saputra, Alumni Teknik Industri UPH 1994, direktur utama limabenua.com, akhirnya berkembang membangun beragam anak perusahaan, diantaranya www.vcloudpointindonesia.com, www.primeresto.com, www.meeberpos.com , www.meeberian.com, www.makanabis.com.

Siapa sangka, bisnisnya dari satu menjadi lima dan terus berkembang. Bidang bisnis yang dikembangkan juga beragam, beberapa diantaranya ada yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan kebersihan kota yakni www.mazabuta.com, dengan beberapa group nya www.groen-indonesia.com, www.sewatoilet.com, www.reksoratan-indonesia.com. Ada juga yang berkecimpung di bidang property dan management property seperti www.marketingproperti.com, dan www.menaramannamulia.com.

Selain sibuk dengan bisnis-bisnisnya, ternyata Tritan juga aktif berkontribusi dalam berbagai organisasi bisnis dan organisasi profesi, seperti menjadi Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Ketua Bidang Industri Kreatif DPP Aosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Nasional (APTIKNAS), Ketua Bidang Industri Kreatif DPP Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), Ketua Bidang DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia Jatim (AREBI), serta Pengurus Ikatan Alumni Lemhannas. Luar biasa!

Kepiawaiannya untuk membangun bisnis berbasis teknologi tidak terlepas dari ilmu yang diperolehnya selama di bangku kuliah. Tidak hanya bertangan dingin dalam bisnis, dia juga memiliki hati untuk berdampak bagi banyak orang.

“Semua profesi tentu ada tantangannya masing-masing. Namun harus tetap bersemangat di dalam setiap tantangan dan harus terus belajar untuk lebih baik lagi serta berupaya menjadi pemimpin yang mempunyai dampak sosial bagi banyak orang,” jelas Tritan.

Menariknya, Tritan selalu ingat apa yang disampaikan dosennya saat kuliah dulu untuk terus mencari solusi lebih efisien dan lebih efektif dalam memecahkan masalah. Pesan itu diterjemahkan Tritan sebagai falsafah hidupnya yaitu menjadi terus kreatif. “bahasa kerennya sekarang agile,” ungkapnya.

Saat awal berdiri di tahun 1994, menurut Tritan, UPH masih sangat minim fasilitas dibanding saat ini, namun pendirinya sejak awal memiliki komitmen yang sangat luar biasa, yaitu menghadirkan pendidikan berkualitas, serta mendorong lulusannya terus maju dan berkarya. Pendidik memberikan ilmu dengan lugas dan keakraban antar mahasiswa yang masih terasa karena jumlah mahasiswanya yang sangat sedikit. Lingkungan yang memadai, dulu masih sepi yang membuat suasana kampus menjadi sangat berkesan.

“Jadi saat ini, dengan fasilitas yang sudah jauh lebih memadai dibanding tahun saya dulu kuliah, harusnya mahasiswa/i UPH lebih berhasil. Manfaatkan kesempatan yang ada dan gunakan fasilitas yang disediakan lebih maksimal untuk menunjang pendidikan. Seperti ungkapan yang saya pegang ini: Orang awam menunggu kesempatan, orang pintar meraih kesempatan, orang cerdik menciptakan kesempatan,” pesan Tritan.

Tahun Kelulusan: 26/11/1998
If you are working something exciting, you don’t have to be pushed but the vision pulls you.
Jonathan Satryautama (Kedokteran 2007 & Magister Manajemen Rumah Sakit 2016)
Dokter Umum di RS Swasta Jakarta Utara

UPH Kampus Inovatif dan Visioner

 

Dunia medis merupakan dunia yang terus berkembang. Ini juga yang membuat dr. Jonathan Satryautama, MMRS, alumni FK UPH 2007 dan Magister Manajemen Rumah Sakit 2016 UPH, yang berprofesi sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta Utara, tak pernah berhenti untuk terus mendalami dan berencana melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia pun mengakui bidang kedokteran sesuai dengan passionnya. Dan itu dibangun sejak dia kuliah di FK UPH.

Baginya, medicine is an art dan juga long-life learning karena banyak hal baru yang terjadi dan perkembangan dari waktu ke waktu mengenai dunia kedokteran juga bervariasi. Karenanya dalam mengedukasi pasien, ia selalu menggunakan pendekatan yang berbeda, sesuai dengan kondisi setiap pasien. Misalnya, dalam menyampaikan pesan kesehatan perlu komunikasi yang baik agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa mengesampingkan nilai kejujuran dan manusiawi.

Sebagai Alumni UPH, Jonathan selalu berusaha untuk mengimplementasikan ilmu yang ia peroleh dalam menjalankan tugasnya di RS untuk memberikan pelayanan yang optimal terhadap pasien, baik dalam memberikan pelayanan jasa medis dan managerial di RS. Berusaha mewujudkan pelayanan medis yang profesional, strategis dan humanity dalam sisi pelayanan, merupakan mottonya.

Sikap terhadap profesinya ini diakui ditanamkan sejak kuliah di FK UPH. Karenanya ia sangat tidak ragu mengakui UPH sebagai sebagai kampus yang memiliki visi sangat inovatif dan visioner. Semua itu diimplementasikan lewat kurikulum pendidikannya, didukung fasilitas dan teknologi yang modern serta tenaga pengajar yang profesional dan berkualitas, sehingga mendukung perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan proses belajar. Kepercayaannya pada UPH dibuktikan saat memutuskan studi lanjut S2nya.

Ilmu manajemen yang diperolehnya pun diabdikan untuk mendukung tugas dalam menjalankan profesinya. Berkat keterampilan yang dimiliki Ia dapat dipercaya sebagai salah satu asisten Prof.DR.dr.Satyanegara Sp.BS sehingga dapat mengembangkan keilmuan yang dimilikinya.

If you are working something exciting, you don’t have to be pushed but the vision pulls you,” pesannya.

Tahun Kelulusan: 14/09/2018
Saya sangat bersyukur karena tanpa berkuliah di UPH saya tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga yang membuka begitu banyak kesempatan untuk saya di dunia kerja, termasuk mengembangkan KliniCard.
Aldoni Hubertus Lucas Latumahina (Kedokteran 2003)
Pendiri KliniCard

KliniCard, Medical Reference ID Card Praktis Untuk Aktivitas Klinis Sehari-Hari

 

Para praktisi medis, baik itu dokter, calon dokter dan atau perawat, saat ini dapat dipermudah dengan Klinicard. Klinicard merupakan kartu referensi yang berisikan informasi rujukan medis. Sebagai contoh, Advanced Cardiac Life Support (ACLS), kartu yang berisi informasi algoritma atau langkah-langkah penanganan yang perlu dilakukan seorang dokter pada saat terjadi kasus kedaruratan medis jantung. Terobosan menarik ini merupakan yang pertama di Indonesia, oleh Aldoni Latumahina, alumni Fakultas Kedokteran UPH 2003.

“Sebelum KliniCard dikeluarkan pertama kali tahun 2016, saya belum pernah menemukan item dengan ide serupa dipasarkan ke kalangan praktisi medis di Indonesia,” ungkap Aldoni. Ide awal pembuatan produk ini bermula saat Ia mencari ECG ruler atau kartu yang bisa digunakan untuk membantu pembacaan hasil rekam jantung. Barang ini memang jarang dijumpai dan Aldoni kesulitan untuk menemukan penjual di Indonesia, sehingga akhirnya Ia memutuskan untuk membuat sendiri. Beberapa teman sejawat lalu ikut tertarik untuk memiliki sehingga Ia memutuskan untuk membuat ‘line of product’ yang mencakup topik-topik yang lazim dijumpai atau digunakan dalam aktivitas klinis sehari-hari.

Tujuan utama dari produk ini tentu untuk memudahkan dokter saat memberikan referensi medis yang bisa diakses dengan cepat pada saat bekerja, memastikan terapi yang diberikan tepat dan ‘patient safety’ terjaga. Sejak mulai dipasarkan pada pertengahan 2016, KliniCard sudah digunakan oleh lebih dari 700 dokter, mahasiswa kedokteran dan praktisi medis lainnya di berbagai kota di Indonesia mulai dari Aceh hingga Jayapura. Strategi marketing yang digunakan saat ini menggunakan platform sosial media (@klinicard), berbagai platform marketplace Indonesia maupun pemasaran dari mulut ke mulut.

Apa yang dilakukan Aldoni tidak terlepas dari bekal pendidikan di FK UPH. Ia mengakui FK UPH tidak hanya memberikan pengetahuan akademis, tetapi juga membuka wawasan dunia kedokteran yang sangat berguna untuk karirnya. Dan yang membanggakan, sebagai lulusan FK UPH, ia merasa siap bersaing di dunia kedokteran Indonesia. “Bagi saya pribadi, saya sangat bersyukur karena tanpa berkuliah di UPH saya tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga yang membuka begitu banyak kesempatan untuk saya di dunia kerja, termasuk mengembangkan KliniCard,” tutup Aldoni.

Tahun Kelulusan: 09/03/2010
Saya sangat bangga jika ada banyak mahasiswa/i UPH mempunyai kecendrungan untuk berwirausaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja bukan sebagai pencari kerja.
Suryadi Oentara (Usaha Perjalanan Wisata 2006)
Direktur PT. Saung Bulian Tour & Travel, IndoTravelStore Wholesaler, Sales Touch For Trip Korea - Korea Land Operator

Pengalaman Kuliah Membuka Jalan Sukses Berbisnis di Industri Tour & Travel

 

Berawal dari ketertarikan dalam bidang Tour & Travel dan Manajemen airlines, mengantar Suryadi alumni UPH program studi Usaha Perjalanan Wisata 2006 ini, semakin eksis berbisnis di bidang yang sama. Tidak tanggung-tanggung, saat ini memimpin di beberapa bidang bisnis Tour & Travel, diantaranya PT. Saung Bulian Tour & Travel (2013), IndoTravelStore Wholesaler (2017), dan Sales Touch For Trip Korea – Korea Land Operator (2018). Ternyata, kesuksesan bisnis Suryadi berawal dari jurusan yang dipilihnya saat kuliah di UPH. Ia mengakui kariernya sangat relevan dengan apa yang dia dapat saat kuliah. Tidak heran bila pertama kali terjun ke dalam industri ini, dia dapat beradaptasi dengan cepat.

“Hampir 70% pelajaran adalah praktek. Ditambah saat kuliah dulu, waktu masih duduk di Semester 2, saya terpilih sebagai Ketua HMJ Usaha Wisata Periode 2007-2008. Saat itu saya menjabat Ketua HMJ paling muda dalam sejarah organisasi di UPH. Kesempatan itu semakin menambah peluang untuk belajar bersosialisasi, meningkatkan leadership, membuat keputusan, dan memperkuat jaringan,” kenang Suryadi. Lewat pengalaman kuliah dan bekarier di industri tour & travel, kemampuan leadershipnya semakin terasah. Ia juga mempunyai sejumlah kiat yang menjadikannya berhasil memimpin di industri ini, diantaranya menciptakan loyalitas konsumen, inovasi produk yang berkesinambungan sesuai trend pasar, serta integritas dan kepercayaan.

“Tidak kalah penting, kita juga harus memperhatikan nilai-nilai kejujuran serta kualitas pelayanan yang kita berikan. Karena bisnis di bidang tour & travel dengan produk yang sama sangat banyak diluaran sana namun hal tersebut jangan dianggap sebagai suatu ancaman atau tantangan melainkan menjadi motivasi untuk meningkatkan mutu pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Ibaratnya satu konsumen puas maka dia akan membawa minimal 10 konsumen baru untuk kita,” jelasnya. Suryadi menyakini industri usaha wisata di Indonesia mempunyai peluang yang sangat besar. Untuk berhasil di industri ini butuh spesialisasi dan profesionalitas. “Dengan begitu kita bisa mendapatkan kepercayaan konsumen maupun supplier. Walaupun bisnis usaha wisata juga sangat dipengaruhi dengan faktor eksternal situasi dan kondisi seperti keamanan, suhu politik maupun seperti disaat pandemi COVID-19 ini, kita harus yakin bahwa faktor eksternal bersifat sementara dan akan kembali normal pada saatnya,” ungkap Suryadi optimis.

Sebagai lulusan UPH, Suryadi berharap mahasiswa/i UPH yang masa kini disebut milenial, agar terus mengikuti perkembangan dunia dari segala aspek termasuk teknologi dan lain-lain, agar mampu menciptakan peluang kerja baru (berwirausaha) walaupun jenis usaha tersebut mungkin belum terpikirkan oleh orang banyak. “Saya sangat bangga jika ada banyak mahasiswa/i UPH mempunyai kecendrungan untuk berwirausaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja bukan sebagai pencari kerja,” serunya dengan antusias.

Tahun Kelulusan: 02/09/2010
Mengadopsi sistem pembelajaran Harvard Business School, UPH membantu saya dalam mempertajam cara berpikir dan mempersiapkan saya untuk menjadi pemimpin yang tranformasional di masa depan.
Lydia Setiawan (Akuntansi 2010)
Manajer Analisis Platform Promosi Monetisasi di GOJEK

Berkarir Tak Hanya dari Prestasi, Namun Juga dari Interpersonal Skill yang Diasah di UPH

 

Berawal dari kesempatan yang diberikan UPH menjadi salah satu Scholarship Grantee, Outstanding Freshman of the Year di UPH Award dan menjadi Resident Assistant termuda di UPH Dormitory, menjadi langkah awal bagi Lydia, alumni Akuntansi UPH 2010 dalam memulai perjalanan kariernya sebagai Auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik Big Four, Deloitte. Bekerja sebagai Auditor, Lydia didorong untuk bekerja dengan time management yang bagus sehubungan dengan deadline yang ketat dan pipeline yang banyak. Di Deloitte, Ia bekerja dekat dengan top level management dan klien perusahaan Jepang. Sekarang Ia dipercayakan untuk berpartisipasi dalam memberikan social impact di salah satu perusahaan startup Decacorn, Gojek, sebagai Analyst. “Di Gojek saya bekerja dengan lingkungan multicultural yang mengasah cara berpikir, cara menyelesaikan masalah, sampai dengan cara berinteraksi dengan orang yang berbeda culture, background, dan experience”, ungkap Lydia menceritakan perjalanan kariernya hingga di posisinya saat ini.

Sebagai layanan berbasis teknologi, Gojek bukan hanya menjadi on-demand multi service platform dan teknologi pembayaran digital, akan tetapi juga telah menjadi bagian dari lifestyle masyarakat. Dengan hadirnya Gojek, kini masyarakat dengan mobilitas yang tinggi dan jadwal yang padat dapat mempunyai efisiensi waktu yang lebih maksimal. Dengan demikian setiap solusi yang diberikan oleh Lydia dan tim di Gojek akan secara langsung atau tidak langsung berdampak kepada masyarakat. Misalnya dengan inovasi baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat, dengan kata lain, mengisi gap antara supply yang minim dengan demand yang tinggi. Di Gojek, Lydia pernah sekaligus merangkap sebagai Analyst, Marketing Strategist dan Auditor yang berhasil meluncurkan dan mengembangkan unit bisnis baru dari nol di bidang food dengan ~6K transaksi, senilai IDR 300 juta sebulan, hanya dalam waktu 1,5 bulan. Tak berhenti sampai di sini, sebagai Analyst, Ia juga berhasil menerapkan strategi pricing yang tepat dan analisis customer demand, yang mampu meningkatkan transaksi ~4x selama 3 bulan setelah brand diluncurkan. Saat berperan sebagai Marketing Strategist, Lydia berhasil menerapkan multiple channels marketing strategy, yang berhasil meningkatkan pertumbuhan user sebanyak ~3.5x selama 3 bulan setelah brand diluncurkan. Dan saat berperan sebagai Auditor, Ia juga berhasil meningkatan efisiensi waktu sebanyak ~40% dan cost saving sebanyak ~20% dengan meningkatkan business improvement processes dan membuat rencana turn-around.

Ia mengakui, prestasi dan kariernya tidak terlepas dari pendidikan yang diperoleh di UPH. Dimulai dari karirnya sebagai Auditor. Teori-teori yang didapatkan selama kuliah dapat diterapkan secara real di dunia kerja. Tak kalah penting, ia menggunakan kesempatan saat kuliah untuk meningkatkan interpersonal skill dan menjalin koneksi yang berguna. “Mengadopsi sistem pembelajaran Harvard Business School, UPH membantu saya dalam mempertajam cara berpikir dan mempersiapkan saya untuk menjadi pemimpin yang tranformasional di masa depan. Harapannya kiranya UPH terus berkarya dalam memberikan pendidikan yang holistic dan menghasilkan lulusan yang menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi lingkungan”, tuturnya.

Tahun Kelulusan: 13/03/2014
Mari kita bersama membangun rasa cinta produk lokal.
Michael Chrisyanto (Desain Komunikasi Visual 2006)
Pendiri EATLAH, DRINKLAH, CHIPSLAH

Lulusan DKV Sukses Bangun Brand Lokal Bercitarasa Global

 

Anda pernah mendengar brand EATLAH? Brand produk makanan dan minuman siap saji ini ternyata dibangun dari ide sekelompok anak muda yang ingin mengangkat produk lokal yang baik secara branding. Ide ini digagas Michael Chrisyanto, alumni DKV UPH 2006, Founder sekaligus Chief Branding and Design EATLAH, bersama kedua partnernya. EATLAH diperkenalkan pada pertengahan tahun 2016, berawal dari sebuah resto di lokasi Pantai Indah Kapuk, dan dalam 3 tahun sudah memiliki lebih dari 26 cabang di dalam dan di luar Jakarta.

Michael meyakini pentingnya sebuah brand untuk memperkuat posisi produk di pasar. Dari hasil riset bersama rekannya, Ia melihat peluang di bisnis makanan cepat saji yang baik secara branding. Dan tentunya dengan produk yang juga baik. EATLAH bukan bisnis pertama Michael, sebelumnya ia sudah membangun dua bisnis lainnya yaitu DRINKLAH dan CHIPSLAH. EATLAH menjadi booming dimulai dengan menu makanan Indonesia yaitu nasi, telur goreng dan ayam goreng yang dibalut dengan saus salted egg. Brand EATLAH sendiri terinspirasi dari cara Singaporean mengajak orang makan dengan kata-kata “EATLAH”. “Saya kebetulan bertemu dengan kedua partner yakni Charina sebagai Marketing dan Riesky sebagai Products Development. Mereka tinggal di Singapore dan terbiasa memakan salted egg chicken dari resto cepat saji. Sementara saya juga sedang banyak mengerjakan restoran di Indonesia. Kemudian kami bersinergi membuat produk makanan siap saji dengan menu utama salted egg chicken ala Indonesia. Dari sana muncullah EATLAH,” lanjutnya.

Selain unsur branding dan produk, packaging juga menjadi salah satu keunikan EATLAH. Awalnya EATLAH menggunakan kertas putih, karena saat itu sempat sulit mencari produsen craft paper. Namun Michael yang sejak awal memiliki visi untuk menggunakan craft paper sebagai packaging produknya, berhasil menggandeng salah satu produsen craft paper, yang waktu itu sempat mau tutup karena pasarnya sepi, hingga sekarang menjadi supplier untuk packaging EATLAH. “Saya senang bisa membantu produsen craft paper ini, yang hingga kini permintaannya melonjak tinggi,” tutur Michael.

Michael menegaskan motivasi bisnis yang dia bangun bukan untuk mencari keuntungan pribadi, lebih utama dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi banyak orang. Dan keinginan untuk mengangkat brand lokal yang bisa diterima luas. Produk inipun dapat berkompetisi di era digital dengan system pesan antara menggunakan ojek online (ojol). Pesan yang dibangun dari produk EATLAH adalah makanan siap saji yang lezat, direpresentasikan dari logo yang BOLD, SIMPLE, and FAST. Tentu ini related dengan background pendidikan Michael yaitu Desain Komunikasi Visual. Semua yang Ia pelajari di DKV UPH sangat aplikatif di dunia bisnis yang dia tekuni. Ia pun bersyukur selama kuliah dapat mengakses koleksi buku-buku desain yang baik di perpustakaan UPH. Hingga kini Ia terus belajar, mengikuti perkembangan teknologi, dan peluang bisnis untuk dapat menciptakan sebuah bisnis yang sesuai perkembangan jaman. Yang terpenting bagi Michael bukanlah untuk menjadi pemenang di pasar, tapi mengangkat produk lokal bersaing di pangsa global. “Mari kita bersama membangun rasa cinta produk lokal, instead makanan luar, sehingga brand Indonesialah yang menang,” ajak Michael.

Tahun Kelulusan: 01/09/2010
UPH memberikan dasar yang kuat, menjadi tempat untuk mengekspresikan diri dan mengoptimalkan potensi.
Christian Edo Yuwono (Musik 2013)
Pendiri L.ed's Production

Mengangkat Industri Musik Indonesia Lewat Profesi Sound Designer

 

Perkembangan industri kreatif di Indonesia menyuburkan profesi-profesi baru di bidang musik. Salah satunya profesi sound designer. Karya-karya musik hasil olahan sound designer semakin tumbuh subur dan diminati. Kontribusi seorang sound designer diperlukan dalam sebuah live performance maupun dalam proses produksi rekaman. Ternyata, ada proses panjang yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah sebuah karya musik yang dapat dinikmati oleh kita sebagai audience dan juga oleh musisi itu sendiri.

Terbukti, kontribusi sound designer mampu mengangkat industri musik Indonesia. Hal ini diakui salah seorang profesional sound design, yang ikut meramaikan dunia musik Indonesia yaitu Christian Edo Yuwono – Founder of Led’s Production, lulusan Seni Musik UPH 2013. Menurut Edo, peran sound designer sangat penting dalam pembuatan sebuah karya musik. Musisi tentunya akan melalui proses perekaman, proses mixing, dan penguasaan perangkat teknis (technical stuff) dan mengangkat nilai estetik dari musik yang dihasilkan, sehingga menjadi sebuah karya musik bisa dinikmati oleh semua orang.

Sejak awal berkuliah, Edo sangat tertarik pada bidang music art dan teknologi. Karenanya, Ia merasa bisa mendapatkan keduanya dalam program peminatan sound design di Fakultas Seni Musik UPH. Menjadi lulusan seni musik – sound designer, tentunya ada banyak sekali peluang bisnis yang dapat ditekuni. Beberapa contoh, dalam industri musik (music production) bisa menjadi Recording Engineer, Mixing Engineer, Mastering Engineer, dan Live Sound Engineer. Lalu dalam industri Film, sebagai Foley Artist, Editor Audio dan Mix Engineer tentunya. “Prinsipnya, maksimalkan potensi diri dengan memberikan seluruh potensi dalam setiap acara dan dengan tetap rendah hati. Karena disaat kita memberikan yang terbaik dari versi kita, maka kita akan bisa memberikan energi positive untuk sekitar kita,” ungkap Edo.

Saat ini, Edo sedang fokus dalam mengembangkan Live Production Facilities (@ledsproduction), yang bergerak dibidang jasa rental dengan menyediakan semua kebutuhan produksi seperti sound system, audio production pencahayaan, dan dekorasi. Selain itu, Edo juga bekerja sebagai freelance engineer, untuk beberapa acara konser dan musical, dan bekerja di salah satu audio post di Jakarta sebagai mixing engineer. Semua ini diakuinya tidak terlepas dari bekal yang diperoleh saat kuliah di UPH. “UPH memberikan dasar yang kuat, menjadi tempat untuk mengekspresikan diri dan mengoptimalkan potensi,” tutup Edo.

Tahun Kelulusan: 15/09/2017
Mengambil ujian sambil kuliah bukan hal yang mudah tapi juga bukan tidak mungkin. Kita harus melakukannya dengan ketekunan dan dengan mengandalkan Tuhan dalam segala hal yang kita kerjakan.
Earlitha Olivia Lionel (Matematika Aktuaria & Terapan 2015)
Aktuaris di AIA

Earlitha, Kecintaan Pada Bidang Matematika Mengantarnya Ke Profesi Aktuaris

 

Matematika merupakan sebuah bidang yang bersifat sangat kuantitatif. Sebagai sebuah pelajaran, Matematika memerlukan jawaban yang eksak untuk setiap pertanyaannya. Earlitha, biasa Ia disapa, sejak SD mengakui sudah mulai menyukai bidang Matematika. Ia sangat menyukai tantangan soal Matematika berapapun sulitnya. Bagi alumni Matematika UPH 2015 ini, terdapat sebuah kesenangan tersendiri ketika sebuah soal berhasil diselesaikan. Karenanya sejak SMA Earlitha memang berniat untuk masuk bidang Matematika.

Setelah mencari banyak universitas, Earlitha merasa UPH paling sesuai karena Ia melihat UPH sangat konsen dengan bidang Matematika aktuaria. Menurutnya, selama studi mahasiswa dipersiapkan sangat matang untuk menjadi Aktuaris terbaik. Ini diikuti dengan pembekalan baik berupa sertifikasi maupun keahlian yang dibutuhkan di dunia karir. Selain itu, UPH adalah satu-satunya universitas yang memiliki penyetaraan ke sertifikasi SOA (Society of Actuaries), poin ini membuat Earlitha sangat yakin bisa berkembang di bidang aktuaria.

Setelah lulus S1 Matematika, Earlitha ternyata sudah memiliki 11 sertifikasi SOA dan PAI (Persatuan Aktuaris Indonesia). Di usia yang masih muda, Ia telah mendapatkan gelar FSAI setengah tahun setelah itu. Ujian tersebut telah Ia ikuti bahkan sejak Ia masih kuliah di tingkat awal. Earlitha bersyukur UPH sudah memfasilitasi mahasiswanya dengan penyetaraan SOA, ini adalah salah satu nilai plus yang luar biasa bagi mahasiswa UPH, penyetaraan ini hanya ada di UPH. Dengan mengikuti beberapa mata kuliah yang sudah ditentukan, mahasiswa sudah mendapatkan 3 penyetaraan SOA VEE. Selain itu kurikulum di Matematika UPH sangat sesuai dengan sertifikasi, hal ini sangat mempermudah mahasiswa untuk mengikuti ujian profesionalisme tersebut.

Bidang Aktuaris saat ini masih sangat diperlukan dan menjanjikan di Indonesia. Saat ini masih banyak tenaga Aktuaris luar yang berkontribusi di Indonesia. Untuk menjadi Aktuaris, sertifikasi profesional menjadi tiket. Oleh karenanya, Earlitha mendorong dan berbagi tips, untuk bisa berhasil dalam ujian sertifikasi, dimulai dari niat dari diri sendiri dan usaha yang besar untuk belajar mandiri.

“Mengambil ujian sambil kuliah bukan hal yang mudah tapi juga bukan tidak mungkin. Kita harus melakukannya dengan ketekunan dan dengan mengandalkan Tuhan dalam segala hal yang kita kerjakan. Ketika terjun di karir juga, tentu yang dinilai perusahaan tidak hanya pencapaian-pencapaian akademik, namun lebih kepada hasil kerja dan kontribusi yang bisa diberikan kepada perusahaan,” ungkap Earlitha yang berhasil mendapatkan apresiasi dari perusahaan tempatnya bekerja.

Selain berkarir sebagai Aktuaris, Ia juga rajin menulis di blog post di www.actuaryinreality.com, Earlitha juga memiliki online shop di bidang calligraphy, baik jasa tulis, live events maupun produk-produknya. Ternyata waktu dan semangatnya masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan aktivitas yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain serta memberikan keuntungan tambahan.

Tahun Kelulusan: 06/03/2019
Saya pengen bisa menghibur dan mendidik anak-anak Indonesia lewat animasi dan karakter-karakter asal Indonesia bisa berjaya di dunia adalah impian saya.
Andi Martin Suryana (Desain Komunikasi Visual 1997)
CEO Kratoon Channel

Andi Martin, Kreator Animasi Superhero Indonesia

 

Saat ini, industri konten di dunia sedang sangat menggairahkan karena makin banyaknya platform penyedia konten seperti Netflix, Disney plus, Amazon Prime Video, dsb. Animasi merupakan salah satu konten yang sangat digemari untuk semua umur. Di Indonesia sendiri tahun 2020 ada 4 film animasi layar lebar. Serial animasi di platform youtube pun mulai bermunculan dengan jumlah subscriber yang makin banyak.

Andi Martin, CEO Kratoon Channel, awalnya bergerak di bidang game developer, menggembangkan game online pertama buatan Indonesia bernama Inspirit: Arena. Game atau film hanya salah satu media, passion-nya terletak di story telling, universe creation dan intellectual property creation. Dengan visi ingin menghadirkan Disney-nya Indonesia, Andi pun berevolusi dari sekedar studio menjadi perusahaan bergerak di character producing dan licensing.

Untuk menghasilkan produk animasi ini, Andi mengaku tidak cukup hanya dibekali teori tetapi juga wawasan yang tentunya dari pelaku industri kreatif yang kian dinamis dan bergerak sangat cepat.

Sebelum meneruskan pendidikannya di Universitas Pelita Harapan (UPH), Andi sempat kuliah di Savannah College of Art and Design, jurusan Desain Komunikasi Visual. Tahun 1996, Ia memulai perkuliahannya, namun kemudian terpaksa berhenti dan pulang ke Indonesia dikarenakan krisis ekonomi. Tahun 1997, Andi pun melanjutkan studinya ke jurusan yang sama di UPH. Saat itu, hanya UPH yang bersedia menerima kredit perkuliahannya dari Amerika Serikat.

“Semua saya belajar sendiri diluar pendidikan resmi untuk siap di industri kreatif, apalagi saat saya mulai belum banyak perusahaan yang bergerak di bidang game,” ungkap Andi.

Prinsipnya, jangan mudah menyerah. Justru bagi Andi, sering gagal itu bagus untuk kesehatan. Melalui animasinya, Andi berkontribusi terhadap Indonesia dengan membuat sosok jagoan super Indonesia bernama Hebring dan berhasil mendapatkan penghargaan 2nd prize dari Asean-Japan Centre dalam ajang Asean Character award 2014. Kemudian awal tahun 2019 dipercaya membantu membuat cerita hidup bapak Jokowi dalam bentuk animasi adalah salah satu kebanggaan buat Andi.

“Untuk jangka panjang, saya pengen bisa menghibur dan mendidik anak-anak Indonesia lewat animasi dan karakter-karakter asal Indonesia bisa berjaya di dunia adalah impian saya,” tutup Andi Martin.

Tahun Kelulusan: 19/08/2002
Kami berharap agar pengrajin-pengrajin mulai bisa melihat bahwa pekerjaan mereka dihargai, berani menaikkan jasa mereka, dan berani membuat workshop sendiri di rumah mereka.
Michellie Danara Tantyo (Desain Produk 2014)
Pendiri Titian Jewelry

Titian Jewelry: Perhiasan hand-made Unik dari Material Alam

 

Siapa sangka, Titian Jewelry terlahir dari tugas akhir 2 perempuan muda lulusan Desain Produk UPH. Tugas akhir ini merupakan persyaratan kelulusan saat mereka kuliah di UPH dan kemudian terus dikembangkan hingga saat ini. Mereka adalah Michellie Danara dan partnernya Merlyn Awang.

Menurut Michellie, selling point dari brand Titian Jewelry adalah keunikan produknya yang menggunakan material tulang sapi, mother of pearl, dan batu-batuan. Inilah, katanya, yang memaksimalkan craftsmanship dari pengrajin. Disamping itu, desainnya sangat cocok untuk wanita Indonesia yang berusia 20 tahun ke atas.

“Bisnis perhiasan ini sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa dengan meningkatnya pendapatan perkapita Indonesia serta semakin tingginya awareness target market mengenai perhiasan hand-made. Oleh karenanya berharap tidak hanya di Indonesia, tapi dapat menjangkau pasar internasional juga,” ungkap Michellie.

Selain keunggulan produk, bagi Michellie, yang diperlukan dalam memulai suatu bisnis adalah tujuan dari bisnis itu sendiri. Hal ini yang menjadi spirit dari hadirnya Titian Jewelry, yaitu bertujuan untuk mempertahankan dan mengembangkan pengrajin yang masih ada di Bali. Mulai dari mengedukasi pengrajin mengenai value yang mereka punya, memberikan rate yang lebih tinggi kepada pengrajin, dan memperkenalkan kepada target market akan craftsmanship yang dimiliki oleh pengrajin-pengrajin ini.

Michellie bercerita, memutuskan membuat produk di Bali berawal dari perjumpaan dengan pengrajin-pengrajin yang luar biasa pada saat internship di Bali. Dari hasil pengamatan, turunnya daya tarik usaha perhiasan dikarenakan hancurnya harga jasa yang ditawarkan, persaingan dengan barang impor dari China, dan alat-alat yang kurang mengikuti jaman. Akhirnya banyak dari para pengrajin memutuskan bahwa menjadi pengrajin bukanlah pekerjaan yang memiliki masa depan yang cerah. Mereka berhenti mengajarkan keterampilan ini kepada anak-anak mereka dan mulai mencari alternatif pekerjaan lain.

“Dari situ kami memutuskan untuk membuat Titian Jewelry, dengan memberikan timbal balik yang adil kepada pengrajin, kami berharap agar pengrajin-pengrajin mulai bisa melihat bahwa pekerjaan mereka dihargai, berani menaikkan jasa mereka, dan berani membuat workshop sendiri di rumah mereka,” ungkap Michellie.

Semakin berkembangnya suatu bisnis, hadirnya kompetitor menjadi hal yang biasa. Menyikapi hadirnya kompetitor, Titian Jewelry punya kiat sendiri, diantaranya terus mengikuti perubahan, melakukan hal-hal baru, seperti mengeluarkan desain baru, atau ikut mempelajari teknik marketing yang dilakukan kompetitor.

Sedangkan untuk tantangan terbesar yang saat ini dihadapi oleh Titian Jewelry, Michellie mengungkapkan, dengan cara mempertahankan standar dan kualitas produk, dikarenakan banyaknya step dan pihak yang terlibat untuk menghasilkan sebuah produk Titian Jewelry ini. Selain itu, konsistensi juga harus terus dijaga.

Hal yang tidak boleh diabaikan dalam menjalankan bisnisnya, kata Michellie, adalah dukungan dan dorongan dari keluarga, teman-teman, dosen dan staf UPH, yang memberikan banyak insight kepada Titian Jewelry. Selama berkuliah di UPH, pelajaran baik yang didapat dikelas maupun pengalaman di luar kelas sangat membantu Michellie dalam mengembangkan bisnisnya. Mulai dari membentuk etika kerja, hingga hal-hal teknis seperti efisiensi dalam sistem produksi produk.

Tahun Kelulusan: 29/08/2018
Orang yang mendapat segala sesuatunya dengan instan akan berbeda dengan orang yang mendapatkan sesuatu melewati sebuah proses.
Nency Patricia Pical (Hukum 2007)
Notaris dan PPAT Kabupaten Serang

Menjadi notaris dan PPAT merupakan sebuah anugerah dan berkat juga tanggung jawab bagi Nency, alumni Ilmu Hukum UPH 2007. Proses panjang menjadi notaris dan PPAT tentu bukan hal yang mudah bagi Nency. Ada banyak lelah dan peluh yang mungkin orang lain tidak tahu, tapi Nency tidak menyerah, dan menikmati setiap proses.

“Ada sebuah kutipan yang mengatakan semakin kamu mendekati puncak gunung, semakin berat jalan dan alur yang kamu hadapi, tingkat kecuraman, kadar oksigen, cuaca yang ekstrem, dan banyak hal lainnya. Tetapi saat kamu berhasil sampai di puncak, kamu tidak akan pernah berhenti bersyukur, bukan hanya bersyukur karena akhirnya sudah tiba di puncak tetapi bersyukur karena kamu pernah melewati step by step untuk sampai di puncak. Orang yang mendapat segala sesuatunya dengan instan akan berbeda dengan orang yang mendapatkan sesuatu melewati sebuah proses. Karena proses itulah yang membentuk karakter seseorang saat dia dibenturkan oleh keadaan di sekelilingnya yang negative, dia tetap bisa positive,” ceritanya.

Saat ini Nency juga aktif di dalam organisasi Ikatan Notaris Indonesia untuk mendukung segala langkah yang ditempuh pemerintah dalam bidang hukum. Menjalani profesi ini, Nency punya kiat yakni berusaha melakukan dan menjadi yang terbaik. Mendisiplinkan diri untuk bersikap jujur, baik, sopan, rendah hati, sehingga kehadirannya dalam memangku jabatan profesi maupun dalam kehidupan sehari-hari dapat diterima dan menjadi berkat bagi masyarakat. Oleh karenanya, motto UPH selalu menjadi dasar ketika Ia bekerja. Bagi Nency, UPH bukan hanya sebagai Universitas tempat Ia berkuliah. UPH adalah sebuah tempat yang sudah berhasil membentuk Ia menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu yang dapat menunjang profesinya saat ini, seorang wanita yang memiliki keyakinan kuat akan kuasa dan kehadiran Tuhan dalam setiap tindakan yang Ia lakukan dalam profesinya saat ini, serta menjadikan Ia notaris yang berilmu dan beretika.

Tahun Kelulusan: 12/09/2011
Di UPH ini aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur pada Tuhan Yesus dalam setiap proses yang dialami baik di dalam maupun di luar kelas.
Agnesia Cahaya (Desain Produk 2015)
Pendiri Caleo

Diproses Menjadi Perancang Produk Ramah Lingkungan sejak Kuliah

 

Selain membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik dan non-akademik, UPH berupaya menghasilkan lulusan yang memberikan sumbangsi yang baik bagi masyarakat. Karenanya, School of Design UPH seperti program studi Desain Produk berupaya menghasilkan desain yang inovatif, kreatif, fungsional dan estetis menggunakan bahan ramah lingkungan dan berdampak baik bagi masyarakat. Inilah salah satu dasar yang diajarkan program studi Desain Produk UPH.

Ini menjadi nilai dasar yang juga diterapkan oleh lulusan Desain Produk UPH angkatan 2015 yakni Agnesia Cahaya, seorang freelance designer dan perintis brand Caleo dalam menekuni karirnya saat ini. Selama kuliah di UPH, Agnesia mengaku banyak terlibat dalam pengalaman kerja yang membantunya menemukan passionnya yaitu merancang tas. Ia mulai benar-benar menekuni passionnya saat mengerjakan tugas akhir dan kemudian Ia teruskan menjadi bisnis tas yang laris hingga saat ini. Bisnisnya ini dapat ditemukan melalui akun Instagram @caleoofficial.

Agnesia yang saat ini tengah menjalin kerjasama dan meningkatkan craftmanship dengan pengrajin dari Cirebon dan Tangerang, mengaku bahwa setiap pembelajaran yang Ia dapatkan di UPH masih terus ia pakai. Pembelajaran seperti skill tangan, teknik menggambar, proses rendering, mengakses desain ke komputer, hingga proses pembuatan produk dan kerjasama dengan pengrajin merupakan proses yang saling berkesinambungan satu sama lain dan tidak bisa lepas dari dunia desain. Tentunya semua ini diusahakan dengan bahan ramah lingkungan. Bagi Agnesia, merancang produk dengan kualitas baik tidak harus merusak lingkungan.

Proses ini juga yang membuatnya tekun dalam menjalankan karirnya. Bagi Agnesia, ini bukan semata-mata hanya untuk meraih keuntungan namun bagaimana mengembalikannya untuk kemuliaan Tuhan. Inilah salah satu nilai yang selalu ditekankan di UPH yang masih terus Ia pegang sampai saat ini. Agnesia percaya, segala sesuatu yang dilakukan untuk kemuliaan Tuhan akan memberi hasil yang baik pula.

“Di UPH ini aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur pada Tuhan Yesus dalam setiap proses yang dialami baik di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, aku selalu berpikir apakah yang aku lakukan ini terbaik untuk kemuliaan nama Tuhan? Bagaimana dampaknya pada perkembangan diri aku? Aku percaya kalo memang ini hal yang baik Tuhan percayakan, kedepannya pasti dapat berjalan dengan lancar,” tutur Agnesia.

Tahun Kelulusan: 04/09/2019
Karakter saya terbangun dengan signifikan saat saya menjadi student athlete UPH, dan hal ini yang menjadi bekal buat saya ketika masuk ke dunia karier dan bisnis.
Thea Magdalena Koe (Manajemen 2008)
Pendiri & CEO Jam(u)an, Kana Catering, Kana Petite, Althea Memoirs

Jam(u)an, Bisnis Kuliner Kekinian yang Berdampak Untuk Anak Indonesia

 

Sociopreneur atau Wirausaha Sosial sekarang ini menjadi tren dikalangan milenial. Mendirikan bisnis tidak hanya soal keuntungan tetapi juga bagaimana dampak dan kontribusinya terhadap masyarakat. Thea Magdalena merupakan salah satu millennial perempuan yang menjadi penggagas wirausaha sosial bagi anak-anak. Mottonya ialah “A business should not only be profitable but also positively impactful for all stakeholders.”

Thea, yang merupakan alumni Manajemen UPH 2008, berkeyakinan kuat bahwa nasib bangsa berkaitan erat dengan kualitas generasi muda. Setiap anak berhak memiliki impian dan kesempatan untuk mengejar impian tersebut. Untuk dapat mencapai apa yang di cita-citakan, setiap anak harus sehat secara tubuh dan jiwa. Keyakinan tersebut yang menjadi ide dibalik bisnis kuliner yang saat ini Ia kembangkan. Melalui pembelian bowl Jam(u)an, Thea ingin mengajak setiap konsumennya untuk bisa menjadi dampak bagi anak Indoneisa dengan berpartisipasi membantu angka perbaikan gizi di tempat-tempat yang saat ini masih memiliki angka kecukupan gizi rendah (malnutrisi) khususnya desa-desa di Flores NTT bersama sociopreneur Duanyam.

“Jadi kalo membeli menu Jam(u)an, bukan hanya sekedar makan enak dan kenyang tapi ajak pembeli untuk turut beramal. Kita salurkan sebagian pendapatan dari setiap bowl yang dijual untuk membantu anak-anak malnutrisi di Indonesia,” ungkap Thea.

Sekilas tentang Jam(u)an, ada cerita yang ingin disampaikan oleh Thea melalui gambar yang terlukis di setiap bowl. Thea mengungkapkan cerita tentang masa kecilnya dalam produknya, yaitu mengenai hati seorang keturunan Jawa-Manado yang ingin membawa dampak bagi Indonesia. Thea percaya setiap usaha harus berdampak positif tidak hanya bagi perusahaan itu sendiri namun juga untuk orang lain, khususnya tempat Ia berada, Indonesia.

Jam(u)an : Jawa Manado, karena Thea keturunan Jawa Manado.
(u) : hashtag/ campaign purpose #jamuanuntukindonesia

Selain Jam(u)an, Thea juga mengembangkan beberapa bisnis lainnya yakni Kana Catering, Kana Petite, dan Althea Memoirs. Baginya, prinsip berbisnis sama halnya dengan kehidupan, seperti berlari marathon. Lakukan hal-hal yang akan berdampak baik kepada sustainability perusahaan dan endurance kita dengan integritas, keadilan, kerja keras dan keikhlasan untuk hal-hal yang diluar kuasa / otoritas kita.

Diakui Thea, kuliah di UPH merupakan bagian positif yang besar dalam kehidupannya. Tidak hanya kuliah, dulu Thea juga aktif sebagai student athlete basket di kampus. Thea belajar banyak hal termasuk bagaimana untuk hidup disiplin, taat kepada otoritas, dan seimbang dalam bertanggung jawab kepada Tuhan, tugas kuliah, dan team. Thea juga belajar bahwa apapun yang kita lakukan, baik belajar, berlatih ataupun bertanding basket, bertujuan untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik, bukan untuk earthly achievement, tetapi lebih kepada divine purpose of life.

“Karakter saya terbangun dengan signifikan saat saya menjadi student athlete UPH, dan hal ini yang menjadi bekal buat saya ketika masuk ke dunia karier dan bisnis. Saya sangat bersyukur bahwa saya memiliki musim hidup itu,” tutup Thea.

Tahun Kelulusan: 05/03/2012
Di UPH, keterampilan komunikasi saya diasah, sehingga dapat berkomunikasi dengan benar dan baik kepada pelanggan, bahkan dengan rekan pengusaha (vendor), juga tim.
Teddy Darmaja (Pendidikan Bahasa Inggris 2006)
Pemilik Red Hat Organizer

Temukan Passion dalam Industri Event Organizer yang Menjanjikan

 

Dilansir dari Ekonomi.bisnis.com dan mix.co.id dikatakan bahwa tren industri Event Organizer (EO) terus memiliki pertumbuhan sekitar 15% hingga 20% tiap tahunnya. Peluang bisnis yang menjanjikan ini juga yang dilihat Teddy Darmaja, Alumni Sastra Inggris Universitas Pelita Harapan, 2006. Tidak hanya mengejar profit, bagi Teddy bekerja di industri ini merupakan passion dan berkat baginya. Baik Teddy dan kedua partner yang berbekal pengalaman karier di bidang MICE, banquet, event and promotions, ketiganya merintis Red Hat Organizer- Event Organizer sekaligus Wedding Planner. Terus fokus pada ‘kualitas pelayanan terbaik’, membuahkan hasil bagi Red Hat yang sebelumnya dikenal dengan Star Management, resmi menjadi anggota dari Asosiasi Pengusaha Pernikahan dan Gaun Indonesia (APPGINDO) pada Desember 2015.

Usaha Teddy bersama tim untuk diakui kinerjanya oleh APPGINDO tidak terlepas dari kesungguhan bekerja dan membuahkan review-review positif baik secara online seperti google review maupun secara personal yang kerap merekomendasikan Red Hat.
“Visi Red Hat Organizer yaitu berkomitmen dalam memberikan pengalaman acara lebih dari yang pelanggan impikan. Kami tuangkan dalam misi yang jelas, yaitu memberikan solusi layanan terbaik, memberikan keterampilan dan layanan manajemen acara yang terbaik untuk memastikan hasil yang diinginkan pelanggan tercapai, dan menjadi mitra strategis untuk para rekan pengusaha (vendor) pernikahan. Kami adalah perpanjangan tangan, representative, sekaligus advokat pelanggan kami,” ungkap Teddy.

Uniknya, Teddy bersama Red Hat tidak hanya sekadar menjalankan bisnis demi profit. Prinsipnya Ia melihat pekerjaan sebagai berkat Tuhan, karenanya Red Hat Organizer harus berdampak bagi komunitas. Hal ini dituangkannya ke dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) sederhana yaitu memberikan pelayanan jasa tidak berbayar kepada gereja-gereja yang ingin menyelenggarakan perayaan hari besar Kristiani ataupun perayaan lainnya. Lebih lanjut, pria yang mengaku enjoy bekerja di bidang ini juga selalu melihat seluruh pengalamannya di Red Hat unik, berkesan, dan bermanfaat bagi kemajuan timnya. “Semua pengalaman buruk atau baik dapat membentuk saya dan teman-teman di Red Hat untuk mengasah kualitas. Segala pengalaman kami evaluasi dan tuangkan menjadi standar operasional yang baru untuk memperlengkapi dan terus memperbaiki kerja tim dari yang sudah ada sebelumnya,” jelas Teddy. Industri yang telah digeluti lebih dari 13 tahun ini, diyakini masih memiliki peluang yang sangat menjanjikan. Tidak heran bisnis di bidang ini terus bermunculan. Untuk memenangkan pasar, Red Hat terus memastikan standar kerja yang diberikan konsisten dan terus ditingkatkan.

Kemampuan manajemen bisnis ini diakui Teddy tidak terlepas dari apa yang didapatnya selama studi di UPH. “Di UPH, keterampilan komunikasi saya diasah, sehingga dapat berkomunikasi dengan benar dan baik kepada pelanggan, bahkan dengan rekan pengusaha (vendor), juga tim. Selain itu, studi di UPH juga memudahkan saya menangani pelanggan yang merupakan warga negara asing, yang hanya dapat berbahasa Bahasa Inggris. Tidak hanya secara lisan, kemampuan menulis dengan baik, dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris, juga telah terasah sejak berkuliah,” cerita Teddy. Baginya UPH juga telah membentuk karakternya untuk berintegritas dalam menjalankan bisnis. Lebih lanjut Ia juga berpegang pada nilai yang telah ditanamkan sejak Ia di UPH, yaitu bertanggung jawab, jujur, dan berusaha untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan, baik dalam pengawasan maupun di luar pengawasan pelanggan.

Kedepannya Teddy bersama Red Hat akan terus berfokus pada strategi pemasaran terutama melalui media social. Tentunya beragam strategi yang telah dilakukannya saat ini juga akan dilanjutkan dan dikembangkan dengan networking marketing strategy, maupun mengikuti beragam pameran pernikahan bergengsi seperti Weddingku dan Bridestory.

Tahun Kelulusan: 01/09/2010
Andhini Puteri Lestari (Ilmu Komunikasi 2004)
Direktur Konten Indonesia di GetCraft

Siap Berubah dan Menjadi Bagian dari Sejarah Perubahan

 

Pengalaman bekerja di media, di era yang berbeda, menuntut kesiapan untuk berubah. Seperti cerita yang dialami Andhini Puteri Lestari, alumni Ilmu Komunikasi UPH 2004, yang shifting dari profesi wartawan ke direktur konten di sebuah marketplace yang menaungi para content creator. Bagi Dhini, biasa ia dipanggil, perubahan ini bukan hanya untuk mengembangkan karier saja, tetapi memiliki kenikmatan tersendiri, karena memiliki waktu kerja yang fleksibel, dan output-nya luar biasa. Ini diakui Dhini, yang sudah 4 tahun belakangan ini bekerja sebagai Content Director Indonesia di GetCraft, sebuah perusahaan startup yang memberikan layanan marketplace untuk membantu pelaku bisnis kreatif/marketers bertemu dan berkolaborasi dengan para content creator di Asia Tenggara.

Tugas Dhini di GetCraft Indonesia, bertanggung jawab atas seluruh kegiatan konten, sekaligus merancang strategi konten untuk lingkup regional (Filipina, Malaysia, Singapura, Indonesia). Selain itu Dhini juga berperan sebagai Editor in Chief di media kreatif kita; Crafters dan media marketing keluaran GetCraft; Academy. Disamping kesibukannya sebagai content creator, Dhini mengaku masih sempat melakukan aktifitas hobinya di dunia teater.

Tentu saja karier Dhini saat ini merupakan pengembangan dari kariernya terdahulu di media, meniti karier sebagai wartawan lifestyle selama kurang lebih 9 tahun, mulai dari majalah GoGirl, Playboy Indonesia, dan Tamasya, 3 tahun di Cosmopolitan Indonesia dan 5 tahun di Her World Indonesia.

Ketika ditanya mengenai kehadiran content creator yang baru saja meniti karier/ fresh graduate, Dhini mengaku sangat welcome. Menurutnya, di era digital, ini menjadi karir yang bagus untuk mereka. Di GetCraft sendiri 30% karyawannya merupakan para fresh graduate – yang tentunya dekat dengan era digitalisasi. Jika ditanya seputar persyaratan untuk menekuni karier seperti yang Dhini jalani, “Tentu saja harus punya kompetensi dalam bidang yang akan dijalani, untuk karier seperti saya, tentu berhubungan dengan copy dan konten. Mulai dari strategi kontennya, teknik editing artikel, copy sosial media, intinya produksi konten mulai dari tahap ideation, produksi, sampai report/apakah konten tersebut performanya mencapai objektif atau tidak. Selain harus bisa membuat strategi konten dan bagaimana manajemen produksinya, tentu haru selalu memperkaya pengetahuan juga dan paham betul isu dan tren apa yang sedang marak,” ujarnya.

Karena pekerjaan ini harus up to date, tentu harus siap dengan perubahan, dalam sistem kerja dan sebagainya. Namun bagi Dhini perubahan tersebut bukan sebagai “pekerjaan rumah baru” tetapi ubah mindset menjadi “berubah untuk lebih baik, dan jadilah bagian dari sejarah yang membuat perubahan ini”. Hal ini menjadi tidak asing karena dulu sewaktu kuliah jurusan Jurnalistik di UPH, ada beberapa mata kuliah seperti Penulisan Feature, Pengantar Ilmu Jurnalistik, juga semua yang berhubungan dengan Broadcast sangat berguna di pekerjaan Dhini saat ini. “Percaya atau tidak, Statistik juga berguna! Kita harus jago bermain Excel dan hitungan lainnya,” tutup Dhini.

Tahun Kelulusan: 27/03/2008
Ini sangat relevan dengan ilmu yang telah dipelajari sewaktu kuliah di UPH, hanya medianya saja yang berbeda.
Vina Jafar (Desain Produk 2001) & Irvan Nurhalim (Teknik Informatika 2001)
Pemilik Mionette Cakes, Mionette Privee, Mionette Cakes & Dining

Mionette Cakes, Eksis Berkat Konsistensi dan Otentitas

 

Mionette Cakes (@mionettecakes), salah satu toko kue di Jakarta, yang dikategorikan spesialis kue klasik dan otentik, mampu eksis karena konsistensinya. Didirikan tahun 2011 oleh Vina Jafar, alumni Desain Produk 2001, dan suaminya, Irvan Nurhalim, alumni Teknik Informatika UPH 2001. Awalnya, Mionette hanya berbasis online dan menjual produk regular cakes dan custom cake serta mensupply cake ke salah satu japanese chain restaurant terbesar di Jakarta, Sushi Tei, sampai tahun 2018.

Seiring meningkatnya permintaan custom cake, Vina dan Irvan, membuat line khusus untuk custom cake dengan nama Mionette Privee (@mionetteprivee), yang sepenuhnya dihandle oleh Vina sendiri. Kemudian di tahun 2014, mereka membuka gerai cake shop pertama, di PX Pavilion kawasan Puri Jakarta Barat, dan tahun 2017 berkembang menjadi restaurant (@mionette.id), di Lippo Puri Mall, yang tidak hanya menjual cakes dan tea/coffee tetapi juga menyediakan makanan. Irvan sepenuhnya berkontribusi pada bagian system operasional, pemilihan menu, R&D makanan dan coffee.

Konsistensi dan otentitas menjadi kekuatan bisnis yang dirintis Vina dan Irvan. Mionette cakes sangat mengutamakan keoriginalan cake-cake internasional yang sudah populer dan dikemas dengan gaya modern, dengan pemilihan bahan berkualitas, tanpa artificial flavoring dan pengawet. Mionette Privee, custom cake yang dibuat dengan konsep berbeda dengan custom cake pada umumnya. Sedangkan Mionette Cakes & Dining, memberikan pengalaman kuliner yang nyaman dengan penyajian makanan yang menggunakan bahan-bahan natural terbaik, halal dan tanpa MSG.

Keduanya mengaku tidak pernah putus asa, walaupun pernah gagal, dalam menjalani bisnis ini. Alhasil, Mionette kini mengembangkan bisnis ke school decorating, berupa kursus-kursus kecil. Bagi Vina, bidang ini bukan hal baru, karena basic ilmunya sudah didapat saat kuliah di Design Produk UPH. Sejak tahun 2016, Vina memutuskan berbagi ilmu dekorasi cake yaitu 3D sculpted cake dan hand painted cake dalam kursus-kursus kecil dan private class.

“Ini sangat relevan dengan ilmu yang telah dipelajari sewaktu kuliah di UPH, hanya medianya saja yang berbeda,” ungkap Vina.

Ketika kuliah, kayu atau bahan sintesis sebagai media untuk di pahat. Namun pada dasarnya, dalam membuat cake pun menggunakan teknik yang sama. Begitu juga dengan platform ilustrasi digital yang pernah didapatkan waktu kuliah dulu juga sangat membantu Vina dalam membuat sculpted cake dengan proporsi yang sangat baik dan keperluan materi digital yang dibutuhkan. Irvan pun, merasakan hal yang sama. Walaupun latar belakang pendidikannya IT, dan kini bergelut di bisnis kulinari, tetapi justru ilmu kuliahnya sangat berguna untuk membangun system operasional yang baik di restaurant yang mereka kembangkan.

Tahun Kelulusan:
Segala sesuatu dapat kita kerjakan dan selesaikan selama kita yakin untuk bisa dan mau berusaha untuk menyelesaikannya.
Herrieck Mulya Yangdinata (Teknik Informatika 2009)
CEO PT Planet Sinema Indonesia & Pendiri Planet Cinema Bone

Planet Cinema Bone, Kawasan Hiburan Terpadu dan Terbesar di Indonesia Timur

 

Satu lagi alumni UPH yang memberikan kontribusi membanggakan untuk masyarakat, khususnya di wilayah Timur Indonesia. Lewat gagasannya, Herrieck Mulya Yangdinata, CEO PT Planet Sinema Indonesia, membangun Planet Cinema Bone, sebuah kawasan hiburan terpadu dan terbesar di wilayah timur Indonesia, berlokasi di Jl Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Watampone, Kabupaten Bone. Fasilitas ini diresmikan langsung oleh Bupati Bone, Dr HA Fahsar M. Padjalangi, pada 7 Februari 2020.

Dikutip dari Tribun News, Bupati Bone, dalam sambutannya, mengaku bangga dan sangat mengapresiasi kehadiran Planet Cinema Bone sehingga warga Bone tidak perlu jauh-jauh ke Makassar atau Sengkang untuk menikmati bioskop. Selain bioskop, ada pula food court dan retail shop yang sudah memiliki nama cukup besar di kota-kota. Dan tempat bermain atau playground untuk anak-anak.

Menurut Herrieck, alumni Teknik Informatika UPH 2009, alasan membangun di kabupaten Bone, karena masyarakat masih merasa minim fasilitas hiburan di kawasan dekat mereka. Sebelumnya, mereka harus pergi jauh ke kota untuk menikmati hiburan. Herrieck melanjutkan bahwa konsep entertainment terpadu yang hadir di Kabupaten Bone ini siap menjadi percontohan nasional. Dan tentunya fasilitas ini dapat menambah kontribusi ke Kabupaten melalui sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan juga 90% karyawannya adalah orang Bone.

“Selain itu, konsep yang diusung Planet Cinema Bone, seperti model planet ala star wars, interiornya dan eksteriornya bagaikan sebuah meteor yang jatuh dari langit. Ini konsep yang mungkin pertama di Indonesia Timur. Konsep ini tentunya dapat menarik perhatian pengunjung untuk mendapatkan spot foto yang menarik untuk di pamerkan di media social,” ungkap Herrieck.

Herrieck mengakui apa yang dia lakukan tidak terlepas dari ilmu yang didapat di Teknik Informatika UPH saat kuliah dulu. Keahliannya di bidang IT diimplementasikan dalam system IT yang kompleks agar dapat menjalankan bisnis ini dengan autopilot.

Terlepas dari itu semua, ia memegang prinsip ‘selalu berkata BISA’ untuk melakukan semua hal. Meskipun kegagalan bisa saja terjadi, namun dalam menjalankan sebuah bisnis, Ia berprinsip harus optimis dan kerja keras. “Segala sesuatu dapat kita kerjakan dan selesaikan selama kita yakin untuk bisa dan mau berusaha untuk menyelesaikannya,” tutup Herrieck.

Tahun Kelulusan: 04/09/2014
Woro Windrati (Ilmu Komunikasi 1999 & Magister Ilmu Komunikasi 2015)
Pembawa Acara Berita di Kompas TV

Komunikasi ibarat Lifeblood

 

Komunikasi itu ibarat lifeblood dari sebuah organisasi, individu dan masyarakat. Demikian dikatakan Woro Windrati, Presenter Kompas TV, alumni Ilmu komuniksi UPH. Karenanya menarik untuk didalami apalagi saat ini industry broadcasting sedang berkembang pesat. Masyakarakat tidak hanya mendapat informasi dari media konvensional seperti televisi dan radio tapi online melalui jaringan internet/ internet broadcast.

Dengan komunikasi yang baik diharapkan pesan mampu tersampaikan dengan baik ke masyarakat. Ditambah dengan kode etik jurnalistik, yang mengharuskan informasi berimbang, sehingga penerima pesan mendapat informasi yang cover both side. Lebih lanjut Woro mengungkapkan, untuk mampu bersaing di bidang broadcasting, diperlukan kreatifitas tanpa batas. Melihat apa yang menjadi kebutuhan masyakarat sekaligus keresahan dalam masyakarakat.

Apa yang ia lakukan melalui profesinya, tidak terlepas dari bekal belajar di Ilmu Komunikasi UPH. Woro merasa bangga karena berkesempatan menempuh pendidikan S1 dan S2 nya di UPH. Ia merupakan alumni UPH untuk program studi Ilmu Komunikasi 1999 dan Magister Ilmu Komunikasi UPH 2015. Bagi Woro, saat S1 tentu masih lebih banyak dasar dan teori yang Ia pelajari. Namun saat S2 tahun 2015-2018, materi yang diberikan oleh pengajar lebih mudah untuk langsung diaplikasikan ke dalam industrinya saat ini.

Selain menjadi presenter, moderator dan MC, Woro juga bertanggung jawab sebagai Produser Program Buletin News Kompas TV. Beberapa program yang pernah Ia jalani, seperti Kompas Siang, Kompas Petang, Sapa Indonesia Siang dan Kompas Pagi. Kegiatan lainnya yang rutin Ia lakukan adalah menjadi dosen di STIKOM Interstudi, untuk konsentrasi Broadcasting dengan mata kuliah yang berhubungan dengan Presenting dan Produksi Televisi.

Tahun Kelulusan: 13/03/2018
Banyak hal yang dulu saya pelajari, diantaranya membuat visi-misi, strategi marketing, konsep bisnis, finansial, business positioning, target market, promotion plan, hingga ke development plan.
Jessica Novia
Pemilik La Madame Florist

Pola Pikir yang Positif, Modal Kuat Memulai Bisnis

 

Berawal dari kesukaan pada bunga, lama kelamaan menjadi passion, sehingga akhirnya memunculkan ide untuk memulai mengembangkan bisnis florist. “Saya tuh senang kalo dikasi bunga untuk berbagai macam occasion seperti birthday atau valentine. Juga kalo lagi travelling keluar Indonesia, suka kunjungi florist shop”, ungkap Jessica Novia, Alumni Manajemen UPH 2007.

Bagi Jessica, pola pikir yang positif menjadi modal kuat untuk memulai sebuah bisnis. Hal itu yang menjadi acuan Jessica dalam mengembangkan usahanya, La Madame Florist, hingga masuk dalam rekomendasi florist terbaik di Jakarta. “Secara konkrit, business plan harus dipersiapkan dengan matang untuk mewujudkan bisnis yang akan kita mulai,” ungkap Jessica yang mengaku sudah mempelajari ilmu ini ketika kuliah di Business School UPH – Management Entrepreneur.

Ia mengaku, materi yang diajarkan dan juga diterapkan, secara kalkulasi yang real dan sangat relatable dengan real business yang saat ini Ia jalani.

“Banyak hal sih yang dulu saya pelajari, diantaranya membuat visi-misi, strategi marketing, konsep bisnis, finansial, business positioning, target market, promotion plan, hingga ke development plan, dll.,” ungkapnya.

Dalam aplikasinya, setiap bisnis tentu ada tantangannya. Secara internal, bunga yang digunakan adalah fresh flower jadi life timenya tidak terlalu panjang. Sehingga segala sesuatu yang dipersiapkan harus terukur secara matang berdasarkan perhitungan dan antisipasi, untuk menghindari atau mengurangi kerugian. Termasuk didalamnya quality control mulai dari order-produksi-hasil akhir. Sedangkan secara eksternal, yakni competitor, bisnis yang terlihat fancy banyak diminati pemain baru, sehingga sekarang ramai muncul florist baru baik itu online maupun offline store.

Namun munculnya kompetitor menjadi hal yang alami bagi Jessica. Karenanya, untuk dapat bertahan dalam bisnis ini diperlukan inovasi, dan tetap mengutamakan standard quality control yang baik. Dengan terus berinovasi, La Madame Florist mampu menghasilkan produk-produk baru yang tidak membosankan, mengikuti permintaan pasar, dan menjadi trend setter untuk bisnis florist.

Tahun Kelulusan: 26/08/2011
Apakah bisa kita berinovasi tanpa tahu rules dasar atau fondasi yang kuat secara akademik di filmmaking itu sendiri? Saya rasa tidak mungkin. Untuk itu sangatlah penting pendidikan formal.
Giovanni Junius Rustanto
Filmmaker

Jebolan DKV UPH Sukses Sebagai Filmmaker Hingga di Mancanegara

 

Memiliki banyak prestasi di bidang produksi film merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Giovanni Junius Rustanto, alumni Desain Komunikasi Visual UPH 1999. Bagaimana tidak, di industri film yang sedang Ia jalani, penolakan-penolakan seringkali terjadi. Namun Gio, biasa Ia dipanggil, tetap konsisten dan tidak menyerah serta kuat secara mental. Baginya, penolakan dan kesalahan dalam filmmaking adalah guru no 1 untuk Ia lebih berkembang.

Sederet nominasi dan penghargaan diraih Gio, seperti Top Indie Film Awards, European Film Festival Mainstream and Underground, Go Debut Film Festival, Bucharest Shortcut Cinefest, Asia South East-Short Film Festival, dan lain-lain. Gio mengungkapkan prestasi yang paling berkesan yakni ketika filmnya mendapatkan nominasi dalam ajang Go Debut Film Festival 2018, di Lithuania. Film berjudul ‘Maria’ Ia buat dengan budget kecil, dari hasil mengikuti workshop kecil selama sebulan di Praha, Ceko. Saat itu, Gio masih belum belajar secara detail tentang filmmaking, jadi masih berstatus mahasiswa S2 di FIOFA, Ohrid, Macedonia yaitu sekolah film kecil di bawah naungan FAMU Prague. Tetapi sayangnya sekolah itu tutup karena kondisi politik di sana tetapi Gio tidak menyerah dan lalu Ia diterima di salah satu universitas prestigious yaitu Columbia University School Of The Arts, New York, America untuk S2 Film specialized Scriptwriting and Directing.

Selain aktif sebagai Writer & Director Film Maker, Gio juga mempunyai kelas kecil bernama Sinema5 yang mengkhususkan bagi orang-orang yang ingin membuat film mulai dari ide cerita, menulis scenario, sampai menghasilkan film yang berfokus pada skala film pendek dengan budget kecil. Selain itu, saat ini Ia juga sedang menyiapkan untuk menulis film pendek selanjutnya dan menulis film Panjang. Lily Of The Valley yang merupakan film pendek indie Indonesia pertamanya. Filmnya sekarang sedang didistribusikan ke festival luar negeri dan Indonesia sendiri.

Sebagai profesional filmmaking, Gio mengungkapkan pentingnya pendidikan formal untuk mempersiapkan masuk ke dunia profesional, termasuk bersikap profesional seperti, melakukan pitching untuk ide supaya bisa mendapatkan investor, atau untuk menulis scenario dalam format atau narasi yang sudah works atau enjoyable di mata penonton orang awam, yang mana itu semua sangat diajarkan secara akademik.

“Intinya, boleh saja kita sebagai filmmaker, atau seniman, untuk breaking the rule atau istilahnya berinovasi dalam filmmaking, tetapi apakah bisa kita berinovasi tanpa tahu rules dasar atau fondasi yang kuat secara akademik di filmmaking itu sendiri? Saya rasa tidak mungkin. Untuk itu sangatlah penting pendidikan formal,” tegasnya.

Ia bersyukur pernah merasakan kuliah di DKV UPH. Satu-satunya universitas yang memberikan kenyamanan untuk belajar baik itu di perpustakaan, lingkungan, pengajar, dan staff yang menurutnya sudah memenuhi standard international sebagai sebuah Universitas yang sangat credible. UPH juga mengajari untuk berkomitmen dalam mengerjakan sesuatu seperti waktu dulu kuliah DKV yang dihadapkan dengan deadline-deadline tugas yang secara tidak langsung akan kita hadapi nanti di dunia perindustrian kreatif itu sendiri, bukan hanya film saja tapi juga industry kreatif lainnya. Dan yang terpenting bagi Gio, UPH membekalinya untuk berpikir sebagai innovator bukan hanya pekerja saja. Pemikiran ini yang Ia butuhkan untuk menjadi seorang filmmaker yang lebih berpotensi.

Tahun Kelulusan: 06/09/2007
Kuncinya syukur. Karena dengan bersyukur, semua hal yang baik maupun yang kita anggap yang buruk dapat dijalani dengan baik.
Stefanie Hartanto (Hukum 2003, Doktor Hukum 2014)
Notaris dan PPAT Kabupaten Tangerang

Gali Diri dan Temui Passionmu

Diusia muda yakni 32 tahun, Stefanie Hartanto, berhasil menyandang gelar Doktor Hukum. Lulus Ilmu Hukum UPH 2007, dan langsung kembali melanjutkan studi hingga berhasil menyelesaikan studi doktoral di program Doktor Hukum UPH pada tahun 2018. Saat ini Stefanie berprofesi sebagai Notaris dan PPAT di Kabupaten Tangerang, yang mana salah satu tugasnya adalah membuat akta otentik. Menjadi Notaris dan PPAT merupakan cita-cita Stefanie yang sudah dicita-citakan sejak SMA. Walaupun profesi ini berat, harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian berdasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku, namun Stefanie meyakini profesi ini sangat mulia. Karena Notaris dan PPAT memegang kepercayaan yang diberikan klien serta harus dapat bertindak netral dan tidak memihak. Untuk sampai menjadi Notaris dan PPAT, bukanlah perjalanan yang singkat. Harus melalui beberapa tahapan. Setelah lulus dari UPH, Stefanie harus mengambil Magister Kenotariatan, menjalani magang, mengikuti ujian kode etik, dan beberapa tahapan lainnya. “Oleh karena itu, sebelum memutuskan menjadi Notaris dan PPAT, harus terlebih dahulu mengetahui passion dari diri sendiri. Jika sesuai passion, maka sepanjang apapun perjuangan yang harus ditempuh akan terasa pendek dan ringan. Kuncinya syukur. Karena dengan bersyukur, semua hal yang baik maupun yang kita anggap yang buruk dapat dijalani dengan baik,” Ungkap Stefanie, merujuk quotes favoritenya “A grateful heart is magnet for miracles”. Melalui profesinya, Stefanie bersyukur bisa memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan juga untuk Indonesia. Salah satunya berkontribusi memajukan perekonomian negara, melalui pembuatan akta pendirian badan hukum untuk pendirian PT. Sebagai PPAT, Stefanie juga berkontribusi membantu pemerintah dalam hal tertib administrasi pertanahan, yaitu dengan membuat akta peralihan hak dan melakukan proses balik nama. Karenanya Stefanie bersyukur memiliki kesempatan untuk berkuliah di UPH yang banyak mengajarkan hal-hal practical. UPH juga sangat mendukung kegiatan berorganisasi mahasiswa, yang membawa dampak positif saat memasuki dunia kerja, ungkap Stefanie.

Tahun Kelulusan: 12/09/2018
Kita harus menyelesaikan apapun yang kita lakukan dengan hasil dan kualitas yang terbaik.
Timothy Joseph Inkiriwang (Hukum 2002)
Senior Associate di Dentons HPRP

Pembentukan Karakter di UPH Berperan Penting dalam Karier

 

Timothy Inkiriwang, alumni Ilmu Hukum UPH 2002, hadir sebagai narasumber dalam acara Alumni Sharing di rangkaian UPH Festival 2019 lalu. Di depan seluruh mahasiswa baru Fakultas Hukum Angkatan 2019 selain berbagi perjalanan kariernya yang kini menjadi Senior Associate di Dentons HPRP, Timothy juga menekankan bahwa pembentukan nilai (value) diri yang Ia peroleh di UPH berperan penting dalam kehidupan dan kariernya.

Timothy, yang juga student athlete UPH Eagles ketika berkuliah, mengakui bahwa pembentukan value pribadi selama di UPH menjadi hal yang sangat penting dan jarang bisa didapatkan di tempat-tempat lain. Ia merasa UPH berperan dalam membentuk karakter dan mentalnya melalui seluruh proses yang ia alami selama berkuliah, termasuk didalamnya para dosen, staf, maupun personil lainnya yang melayani di UPH. Salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan ini adalah pelatih basket Stephen Metcalfe, yang hingga sekarang masih setia melayani di UPH sebagai Direktur dari UPH Sports and Wellness Center serta pelatih tim basket UPH Eagles.

Pelatihnya selalu mengingatkannya untuk do everything in excellence. “Mengerjakan segala sesuatu itu fokusnya bukan untuk dapat uang atau benefit lainnya, melainkan kita bekerja karena kita memang pekerjaan itu sudah merupakan tanggung jawab kita. Kita harus menyelesaikan apapun yang kita lakukan dengan hasil dan kualitas yang terbaik,” katanya. Prinsip inilah yang dia pegang hingga sekarang, dan menurutnya, klien dan rekan-rekan kerja dapat melihat perbedaan antara orang yang mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati atau tidak.

Dosen pembimbingnya saat berkuliah di Fakultas Hukum UPH juga mengajarkan Timothy value penting, yaitu bagaimana cara mengatur prioritas. Sebagai student athlete, Timothy sempat hampir menunda kelulusannya selama satu tahun agar dapat ikut membela tim UPH di Libamanas (Liga Basket Mahasiswa Nasional) pada tahun berikutnya. Namun, berkat arahan dosen pembimbingnya, Ia akhirnya memilih lulus tepat waktu sebagai prioritas.

Dengan pengalaman ini, Timothy berharap kepada seluruh mahasiswa baru yang hadir untuk mampu menikmati masa perkuliahan sambil tetap mengutamakan tugasnya yaitu belajar dan mengatur prioritas dengan baik. Bagi Timothy, kehadiran alumni-alumni setelah sekian lama telah lulus, dan kemudian membagikan cerita tentang bagaimana UPH mengubah hidup mereka menjadi bukti nyata akan kontribusi UPH terhadap insan-insan penerus bangsa.

Tahun Kelulusan: 24/10/2007
Melalui profesi saya saat ini saya juga ingin berdampak bagi masyarakat dengan cara memberikan informasi yang layak, valid, dan benar kepada masyarakat.
Raden Mas Panji Suryono (Ilmu Komunikasi 2005)
Pembawa Berita & Produser Olahraga di NET TV

Semangat Berdampak bagi Masyarakat Jadi kekuatan Ilkom UPH

 

Godly Character dan semangat memberikan dampak terhadap masyarakat merupakan value UPH yang masih dipegang hingga saat ini oleh Raden Mas Panji Suryono, Alumni Ilmu Komunikasi – Broadcasting UPH, 2005. Panji, begitu biasa dia dipanggil, saat ini sedang meniti karirnya sebagai Sport Produser sekaligus News Anchor di salah satu stasiun TV ternama Indonesia yaitu, Net TV.

“Godly Character membuat saya sadar bahwa meskipun kita sudah berusaha penuh untuk mencapai kesuksesan, jika tidak ada campur tangan dari Tuhan maka kesuksesan itu tidak akan terjadi. Melalui profesi saya saat ini, selain untuk mengejar kesuksesan, saya juga ingin berdampak bagi masyarakat dengan cara memberikan informasi yang layak, valid, dan benar kepada masyarakat,” ungkap Panji. Selain value yang ditanamkan UPH, Panji juga mengakui bahwa teori-teori yang dipelajari selama kuliah juga turut berperan dalam karirnya saat ini. Seperti mata kuliah dasar Jurnalistik yang mengajarkan cara mencari berita, bertemu dengan narasumber, dan cara berkomunikasi dengan setiap orang yang berbeda. Tidak hanya itu, seluruh proses kuliah yang ia alami juga mengajarkannya untuk memiliki daya kompetitif yang kuat namun tetap dengan cara sehat dan profesional. Seluruh hal ini sangat berguna bagi Panji untuk bertahan di dunia kerjanya hingga saat ini.

Meskipun sudah sukses berkarier di bidang Jurnalistik, nyatanya Panji masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang terbesar adalah dalam menghadapi generasi millennial yang ingin mendapatkan segalanya dengan serba cepat dan mudah. “Sejak menjadi Produser, saya memiliki junior-junior yang berasal dari generasi millennial dan ternyata sangat sulit untuk memahami generasi ini. Mereka suka tidak fokus dalam bekerja, dan ingin semuanya serba instan. Namun, saat ini saya sedang belajar untuk mendekati mereka, sekaligus menjadi lebih fleksibel agar dapat sesuai dengan mereka,” tutur Panji. Diakhir interview, Panji tidak lupa memberikan pesan kepada para mahasiswa-mahasiswa UPH bahwa Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk berada diatas atau dibawah. Jangan selalu ingin yang serba instan, nikmati saja prosesnya.

Tahun Kelulusan: 04/03/2012
Di UPH, saya banyak belajar terutama mengenai hukum tata negara. Dan saat ini ilmu tersebut cukup membantu saya dalam memahami struktur pemerintahan dan hubungan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Anthony Winza Probowo (Hukum 2007)
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI

Bekerja dengan Integritas Walau Banyak Tekanan

 

Namanya masuk sebagai Anggota DPRD DKI Jakarta 2019-2024 mewakili Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Anthony Winza Probowo, alumni Fakultas Hukum UPH 2007, dipercaya sebagai Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, dan Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bappemperda DPRD DKI Jakarta). Aktifitas kesehariannya, menyerap aspirasi masyarakat dan menerjemahkannya kedalam bentuk Peraturan Daerah, pengawasan terhadap eksekusi dari program pemerintah daerah, dan pengawasan terhadap kinerja perangkat daerah serta BUMD-BUMD terkait di DKI Jakarta.

Bekerja di pemerintahan, diakuinya, sudah menjadi visinya sejak sekolah di bangku Sekolah Dasar. Bahkan visi tersebut Ia yakini diberikan Tuhan, dan percaya bahwa memang ini jalan yang harus Ia tempuh. Walau banyak celaan dan tekanan diantaranya karena Ia juga merupakan double minority (keturunan Tionghoa dan Kristiani), namun alumni Sarjana Ilmu Hukum UPH 2007 ini tidak pantang mundur. Ia tetap semangat melangkah maju untuk melayani masyarakat, menjadi terang dan tentunya memberikan dampak yang besar dalam kancah perpolitikan.

Berbekal pendidikan Sarjana Hukum di UPH dan studi Master Hukum di Georgetown University Law Center, Washington, Amerika Serikat melalui beasiswa penuh dari Pemerintah RI, Anthony meyakini mampu menjalankan perannya di lembaga legislatif. “Di UPH, saya banyak belajar terutama mengenai hukum tata negara. Dan saat ini ilmu tersebut cukup membantu saya dalam memahami struktur pemerintahan dan hubungan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” Ungkapnya. Anthony Winza cukup aktif dalam lomba debat di UPH, Ia sempat menjadi Juara 1 di berbagai Kompetisi Debat Hukum, diantaranya Kompetisi Debat Hukum di Mahkamah Konstitusi RI dan Di UNPAD serta Debat Hukum di Universitas Indonesia.

Dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, satu values yang terus Ia pegang adalah integritas. Baginya, semakin kita mencoba untuk bekerja dengan integritas, kita akan sering menemukan tekanan. “Bagaikan ikan salmon yang melawan arus, tidaklah mudah, namun kita harus tetap bertahan sampai akhir. Jangan sampai tekanan dan arus membuat kita pesimis dan takut bahkan berbelok mengikut arus, Iman tidak cukup dengan keyakinan semata namun harus ada bagian atau peran kita untuk dikerjakan. Sama halnya ketika Daud mengalahkan Goliat. Daud tetap harus mengambil perannya dalam melemparkan batu kecil itu kepada Goliath. Perkara apakah batu kecil mampu membunuh Goliath itu urusan Tuhan, namun Daud tetap perlu mengambil perannya dalam iman untuk melemparkan batu kecil tersebut,” ungkap Anthony.

Tahun Kelulusan: 21/03/2011
Hal yang paling penting adalah tidak jumawa akan keberhasilan, karena bisa saja ada orang yang melakukan hal tersebut dengan lebih baik. Bersikaplah rendah hati dan mau terus belajar.
Abe Gracia Vallerian (Matematika Aktuaria dan Terapan 2011)
Senior Data Scientist di Tokopedia

Tingkatkan Pelayanan Customer Dengan Pengolahan Data

Saat ini data merupakan salah satu hal yang penting dalam keberlangsungan hidup suatu perusahaan, terutama bagi perusahaan berbasis online. Data sangat diandalkan oleh Perusahaan e-commerce dalam meningkatkan pelayanannya dan memberikan kemudahan bagi customer. Contohnya, pencarian dan pembelian yang dilakukan oleh customer, memiliki jumlah yang sangat banyak dan tidak memungkinkan untuk mencari polanya secara manual. Untuk mengolah data dan mencari pola dalam kapasitas yang sangat besar, diperlukan model matematika, karena itu peran seorang Data Scientist sangat diperlukan.

Abe Vallerian, Alumni Matematika Terapan UPH 2011, yang berkiprah di bidang riset dan pengolahan data menceritakan tugasnya sebagai seorang Data Scientist. “Tugas saya adalah memberikan kemudahan bagi customer dalam menemukan produk yang mereka inginkan atau butuhkan. Caranya dengan membuat model matematika yang berdasarkan pada data untuk meningkatkan pelayanan kepada customer,” tutur Abe – Senior Data Scientist di Tokopedia.

Abe menceritakan tugas utamanya di Tokopedia, lebih mengarah pada riset. Pekerjaan ini tidak mudah, bahkan terkadang tidak berjalan dengan yang diharapkan. Selain itu, karena pengetahuan berkembang cepat, ketekunan sangat diperlukan untuk aktif mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi. Baik lewat jurnal atau artikel akademik, mencari model yang lebih efektif serta mengaplikasikan model tersebut. “Saya juga banyak berdiskusi dengan tim bisnis atau produk untuk membahas hal yang dapat meningkatkan performa model ataupun inisiatif-inisiatif baru yang dapat membantu customer,” tambah Abe, yang pernah meraih medali emas bidang Matematika pada Olimpiade Nasional MIPA 2014.

Soft skills dan ilmu matematika merupakan dua hal penting bagi Abe dalam perjalanan kariernya. Ilmu matematika yang diperoleh selama menempuh studi di UPH merupakan fondasi utama dalam profesinya. Matematika sangat dibutuhkan dalam memahami cara kerja metode, model, dan cara untuk mengaplikasikannya.

Melalui perjalanan kariernya ini, Abe mengaku mendapatkan banyak pelajaran yang berguna bagi hidup dan kariernya. “Hal yang paling penting adalah tidak jumawa akan keberhasilan, karena bisa saja ada orang yang melakukan hal tersebut dengan lebih baik. Bersikaplah rendah hati dan mau terus belajar,” tandas Abe.

Tahun Kelulusan: 13/03/2015
Di UPH saya belajar soal integrity. Culture dan value yang bagus yang ditanamkan UPH dari awal, terus saya terapkan.
Cynthia Tenggara
CEO dan co-Founder Berry Kitchen & Head of Orami Parenting

Mengubah Masalah Jadi Peluang

 

Berry Kitchen bermula dari kesulitan Cynthia, alumni UPH Ilmu Komunikasi 2003, setiap kali mencari makan siang saat masih bekerja di kantoran. Cynthia yang picky eater, kebiasaan pilih-pilih makanan, mengaku harus mencari alternatif katering yang sesuai dengan seleranya. Namun saat itu pilihannya terbatas dan cenderung mahal. Belum lagi dulu ia pernah survey ke pasar-pasar dan mendapati bahwa 90% produk tahu/ mie/ bakso/ teri itu kebanyakan mengandung formalin. Berangkat dari pengalaman itu, ia mencoba untuk menghadirkan solusi. Hingga lahirlah ide katering online dengan budget terjangkau, praktis (menu bisa di mix and match), mudah dan food safetynya terjamin. Berry Kitchen berkembang pesat dan eksis sejak tahun 2012 hingga saat ini dan pada tahun 2019 resmi berganti nama menjadi Yummy Box, dengan jangkauan dan produksi yang lebih besar. Hingga saat ini Berry Kitchen sudah dikenal dan dipercaya oleh banyak startup besar, diantaranya yaitu tokopedia, tiket dan traveloka. Selain mengelola dan mengembangkan Berry Kitchen, Cynthia juga berkarir di Orami (parenting).

Menjadi sukses seperti saat ini tentu ada tantangan tersendiri yang ia hadapi. Apalagi, menurutnya, di dunia teknologi ini pemain wanitanya sedikit. “Kuncinya kita harus keeping the integrity in business world,” tegasnya. Integritas merupakan karakter yang ditanamkan saat ia kuliah dan terus dipegang sampai di dunia kerja dan bisnis. “Di UPH saya belajar soal integrity. Saya mendapat beasiswa dan nilai bagus bukan karena memberikan sogokan ke dosen. Culture dan value yang bagus yang ditanamkan UPH dari awal, terus saya terapkan,” ungkap Cyntia.

Tahun Kelulusan: 09/03/2007
Bertanggungjawab dan always learning something new from everyone around you.
Nadia Saphira Ganie
Pengacara dan Associate di Bayuputra Ganie and Partners

Meninggalkan Dunia Keartisan, Fokus sebagai Pengacara dan Pengusaha

 

Jika melihat perempuan cantik satu ini, tentu sudah tidak asing lagi karena dulu sering muncul di layar televisi. Meninggalkan dunia keartisan, Nadia Saphira Ganie, alumni Ilmu Hukum UPH 2006, kini menekuni dua profesi sekaligus yakni pengacara dan pengusaha. Ia menjadi partner dalam firma hukum Bayuputra Ganie and Partners serta menjalankan beberapa bisnis yakni tempat olahraga Breathe Studio dan klinik kecantikan ID Beauty Clinic Indonesia. Untuk studio olahraga dan beauty clinic adalah hal yang sangat Nadia sukai. Karenanya Ia senang setiap kali kunjungan ke kantor untuk meeting mingguan. Hal yang sama juga Ia rasakan ketika mendampingi beberapa klien yang Ia pegang sebagai seorang pengacara.

Awal tahun 2019, Breathe Studio sering mengadakan charity events, dalam bentuk sumbangan barang-barang kepada korban bencana alam yang ada di Indonesia. “Dulu waktu awal kerja dikantor hukum, banyak orang meremehkan karena masa lalu saya sebagai artis terus sekarang merubah karirnya ke dunia hukum. Menyikapinya, saya percaya bahwa semua pelajaran hidup akan menyiapkan saya kepada apa yang saya berikan di masa depan. Bertanggungjawab dan always learning something new from everyone around you”, ungkap Nadia.

Menjadi seperti saat ini, Nadia tak lantas berpuas diri. Ia merasa masih perlu untuk belajar lagi. Sebagaimana pembelajaran yang Ia dapatkan ketika kuliah di UPH, belajar hukum itu merupakan perjalanan yang panjang dan kadang berliku. Namun Nadia tidak lelah untuk melakukannya dengan tekun.

Tahun Kelulusan: 21/03/2011
UPH jadi tempat ‘life changing’ bagi saya, karena saya mendapat beragam nilai-nilai kehidupan, pendidikan, pengalaman keorganisasian, leadership skill, dan kerohanian.
Ryo S. Limijaya
Kepala Sales and Marketing at Anomali Coffee

Perlu Berkontribusi, Karena UPH Menjadi Tempat yang Merubah Saya

 

Ryo Saputra Limijaya, Alumni Hubungan Internasional UPH 2008, yang kini berkarier di jalur profesional sebagai Head of Sales and Marketing di Anomali Coffee menyatakan pentingnya mengetahui potensi utama dan bidang yang disukai sebelum bekerja. Menurut Ryo, ketika 2 hal ini diketahui, maka pekerjaan itu akan menjadi kesenangan dan kontribusi yang diberikan juga lebih besar. “Selain saya tahu saya ingin bekerja di bidang food and beverages, saya juga tahu saya suka semua tentang Indonesia. Ini alasan saya pilih HI ketika berkuliah, cita-cita awal saya ingin jadi diplomat negara. Tapi ketika saya berkarier di Anomali, saya pun jadi seorang diplomat. Diplomat kopi tepatnya – mempromosikan kopi Indonesia ke dunia,” papar Ryo.

Tak kalah penting, menurut Ryo, ketika ingin berkarier setiap orang seharusnya punya growth mindset. Artinya tidak hanya sekedar bekerja dan mengerjakan jobdesk yang ada. Namun harus punya kemauan menerima tantangan dan pekerjaan yang diberikan dengan sebaik mungkin, bekerja dengan maksimal. Modal ini yang harus ada ketika seseorang ingin berada di jajaran top of management. Selain itu, Ryo yang pernah menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa tahun 2010/2011, merasa senang karena bisa kembali ke UPH dan membagikan sesuatu kepada juniornya sebagai pembicara atau dalam sharing session.

“Saya senang masih bisa berkontribusi untuk UPH. UPH jadi tempat ‘life changing’ bagi saya, karena saya mendapat beragam nilai-nilai kehidupan, pendidikan, pengalaman keorganisasian, leadership skill, dan kerohanian. Saat itu kampus jadi tempat saya menghabiskan waktu terbanyak. Jadi It’s a good thing to share pengalaman dan apa yang saya punya kepada teman-teman yang masih kuliah serta menjalin relasi baik dengan para dosen dan staff di UPH,” ungkap Ryo.

Tahun Kelulusan: 02/03/2012
Arsitektur bukan sekadar ilmu, tapi ilmu yang dipraktikkan.
Yogi Ferdinand
Pendiri Magi Design Studio

Arsitektur Bukan Sekadar Ilmu, Tapi Ilmu yang Dipraktikkan

Tumbuh dan berkembang di dunia arsitektur membuat Yogi Ferdinand menyadari bahwa ilmu ini harus dipraktikkan bagi kepentingan orang banyak. Alumni Arsitektur UPH 2003 ini, sudah berpengalaman mengerjakan berbagai proyek di bidang arsitektur. Banyak di antaranya mengangkat tema tentang ruang publik yang berdampak bagi orang lain. “Prinsip saya dalam arsitektur adalah membuat sebuah bangunan atau ruang publik yang sustainable, baik secara lingkungan maupun ekonomi. Jangan sekadar terlihat keren, tapi juga bisa berfungsi,” ungkap Yogi.

Karena passion yang kuat di bidang rancang bangunan, akhirnya Yogi memutuskan untuk membuat biro sendiri. Ia pun diajak bekerja sama dengan perusahaan Jerman dan Belanda yang melakukan ekspansi ke Indonesia. Mereka berfokus pada proyek-proyek pemerintahan. Perusahaan bernama SHAU ini berhasil memenangkan penghargaan internasional dengan proyek Microlibrary di Bandung. Dalam proyek Microlibrary, mengusung konsep perpustakaan sebagai ruang publik bersama yang menyenangkan dan berfungsi bagi masyarakat. Proyek ini dibangun menggunakan material kotak es krim bekas. Material ini dipilih salah satunya karena bisa memendarkan sekaligus memantulkan cahaya.

Kemudian tahun 2015, Yogi fokus mengembangkan biro arsitektur pribadi bernama Magi Design Studio bersama dengan istrinya. 5tahun berikutnya, Magi Design Studio sudah sangat membanggakan. “Kami sudah beberapa kali mendapat penghargaan diantaranya American Architecture Prize 2017 di New York, World Architecture Festival 2017 di Berlin, European Healthcare Design Award 2018 di London, dan World Architecture Festival 2018 di Amsterdam. Di Indonesia sendiri, Magi Design Studio masuk 100+ Indonesia Architecture Firms & Emergings selain saya pribadi diberi kehormatan untuk menjuri di World Architecture Festival Amsterdam 2019 dan World Architecture News di London 2020 walaupun harus secara online dikarenakan pandemi,” ungkap Yogi.

Semua pencapaian tersebut menurut Yogi, merupakan sebuah realisasi dari semua hal yang ia pelajari saat berkuliah di UPH. “Ketika saya masih mahasiswa, sering sekali kedatangan dosen tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, salah satunya dari Harvard. Saat itu beliau mengajarkan tentang kepekaan menjadi seorang arsitek. Contohnya, kami diajak untuk merancang bangunan dari sebuah puisi,” kenang Yogi.

Tahun Kelulusan: 06/09/2007
Kegagalan merupakan guru terbaik kesuksesan.
William
Penulis, Guru Akademis, Praktisi Komunikasi, Ambasador Siswa Internasional, Pembicara Publik

Kegagalan Merupakan Guru Terbaik Kesuksesan

 

“Saya tidak pernah malu mengakui kegagalan saya. Kegagalan tersebut saya anggap sebagai multivitamin dan juga guru terbaik. Saya percaya dibalik kegagalan tersebut selalu ada cerita sukses yang tertunda. Dan semua itu untuk membentuk dan mempersiapkan saya dimasa depan,” ungkap William, alumni Ilmu Komunikasi UPH 2008, yang berhasil menjadi penulis setelah tujuh kali ditolak oleh tujuh penerbit sebelum buku pertamanya diterbitkan. Perjuangan William tak hanya saat menulis buku, tetapi Ia juga pernah gagal sebanyak empat kali dalam upaya mendapatkan beasiswa studi lanjut di luar negeri. Hingga akhirnya mendapatkan beasiswa dari LPDP untuk studi lanjut di Perth, Australia Barat.

William mengungkapkan, tiga hal yang menjadi inti dari semua topik yang ia tuliskan dalam bukunya. Pertama, setiap dari kita berhak atas masa depan yang lebih baik. Kedua, kita berdaya untuk membuat perubahan positif di lingkungan sekitar kita asalkan kita mau mulai dari diri sendiri. Dan ketiga, kegagalan adalah guru terbaik dalam hidup kita. William ingin setiap pembaca bukunya selalu bersemangat, optimis, dan berdaya juang untuk mencapai kesuksesan dan kemudian berkontribusi bagi komunitas. Saat ini William sudah menulis tiga buku (dua buku tentang pendidikan dan satu buku tentang motivasi) dan berkontribusi sebagai co-author dari dua buku (mengenai pengembangan diri dan cerita pendek).

Melalui buku-buku yang Ia tulis, ada ratusan pembaca yang menghubungi William secara langsung untuk sekedar menyapa, berbagi inspirasi, dan mengatakan bahwa hal-hal yang Ia tulis mengena dalam benak mereka. Bagi William, ini yang merupakan satu kebanggaan yang tidak terbeli uang atau royalty. Bicara soal karir, sejak lulus dari UPH tahun 2012, ia sudah pernah menjalani bekerja di bidang komunikasi di beberapa perusahaan, seperti perusahaan multinasional, agensi digital, UMKM, dan asosiasi bisnis.

Perjalanan kariernya tidak terlepas dari proses belajar di kampus UPH, yang memberikan perspektif bahwa ilmu komunikasi merupakan transferable skills yang bisa digunakan dalam perannya sebagai profesional di berbagai perusahaan/organisasi, sebagai teman dan saudara bagi orang lain, dan lebih fundamental, sebagai seorang manusia. “Selain sebagai penulis, saya juga berprofesi sebagai Academic Tutor dan Student Ambassador. Mengenai hal ini, saya merasa bahwa memiliki perspektif komunikasi yang saya pelajari dari waktu saya di UPH sangat membantu saya dalam merancang pesan yang strategis dan membangun hubungan strategis dengan berbagai pihak,” ungkap William.

Tahun Kelulusan: 20/09/2012
UPH membangun karakter, disamping juga memperlengkapi saya dengan ilmu yang “up-to-date” membuat saya menjadi relevan ketika menyelesaikan kuliah di UPH.
Joshua A. Dharmawan
Direktur di PT Square Gate One, PT. Pembayaran Lintas Usaha Sukses (Espay Payment Gateway), PT. Mitra Pembayaran Elektronik (Saldomu)

Kunci Sukses Dimulai dari Diri Sendiri

Responsiblity begins with me” itulah kalimat yang pertama kali disampaikan Joshua, alumni Sistem Informasi UPH 1996, saat menceritakan kisah suksesnya. Kalimat itu, sampai saat ini masih terngiang dan menjadi pedoman Joshua. “Sejak awal saya masuk UPH pertama saya di sadarkan bahwa kesuksesan adalah dimulai dari tanggungjawab oleh diri sendiri. Bagaimana UPH membangun karakter, disamping juga memperlengkapi saya dengan ilmu yang “up-to-date” membuat saya menjadi relevan ketika menyelesaikan kuliah di UPH,” ungkapnya.

Tidak heran bila ia berhasil memimpin PT Square Gate One, hingga meraih penghargaan Best Financial Supply Chain Initiative, Application or Programme, dari The Asian Banker pada 4 Desember 2019 lalu. Perusahaan solusi teknologi informasi untuk perbankan yang didirikan Joshua bersama partner sejak tahun 2006 ini, kini merupakan market leader untuk solusi “Financial Supply Chain Management” di Indonesia dan Malaysia. Joshua termasuk dari sebagian kecil alumni yang masih berkarir pada industri yang sesuai dengan jurusannya sewaktu kuliah yaitu “manajemen informatika”. Kebangkitan ecommerce dan financial technology mendorong Joshua dan tim untuk memberikan solusi terhadap pasar. Salah satu bagian yang selalu digunakan yaitu di bidang pembayaran, sehingga pada Tahun 2015 ia memulai perusahaan yang kedua yaitu payment gateway, dengan nama produknya yaitu Espay.Payment Gateway (PT. Pembayaran Lintas Usaha Sukses) yang saat ini telah memperoleh ijin dari Bank Indonesia.

Perkembangan teknologi yang eksponensial, mengubah kebiasaan, gaya hidup, menciptakan bidang-bidang pekerjaan baru dan menghilangkan bidang-bidang pekerjaan yang lain, membuat situasi dan kebutuhan pasar menjadi “agile”. Kreatifitas, daya-juang, karakter yang bertanggungjawab dan berjiwa pemimpin yang melayani sangat dibutuhkan untuk membawa tim untuk menuju kepada milestone-demi milestone untuk memenangkan pasar. Joshua pun berharap UPH tetap relevan dan tetap mencetak pemimpin-pemimpin dengan karakter “responsibility begins with me”.

Tahun Kelulusan: 06/03/2002
Kampus UPH boleh dibilang menjadi rumah kedua bagi saya.
Fernando Sutanto (Usaha Perjalanan Wisata 2004)
Manajer Proyek di PT Multi Project Creative

Melayani dengan Hati

 

Bekerja di industri pariwisata sudah menjadi passion Fernando sejak lulus SMA. Pilihannya untuk melanjutkan studi di STPPH dirasa sangat tepat. Karena itu Ia memilih untuk kuliah di Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, angkatan 2004. Alasan awal memang karena fasilitas yang dimiliki kampus UPH ini sangat memadai. Namun, setelah masuk kelas, berinteraksi dengan teman-teman kuliah dan dosen, Fernando semakin merasa cocok. Para dosen di sini sangat dekat dengan mahasiswa. Sehingga kuliah menjadi suatu aktivitas yang membuat saya senang. “kampus boleh dibilang menjadi rumah kedua bagi saya,” kenangnya.

Ia juga melanjutkan selama kuliah di STPPH, Ia diajarkan untuk down to earth, peduli lingkungan sekitar, melihat yang kekurangan dan memberi/ melayani dengan hati. Pelajaran ini sangat terpakai dalam industri pariwisata. Karena apa yang kita jual dalam industri ini adalah service. Hal sederhana yang dapat dilakukan misalnya berikan senyuman. “Apapun respon dari customer tetap kita harus beri senyuman,” ungkap Fernando. Hal-hal diatas selalu Fernando terapkan dalam profesinya. Baik dulu saat Ia berkarir di MG Group maupun saat ini di PT Multi Project Creative.

Lebih lanjut, Fernando mengungkapkan, bekerja memang untuk dua hal, yaitu income dan juga jabatan. Namun, yang terpenting adalah passion. Fernando memulai karier dari yang level paling rendah, dan kini dipercaya pada posisi manager. Untuk itu Ia terus belajar, karena belajar itu sebuah proses. Bagi Fernando, apa yang telah Ia dapatkan di STPPH Ia kembangkan kembali di pekerjaannya.

Tahun Kelulusan: 04/10/2007
Lady Diandra
Project Lead Youth Co:Lab Indonesia di UNDP

Youth Co:Lab, Memberi Ruang untuk Anak Muda dapat Berkembang

Pengangguran masih menjadi masalah utama di Indonesia. Sebagai kaum intelektual, lulusan perguruan tinggi diutus untuk berkontribusi bagi bangsa. Panggilan inilah yang mendorong Lady Diandra, alumni Hubungan Internasional 2014 berkarir di UNDP. Berawal sebagai intern (2018-2019), dan kini dipercaya untuk bertanggung jawab dalam project regional Youth Co:Lab (YCL).

YCL merupakan project regional yang fokus untuk memberdayakan anak muda serta mencegah anak muda untuk jatuh kedalam kemiskinan melalui skema impact enterprise. Diadakan di lebih dari 20 negara yang berbeda, YCL membuat debutnya di tahun 2018 di Bali. YCL berawal dari incubator berbentuk bootcamp untuk anak muda di luar Jawa. Lady mengungkapkan, dari satu tahun ini, YCL berhasil melatih 15 anak muda, 10 ide bisnis, 20 partners, dan mendapatkan investasi lebih dari 300 juta, serta mendapat 1 award international. “Dan untuk project ini, saya lebih banyak berhubungan dengan kementerian-kementerian, pemerintah lokal, serta youth organizations di Indonesia khususnya daerah luar jawa. Namun tak jarang kami juga berkoordinasi dan berkumpul untuk workshop dengan UNDP Bangkok serta UNDP Country Offices lain yang juga mengerjakan hal yang sama,” ungkap Lady.

Bagi Lady, selama kuliah di UPH sangat membantu dalam karirnya saat ini. Khususnya lewat pelajaran di International Relations yang membuka wawasannya mengenai peran PBB di dunia dan Indonesia. Ditambah pengalaman dalam community service serta leadership dalam organisasi kemahasiswaan UPH. Karenanya moto atau nilai hidup yang sangat mendrive Lady adalah “Dare Greatly” dan Romans 5:3-4 “But not only that! We event take pride in our problems, because we know that trouble produces endurance, endurance produces character, and character produces hope”.

Tahun Kelulusan: 16/03/2018
Vinsensius Dicky Kangen
Facebook Dublin, Irlandia

Berkarir di Facebook Menghasilkan Kolaborasi dan Inklusivitas

Sebelum bergabung bersama Facebook di tahun 2019, Vinsen memulai karirnya di US-ASEAN Business Council (US-ABC) pada tahun 2017, dimana ia mempunyai peran untuk menjembatani hubungan antara pemangku kepentingan (stakeholders) dari pemerintah maupun sektor privat asal Asia Tenggara dan Amerika Serikat.

Berbicara mengenai bagaimana pekerjaan pertamanya membawa dirinya ke Facebook, Vinsen yang merupakan alumni dari UPH jurusan Hubungan Internasional 2011 mengatakan, “Di US-ABC, saya mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan Facebook, dimana saya belajar mengenai visi mereka yang progresif, kultur yang inklusif, dan tujuan baik mereka untuk komunitas. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari sebuah posisi untuk bekerja di kantor Facebook di Dublin.” Vinsen berkata bahwa salah satu hal terbaik dari pekerjaannya sekarang adalah kesempatan untuk berkolaborasi dengan rekan kerja satu perusahaan dari departemen-departemen berbeda seperti operations, product, public policy, dan engineering yang tersebar di seluruh dunia.

Berada di posisi saat ini tentu karena Vinsen fokus pada tujuan hidup, membangun relasi yang positif, dan selalu membuka diri untuk tantangan dan hal-hal baru. Di Facebook, dia selalu berusaha untuk mengedepankan lima nilai utama perusahaan tersebut, yaitu be bold, be open, move fast, focus on impact, dan build social value. “Nilai-nilai tersebut sangatlah cocok dengan cara kerja saya, yaitu fokus pada melayani apa yang dibutuhkan oleh komunitas, mengutamakan inklusivitas, dan mengedepankan efisiensi dan efektivitas di pekerjaan,” ungkap Vinsen.

Sebagai alumni, Vinsen juga membagikan pengalaman-pengalaman paling mengesankan selama mengemban studi Hubungan Internasional di UPH. Contohnya, ia mewakili UPH untuk ajang Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia ke-24 di Bandung pada tahun 2014 dan Harvard National Model United Nations (HNMUN) di Boston, Amerika Serikat pada tahun 2015. Selain itu, ia juga berkesempatan untuk memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPH selama periode 2013-2014. Di dalam ruang kuliah sendiri, akan selalu teringat baginya kesempatan untuk mendapat pengajaran dari praktisi dan ilmuwan politik terbaik Indonesia, seperti Prof. Aleksius Jemadu (Guru Besar HI di Indonesia), Bhatara Ibnu Reza (Komisioner Komisi Kejaksaan RI), dan Jerry Sambuaga (Wakil Menteri Perdagangan RI).

Tahun Kelulusan: 10/03/2015
Di sinilah proses communication skill dan leadership saya terasah.
Andrew T. Mogalana
Notaris dan PPAT Kabupaten Tangerang

Bekerja Pada Prinsip Kehati-hatian dan Seksama

Bagi Andrew T. Mogalana, alumni Ilmu Hukum UPH 2004, proses menjadi Notaris dan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) bukanlah perjalanan singkat. Harus melalui beberapa tahapan. Setelah lulus dari UPH, Andrew melanjutkan pendidikannya ke jenjang Strata Dua, magang, mengikuti ujian kode etik, dan beberapa tahapan lainnya. Ketika magang, Andrew betul-betul manfaatkan kesempatan dan waktu sebaik-baiknya.

“Saya beruntung mendapatkan mentor yang banyak memberikan kesempatan dan meng-encourage saya untuk selalu haus akan pengetahuan terbaru sesuai perkembangan jaman,” kata Andrew menceritakan pengalaman saat magang. Notaris/ PPAT pada prinsipnya adalah Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat Akta Otentik mengenai semua Perjanjian, perbuatan, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik. Bagi Andrew, marwah selaku pejabat umum harus dijaga. Prinsip kehati-hatian dan seksama, menjadi hal utama. Bekerja sesuai peraturan perundang-undangan, menjalankan kode etik dengan baik dan konsisten, selalu menjadi pegangan dalam menjalankan profesinya.

Untuk menjadi seorang yang berintegritas, Andrew mengaku didapat sejak kuliah di FH UPH. Di antaranya dari mata kuliah Leadership dan Communication Skill yang memberikan dampak besar baginya. Tak hanya itu, ketika kuliah Andrew manfaatkan kesempatan untuk aktif di organisasi Senat Fakultas maupun Universitas. Dulu Ia memulainya dengan mengikuti organisasi BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) mewakili fakultas hukum. Selanjutnya Ia juga aktif di Senat Mahasiswa Fakultas Hukum sebagai Ketua Senat. “Di sinilah proses communication skill dan leadership saya terasah,” tutup Andrew.

Tahun Kelulusan: 30/03/2009
Fasilitas UPH sudah sangat berbeda jauh dari pada dulu, banyak mencetak prestasi, memiliki kerja sama dengan banyak organisasi hukum seperti kantor hukum, dan lainnya.
Robbyson Halim
Notaris dan PPAT

Menjadi Notaris Yang Beritikad Baik

Masuk pada tahun 1997, Robbyson Halim, S.H., M.Kn. menempuh pendidikan S1 di Universitas Pelita Harapan, dan melanjutkan kembali pendidikan S2 di UPH. Setelah lulus, dia bekerja di kantor notaris selama 12 tahun dan setelah itu mengajukan diri untuk menjadi notaris di Depok sampai pada akhirnya akan mengajukan permohonan pindah ke Jakarta. Robby merasa pekerjaannya sebagai notaris sangat challenging dan tidak jauh berbeda dengan tingkat kesulitan yang ada di Law firm pada umumnya.

“Notaris tidak boleh memihak, sebagai seorang notaris juga kita harus menciptakan balance, di mana kita bisa menjadi penengah ketika ada masalah yang muncul. Ini juga salah satu tantangan sebagai notaris,” tambah Robby. Selain itu menurut Robby, adanya banyak perubahan-perubahan regulasi yang sering terjadi juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Di mana ia harus memahami regulasi tersebut dan menerapkannya untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai notaris. Disebutnya hal ini sebagai tantangan sekaligus kebanggaan.

Selain tantangan, Robby juga bercerita bahwa alasannya menjadi notaris karena dia merasa cocok dengan lingkup kerja yang ada di bidang notaris. Menurutnya yang paling menarik menjadi notaris yaitu ketika bisa membuat kedua belah pihak setuju dan menciptakan suatu kesepakatan, sehingga akhirnya mampu menghindari konflik. “Sebagai notaris, kita kerja harus rasional dan mengutamakan servis bukan uang, karena jika kita fokus kepada uang pasti akan mengubah sikap kita, dan jangan lupa bahwa yang utama adalah hubungan dengan Tuhan Karena jika para pihak tidak punya itikad baik maka pasti perkara yang ada akan tetap terjadi konflik dan sulit tercapai kesepakatan hingga akhirnya harus melalui proses di pengadilan” Tuturnya.

Setelah menjadi seorang notaris, Robby sebagai alumni FH UPH merasa pencapaiannya tidak terlepas dari beragam pengalaman berharga yang didapatnya sejak kuliah hingga bekerja. Melihat UPH saat ini, Robby melihat UPH begitu berkembang.  “Fasilitas UPH sudah sangat berbeda jauh dari pada dulu, banyak mencetak prestasi, memiliki kerja sama dengan banyak organisasi hukum seperti kantor hukum, dan lainnya. Karena untuk mendukung lulusannya terserap di kantor hukum, universitas perlu menunjangnya melalui kerja sama yang terjalin dengan kantor hukum tersebut. Kalau tidak akan sulit, dan UPH telah memilikinya. Jika mengingat pengalaman saat kuliah, banyak mata kuliah yang pastinya bermanfaat. Contohnya saat saya belajar bahasa Belanda, pengalaman ini menarik sekaligus menantang. Ilmu hukum di Indonesia merupakan peninggalan dari Belanda, sehingga banyak istilah yang masih bahasa Belanda. Jadi kita dulu mahasiswa diajak untuk mengerti, paling tidak pengucapan dan artinya,” ungkap Robby.

Tahun Kelulusan: 05/10/2004
Yang terpenting kerjakan yang terbaik dari yang kita bisa lakukan, selebihnya rencana Tuhan lah yang terjadi atas kita.
Andy Djojo Budiman (Magister Manajemen 2004)
CEO dan Co-Founder PT Sterling Tulus Cemerlang (STEM)

Bantu UMKM di Seluruh Indonesia Dengan Ciptakan iREAP – Software Berbasis Android

 

Pengalaman 17 tahun bekerja sebagai IT professional, membuat Pria lulusan Magister Manajemen UPH 2004 ini, terpanggil untuk memberikan kontribusi lebih besar kepada para pengusaha kelas menengah melalui pemanfaatan teknologi. Berangkat dari keinginan tersebut, Andy Djojo Budiman, Co-founder IREAPPOS.COM & STEM, tahun 2007 mendirikan PT Sterling Tulus Cemerlang (STEM), yang bergerak di bidang ERP (Enterprise Resource Planning), sistem integrasi untuk perusahaan, mulai dari order processing, inventory, purchasing, sampai manufacturing.

STEM sendiri fokus melayani di industry retail, manufacturing dan distribusi. “Target iREAP POS Lite untuk membantu usaha mikro dan kecil yang masih Mom & Pop store, yaitu yang masih ditungguin sama yang punya warung. Jadi penjual tinggal masukkan master barang di aplikasinya, bisa cek stock barangnya, laporan pembelian, penjualan, dan keuntungannya,” ungkap Andy. Tahun 2016 Andy mengeluarkan aplikasi android yang berbayar yaitu iREAP POS Pro. Aplikasi ini untuk pengusaha kecil yang sudah memiliki toko lebih dari satu dan bisa di cek langsung datanya dari rumah, melalui website. Tentunya bagi Andy, target market dari jasa ini adalah pengusaha kelas menengah, pengusaha mikro dan kecil (melalui iREAP POS Mobile Android, baik Lite ataupun Pro).

Selama 13 tahun membangun Sterling, tentu ada tantangan yang Andy hadapi, di antaranya bagaimana bisa membangun tim kerja yang siap pakai. “Maka tugas kami untuk membangun tim, misal melalui on the job training. Yang terpenting kerjakan yang terbaik dari yang kita bisa lakukan, selebihnya rencana Tuhan lah yang terjadi atas kita. Intinya muliakan Tuhan melalui pekerjaan yang kita lakukan”, ungkap Andy. Sebagai alumni dan juga pengurus dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA UPH), Andy berharap dapat membangun ikatan yang kuat dan bersinergi dengan semua alumni. Selanjutnya dipikirkan apa yang bisa dikembangkan bersama untuk memberi dampak lebih besar kepada masyarakat.

Sebagai ungkapan syukur kepada almamater UPH, Andy terbuka untuk diundang berbagi ilmu dan pengalaman kepada juniornya di program sarjana UPH. Diantaranya, menjadi Mentor pada event Startup Competition, yang diselenggarakan Business Incubation UPH, 28 Novemer 2019. Ia menyampaikan pesan kepada para mahasiswa yang nantinya akan terjun didunia kerja, bahwa hal utama yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur dan ataupun professional adalah mental berjuang. “ketika kita memulai suatu usaha atau pekerjaan apapun itu tentu ada fase up and down nya. Namun jika mental berjuang itu sudah tertanam, tentu anda tidak akan mudah menyerah akan kegagalan yang terjadi”, tutup Andy.

Tahun Kelulusan: 26/09/2006
Salah satu nilai godly character yang diutamakan oleh UPH juga membuat saya selalu mengandalkan dan mempercayakan segala aspek kehidupan saya, termasuk bisnis ini kepada Tuhan.
Monica Aprilia Hermawan
Pemilik Lemon Miniature

Tuangkan Kontribusi Di Industri Kuliner Lewat Bisnis Replika Makanan

 

Monica Aprilia – lulusan Fakultas Pariwisata UPH angkatan 2015, yang mengasah hobinya hingga menjadi kariernya merupakan salah satu lulusan UPH yang resmi di wisuda pada 22 November 2019 di UPH Kampus Lippo Village. Bisnisnya yang unik dan kreatif nyatanya menarik minat publik. Lemon Miniature – brand yang dirintis Monica sejak 2016, yaitu membuat miniature makanan atau bentuk lainnya dengan clay. “Saat kelas 6 SD, saya menyaksikan acara pada stasiun televisi swasta di Jepang yang menampilkan kerajinan miniatur, lalu dari sana saya tertarik dan menjadikannya sebagai hobi. Hingga pada akhirnya saya ingin memberikan kontribusi di industri food and beverages melalui kerajinan ini, dan kebetulan mendapatkan kepercayaan dari customer untuk membuat replika makanan dan menekuni bidang ini menjadi sebuah bisnis,” ujarnya.

Dalam berbisnis tentu ada prinsip dan nilai yang senantiasa di pegang oleh Monica. Baginya UPH sebagai tempatnya menjalani studi sangat mempengaruhi value yang dipegang dan pengembangan skillsnya selama menempuh pendidikan di UPH dalam bisnisnya saat ini. “Pada saat saya menempuh studi di Fakultas Pariwisata, saya diajarkan untuk mementingkan customer service. Jadi, hal ini sangat membantu saya dalam menangani dan menjaga hubungan dengan customer, serta meningkatkan kualitas produk. Salah satu nilai godly character yang diutamakan oleh UPH juga membuat saya selalu mengandalkan dan mempercayakan segala aspek kehidupan saya, termasuk bisnis ini kepada Tuhan,” tutur Monica yang lulus dari program studi Manajemen Usaha Wisata.

Sebagai lulusan UPH, wanita yang akrab disapa Monica ini telah membuktikan kontribusinya dalam industry kreatif ini melalui banyaknya karya yang dia ciptakan untuk beberapa perusahaan food and beverages di Indonesia seperti Nestle Cerelac, Pepper Lunch, dan Kokumi. Dia juga mengakui terjun langsung dalam proses pembuatannya yang memakan waktu 2 hingga 3 minggu. “Sebenarnya proses pembuatan replika makanan ini tidak semudah yang dibayangkan. Contohnya saja dalam membuat replika ayam goreng, pertama akan dibentuk dulu dari clay, lalu dibuat tekstur krispi seperti ayam goreng asli, kemudian harus ditunggu kering baru bisa diwarnai. Proses pewarnaannya pun layer per layer. Jadi, dari warna yang muda dulu, dilanjutkan ke warna yang semakin tua di atasnya,” jelasnya. Kini, Monica melihat bisnis kerajinan replika makanan ini sebagai salah satu inspirasi bisnis yang unik dan menjanjikan. “Saat ini masih jarang ditemukan bisnis yang serupa dengan yang saya lakukan. Apalagi saya membuat replika makanan ini secara handmade, dimana orang-orang lain biasanya membuatnya menggunakan mesin,” ucapnya.

Tahun Kelulusan: 16/09/2019
UPH memberikan kesempatan bagi saya untuk bertumbuh baik dalam spiritualitas, leadership, dan karakter yang membekali saya bertahan dalam menghadapi tantangan jaman.
Rima Purnama Sinthesia
Youth National Program Director at PT Life Talk Asia

Komitmen Rima Persiapkan Sumber Daya Unggul Melalui Kariernya

 

Bagi Rima Purnama Sinthesia Simorangkir, Psikologi UPH merupakan satu-satunya kampus yang mengintegrasikan value kebenaran dengan ilmu psikologi itu sendiri. Value yang ia peroleh semasa kuliah kini diaplikasikan Rima ke dalam kariernya di Youth Coach & Counselor di Life Talk Asia. Melalui pekerjaannya, Rima berfokus membangun serta mempersiapkan Sumber Daya yang unggul di mulai dari anak-anak muda. “Untuk apa kita mengejar posisi, jabatan, ketenaran, uang, dan sebagainya tanpa mengetahui tujuan hidup yang telah Tuhan Percayakan dan tanpa ada karakter Kristus di dalamnya. Saya rindu hidup saya mampu menjadi dampak dan membawa perubahan positif melalui pelayanan dan pekerjaan saya,” ungkap Rima. Berlandaskan komitmen ini Rima melalui Youth Coach & Counselor di Life Talk berkomitmen untuk membantu mengarahkan para generasi muda untuk menemukan tujuan hidup dan passion sejak masih muda. Tidak hanya itu Rima juga ingin para anak muda memahami apa itu hidup seimbang di setiap aspek kehidupan baik aspek keluarga, sosial, masa depan, kesehatan, keuangan dan juga hubungan dengan Tuhan. Hingga pada akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi yang kompeten, berkarakter, bahkan mampu menumbuhkan rasa cinta akan Indonesia.

Prinsip dan komitmen yang Rima pegang dalam berkarir diakuinya dipengaruhi oleh apa yang ia telah peroleh semasa menjadi mahasiswa di UPH.  “Menurut saya, melalui proses studi dan organisasi, UPH memiliki peran besar dan terlibat dalam pembentukan pribadi saya. UPH memberikan kesempatan bagi saya untuk bertumbuh baik dalam spiritualitas, leadership, dan karakter yang membekali saya bertahan dalam menghadapi tantangan jaman. Tidak hanya kuliah, berorganisasi, bahkan waktu itu saya juga mendapat kesempatan untuk kuliah sambil bekerja di UPH. Lebih lanjut, Rina juga merasa senang berkuliah di UPH karena atmosfir UPH menurutnya berbeda. ‘Seperti kuliah di luar negeri’ – ini ungkapan yang dilontarkan Rima sambil mengingat beragam fasilitas yang dimiliki UPH yaitu sarana kesehatan seperti gym, swimming pool, basketball court, dan soccer field, hingga perpustakaan yang menawarkan buku-buku yang lengkap. Rima yang juga aktif dalam memberikan pelatihan ke berbagai sekolah, gereja dan lembaga pendidikan lainnya, berharap agar UPH kedepannya mampu mencetak banyak pemimpin masa depan yang hidup dalam kebenaran, berkarakter, serta mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tahun Kelulusan: 04/09/2013
Mulai segala sesuatu dari yang kecil, dan fokus mengejar apa yang kita inginkan. Terus berusaha dan semangat meraih apa yang kita mau.
Frederik Rasali
Vice President PT Artha Sekuritas Indonesia

Memilih Menjadi Spesialis Bukan Generalis

 

Frederik Rasali, Vice President PT Artha Sekuritas Indonesia, sehari-hari mengamati pergerakan pasar modal dan melakukan riset fundamental secara mendalam, untuk ditulis dalam sebuah laporan dan dikomunikasikan kepada calon investor. Keahliannya sebagai financial analysis, spesialisasi di bidang investasi, mengantarnya mencapai karirnya saat ini. Selain membuat laporan pasar modal, Ia juga bertanggung jawab pada divisi corporate finance perusahaan. Frederik, lulusan Manajemen UPH 2008, melihat bahwa peluang kerja bagi lulusan Business School masih cukup luas, tetapi cukup tricky, sebab saat ini banyak perusahaan mencari pekerja yang sudah memiliki spesialisasi dari salah satu skill yang diajarkan di bangku kuliah. Karenanya, saat lulus dari Manajamen Business School UPH, Ia memilih untuk fokus di bidang investasi.

“Bila lulusan business school ingin menjadi generalis masih bisa dilakukan dengan mengikuti program management trainee dari perusahaan terkemuka. Namun, mendalami spesialisasi bidang tertentu jauh lebih penting untuk mencapai karier. Salah satunya, spesialisasi bidang investasi masih sangat dibutuhkan. Melihat meningkatnya middle income level di Indonesia dan masih belum banyak yang melakukan investasi, maka saya tertarik untuk fokus di bidang investasi,” ungkapnya. Meskipun sehari-harinya sibuk dengan tugas di kantor, namun Frederik menyempatkan diri untuk meluangkan waktu mengerjakan hobinya, seperti mendirikan sebuah komunitas “table top miniature games” yang bernama wargames.id., dan aktif menulis di blognya terkait hobi, investasi dan juga kondisi pasar modal saat ini. Dengan demikian Ia berharap dapat berbagi pengetahuan dan meningkatkan awareness dari para pembaca blognya.

Tak jarang Ia juga berpartisipasi sebagai volunteer dalam Chartered Financial Analyst (CFA) Society, sebuah asosiasi dari CFA institute di Indonesia yang berfokus pada industry investasi. Analisis dan opininya sering diminta untuk isu-isu terkait pasar modal baik melalui media masa maupun sebagai pembicara di TEDx. Pencapaian dan kerja kerasnya, patut menjadi contoh untuk para fresh graduate milenial saat ini. Ia pun menyampaikan pesan bagi para fresh graduate untuk tidak takut gagal. “Mulai segala sesuatu dari yang kecil, dan fokus mengejar apa yang kita inginkan. Terus berusaha dan semangat meraih apa yang kita mau,” tutupnya.

Tahun Kelulusan: 03/09/2012
Di bidang usaha saya, para pemain terbiasa untuk menjual produk yang monoton dengan kemasan dan kualitas yang begitu-begitu saja. Saya mengubah kebiasaan ini dengan konsep baru.
Ryan G. Limanto
Founder PT. Satya Dinamika Mandiri

Visionary Entrepreneur: Thinking Out of the Box

 

Bagi Ryan Giovanni Limanto, CEO dari PT Satya Dinamika Mandiri, visionary entrepreneur adalah kemampuan seorang entrepreneur untuk melihat dan melaksanakan suatu hal yang tidak atau belum bisa dilihat oleh orang lain (thinking out of the box). Kemampuan ini harus dipelajari dan diterapkan sepanjang waktu oleh seorang entrepreneur demi keberhasilan bisnis dalam menghadapi kompetisi yang ketat dan perubahan pasar yang cepat. Visionary entrepreneur tidak hanya konsep tetapi diwujudkan dalam bisnis yang dijalankan Ryan. Sebagai seorang pemimpin, Ryan selalu menyempatkan waktu berdiskusi dengan staff dari berbagai divisi dan tingkatan agar tahu apa yang sedang terjadi di divisi itu. Terlepas dari hal itu, tercipta koneksi personal sehingga lebih mudah mengarahkan karyawan sesuai dengan tujuan perusahaan.

“Seringkali dari diskusi tersebut muncul ide-ide yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya atau thingking out of box,” jelasnya. Kemampuannya melihat peluang pasar, membuat bisnisnya semakin berkembang sebagai penyedia kebutuhan household hardware terbaik di Indonesia. Ia pun mengupayakan untuk menghasirkan produk kualitas terbaik, layanan purna jual yang baik, dan harga yang ekonomis. Terdengar klise namun Ryan selalu berprinsip untuk jangan hanya ikut sebagai pemain di dalam pasar, tetapi harus menjadi game changer. Salah satu produk yang dijual adalah kunci pintu dan aksesoris jendela dengan brand evomab yang memberikan garansi produk hingga seumur hidup tetapi dengan harga yang ekonomis.

“Di bidang usaha saya, para pemain terbiasa untuk menjual produk yang monoton dengan kemasan dan kualitas yang begitu-begitu saja. Saya mengubah kebiasaan ini dengan konsep baru, di mana produk saya memiliki berbagai macam tipe yang fashionable, tetapi tidak mengurangi kualitas dan keamanan”, jelas Ryan. Bisnis yang didirikan tahun 2014 ini, diakui Ryan, merupakan aplikasi dari ilmu yang dipelajari dari mata kuliah entrepreneur dan marketing yang didapat saat kuliah di Manajemen UPH. Alumni Manajemen UPH 2009 ini pun memiliki strategi khusus dalam menjalankan bisnisnya, seperti diferensiasi produk (tidak terjebak di red ocean market), harga yang kompetitif, menjaga kualitas agar long lasting di pasaran, dan efisiensi di segala bidang dengan cara menghilangkan kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah demi memperbesar keuntungan perusahaan. Terbukti saat ini konsumen Ryan terus bertambah dan jangkauan semakin luas, dari Aceh hingga Papua. Kedepan, Ryan berharap dapat menjual hingga ke mancanegara.

Tahun Kelulusan: 11/09/2013
Kemampuan seperti logika berpikir, leadership, kewarganegaraan, English skill, serta communication skill tetap diperlukan dalam menunjang pekerjaan di bidang aktuaria. Semua hal ini telah saya dapat dari saat berkuliah di Matematika UPH.
Rheza Dwiputra Tamin
Senior Actuarial Associate di PwC Singapore

Pentingnya Softskill dalam Dunia Aktuari

 

Sebagai aktuaris di sebuah perusahaan jasa profesional terkemuka di dunia, Rheza menilai memiliki kemampuan softskill sangatlah penting. Alumni Program Studi (Prodi) Matematika Universitas Pelita Harapan (UPH) angkatan 2012 ini bekerja di PricewaterhouseCoopers Singapore sebagai Senior Actuarial Services Associate. Menurutnya, kemampuan seperti logika berpikir, leadership, kewarganegaraan, English skill, serta communication skill tetap diperlukan untuk menunjang pekerjaan di bidang aktuaria. “Semua kemampuan itu sudah saya dapatkan saat berkuliah di Prodi Matematika UPH. Apalagi saya mengambil konsentrasi Business Mathematics pada program double degree dengan Prodi Manajemen, sehingga lebih banyak yang bisa saya pelajari,” ujar Rheza.

Menurutnya juga, berkuliah di UPH sangat mendukungnya menjadi aktuaris, baik dari segi akademis maupun non-akademis. Ini terlihat dari dibukanya konsentrasi Aktuaria yang tidak dimiliki oleh semua universitas. Dosen pun rutin memberikan latihan soal untuk persiapan menghadapi ujian sertifikasi aktuaris. Ditambah lagi, sekarang sudah ada berbagai kerja sama dengan pihak luar untuk meningkatkan kapasitas calon lulusan aktuaris, seperti kerja sama dengan READI Project dari Pemerintah Kanada. Selain itu, ada juga beasiswa yang bisa didapatkan oleh mahasiswa. Hal ini menurut Rheza, menjadikan lulusan Prodi Matematika UPH memiliki kelebihan tersendiri yang bisa menjadi modal dalam bersaing di dunia kerja.

Tahun Kelulusan: 13/09/2016
Integritas, tanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Ketiga hal itu sangat penting bagi siapa pun dan di manapun ia bekerja. UPH mengajarkan hal itu kepada saya.
Ivan Kusumo
Spesialis Riset Pemasaran di PT Link Net Tbk

Menjadi Pribadi yang Berintegritas

 

Perkuliahan tidak hanya mempelajari teori semata, tapi juga tentang bagaimana membentuk karakter berintegritas. Hal inilah yang didapatkan oleh Ivan Kusumo selama berkuliah di UPH. Alumni Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Universitas Pelita Harapan (UPH) angkatan 2014 ini mengaku bahwa ia setidaknya belajar tiga hal penting selama kuliah, yaitu integritas, tanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. “Ketiga hal itu sangat penting bagi siapa pun dan di manapun ia bekerja. Secara tidak langsung, UPH mengajarkan hal itu kepada saya,” ungkap Ivan.

Melalui UPH, pria berkacamata ini juga pernah berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Rumania selama lima bulan. Ini merupakan program dari Erasmus Mundus yang bekerjasama dengan Teknik Elektro UPH. Selama rentang waktu tersebut, ia belajar banyak hal, mulai dari sistem pendidikan di negara Eropa hingga bagaimana kehidupan pelajar di sana. Sepulangnya dari Rumania, saat ini Ivan bekerja di PT First Media Tbk sebagai Marketing Research Specialist. Ivan juga bercerita mengenai pengalamannya selama kuliah. Ia mengaku sangat bersyukur bisa berkuliah di UPH. “Dulu saya aktif dalam himpunan internal di Prodi Teknik Elektro. Dari sana saya mendapat kesempatan untuk belajar menganalisis masalah serta mencari solusinya. Tantangan yang saya hadapai juga ada, salah satunya bagaimana menjalankan program kerja yang ada dengan jumlah sumber daya manusia yang sedikit,” ujarnya.

Tahun Kelulusan: 14/03/2018
Di UPH saya mendapatkan Christian Worldview yang saya terapkan dalam kehidupan saya, termasuk di kantor.
Daniel Winoto
Senior Actuarial Services Associate di PwC Indonesia

Lingkungan UPH Membentuknya Menjadi Lebih Baik

 

Daniel Winoto, alumni Prodi Matematika UPH angkatan 2013, termasuk mahasiswa rebel. Perilaku tersebut dibawanya sejak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun berkat lingkungan teman-temannya di Program Studi (Prodi) Matematika Universitas Pelita Harapan (UPH), karakternya semakin dibentuk dan lebih baik. “Terus terang, lingkungan di UPH sangat membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik. Teman-teman kuliah saya baik-baik, kalaupun ada yang nakal, ya masih dalam taraf normal,” kenang Daniel. Mantan anggota Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Matematika ini juga mengakui peran besar Prodi Matematika dalam mendukung cita-citanya menjadi aktuaris. Selain pemberian pengetahuan akademik, Daniel juga bersyukur karena mendapat Christian Worldview yang ia pegang hingga sekarang. “Ini juga yang menjadi kelebihan UPH. Mungkin dari segi akademik, semua universitas akan memberikan sesuai kurikulum. Tapi di UPH, saya mendapatkan Christian Worldview yang saya terapkan dalam kehidupan saya, termasuk di kantor. Dengan begitu, saya menganggap bekerja itu sebagai bentuk pelayanan,” ujar Daniel.

Saat ini, Daniel bekerja di PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia, perusahaan yang termasuk dalam The Big Four Auditors dunia. Sejak lulus tahun 2017 hingga sekarang, ia menduduki jabatan sebagai Actuarial Services Associate, sesuai konsentrasi Aktuaria yang ia ambil saat kuliah. Pekerjaan tersebut membuatnya menerapkan semua ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah, termasuk di antaranya kemampuan analisis, logic, dan statistik. “Saya sempat menyesalkan karena dulu tidak terlalu menguasai statistik. Saat di tempat kerja, diperlukan sekali pengetahuan tentang regresi dan statistic time series, terutama dalam mengerjakan project mengenai banking,” ungkap Daniel. Menurut Daniel, Prodi Matematika UPH sekarang sudah mengalami banyak kemajuan. Salah satunya tampak pada peningkatan perhatian para dosen dalam membantu persiapan ujian demi meraih sertifikasi aktuaris. Sertifikasi tersebut dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam bidang aktuaria, dan akan memengaruhi dalam mencari pekerjaan nantinya. Daniel juga menambahkan, peluang karir di bidang aktuaria masih sangat terbuka lebar, mengingat masih sedikitnya orang yang berprofesi sebagai aktuaris. “Kuncinya never stop learning untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.”

Tahun Kelulusan: 01/03/2017
UPH sangat membantu saya. Saya menjadi bertumbuh, baik secara akademis maupun non-akademis.
Gina Karina
Manajer Interim Country di Yayasan ICLEI

Menjalani Panggilan Hidup

 

Berbincang dengan seorang Gina Karina sangatlah menyenangkan. Percaya pada rencana Tuhan, tidak takut gagal, dan mengetahui berbagai informasi adalah kunci kesuksesan alumni Hubungan Internasional (HI) UPH angkatan 2006 ini. “UPH sangat membantu saya. Saya menjadi bertumbuh, baik secara akademis maupun non-akademis. Dulu ada senior yang mengatakan ini kepada saya ‘informasi adalah kuncinya’ hanya kadang kita tidak tahu karena kita tidak aware,” ujar Manajer Interim Country Yayasan ICLEI ini. ICLEI sendiri fokus pada jejaring pemerintah daerah tingkat global.

Bekerja di ICLEI merupakan salah satu pemenuhan panggilan hidupnya. Sejak dulu Gina memang tertarik pada bidang isu lingkungan hidup. “Pekerjaan saya yang utama adalah mendorong pemerintah daerah dalam membuat perencanaan pembangunan agar menuju ke arah yang ramah lingkungan, yang berwawasan lingkungan, berketahanan iklim, dan sebagainya,” katanya. Kurang lebih sudah lima tahun Gina bekerja di ICLEI. Sebelumnya ia adalah penerima beasiswa akademik di UPH, sekaligus beasiswa studi ke Amerika Serikat selama satu semester. Sepulangnya dari sana, ia mengabdi pada Prodi HI sebagai asisten dosen selama dua tahun tujuh bulan. Selanjutnya, ia mulai fokus pada bidang lingkungan hidup dengan bergabung di unit kerja presiden untuk pengawasan pengendalian pembangunan saat era Presiden SBY selama satu tahun.

Selama berkuliah di UPH, banyak hal yang didapatnya. Salah satunya adalah soft skill melalui mata kuliah diplomasi yang tetap bisa berguna di bidang pekerjaan apapun, baik bisnis, pemerintahan, bahkan sebagai pramugari. Lalu yang tidak kalah penting, menurutnya selama di UPH, ia banyak bertumbuh secara rohani. “Yang menjadi pegangan saya adalah terus percaya pada rencana Tuhan yang jauh lebih besar daripada rencana kita. Kadang sesuatu bisa berjalan sesuai rencana kita, tapi kadang juga tidak. Dan saat itu saya belajar ‘oh berarti itu bukan yang terbaik buat saya’. Sekarang pun saya bisa mengerti bahwa kegagalan-kegagalan di masa lalu merupakan pintu menuju tempat saya berada sekarang. Walaupun saat gagal mungkin kita tidak bisa langsung melihat tujuannya. Intinya jangan menyerah, jangan melihat kegagalan sebagai jalan akhir,” ungkapnya.

Tahun Kelulusan: 06/09/2010
Bertemanlah dengan kegagalan dan rendahkan diri untuk selalu belajar.
M. Ahwy Karuniyado
CEO PT Mencerdaskan Anak Bangsa atau Widyamedia.com

Memberi Manfaat Pada Sesama Lewat Channel YouTube ‘Hipotesa’ dan ‘Neuron’

 

Keprihatinan terhadap perkembangan media di Indonesia, membuatnya ingin menghadirkan media PT. Mencerdaskan Anak Bangsa. M. Ahwi Karuniyado, atau Edo, alumni Psikologi UPH 2014, sejak awal terjun ke dunia profesional memiliki pemikiran menjadi manusia yang bermanfaat kepada sesama. Keinginan untuk menjadi bermanfaat inilah yang mendorong untuk terus belajar, kritis, dan terbuka dengan berbagai peluang tanpa gengsi harus berkarier sesuai dengan gelar pendidikan yang dimiliki. Minatnya pada media, menggiringnya untuk membangun media berbasis channel YouTube dengan konten edukatif kreatif, Hipotesa dan Neuron. “Hipotesa merupakan channel YouTube yang membahas politik, isu sosial, dan berkaitan dengan social science. Sedangkan, Neuron membahas mengenai kesehatan dan dunia medis secara animatif,” ungkap Edo.

Berawal dari Project Passion, Edo bersama rekannya, melakukan riset pada dua media luar, VOX Media dan Kurzgesagt. Mulai dari cara penyajian konten yang disajikan dengan bercerita (storytelling), hingga teknik sinematografi, dari kedua media tersebut. Bahkan, Jinri Toutiao berhasil menangkap pembaca dengan menggunakan teknologi. “Saat masalah ini kami sadari dua brand pertama pun lahir, yakni Hipotesa dan Neuron,” cetusnya.

Di bawah bendera PT Mencerdaskan Anak Bangsa atau widyamedia.com yang dibangun tahun 2018, Hipotesa dan Neuron, berhasil mendapatkan lebih dari 200.000 subscribers di YouTube dalam waktu satu tahun. Dilandasi visi go-to place saat seseorang ingin memahami apa yang sedang terjadi, Widyamedia.com menghadirkan media yang dapat menjelaskan kenapa suatu hal bisa terjadi, tidak hanya memberitahukan apa yang sedang terjadi. Ia meyakini, saat masyarakat berhasil memahami suatu hal maka kualitas pembahasan dan diskusi pun meningkat.

Apa yang dikerjakan Edo, diakui tidak terlepas dari peran networking alumni UPH. Lebih dari 80% tim Widyamedia.com pun berasal dari alumni dan mahasiswa tingkat akhir UPH. Begitu pula dengan penasihat dan pendongkrak media sosial Widyamedia.com pun berasal dari alumni UPH. Pendidikan psikologi yang diperoleh lebih berdampak kepada kehidupan personal, khususnya menjadi bagian dari pendewasaan. Edo pun berpesan untuk para fresh gradute, untuk tidak mudah menyerah. “Bertemanlah dengan kegagalan dan rendahkan diri untuk selalu belajar,” Pesan Edo.

Tahun Kelulusan: 07/09/2018
Kuncinya jangan berhenti belajar dan banyak membangun network.
Reza Aryabima
Co-Founder dan CEO PT Cempaka Kreasi Sekawan (Brand: Artisan Professionnel)

Membawa Brand Lokal ke Ranah Global

 

Bagi seorang pria tentunya tidak mudah masuk ke dalam industri yang didominasi oleh wanita. Namun bagi Reza Aryabima, Co-Founder dan CEO dari PT Cempaka Kreasi Sekawan (Brand: Artisan Professionnel), salah satu merek bulu mata yang menjadi favorit makeup artist (MUA) dan selebriti, menjadi CEO dari perusahaan produsen bulu mata bukanlah tantangan utama. Yang utama adalah bagaimana menjadi pemimpin yang mendengar.

“Kuncinya jangan berhenti belajar dan banyak membangun network,” ungkap Reza saat menceritakan awal memulai Artisan Professionnel. “Bisnis ini berawal dari kebutuhan yang partner saya temui di kalangan MUA (Makeup Artist) yang mengeluhkan mengenai sulitnya mencari bulu mata palsu dengan design yang inovatif, dan konsisten dalam ketersediaan stock dan standard kualitasnya. Selain itu kami punya mimpi untuk membawa brand asli dari Indonesia, ke ranah global. Saya dan para partner melihat peluang di industri ini. Kami mulai melakukan research & development yang mendalam, sehingga akhirnya produk hasil pengembangan kami diterima oleh market,” kisahnya.

Bagi Reza bisnis ini memiliki peluang yang cukup besar, dan terus berkembang di Indonesia, dan di banyak negara di dunia. Sehingga peluang untuk ekspor pun juga besar. Ia terus berinovasi untuk dapat scale-up dan sustainable. Di balik kegigihannya membangun dan mengembangkan bisnisnya, Reza mengaku sudah dibentuk sejak Ia kuliah di UPH. “Saya dibentuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan hidup sesuai dengan nilai yang ditanamkan UPH yaitu, Christ-centered,” ungkapnya. Lewat pengalaman berorganisasi dan terlibat dalam beragam kepanitiaan selama kuliah, membantu membentuk cara kerja Reza sehingga mampu bekerja dalam tim, hingga menghadapi tantangan dan tekanan. Sebagai alumni UPH, Reza berharap agar UPH dapat terus menjadi sarana pendidikan yang dapat dijadikan ruang untuk bertumbuh dan melahirkan lulusan yang penuh tanggung jawab dalam panggilannya.

Tahun Kelulusan: 13/03/2009
UPH telah menanamkan ke dalam diri saya untuk tetap berpegang teguh terhadap kehidupan Kristen yang berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam dunia bisnis/marketplace.
Chrystian Reynaldo Marulitua Pohan
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia di Perum DAMRI

Chrystian Pohan: Pengalaman Luar Biasa Bergabung di BUMN

 

Urusan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) bukan hal yang baru bagi orang yang berkecimpung di bidang ilmu psikologi. Pendidikan psikologi sudah membekali, di antaranya, untuk dapat mengenali kepribadian manusia, mengevaluasi, hingga mengembangkan SDM. Namun bagi Chrystian Reynaldo M. Pohan, alumni Psikologi UPH 2008, pengalaman pertama bergabung di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan pengalaman yang luar biasa. Tugas utama yang harus dijalankan Chrys, sebagai Human Capital Division Head di Perum DAMRI (Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia), membantu membenahi infrastruktur, sistem dan budaya Sumber Daya Manusia-nya.

“Saya harus belajar banyak hal dari segi pengetahuan dalam membangun Good Corporate Governance (GCG), Skill yang perlu dikembangkan dalam memimpin orang-orang yang sudah senior dan resistensi terhadap perubahan, serta perilaku santun dan sopan yang perlu diperdalam,” ungkap Chrys. Bekerja di BUMN selain merupakan pengalaman yang luar biasa, tentu ada tantangan tersendiri yang Chrys hadapi yaitu beradaptasi dengan pekerjaan yang diberikan dalam jangka waktu yang pendek dan berkomunikasi dengan orang internal/eksternal secara benar untuk mencapai Transformasi Perusahaan BUMN yang cepat dan tepat.

Kesempatan berkuliah di UPH diakui menjadi tempat ia belajar banyak soft skill yang diperlukan dalam menjalankan kariernya. Di antaranya pengalaman organisasi kemahasiswaan, sosial, dan organisasi kerohanian. “UPH telah menanamkan ke dalam diri saya untuk tetap berpegang teguh terhadap kehidupan Kristen yang berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam dunia bisnis/marketplace,” tutup Chrystian.

Tahun Kelulusan: 10/09/2012
Bertemanlah sebanyak-banyaknya, tidak hanya dari satu kelas tapi dari angkatan atau jurusan yang lain.
Christian Kustedi
CEO dan Co-founder Dusdusan.com

Tekad Membantu Masyarakat Kelas Menengah Melalui Dusdusan.com

 

Dusdusan.com merupakan industri e-commerce atau platform komunitas reseller terbesar di Indonesia, yang awalnya sebagai e-commerce perabotan rumah tangga, kini menjelma/ pivot menjadi komunitas reseller. Model bisnisnya yang sangat praktis dan mudah, telah terbukti membantu puluhan ribu ibu rumah tangga, karyawan kantoran, dan para pemilik toko dalam merintis bisnis mereka masing-masing. Bisnis berbasis teknologi ini digarap Christian Kustedi, lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH 2004. Tekad untuk menjadi dampak yang lebih luas, mendorong Chris membangun Dusdusan.com pada November 2014.

“Target market dari bisnis ini pertama kepada masyarakat kelas menengah yang ingin mendapatkan pendapatan tambahan. Kedua, para brand/pabrik/trader yang mau jual barang mereka. Daripada launching barang secara nasional menggunakan resources sendiri kan mahal sekali. Mending di Dusdusan aja yang punya 100ribu pasukan penjual yang siap menjual dan mendistribusikan produk mereka ke seluruh Indonesia,” jelas Chris. Keberhasilan Chris membangun Dusdusan.com, tidak terlepas dari bisnis jasa branding, Kamarupa, yang dibangun bersama dua teman kuliah di UPH pada tahun 2009.

Walau saat ini berkarir di luar bidang keilmuan yang dipelajari sewaktu kuliah, tantangan tersebut nyatanya bisa dibuktikan oleh Chris melalui kesuksesannya saat ini. Ia mengakui belajar banyak hal, mulai dari strategic partnership, keuangan dan perpajakan, hingga pemilihan, membangun dan mempertahankan core team.
Berangkat dari kisahnya, Chris memberikan pesan untuk para fresh graduate, khususnya mahasiswa DKV UPH, “Ketika kita memulai suatu bisnis, network itu sangat penting. Teman bisa jadi partner. Jadi bertemanlah sebanyak-banyaknya, tidak hanya dari satu kelas tapi dari angkatan atau jurusan yang lain. Di dunia kerja umur itu tidak relevan atau penting. Yang terpenting adalah valuenya.”

Tahun Kelulusan: 24/12/2008
Menjalankan bisnis food and beverages tidak hanya sekedar menjual makanan, tapi menawarkan pengalaman yang menarik untuk customer melalui ambiance dan desain.
Leo Einstein Franciscus
Penemu Einstein and Associates

Personal approach dan Attention to the Detail Dalam Desain

 

Personal approach dan attention to the detail merupakan fokus utama dalam desain interior karya Leo Einstein Franciscus, Designer Interior and Architecture dengan bendera Einstein and Associates. Selama kariernya tercatat 25 karya desain interior yang dihasilkannya. Diakuinya, angka tersebut memang tidak banyak, namun bagi Einstein orientasi kariernya memang bukan kuantitas proyeknya, tetapi kualitas dari proyek-proyek yang dikerjakannya. Dengan kata lain, kerja maksimal, detail, dan originalitas menjadi standar utama karya-karyanya. “Saya menerapkan hubungan yang personal dengan para klien dan melihat mereka sebagai teman, sehingga proses komunikasi menjadi lebih mudah dan bersifat dua arah”, tuturnya yang belum lama ini menyelesaikan hasil karyanya di The Garden Restaurant Lippo Mall Puri. “Saya ingin orang yang datang akan mendapat pengalaman dan perasaan berbeda dalam setiap kunjungannya ke restaurant melalui desain ruangan yang saya buat dalam setiap bagian restaurant. Karena bagi saya menjalankan bisnis food and beverages tidak hanya sekedar menjual makanan, tapi menawarkan pengalaman yang menarik untuk customer melalui ambiance dan desain contohnya,” jelas Einstein. Dibalik karya desain yang dihasilkannya, Einstein mengakui, banyak diinspirasi dari apa yang didapat selama kuliah di Arsitektur UPH. “Terlebih karena para dosennya merupakan praktisi. Sistem pembelajaran mendorong saya untuk berpikir out of the box¸ kita diminta untuk selalu mencoba hal yang berbeda, challenging. UPH juga mampu mengembangkan kemampuan leadership saya dan ini sangat berguna dalam bekerja” tambahnya.

Tahun Kelulusan: 24/09/2008
Menjadi musisi tidak hanya belajar praktik, tapi harus mau dan paham filosofi, ilmu, dan lainnya yang saya dapat selama berkuliah.
Monica Eva Sancti
Penyanyi & Penulis Lagu

CIPTAKAN MUSIK BERKUALITAS INTERNASIONAL MELALUI AJANG BEKRAF

 

Kecintaannya akan dunia musik membuat Monica Eva Sancti atau yang kerap di sapa Moneva – Conservatory of Music UPH, 2015 terus mengasah bakatnya dan tidak pantang menyerah. Hal ini dibuktikannya ketika dirinya mampu bersaing di Indonesia Creative Incorporated (ICINC) dan dikirim ke Los Angeles, Amerika, dan menghasilkan single terbarunya UPH.

“ICINC merupakan ajang pencarian bakat garapan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bersama label rekaman asal Amerika, 88rising.  Bagi saya pengalaman bisa bersaing dengan ratusan kandidat di ajang Bekraf ini bahkan bisa pergi ke Amerika, menjadi hal yang sangat berkesan dan membanggakan. Melalui program ini, saya bersama 4 orang pemenang lainnya berhasil mengikuti tahap pengembangan talenta di Los Angerles. Di sini saya berkesempatan untuk bertemu produser, pembuatan video klip, hingga tampil di festival musik bergengsi ‘Head in The Clouds Music and Arts Festival’, Los Angeles, pada 17 Agustus 2019 lalu. Kita juga dilatih untuk brandind diri kita, pembuatan dan penulisan lagu, dance, dan lainnya,” cerita Moneva yang baru saja di wisuda pada 21 November 2019 di UPH Kampus Lippo Village. Tidak hanya belajar, bahkan pengalaman satu bulan di Amerika ini membuahkan karya terbaru Moneva. ‘UP’ – single atau lagu terbaru dari Moneva yang rekaman hingga pembuatan video klip ia lakukan di Negara Paman Sam. Kini single terbarunya dapat dinikmati publik di aplikasi pemutar musik seperti Spotify, Joox, dan Youtube untuk melihat official music video.

“Melihat kebelakang, saya merasa bahwa saya telah berkembang jauh baik secara skill juga karier. Hal ini karena apa yang saya sudah peroleh semasa berkuliah di CoM UPH.  Di UPH saya diajarkan bahwa menjadi musisi tidak hanya belajar praktik, tapi harus mau dan paham filosofi, ilmu, dan lainnya yang saya dapat selama berkuliah. Saya juga semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik, terlebih dengan mengenal banyak mahasiswa lainnya yang juga musisi, kemudian dosen yang sangat mendukung hard skills juga soft skills, dan terpenting yaitu networking. UPH menawarkan networking yang sangat luas melalui kesempatan berkolaborasi dengan sesama mahasiswa, dosen, dan lainnya. Ini semua sangat menunjang karier saya,” tutur Moneva yang mengisi waktunya dengan tampil off-air dan radio, juga menulis lagu-lagu barunya.

Tahun Kelulusan: 16/09/2019
Dosen FK UPH adalah sosok pendidik yang sangat peduli dengan mahasiswa mereka dan selalu memberikan kami ruangan untuk bertanya dan belajar lebih dalam
William Disraeli Wanane
Dokter di pedalaman Papua

Kerinduan Menjadi Dokter di Tanah Papua

 

Menjadi dokter dan mengabdi di pedalaman Papua, merupakan cita-cita William Disraeli Wanane. Tekad dan ketekunannya, kini membuahkan hasil membuka jalan untuk melayani masyarakat kecil khususnya di daerah asalnya, Papua. Alumni Fakultas Kedokteran UPH 2013, resmi menyandang profesi dokter pada April 2019, dan setelah kelulusannya ia bekerja sebagai dokter internship selama 1 tahun di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Timika Jaya dan Rumah Sakit Mitra Masyarakat di Timika, Kab. Mimika, Papua. Dokter yang juga menyandang gelar Bachelor Science in Health Sciences dari Corban University, Oregon, Amerika Serikat, ini menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk melayani secara optimal. Bahkan saat ia bertugas di puskesmas atau melayani masyarakat kecil ia mengaku merasakan sukacita dan semangat mendapat kesempatan menolong orang lain.

Selama 5,5 tahun menempuh pendidikan untuk menjadi seorang dokter, William bersyukur mendapatkannya di FK UPH. Kampus yang diakuinya sangat baik dalam memberikan pendidikan kedokteran baik dari fasilitas laboratorium hinga sarana penunjang proses belajar yang sangat lengkap. “Dosen FK UPH adalah sosok pendidik yang sangat peduli dengan mahasiswa mereka dan selalu memberikan kami ruangan untuk bertanya dan belajar lebih dalam mengenai dunia pendidikan kedokteran serta pelayanan kepada masyarakat,” ungkap William. William tidak hanya mendapatkan ilmu, dia juga dibentuk menjadi dokter yang selalu berpikir kritis dan memiliki rasa ingin tahu yang besar namun secara bersamaan dapat menunjukan empati terhadap pasien yang ditangani. Semua itu didedikasikannya untuk membangun masyarakat kecil di Indonesia, di mulai dari pedalaman Papua, daerah asalnya.

Tahun Kelulusan: 08/04/2019
Kuliah bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan saja, tetapi experience juga penting untuk melengkapi pengetahuan akademik. Salah satunya di dapat dari dosen-dosen praktisi yang berpengalaman.
Michael Laurel Abraham Kandou
Asset Management Specialist di PT Tropik Energi Pandan

UPH Tempat Saya Membangun Networking

Bergabung di perusahaan Minyak dan Gas (Migas) menjadi cita-cita Michael Laurel, alumni Program Magister Manajemen UPH 2014. Berbekal pengalaman di dunia finance dan menyelesaikan studi Magisternya, Mike, begitu panggilan akrab Michael, mencoba peruntungan melamar di perusahaan Migas, dan beruntung ia bergabung sebagai Asset Management Specialist di PT Tropik Energi Pandan, sejak tahun 2018. Tugasnya memaintain material asset, rekonsiliasi physical check dengan data asset, dan juga reporting asset, masih berkaitan dengan bidang finance atau accounting, bidang perkerjaan sebelumnya. Namun, menurutnya, banyak hal-hal baru yang dia harus pelajari. “Karenanya diperlukan attitude yang mau belajar, belajar akan hal baru, belajar dan terus belajar. Karena di dalam dunia kerja saat ini pekerjaan bukan hanya dinilai etos kerja yang bagus atau berprestasi saja, namun integritas, dan good karakter juga sangat diperlukan di dunia profesional,” ujarnya.

Dalam hal profesionalitas dan integritas, Mike mengaku banyak dibekali saat kuliah di progam MM UPH. Pengalaman studi Program Magister di UPH memberinya banyak manfaat dalam menjalankan kariernya. “Bagi saya, kuliah bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan saja, tetapi experience juga penting untuk melengkapi pengetahuan akademik. Salah satunya di dapat dari dosen-dosen praktisi yang berpengalaman,” kata Mike menjelaskan alasannya memilih program Magister UPH. Bagi Mike, kampus harus menjadi tempat untuk membangun networking yang membantu mendapatkan banyak pertemanan dan informasi yang luas dalam setiap aspek di bidang bisnis maupun profesional.

Tahun Kelulusan: 16/03/2018
Anak muda tidak hanya memerlukan fondasi akademis, tapi juga karakter yang kuat.
Erika Widyaningsih
Direktur Rumah Kebangsaan, Founder Komunitas Jelajah Bhineka

ANAK MUDA HARUS MEMILIKI FONDASI AKADEMIS DAN KARAKTER YANG KUAT

 

“Fondasi akademis dan karakter yang kuat, merupakan hal penting yang harus dimiliki generasi muda saat ini, tanpa hal tersebut, sulit bagi anak muda untuk menjawab tantangan dunia kedepan” ungkap Erika Widyaningsih, Direktur Rumah Kebangsaan, yang juga alumni Ilmu Komunikasi, FISIP UPH 2001. Namanya sempat ramai di media usai merelease hasil surveinya pada 8 Juli 2018 perihal isu ‘radikalisme’, yang menjadi pembahasan banyak pihak. Hasil survei tersebut berhasil diserahkan kepada presiden dan telah menjadi salah satu bahan bagi pemerintah untuk membuat kebijakan dalam menangkal radikalisme. Bersama tim pegiat Rumah Kebangsaan, wanita yang satu ini kerap menyuarakan isu-isu kebangsaan di bidang sosial, politik, dan hukum. Kepeduliannya terhadap persoalan kebangsaan yang menjadi tantangan kedepan, menjadi alasan ia bergabung dengan Rumah Kebangsaan pada 2012. “Bagi saya, anak muda perlu memiliki tidak hanya fondasi akademis, tetapi juga karakter yang kuat,” ungkap Erika Widyaningsih.

Karakter pantang menyerah, kritis, dan berintegritas, mengantarnya menjadi sosok yang tepat untuk menjabat sebagai Direktur Rumah Kebangsaan, dan Founder Komunitas Jelajah Bhineka. Rumah Kebangsaan merupakan organisasi yang memiliki fokus kegiatan pada isu kebangsaan, serta upaya pencegahan intoleransi, radikalisme dan terorisme. Sedangkan Jelajah Bhineka, yang baru dimulai pertengahan tahun 2019 merupakan komunitas yang hendak mengangkat nilai-nilai budaya, tradisi, dan keragaman di Indonesia. Perjalanan kariernya tidak terlepas dari tempaan UPH, kampus yang mendidiknya menjadi seorang professional di bidang komunikasi, sekaligus sosok yang berkarakter. “Harapan saya UPH mampu memberikan akses Pendidikan bagi beragam orang. Salah satunya dengan upaya UPH melalui pemberian beasiswa bagi teman-teman berprestasi, namun memiliki kendala (ekonomi) dari daerah. Dengan begitu, UPH dapat menciptakan lebih banyak anak-anak muda penerus bangsa yang dapat berkontribusi pada peningkatan daerahnya masing-masing”, tutup Erika.

Tahun Kelulusan: 29/03/2006
DKV UPH telah memberikan pondasi yang cukup kuat untuk dituangkan dan dikembangkan dalam praktik di industri desain.
Evan Wijaya
Desainer Grafis di Thinking Room

Desainer Muda yang Selalu Mengasah Kreativitas

Evan Wijaya, usai menyelesaikan kuliahnya dari Desain Komunikasi Visual UPH pada 2017 lalu, ia memilih untuk berkarier sebagai desainer grafis di Thinking Room, sebuah perusahaan desain ternama di Jakarta. Di bawah creative direction dari founder Eric Widjaja, Evan dipercaya untuk menangani berbagai macam proyek, salah satunya untuk Sarirasa Group yang menaungi beberapa f&b brand seperti Sate Khas Senayan, Tesate, dan Gopek. Tidak hanya mendesain ulang logo Sarirasa beserta sistem identitas visualnya, bertepatan dengan anniversary Sarirasa yang ke-45 tahun ini, Thinking Room kembali dipercaya untuk membuat identitas (logo dan sistem visual) bagi anniversary campaign ini. Bersama dengan tim Thinking Room, Evan kembali dipercaya untuk membuat identitas visual untuk momentum tersebut. Di luar pengalamannya bekerja secara full-time, Evan juga menyempatkan diri untuk mengerjakan proyek-proyek freelance guna mengembangkan skill, portfolio, dan networking. Evan yang lulus dengan gelar best graduate pada Wisuda UPH XXXI ini merasa pengalamannya sebagai seorang desainer harus terus dikembangkan. Ini juga yang menjadi alasan pemuda berusia 24 tahun ini tetap menyempatkan diri untuk mengerjakan proyek freelance di sela-sela kesibukannya. “Setelah lulus dari UPH, saya menyadari bahwa kampus ini memberikan pengalaman holistis yang membantu saya dalam mempersiapkan hal-hal esensial dalam dunia kerja. Secara khusus, menurut saya DKV UPH telah memberikan pondasi yang cukup kuat untuk dituangkan dan dikembangkan dalam praktik di industri desain,” tutur Evan. Ke depannya, Evan melihat adanya peluang besar di bidang industri kreatif yang semakin berkembang ini. “Kini masyarakat semakin sadar akan pentingnya desain. Kesadaran dan terbukanya wawasan akan desain ini akan membuka peluang karier yang besar di industri kreatif di Indonesia,” tambah Evan yang tahun ini mendapatkan penghargaan desain berskala internasional dari Adobe Inc.

Tahun Kelulusan: 01/03/2017
Saat kuliah di FK UPH, saya sangat dilatih bertanggung jawab, caring, brave, dan disiplin waktu yang tinggi. Itu juga menjadi modal saya bekerja sampai sekarang.
Reisa Broto Asmoro
Dokter, Pembawa Acara TV

Caring, Brave, dan Disiplin yang Diajarkan di FK UPH Melekat Hingga Saat ini

Namanya dan juga wajahnya sudah tidak asing lagi bagi pemirsa program Dr. OZ yang ditayangkan di salah satu stasiun TV Indonesia. Ia juga peraih 3 gelar dalam berbagai ajang pemilihan puteri, mulai dari Puteri Indonesia Lingkungan 2010, Putri Indonesia 2010 dan Miss International 2011. Ya dia adalah Reisa Kartikasari atau yang bisa dikenal dengan nama dr. Reisa Broto Asmoro, alumni Fakultas Kedokteran (FK) UPH angkatan 2003. Saat ini selain masih praktek dan aktif sebagai Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Reisa disibukkan dengan aktivitas menjadi host dan narasumber untuk program kesehatan dan parentingbrand ambassador beberapa brand, serta menjadi narasumber untuk talkshows dan seminar. Menjalankan beberapa profesi tentunya membutuhkan kedisiplinan dan komitmen tinggi. Bukan hal yang mudah memang, namun Reisa mengaku sudah dilatih sejak di bangku kuliah. “Saat kuliah di FK UPH, saya sangat dilatih bertanggung jawab, caringbrave, dan disiplin waktu yang tinggi. Itu juga menjadi modal saya bekerja sampai sekarang,” akunya. “Masa-masa kuliah sangat menyenangkan,” kenang dr. Reisa. Tidak hanya gedung kampus dan fasilitas-fasilitas yang bagus dan lengkap, yang membuatnya betah, lingkungan kampus dan teman-teman kuliah juga jadi faktor penyemangatnya. “Apalagi dengan semua dosen-dosen yang berkualitas, sabar, dan selalu mengajar dengan hati, membuat belajar menjadi menyenangkan,” akunya. Sebagai alumni FK angkatan pertama, Reisa bersyukur pada Tuhan karena dapat menyelesaikan pendidikannya tepat waktu dalam 5.5 tahun. Ia mengakui sistem perkuliahan di FK UPH memang sangat baik. Mahasiswa diajarkan untuk aktif dan kreatif. Tentunya Reisa berharap semoga UPH semakin jaya, makin menjadi pilihan kampus nomor 1, dan makin banyak mencetak dokter-doker dan para lulusan di bidang-bidang lainnya yang berkualitas.

Tahun Kelulusan: 19/01/2007
Just create your own career. You can be anything you want.
Seraphina Dominique I.
Desainer dan Konseptor di Petite Helper & Serena Sparks

“Just create your own career. You can be anything you want”. Itulah filosofi yang dipegang Seraphina Dominique, alumni Desain Produk Universitas Pelita Harapan (tahun 2000-2004). Bekal pendidikannya diperkaya dengan pendidikan lanjut di Politecnico di Milano (tahun 2006-2008), yang menambah keahliannya di bidang concept design dan decorator, dengan entrepreneuship skills. Bagi Seraphina, yang sudah mempunyai banyak pengalaman di industri desain, peluang kerja di bidang desain saat ini sangat berkembang dan banyak sekali jenis pekerjaan baru. “Setelah lulus sekolah desain, tak menentu harus menjadi seorang designer, bisa juga menjadi visual merchandiser, dekorator, bahkan balloon artists, semua jenis pekerjaan baru ini yang sedang banyak demand nya membutuhkan design base education. Just create your on career. You can be anything you want,” katanya.

Seraphina dipercaya beragam klien-klien besar seperti L’oreal Indonesia, Estee Lauder group, sampai Unilever dan Paragon Indonesia. “Project saya berkisar dari dekorasi event sampai pembuatan booth untuk exhibition, juga Art installation,” tambahnya. Tak heran bila dia mendapat kepercayaan untuk project-project besar, salah satunya dekorasi Gedung Nusantara atau Gedung ‘Kura-kura’ Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta Pusat, untuk pelantikan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024. Lewat karya ini ia ingin menyampaikan pesan perdamaian. Supaya Indonesia terus bersatu dalam keberagaman. Juga supaya anak-anak muda terus berkarya dan terus menjadi inspirasi satu sama lain. “Be a blessing to others,” serunya.

Tahun Kelulusan: 20/02/2004
Jessie Setiono
Associate at Baker McKenzie & Model Internasional

Lawyer Sekaligus Model Internasional Lulusan Magister Hukum UPH

 

Profesi hukum identik dengan karakter yang kaku dan serius, berbeda dengan profesi model yang dituntut luwes dan dinamis. Namun, siapa sangka keduanya melekat pada diri Jessie Setiono. Parasnya yang cantik dan menawan membuat wajah model papan atas asal Indonesia ini sudah tidak asing lagi dalam dunia model. Berbagai cover dan fashion spread di hampir semua majalah fashion ternama pernah memajang wajahnya sebagai cover magazine.

Model ini merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH), dan bekerja sebagai lawyer di salah satu firma hukum ternama, yaitu Baker McKenzie. Jessie, begitu biasa dia dipanggil, mengaku dengan menjadi lawyer mengajarkannya bahwa orang dapat berpikir lebih dalam dan filosofis.

Seperti yang dilansir oleh Majalah Prestige, disela-sela sesi pemotretan Louis Vuitton’s Fall/Winter 2019 Collection yang berlangsung di Tokyo, 16 September 2019, Jessie mengungkapkan pengalamannya menjalani profesi Lawyer. “Skills yang saya peroleh, orang-orang yang bekerja bersama dengan saya, dan klien di tempat saya bekerja adalah bagian dari proses pembelajaran untuk menjadikan saya sebagai seorang profesional yang lebih baik,” jelas Jessie.

Jessie juga menyampaikan pandangannya tentang gerakan global #MeToo jika diimplementasikan di Indonesia.

“Pelecehan seksual adalah masalah yang sering terjadi di Indonesia. Ini perlu ditangani dengan satu atau lain cara. Namun, gerakan #MeToo kemungkinan akan mengarah pada suara daripada substansi. Indonesia belum membahas masalah yang sangat mendasar seperti: Apakah perempuan Indonesia cukup berdaya untuk berbicara? Bisakah perempuan Indonesia bebas dari peran yang diekspektasikan oleh masyarakat terhadap mereka? Bisakah perempuan Indonesia mandiri? Apakah Indonesia memiliki sistem penegakan yang kondusif untuk mendukung hak-hak perempuan?” tutur Jessie. Jessie menilai Indonesia perlu mengatasi masalah dasar secara paralel, bersamaan dengan menerapkan gerakan #MeToo, agar gerakan ini tidak menjadi boomerang bagi perempuan Indonesia.

Sebelum mendapatkan gelar Master in International Trade, Investment and Competition Law, tahun 2014, dan Sarjana Hukum, tahun 2016 di UPH, Jessie juga sudah mendapatkan gelar Bachelor of Commerce di Curtin University Perth, Australia.

Memiliki profesi ganda di bidang yang berbeda membuat Jessie tidak lepas dari tantangan yang dihadapinya. Salah satu tantangan yang diakuinya masih sulit untuk diatasi adalah menyeimbangkan dua profesinya yang harus serba cepat dan menuntut, dengan kehidupan pribadinya.

“Akhir-akhir ini saya sedang mencoba lebih banyak meluangkan waktu untuk kehidupan pribadi saya dengan bermeditasi, olahraga, menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga, serta bepergian sesekali,” tutup Jessie.

Tahun Kelulusan: 02/04/2014
Karier yang saya miliki hari ini tidak mungkin terjadi tanpa pengenalan yang utuh dan terintegrasi tentang psikologi serta pembentukan karakter yang matang pada saat belajar di UPH.
Karel Karsten
Psikolog & Dosen Fakultas Psikologi UPH

Saat SMA, ketika teman-teman seusianya bimbang menentukan pilihan karier yang tepat untuk masa depan, Karel percaya Tuhan telah menentukan pilihan karier yang mantap untuk digelutinya, yakni menjadi akademisi dan praktisi di bidang psikologi klinis. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk memilih UPH sebagai universitas tempatnya menapaki langkah pertama dalam membangun kariernya. Sejak saat itu, tidak sekalipun Karel menyesal memilih UPH. UPH memperlengkapi Karel dengan dasar yang kuat di bidang psikologi, dan yang paling penting, UPH berperan sangat penting dalam membentuk karakter sebgai ilmuwan, pendidik, dan psikologis dengan identitas kokoh di dalam Kristus. Di dunia di mana orang-orang kerap menjunjung psikologi sebagai agamanya, Karel justru percaya bahwa psikologi kehilangan makna ketika ia dipisahkan dengan karya keselamatan Yesus.

Pada tahun 2014, Karel mendapat izin dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk berpraktik sebagai psikolog klinis. Bersama dengan istrinya, yang juga lulusan Fakultas Psikologi UPH, Karel merintis berdirinya Experiencing Life Foundation (ELF) sebagai pusat layanan psikologi di Gading Serpong, Tangerang, yang melayani berbagai kebutuhan psikologi untuk individu, seperti: konseling, psikoterapi, dan pemeriksaan psikologis. Setelah satu tahun dirintis, ELF mulai mengembangkan layanannya ke sektor yang lebih luas dengan menerima klien perusahaan dan sekolah. ELF terus berkembang menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesadaran psikologis bagi orang-orang di lingkungan sekitar, dan dengan penyertaan Tuhan, ELF terus memperluas lingkup layanannya untuk menjangkau klien-klien di tingkat regional dan nasional, seperti: melayani kebutuhan psikologi untuk merekrut karyawan bagi perusahaan, memberikan seminar dan psikoedukasi untuk berbagai kebutuhan, dan memberikan konsultasi untuk riset pengembangan ilmu psikologi.

Sebagai karier akademisinya, Karel merupakan dosen penuh waktu di Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan, sejak tahun 2013. Pada tahun 2015, Karel dipercaya menjadi Vice Persident sebuah asosiasi konseling di Indonesia (Indonesian Counseling Association). Sejak tahun 2014, Karel juga menjadi Ketua Editor Jurnal Psikologi Ulayat dan dipercaya menjadi reviewers pada berbagai jurnal terkemuka di tingkat nasional dan internasional. Pada tahun 2016, Karel mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi tingkat doktoral di Faculty of Medicine, the University of Queensland, Australia. Bidang risetnya berfokus pada hubungan romantis, khususnya pada bagaimana ketiadaan hubungan romantis berdampak pada kesejahteraan psikologis seseorang, serta bagaimana peran religiositas, spiritualitas, dan dukungan sosial dapat membantu seorang yang belum menikah untuk mengatasi tekanan menikah, terutama bagi masyarakat Indonesia.

Karel percaya rekam jejak yang telah dibangunnya sejauh ini tidak mungkin terjadi tanpa pengenalan yang utuh dan terintegrasi tentang psikologi serta pembentukan karakter yang matang pada saat belajar di UPH

Tahun Kelulusan: 04/03/2011
Jovita Irawati
Direktur Utama PT. OSO Jasa Medika (Hospital Holding Company - Member of OSO Group)

True Knowledge dan Godly Character menjawab tantangan karir masa kini.

 

Jovita Irawati adalah salah satu alumni S3 UPH Dokter Hukum yang memiliki IPK 4.0 dan menjadi wisudawan terbaik dari seluruh strata pada wisuda XXX di tahun 2016. Jovita memutuskan untuk memilih melanjutkan doktoral bidang hukum untuk memperdalam wawasan dan pengetahuan hukum yang aplikatif di bidang kesehatan. Menurut Jovita, di UPH bukan saja mendapatkan pengetahuan yang banyak tetapi juga mendapatkan komunitas akademik yang berawasan luas dan penuh dedikasi. Jovita sangat bersyukur telah menjadi salah satu alumni yang menerima true knowledge dan memperdalam mengenai nilai-nilai godly character yang dapat menjawab tantangan karir yang sedang dijalankan, sebuah dunia kerja profesional yang sarat dengan permasalahan hukum dan kemanusiaan.

Jovita berharap bahwa UPH bisa semakin maju dan memberi kontribusi nyata dalam menyiapkan SDM berkualitas dan berintegritas untuk membangun bangsa dan negara Indonesia. Adapun beberapa kontribusi yang Jovita lakukan, diantaranya disertasi di pakai sebagai acuan untuk UU kesehatan, sebagai dosen tetap Magister Hukum UPH dan dosen penguji program Doktor Hukum. Sebelum menjadi President Director PT. OSO Jasa Medika (Hospital Holding Company- Member of OSO Group), Jovita pernah menjabat sebagai Direktur Administrasi di Rumah Sakit Pluit.

Tahun Kelulusan: 20/02/2016
Dukungan yang diberikan untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti Pengadilan Semu Internasional merupakan salah satu bukti nyata akan komitmen UPH dalam meningkatkan daya saing para mahasiswanya baik di tingkat nasional maupun internasional.
Junianto James Losari
Arbitrasi Komersial Internasional dan Arbitrasi Investasi Internasional (Associate di Allen & Overy, Singapore)

Menghasilkan Generasi Muda yang Siap Bersaing Secara Global

“Kuliah di Fakultas Hukum UPH merupakan suatu kesempatan yang berharga untuk saya. Secara khusus, saya merasakan dedikasi yang sungguh dari Pak Dekan dan segenap dosen dalam mendidik dan mempersiapkan para mahasiswa agar siap bersaing di dunia kerja setelah lulus. Dukungan yang diberikan untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti Pengadilan Semu Internasional merupakan salah satu bukti nyata akan komitmen UPH dalam meningkatkan daya saing para mahasiswanya baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan ilmu dan berbagai keahlian, termasuk soft skills, yang saya dapatkan di UPH, saya dapat bersaing dengan lulusan dari universitas-universitas terkemuka di dunia dan berkontribusi secara lebih bermakna dalam pekerjaan saya saat ini sebagai seorang pengacara di bidang penyelesaian sengketa internasional yang dapat beracara di pengadilan Indonesia dan di Inggris.” Pengakuan ini disampaikan oleh Junianto James Losari, alumni UPH lulusan Ilmu Hukum, angkatan 2005. Sebagai seorang pengacara, tentunya segala ilmu dan keahlian yang pernah didapatkan James menjadi bekal untuk berkontribusi di bidang hukum. James berharap UPH bisa terus menghasilkan praktisi-praktisi hukum berkualitas, yang berkontribusi bagi bangsa Indonesia, melalui holistic education yang berstandar internasional. James merasa bahwa saat ini, untuk terjun ke dunia nyata bukan hanya bersaing dengan lingkup terbatas tetapi juga bersaing dengan lingkup global. James sangat mempercayai bahwa dengan adanya pembelajaran di UPH, setiap mahasiswa bisa memainkan peran sentral yang membentuk generasi muda yang kompeten, dan bukan hanya itu saya tetapi juga memiliki mental yang kuat dalam menghadapi berbagai macam tantangan.

Tahun Kelulusan: 30/03/2009