Lulusan Kami

Lulusan Kami.

Kisah Sukses Lulusan Kami

UPH membekali saya dengan pola pikir yang kritis dan sudut pandang yang luas. Itulah yang saya pegang hingga menjadi jurnalis sekarang.
RETNA PRAMESTININGRUM: Satu Lagi Lulusan Ilmu Komunikasi Menjadi Jurnalis Kompeten
Associate Producer di KompasTV

Satu Lagi Lulusan Ilmu Komunikasi Menjadi Jurnalis Kompeten

 

Jika Anda pernah menonton program TV semi-dokumenter sejarah berjudul “SINGKAP” atau acara kuliner “FOOD STORY” di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, maka Anda baru saja melihat hasil karya yang dicetuskan oleh alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2010, Retna Pramestiningrum. Sebagai Associate Producer di KompasTV, ketertarikan Retna terhadap dunia komunikasi sudah ada sejak lama di bangku Sekolah Menengah Atas. Ia mengakui bahwa kesempatan untuk menjadi sosok dibalik pesan yang disampaikan melalui media cetak, media elektronik, maupun melalui media sosial memiliki daya pikat tersendiri baginya.

Retna melihat bahwa UPH memiliki fasilitas lengkap untuk menunjang mahasiswa/i jurnalistiknya, dan terlebih juga kesempatan untuk belajar langsung dari dosen yang berpengalaman dan kompeten. Melalui proses belajar mengajar tersebut, ia didorong untuk mampu membuka pikiran seluas-luasnya serta memahami teori dan praktek jurnalistik didalam kelas. Terlebih penting, Retna merasa bahwa UPH menawarkan sifat kekeluargaan antara dosen dan mahasiswa/i, sehingga ia merasa lebih percaya diri untuk berkarya dan menuangkan kreativitasnya.

“Bekal utama yang saya dapatkan selama berkuliah di UPH adalah berpikir kritis dan melihat sebuah masalah dari berbagai sudut pandang. Itulah yang saya pegang hingga menjadi jurnalis sekarang. Jika saya mendapat informasi dari berbagai sumber, wajib bagi para jurnalis untuk criticize it! Apalagi dengan maraknya informasi di sosial media, berbagai perspektif hadir untuk diteliti dan ditelaah terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada publik,” jawab Retna antusias.

Persaingan kerja yang ketat di industri media menjadikan Retna sebagai pribadi yang kreatif, disiplin, dan bertanggung jawab. Menurutnya, pengalaman mengikuti berbagai organisasi selama kuliah telah membantu membentuk kepribadiannya tersebut. Melalui klub UPH Radio dan UPH TV yang diikutinya, Retna mengasah ilmu, termasuk mencari berita, menulis naskah, hingga menjadi presenter. Dari kedua organisasi tersebut, Retna

mengaku tidak canggung lagi ketika masuk ke dunia televisi karena bekal pengalaman tersebut hampir sama ketika memasuki dunia kerja. Ia yakin, bahwa melalui latar belakang ilmu akademis yang dimilikinya, ia akan dapat memberikan dampak lebih luas terhadap lingkungan, termasuk kesempatan untuk berbagi pengalamannya selama di dunia pertelevisian.

Tahun Kelulusan: 04/03/2014
Banyak valuable life skill saya dapat saat kuliah di TI UPH
FANNY MURHAYATI: Lulusan Teknik Industri Sukses Berkecimpung Dibidang Konsultan Industri
Marketing Director di Kantar Indonesia

Lulusan Teknik Industri Sukses Berkecimpung Dibidang Konsultan Industri

Kuliah di Teknik Industri tidak melulu belajar tentang teknik. Berbagai ilmu juga dipelajari dalam program studi ini, seperti ilmu manajemen hingga bisnis. Bahkan di Teknik Industri Universitas Pelita Harapan (TI UPH) mahasiswa mendapatkan banyak valuable life skill yang sangat berguna untuk mendukung profesi di dunia kerja. Hal ini diakui Fanny Murhayati, alumni 1999, yang saat ini berkarier sebagai Marketing Director Kantar Indonesia, perusahaan multinasional di bidang research dan konsultasi yang berkantor pusat di United Kingdom (UK).

Pengalaman Fanny di bidang konsultan industri selama 15 tahun, memberikan banyak pelajaran serta keahlian di bidang strategi atau business plan suatu brand, dari multi-national atau local companies dan di beragam industri, seperti di bidang Fast Moving Consumer Goods (FMCG), keuangan, telekomunikasi dan sebagainya. Menurut Fanny, ilmu yang didapat saat kuliah di Teknik Industri UPH sangat aplikatif dalam berbagai industri. Diantaranya pelajaran supply chain, yang mengajarkan bagaimana workflow di pabrik.

“Pelajaran ini membuat saya mengerti proses secara menyeluruh mulai dari pengadaan hingga memarketingkan suatu barang atau brand. Tidak hanya itu, banyak valuable life skill saya dapat saat kuliah di TI UPH,” cerita Fanny yang memulai kariernya di PT The Nielsen Company Indonesia. Berbagai pelajaran life skill yang didapat seperti belajar bagaimana memprioritaskan tugas, membuat project management, serta keterampilan untuk membuat suatu pekerjaan lebih terorganisir. Selain itu ia juga mendapat pelajaran motivation, working with the other, speaking, independence, prioritizing, dan time management baik secara individu maupun dalam group, melalui berbagai kegiatan non-akademik.

Berawal dari kuliah di TI UPH, kini Fanny memiliki berbagai keahlian yang sangat diperlukan dalam industri saat ini, khususnya dalam bidang market research dan competitive analysis. Tentunya pencapaian ini tidak hanya dari pendidikan akademik yang berkualitas, namun didukung valuable life skills yang didapatkan sejak di bangku kuliah.

Tahun Kelulusan: 26/02/2003
Pendidikan di UPH telah mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang kreatif, toleran, dan gigih dalam menghadapi tantangan sebagai terapis.
KEZIA KARNILA PUTRI: Lulusan Musik UPH Menjadi Satu-satunya Pemegang Sertifikasi MTBC-MBA di Indonesia
Dosen Musik UPH & Ethnics & Research Team di World Federation of Music Therapy

Lulusan Musik UPH Menjadi Satu-satunya Pemegang Sertifikasi MTBC-MBA di Indoensia

 

Satu-satunya orang yang memegang sertifikasi MTBC-MBA di Indonesia adalah Kezia Karnila Putri, alumni sekaligus dosen Conservatory of Music Universitas Pelita Harapan (CoM UPH) angkatan 2012. Sertifikasi ini didapatkannya setelah ia memenuhi praktek klinis lapangan sebanyak 1,000 jam untuk membantu lansia yang menderita Alzheimer dan juga dewasa dengan isu mental seperti PTSD, borderline, bipolar di Kanada.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di UPH pada tahun 2015, Kezia langsung melanjutkan pendidikannya ke Kanada dimana ia kemudian menjalankan praktek klinis lapangan dan mendapatkan Certification Board of Music Therapy (America) maupun Canadian Association of Music Therapy (Canada), sebuah sertifikasi yang sudah diakui dunia. Kezia yang kini juga dipercaya untuk menjabat sebagai Ethnics & Research Team di World Federation of Music Therapy mengakui bahwa pendidikannya di UPH telah membentuknya untuk menjadi pribadi yang kreatif, toleran, dan gigih dalam menghadapi tantangan sebagai terapis. Melalui pendidikan musik pula ia melihat bagaimana musik mempengaruhi manusia begitu dalam, bagaimana Tuhan menciptakan manusia begitu unik dan multilayered, dan bahkan bermanfaat untuk mengenal dirinya sendiri.

“Saran saya, be open to learning. Dirimu sendiri yang akhirnya mementukan apa yang kamu mau pelajari. Sebaik-baiknya dosen, kalau kamu tertutup dengan pengetahuan, kamu akan dapat hanya sedikit dan sebaliknya. Dan, buatlah apa yang kamu lakukan bermanfaat untuk dirimu dan orang lain – bukan hanya salah satu. Dengan demikian, kepuasan yang kamu dapatkan akan seimbang,” tutup Kezia dalam Alumni Homecoming session UPH Festival, Agustus 2020 lalu.

Tahun Kelulusan: 09/09/2020
Dosen di UPH tidak menyulitkan mahasiswa ketika membutuhkan bantuan, peduli dan tulus saat mengajar.
Alumni Psikologi UPH Memenuhi Panggilan Sebagai Ketua Program Studi
Ketua Program Studi Psikologi UPH

Alumni Psikologi UPH Memenuhi Panggilan Sebagai Ketua Program Studi

 

Menjadi pribadi yang berdampak bagi sekitar merupakan keinginan semua orang, termasuk Jessica Ariela, alumni Psikologi UPH angkatan 2007. Keriunduannya untuk bisa berbagi kepada lebih banyak orang dalam satu waktu membuatnya membulatkan tekad dan mengambil komitmen untuk menjadi Ketua Program Studi Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH). Jessica percaya bahwa sebagai sarana untuk melatih calon konselor maupun psikolog, pendidikan memberikannya ruang gerak lebih luas sehingga ia dapat memberikan dampak yang lebih luas juga. Melalui sesi alumni sharing pada acara UPH Festival 2020 lalu, Jessica juga mengakui bahwa selain memberikannya energi, mengajar menjadi tempat baginya untuk menjadi wadah untuk berbagi kebaikan khususnya dalam memajukan kesehatan mental dan psikologis di Indonesia lewat lulusan-lulusan dari Fakultas Psikologi UPH. Pengalaman positif yang didapatnya selama menempuh pendidikan di UPH, terutama kepedulian dan ketulusan dosen-dosen yang selama ini telah mendidiknya menjadi faktor penentu dalam menentukan tempat untuknya berkontribusi bagi almamaternya

“Dosen di UPH tidak menyulitkan mahasiswa ketika membutuhkan bantuan – saya betul merasakan bahwa mereka mengajar dengan peduli dan tulus selama kita sebagai mahasiswa tahu batasannya. Di UPH, kita punya relasi yang baik antara dosen dengan mahasiswa,” kenang Jessica.

“Jangan lupa juga untuk terus tanya Tuhan bagaimana ilmu psikologi bisa kalian manfaatkan sehingga kalian bisa pakai ilmu yang kalian punya untuk berdampak bagi orang lain,” tutupnya.

Tahun Kelulusan: 04/03/2011
Kalau dulu saya belajar menganalisa ruang, sekarang skala-nya satu wilayah atau pulau. Kalau dulu mendesain ruang, sekarang mendesain program. Saya bersyukur metode design thinking yang di ajarkan di UPH sangat terpakai di pekerjaan saya sekarang ini.
DEWIE ANGGRAINI PUTRI: Interior Design UPH Mengajarkan Metode Design Thinking yang Bermanfaat
Bali Water Protection (BWP) Officer di IDEP Foundation

Alumni Desain Interior yang Piawai Mendesain Program Community Development

Bergabung dalam aktivitas Non-Governmental Organization (NGO), terlebih di bidang lingkungan dan budaya, menarik perhatian Dewie Anggaraini Putri, atau yang biasa disapa Dewie, alumni Desain Interior UPH 2013. Dewie yang mendalami ilmu desain, kini terjun ke dalam profesi yang berhubungan dengan pelayanan untuk kemanusiaan dalam tim Bali Water Protection (BWP) yang merupakan proyek dari IDEP Foundation. Dalam menjalankan pekerjaannya, Dewie mengaku banyak pengetahuan dan skill yang didapat saat kuliah di School of Design UPH, dapat diimplementasikan ke dalam pekerjaannya di NGO. Diantaranya, metode analisa dan pengumpulan data untuk mengatasi persoalan dalam suatu komunitas. “Kalau dulu saya belajar menganalisa ruang, sekarang skala-nya satu wilayah atau pulau. Kalau dulu mendesain ruang, sekarang mendesain program. Saya bersyukur metode design thinking yang di ajarkan di UPH sangat terpakai di pekerjaan saya sekarang ini,” ungkap Dewie. Oleh karenanya, Ia sangat bersyukur berkesempatan bergabung di IDEP Foundation, sebuah organisasi yang berfokuskan pada community development melalui permakultur dimana ada pemahaman antropologi dan budaya di dalamnya, yang merupakan bidang yang sangat diminati Dewie. Selain itu, melalui BWP ini ia dapat ikut memberikan kontribusi positif dalam tumbuh kembangnya komunitas lokal dan masyarakat luas. Bergabung dalam tim Bali Water protection di IDEP, tugas utama Dewie adalah untuk membangun hubungan dengan pemerintah, donor, partnerships, alliances, dan juga komunitas lokal. Selain itu, Dewie kini piawai untuk mendesain dan mengembangkan program aktivitas yang mendukung program utama, yang berfokus pada konservasi air tanah, membuat proposal, hinga report proposal. Bagi Dewie, sebagai lulusan Desain Interior School of Design UPH, pengetahuan dan skill yang didapat sangat membantu untuk terjun dalam berbagai bidang profesi. Prinsipnya, jangan takut untuk belajar sesuatu yang baru, karena hal tersebut dapat membawa kita ke perspektif yang baru, menemukan berbagai macam peluang dan membawa kita ke pengalaman baru.

Tahun Kelulusan: 29/08/2018
FK UPH ada banyak kegiatan asistensi seperti misalnya bedah. Kami terjun ke pasiennya dan langsung hands-on. Beda dengan universitas-universitas lain yang tidak langsung dapat kesempatan tindakan.
Niken Ageng Rizki: Kisah Sukses Alumni Fakultas Kedokteran UPH
Spesialis THTKL Siloam Hospitals

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPH Dapat Banyak Kesempatan Hand-On Learning dan Soft Skill untuk Dukung Profesi

 

Tuntutan profesi membuat mahasiswa kedokteran harus siap menjalani pendidikan untuk dapat menangani pasien dalam situasi apapun. Selain banyak belajar teori, juga harus melakukan praktek menangani pasien di rumah sakit. Beruntung bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), memiliki sistem kuliah yang memberikan banyak kesempatan kepada mahasiswa mendapatkan pengalaman hands-on learning dan soft skill yang sangat mendukung profesi.

Manfaat kuliah di FK UPH ini diakui dr. Niken Ageng Rizki, Sp.THTKL, saat membagikan kisahnya sebagai mahasiswa FK UPH dan perjalan kariernya sebagai dokter spesialis THT bedah kepala dan leher kepada ratusan siswa SMA yang mengikuti webinar ‘Ceritaku’ yang diadakan UPH pada Sabtu, 20 Juni 2020.

“Senangnya di FK UPH ada banyak kegiatan asistensi seperti misalnya bedah. Kami terjun ke pasiennya dan langsung hands-on. Beda dengan universitas-universitas lain yang tidak langsung dapat kesempatan tindakan,” cerita dr. Niken, alumni FK UPH 2007.

Selain mendapatkan pengetahuan yang mendalam di bidang kedokteran, mahasiswa FK UPH juga diperlengkapi dengan soft skill yang sangat berguna untuk menjalani profesinya sebagai dokter. Di antaranya, melalui mata kuliah non-akademis dan berbagai kegiatan dan kemahasiswaan baik di lingkungan universitas, tingkat nasional, hingga internasional.

“Waktu kuliah di FK UPH saya banyak diperlengkapi dengan mata kuliah non-akademis seperti kepemimpinan, critical thinking, dan kemampuan bahasa Inggris yang baik untuk menjadi batu loncatan menjalani pekerjaan saat ini. Saya juga aktif ikut di senat mahasiswa, dan ikut organisasi Asian Medical Student Association UPH (AMSA-UPH) di mana saya ditunjuk menjadi delegasi Indonesia buat konferensi luar negeri. Beruntung saya juga mendapat kesempatan mengikuti ajang Miss UPH Scholar tahun 2009,” ungkap dr. Niken yang mengaku kegiatan-kegiatan ini membentuknya menjadi dokter yang punya hati.

Terbukti, di masa pandemi ini dr. Niken terus aktif bertugas sebagai dokter spesialis di Siloam Hospitals dan RSU Cipto Mangun Kusumo, dan dikenal sebagai dokter yang ramah dan teliti dalam menangani pasien. Baginya sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab profesi untuk menangani pasien dalam situasi apapun. Semua ini berawal saat menempuh pendidikan kedokteran di FK UPH.

Tahun Kelulusan: 04/03/2011
Berani menjadi diri sendiri, berpegang pada prinsip dan tidak mentoleransi prinsip tersebut demi penerimaan orang lain.
Han Yoo Ra: Kisah Sukses Alumni Ilmu Komunikasi UPH
Youtuber dan Content Creator

UPH Menolong Han Yoo Ra Menemukan Jati Diri

 

Menemukan jati diri menjadi kunci penting dalam kehidupan seorang Han Yoo Ra, Youtuber dan Content Creator asal Korea Selatan, yang juga alumni Ilmu Komunikasi UPH 2010. Bagi selebgram yang popular di kalangan anak muda Indonesia ini, studi di UPH tidak hanya memberinya kesempatan untuk mengikuti berbagai macam kegiatan organisasi yang sangat bermanfaat, namun juga membekali dia dengan ilmu serta integrasi iman Kristen yang aplikatif. Semua yang didapat di UPH inilah yang membantu Yoo Ra menemukan siapa dirinya.

Yoo Ra, biasa Ia dipanggil, mengakui dirinya telah menemukan identitas dan tujuannya dalam Tuhan sehingga apapun yang orang lain katakan tentang dirinya tidak akan menggoyahkannya lagi. Termasuk kecantikan yang melebihi apa yang terlihat, akan terpancar dari dalam dirinya.

“Waktu aku kuliah dulu, aku berkesempatan mengikuti ajang Miss UPH Scholar (MUS) 2011. Aku justru dari kuliah ngga merasa secantik atau sepintar teman-teman yang waktu itu ikut berkompetisi, tapi aku memanfaatkan ajang MUS ini untuk menantang diri sendiri,” ungkap Yoo Ra.

Pergumulan malah datang setelah penobatan dirinya menjadi Miss UPH Scholar 2011. Gaya hidup yang cukup berbeda di luar kegiatan yang dijalankan selama masa jabatannya di Miss UPH Scholar membuatnya bertanya-tanya mengenai apakah sebetulnya Ia layak menjadi sosok yang merepresentasikan UPH. Secara kasat mata, Yoo Ra mendapatkan semua yang seseorang bisa inginkan: ketenaran, gelar, dan kesempatan untuk membawa pengaruh bagi sekitar. Namun, Yoo Ra merasa bahwa pencapaiannya kini malah bukan sesuatu yang diinginkannya dalam hidup. Ia terlalu sibuk menjadi sosok yang orang lain harapkan sehingga dirinya merasa kesepian dan kehilangan jati diri.

Tampil cantik merupakan sesuatu yang sangat biasa bagi Yoo Ra. Banyak orang pun sering memberikan pujian terkait penampilannya. Walaupun demikian, Youtuber asal Korea Selatan yang tumbuh di Indonesia ini ternyata mengalami kesulitan dalam menerima pujian “cantik”. Kisah perjalannya menemukan definisi beauty (cantik) kerap dibagikan Yoo Ra untuk menginspirasi anak-anak muda. Termasuk dia juga menjadi narasumber dalam berbagai acara yang diadakan UPH, di antaranya acara Summer Virtual ProgramBeauty Tamed the Beast” pada 30 Juni 2020 lalu, yang diikuti siswa/i SMA seluruh Indonesia.

“Tidak ada definisi mutlak untuk beauty (kecantikan). Beauty adalah kompilasi dari kualitas diri seseorang atau sesuatu. Kalau aku sendiri tidak tahu diri aku, bagaimana aku bisa menyebut diri aku cantik atau tidak? Kita harus selalu tanya lagi kepada Tuhan, siapa sih kita sebenernya? Tuhan, pencipta kita, yang tau seperti apa kita harus bertumbuh,” lanjut Yoo Ra.

Melalui kisahnya, Han Yoo Ra membukakan tentang pentingnya menemukan jati diri dan mengajak setiap anak muda untuk berani menjadi diri sendiri, berpegang pada prinsip dan tidak mentoleransi prinsip tersebut demi penerimaan orang lain. Ini yang membedakannya dari Youtuber lainnya, bahkan menjadikannya seorang influencer yang memiliki ciri khas.

Tahun Kelulusan: 04/03/2014
Kunci keberhasilan bisnis kami ada pada 3C yaitu Commitment, Consistency dan Care. Ini kami dapatkan dari pendidikan di UPH.
Franky Tanzil & Yunita Wellistya: Kisah Sukses Alumni UPH
Founder dan CEO Siomay LeeLoo

Pasangan Lulusan TI dan DKV UPH Berbagi Kisah Sukses Bawa ‘Siomay LeeLoo’ Raih 5 Penghargaan

 

Berawal dari passion untuk berbisnis di bidang Food and Beverage (F&B), Franky dan Yunita, pasangan suami istri alumni UPH, berhasil mengangkat produk lokal siomay menjadi bisnis dengan brand SIOMAY LEELOO dan telah mendapat 5 penghargaan bergengsi. Kelima penghargaan tersebut; Indonesia Most Admired Award 2020, Indonesia Excellent Quality Award 2018, Indonesian Best Quality Award 2017, Anugerah Wirausaha Indonesia 2016, The Most Enjoyable QuickBites 2016 by GoFood.

Kunci keberhasilan bisnis ini diakui keduanya ada pada 3C yaitu Commitment, Consistency dan Care. Sehingga pelan-pelan Siomay LeeLoo bisa bertumbuh dan berkembang karena mendapat kepercayaan dan support dari para customer. Kemampuan menjalankan 3C ini diakui Franky dan Yunita, sangat didukung oleh apa yang mereka dapatkan dari pendidikan di UPH.

“Ilmu dari Teknik Industri sangat membantu untuk menjalankan bisnis ini. Apalagi usaha siomay ini dikelola sendiri dari produksi, sampai ke penjualan. Jadi semua ilmu yang dipelajari bisa terapkan mulai dari soal produksi, manajemen stok, sampai kepada manajemen penjualan, dan sebagainya,” Jelas Franky alumni Teknik Industri (TI) UPH 1995. Sedangkan Yunita, istrinya, alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH 1995 menerapkan apa yang dipelajari saat kuliah ke dalam konsep desain untuk mendukung marketing Siomay LeeLoo, mulai dari desain packaging, desain logo/brand, sampai semua materi display dan marketing.

Keberhasilan mengelola bisnis ini juga tidak terlepas dari kegigihan keduanya untuk terus bertahan dari membuka satu counter di tahun 2007, hingga saat ini Siomay LeeLoo telah membuka lebih dari 30 outlet di daerah Jakarta, Tangerang, Bogor dan Depok. Keunggulan dari Siomay LeeLoo ini sendiri ada pada rasa siomay-nya yang khas dan berasa ikannya yakni dari bahan baku ikan tenggiri pilihan, tanpa bahan pengawet dan bumbu kacangnya yang disukai oleh pembelinya. Didukung kejelian dalam berbisnis, Franky dan Yunita mampu membawa Siomay LeeLoo menjadi produk favorit.

Tahun Kelulusan:
Studi di UPH tidak hanya mengembangkan ilmu desain yang saya miliki, namun juga membentuk karakter saya untuk menjadi desainer andal.
Greta Elsa: Kisah Sukses Alumni Desain Interior UPH 2014
Pemenang Gelar "Asia Young Designer of The Year"

Lulusan Desain Interior UPH Raih Gelar “Asia Young Designer of The Year” Pertama dari Indonesia

 

‘Rumah Kopi’ sebuah konsep rumah komunal yang mengakomodir kearifan lokal sekelompok masyarakat kampung Buni Kasih di Jawa Barat, karya Greta Elsa, alumni Desain Interior UPH 2014, berhasil memenangkan kompetisi internasional Asia Young Designer Award (AYDA) 2019/2020 untuk kategori Interior Design. Prestasi Greta menjadi kebanggaan School of Design Universitas Pelita Harapan (SoD UPH) sekaligus Indonesia, karena menjadi Warga Negara Indonesia pertama yang memenangkan Asia Young Designer of The Year di ajang internasional AYDA Summit 2020.

Greta berhasil meraih prestasi tertinggi di ajang AYDA mengungguli 700 peserta lainnya dari 15 negara. Prestasi ini diakui Greta diperoleh berkat ilmu desain dan pembentukan karakter untuk menjadi desainer andal yang diajarkan di SoD UPH.

”Studi di UPH tidak hanya mengembangkan ilmu desain yang saya miliki, namun juga membentuk karakter saya untuk menjadi desainer andal, melalui eksperimen, eksplorasi, berani gagal, berani mencoba hal baru, dan semangat terus mengejar yang lebih baik,” kata Greta antusias.

Greta berhasil menunjukkan kekuatan karakter dan budaya Indonesia yang luar biasa melalui karya desain yang dihasilkannya. Hal ini sekaligus membuktikan keunggulan pembelajaran di School of Design UPH, yang kuat dalam aspek disiplin ilmu desain serta dalam pembentukan karakter untuk menjadi designer yang andal.
Konsep Rumah Kopi ini berangkat dari tujuan mulia sekelompok pemuda kota untuk mensejahterakan masyarakat di kampung Buni Kasih, dengan memanfaatkan potensi agrikultur kopi yang tumbuh di area tersebut. Konsep rumah komunal yang dirancang Greta ditujukan untuk melestarikan kearifan lokal melalui penggunaan material lokal serta meminimalisir dampak lingkungannya. Melalui adanya Rumah Kopi, siklus keberlanjutan Kampung Buni Kasih diharapkan akan bertahan dan bahkan berkembang dalam aspek budaya, sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Prinsip-prinsip untuk menjadi designer andal yang diajarkan di SoD UPH mendukung Greta menghasilkan karya ‘Rumah Kopi’ yang diakui tim juri mampu menunjukkan kekuatan karakter dan budaya Indonesia yang luar biasa. Bahkan mendapat penghargaan dan pujian dari tim juri sebagai karya yang melampaui harapan dengan tingkat detil dan visi dalam desainnya. Atas prestasinya, Greta mendapatkan beasiswa senilai USD 10.000 di Harvard Graduate School of Design di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Tahun Kelulusan: 04/09/2019
Ada banyak ilmu yang didapat saat kuliah di UPH dan diaplikasikan dalam bisnis saya saat ini. Mulai dari bagaimana running bisnis dari awal sampai sukses, bagaimana cara buat produk yang disukai banyak orang melalui test panel, dan lainnya."
Martin (Pengelolaan Hotel 2015)
Pemilik @ceritakoffie.id

Cerita Koffie – Sukses Memanfaatkan Peluang Bisnis Kopi Kekinian

 

Berbicara tentang kopi, tentu punya deskripsi yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan kopi ialah teman produktif ada juga yang mengatakan kopi itu seni. Dalam event virtual Liburan Bareng Yuk (LBY) pada tanggal 28 Mei 2020, yang digelar UPH untuk mengisi liburan para siswa SMA, hadir narasumber pebisnis muda yang merintis di bisnis kopi kekinian. Nah, dia adalah Martin, owner Cerita Koffie dan juga alumni Manajemen Perhotelan UPH 2015.

Berkecimpung dalam dunia kopi, ternyata berawal dari kegagalan Martin masuk dalam club Gastronomy saat kuliah. Kegagalannya tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk mengikuti lomba-lomba memasak lainnya. Sampai akhirnya Ia menemukan tempat untuk part timer di salah satu coffee shop di Gading Serpong. Dari situ Martin mulai menemukan bahwa belajar kopi itu seru.

November 2019 menjadi awal Martin memulai coffee shopnya sendiri dengan brand @ceritakoffie.id dengan tagline Every Cup Tells a Story, di Alam Sutera. Pengalaman menjadi barista memberikan Martin kemampuan membuat specialty coffee yang rasanya masih original misalnya Americano, Cappucino, Latte dan Manual Brew. Martin melihat peluang bahwa bisnis specialty coffee itu trennya mulai turun karena harga di specialty coffee lumayan mahal. Martin berpikir bagaimana jika create kopi dengan harga yang lebih ekonomis, mengikuti tren bisnis yang ada di Indonesia. Hasilnya, sampai dengan saat ini, bisnis kopi Martin bisa merambah ke 8 kota di seluruh Indonesia.

Keberhasilan Martin dalam mengembangkan bisnisnya tentu tidak lepas dari ilmu yang Ia dapatkan dari pendidikannya di Manajemen Perhotelan UPH. Ada banyak ilmu yang didapat saat kuliah dan diaplikasikan dalam bisnisnya saat ini. Mulai dari bagaimana running bisnis dari awal sampai sukses, bagaimana cara buat produk yang disukai banyak orang melalui test panel dll. Sampai dengan saat ini, Martin pun tetap menggunakan tes panel untuk mengembangkan menunya.

Sebagai alumni dan seseorang yang sudah mulai mengembangkan bisnis sendiri, Martin tak lupa memberikan tips dan saran kepada para anak muda yang ingin memulai bisnis. Pertama, tentukan mau buka bisnis seperti apa? Jika kopi mau buka coffee shop mewah dengan dekorasi atau tempat duduknya yang bagus atau mau buka coffee shop dengan model take away seperti cerita koffie? Kedua, harus punya signature menu dari bisnis kamu, yang unik dari coffee shop lainnya. Ketiga, baru cari modal, salah satunya bisa melalui investor dengan sistem bagi hasil 50:50.

Lewat pengalaman yang dibagikan Martin diharapkan dapat memotivasi para peserta webinar dan juga anak muda pada umumnya untuk tidak takut punya cita-cita. Tentunya harus didukung dengan pengetahuan yang mumpuni. Bisa dimulai dengan kuliah di fakultas yang tepat. Seperti Fakultas Pariwisata UPH, yang sudah banyak menghasilkan lulusan yang berhasil di bisnis kuliner. Yuk, cari tahu infonya di www.uph.edu.

Tahun Kelulusan:
Banyak part dari pendidikan yang didapatkan di UPH merupakan first-hand experience, di mana kita sendiri juga menjadi percobaan eksperimen dalam eksplorasi pendidikan arsitektur dalam konteks umumnya di Indonesia.
Bondan Petra Diponegoro (Arsitektur 2011)
Arsitek & Penulis buku “The Extraordinary of the Ordinary Gurusina”

ARSITEK & PENULIS BUKU “THE EXTRAORDINARY OF THE ORDINARY GURUSINA”

 

Bondan Petra Diponegoro, alumni Arsitektur UPH 2011 adalah salah satu yang menjadi perwakilan bidang arsitektur untuk mendampingi revitalisasi kampung Adat Gurusina yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun 2018 lalu, kampung yang terletak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur dimana 27 dari 33 rumah tradisional ditambah 6 struktur bangunan adat lainnya terbakar.

Bantuan lebih jauh dari Pemerintah tidak hanya berfungsi untuk merevitalisasi area keberlangsungan hidup mereka, namun juga agar budaya setempat yang tertuang pada bangunan adat tidak hilang begitu saja. Dengan demikian, tugas Bondan dalam pekerjaan ini tidak terbatas pada pemantauan lebih jauh perkembangan pembangunan, tetapi juga merencanakan adaptasi dan mitigasi bencana untuk meminimalisir dampak bencana serupa dimasa depan.

Selama masa pembangunan kembali Kampung Adat Gurusina, Bondan mengaku ada banyak pelajaran berharga yang Ia dapatkan dari terlibat langsung dalam proses pembangunan ini serta mampu untuk lebih menghargai material bangunan yang berasal dari alam sekitar. Sementara masyarakat setempat diingatkan kembali untuk menghargai tradisi dan budaya yang mereka miliki. Pengalaman tersebut, Bondan tuangkan juga dalam buku yang Ia tulis bersama rekannya “The Extraordinary of the Ordinary Gurusina”

Walaupun bukan pekerjaan pertama yang dipercayakan padanya, Pembangunan kembali Gurusina dirasa tepat bagi Bondan untuk dapat mengimplementasikan ilmu yang sudah didapatkannya selama menjajak kuliah di UPH. Kolaborator di Formologix Lab ini merasa bahwa menjalani studi di UPH merupakan sebuah pengalaman yang menarik.

“Banyak part dari pendidikan yang didapatkan merupakan first hand experience dimana kita sendiri juga menjadi percobaan eksperimen dalam eksplorasi pendidikan arsitektur dalam konteks umumnya di Indonesia,” ungkapnya.

Hubungan baik dengan teman dan para dosen sewaktu kuliah diakui oleh Bondan masih terus terjalin dan memberikan motivasi lebih untuk terus belajar dan tidak puas dengan satu proyek atau kegiatan yang dijalani.

Bondan bepesan agar mahasiswa UPH bisa lebih bebas dalam menentukan masa depannya sesuai dengan tujuannya masing-masing tanpa harus dibebani keterbatasan dalam mengembangkan diri. Bondan percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin dilakukan baik itu meneruskan yang sudah ada ataupun memulai kembali dari awal sebuah karir, dan tentunya pribadi yang terbentuk dari lingkungan pendidikan yang baik akan pula berdampak baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Tahun Kelulusan: 10/09/2015
Melalui pendidikan di UPH, saya diperlengkapi untuk melakukan riset mendalam dalam menganalisa suatu masalah sehingga jalan keluar yang diambil tidak hanya baik untuk perusahaan, namun juga untuk segenap karyawan dan hasil akhir produk yang akan dikonsumsi masyarakat.
Michael Susanto Pardi (Magister Manajemen 2017)
Ketua Umum AKIDA dan Direktur PT. Dunia Kimia Utama, PT. Indonesian Acids Industry, PT. Liku Telaga, PT. Mahkota Indonesia, PT. PKG Lautan & PT. Pacinesia Chemical Industry

BELAJAR KUNCI UNTUK MENJADI ADAPTIF DAN MENCOBA HAL BARU

 

Michael Susanto Pardi, alumni UPH Magister Manajemen 2017 yang saat ini memimpin 6 perusahaan sekaligus, mempunyai pengalaman karier yang menarik untuk dibagikan. Meskipun dia menjabat sebagai salah satu direksi dalam 6 perusahaan tersebut, namun mempunyai tanggung jawab yang berbeda-beda. Ada yang di bidang Sales & MarketingProcurementHRManufacturingBusiness DevelopmentIT, dll.

Perusahaan yang dipimpinnya juga bukan main-main, di mana 5 di antaranya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufacturing dan 1 lainnya di bidang produsen bahan kimia yang memasok seluruh kebutuhan bahan kimia penjernih pada Perusahaan Air Minum di Indonesia dan juga export ke lebih dari 40 negara. Selain untuk air bersih, target market dari perusahaan-perusahaan yang dipimpin Michael juga digunakan untuk industri-industri hilir, seperti makanan dan minuman, keramik, detergent, biodiesel, tekstil, minyak goreng, dsb. Karenanya, sangat penting untuk menjaga produksi tetap berlangsung bahkan dimasa PSBB seperti ini.

Bagi Michael, memimpin 6 perusahaan tentu membutuhkan juggling brain dan fisik yang sehat. Disamping itu, dalam mengembangkan tiap perusahaan pasti memiliki strategi, manajemen, permasalahan operasional, teknologi bahkan sampai ke sub culture yang berbeda-beda. Contohnya, secara umum Michael membangun culture perusahaan yang utama adalah People FirstKindnessTeamworkAutonomy, dan Trust.

“Dengan membangun culture tersebut, maka team management bisa menjalankan tugas dan direction dari Board of Directors dengan kreatifitas, freedom dan accountability,” ungkap Michael.

Hal tersebut diaplikasikan dari ilmu yang juga Ia dapatkan ketika kuliah di UPH. Terlebih, Ia diperlengkapi untuk melakukan riset mendalam dalam menganalisa suatu masalah sehingga jalan keluar yang diambil tidak hanya baik untuk perusahaannya, namun juga untuk segenap karyawan dan hasil akhir produk yang akan dikonsumsi masyarakat.

“Belajar adalah kata kunci di saat krisis seperti krisis Covid-19 ini. Kita perlu menjadi manusia atau organisasi yang aktif belajar sehingga kita punya kemampuan adaptif dan mencoba hal-hal baru. Belajar bisa dari mana saja, bisa dari rules, teori, data dari buku, podcast, atau youtube. Dengan memiliki ilmu yang memadai, kita bisa melakukan eksekusi dengan cepat, eksekusi cepat adalah kunci keberhasilan.” pesan Michael.

Kesibukannya dalam dunia bisnis, ternyata tidak membuat Michael lupa untuk mangabdikan ilmunya bagi kemajuan bangsa dan negara. Selain menjadi Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik Indonesia (AKIDA), ia juga rutin menjadi dosen tamu di beberapa kampus, terutama di jurusan engineering. Semangat, terus belajar dan berkontribusi bagi bangsa!

Tahun Kelulusan: 10/09/2019
Dosen di UPH sangat mendukung aku dalam menjalani studi sambil berkarir.
Maudy Mikha Maria Tambayong (Hukum 2013)
Tokoh Masyarakat, Pengusaha dan Pendiri Sisters & Co. Advocacy

IEMM UPH JADI PILIHAN MIKHA UNTUK STUDI LANJUT DI HARVARD UNIVERSITY

 

Selain memiliki paras cantik dan multitalenta, public figure Mikha Tambayong tetap mengutamakan pendidikannya. Hal ini dibuktikan dengan keinginan besarnya untuk menempuh S2 di Harvard University. Alumni Ilmu Hukum UPH 2013 ini berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan menyandang predikat cumlaude.

Kini Mikha telah melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di program International Executive Master of Management (IEMM) UPH. Melalui program tersebut, Mikha mendapat kesempatan untuk mengikuti short course pada Juni 2020 serta akan mendapatkan professional certificate dari Harvard University.

Mikha mengakui bahwa kesempatan kuliah magister di Harvard University datang setelah dia mendaftar dan melakukan tes pada program International Master di UPH untuk program studi Manajemen. Dia akan menjalani masa studinya di dua kampus, yaitu UPH dan Harvard University, dengan jangka waktu masing-masing satu tahun.

“Kebetulan aku ambil program IEMM di UPH. Alasannya, karena aku sudah pernah kuliah di UPH saat S1 dan dosennya sangat mendukung aku dalam menjalani studi sambil berkarir. Selain itu, relevan juga karena sekarang aku juga punya bisnis. Environment di sini juga sangat nyaman dan mendukung untuk studi,” ungkapnya.

Pada studi magisternya ini, Mikha memilih program studi yang berbeda dari program studi pada program S1-nya yang membuat dirinya harus belajar lebih ekstra tentang mata kuliah dasar manajemen. Namun, hal ini membuatnya semakin gigih dan tertantang untuk keluar dari zona nyamannya. Program ini dirasa sangat relevan sama pekerjaannya saat ini karena Ia juga punya bisnis.

“Aku ambil kelas lain dulu sebelum ambil kelas manajemennya, karena nggak ada dasarnya cuma ya kebetulan aku lihat programnya bagus. Aku bisa dapat kelas di luar, terus juga mungkin lebih relevan sama pekerjaanku sekarang karena aku punya bisnis juga,” jelasnya.

Mikha juga sekaligus memberikan pesan kepada generasi muda yang memiliki mimpi, tetapi belum terwujud.
“Bagi semua orang dengan mimpi yang mungkin mustahil, miliki keberanian untuk memulai dari yang kecil, dan yang paling penting hormati serta cintai orang tuamu setiap saat, karena doa mereka sangat membantumu,” tandas Mikha.

Tahun Kelulusan: 10/03/2017
Mercy Widjaja (Hubungan Internasional 2014)
Jurnalis di Metro TV

Ilmu HI Membuka Jalan Terjun ke Profesi Jurnalis

 

Ternyata lulusan Hubungan Internasional (HI) punya banyak peluang karier di berbagai bidang. Ilmu dan keterampilan dalam berkomunikasi yang dipelajari di program studi HI menjadi salah satu keunggulan dari bidang ini. Ternyata prodi HI justru menjadi jalan untuk untuk terjun ke profesi jurnalis, seperti pengalaman Mercy Widjaja, alumni HI UPH 2014. Menjadi jurnalis atau reporter adalah cita-cita Mercy sejak kecil dan Ia bersyukur ketika lulus langsung bekerja di Metro TV, stasiun televisi swasta terpercaya di Indonesia. Walau dalam perjalanannya ada banyak tantangan yang dilewati dan effort yang dilakukan secara khusus ketika Ia menjadi reporter di lapangan, namun tak membuatnya putus asa. Hanya dalam waktu 1 tahun ia berhasil masuk ke studio.

Sebagai fresh graduate HI UPH dan juga reporter muda, Mercy mengaku sebelum mendapat kesempatan tampil di studio, Ia harus benar-benar mengerti dan menguasai materi yang ada di lapangan sehingga Ia bisa mengkomunikasikannya kepada pendengar dengan jelas. Dan hal tersebut cukup mudah diadaptasi, berkat bekal ilmu yang Ia dapatkan ketika kuliah di UPH. Satu hal yang semakin membuat Mercy yakin untuk bekerja di industri media dan jurnalistik adalah sistem kerja yang dinamis. Baginya, setiap hari selalu ada hal baru yang bisa dipelajari baik dari kesempatan bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang maupun dari materi-materi yang Ia mesti persiapkan.

Saat ini Ia bertanggung jawab mencari analisa dan prediksi pergerakan saham, serta melaporkannya di program Zona Bisnis dan Newsline Bisnis. Selain itu, Ia juga melaporkan berita ekonomi terkini baik nasional maupun internasional.

Tahun Kelulusan: 16/03/2018
Banyak law firm besar di Indonesia yang selalu memberikan slot untuk lulusan UPH.
Hendra Ong (Hukum 2000)
Pengacara Dentons HPRP

Mengawali Studi Hukum di FH UPH untuk Jadi Pengacara Terkenal

 

Seperti anak muda umumnya, sejak di bangku sekolah Hendra Ong, alumni Fakultas Hukum UPH Angkatan 2000, sudah bercita-cita menjadi pengacara terkenal. Cita-cita ini semakin kuat sejak ia lulus sebagai Sarjana Hukum dari FH UPH. Setelah 14 tahun lebih berkiprah di bidang legal dan dalam memimpin berbagai proyek penting bagi perusahaan internasional dan multinasional terutama di industri penerbangan menjadikan Hendra seseorang yang strategis untuk digandeng Dentons HPRP, salah satu firma hukum terkemuka di Indonesia sebagai Corporate and Commercial and Resources & Infrastructure partner.

Dalam menekuni kariernya, Hendra menyebutkan tiga hal utama yang menjadi kunci kesuksesannya, yaitu bekerja dengan smart, membina hubungan baik dengan setiap orang, serta memberikan pelayanan yang terbaik. Setiap elemen dari kunci tersebut diterapkannya dengan tanggung jawab yang besar, dimulai dari proses mencari individu yang tepat dan membentuk tim yang maksimal untuk setiap pekerjaan yang dilakukan. Menurut Hendra, sudah tugasnya sebagai team leader harus mampu melihat titik tersebut dan menempatkan setiap individu di tempat yang tepat bagi mereka sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat dicapai dengan lebih efisien dan efektif.

Hendra mengakui bahwa karier yang dijalaninya ini sudah diinginkannya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pandangannya tentang bagaimana seorang advokat adalah seorang individu yang pandai dan sukses dalam hubungan sosial mejadi pemicu untuk Hendra bekerja keras dan mencapai milestones dalam kariernya saat ini. Cita-cita ingin menjadi pengacara terkenal, kerja keras untuk dapat memecahkan permasalahan dari setiap klien yang diwakilkan. Selain itu, dalam menjalani kariernya ia selalu berpegang pada prinsip tanggung jawab, dapat dipercaya, dan disiplin. Menurutnya, tiga hal ini adalah modal yang penting untuk dimiliki setiap individu selain memiliki pengetahuan yang dalam akan bidang yang dikerjakan dan tidak pernah berhenti dalam proses pengembangan diri.

Dalam perjalanannya menuju sukses, pilihan Hendra untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya di UPH menjadi pilihan integral. Menurutnya, UPH tidak hanya memiliki dosen-dosen yang berpengalaman, namun juga lingkungan pendidikan yang mendukung proses belajar mengajar yang baik. Tidak kalah penting, network yang baik yang dimiliki teman-teman di UPH merupakan nilai tambah yang sangat berguna saat berkerja.

Menurut Hendra, saat ini UPH saat ini sudah menjadi salah satu universitas yang menghasilkan lulusan berkualitas digaet perusahaan-perusahaan besar, termasuk di firma hukum besar di Indonesia. “Khususnya di dunia hukum, banyak law firm besar di Indonesia yang selalu memberikan slot untuk lulusan UPH,” ucap Hendra.Belajar dari pengalamannya, Hendra berpesan untuk mahasiswa/i yang masih menyelesaikan pendidikannya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dapat dipercaya, dan selalu disiplin dalam bekerja. ‘Proses tidak akan membohongi hasil’, pepatah ini sudah dibuktikan Hendra, demikian yang akan terjadi jika seseorang selalu memberikan yang terbaik untuk setiap pekerjaan yang dilakukan.

Tahun Kelulusan: 12/03/2004
Saya yakin saya bisa dipilih berduet dengan Andrea Bocelli karena saya punya gelar sarjana formal yang saya dapat dari CoM UPH.
Dira Sugandi (Musik 2000)
Penyanyi Pop dan Jazz Internasional

COM UPH MELAHIRKAN MUSISI BERKUALITAS INTERNASIONAL

 

BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) menyatakan bahwa musik memiliki potensi industri yang besar dan menjanjikan, dapat menjadi jaminan untuk kamu yang ingin terjun di industri kreatif ini. Misalnya, bermimpi jadi penyanyi ‘superstar’ yang berprestasi. Kenapa harus ragu? Contohnya Dira Sugandi, jebolan Conservatory of Music UPH 2000 – penyanyi Jazz Indonesia yang tidak perlu diragukan kualitasnya baik nasional maupun internasional. Beberapa musisi internasional kenamaan pun sudah pernah berduet dengan wanita kelahiran kota Bandung ini, sebut saja Jason Mraz, David Foster, dan musisi lainnya.

Memiliki kualitas dan track record yang unggul, tidak menjadikan Dira enggan membagikan pengalaman dan tips ‘How to Sing Like a Superstar’ kepada peserta seminar yang umumnya siswa/i SMA dari berbagai daerah, di acara UPH Featuring The Expert #dirumahajatetapseru, 10 Juni 2020 melalui ZOOM Meeting.

Menjadi seorang superstar menurut Dira artinya menjadi seorang yang profesional. Pengalamannya berduet dengan musisi internasional, membuat Dira semakin menyadari bagaimana seharusnya menjadi seorang profesional. Beberapa kriteria yang harus dimiliki diantaranya bersikap rendah hati, memiliki sikap yang baik, selalu lakukan persiapan maksimal, dan yang juga penting memiliki bekal pengetahuan praktis maupun teori di bidang musik. Dira menyebutkan pengalaman pendidikan formal yang Ia dapat dari Conservatory of Music UPH, sebagai faktor penting dalam kariernya. Hal ini terbukti ketika dirinya berhasil lolos dan terpilih berduet dengan Andrea Bocelli. Ia terpilih salah satunya karena Ia punya gelar sarjana formal yang didapatkan dari CoM UPH.

Dira juga memberi tips dasar menjadi seorang penyanyi profesional. Pertama, passion, membuat seseorang nyaman dengan diri sendiri ketika di panggung, kuasai teknik dasar menyanyi, adalah dasar untuk melangkah menjadi penyanyi profesional.

Kedua, penguasaan materi, tentunya bukan sekadar hafal lirik dan melodi, tapi paham pesan apa yang ingin kita sampaikan. Penguasaan materi membuat kita memiliki penguasaan panggung yang baik, menyanyi dari hati, dan bisa menjadi story-teller yang dapat merebut perhatian penonton. “Jangan lupa sempatkan diri untuk eye contact dengan penonton dan just have fun!

Melalui Webinar ini, Dira mengajak peserta untuk terus berlatih dan mempraktikan kemampuannya. “Bisa dimulai dengan melakukan imitating penyanyi favorit,” pesan Dira.

Melalui CoM UPH, setiap lulusan dibekali menjadi pemusik dan artis handal serta profesional dengan kualitas yang unggul, karakter yang baik, dan mampu menjawab kebutuhan industri musik di Indonesia maupun dunia Internasional.

Tahun Kelulusan: 28/08/2006
Pengalaman berorganisasi dan relasi alumni UPH itu sangat bagus.
Frebriansyah Hermawan (Teknologi Pangan 2009)
Co-founder Namazake & Managing Director Sabda Indonesia

Pengalaman Berorganisasi dan Relasi Alumni Kunci Sukses Mengembangkan Karier

 

“Building Brands, Telling Stories” adalah value yang dipegang teguh seorang Frebriansyah Hermawan dalam pengambilan keputusan karir maupun bisnisnya. Posisi kepemimpinan yang dipercayakan pada alumni Teknologi Pangan UPH 2009 ini membuatnya tak bisa main-main – terutama mengingat misi hidupnya, yakni untuk membangun dan mengembangkan brand Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam negeri. Ia ingin bisnis-bisnis ini dapat mempunyai akses kepada strategi dan branding yang sama dengan merek-merek besar. Ia berharap dapat membantu bisnis-bisnis tersebut untuk tidak hanya mampu bertahan di zaman ini, namun juga untuk memiliki level persaingan sekelas merek-merek besar.

Saat ini, Frebriansyah bergerak pada bidang marketing, branding, advertising. Beberapa perusahaan yang dipimpinnya termasuk Namakaze sebagai co-founder dan Managing Director Sabda Indonesia. Perhatian utamanya akhir-akhir ini banyak diberikan terhadap Sabda Indonesia, sebuah perusahaan branding yang membantu klien ternama seperti Danone, Lumix, Sosro, dan Mayora. Sebagai sebuah perusahaan yang tergolong masih muda, Frebriansyah percaya Sabda Indonesia memiliki peluang berkembang kedepannya sehingga usaha dan fokus secara khusus akan sepadan dengan perkembangannya.

Walaupun memiliki latar belakang yang sama sekali berbeda dengan dunia yang digelutinya kini, Frebriansyah merasa ilmu yang didapatkannya tidaklah sia-sia. Kemampuan menulis laporan yang terasah selama kuliah menjadi ilmu yang membedakannya sebagai seorang marketer. Justru melalui penulisan hingga 5 laporan mingguan dan membaca ratusan jurnal, bermanifestasi sebagai analytical dan strategic thinking yang terasah. Alhasil, Frebriansyah mampu memahami permasalahan dengan lebih cepat, tepat, dan rancangan pemikiran yang terstruktur dan jelas.

Selain itu, pengalaman berorganisasi dan relasi alumni yang baik menjadi kunci penting bagi Frebriansyah. Menurutnya, pengalaman berorganisasi menjadi pemicu pilihan kariernya kini. Melalui kegiatan berorganisasi, Frebriansyah belajar untuk bekerjasama dengan banyak orang, “menjual” acara kepada pihak sponsor, hingga cara membuat event yang sukses. Frebriansyah tidak luput memuji relasi alumni UPH yang bagus sehingga Ia mendapat kesempatan untuk bekerja di Nutrifood setelah lulus.

Dalam menemukan panggilannya, Frebriansyah menerapkan kerangka berpikir “Ikigai” dari Negeri Sakura. Setelah menjelajah sebanyak-banyaknya dibawah usia 25 tahun, Ia memfokuskan diri terhadap pekerjaan yang Ia geluti berdasarkan 3 kerangka “Ikigai”; (1) apakah ada market untuk produk yang ingin Ia jual, (2) apakah Ia pandai melakukannya, (3) apakah Ia memiliki dalam bidang tersebut. Menurutnya seseorang akan berhasil jika pribadi tersebut menjawab ‘ya’ untuk ketiga komponen ini.

Tahun Kelulusan: 06/09/2013
Yuni Priskila Ginting (Doktor Hukum 2018)
Legal Advisor di PT. Wahana Kreator Nusantara & PT. Meprofarm

Lulusan UPH Mampu Bersaing dan Menjadi Pemimpin di Masyarakat

 

Pada usia yang masih tergolong muda – yakni 25 tahun –Yuni Priskila Ginting tidak hanya sudah menjadi seorang legal advisor di 2 perusahaan besar, namun juga berhasil menyelesaikan studinya sampai mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hukum. Keinginannya untuk menjadi pemimpin yang menjadi berkat bagi sekelilingnya membuatnya bergegas menyelesaikan studi doktoralnya.

Sebagai praktisi di bidang hukum, kesibukan Yuni cukup padat. Selain tugas utamanya sebagai legal advisor untuk PT. Wahana Kreator Nusantara dan di PT. Meprofarm, ia juga aktif sebagai dosen tamu dan narasumber di bidang hukum pidana dan Haki. Baginya, menangani berbagai proyek baik di industri farmasi dan kreatif, seperti pengurusan ijin edar dan merek dagang serta pembuatan film/serial dengan beberapa perusahaan seperti PT. KHARISMA STARVISION PLUS dan PT. DUNIA VISITAMA PRODUKSI (fremantlemedia), membuatnya selalu antusias, karena di setiap pekerjaannya Yuni menikmati setiap proses, target dan pencapaian yang berbeda dalam setiap penanganannya.

Di tengah kesibukannya, Yuni terus memiliki semangat belajar, bahkan ia tercatat sebagai Doktor Ilmu Hukum termuda di Indonesia. Melalui disertasinya berjudul “Tindak Pidana Pencucian Uang Sebagai Tindak Pidana Lanjutan Dari Perdagangan Narkotika“, menjadi cerminan kepeduliannya terhadap upaya penerapan hukum di Indonesia.

Dengan tegas Yuni menekankan bahwa masih maraknya perdagangan narkotika di Indonesia menjadi bukti bahwa negara masih belum menerapkan sanksi yang menimbulkan efek jera, sehingga negara mengalami kerugian dari segala lini. Solusi yang Yuni tawarkan adalah penerapan dua sanksi bagi pelaku, yaitu sanksi menurut undang-undang narkotika dan sanksi menurut undang-undang tindak pidana pencucian uang. Berlandaskan desertasi ini pula Yuni kerap menjalankan sosialisasi anti narkoba dan mengingatkan mahasiswanya untuk menjauhi narkoba. Ia ingin mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan berkembangnya jenis kejahatan yang bersangkutan dengan tidak pidana narkotika.

Kecintaan pada ilmu hukum tidak terlepas dari almamaternya Fakultas Hukum UPH yang telah membekalinya dengan ilmu pengetahuan, karakter, dan critical thinking, sehingga ia lebih siap terjun ke masyarakat. Yuni mengakui UPH mampu memenuhi kebutuhan mahasiswanya, sesuai dengan tingkatannya. Itu sebabnya ia konsisten memilih FH UPH untuk setiap jenjang pendidikan, dari S1, S2, hingga S3. Bahkan mengikuti pendidikan advokat yang diselenggarakan di UPH dan lulus ujian Peradi.

Menyelesaikan pendidikan setiap strata dengan tepat waktu adalah krusial bagi Yuni. Karenanya, meskipun selama studi di program Magister dan Doktor di UPH Yuni tetap bekerja, namun ia dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Tidak lain, diakui Yuni, karena UPH memiliki program pascasarjana yang dirancang sangat baik, dengan pemilihan waktu belajar, lokasi yang tepat dan strategis, ditambah pengajar yang kompeten. Bukan hanya itu, ia juga mengakui banyak mendapatkan koneksi luas, yang sangat dibutuhkan dalam pekerjaannya.

Semua yang ia dapatkan di UPH memberikan bekal yang lengkap, bukan hanya ilmu pengetahuan tetapi juga mental untuk terjun ke masyarakat. Bahkan Yuni membuktikan, tamatan UPH mampu untuk bersaing dan menjadi pemimpin di bidangnya, serta memberikan kontribusi sebagai agent of change di tengah masyarakat, sesuai dengan visi dan misi UPH yang sudah ditanamkan.

Tahun Kelulusan: 13/06/2020
Saya mendapatkan sudut pandang yang baru dari kelas-kelas yang diajarkan oleh dosen-dosen selama perkuliahan, yang akhirnya dapat saya pakai dalam menghadapi masalah yang ada di dunia kerja dan mengatur pola pikir saya dalam mengambil keputusan.
Noviana Ong (Manajemen 2010)
Manajer Portofolio di Salim Group

GIVE THE BEST, NEVER STOP LEARNING, AND BE GRATEFUL

 

Prinsip give the best, never stop learning, and be grateful menjadi kunci keberhasilan Noviana, alumni Manajemen 2010, yang saat ini dipercaya sebagai Portfolio Manager di Salim Group, perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia. Dengan memegang prinsip tersebut, Ia dapat menghadapi setiap tantangan dalam menjalankan kariernya. Sebagai Portfolio Manager, Noviana bertugas menangani investasi, termasuk mengembangkan dan menerapkan strategi untuk perusahaan-perusahaan yang dimiliki atau yang bekerjasama dengan Salim Group. Bagi Noviana, tugas ini sangat menarik. Tidak tanggung-tanggung, dia berhasil memanage kurang lebih 20+ perusahaan dengan membuat standarisasi laporan keuangan. Melalui profesinya ini, Noviana belajar dari bermacam-macam industri dan bertemu dengan banyak owner perusahaan, mulai dari belajar berkolaborasi, berinteraksi, berbagi ide dan pemikiran serta mendapatkan cara pandang baru dalam menghadapi berbagai jenis masalah hingga menemukan solusi dari masalah-masalah tersebut.

Berbekal ilmu yang didapat ketika kuliah di Business School UPH, menjadi modal terjun ke dunia finance dan management. Menurutnya, tugas-tugas di masa kuliah, melatih dia untuk dapat mengatur waktu dan memprioritaskan tugas. Lingkungan kampus, serta komunitas yang baik dan dosen-dosen yang berkualitas, sangat berguna untuk membentuk dia menjadi individu yang bertumbuh dalam berbagai aspek. “Saya mendapatkan sudut pandang yang baru dari kelas-kelas yang diajarkan oleh dosen-dosen selama perkuliahan, yang akhirnya dapat saya pakai dalam menghadapi masalah yang ada di dunia kerja dan mengatur pola pikir saya dalam mengambil keputusan,” tutur Noviana.

Sebelum berkarier di Salim Group, Noviana memulai kariernya di PT Indofood Sukses Makmur sebagai Risk Analyst selama hampir 3 tahun. Project yang berhasil ia kerjakan saat itu adalah memegang project perbaikan SOP Risk Management secara keseluruhan. Kemudian tahun 2016 lanjut berkarier di startup company bidang FnB selama 2 tahun sebagai sebagai Head of Financial and Administration. Dari mengurus 1 brand hingga berkembang menjadi 5 brand, dari memanage team dibawah 10 orang menjadi 60 orang. Perjalanan karier Noviana tak lepas dari prinsip yang terus Ia pegang yakni always give the best in everything, never stop learning and be grateful. Dengan memegang prinsip tersebut, Ia dapat menghadapi setiap tantangan dalam menjalankan kariernya. Secara khusus dalam bidang pekerjaannya saat ini di Salim Group, diharapkan dengan management yang baik dan didukung dengan perhitungan finance yang matang, startup-startup yang dipegangnya dapat berkembang hingga mendukung perekonomian mikro, yang berdampak pada perkembangan perekonomian makro.

Tahun Kelulusan: 13/03/2014
Kolaborasi adalah kunci agar kita dapat mencapai tujuan bersama, dan impact yang akan dihasilkan dari kolaborasi pun pasti lebih besar.
Dyandrastra Mairavida (Arsitektur 2013)
Co-founder & Creative Director di Copa de Flores

COPA DE FLORES, BERANGKAT DARI DESAIN UNTUK MENCIPTAKAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

 

Desain bukan melulu soal keindahan, tetapi desain digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Inilah salah satu sisi penting dari mempelajari desain yang diperoleh Dyandrastra Mairavida, Alumni Arsitektur 2013, profesional Arsitek, yang juga co-founder & creative director dari brand fashion Copa de Flores, sebuah social enterprise di bidang fashion. Meskipun merupakan hal yang masih baru, namun Dyandra tertarik untuk memasuki dan mempelajari bisnis ini. Bersama dengan 7 partner, yang punya ketertarikan sama pada budaya, mereka ingin memperkenalkan warisan budaya Indonesia ke masyarakat luas, dimulai dari teman-teman anak muda disekitarnya.

Copa de Flores adalah purposeful textile catalyst dengan misi untuk menanamkan nilai kepada para konsumen sehingga menjadikan mereka sebagai fashionablyhumanist, dengan mengolah tenunan tangan tradisional untuk pemberdayaan para perempuan penenun Flores. Terinspirasi oleh cinta ibu kepada anak-anak, Dyandra dan partners menamai kreasi mereka sebagai faithful companion, dengan harapan bahwa produk yang dipasarkan dapat menjadi teman yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya untuk semua orang.

“Kami mendedikasikan setiap kreasi Copa de Flores untuk menghormati kesetaraan, melindungi keberadaan warisan budaya maupun sastra Indonesia, dan untuk memenuhi gerakan fashion yang bertanggung jawab untuk kehidupan yang lebih baik dengan sistem ekonomi sirkular yang kami buat. Karenanya, setiap koleksi yang dikeluarkan selalu memiliki story line dengan tema yang beda-beda. Tujuannya untuk meningkatkan awareness terhadap suatu peristiwa bersejarah yang pastinya memiliki banyak pelajaran bermakna. Sedangkan untuk tenunnya sendiri selalu memiliki pesan berdasarkan motifnya, yang biasanya merupakan curahan hati para mama-mama penenun. Poin-poin diatas, kami olah dan padupadankan sesuai tema setiap koleksi agar pesan yang diangkat tersampaikan dengan baik,” jelas Dyandra.

Kualitas dan orisinalitas kain tenun, menjadi keunggulan dan keunikan Copa de Flores. Bahan ditenun langsung oleh tangan mama-mama di desa Flores menggunakan alat tenun gedongan, dengan bahan-bahan alami, diolah menjadi produk dengan desain yang timeless with a twist and versatile. Setiap material post production juga dimanfaatkan kembali menjadi produk-produk turunan agar tidak terbuang percuma, sekaligus meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan.

Melalui Copa de Flores, Dyandra dan partners juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi, kesetaraan gender perempuan di Flores dengan mengangkat potensi diri mereka. Di antaranya bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat untuk melakukan kolaborasi antara pengrajin desa, komunitas perempuan adat, perempuan dengan sindrom paska psikologis korban pelanggaran HAM dan pelecehan seksual, juga komunitas penyandang cacat, bersama-sama melakukan kegiatan menenun sebagai media pemulihan jiwa berbasis meditasi visual.

“Bagi kami kolaborasi adalah kunci agar kita dapat mencapai tujuan bersama, dan impact yang akan dihasilkan dari kolaborasi pun pasti lebih besar,” ungkap Dyandra. Meski sebelumnya Dyandra menempuh studi pada jurusan Arsitektur, Dyandra merasa mendapatkan apa yang Ia butuhkan untuk menjalankan usaha ini. Salah satunya adalah pelajaran bagaimana desain digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Lewat beberapa mata kuliah saat belajar di UPH, Dyandra belajar menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar dengan mengasah nilai nilai sosial.

Tahun Kelulusan: 06/09/2017
Eliza Aristanto (Desain Produk 2014)
Pendiri Pakai Lagi

‘PAKAI LAGI’ PRODUK YANG LAHIR DARI KEPEDULIAN PADA LINGKUNGAN

 

Siapa sangka, berawal dari kesadaran memanfaatkan sampah plastik sekali pakai, bisa melahirkan bisnis. Nama produk yang sederhana tapi powerful, Pakai Lagi (@_pakailagi), yang digagas oleh Eliza Aristanto alumni Desain Produk UPH 2014. Persoalan yang disebabkan oleh sampah plastik memang menjadi masalah dunia. Data yang dipublikasikan The Asian Post, Juni 2018, menunjukkan Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ini bukanlah pencapaian yang dapat dibanggakan. Berangkat dari concern terhadap kondisi tersebut, Eliza berusaha mencari tahu bagaimana mengolah sampah plastik menjadi barang yang lebih bernilai dan dapat digunakan oleh masyarakat berkali-kali. Prosesnya tidak singkat, karena ada banyak eksplorasi plastik (fokusnya di kantong plastik) yang dilakukan oleh Eliza.

Saat ini, produk-produk yang diproduksi Pakai Lagi kebanyakan dari jenis plastik konvensional yakni plastik bekas yang biasa digunakan sehabis belanja dari supermarket. Plastik bekas tersebut diolah menjadi produk yang dapat digunakan kembali seperti contoh kotak pensil, clutchpouch serbaguna, tas dan card wallet. Pakai Lagi juga berusaha untuk mengurangi penggunaan bahan baru, sehingga untuk packaging menggunakan barang-barang yang sudah ada, misalnya kertas bekas atau dus bekas makanan. “Pakai Lagi berusaha untuk menggunakan 100% material limbah plastik yang sudah diolah tersebut, tapi apabila ingin menggunakan kombinasi material lain, kami juga berusaha menggunakan material yang pembuatan aman untuk lingkungan serta sustainable,” ungkap Eliza.

Selain disibukan dalam mengembangkan Pakai Lagi, Eliza juga sedang juggling dalam 2 pekerjaan lainnya yakni sebagai junior designer di studio desain dan menjadi asisten dosen di Desain Produk UPH. Ilmu desain yang Ia dapatkan ketika kuliah, dapat diimplementasikan dalam bisnis dan pekerjaannya saat ini, seperti contoh proses desain, technical drawing, membuat 3D dengan aplikasi maupun prototype. Bermodal keterampilan yang diperoleh, Eliza terus mengeksplore dalam berbagai bidang pekerjaan, hingga dapat bekerja dalam beberapa bidang. Kuncinya, terus melatih diri, tekun, mau berbagi dan menentukan prioritas pekerjaan serta mengatur waktu dengan sebaiknya.

Tahun Kelulusan: 29/08/2018
Saya juga mendorong para mahasiswa untuk selalu memanfaatkan waktu di semasa kuliah sebanyak-banyaknya, temukan apa passionmu, bekerja keras dan bangun network.
Masayu Octora (Hubungan Internasional 2011)
Penasihat Komersial untuk Makanan dan Pertanian di Kedutaan Besar Denmark di Indonesia

HI UPH MEMBEKALI ILMU DAN NETWORKING MENUJU KARIER DI DUNIA DIPLOMATIK

 

Bekerja di Kedutaan merupakan pengalaman yang luar biasa bagi Masayu Octoria, alumni Hubungan Internasional (HI) UPH 2011. Setelah melalui beberapa bidang pekerjaan, sejak lulus kuliah, kini Masayu mendapatkan kesempatan yang dia idam-idamkan, dunia diplomasi internasional. Sebagai seorang Commercial Adviser di bidang pangan dan pertanian di Kedutaan Denmark di Indonesia, tugasnya mengharuskan Ia untuk berinteraksi secara langsung dengan regulator dari kedua belah pihak. Secara bersama, Masayu mengembangkan sektor pertanian Indonesia dengan tujuan untuk memperbaiki petani Indonesia. Bermodal keterampilan diplomasi dan pengetahuan di bidang ekonomi politik yang diperoleh saat kuliah di HI UPH, baginya bukan hal baru untuk menavigasi politik dan ekonomi Indonesia yang dapat diandalkan oleh para diplomat. Melalui tugas yang diembannya, Masayu membantu untuk membangun dan mendorong hubungan kedua negara dengan mempromosikan kepentingan yang saling menguntungkan keduabelah pihak. Bukan hanya itu, ia juga dipercaya untuk memberikan masukan-masukan untuk pembuat keputusan tingkat tinggi dan regulator dari kedua negara. Hal ini merupakan suatu kehormatan bagi Masayu.

Tak heran jika ia memberikan hasil memuaskan dalam proyek-proyek yang dipimpinnya, baik dalam proyek pengembangan dan proyek komersial. Untuk proyek-proyek pengembangan, tugas Masayu adalah bekerja sama dengan para regulator Indonesia untuk mengidentifikasi bidang-bidang yang akan dikembangkan dan kerangka potensial untuk melaksanakan proyek-proyek tersebut. Sedangkan untuk proyek komersial, tugasnya adalah untuk mempromosikan dan menyesuaikan pihak Denmark dengan sektor bisnis Indonesia. Keduanya terkait dengan sektor pangan dan pertanian.

Di balik keberhasilannya, Masayu belajar untuk menemukan makna di dalam setiap pekerjaannya, baik bagi masyarakat, maupun bagi orang-orang yang bekerja sama para regulator. “Prinsip saya dalam bekerja adalah: tekun, selalu ingin berkembang, dan tetap rendah hati. Selalu berusaha untuk mengembangkan diri, dan jangan pernah membandingkan diri Anda dengan apa yang dilakukan orang lain, just continue and making your own path,” ungkap Masayu.

Perjalanan karier Masayu, salah satunya tak lepas dari dukungan dan bimbingan para dosen semasa kuliah yang memicu minatnya di bidang ekonomi politik, yang akhirnya mengantarnya mendapatkan kesempatan memperoleh tawaran dari salah satu universitas terkemuka dunia untuk melanjutkan pendidikan di bidang International Political EconomicsLondon School of Economics and Social Science. Lingkungan kampus UPH juga berkontribusi mengembangkan potensinya dalam berbagai bidang khususnya di bidang diplomasi.

“Belajar dari pengalaman, saya juga mendorong para mahasiswa untuk selalu memanfaatkan waktu di semasa kuliah sebanyak-banyaknya, temukan apa passionmu, bekerja keras dan bangun network. Suatu saat network yang dibangun akan membuka pintu untuk opportunity,” demikian pesan Masayu terkhusus untuk adik-adik kelasnya, mahasiswa/I UPH.

Tahun Kelulusan: 10/03/2015
Proses seleksi cukup ketat ketika tahap wawancara, di situlah kemampuan analisa saya diuji dan menurut saya apa yang saya dapat di bangku kuliah sangat terpakai.
Yolanda Luciana Tuasela (Manajemen 2015)
5th runner up pada Ajang Miss Indonesia 2019

BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN DENGAN MENCOBA HAL BARU

 

Mewakili provinsi Maluku dalam ajang Miss Indonesia 2019, Yolanda Luciana Tuasela berhasil menyisihkan 34 finalis lainnya dan meraih prestasi sebagai 5th runner up Miss Indonesia 2019. Tak hanya bermodalkan paras yang cantik, lulusan UPH Surabaya Prodi Manajemen ini juga punya bakat karate. Ia mengaku telah berkecimpung dengan karate sejak kelas 3 SD dan terus digeluti hingga kuliah.

“Saya masih sering aktivitas karate sewaktu kuliah, malah saya bisa kuliah karena beasiswa karate,” ungkap Yolanda. Yolanda bercerita bahwa pengalamannya semasa kuliah sangat membantu dalam memperluas relasi dan pengetahuannya sehingga pola pikirnya pun menjadi lebih kritis, detail dan perfeksionis dalam mengambil suatu keputusan. Yolanda juga menunjukkan bahwa pendidikan adalah modal utama Yolanda dalam ajang ini karena Ia sama sekali tidak ada background modelling.

“Menurut saya, proses seleksi cukup ketat ketika tahap wawancara, di situlah kemampuan analisa saya diuji dan menurut saya apa yang saya dapat di bangku kuliah sangat terpakai,” ujar Yolanda. Melalui ajang ini, Yolanda memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman dengan mencoba hal baru. Bukan hal yang mudah, namun Yolanda tak menyerah. Selama masa karantina, tak hanya mengembangkan potensi namun turut membentuk karakter Yolanda hingga akhirnya berhasil mengharumkan Provinsi Maluku dan tentunya membanggakan bagi UPH.

Tahun Kelulusan: 23/10/2018
Yang terpenting, selalu berani mengeksplorasi minat dan bakat, serta jangan meletakkan diri sendiri di dalam box tertentu.
Galih Sakti (Desain Interior 2002)
Pendiri Kelas Gambar

BANGUN KEPERCAYAAN DIRI DAN HARAPAN ANAK-ANAK MARGINAL LEWAT KOMUNITAS ‘KELAS GAMBAR’

 

Bagi sebagian orang, mengambar mungkin suatu hal yang biasa saja. Namun tidak bagi Galih Wismoyo, alumni dari Desain Interior UPH 2002 founder Kelas Gambar, sebuah komunitas sosial untuk anak-anak marginal. Berawal dari niat melakukan kegiatan sosial melalui kelas menggambar untuk anak-anak di panti asuhan di bulan Ramadan pada tahun 2017, Galih bersama rekannya, Teddy Afif, berhasil menjadikan aktivitas menggambar sebagai suatu kegiatan yang berguna dan berdampak bagi banyak anak-anak marginal di Jakarta. Membangun kepercayaan diri dan harapan, itulah dampak nyata dari kegiatan Kelas Gambar yang dibangun Galih dan partner. Ini dibuktikan dari antusias anak-anak berusia 6-12 tahun yang tergabung dalam komunitas Kelas Gambar, seperti dikutip dari Intisari.grid.id, Galih bersama dengan 10 anak didiknya yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu, Jakarta Timur, berhasil mengadakan pameran bertajuk “Krayon Kami Karya Kami” yang diselenggarakan di Atrium Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, menampilkan 43 karya, pada 23 Februari-3 Maret 2019.

Apa yang diajarkan lewat menggambar? Ternyata menurut Galih, lewat aktivitas menggambar bisa meningkatkan kemampuan anak-anak dalam melihat sesuatu, melakukan observasi, dan lebih dapat berempati baik dengan lingkungan maupun teman. Hasilnya dituangkan dalam gambar di atas kertas gambar menggunakan crayon. Kegiatan komunitas Kelas Gambar kini tumbuh menjadi workshop rutin yang diberikan secara gratis, dan terus berkembang tidak hanya di satu tempat tetapi juga di berbagai tempat di Jakarta, bahkan di beberapa daerah di Indonesia. Menariknya, Galih tetap memfokuskan aktivitasnya untuk menjangkau anak-anak marginal dan korban bencana. Ini tidak tidak terlepas dari keyakinannya bahwa semua lapisan masyarakat berhak mendapatkan pendidikan seni yang layak. Dengan kata lain, seni adalah untuk semua kalangan dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Semangat dari aktivitas seni ini terbukti sangat efektif membangun kepercayaan diri dan harapan. Khusus pada anak-anak yang mengalami berbagai tekanan, Galih menjadikan kegiatan ini sebagai art theraphy. Seperti yang dilakukannya di lokasi bencana di Lombok tahun 2019, anak-anak diajak untuk sejenak melupakan trauma setelah gempa atau kejadian-kejadian yang menimpa lingkungan mereka. Kelas Gambar juga dilakukan di Batam, untuk anak-anak yang mengalami trauma kekerasan seksual akibat perdagangan anak-anak. Metode yang digunakan adalah anak-anak bebas mengambar objek apa saja yang mereka lihat.

Selain kesibukannya dalam Kelas Gambar, Galih juga bekerja sebagai full time muralis/seniman dan seminggu sekali mengajar di UPH Prodi Desain Komunikasi Visual untuk mata kuliah Studio Pendukung, yang diajarkan yaitu basic storytelling and screenwriting. Tidak hanya itu saja, dia juga menjalankan perusahaan keluarga di bidang tata boga yakni Proklamasi Catering. Dalam menjalani aktivitas yang beragam dan padat, Galih selalu memanfaatkan setiap waktu dengan maksimal. Ini sudah dilatih sejak dia kuliah di UPH. Apa yang dipelajari di Desain Interior UPH, sangat membantu untuk bekerja dalam tekanan, mengorganisasi load pekerjaan dalam jumlah banyak dan men-delivery-nya dalam deadline yang sudah ditentukan. Bahkan disiplin ilmu Desain yang dipelajari, dapat diterapkan dalam hampir semua aspek kehidupan termasuk aspek sosial.

“Yang terpenting, selalu berani mengeksplorasi minat dan bakat, serta jangan meletakkan diri sendiri di dalam box tertentu. Dengan demikian kita akan selalu bisa mengejutkan diri kita sendiri dengan hal-hal hebat dan positif yang bisa kita lakukan,” pesan Galih untuk mahasiswa/I UPH saat ini.

Tahun Kelulusan: 24/03/2006
Rancangan bermakna adalah hasil desain yang berfungsi sesuai dengan kebutuhan klien (fungsi dan estetika).
Levina Putri Limanjaya (Desain Interior 2009)
Kepala Desainer Interior di Studio Talk

Menuangkan Talenta dalam Rancangan Bermakna

 

Mendalami ilmu desain pada program studi Desain Interior UPH 2009, menjadi awal bagi Levina Putri Limanjaya, untuk terjun ke profesinya saat ini sebagai interior designer. Pengalamannya mengerjakan proyek-proyek design seperti ritel dan resto terkemuka, telah menghasilkan karya-karya desain yang out of the box. Hingga tahun 2016, Levina bersama 4 partnernya mendirikan Studio.talk, sebuah studio konsultan yang berbasis kolaboratif dalam bidang arsitektur, desain interior, dan desain produk. “Motivasi utamanya dalam bisnis ini bukan menghasilkan uang semata, melainkan sebagai sarana yang dapat mengasah dan menuang talenta untuk menghasilkan rancangan-rancangan yang bermakna dan memuaskan.” Rancangan bermakna menurut Levina adalah hasil desain yang berfungsi sesuai dengan kebutuhan klien (fungsi dan estetika). “Jadi kita tidak hanya sekedar bekerja, tetapi saya mendapatkan kesempatan untuk terus belajar dari segi talenta dan personal self-growth,” ungkap Levina.

Motivasi tersebut, menurut Levina, menjadi keunggulan dari studio.talk yaitu terjalinnya sifat kekeluargaan yang erat di dalam satu tim, suka bereksperimen dengan hal-hal baru dan bertukar pikiran antar satu sama lain. Selain itu, semangat berkolaborasi, menjadi kekuatan dari karya-karya yang dihasilkan studio.talk. Tidak hanya kolaborasi dengan tim tetapi juga dengan klien. Karena melalui diskusi, akan ada titik tengah antara desainer dan klien, menghasilkan rancangan yang harmonis tetapi tetap unik.

Sebagai Interior Designer, Levina telah menyelesaikan beberapa proyek di antaranya hotel, rumah tinggal, restoran, perkantoran, ruang Instalasi dan desain furnitur. Ada juga beberapa proyek yang langsung dipimpin Levina, di antaranya kantor MRT (Mass Rapid Transit) di Depo Lebak Bulus dan desain furnitur rotan yang berhasil di showcase di Maison Objet, Paris pada tahun 2019, di bawah naungan BEKRAF. Setiap proyek sifatnya berbeda-beda. Levina menjelaskan, dalam setiap bagian yang dikerjakan, kita harus selalu all out dan mempunyai mindset yang positif, tekun, disiplin, dan mengerjakan pekerjaan sesuai dengan panggilan hidup. Untuk tantangannya tentu ada, namun hal tersebut tidak menjadi kendala asal selalu menjaga kualitas desain sesuai dengan keunikan masing-masing, terutama dalam segi teknis dan eksekusi.

Eksistensi Levina dalam bisnis design interior tidak terlepas dari modal pendidikan yang ditempuh di UPH. Menurutnya, ada banyak materi perkuliahan di UPH yang dapat diimplementasikan dalam profesinya saat ini, salah satunya yang krusial adalah proses pola pikir pada saat membuat suatu konsep ruang. Jelas, pendidikan dan profesi yang berjalan linear menghasilkan produktivitas dan kreativitas yang lebih maksimal. Semangat berkarya Levina dan terus hasilkan rancangan-rancangan bermakna!

Tahun Kelulusan: 28/08/2013
Beruntung sekali saya bisa masuk UPH, banyak yang saya dapatkan dan mendukung pekerjaan saya.
Aulia Mahariza (Teknik Elektro 1999)
Direktur PT. Dyandra Global Edutainment & Pendiri TMC (The Creative Producing Company)

To do Something New is Always Exciting

 

Lulusan Teknik Elektro tidak selalu terjun ke bidang yang serius. Aulia Mahariza, alumni Teknik Elektro UPH 1999 yang satu ini ternyata sukses di bisnis industry kreatif. Selama 15 tahun menjalankan bisnis di industry kreatif dengan membuat event, iklan dan film mengantarkan Aulia menjadi bagian dalam event besar Indonesia yakni Asian Para Games 2018. Menjadi Director of Ceremony dari INAPGOC (Indonesia Asian Para Games Organizing Committee) saat Opening dan Closing Ceremony Asian Para Games 2018 merupakan project paling berkesan bagi Aulia. Hal ini juga yang menjadi kontribusi terbesarnya untuk bangsa Indonesia.

“I’m part of history in the making. Mulai dari mengurus, mengatur dan menjalankan Opening dan Closing Ceremony ini – ya tentunya bersama dengan semua tim yang terlibat. Mungkin kalau di Asian Games ada Wisnutama – di Asian Paragames ada saya lah,” ungkapnya dengan bangga.

Dalam berbisnis, khususnya di industri kreatif, tentu ada banyak sekali tantangan yang dihadapi salah satunya yakni dituntut untuk selalu mengerti perkembangan zaman. Aulia juga memiliki kiat khusus untuk tetap eksis, diantaranya aktif mencari referensi perkembangan zaman, rajin nonton film, dan jalan-jalan. Kedepannya, Aulia ingin mengembangkan sayap untuk mencoba sesuatu yang baru yang menjadi passionnya yakni berbisnis kuliner. Karena baginya, to do something new is always exciting.

Selain Asian Para Games, ada beberapa proyek yang juga sukses di tangannya, dan banyak diantaranya menuntut kreativitas serta perhitungan yang berani, yakni: Musikal Lutung Kasarung sebagai produser (Bersama Didi Petet sebagai sutradara); 7 film layar lebar sebagai Produser dan produser eksekutif (Bersama Rudi Soedjarwo); Synchronize Festival sebagai tim awal dari Dyandra.

“Beruntung sekali saya bisa masuk UPH, banyak yang saya dapatkan dan mendukung pekerjaan saya. Mulai dari pelajaran di Elektro yang bermanfaat untuk diaplikasikan, khususnya dalam hitung-hitungan saya lumayan tajam dan yang utama adalah logika berfikir yang sangat berguna dalam kehidupan sebenernya. Selain itu, lingkungannya juga sangat kondusif karena dulu tahun 1998/1999 kan banyak banget demo-demo,” kenangnya.

Oleh karenanya dia berharap mahasiswa/I UPH bisa lebih kreatif, perbanyak sosialisasi dengan teman-teman kuliah karena itu berguna di kehidupan setelah kampus.

Tahun Kelulusan: 01/09/2003
Dengan fasilitas yang sudah jauh lebih memadai dibanding tahun saya dulu kuliah, harusnya mahasiswa/i UPH lebih berhasil. Manfaatkan kesempatan yang ada dan gunakan fasilitas yang disediakan lebih maksimal untuk menunjang pendidikan.
Tritan Saputra (Teknik Industri 1994)
Direktur Utama Lima Benua

Berawal Mencari Solusi Kini Sukses Membangun Beragam Bisnis

 

Berawal dari ide untuk menjual 100 produk terbaik IT saja, jadi tidak banyak produk atau bahkan ribuan atau jutaan item di website, Tritan Saputra, Alumni Teknik Industri UPH 1994, direktur utama limabenua.com, akhirnya berkembang membangun beragam anak perusahaan, diantaranya www.vcloudpointindonesia.com, www.primeresto.com, www.meeberpos.com , www.meeberian.com, www.makanabis.com.

Siapa sangka, bisnisnya dari satu menjadi lima dan terus berkembang. Bidang bisnis yang dikembangkan juga beragam, beberapa diantaranya ada yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan kebersihan kota yakni www.mazabuta.com, dengan beberapa group nya www.groen-indonesia.com, www.sewatoilet.com, www.reksoratan-indonesia.com. Ada juga yang berkecimpung di bidang property dan management property seperti www.marketingproperti.com, dan www.menaramannamulia.com.

Selain sibuk dengan bisnis-bisnisnya, ternyata Tritan juga aktif berkontribusi dalam berbagai organisasi bisnis dan organisasi profesi, seperti menjadi Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Ketua Bidang Industri Kreatif DPP Aosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Nasional (APTIKNAS), Ketua Bidang Industri Kreatif DPP Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), Ketua Bidang DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia Jatim (AREBI), serta Pengurus Ikatan Alumni Lemhannas. Luar biasa!

Kepiawaiannya untuk membangun bisnis berbasis teknologi tidak terlepas dari ilmu yang diperolehnya selama di bangku kuliah. Tidak hanya bertangan dingin dalam bisnis, dia juga memiliki hati untuk berdampak bagi banyak orang.

“Semua profesi tentu ada tantangannya masing-masing. Namun harus tetap bersemangat di dalam setiap tantangan dan harus terus belajar untuk lebih baik lagi serta berupaya menjadi pemimpin yang mempunyai dampak sosial bagi banyak orang,” jelas Tritan.

Menariknya, Tritan selalu ingat apa yang disampaikan dosennya saat kuliah dulu untuk terus mencari solusi lebih efisien dan lebih efektif dalam memecahkan masalah. Pesan itu diterjemahkan Tritan sebagai falsafah hidupnya yaitu menjadi terus kreatif. “bahasa kerennya sekarang agile,” ungkapnya.

Saat awal berdiri di tahun 1994, menurut Tritan, UPH masih sangat minim fasilitas dibanding saat ini, namun pendirinya sejak awal memiliki komitmen yang sangat luar biasa, yaitu menghadirkan pendidikan berkualitas, serta mendorong lulusannya terus maju dan berkarya. Pendidik memberikan ilmu dengan lugas dan keakraban antar mahasiswa yang masih terasa karena jumlah mahasiswanya yang sangat sedikit. Lingkungan yang memadai, dulu masih sepi yang membuat suasana kampus menjadi sangat berkesan.

“Jadi saat ini, dengan fasilitas yang sudah jauh lebih memadai dibanding tahun saya dulu kuliah, harusnya mahasiswa/i UPH lebih berhasil. Manfaatkan kesempatan yang ada dan gunakan fasilitas yang disediakan lebih maksimal untuk menunjang pendidikan. Seperti ungkapan yang saya pegang ini: Orang awam menunggu kesempatan, orang pintar meraih kesempatan, orang cerdik menciptakan kesempatan,” pesan Tritan.

Tahun Kelulusan: 26/11/1998
If you are working something exciting, you don’t have to be pushed but the vision pulls you.
Jonathan Satryautama (Kedokteran 2007 & Magister Manajemen Rumah Sakit 2016)
Dokter Umum di RS Swasta Jakarta Utara

UPH Kampus Inovatif dan Visioner

 

Dunia medis merupakan dunia yang terus berkembang. Ini juga yang membuat dr. Jonathan Satryautama, MMRS, alumni FK UPH 2007 dan Magister Manajemen Rumah Sakit 2016 UPH, yang berprofesi sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta Utara, tak pernah berhenti untuk terus mendalami dan berencana melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia pun mengakui bidang kedokteran sesuai dengan passionnya. Dan itu dibangun sejak dia kuliah di FK UPH.

Baginya, medicine is an art dan juga long-life learning karena banyak hal baru yang terjadi dan perkembangan dari waktu ke waktu mengenai dunia kedokteran juga bervariasi. Karenanya dalam mengedukasi pasien, ia selalu menggunakan pendekatan yang berbeda, sesuai dengan kondisi setiap pasien. Misalnya, dalam menyampaikan pesan kesehatan perlu komunikasi yang baik agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa mengesampingkan nilai kejujuran dan manusiawi.

Sebagai Alumni UPH, Jonathan selalu berusaha untuk mengimplementasikan ilmu yang ia peroleh dalam menjalankan tugasnya di RS untuk memberikan pelayanan yang optimal terhadap pasien, baik dalam memberikan pelayanan jasa medis dan managerial di RS. Berusaha mewujudkan pelayanan medis yang profesional, strategis dan humanity dalam sisi pelayanan, merupakan mottonya.

Sikap terhadap profesinya ini diakui ditanamkan sejak kuliah di FK UPH. Karenanya ia sangat tidak ragu mengakui UPH sebagai sebagai kampus yang memiliki visi sangat inovatif dan visioner. Semua itu diimplementasikan lewat kurikulum pendidikannya, didukung fasilitas dan teknologi yang modern serta tenaga pengajar yang profesional dan berkualitas, sehingga mendukung perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan proses belajar. Kepercayaannya pada UPH dibuktikan saat memutuskan studi lanjut S2nya.

Ilmu manajemen yang diperolehnya pun diabdikan untuk mendukung tugas dalam menjalankan profesinya. Berkat keterampilan yang dimiliki Ia dapat dipercaya sebagai salah satu asisten Prof.DR.dr.Satyanegara Sp.BS sehingga dapat mengembangkan keilmuan yang dimilikinya.

If you are working something exciting, you don’t have to be pushed but the vision pulls you,” pesannya.

Tahun Kelulusan: 14/09/2018
Saya sangat bersyukur karena tanpa berkuliah di UPH saya tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga yang membuka begitu banyak kesempatan untuk saya di dunia kerja, termasuk mengembangkan KliniCard.
Aldoni Hubertus Lucas Latumahina (Kedokteran 2003)
Pendiri KliniCard

KliniCard, Medical Reference ID Card Praktis Untuk Aktivitas Klinis Sehari-Hari

 

Para praktisi medis, baik itu dokter, calon dokter dan atau perawat, saat ini dapat dipermudah dengan Klinicard. Klinicard merupakan kartu referensi yang berisikan informasi rujukan medis. Sebagai contoh, Advanced Cardiac Life Support (ACLS), kartu yang berisi informasi algoritma atau langkah-langkah penanganan yang perlu dilakukan seorang dokter pada saat terjadi kasus kedaruratan medis jantung. Terobosan menarik ini merupakan yang pertama di Indonesia, oleh Aldoni Latumahina, alumni Fakultas Kedokteran UPH 2003.

“Sebelum KliniCard dikeluarkan pertama kali tahun 2016, saya belum pernah menemukan item dengan ide serupa dipasarkan ke kalangan praktisi medis di Indonesia,” ungkap Aldoni. Ide awal pembuatan produk ini bermula saat Ia mencari ECG ruler atau kartu yang bisa digunakan untuk membantu pembacaan hasil rekam jantung. Barang ini memang jarang dijumpai dan Aldoni kesulitan untuk menemukan penjual di Indonesia, sehingga akhirnya Ia memutuskan untuk membuat sendiri. Beberapa teman sejawat lalu ikut tertarik untuk memiliki sehingga Ia memutuskan untuk membuat ‘line of product’ yang mencakup topik-topik yang lazim dijumpai atau digunakan dalam aktivitas klinis sehari-hari.

Tujuan utama dari produk ini tentu untuk memudahkan dokter saat memberikan referensi medis yang bisa diakses dengan cepat pada saat bekerja, memastikan terapi yang diberikan tepat dan ‘patient safety’ terjaga. Sejak mulai dipasarkan pada pertengahan 2016, KliniCard sudah digunakan oleh lebih dari 700 dokter, mahasiswa kedokteran dan praktisi medis lainnya di berbagai kota di Indonesia mulai dari Aceh hingga Jayapura. Strategi marketing yang digunakan saat ini menggunakan platform sosial media (@klinicard), berbagai platform marketplace Indonesia maupun pemasaran dari mulut ke mulut.

Apa yang dilakukan Aldoni tidak terlepas dari bekal pendidikan di FK UPH. Ia mengakui FK UPH tidak hanya memberikan pengetahuan akademis, tetapi juga membuka wawasan dunia kedokteran yang sangat berguna untuk karirnya. Dan yang membanggakan, sebagai lulusan FK UPH, ia merasa siap bersaing di dunia kedokteran Indonesia. “Bagi saya pribadi, saya sangat bersyukur karena tanpa berkuliah di UPH saya tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga yang membuka begitu banyak kesempatan untuk saya di dunia kerja, termasuk mengembangkan KliniCard,” tutup Aldoni.

Tahun Kelulusan: 09/03/2010
Saya sangat bangga jika ada banyak mahasiswa/i UPH mempunyai kecendrungan untuk berwirausaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja bukan sebagai pencari kerja.
Suryadi Oentara (Usaha Perjalanan Wisata 2006)
Direktur PT. Saung Bulian Tour & Travel, IndoTravelStore Wholesaler, Sales Touch For Trip Korea - Korea Land Operator

Pengalaman Kuliah Membuka Jalan Sukses Berbisnis di Industri Tour & Travel

 

Berawal dari ketertarikan dalam bidang Tour & Travel dan Manajemen airlines, mengantar Suryadi alumni UPH program studi Usaha Perjalanan Wisata 2006 ini, semakin eksis berbisnis di bidang yang sama. Tidak tanggung-tanggung, saat ini memimpin di beberapa bidang bisnis Tour & Travel, diantaranya PT. Saung Bulian Tour & Travel (2013), IndoTravelStore Wholesaler (2017), dan Sales Touch For Trip Korea – Korea Land Operator (2018). Ternyata, kesuksesan bisnis Suryadi berawal dari jurusan yang dipilihnya saat kuliah di UPH. Ia mengakui kariernya sangat relevan dengan apa yang dia dapat saat kuliah. Tidak heran bila pertama kali terjun ke dalam industri ini, dia dapat beradaptasi dengan cepat.

“Hampir 70% pelajaran adalah praktek. Ditambah saat kuliah dulu, waktu masih duduk di Semester 2, saya terpilih sebagai Ketua HMJ Usaha Wisata Periode 2007-2008. Saat itu saya menjabat Ketua HMJ paling muda dalam sejarah organisasi di UPH. Kesempatan itu semakin menambah peluang untuk belajar bersosialisasi, meningkatkan leadership, membuat keputusan, dan memperkuat jaringan,” kenang Suryadi. Lewat pengalaman kuliah dan bekarier di industri tour & travel, kemampuan leadershipnya semakin terasah. Ia juga mempunyai sejumlah kiat yang menjadikannya berhasil memimpin di industri ini, diantaranya menciptakan loyalitas konsumen, inovasi produk yang berkesinambungan sesuai trend pasar, serta integritas dan kepercayaan.

“Tidak kalah penting, kita juga harus memperhatikan nilai-nilai kejujuran serta kualitas pelayanan yang kita berikan. Karena bisnis di bidang tour & travel dengan produk yang sama sangat banyak diluaran sana namun hal tersebut jangan dianggap sebagai suatu ancaman atau tantangan melainkan menjadi motivasi untuk meningkatkan mutu pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Ibaratnya satu konsumen puas maka dia akan membawa minimal 10 konsumen baru untuk kita,” jelasnya. Suryadi menyakini industri usaha wisata di Indonesia mempunyai peluang yang sangat besar. Untuk berhasil di industri ini butuh spesialisasi dan profesionalitas. “Dengan begitu kita bisa mendapatkan kepercayaan konsumen maupun supplier. Walaupun bisnis usaha wisata juga sangat dipengaruhi dengan faktor eksternal situasi dan kondisi seperti keamanan, suhu politik maupun seperti disaat pandemi COVID-19 ini, kita harus yakin bahwa faktor eksternal bersifat sementara dan akan kembali normal pada saatnya,” ungkap Suryadi optimis.

Sebagai lulusan UPH, Suryadi berharap mahasiswa/i UPH yang masa kini disebut milenial, agar terus mengikuti perkembangan dunia dari segala aspek termasuk teknologi dan lain-lain, agar mampu menciptakan peluang kerja baru (berwirausaha) walaupun jenis usaha tersebut mungkin belum terpikirkan oleh orang banyak. “Saya sangat bangga jika ada banyak mahasiswa/i UPH mempunyai kecendrungan untuk berwirausaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja bukan sebagai pencari kerja,” serunya dengan antusias.

Tahun Kelulusan: 02/09/2010
Mengadopsi sistem pembelajaran Harvard Business School, UPH membantu saya dalam mempertajam cara berpikir dan mempersiapkan saya untuk menjadi pemimpin yang tranformasional di masa depan.
Lydia Setiawan (Akuntansi 2010)
Manajer Analisis Platform Promosi Monetisasi di GOJEK

Berkarir Tak Hanya dari Prestasi, Namun Juga dari Interpersonal Skill yang Diasah di UPH

 

Berawal dari kesempatan yang diberikan UPH menjadi salah satu Scholarship Grantee, Outstanding Freshman of the Year di UPH Award dan menjadi Resident Assistant termuda di UPH Dormitory, menjadi langkah awal bagi Lydia, alumni Akuntansi UPH 2010 dalam memulai perjalanan kariernya sebagai Auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik Big Four, Deloitte. Bekerja sebagai Auditor, Lydia didorong untuk bekerja dengan time management yang bagus sehubungan dengan deadline yang ketat dan pipeline yang banyak. Di Deloitte, Ia bekerja dekat dengan top level management dan klien perusahaan Jepang. Sekarang Ia dipercayakan untuk berpartisipasi dalam memberikan social impact di salah satu perusahaan startup Decacorn, Gojek, sebagai Analyst. “Di Gojek saya bekerja dengan lingkungan multicultural yang mengasah cara berpikir, cara menyelesaikan masalah, sampai dengan cara berinteraksi dengan orang yang berbeda culture, background, dan experience”, ungkap Lydia menceritakan perjalanan kariernya hingga di posisinya saat ini.

Sebagai layanan berbasis teknologi, Gojek bukan hanya menjadi on-demand multi service platform dan teknologi pembayaran digital, akan tetapi juga telah menjadi bagian dari lifestyle masyarakat. Dengan hadirnya Gojek, kini masyarakat dengan mobilitas yang tinggi dan jadwal yang padat dapat mempunyai efisiensi waktu yang lebih maksimal. Dengan demikian setiap solusi yang diberikan oleh Lydia dan tim di Gojek akan secara langsung atau tidak langsung berdampak kepada masyarakat. Misalnya dengan inovasi baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat, dengan kata lain, mengisi gap antara supply yang minim dengan demand yang tinggi. Di Gojek, Lydia pernah sekaligus merangkap sebagai Analyst, Marketing Strategist dan Auditor yang berhasil meluncurkan dan mengembangkan unit bisnis baru dari nol di bidang food dengan ~6K transaksi, senilai IDR 300 juta sebulan, hanya dalam waktu 1,5 bulan. Tak berhenti sampai di sini, sebagai Analyst, Ia juga berhasil menerapkan strategi pricing yang tepat dan analisis customer demand, yang mampu meningkatkan transaksi ~4x selama 3 bulan setelah brand diluncurkan. Saat berperan sebagai Marketing Strategist, Lydia berhasil menerapkan multiple channels marketing strategy, yang berhasil meningkatkan pertumbuhan user sebanyak ~3.5x selama 3 bulan setelah brand diluncurkan. Dan saat berperan sebagai Auditor, Ia juga berhasil meningkatan efisiensi waktu sebanyak ~40% dan cost saving sebanyak ~20% dengan meningkatkan business improvement processes dan membuat rencana turn-around.

Ia mengakui, prestasi dan kariernya tidak terlepas dari pendidikan yang diperoleh di UPH. Dimulai dari karirnya sebagai Auditor. Teori-teori yang didapatkan selama kuliah dapat diterapkan secara real di dunia kerja. Tak kalah penting, ia menggunakan kesempatan saat kuliah untuk meningkatkan interpersonal skill dan menjalin koneksi yang berguna. “Mengadopsi sistem pembelajaran Harvard Business School, UPH membantu saya dalam mempertajam cara berpikir dan mempersiapkan saya untuk menjadi pemimpin yang tranformasional di masa depan. Harapannya kiranya UPH terus berkarya dalam memberikan pendidikan yang holistic dan menghasilkan lulusan yang menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi lingkungan”, tuturnya.

Tahun Kelulusan: 13/03/2014
Mari kita bersama membangun rasa cinta produk lokal.
Michael Chrisyanto (Desain Komunikasi Visual 2006)
Pendiri EATLAH, DRINKLAH, CHIPSLAH

Lulusan DKV Sukses Bangun Brand Lokal Bercitarasa Global

 

Anda pernah mendengar brand EATLAH? Brand produk makanan dan minuman siap saji ini ternyata dibangun dari ide sekelompok anak muda yang ingin mengangkat produk lokal yang baik secara branding. Ide ini digagas Michael Chrisyanto, alumni DKV UPH 2006, Founder sekaligus Chief Branding and Design EATLAH, bersama kedua partnernya. EATLAH diperkenalkan pada pertengahan tahun 2016, berawal dari sebuah resto di lokasi Pantai Indah Kapuk, dan dalam 3 tahun sudah memiliki lebih dari 26 cabang di dalam dan di luar Jakarta.

Michael meyakini pentingnya sebuah brand untuk memperkuat posisi produk di pasar. Dari hasil riset bersama rekannya, Ia melihat peluang di bisnis makanan cepat saji yang baik secara branding. Dan tentunya dengan produk yang juga baik. EATLAH bukan bisnis pertama Michael, sebelumnya ia sudah membangun dua bisnis lainnya yaitu DRINKLAH dan CHIPSLAH. EATLAH menjadi booming dimulai dengan menu makanan Indonesia yaitu nasi, telur goreng dan ayam goreng yang dibalut dengan saus salted egg. Brand EATLAH sendiri terinspirasi dari cara Singaporean mengajak orang makan dengan kata-kata “EATLAH”. “Saya kebetulan bertemu dengan kedua partner yakni Charina sebagai Marketing dan Riesky sebagai Products Development. Mereka tinggal di Singapore dan terbiasa memakan salted egg chicken dari resto cepat saji. Sementara saya juga sedang banyak mengerjakan restoran di Indonesia. Kemudian kami bersinergi membuat produk makanan siap saji dengan menu utama salted egg chicken ala Indonesia. Dari sana muncullah EATLAH,” lanjutnya.

Selain unsur branding dan produk, packaging juga menjadi salah satu keunikan EATLAH. Awalnya EATLAH menggunakan kertas putih, karena saat itu sempat sulit mencari produsen craft paper. Namun Michael yang sejak awal memiliki visi untuk menggunakan craft paper sebagai packaging produknya, berhasil menggandeng salah satu produsen craft paper, yang waktu itu sempat mau tutup karena pasarnya sepi, hingga sekarang menjadi supplier untuk packaging EATLAH. “Saya senang bisa membantu produsen craft paper ini, yang hingga kini permintaannya melonjak tinggi,” tutur Michael.

Michael menegaskan motivasi bisnis yang dia bangun bukan untuk mencari keuntungan pribadi, lebih utama dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi banyak orang. Dan keinginan untuk mengangkat brand lokal yang bisa diterima luas. Produk inipun dapat berkompetisi di era digital dengan system pesan antara menggunakan ojek online (ojol). Pesan yang dibangun dari produk EATLAH adalah makanan siap saji yang lezat, direpresentasikan dari logo yang BOLD, SIMPLE, and FAST. Tentu ini related dengan background pendidikan Michael yaitu Desain Komunikasi Visual. Semua yang Ia pelajari di DKV UPH sangat aplikatif di dunia bisnis yang dia tekuni. Ia pun bersyukur selama kuliah dapat mengakses koleksi buku-buku desain yang baik di perpustakaan UPH. Hingga kini Ia terus belajar, mengikuti perkembangan teknologi, dan peluang bisnis untuk dapat menciptakan sebuah bisnis yang sesuai perkembangan jaman. Yang terpenting bagi Michael bukanlah untuk menjadi pemenang di pasar, tapi mengangkat produk lokal bersaing di pangsa global. “Mari kita bersama membangun rasa cinta produk lokal, instead makanan luar, sehingga brand Indonesialah yang menang,” ajak Michael.

Tahun Kelulusan: 01/09/2010
UPH memberikan dasar yang kuat, menjadi tempat untuk mengekspresikan diri dan mengoptimalkan potensi.
Christian Edo Yuwono (Musik 2013)
Pendiri L.ed's Production

Mengangkat Industri Musik Indonesia Lewat Profesi Sound Designer

 

Perkembangan industri kreatif di Indonesia menyuburkan profesi-profesi baru di bidang musik. Salah satunya profesi sound designer. Karya-karya musik hasil olahan sound designer semakin tumbuh subur dan diminati. Kontribusi seorang sound designer diperlukan dalam sebuah live performance maupun dalam proses produksi rekaman. Ternyata, ada proses panjang yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah sebuah karya musik yang dapat dinikmati oleh kita sebagai audience dan juga oleh musisi itu sendiri.

Terbukti, kontribusi sound designer mampu mengangkat industri musik Indonesia. Hal ini diakui salah seorang profesional sound design, yang ikut meramaikan dunia musik Indonesia yaitu Christian Edo Yuwono – Founder of Led’s Production, lulusan Seni Musik UPH 2013. Menurut Edo, peran sound designer sangat penting dalam pembuatan sebuah karya musik. Musisi tentunya akan melalui proses perekaman, proses mixing, dan penguasaan perangkat teknis (technical stuff) dan mengangkat nilai estetik dari musik yang dihasilkan, sehingga menjadi sebuah karya musik bisa dinikmati oleh semua orang.

Sejak awal berkuliah, Edo sangat tertarik pada bidang music art dan teknologi. Karenanya, Ia merasa bisa mendapatkan keduanya dalam program peminatan sound design di Fakultas Seni Musik UPH. Menjadi lulusan seni musik – sound designer, tentunya ada banyak sekali peluang bisnis yang dapat ditekuni. Beberapa contoh, dalam industri musik (music production) bisa menjadi Recording Engineer, Mixing Engineer, Mastering Engineer, dan Live Sound Engineer. Lalu dalam industri Film, sebagai Foley Artist, Editor Audio dan Mix Engineer tentunya. “Prinsipnya, maksimalkan potensi diri dengan memberikan seluruh potensi dalam setiap acara dan dengan tetap rendah hati. Karena disaat kita memberikan yang terbaik dari versi kita, maka kita akan bisa memberikan energi positive untuk sekitar kita,” ungkap Edo.

Saat ini, Edo sedang fokus dalam mengembangkan Live Production Facilities (@ledsproduction), yang bergerak dibidang jasa rental dengan menyediakan semua kebutuhan produksi seperti sound system, audio production pencahayaan, dan dekorasi. Selain itu, Edo juga bekerja sebagai freelance engineer, untuk beberapa acara konser dan musical, dan bekerja di salah satu audio post di Jakarta sebagai mixing engineer. Semua ini diakuinya tidak terlepas dari bekal yang diperoleh saat kuliah di UPH. “UPH memberikan dasar yang kuat, menjadi tempat untuk mengekspresikan diri dan mengoptimalkan potensi,” tutup Edo.

Tahun Kelulusan: 15/09/2017
Mengambil ujian sambil kuliah bukan hal yang mudah tapi juga bukan tidak mungkin. Kita harus melakukannya dengan ketekunan dan dengan mengandalkan Tuhan dalam segala hal yang kita kerjakan.
Earlitha Olivia Lionel (Matematika Aktuaria & Terapan 2015)
Aktuaris di AIA

Earlitha, Kecintaan Pada Bidang Matematika Mengantarnya Ke Profesi Aktuaris

 

Matematika merupakan sebuah bidang yang bersifat sangat kuantitatif. Sebagai sebuah pelajaran, Matematika memerlukan jawaban yang eksak untuk setiap pertanyaannya. Earlitha, biasa Ia disapa, sejak SD mengakui sudah mulai menyukai bidang Matematika. Ia sangat menyukai tantangan soal Matematika berapapun sulitnya. Bagi alumni Matematika UPH 2015 ini, terdapat sebuah kesenangan tersendiri ketika sebuah soal berhasil diselesaikan. Karenanya sejak SMA Earlitha memang berniat untuk masuk bidang Matematika.

Setelah mencari banyak universitas, Earlitha merasa UPH paling sesuai karena Ia melihat UPH sangat konsen dengan bidang Matematika aktuaria. Menurutnya, selama studi mahasiswa dipersiapkan sangat matang untuk menjadi Aktuaris terbaik. Ini diikuti dengan pembekalan baik berupa sertifikasi maupun keahlian yang dibutuhkan di dunia karir. Selain itu, UPH adalah satu-satunya universitas yang memiliki penyetaraan ke sertifikasi SOA (Society of Actuaries), poin ini membuat Earlitha sangat yakin bisa berkembang di bidang aktuaria.

Setelah lulus S1 Matematika, Earlitha ternyata sudah memiliki 11 sertifikasi SOA dan PAI (Persatuan Aktuaris Indonesia). Di usia yang masih muda, Ia telah mendapatkan gelar FSAI setengah tahun setelah itu. Ujian tersebut telah Ia ikuti bahkan sejak Ia masih kuliah di tingkat awal. Earlitha bersyukur UPH sudah memfasilitasi mahasiswanya dengan penyetaraan SOA, ini adalah salah satu nilai plus yang luar biasa bagi mahasiswa UPH, penyetaraan ini hanya ada di UPH. Dengan mengikuti beberapa mata kuliah yang sudah ditentukan, mahasiswa sudah mendapatkan 3 penyetaraan SOA VEE. Selain itu kurikulum di Matematika UPH sangat sesuai dengan sertifikasi, hal ini sangat mempermudah mahasiswa untuk mengikuti ujian profesionalisme tersebut.

Bidang Aktuaris saat ini masih sangat diperlukan dan menjanjikan di Indonesia. Saat ini masih banyak tenaga Aktuaris luar yang berkontribusi di Indonesia. Untuk menjadi Aktuaris, sertifikasi profesional menjadi tiket. Oleh karenanya, Earlitha mendorong dan berbagi tips, untuk bisa berhasil dalam ujian sertifikasi, dimulai dari niat dari diri sendiri dan usaha yang besar untuk belajar mandiri.

“Mengambil ujian sambil kuliah bukan hal yang mudah tapi juga bukan tidak mungkin. Kita harus melakukannya dengan ketekunan dan dengan mengandalkan Tuhan dalam segala hal yang kita kerjakan. Ketika terjun di karir juga, tentu yang dinilai perusahaan tidak hanya pencapaian-pencapaian akademik, namun lebih kepada hasil kerja dan kontribusi yang bisa diberikan kepada perusahaan,” ungkap Earlitha yang berhasil mendapatkan apresiasi dari perusahaan tempatnya bekerja.

Selain berkarir sebagai Aktuaris, Ia juga rajin menulis di blog post di www.actuaryinreality.com, Earlitha juga memiliki online shop di bidang calligraphy, baik jasa tulis, live events maupun produk-produknya. Ternyata waktu dan semangatnya masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan aktivitas yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain serta memberikan keuntungan tambahan.

Tahun Kelulusan: 06/03/2019
Saya pengen bisa menghibur dan mendidik anak-anak Indonesia lewat animasi dan karakter-karakter asal Indonesia bisa berjaya di dunia adalah impian saya.
Andi Martin Suryana (Desain Komunikasi Visual 1997)
CEO Kratoon Channel

Andi Martin, Kreator Animasi Superhero Indonesia

 

Saat ini, industri konten di dunia sedang sangat menggairahkan karena makin banyaknya platform penyedia konten seperti Netflix, Disney plus, Amazon Prime Video, dsb. Animasi merupakan salah satu konten yang sangat digemari untuk semua umur. Di Indonesia sendiri tahun 2020 ada 4 film animasi layar lebar. Serial animasi di platform youtube pun mulai bermunculan dengan jumlah subscriber yang makin banyak.

Andi Martin, CEO Kratoon Channel, awalnya bergerak di bidang game developer, menggembangkan game online pertama buatan Indonesia bernama Inspirit: Arena. Game atau film hanya salah satu media, passion-nya terletak di story telling, universe creation dan intellectual property creation. Dengan visi ingin menghadirkan Disney-nya Indonesia, Andi pun berevolusi dari sekedar studio menjadi perusahaan bergerak di character producing dan licensing.

Untuk menghasilkan produk animasi ini, Andi mengaku tidak cukup hanya dibekali teori tetapi juga wawasan yang tentunya dari pelaku industri kreatif yang kian dinamis dan bergerak sangat cepat.

Sebelum meneruskan pendidikannya di Universitas Pelita Harapan (UPH), Andi sempat kuliah di Savannah College of Art and Design, jurusan Desain Komunikasi Visual. Tahun 1996, Ia memulai perkuliahannya, namun kemudian terpaksa berhenti dan pulang ke Indonesia dikarenakan krisis ekonomi. Tahun 1997, Andi pun melanjutkan studinya ke jurusan yang sama di UPH. Saat itu, hanya UPH yang bersedia menerima kredit perkuliahannya dari Amerika Serikat.

“Semua saya belajar sendiri diluar pendidikan resmi untuk siap di industri kreatif, apalagi saat saya mulai belum banyak perusahaan yang bergerak di bidang game,” ungkap Andi.

Prinsipnya, jangan mudah menyerah. Justru bagi Andi, sering gagal itu bagus untuk kesehatan. Melalui animasinya, Andi berkontribusi terhadap Indonesia dengan membuat sosok jagoan super Indonesia bernama Hebring dan berhasil mendapatkan penghargaan 2nd prize dari Asean-Japan Centre dalam ajang Asean Character award 2014. Kemudian awal tahun 2019 dipercaya membantu membuat cerita hidup bapak Jokowi dalam bentuk animasi adalah salah satu kebanggaan buat Andi.

“Untuk jangka panjang, saya pengen bisa menghibur dan mendidik anak-anak Indonesia lewat animasi dan karakter-karakter asal Indonesia bisa berjaya di dunia adalah impian saya,” tutup Andi Martin.

Tahun Kelulusan: 19/08/2002
Kami berharap agar pengrajin-pengrajin mulai bisa melihat bahwa pekerjaan mereka dihargai, berani menaikkan jasa mereka, dan berani membuat workshop sendiri di rumah mereka.
Michellie Danara Tantyo (Desain Produk 2014)
Pendiri Titian Jewelry

Titian Jewelry: Perhiasan hand-made Unik dari Material Alam

 

Siapa sangka, Titian Jewelry terlahir dari tugas akhir 2 perempuan muda lulusan Desain Produk UPH. Tugas akhir ini merupakan persyaratan kelulusan saat mereka kuliah di UPH dan kemudian terus dikembangkan hingga saat ini. Mereka adalah Michellie Danara dan partnernya Merlyn Awang.

Menurut Michellie, selling point dari brand Titian Jewelry adalah keunikan produknya yang menggunakan material tulang sapi, mother of pearl, dan batu-batuan. Inilah, katanya, yang memaksimalkan craftsmanship dari pengrajin. Disamping itu, desainnya sangat cocok untuk wanita Indonesia yang berusia 20 tahun ke atas.

“Bisnis perhiasan ini sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa dengan meningkatnya pendapatan perkapita Indonesia serta semakin tingginya awareness target market mengenai perhiasan hand-made. Oleh karenanya berharap tidak hanya di Indonesia, tapi dapat menjangkau pasar internasional juga,” ungkap Michellie.

Selain keunggulan produk, bagi Michellie, yang diperlukan dalam memulai suatu bisnis adalah tujuan dari bisnis itu sendiri. Hal ini yang menjadi spirit dari hadirnya Titian Jewelry, yaitu bertujuan untuk mempertahankan dan mengembangkan pengrajin yang masih ada di Bali. Mulai dari mengedukasi pengrajin mengenai value yang mereka punya, memberikan rate yang lebih tinggi kepada pengrajin, dan memperkenalkan kepada target market akan craftsmanship yang dimiliki oleh pengrajin-pengrajin ini.

Michellie bercerita, memutuskan membuat produk di Bali berawal dari perjumpaan dengan pengrajin-pengrajin yang luar biasa pada saat internship di Bali. Dari hasil pengamatan, turunnya daya tarik usaha perhiasan dikarenakan hancurnya harga jasa yang ditawarkan, persaingan dengan barang impor dari China, dan alat-alat yang kurang mengikuti jaman. Akhirnya banyak dari para pengrajin memutuskan bahwa menjadi pengrajin bukanlah pekerjaan yang memiliki masa depan yang cerah. Mereka berhenti mengajarkan keterampilan ini kepada anak-anak mereka dan mulai mencari alternatif pekerjaan lain.

“Dari situ kami memutuskan untuk membuat Titian Jewelry, dengan memberikan timbal balik yang adil kepada pengrajin, kami berharap agar pengrajin-pengrajin mulai bisa melihat bahwa pekerjaan mereka dihargai, berani menaikkan jasa mereka, dan berani membuat workshop sendiri di rumah mereka,” ungkap Michellie.

Semakin berkembangnya suatu bisnis, hadirnya kompetitor menjadi hal yang biasa. Menyikapi hadirnya kompetitor, Titian Jewelry punya kiat sendiri, diantaranya terus mengikuti perubahan, melakukan hal-hal baru, seperti mengeluarkan desain baru, atau ikut mempelajari teknik marketing yang dilakukan kompetitor.

Sedangkan untuk tantangan terbesar yang saat ini dihadapi oleh Titian Jewelry, Michellie mengungkapkan, dengan cara mempertahankan standar dan kualitas produk, dikarenakan banyaknya step dan pihak yang terlibat untuk menghasilkan sebuah produk Titian Jewelry ini. Selain itu, konsistensi juga harus terus dijaga.

Hal yang tidak boleh diabaikan dalam menjalankan bisnisnya, kata Michellie, adalah dukungan dan dorongan dari keluarga, teman-teman, dosen dan staf UPH, yang memberikan banyak insight kepada Titian Jewelry. Selama berkuliah di UPH, pelajaran baik yang didapat dikelas maupun pengalaman di luar kelas sangat membantu Michellie dalam mengembangkan bisnisnya. Mulai dari membentuk etika kerja, hingga hal-hal teknis seperti efisiensi dalam sistem produksi produk.

Tahun Kelulusan: 29/08/2018
Orang yang mendapat segala sesuatunya dengan instan akan berbeda dengan orang yang mendapatkan sesuatu melewati sebuah proses.
Nency Patricia Pical (Hukum 2007)
Notaris dan PPAT Kabupaten Serang

Menjadi notaris dan PPAT merupakan sebuah anugerah dan berkat juga tanggung jawab bagi Nency, alumni Ilmu Hukum UPH 2007. Proses panjang menjadi notaris dan PPAT tentu bukan hal yang mudah bagi Nency. Ada banyak lelah dan peluh yang mungkin orang lain tidak tahu, tapi Nency tidak menyerah, dan menikmati setiap proses.

“Ada sebuah kutipan yang mengatakan semakin kamu mendekati puncak gunung, semakin berat jalan dan alur yang kamu hadapi, tingkat kecuraman, kadar oksigen, cuaca yang ekstrem, dan banyak hal lainnya. Tetapi saat kamu berhasil sampai di puncak, kamu tidak akan pernah berhenti bersyukur, bukan hanya bersyukur karena akhirnya sudah tiba di puncak tetapi bersyukur karena kamu pernah melewati step by step untuk sampai di puncak. Orang yang mendapat segala sesuatunya dengan instan akan berbeda dengan orang yang mendapatkan sesuatu melewati sebuah proses. Karena proses itulah yang membentuk karakter seseorang saat dia dibenturkan oleh keadaan di sekelilingnya yang negative, dia tetap bisa positive,” ceritanya.

Saat ini Nency juga aktif di dalam organisasi Ikatan Notaris Indonesia untuk mendukung segala langkah yang ditempuh pemerintah dalam bidang hukum. Menjalani profesi ini, Nency punya kiat yakni berusaha melakukan dan menjadi yang terbaik. Mendisiplinkan diri untuk bersikap jujur, baik, sopan, rendah hati, sehingga kehadirannya dalam memangku jabatan profesi maupun dalam kehidupan sehari-hari dapat diterima dan menjadi berkat bagi masyarakat. Oleh karenanya, motto UPH selalu menjadi dasar ketika Ia bekerja. Bagi Nency, UPH bukan hanya sebagai Universitas tempat Ia berkuliah. UPH adalah sebuah tempat yang sudah berhasil membentuk Ia menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu yang dapat menunjang profesinya saat ini, seorang wanita yang memiliki keyakinan kuat akan kuasa dan kehadiran Tuhan dalam setiap tindakan yang Ia lakukan dalam profesinya saat ini, serta menjadikan Ia notaris yang berilmu dan beretika.

Tahun Kelulusan: 12/09/2011
Di UPH ini aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur pada Tuhan Yesus dalam setiap proses yang dialami baik di dalam maupun di luar kelas.
Agnesia Cahaya (Desain Produk 2015)
Pendiri Caleo

Diproses Menjadi Perancang Produk Ramah Lingkungan sejak Kuliah

 

Selain membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik dan non-akademik, UPH berupaya menghasilkan lulusan yang memberikan sumbangsi yang baik bagi masyarakat. Karenanya, School of Design UPH seperti program studi Desain Produk berupaya menghasilkan desain yang inovatif, kreatif, fungsional dan estetis menggunakan bahan ramah lingkungan dan berdampak baik bagi masyarakat. Inilah salah satu dasar yang diajarkan program studi Desain Produk UPH.

Ini menjadi nilai dasar yang juga diterapkan oleh lulusan Desain Produk UPH angkatan 2015 yakni Agnesia Cahaya, seorang freelance designer dan perintis brand Caleo dalam menekuni karirnya saat ini. Selama kuliah di UPH, Agnesia mengaku banyak terlibat dalam pengalaman kerja yang membantunya menemukan passionnya yaitu merancang tas. Ia mulai benar-benar menekuni passionnya saat mengerjakan tugas akhir dan kemudian Ia teruskan menjadi bisnis tas yang laris hingga saat ini. Bisnisnya ini dapat ditemukan melalui akun Instagram @caleoofficial.

Agnesia yang saat ini tengah menjalin kerjasama dan meningkatkan craftmanship dengan pengrajin dari Cirebon dan Tangerang, mengaku bahwa setiap pembelajaran yang Ia dapatkan di UPH masih terus ia pakai. Pembelajaran seperti skill tangan, teknik menggambar, proses rendering, mengakses desain ke komputer, hingga proses pembuatan produk dan kerjasama dengan pengrajin merupakan proses yang saling berkesinambungan satu sama lain dan tidak bisa lepas dari dunia desain. Tentunya semua ini diusahakan dengan bahan ramah lingkungan. Bagi Agnesia, merancang produk dengan kualitas baik tidak harus merusak lingkungan.

Proses ini juga yang membuatnya tekun dalam menjalankan karirnya. Bagi Agnesia, ini bukan semata-mata hanya untuk meraih keuntungan namun bagaimana mengembalikannya untuk kemuliaan Tuhan. Inilah salah satu nilai yang selalu ditekankan di UPH yang masih terus Ia pegang sampai saat ini. Agnesia percaya, segala sesuatu yang dilakukan untuk kemuliaan Tuhan akan memberi hasil yang baik pula.

“Di UPH ini aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur pada Tuhan Yesus dalam setiap proses yang dialami baik di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, aku selalu berpikir apakah yang aku lakukan ini terbaik untuk kemuliaan nama Tuhan? Bagaimana dampaknya pada perkembangan diri aku? Aku percaya kalo memang ini hal yang baik Tuhan percayakan, kedepannya pasti dapat berjalan dengan lancar,” tutur Agnesia.

Tahun Kelulusan: 04/09/2019
Karakter saya terbangun dengan signifikan saat saya menjadi student athlete UPH, dan hal ini yang menjadi bekal buat saya ketika masuk ke dunia karier dan bisnis.
Thea Magdalena Koe (Manajemen 2008)
Pendiri & CEO Jam(u)an, Kana Catering, Kana Petite, Althea Memoirs

Jam(u)an, Bisnis Kuliner Kekinian yang Berdampak Untuk Anak Indonesia

 

Sociopreneur atau Wirausaha Sosial sekarang ini menjadi tren dikalangan milenial. Mendirikan bisnis tidak hanya soal keuntungan tetapi juga bagaimana dampak dan kontribusinya terhadap masyarakat. Thea Magdalena merupakan salah satu millennial perempuan yang menjadi penggagas wirausaha sosial bagi anak-anak. Mottonya ialah “A business should not only be profitable but also positively impactful for all stakeholders.”

Thea, yang merupakan alumni Manajemen UPH 2008, berkeyakinan kuat bahwa nasib bangsa berkaitan erat dengan kualitas generasi muda. Setiap anak berhak memiliki impian dan kesempatan untuk mengejar impian tersebut. Untuk dapat mencapai apa yang di cita-citakan, setiap anak harus sehat secara tubuh dan jiwa. Keyakinan tersebut yang menjadi ide dibalik bisnis kuliner yang saat ini Ia kembangkan. Melalui pembelian bowl Jam(u)an, Thea ingin mengajak setiap konsumennya untuk bisa menjadi dampak bagi anak Indoneisa dengan berpartisipasi membantu angka perbaikan gizi di tempat-tempat yang saat ini masih memiliki angka kecukupan gizi rendah (malnutrisi) khususnya desa-desa di Flores NTT bersama sociopreneur Duanyam.

“Jadi kalo membeli menu Jam(u)an, bukan hanya sekedar makan enak dan kenyang tapi ajak pembeli untuk turut beramal. Kita salurkan sebagian pendapatan dari setiap bowl yang dijual untuk membantu anak-anak malnutrisi di Indonesia,” ungkap Thea.

Sekilas tentang Jam(u)an, ada cerita yang ingin disampaikan oleh Thea melalui gambar yang terlukis di setiap bowl. Thea mengungkapkan cerita tentang masa kecilnya dalam produknya, yaitu mengenai hati seorang keturunan Jawa-Manado yang ingin membawa dampak bagi Indonesia. Thea percaya setiap usaha harus berdampak positif tidak hanya bagi perusahaan itu sendiri namun juga untuk orang lain, khususnya tempat Ia berada, Indonesia.

Jam(u)an : Jawa Manado, karena Thea keturunan Jawa Manado.
(u) : hashtag/ campaign purpose #jamuanuntukindonesia

Selain Jam(u)an, Thea juga mengembangkan beberapa bisnis lainnya yakni Kana Catering, Kana Petite, dan Althea Memoirs. Baginya, prinsip berbisnis sama halnya dengan kehidupan, seperti berlari marathon. Lakukan hal-hal yang akan berdampak baik kepada sustainability perusahaan dan endurance kita dengan integritas, keadilan, kerja keras dan keikhlasan untuk hal-hal yang diluar kuasa / otoritas kita.

Diakui Thea, kuliah di UPH merupakan bagian positif yang besar dalam kehidupannya. Tidak hanya kuliah, dulu Thea juga aktif sebagai student athlete basket di kampus. Thea belajar banyak hal termasuk bagaimana untuk hidup disiplin, taat kepada otoritas, dan seimbang dalam bertanggung jawab kepada Tuhan, tugas kuliah, dan team. Thea juga belajar bahwa apapun yang kita lakukan, baik belajar, berlatih ataupun bertanding basket, bertujuan untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik, bukan untuk earthly achievement, tetapi lebih kepada divine purpose of life.

“Karakter saya terbangun dengan signifikan saat saya menjadi student athlete UPH, dan hal ini yang menjadi bekal buat saya ketika masuk ke dunia karier dan bisnis. Saya sangat bersyukur bahwa saya memiliki musim hidup itu,” tutup Thea.

Tahun Kelulusan: 05/03/2012
Di UPH, keterampilan komunikasi saya diasah, sehingga dapat berkomunikasi dengan benar dan baik kepada pelanggan, bahkan dengan rekan pengusaha (vendor), juga tim.
Teddy Darmaja (Pendidikan Bahasa Inggris 2006)
Pemilik Red Hat Organizer

Temukan Passion dalam Industri Event Organizer yang Menjanjikan

 

Dilansir dari Ekonomi.bisnis.com dan mix.co.id dikatakan bahwa tren industri Event Organizer (EO) terus memiliki pertumbuhan sekitar 15% hingga 20% tiap tahunnya. Peluang bisnis yang menjanjikan ini juga yang dilihat Teddy Darmaja, Alumni Sastra Inggris Universitas Pelita Harapan, 2006. Tidak hanya mengejar profit, bagi Teddy bekerja di industri ini merupakan passion dan berkat baginya. Baik Teddy dan kedua partner yang berbekal pengalaman karier di bidang MICE, banquet, event and promotions, ketiganya merintis Red Hat Organizer- Event Organizer sekaligus Wedding Planner. Terus fokus pada ‘kualitas pelayanan terbaik’, membuahkan hasil bagi Red Hat yang sebelumnya dikenal dengan Star Management, resmi menjadi anggota dari Asosiasi Pengusaha Pernikahan dan Gaun Indonesia (APPGINDO) pada Desember 2015.

Usaha Teddy bersama tim untuk diakui kinerjanya oleh APPGINDO tidak terlepas dari kesungguhan bekerja dan membuahkan review-review positif baik secara online seperti google review maupun secara personal yang kerap merekomendasikan Red Hat.
“Visi Red Hat Organizer yaitu berkomitmen dalam memberikan pengalaman acara lebih dari yang pelanggan impikan. Kami tuangkan dalam misi yang jelas, yaitu memberikan solusi layanan terbaik, memberikan keterampilan dan layanan manajemen acara yang terbaik untuk memastikan hasil yang diinginkan pelanggan tercapai, dan menjadi mitra strategis untuk para rekan pengusaha (vendor) pernikahan. Kami adalah perpanjangan tangan, representative, sekaligus advokat pelanggan kami,” ungkap Teddy.

Uniknya, Teddy bersama Red Hat tidak hanya sekadar menjalankan bisnis demi profit. Prinsipnya Ia melihat pekerjaan sebagai berkat Tuhan, karenanya Red Hat Organizer harus berdampak bagi komunitas. Hal ini dituangkannya ke dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) sederhana yaitu memberikan pelayanan jasa tidak berbayar kepada gereja-gereja yang ingin menyelenggarakan perayaan hari besar Kristiani ataupun perayaan lainnya. Lebih lanjut, pria yang mengaku enjoy bekerja di bidang ini juga selalu melihat seluruh pengalamannya di Red Hat unik, berkesan, dan bermanfaat bagi kemajuan timnya. “Semua pengalaman buruk atau baik dapat membentuk saya dan teman-teman di Red Hat untuk mengasah kualitas. Segala pengalaman kami evaluasi dan tuangkan menjadi standar operasional yang baru untuk memperlengkapi dan terus memperbaiki kerja tim dari yang sudah ada sebelumnya,” jelas Teddy. Industri yang telah digeluti lebih dari 13 tahun ini, diyakini masih memiliki peluang yang sangat menjanjikan. Tidak heran bisnis di bidang ini terus bermunculan. Untuk memenangkan pasar, Red Hat terus memastikan standar kerja yang diberikan konsisten dan terus ditingkatkan.

Kemampuan manajemen bisnis ini diakui Teddy tidak terlepas dari apa yang didapatnya selama studi di UPH. “Di UPH, keterampilan komunikasi saya diasah, sehingga dapat berkomunikasi dengan benar dan baik kepada pelanggan, bahkan dengan rekan pengusaha (vendor), juga tim. Selain itu, studi di UPH juga memudahkan saya menangani pelanggan yang merupakan warga negara asing, yang hanya dapat berbahasa Bahasa Inggris. Tidak hanya secara lisan, kemampuan menulis dengan baik, dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris, juga telah terasah sejak berkuliah,” cerita Teddy. Baginya UPH juga telah membentuk karakternya untuk berintegritas dalam menjalankan bisnis. Lebih lanjut Ia juga berpegang pada nilai yang telah ditanamkan sejak Ia di UPH, yaitu bertanggung jawab, jujur, dan berusaha untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan, baik dalam pengawasan maupun di luar pengawasan pelanggan.

Kedepannya Teddy bersama Red Hat akan terus berfokus pada strategi pemasaran terutama melalui media social. Tentunya beragam strategi yang telah dilakukannya saat ini juga akan dilanjutkan dan dikembangkan dengan networking marketing strategy, maupun mengikuti beragam pameran pernikahan bergengsi seperti Weddingku dan Bridestory.

Tahun Kelulusan: 01/09/2010
Andhini Puteri Lestari (Ilmu Komunikasi 2004)
Direktur Konten Indonesia di GetCraft

Siap Berubah dan Menjadi Bagian dari Sejarah Perubahan

 

Pengalaman bekerja di media, di era yang berbeda, menuntut kesiapan untuk berubah. Seperti cerita yang dialami Andhini Puteri Lestari, alumni Ilmu Komunikasi UPH 2004, yang shifting dari profesi wartawan ke direktur konten di sebuah marketplace yang menaungi para content creator. Bagi Dhini, biasa ia dipanggil, perubahan ini bukan hanya untuk mengembangkan karier saja, tetapi memiliki kenikmatan tersendiri, karena memiliki waktu kerja yang fleksibel, dan output-nya luar biasa. Ini diakui Dhini, yang sudah 4 tahun belakangan ini bekerja sebagai Content Director Indonesia di GetCraft, sebuah perusahaan startup yang memberikan layanan marketplace untuk membantu pelaku bisnis kreatif/marketers bertemu dan berkolaborasi dengan para content creator di Asia Tenggara.

Tugas Dhini di GetCraft Indonesia, bertanggung jawab atas seluruh kegiatan konten, sekaligus merancang strategi konten untuk lingkup regional (Filipina, Malaysia, Singapura, Indonesia). Selain itu Dhini juga berperan sebagai Editor in Chief di media kreatif kita; Crafters dan media marketing keluaran GetCraft; Academy. Disamping kesibukannya sebagai content creator, Dhini mengaku masih sempat melakukan aktifitas hobinya di dunia teater.

Tentu saja karier Dhini saat ini merupakan pengembangan dari kariernya terdahulu di media, meniti karier sebagai wartawan lifestyle selama kurang lebih 9 tahun, mulai dari majalah GoGirl, Playboy Indonesia, dan Tamasya, 3 tahun di Cosmopolitan Indonesia dan 5 tahun di Her World Indonesia.

Ketika ditanya mengenai kehadiran content creator yang baru saja meniti karier/ fresh graduate, Dhini mengaku sangat welcome. Menurutnya, di era digital, ini menjadi karir yang bagus untuk mereka. Di GetCraft sendiri 30% karyawannya merupakan para fresh graduate – yang tentunya dekat dengan era digitalisasi. Jika ditanya seputar persyaratan untuk menekuni karier seperti yang Dhini jalani, “Tentu saja harus punya kompetensi dalam bidang yang akan dijalani, untuk karier seperti saya, tentu berhubungan dengan copy dan konten. Mulai dari strategi kontennya, teknik editing artikel, copy sosial media, intinya produksi konten mulai dari tahap ideation, produksi, sampai report/apakah konten tersebut performanya mencapai objektif atau tidak. Selain harus bisa membuat strategi konten dan bagaimana manajemen produksinya, tentu haru selalu memperkaya pengetahuan juga dan paham betul isu dan tren apa yang sedang marak,” ujarnya.

Karena pekerjaan ini harus up to date, tentu harus siap dengan perubahan, dalam sistem kerja dan sebagainya. Namun bagi Dhini perubahan tersebut bukan sebagai “pekerjaan rumah baru” tetapi ubah mindset menjadi “berubah untuk lebih baik, dan jadilah bagian dari sejarah yang membuat perubahan ini”. Hal ini menjadi tidak asing karena dulu sewaktu kuliah jurusan Jurnalistik di UPH, ada beberapa mata kuliah seperti Penulisan Feature, Pengantar Ilmu Jurnalistik, juga semua yang berhubungan dengan Broadcast sangat berguna di pekerjaan Dhini saat ini. “Percaya atau tidak, Statistik juga berguna! Kita harus jago bermain Excel dan hitungan lainnya,” tutup Dhini.

Tahun Kelulusan: 27/03/2008
Ini sangat relevan dengan ilmu yang telah dipelajari sewaktu kuliah di UPH, hanya medianya saja yang berbeda.
Vina Jafar (Desain Produk 2001) & Irvan Nurhalim (Teknik Informatika 2001)
Pemilik Mionette Cakes, Mionette Privee, Mionette Cakes & Dining

Mionette Cakes, Eksis Berkat Konsistensi dan Otentitas

 

Mionette Cakes (@mionettecakes), salah satu toko kue di Jakarta, yang dikategorikan spesialis kue klasik dan otentik, mampu eksis karena konsistensinya. Didirikan tahun 2011 oleh Vina Jafar, alumni Desain Produk 2001, dan suaminya, Irvan Nurhalim, alumni Teknik Informatika UPH 2001. Awalnya, Mionette hanya berbasis online dan menjual produk regular cakes dan custom cake serta mensupply cake ke salah satu japanese chain restaurant terbesar di Jakarta, Sushi Tei, sampai tahun 2018.

Seiring meningkatnya permintaan custom cake, Vina dan Irvan, membuat line khusus untuk custom cake dengan nama Mionette Privee (@mionetteprivee), yang sepenuhnya dihandle oleh Vina sendiri. Kemudian di tahun 2014, mereka membuka gerai cake shop pertama, di PX Pavilion kawasan Puri Jakarta Barat, dan tahun 2017 berkembang menjadi restaurant (@mionette.id), di Lippo Puri Mall, yang tidak hanya menjual cakes dan tea/coffee tetapi juga menyediakan makanan. Irvan sepenuhnya berkontribusi pada bagian system operasional, pemilihan menu, R&D makanan dan coffee.

Konsistensi dan otentitas menjadi kekuatan bisnis yang dirintis Vina dan Irvan. Mionette cakes sangat mengutamakan keoriginalan cake-cake internasional yang sudah populer dan dikemas dengan gaya modern, dengan pemilihan bahan berkualitas, tanpa artificial flavoring dan pengawet. Mionette Privee, custom cake yang dibuat dengan konsep berbeda dengan custom cake pada umumnya. Sedangkan Mionette Cakes & Dining, memberikan pengalaman kuliner yang nyaman dengan penyajian makanan yang menggunakan bahan-bahan natural terbaik, halal dan tanpa MSG.

Keduanya mengaku tidak pernah putus asa, walaupun pernah gagal, dalam menjalani bisnis ini. Alhasil, Mionette kini mengembangkan bisnis ke school decorating, berupa kursus-kursus kecil. Bagi Vina, bidang ini bukan hal baru, karena basic ilmunya sudah didapat saat kuliah di Design Produk UPH. Sejak tahun 2016, Vina memutuskan berbagi ilmu dekorasi cake yaitu 3D sculpted cake dan hand painted cake dalam kursus-kursus kecil dan private class.

“Ini sangat relevan dengan ilmu yang telah dipelajari sewaktu kuliah di UPH, hanya medianya saja yang berbeda,” ungkap Vina.

Ketika kuliah, kayu atau bahan sintesis sebagai media untuk di pahat. Namun pada dasarnya, dalam membuat cake pun menggunakan teknik yang sama. Begitu juga dengan platform ilustrasi digital yang pernah didapatkan waktu kuliah dulu juga sangat membantu Vina dalam membuat sculpted cake dengan proporsi yang sangat baik dan keperluan materi digital yang dibutuhkan. Irvan pun, merasakan hal yang sama. Walaupun latar belakang pendidikannya IT, dan kini bergelut di bisnis kulinari, tetapi justru ilmu kuliahnya sangat berguna untuk membangun system operasional yang baik di restaurant yang mereka kembangkan.

Tahun Kelulusan:
Segala sesuatu dapat kita kerjakan dan selesaikan selama kita yakin untuk bisa dan mau berusaha untuk menyelesaikannya.
Herrieck Mulya Yangdinata (Teknik Informatika 2009)
CEO PT Planet Sinema Indonesia & Pendiri Planet Cinema Bone

Planet Cinema Bone, Kawasan Hiburan Terpadu dan Terbesar di Indonesia Timur

 

Satu lagi alumni UPH yang memberikan kontribusi membanggakan untuk masyarakat, khususnya di wilayah Timur Indonesia. Lewat gagasannya, Herrieck Mulya Yangdinata, CEO PT Planet Sinema Indonesia, membangun Planet Cinema Bone, sebuah kawasan hiburan terpadu dan terbesar di wilayah timur Indonesia, berlokasi di Jl Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Watampone, Kabupaten Bone. Fasilitas ini diresmikan langsung oleh Bupati Bone, Dr HA Fahsar M. Padjalangi, pada 7 Februari 2020.

Dikutip dari Tribun News, Bupati Bone, dalam sambutannya, mengaku bangga dan sangat mengapresiasi kehadiran Planet Cinema Bone sehingga warga Bone tidak perlu jauh-jauh ke Makassar atau Sengkang untuk menikmati bioskop. Selain bioskop, ada pula food court dan retail shop yang sudah memiliki nama cukup besar di kota-kota. Dan tempat bermain atau playground untuk anak-anak.

Menurut Herrieck, alumni Teknik Informatika UPH 2009, alasan membangun di kabupaten Bone, karena masyarakat masih merasa minim fasilitas hiburan di kawasan dekat mereka. Sebelumnya, mereka harus pergi jauh ke kota untuk menikmati hiburan. Herrieck melanjutkan bahwa konsep entertainment terpadu yang hadir di Kabupaten Bone ini siap menjadi percontohan nasional. Dan tentunya fasilitas ini dapat menambah kontribusi ke Kabupaten melalui sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan juga 90% karyawannya adalah orang Bone.

“Selain itu, konsep yang diusung Planet Cinema Bone, seperti model planet ala star wars, interiornya dan eksteriornya bagaikan sebuah meteor yang jatuh dari langit. Ini konsep yang mungkin pertama di Indonesia Timur. Konsep ini tentunya dapat menarik perhatian pengunjung untuk mendapatkan spot foto yang menarik untuk di pamerkan di media social,” ungkap Herrieck.

Herrieck mengakui apa yang dia lakukan tidak terlepas dari ilmu yang didapat di Teknik Informatika UPH saat kuliah dulu. Keahliannya di bidang IT diimplementasikan dalam system IT yang kompleks agar dapat menjalankan bisnis ini dengan autopilot.

Terlepas dari itu semua, ia memegang prinsip ‘selalu berkata BISA’ untuk melakukan semua hal. Meskipun kegagalan bisa saja terjadi, namun dalam menjalankan sebuah bisnis, Ia berprinsip harus optimis dan kerja keras. “Segala sesuatu dapat kita kerjakan dan selesaikan selama kita yakin untuk bisa dan mau berusaha untuk menyelesaikannya,” tutup Herrieck.

Tahun Kelulusan: 04/09/2014
Woro Windrati (Ilmu Komunikasi 1999 & Magister Ilmu Komunikasi 2015)
Pembawa Acara Berita di Kompas TV

Komunikasi ibarat Lifeblood

 

Komunikasi itu ibarat lifeblood dari sebuah organisasi, individu dan masyarakat. Demikian dikatakan Woro Windrati, Presenter Kompas TV, alumni Ilmu komuniksi UPH. Karenanya menarik untuk didalami apalagi saat ini industry broadcasting sedang berkembang pesat. Masyakarakat tidak hanya mendapat informasi dari media konvensional seperti televisi dan radio tapi online melalui jaringan internet/ internet broadcast.

Dengan komunikasi yang baik diharapkan pesan mampu tersampaikan dengan baik ke masyarakat. Ditambah dengan kode etik jurnalistik, yang mengharuskan informasi berimbang, sehingga penerima pesan mendapat informasi yang cover both side. Lebih lanjut Woro mengungkapkan, untuk mampu bersaing di bidang broadcasting, diperlukan kreatifitas tanpa batas. Melihat apa yang menjadi kebutuhan masyakarat sekaligus keresahan dalam masyakarakat.

Apa yang ia lakukan melalui profesinya, tidak terlepas dari bekal belajar di Ilmu Komunikasi UPH. Woro merasa bangga karena berkesempatan menempuh pendidikan S1 dan S2 nya di UPH. Ia merupakan alumni UPH untuk program studi Ilmu Komunikasi 1999 dan Magister Ilmu Komunikasi UPH 2015. Bagi Woro, saat S1 tentu masih lebih banyak dasar dan teori yang Ia pelajari. Namun saat S2 tahun 2015-2018, materi yang diberikan oleh pengajar lebih mudah untuk langsung diaplikasikan ke dalam industrinya saat ini.

Selain menjadi presenter, moderator dan MC, Woro juga bertanggung jawab sebagai Produser Program Buletin News Kompas TV. Beberapa program yang pernah Ia jalani, seperti Kompas Siang, Kompas Petang, Sapa Indonesia Siang dan Kompas Pagi. Kegiatan lainnya yang rutin Ia lakukan adalah menjadi dosen di STIKOM Interstudi, untuk konsentrasi Broadcasting dengan mata kuliah yang berhubungan dengan Presenting dan Produksi Televisi.

Tahun Kelulusan: 13/03/2018
Banyak hal yang dulu saya pelajari, diantaranya membuat visi-misi, strategi marketing, konsep bisnis, finansial, business positioning, target market, promotion plan, hingga ke development plan.
Jessica Novia
Pemilik La Madame Florist

Pola Pikir yang Positif, Modal Kuat Memulai Bisnis

 

Berawal dari kesukaan pada bunga, lama kelamaan menjadi passion, sehingga akhirnya memunculkan ide untuk memulai mengembangkan bisnis florist. “Saya tuh senang kalo dikasi bunga untuk berbagai macam occasion seperti birthday atau valentine. Juga kalo lagi travelling keluar Indonesia, suka kunjungi florist shop”, ungkap Jessica Novia, Alumni Manajemen UPH 2007.

Bagi Jessica, pola pikir yang positif menjadi modal kuat untuk memulai sebuah bisnis. Hal itu yang menjadi acuan Jessica dalam mengembangkan usahanya, La Madame Florist, hingga masuk dalam rekomendasi florist terbaik di Jakarta. “Secara konkrit, business plan harus dipersiapkan dengan matang untuk mewujudkan bisnis yang akan kita mulai,” ungkap Jessica yang mengaku sudah mempelajari ilmu ini ketika kuliah di Business School UPH – Management Entrepreneur.

Ia mengaku, materi yang diajarkan dan juga diterapkan, secara kalkulasi yang real dan sangat relatable dengan real business yang saat ini Ia jalani.

“Banyak hal sih yang dulu saya pelajari, diantaranya membuat visi-misi, strategi marketing, konsep bisnis, finansial, business positioning, target market, promotion plan, hingga ke development plan, dll.,” ungkapnya.

Dalam aplikasinya, setiap bisnis tentu ada tantangannya. Secara internal, bunga yang digunakan adalah fresh flower jadi life timenya tidak terlalu panjang. Sehingga segala sesuatu yang dipersiapkan harus terukur secara matang berdasarkan perhitungan dan antisipasi, untuk menghindari atau mengurangi kerugian. Termasuk didalamnya quality control mulai dari order-produksi-hasil akhir. Sedangkan secara eksternal, yakni competitor, bisnis yang terlihat fancy banyak diminati pemain baru, sehingga sekarang ramai muncul florist baru baik itu online maupun offline store.

Namun munculnya kompetitor menjadi hal yang alami bagi Jessica. Karenanya, untuk dapat bertahan dalam bisnis ini diperlukan inovasi, dan tetap mengutamakan standard quality control yang baik. Dengan terus berinovasi, La Madame Florist mampu menghasilkan produk-produk baru yang tidak membosankan, mengikuti permintaan pasar, dan menjadi trend setter untuk bisnis florist.

Tahun Kelulusan: 26/08/2011
Apakah bisa kita berinovasi tanpa tahu rules dasar atau fondasi yang kuat secara akademik di filmmaking itu sendiri? Saya rasa tidak mungkin. Untuk itu sangatlah penting pendidikan formal.
Giovanni Junius Rustanto
Filmmaker

Jebolan DKV UPH Sukses Sebagai Filmmaker Hingga di Mancanegara

 

Memiliki banyak prestasi di bidang produksi film merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Giovanni Junius Rustanto, alumni Desain Komunikasi Visual UPH 1999. Bagaimana tidak, di industri film yang sedang Ia jalani, penolakan-penolakan seringkali terjadi. Namun Gio, biasa Ia dipanggil, tetap konsisten dan tidak menyerah serta kuat secara mental. Baginya, penolakan dan kesalahan dalam filmmaking adalah guru no 1 untuk Ia lebih berkembang.

Sederet nominasi dan penghargaan diraih Gio, seperti Top Indie Film Awards, European Film Festival Mainstream and Underground, Go Debut Film Festival, Bucharest Shortcut Cinefest, Asia South East-Short Film Festival, dan lain-lain. Gio mengungkapkan prestasi yang paling berkesan yakni ketika filmnya mendapatkan nominasi dalam ajang Go Debut Film Festival 2018, di Lithuania. Film berjudul ‘Maria’ Ia buat dengan budget kecil, dari hasil mengikuti workshop kecil selama sebulan di Praha, Ceko. Saat itu, Gio masih belum belajar secara detail tentang filmmaking, jadi masih berstatus mahasiswa S2 di FIOFA, Ohrid, Macedonia yaitu sekolah film kecil di bawah naungan FAMU Prague. Tetapi sayangnya sekolah itu tutup karena kondisi politik di sana tetapi Gio tidak menyerah dan lalu Ia diterima di salah satu universitas prestigious yaitu Columbia University School Of The Arts, New York, America untuk S2 Film specialized Scriptwriting and Directing.

Selain aktif sebagai Writer & Director Film Maker, Gio juga mempunyai kelas kecil bernama Sinema5 yang mengkhususkan bagi orang-orang yang ingin membuat film mulai dari ide cerita, menulis scenario, sampai menghasilkan film yang berfokus pada skala film pendek dengan budget kecil. Selain itu, saat ini Ia juga sedang menyiapkan untuk menulis film pendek selanjutnya dan menulis film Panjang. Lily Of The Valley yang merupakan film pendek indie Indonesia pertamanya. Filmnya sekarang sedang didistribusikan ke festival luar negeri dan Indonesia sendiri.

Sebagai profesional filmmaking, Gio mengungkapkan pentingnya pendidikan formal untuk mempersiapkan masuk ke dunia profesional, termasuk bersikap profesional seperti, melakukan pitching untuk ide supaya bisa mendapatkan investor, atau untuk menulis scenario dalam format atau narasi yang sudah works atau enjoyable di mata penonton orang awam, yang mana itu semua sangat diajarkan secara akademik.

“Intinya, boleh saja kita sebagai filmmaker, atau seniman, untuk breaking the rule atau istilahnya berinovasi dalam filmmaking, tetapi apakah bisa kita berinovasi tanpa tahu rules dasar atau fondasi yang kuat secara akademik di filmmaking itu sendiri? Saya rasa tidak mungkin. Untuk itu sangatlah penting pendidikan formal,” tegasnya.

Ia bersyukur pernah merasakan kuliah di DKV UPH. Satu-satunya universitas yang memberikan kenyamanan untuk belajar baik itu di perpustakaan, lingkungan, pengajar, dan staff yang menurutnya sudah memenuhi standard international sebagai sebuah Universitas yang sangat credible. UPH juga mengajari untuk berkomitmen dalam mengerjakan sesuatu seperti waktu dulu kuliah DKV yang dihadapkan dengan deadline-deadline tugas yang secara tidak langsung akan kita hadapi nanti di dunia perindustrian kreatif itu sendiri, bukan hanya film saja tapi juga industry kreatif lainnya. Dan yang terpenting bagi Gio, UPH membekalinya untuk berpikir sebagai innovator bukan hanya pekerja saja. Pemikiran ini yang Ia butuhkan untuk menjadi seorang filmmaker yang lebih berpotensi.

Tahun Kelulusan: 06/09/2007
Kuncinya syukur. Karena dengan bersyukur, semua hal yang baik maupun yang kita anggap yang buruk dapat dijalani dengan baik.
Stefanie Hartanto (Hukum 2003, Doktor Hukum 2014)
Notaris dan PPAT Kabupaten Tangerang

Gali Diri dan Temui Passionmu

Diusia muda yakni 32 tahun, Stefanie Hartanto, berhasil menyandang gelar Doktor Hukum. Lulus Ilmu Hukum UPH 2007, dan langsung kembali melanjutkan studi hingga berhasil menyelesaikan studi doktoral di program Doktor Hukum UPH pada tahun 2018. Saat ini Stefanie berprofesi sebagai Notaris dan PPAT di Kabupaten Tangerang, yang mana salah satu tugasnya adalah membuat akta otentik. Menjadi Notaris dan PPAT merupakan cita-cita Stefanie yang sudah dicita-citakan sejak SMA. Walaupun profesi ini berat, harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian berdasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku, namun Stefanie meyakini profesi ini sangat mulia. Karena Notaris dan PPAT memegang kepercayaan yang diberikan klien serta harus dapat bertindak netral dan tidak memihak. Untuk sampai menjadi Notaris dan PPAT, bukanlah perjalanan yang singkat. Harus melalui beberapa tahapan. Setelah lulus dari UPH, Stefanie harus mengambil Magister Kenotariatan, menjalani magang, mengikuti ujian kode etik, dan beberapa tahapan lainnya. “Oleh karena itu, sebelum memutuskan menjadi Notaris dan PPAT, harus terlebih dahulu mengetahui passion dari diri sendiri. Jika sesuai passion, maka sepanjang apapun perjuangan yang harus ditempuh akan terasa pendek dan ringan. Kuncinya syukur. Karena dengan bersyukur, semua hal yang baik maupun yang kita anggap yang buruk dapat dijalani dengan baik,” Ungkap Stefanie, merujuk quotes favoritenya “A grateful heart is magnet for miracles”. Melalui profesinya, Stefanie bersyukur bisa memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan juga untuk Indonesia. Salah satunya berkontribusi memajukan perekonomian negara, melalui pembuatan akta pendirian badan hukum untuk pendirian PT. Sebagai PPAT, Stefanie juga berkontribusi membantu pemerintah dalam hal tertib administrasi pertanahan, yaitu dengan membuat akta peralihan hak dan melakukan proses balik nama. Karenanya Stefanie bersyukur memiliki kesempatan untuk berkuliah di UPH yang banyak mengajarkan hal-hal practical. UPH juga sangat mendukung kegiatan berorganisasi mahasiswa, yang membawa dampak positif saat memasuki dunia kerja, ungkap Stefanie.

Tahun Kelulusan: 12/09/2018
Kita harus menyelesaikan apapun yang kita lakukan dengan hasil dan kualitas yang terbaik.
Timothy Joseph Inkiriwang (Hukum 2002)
Senior Associate di Dentons HPRP

Pembentukan Karakter di UPH Berperan Penting dalam Karier

 

Timothy Inkiriwang, alumni Ilmu Hukum UPH 2002, hadir sebagai narasumber dalam acara Alumni Sharing di rangkaian UPH Festival 2019 lalu. Di depan seluruh mahasiswa baru Fakultas Hukum Angkatan 2019 selain berbagi perjalanan kariernya yang kini menjadi Senior Associate di Dentons HPRP, Timothy juga menekankan bahwa pembentukan nilai (value) diri yang Ia peroleh di UPH berperan penting dalam kehidupan dan kariernya.

Timothy, yang juga student athlete UPH Eagles ketika berkuliah, mengakui bahwa pembentukan value pribadi selama di UPH menjadi hal yang sangat penting dan jarang bisa didapatkan di tempat-tempat lain. Ia merasa UPH berperan dalam membentuk karakter dan mentalnya melalui seluruh proses yang ia alami selama berkuliah, termasuk didalamnya para dosen, staf, maupun personil lainnya yang melayani di UPH. Salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam perjalanan ini adalah pelatih basket Stephen Metcalfe, yang hingga sekarang masih setia melayani di UPH sebagai Direktur dari UPH Sports and Wellness Center serta pelatih tim basket UPH Eagles.

Pelatihnya selalu mengingatkannya untuk do everything in excellence. “Mengerjakan segala sesuatu itu fokusnya bukan untuk dapat uang atau benefit lainnya, melainkan kita bekerja karena kita memang pekerjaan itu sudah merupakan tanggung jawab kita. Kita harus menyelesaikan apapun yang kita lakukan dengan hasil dan kualitas yang terbaik,” katanya. Prinsip inilah yang dia pegang hingga sekarang, dan menurutnya, klien dan rekan-rekan kerja dapat melihat perbedaan antara orang yang mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati atau tidak.

Dosen pembimbingnya saat berkuliah di Fakultas Hukum UPH juga mengajarkan Timothy value penting, yaitu bagaimana cara mengatur prioritas. Sebagai student athlete, Timothy sempat hampir menunda kelulusannya selama satu tahun agar dapat ikut membela tim UPH di Libamanas (Liga Basket Mahasiswa Nasional) pada tahun berikutnya. Namun, berkat arahan dosen pembimbingnya, Ia akhirnya memilih lulus tepat waktu sebagai prioritas.

Dengan pengalaman ini, Timothy berharap kepada seluruh mahasiswa baru yang hadir untuk mampu menikmati masa perkuliahan sambil tetap mengutamakan tugasnya yaitu belajar dan mengatur prioritas dengan baik. Bagi Timothy, kehadiran alumni-alumni setelah sekian lama telah lulus, dan kemudian membagikan cerita tentang bagaimana UPH mengubah hidup mereka menjadi bukti nyata akan kontribusi UPH terhadap insan-insan penerus bangsa.

Tahun Kelulusan: 24/10/2007
Melalui profesi saya saat ini saya juga ingin berdampak bagi masyarakat dengan cara memberikan informasi yang layak, valid, dan benar kepada masyarakat.
Raden Mas Panji Suryono (Ilmu Komunikasi 2005)
Pembawa Berita & Produser Olahraga di NET TV

Semangat Berdampak bagi Masyarakat Jadi kekuatan Ilkom UPH

 

Godly Character dan semangat memberikan dampak terhadap masyarakat merupakan value UPH yang masih dipegang hingga saat ini oleh Raden Mas Panji Suryono, Alumni Ilmu Komunikasi – Broadcasting UPH, 2005. Panji, begitu biasa dia dipanggil, saat ini sedang meniti karirnya sebagai Sport Produser sekaligus News Anchor di salah satu stasiun TV ternama Indonesia yaitu, Net TV.

“Godly Character membuat saya sadar bahwa meskipun kita sudah berusaha penuh untuk mencapai kesuksesan, jika tidak ada campur tangan dari Tuhan maka kesuksesan itu tidak akan terjadi. Melalui profesi saya saat ini, selain untuk mengejar kesuksesan, saya juga ingin berdampak bagi masyarakat dengan cara memberikan informasi yang layak, valid, dan benar kepada masyarakat,” ungkap Panji. Selain value yang ditanamkan UPH, Panji juga mengakui bahwa teori-teori yang dipelajari selama kuliah juga turut berperan dalam karirnya saat ini. Seperti mata kuliah dasar Jurnalistik yang mengajarkan cara mencari berita, bertemu dengan narasumber, dan cara berkomunikasi dengan setiap orang yang berbeda. Tidak hanya itu, seluruh proses kuliah yang ia alami juga mengajarkannya untuk memiliki daya kompetitif yang kuat namun tetap dengan cara sehat dan profesional. Seluruh hal ini sangat berguna bagi Panji untuk bertahan di dunia kerjanya hingga saat ini.

Meskipun sudah sukses berkarier di bidang Jurnalistik, nyatanya Panji masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang terbesar adalah dalam menghadapi generasi millennial yang ingin mendapatkan segalanya dengan serba cepat dan mudah. “Sejak menjadi Produser, saya memiliki junior-junior yang berasal dari generasi millennial dan ternyata sangat sulit untuk memahami generasi ini. Mereka suka tidak fokus dalam bekerja, dan ingin semuanya serba instan. Namun, saat ini saya sedang belajar untuk mendekati mereka, sekaligus menjadi lebih fleksibel agar dapat sesuai dengan mereka,” tutur Panji. Diakhir interview, Panji tidak lupa memberikan pesan kepada para mahasiswa-mahasiswa UPH bahwa Setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk berada diatas atau dibawah. Jangan selalu ingin yang serba instan, nikmati saja prosesnya.

Tahun Kelulusan: 04/03/2012
Di UPH, saya banyak belajar terutama mengenai hukum tata negara. Dan saat ini ilmu tersebut cukup membantu saya dalam memahami struktur pemerintahan dan hubungan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Anthony Winza Probowo (Hukum 2007)
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI

Bekerja dengan Integritas Walau Banyak Tekanan

 

Namanya masuk sebagai Anggota DPRD DKI Jakarta 2019-2024 mewakili Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Anthony Winza Probowo, alumni Fakultas Hukum UPH 2007, dipercaya sebagai Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, dan Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bappemperda DPRD DKI Jakarta). Aktifitas kesehariannya, menyerap aspirasi masyarakat dan menerjemahkannya kedalam bentuk Peraturan Daerah, pengawasan terhadap eksekusi dari program pemerintah daerah, dan pengawasan terhadap kinerja perangkat daerah serta BUMD-BUMD terkait di DKI Jakarta.

Bekerja di pemerintahan, diakuinya, sudah menjadi visinya sejak sekolah di bangku Sekolah Dasar. Bahkan visi tersebut Ia yakini diberikan Tuhan, dan percaya bahwa memang ini jalan yang harus Ia tempuh. Walau banyak celaan dan tekanan diantaranya karena Ia juga merupakan double minority (keturunan Tionghoa dan Kristiani), namun alumni Sarjana Ilmu Hukum UPH 2007 ini tidak pantang mundur. Ia tetap semangat melangkah maju untuk melayani masyarakat, menjadi terang dan tentunya memberikan dampak yang besar dalam kancah perpolitikan.

Berbekal pendidikan Sarjana Hukum di UPH dan studi Master Hukum di Georgetown University Law Center, Washington, Amerika Serikat melalui beasiswa penuh dari Pemerintah RI, Anthony meyakini mampu menjalankan perannya di lembaga legislatif. “Di UPH, saya banyak belajar terutama mengenai hukum tata negara. Dan saat ini ilmu tersebut cukup membantu saya dalam memahami struktur pemerintahan dan hubungan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” Ungkapnya. Anthony Winza cukup aktif dalam lomba debat di UPH, Ia sempat menjadi Juara 1 di berbagai Kompetisi Debat Hukum, diantaranya Kompetisi Debat Hukum di Mahkamah Konstitusi RI dan Di UNPAD serta Debat Hukum di Universitas Indonesia.

Dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, satu values yang terus Ia pegang adalah integritas. Baginya, semakin kita mencoba untuk bekerja dengan integritas, kita akan sering menemukan tekanan. “Bagaikan ikan salmon yang melawan arus, tidaklah mudah, namun kita harus tetap bertahan sampai akhir. Jangan sampai tekanan dan arus membuat kita pesimis dan takut bahkan berbelok mengikut arus, Iman tidak cukup dengan keyakinan semata namun harus ada bagian atau peran kita untuk dikerjakan. Sama halnya ketika Daud mengalahkan Goliat. Daud tetap harus mengambil perannya dalam melemparkan batu kecil itu kepada Goliath. Perkara apakah batu kecil mampu membunuh Goliath itu urusan Tuhan, namun Daud tetap perlu mengambil perannya dalam iman untuk melemparkan batu kecil tersebut,” ungkap Anthony.

Tahun Kelulusan: 21/03/2011
Hal yang paling penting adalah tidak jumawa akan keberhasilan, karena bisa saja ada orang yang melakukan hal tersebut dengan lebih baik. Bersikaplah rendah hati dan mau terus belajar.
Abe Gracia Vallerian (Matematika Aktuaria dan Terapan 2011)
Senior Data Scientist di Tokopedia

Tingkatkan Pelayanan Customer Dengan Pengolahan Data

Saat ini data merupakan salah satu hal yang penting dalam keberlangsungan hidup suatu perusahaan, terutama bagi perusahaan berbasis online. Data sangat diandalkan oleh Perusahaan e-commerce dalam meningkatkan pelayanannya dan memberikan kemudahan bagi customer. Contohnya, pencarian dan pembelian yang dilakukan oleh customer, memiliki jumlah yang sangat banyak dan tidak memungkinkan untuk mencari polanya secara manual. Untuk mengolah data dan mencari pola dalam kapasitas yang sangat besar, diperlukan model matematika, karena itu peran seorang Data Scientist sangat diperlukan.

Abe Vallerian, Alumni Matematika Terapan UPH 2011, yang berkiprah di bidang riset dan pengolahan data menceritakan tugasnya sebagai seorang Data Scientist. “Tugas saya adalah memberikan kemudahan bagi customer dalam menemukan produk yang mereka inginkan atau butuhkan. Caranya dengan membuat model matematika yang berdasarkan pada data untuk meningkatkan pelayanan kepada customer,” tutur Abe – Senior Data Scientist di Tokopedia.

Abe menceritakan tugas utamanya di Tokopedia, lebih mengarah pada riset. Pekerjaan ini tidak mudah, bahkan terkadang tidak berjalan dengan yang diharapkan. Selain itu, karena pengetahuan berkembang cepat, ketekunan sangat diperlukan untuk aktif mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi. Baik lewat jurnal atau artikel akademik, mencari model yang lebih efektif serta mengaplikasikan model tersebut. “Saya juga banyak berdiskusi dengan tim bisnis atau produk untuk membahas hal yang dapat meningkatkan performa model ataupun inisiatif-inisiatif baru yang dapat membantu customer,” tambah Abe, yang pernah meraih medali emas bidang Matematika pada Olimpiade Nasional MIPA 2014.

Soft skills dan ilmu matematika merupakan dua hal penting bagi Abe dalam perjalanan kariernya. Ilmu matematika yang diperoleh selama menempuh studi di UPH merupakan fondasi utama dalam profesinya. Matematika sangat dibutuhkan dalam memahami cara kerja metode, model, dan cara untuk mengaplikasikannya.

Melalui perjalanan kariernya ini, Abe mengaku mendapatkan banyak pelajaran yang berguna bagi hidup dan kariernya. “Hal yang paling penting adalah tidak jumawa akan keberhasilan, karena bisa saja ada orang yang melakukan hal tersebut dengan lebih baik. Bersikaplah rendah hati dan mau terus belajar,” tandas Abe.

Tahun Kelulusan: 13/03/2015
Di UPH saya belajar soal integrity. Culture dan value yang bagus yang ditanamkan UPH dari awal, terus saya terapkan.
Cynthia Tenggara
CEO dan co-Founder Berry Kitchen & Head of Orami Parenting

Mengubah Masalah Jadi Peluang

 

Berry Kitchen bermula dari kesulitan Cynthia, alumni UPH Ilmu Komunikasi 2003, setiap kali mencari makan siang saat masih bekerja di kantoran. Cynthia yang picky eater, kebiasaan pilih-pilih makanan, mengaku harus mencari alternatif katering yang sesuai dengan seleranya. Namun saat itu pilihannya terbatas dan cenderung mahal. Belum lagi dulu ia pernah survey ke pasar-pasar dan mendapati bahwa 90% produk tahu/ mie/ bakso/ teri itu kebanyakan mengandung formalin. Berangkat dari pengalaman itu, ia mencoba untuk menghadirkan solusi. Hingga lahirlah ide katering online dengan budget terjangkau, praktis (menu bisa di mix and match), mudah dan food safetynya terjamin. Berry Kitchen berkembang pesat dan eksis sejak tahun 2012 hingga saat ini dan pada tahun 2019 resmi berganti nama menjadi Yummy Box, dengan jangkauan dan produksi yang lebih besar. Hingga saat ini Berry Kitchen sudah dikenal dan dipercaya oleh banyak startup besar, diantaranya yaitu tokopedia, tiket dan traveloka. Selain mengelola dan mengembangkan Berry Kitchen, Cynthia juga berkarir di Orami (parenting).

Menjadi sukses seperti saat ini tentu ada tantangan tersendiri yang ia hadapi. Apalagi, menurutnya, di dunia teknologi ini pemain wanitanya sedikit. “Kuncinya kita harus keeping the integrity in business world,” tegasnya. Integritas merupakan karakter yang ditanamkan saat ia kuliah dan terus dipegang sampai di dunia kerja dan bisnis. “Di UPH saya belajar soal integrity. Saya mendapat beasiswa dan nilai bagus bukan karena memberikan sogokan ke dosen. Culture dan value yang bagus yang ditanamkan UPH dari awal, terus saya terapkan,” ungkap Cyntia.

Tahun Kelulusan: 09/03/2007
Bertanggungjawab dan always learning something new from everyone around you.
Nadia Saphira Ganie
Pengacara dan Associate di Bayuputra Ganie and Partners

Meninggalkan Dunia Keartisan, Fokus sebagai Pengacara dan Pengusaha

 

Jika melihat perempuan cantik satu ini, tentu sudah tidak asing lagi karena dulu sering muncul di layar televisi. Meninggalkan dunia keartisan, Nadia Saphira Ganie, alumni Ilmu Hukum UPH 2006, kini menekuni dua profesi sekaligus yakni pengacara dan pengusaha. Ia menjadi partner dalam firma hukum Bayuputra Ganie and Partners serta menjalankan beberapa bisnis yakni tempat olahraga Breathe Studio dan klinik kecantikan ID Beauty Clinic Indonesia. Untuk studio olahraga dan beauty clinic adalah hal yang sangat Nadia sukai. Karenanya Ia senang setiap kali kunjungan ke kantor untuk meeting mingguan. Hal yang sama juga Ia rasakan ketika mendampingi beberapa klien yang Ia pegang sebagai seorang pengacara.

Awal tahun 2019, Breathe Studio sering mengadakan charity events, dalam bentuk sumbangan barang-barang kepada korban bencana alam yang ada di Indonesia. “Dulu waktu awal kerja dikantor hukum, banyak orang meremehkan karena masa lalu saya sebagai artis terus sekarang merubah karirnya ke dunia hukum. Menyikapinya, saya percaya bahwa semua pelajaran hidup akan menyiapkan saya kepada apa yang saya berikan di masa depan. Bertanggungjawab dan always learning something new from everyone around you”, ungkap Nadia.

Menjadi seperti saat ini, Nadia tak lantas berpuas diri. Ia merasa masih perlu untuk belajar lagi. Sebagaimana pembelajaran yang Ia dapatkan ketika kuliah di UPH, belajar hukum itu merupakan perjalanan yang panjang dan kadang berliku. Namun Nadia tidak lelah untuk melakukannya dengan tekun.

Tahun Kelulusan: 21/03/2011
UPH jadi tempat ‘life changing’ bagi saya, karena saya mendapat beragam nilai-nilai kehidupan, pendidikan, pengalaman keorganisasian, leadership skill, dan kerohanian.
Ryo S. Limijaya
Kepala Sales and Marketing at Anomali Coffee

Perlu Berkontribusi, Karena UPH Menjadi Tempat yang Merubah Saya

 

Ryo Saputra Limijaya, Alumni Hubungan Internasional UPH 2008, yang kini berkarier di jalur profesional sebagai Head of Sales and Marketing di Anomali Coffee menyatakan pentingnya mengetahui potensi utama dan bidang yang disukai sebelum bekerja. Menurut Ryo, ketika 2 hal ini diketahui, maka pekerjaan itu akan menjadi kesenangan dan kontribusi yang diberikan juga lebih besar. “Selain saya tahu saya ingin bekerja di bidang food and beverages, saya juga tahu saya suka semua tentang Indonesia. Ini alasan saya pilih HI ketika berkuliah, cita-cita awal saya ingin jadi diplomat negara. Tapi ketika saya berkarier di Anomali, saya pun jadi seorang diplomat. Diplomat kopi tepatnya – mempromosikan kopi Indonesia ke dunia,” papar Ryo.

Tak kalah penting, menurut Ryo, ketika ingin berkarier setiap orang seharusnya punya growth mindset. Artinya tidak hanya sekedar bekerja dan mengerjakan jobdesk yang ada. Namun harus punya kemauan menerima tantangan dan pekerjaan yang diberikan dengan sebaik mungkin, bekerja dengan maksimal. Modal ini yang harus ada ketika seseorang ingin berada di jajaran top of management. Selain itu, Ryo yang pernah menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa tahun 2010/2011, merasa senang karena bisa kembali ke UPH dan membagikan sesuatu kepada juniornya sebagai pembicara atau dalam sharing session.

“Saya senang masih bisa berkontribusi untuk UPH. UPH jadi tempat ‘life changing’ bagi saya, karena saya mendapat beragam nilai-nilai kehidupan, pendidikan, pengalaman keorganisasian, leadership skill, dan kerohanian. Saat itu kampus jadi tempat saya menghabiskan waktu terbanyak. Jadi It’s a good thing to share pengalaman dan apa yang saya punya kepada teman-teman yang masih kuliah serta menjalin relasi baik dengan para dosen dan staff di UPH,” ungkap Ryo.

Tahun Kelulusan: 02/03/2012
Arsitektur bukan sekadar ilmu, tapi ilmu yang dipraktikkan.
Yogi Ferdinand
Pendiri Magi Design Studio

Arsitektur Bukan Sekadar Ilmu, Tapi Ilmu yang Dipraktikkan

Tumbuh dan berkembang di dunia arsitektur membuat Yogi Ferdinand menyadari bahwa ilmu ini harus dipraktikkan bagi kepentingan orang banyak. Alumni Arsitektur UPH 2003 ini, sudah berpengalaman mengerjakan berbagai proyek di bidang arsitektur. Banyak di antaranya mengangkat tema tentang ruang publik yang berdampak bagi orang lain. “Prinsip saya dalam arsitektur adalah membuat sebuah bangunan atau ruang publik yang sustainable, baik secara lingkungan maupun ekonomi. Jangan sekadar terlihat keren, tapi juga bisa berfungsi,” ungkap Yogi.

Karena passion yang kuat di bidang rancang bangunan, akhirnya Yogi memutuskan untuk membuat biro sendiri. Ia pun diajak bekerja sama dengan perusahaan Jerman dan Belanda yang melakukan ekspansi ke Indonesia. Mereka berfokus pada proyek-proyek pemerintahan. Perusahaan bernama SHAU ini berhasil memenangkan penghargaan internasional dengan proyek Microlibrary di Bandung. Dalam proyek Microlibrary, mengusung konsep perpustakaan sebagai ruang publik bersama yang menyenangkan dan berfungsi bagi masyarakat. Proyek ini dibangun menggunakan material kotak es krim bekas. Material ini dipilih salah satunya karena bisa memendarkan sekaligus memantulkan cahaya.

Kemudian tahun 2015, Yogi fokus mengembangkan biro arsitektur pribadi bernama Magi Design Studio bersama dengan istrinya. 5tahun berikutnya, Magi Design Studio sudah sangat membanggakan. “Kami sudah beberapa kali mendapat penghargaan diantaranya American Architecture Prize 2017 di New York, World Architecture Festival 2017 di Berlin, European Healthcare Design Award 2018 di London, dan World Architecture Festival 2018 di Amsterdam. Di Indonesia sendiri, Magi Design Studio masuk 100+ Indonesia Architecture Firms & Emergings selain saya pribadi diberi kehormatan untuk menjuri di World Architecture Festival Amsterdam 2019 dan World Architecture News di London 2020 walaupun harus secara online dikarenakan pandemi,” ungkap Yogi.

Semua pencapaian tersebut menurut Yogi, merupakan sebuah realisasi dari semua hal yang ia pelajari saat berkuliah di UPH. “Ketika saya masih mahasiswa, sering sekali kedatangan dosen tamu, baik dari dalam maupun luar negeri, salah satunya dari Harvard. Saat itu beliau mengajarkan tentang kepekaan menjadi seorang arsitek. Contohnya, kami diajak untuk merancang bangunan dari sebuah puisi,” kenang Yogi.

Tahun Kelulusan: 06/09/2007
Kegagalan merupakan guru terbaik kesuksesan.
William
Penulis, Guru Akademis, Praktisi Komunikasi, Ambasador Siswa Internasional, Pembicara Publik

Kegagalan Merupakan Guru Terbaik Kesuksesan

 

“Saya tidak pernah malu mengakui kegagalan saya. Kegagalan tersebut saya anggap sebagai multivitamin dan juga guru terbaik. Saya percaya dibalik kegagalan tersebut selalu ada cerita sukses yang tertunda. Dan semua itu untuk membentuk dan mempersiapkan saya dimasa depan,” ungkap William, alumni Ilmu Komunikasi UPH 2008, yang berhasil menjadi penulis setelah tujuh kali ditolak oleh tujuh penerbit sebelum buku pertamanya diterbitkan. Perjuangan William tak hanya saat menulis buku, tetapi Ia juga pernah gagal sebanyak empat kali dalam upaya mendapatkan beasiswa studi lanjut di luar negeri. Hingga akhirnya mendapatkan beasiswa dari LPDP untuk studi lanjut di Perth, Australia Barat.

William mengungkapkan, tiga hal yang menjadi inti dari semua topik yang ia tuliskan dalam bukunya. Pertama, setiap dari kita berhak atas masa depan yang lebih baik. Kedua, kita berdaya untuk membuat perubahan positif di lingkungan sekitar kita asalkan kita mau mulai dari diri sendiri. Dan ketiga, kegagalan adalah guru terbaik dalam hidup kita. William ingin setiap pembaca bukunya selalu bersemangat, optimis, dan berdaya juang untuk mencapai kesuksesan dan kemudian berkontribusi bagi komunitas. Saat ini William sudah menulis tiga buku (dua buku tentang pendidikan dan satu buku tentang motivasi) dan berkontribusi sebagai co-author dari dua buku (mengenai pengembangan diri dan cerita pendek).

Melalui buku-buku yang Ia tulis, ada ratusan pembaca yang menghubungi William secara langsung untuk sekedar menyapa, berbagi inspirasi, dan mengatakan bahwa hal-hal yang Ia tulis mengena dalam benak mereka. Bagi William, ini yang merupakan satu kebanggaan yang tidak terbeli uang atau royalty. Bicara soal karir, sejak lulus dari UPH tahun 2012, ia sudah pernah menjalani bekerja di bidang komunikasi di beberapa perusahaan, seperti perusahaan multinasional, agensi digital, UMKM, dan asosiasi bisnis.

Perjalanan kariernya tidak terlepas dari proses belajar di kampus UPH, yang memberikan perspektif bahwa ilmu komunikasi merupakan transferable skills yang bisa digunakan dalam perannya sebagai profesional di berbagai perusahaan/organisasi, sebagai teman dan saudara bagi orang lain, dan lebih fundamental, sebagai seorang manusia. “Selain sebagai penulis, saya juga berprofesi sebagai Academic Tutor dan Student Ambassador. Mengenai hal ini, saya merasa bahwa memiliki perspektif komunikasi yang saya pelajari dari waktu saya di UPH sangat membantu saya dalam merancang pesan yang strategis dan membangun hubungan strategis dengan berbagai pihak,” ungkap William.

Tahun Kelulusan: 20/09/2012
UPH membangun karakter, disamping juga memperlengkapi saya dengan ilmu yang “up-to-date” membuat saya menjadi relevan ketika menyelesaikan kuliah di UPH.
Joshua A. Dharmawan
Direktur di PT Square Gate One, PT. Pembayaran Lintas Usaha Sukses (Espay Payment Gateway), PT. Mitra Pembayaran Elektronik (Saldomu)

Kunci Sukses Dimulai dari Diri Sendiri

Responsiblity begins with me” itulah kalimat yang pertama kali disampaikan Joshua, alumni Sistem Informasi UPH 1996, saat menceritakan kisah suksesnya. Kalimat itu, sampai saat ini masih terngiang dan menjadi pedoman Joshua. “Sejak awal saya masuk UPH pertama saya di sadarkan bahwa kesuksesan adalah dimulai dari tanggungjawab oleh diri sendiri. Bagaimana UPH membangun karakter, disamping juga memperlengkapi saya dengan ilmu yang “up-to-date” membuat saya menjadi relevan ketika menyelesaikan kuliah di UPH,” ungkapnya.

Tidak heran bila ia berhasil memimpin PT Square Gate One, hingga meraih penghargaan Best Financial Supply Chain Initiative, Application or Programme, dari The Asian Banker pada 4 Desember 2019 lalu. Perusahaan solusi teknologi informasi untuk perbankan yang didirikan Joshua bersama partner sejak tahun 2006 ini, kini merupakan market leader untuk solusi “Financial Supply Chain Management” di Indonesia dan Malaysia. Joshua termasuk dari sebagian kecil alumni yang masih berkarir pada industri yang sesuai dengan jurusannya sewaktu kuliah yaitu “manajemen informatika”. Kebangkitan ecommerce dan financial technology mendorong Joshua dan tim untuk memberikan solusi terhadap pasar. Salah satu bagian yang selalu digunakan yaitu di bidang pembayaran, sehingga pada Tahun 2015 ia memulai perusahaan yang kedua yaitu payment gateway, dengan nama produknya yaitu Espay.Payment Gateway (PT. Pembayaran Lintas Usaha Sukses) yang saat ini telah memperoleh ijin dari Bank Indonesia.

Perkembangan teknologi yang eksponensial, mengubah kebiasaan, gaya hidup, menciptakan bidang-bidang pekerjaan baru dan menghilangkan bidang-bidang pekerjaan yang lain, membuat situasi dan kebutuhan pasar menjadi “agile”. Kreatifitas, daya-juang, karakter yang bertanggungjawab dan berjiwa pemimpin yang melayani sangat dibutuhkan untuk membawa tim untuk menuju kepada milestone-demi milestone untuk memenangkan pasar. Joshua pun berharap UPH tetap relevan dan tetap mencetak pemimpin-pemimpin dengan karakter “responsibility begins with me”.

Tahun Kelulusan: 06/03/2002
Kampus UPH boleh dibilang menjadi rumah kedua bagi saya.
Fernando Sutanto (Usaha Perjalanan Wisata 2004)
Manajer Proyek di PT Multi Project Creative

Melayani dengan Hati

 

Bekerja di industri pariwisata sudah menjadi passion Fernando sejak lulus SMA. Pilihannya untuk melanjutkan studi di STPPH dirasa sangat tepat. Karena itu Ia memilih untuk kuliah di Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, angkatan 2004. Alasan awal memang karena fasilitas yang dimiliki kampus UPH ini sangat memadai. Namun, setelah masuk kelas, berinteraksi dengan teman-teman kuliah dan dosen, Fernando semakin merasa cocok. Para dosen di sini sangat dekat dengan mahasiswa. Sehingga kuliah menjadi suatu aktivitas yang membuat saya senang. “kampus boleh dibilang menjadi rumah kedua bagi saya,” kenangnya.

Ia juga melanjutkan selama kuliah di STPPH, Ia diajarkan untuk down to earth, peduli lingkungan sekitar, melihat yang kekurangan dan memberi/ melayani dengan hati. Pelajaran ini sangat terpakai dalam industri pariwisata. Karena apa yang kita jual dalam industri ini adalah service. Hal sederhana yang dapat dilakukan misalnya berikan senyuman. “Apapun respon dari customer tetap kita harus beri senyuman,” ungkap Fernando. Hal-hal diatas selalu Fernando terapkan dalam profesinya. Baik dulu saat Ia berkarir di MG Group maupun saat ini di PT Multi Project Creative.

Lebih lanjut, Fernando mengungkapkan, bekerja memang untuk dua hal, yaitu income dan juga jabatan. Namun, yang terpenting adalah passion. Fernando memulai karier dari yang level paling rendah, dan kini dipercaya pada posisi manager. Untuk itu Ia terus belajar, karena belajar itu sebuah proses. Bagi Fernando, apa yang telah Ia dapatkan di STPPH Ia kembangkan kembali di pekerjaannya.

Tahun Kelulusan: 04/10/2007
Lady Diandra
Project Lead Youth Co:Lab Indonesia di UNDP

Youth Co:Lab, Memberi Ruang untuk Anak Muda dapat Berkembang

Pengangguran masih menjadi masalah utama di Indonesia. Sebagai kaum intelektual, lulusan perguruan tinggi diutus untuk berkontribusi bagi bangsa. Panggilan inilah yang mendorong Lady Diandra, alumni Hubungan Internasional 2014 berkarir di UNDP. Berawal sebagai intern (2018-2019), dan kini dipercaya untuk bertanggung jawab dalam project regional Youth Co:Lab (YCL).

YCL merupakan project regional yang fokus untuk memberdayakan anak muda serta mencegah anak muda untuk jatuh kedalam kemiskinan melalui skema impact enterprise. Diadakan di lebih dari 20 negara yang berbeda, YCL membuat debutnya di tahun 2018 di Bali. YCL berawal dari incubator berbentuk bootcamp untuk anak muda di luar Jawa. Lady mengungkapkan, dari satu tahun ini, YCL berhasil melatih 15 anak muda, 10 ide bisnis, 20 partners, dan mendapatkan investasi lebih dari 300 juta, serta mendapat 1 award international. “Dan untuk project ini, saya lebih banyak berhubungan dengan kementerian-kementerian, pemerintah lokal, serta youth organizations di Indonesia khususnya daerah luar jawa. Namun tak jarang kami juga berkoordinasi dan berkumpul untuk workshop dengan UNDP Bangkok serta UNDP Country Offices lain yang juga mengerjakan hal yang sama,” ungkap Lady.

Bagi Lady, selama kuliah di UPH sangat membantu dalam karirnya saat ini. Khususnya lewat pelajaran di International Relations yang membuka wawasannya mengenai peran PBB di dunia dan Indonesia. Ditambah pengalaman dalam community service serta leadership dalam organisasi kemahasiswaan UPH. Karenanya moto atau nilai hidup yang sangat mendrive Lady adalah “Dare Greatly” dan Romans 5:3-4 “But not only that! We event take pride in our problems, because we know that trouble produces endurance, endurance produces character, and character produces hope”.

Tahun Kelulusan: 16/03/2018
Vinsensius Dicky Kangen
Facebook Dublin, Irlandia

Berkarir di Facebook Menghasilkan Kolaborasi dan Inklusivitas

Sebelum bergabung bersama Facebook di tahun 2019, Vinsen memulai karirnya di US-ASEAN Business Council (US-ABC) pada tahun 2017, dimana ia mempunyai peran untuk menjembatani hubungan antara pemangku kepentingan (stakeholders) dari pemerintah maupun sektor privat asal Asia Tenggara dan Amerika Serikat.

Berbicara mengenai bagaimana pekerjaan pertamanya membawa dirinya ke Facebook, Vinsen yang merupakan alumni dari UPH jurusan Hubungan Internasional 2011 mengatakan, “Di US-ABC, saya mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan Facebook, dimana saya belajar mengenai visi mereka yang progresif, kultur yang inklusif, dan tujuan baik mereka untuk komunitas. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari sebuah posisi untuk bekerja di kantor Facebook di Dublin.” Vinsen berkata bahwa salah satu hal terbaik dari pekerjaannya sekarang adalah kesempatan untuk berkolaborasi dengan rekan kerja satu perusahaan dari departemen-departemen berbeda seperti operations, product, public policy, dan engineering yang tersebar di seluruh dunia.

Berada di posisi saat ini tentu karena Vinsen fokus pada tujuan hidup, membangun relasi yang positif, dan selalu membuka diri untuk tantangan dan hal-hal baru. Di Facebook, dia selalu berusaha untuk mengedepankan lima nilai utama perusahaan tersebut, yaitu be bold, be open, move fast, focus on impact, dan build social value. “Nilai-nilai tersebut sangatlah cocok dengan cara kerja saya, yaitu fokus pada melayani apa yang dibutuhkan oleh komunitas, mengutamakan inklusivitas, dan mengedepankan efisiensi dan efektivitas di pekerjaan,” ungkap Vinsen.

Sebagai alumni, Vinsen juga membagikan pengalaman-pengalaman paling mengesankan selama mengemban studi Hubungan Internasional di UPH. Contohnya, ia mewakili UPH untuk ajang Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia ke-24 di Bandung pada tahun 2014 dan Harvard National Model United Nations (HNMUN) di Boston, Amerika Serikat pada tahun 2015. Selain itu, ia juga berkesempatan untuk memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPH selama periode 2013-2014. Di dalam ruang kuliah sendiri, akan selalu teringat baginya kesempatan untuk mendapat pengajaran dari praktisi dan ilmuwan politik terbaik Indonesia, seperti Prof. Aleksius Jemadu (Guru Besar HI di Indonesia), Bhatara Ibnu Reza (Komisioner Komisi Kejaksaan RI), dan Jerry Sambuaga (Wakil Menteri Perdagangan RI).

Tahun Kelulusan: 10/03/2015
Di sinilah proses communication skill dan leadership saya terasah.
Andrew T. Mogalana
Notaris dan PPAT Kabupaten Tangerang

Bekerja Pada Prinsip Kehati-hatian dan Seksama

Bagi Andrew T. Mogalana, alumni Ilmu Hukum UPH 2004, proses menjadi Notaris dan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) bukanlah perjalanan singkat. Harus melalui beberapa tahapan. Setelah lulus dari UPH, Andrew melanjutkan pendidikannya ke jenjang Strata Dua, magang, mengikuti ujian kode etik, dan beberapa tahapan lainnya. Ketika magang, Andrew betul-betul manfaatkan kesempatan dan waktu sebaik-baiknya.

“Saya beruntung mendapatkan mentor yang banyak memberikan kesempatan dan meng-encourage saya untuk selalu haus akan pengetahuan terbaru sesuai perkembangan jaman,” kata Andrew menceritakan pengalaman saat magang. Notaris/ PPAT pada prinsipnya adalah Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat Akta Otentik mengenai semua Perjanjian, perbuatan, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik. Bagi Andrew, marwah selaku pejabat umum harus dijaga. Prinsip kehati-hatian dan seksama, menjadi hal utama. Bekerja sesuai peraturan perundang-undangan, menjalankan kode etik dengan baik dan konsisten, selalu menjadi pegangan dalam menjalankan profesinya.

Untuk menjadi seorang yang berintegritas, Andrew mengaku didapat sejak kuliah di FH UPH. Di antaranya dari mata kuliah Leadership dan Communication Skill yang memberikan dampak besar baginya. Tak hanya itu, ketika kuliah Andrew manfaatkan kesempatan untuk aktif di organisasi Senat Fakultas maupun Universitas. Dulu Ia memulainya dengan mengikuti organisasi BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas) mewakili fakultas hukum. Selanjutnya Ia juga aktif di Senat Mahasiswa Fakultas Hukum sebagai Ketua Senat. “Di sinilah proses communication skill dan leadership saya terasah,” tutup Andrew.

Tahun Kelulusan: 30/03/2009
Fasilitas UPH sudah sangat berbeda jauh dari pada dulu, banyak mencetak prestasi, memiliki kerja sama dengan banyak organisasi hukum seperti kantor hukum, dan lainnya.
Robbyson Halim
Notaris dan PPAT

Menjadi Notaris Yang Beritikad Baik

Masuk pada tahun 1997, Robbyson Halim, S.H., M.Kn. menempuh pendidikan S1 di Universitas Pelita Harapan, dan melanjutkan kembali pendidikan S2 di UPH. Setelah lulus, dia bekerja di kantor notaris selama 12 tahun dan setelah itu mengajukan diri untuk menjadi notaris di Depok sampai pada akhirnya akan mengajukan permohonan pindah ke Jakarta. Robby merasa pekerjaannya sebagai notaris sangat challenging dan tidak jauh berbeda dengan tingkat kesulitan yang ada di Law firm pada umumnya.

“Notaris tidak boleh memihak, sebagai seorang notaris juga kita harus menciptakan balance, di mana kita bisa menjadi penengah ketika ada masalah yang muncul. Ini juga salah satu tantangan sebagai notaris,” tambah Robby. Selain itu menurut Robby, adanya banyak perubahan-perubahan regulasi yang sering terjadi juga menjadi tantangan tersendiri baginya. Di mana ia harus memahami regulasi tersebut dan menerapkannya untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai notaris. Disebutnya hal ini sebagai tantangan sekaligus kebanggaan.

Selain tantangan, Robby juga bercerita bahwa alasannya menjadi notaris karena dia merasa cocok dengan lingkup kerja yang ada di bidang notaris. Menurutnya yang paling menarik menjadi notaris yaitu ketika bisa membuat kedua belah pihak setuju dan menciptakan suatu kesepakatan, sehingga akhirnya mampu menghindari konflik. “Sebagai notaris, kita kerja harus rasional dan mengutamakan servis bukan uang, karena jika kita fokus kepada uang pasti akan mengubah sikap kita, dan jangan lupa bahwa yang utama adalah hubungan dengan Tuhan Karena jika para pihak tidak punya itikad baik maka pasti perkara yang ada akan tetap terjadi konflik dan sulit tercapai kesepakatan hingga akhirnya harus melalui proses di pengadilan” Tuturnya.

Setelah menjadi seorang notaris, Robby sebagai alumni FH UPH merasa pencapaiannya tidak terlepas dari beragam pengalaman berharga yang didapatnya sejak kuliah hingga bekerja. Melihat UPH saat ini, Robby melihat UPH begitu berkembang.  “Fasilitas UPH sudah sangat berbeda jauh dari pada dulu, banyak mencetak prestasi, memiliki kerja sama dengan banyak organisasi hukum seperti kantor hukum, dan lainnya. Karena untuk mendukung lulusannya terserap di kantor hukum, universitas perlu menunjangnya melalui kerja sama yang terjalin dengan kantor hukum tersebut. Kalau tidak akan sulit, dan UPH telah memilikinya. Jika mengingat pengalaman saat kuliah, banyak mata kuliah yang pastinya bermanfaat. Contohnya saat saya belajar bahasa Belanda, pengalaman ini menarik sekaligus menantang. Ilmu hukum di Indonesia merupakan peninggalan dari Belanda, sehingga banyak istilah yang masih bahasa Belanda. Jadi kita dulu mahasiswa diajak untuk mengerti, paling tidak pengucapan dan artinya,” ungkap Robby.

Tahun Kelulusan: 05/10/2004
Yang terpenting kerjakan yang terbaik dari yang kita bisa lakukan, selebihnya rencana Tuhan lah yang terjadi atas kita.
Andy Djojo Budiman (Magister Manajemen 2004)
CEO dan Co-Founder PT Sterling Tulus Cemerlang (STEM)

Bantu UMKM di Seluruh Indonesia Dengan Ciptakan iREAP – Software Berbasis Android

 

Pengalaman 17 tahun bekerja sebagai IT professional, membuat Pria lulusan Magister Manajemen UPH 2004 ini, terpanggil untuk memberikan kontribusi lebih besar kepada para pengusaha kelas menengah melalui pemanfaatan teknologi. Berangkat dari keinginan tersebut, Andy Djojo Budiman, Co-founder IREAPPOS.COM & STEM, tahun 2007 mendirikan PT Sterling Tulus Cemerlang (STEM), yang bergerak di bidang ERP (Enterprise Resource Planning), sistem integrasi untuk perusahaan, mulai dari order processing, inventory, purchasing, sampai manufacturing.

STEM sendiri fokus melayani di industry retail, manufacturing dan distribusi. “Target iREAP POS Lite untuk membantu usaha mikro dan kecil yang masih Mom & Pop store, yaitu yang masih ditungguin sama yang punya warung. Jadi penjual tinggal masukkan master barang di aplikasinya, bisa cek stock barangnya, laporan pembelian, penjualan, dan keuntungannya,” ungkap Andy. Tahun 2016 Andy mengeluarkan aplikasi android yang berbayar yaitu iREAP POS Pro. Aplikasi ini untuk pengusaha kecil yang sudah memiliki toko lebih dari satu dan bisa di cek langsung datanya dari rumah, melalui website. Tentunya bagi Andy, target market dari jasa ini adalah pengusaha kelas menengah, pengusaha mikro dan kecil (melalui iREAP POS Mobile Android, baik Lite ataupun Pro).

Selama 13 tahun membangun Sterling, tentu ada tantangan yang Andy hadapi, di antaranya bagaimana bisa membangun tim kerja yang siap pakai. “Maka tugas kami untuk membangun tim, misal melalui on the job training. Yang terpenting kerjakan yang terbaik dari yang kita bisa lakukan, selebihnya rencana Tuhan lah yang terjadi atas kita. Intinya muliakan Tuhan melalui pekerjaan yang kita lakukan”, ungkap Andy. Sebagai alumni dan juga pengurus dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA UPH), Andy berharap dapat membangun ikatan yang kuat dan bersinergi dengan semua alumni. Selanjutnya dipikirkan apa yang bisa dikembangkan bersama untuk memberi dampak lebih besar kepada masyarakat.

Sebagai ungkapan syukur kepada almamater UPH, Andy terbuka untuk diundang berbagi ilmu dan pengalaman kepada juniornya di program sarjana UPH. Diantaranya, menjadi Mentor pada event Startup Competition, yang diselenggarakan Business Incubation UPH, 28 Novemer 2019. Ia menyampaikan pesan kepada para mahasiswa yang nantinya akan terjun didunia kerja, bahwa hal utama yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur dan ataupun professional adalah mental berjuang. “ketika kita memulai suatu usaha atau pekerjaan apapun itu tentu ada fase up and down nya. Namun jika mental berjuang itu sudah tertanam, tentu anda tidak akan mudah menyerah akan kegagalan yang terjadi”, tutup Andy.

Tahun Kelulusan: 26/09/2006
Salah satu nilai godly character yang diutamakan oleh UPH juga membuat saya selalu mengandalkan dan mempercayakan segala aspek kehidupan saya, termasuk bisnis ini kepada Tuhan.
Monica Aprilia Hermawan
Pemilik Lemon Miniature

Tuangkan Kontribusi Di Industri Kuliner Lewat Bisnis Replika Makanan

 

Monica Aprilia – lulusan Fakultas Pariwisata UPH angkatan 2015, yang mengasah hobinya hingga menjadi kariernya merupakan salah satu lulusan UPH yang resmi di wisuda pada 22 November 2019 di UPH Kampus Lippo Village. Bisnisnya yang unik dan kreatif nyatanya menarik minat publik. Lemon Miniature – brand yang dirintis Monica sejak 2016, yaitu membuat miniature makanan atau bentuk lainnya dengan clay. “Saat kelas 6 SD, saya menyaksikan acara pada stasiun televisi swasta di Jepang yang menampilkan kerajinan miniatur, lalu dari sana saya tertarik dan menjadikannya sebagai hobi. Hingga pada akhirnya saya ingin memberikan kontribusi di industri food and beverages melalui kerajinan ini, dan kebetulan mendapatkan kepercayaan dari customer untuk membuat replika makanan dan menekuni bidang ini menjadi sebuah bisnis,” ujarnya.

Dalam berbisnis tentu ada prinsip dan nilai yang senantiasa di pegang oleh Monica. Baginya UPH sebagai tempatnya menjalani studi sangat mempengaruhi value yang dipegang dan pengembangan skillsnya selama menempuh pendidikan di UPH dalam bisnisnya saat ini. “Pada saat saya menempuh studi di Fakultas Pariwisata, saya diajarkan untuk mementingkan customer service. Jadi, hal ini sangat membantu saya dalam menangani dan menjaga hubungan dengan customer, serta meningkatkan kualitas produk. Salah satu nilai godly character yang diutamakan oleh UPH juga membuat saya selalu mengandalkan dan mempercayakan segala aspek kehidupan saya, termasuk bisnis ini kepada Tuhan,” tutur Monica yang lulus dari program studi Manajemen Usaha Wisata.

Sebagai lulusan UPH, wanita yang akrab disapa Monica ini telah membuktikan kontribusinya dalam industry kreatif ini melalui banyaknya karya yang dia ciptakan untuk beberapa perusahaan food and beverages di Indonesia seperti Nestle Cerelac, Pepper Lunch, dan Kokumi. Dia juga mengakui terjun langsung dalam proses pembuatannya yang memakan waktu 2 hingga 3 minggu. “Sebenarnya proses pembuatan replika makanan ini tidak semudah yang dibayangkan. Contohnya saja dalam membuat replika ayam goreng, pertama akan dibentuk dulu dari clay, lalu dibuat tekstur krispi seperti ayam goreng asli, kemudian harus ditunggu kering baru bisa diwarnai. Proses pewarnaannya pun layer per layer. Jadi, dari warna yang muda dulu, dilanjutkan ke warna yang semakin tua di atasnya,” jelasnya. Kini, Monica melihat bisnis kerajinan replika makanan ini sebagai salah satu inspirasi bisnis yang unik dan menjanjikan. “Saat ini masih jarang ditemukan bisnis yang serupa dengan yang saya lakukan. Apalagi saya membuat replika makanan ini secara handmade, dimana orang-orang lain biasanya membuatnya menggunakan mesin,” ucapnya.

Tahun Kelulusan: 16/09/2019
UPH memberikan kesempatan bagi saya untuk bertumbuh baik dalam spiritualitas, leadership, dan karakter yang membekali saya bertahan dalam menghadapi tantangan jaman.
Rima Purnama Sinthesia
Youth National Program Director at PT Life Talk Asia

Komitmen Rima Persiapkan Sumber Daya Unggul Melalui Kariernya

 

Bagi Rima Purnama Sinthesia Simorangkir, Psikologi UPH merupakan satu-satunya kampus yang mengintegrasikan value kebenaran dengan ilmu psikologi itu sendiri. Value yang ia peroleh semasa kuliah kini diaplikasikan Rima ke dalam kariernya di Youth Coach & Counselor di Life Talk Asia. Melalui pekerjaannya, Rima berfokus membangun serta mempersiapkan Sumber Daya yang unggul di mulai dari anak-anak muda. “Untuk apa kita mengejar posisi, jabatan, ketenaran, uang, dan sebagainya tanpa mengetahui tujuan hidup yang telah Tuhan Percayakan dan tanpa ada karakter Kristus di dalamnya. Saya rindu hidup saya mampu menjadi dampak dan membawa perubahan positif melalui pelayanan dan pekerjaan saya,” ungkap Rima. Berlandaskan komitmen ini Rima melalui Youth Coach & Counselor di Life Talk berkomitmen untuk membantu mengarahkan para generasi muda untuk menemukan tujuan hidup dan passion sejak masih muda. Tidak hanya itu Rima juga ingin para anak muda memahami apa itu hidup seimbang di setiap aspek kehidupan baik aspek keluarga, sosial, masa depan, kesehatan, keuangan dan juga hubungan dengan Tuhan. Hingga pada akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi yang kompeten, berkarakter, bahkan mampu menumbuhkan rasa cinta akan Indonesia.

Prinsip dan komitmen yang Rima pegang dalam berkarir diakuinya dipengaruhi oleh apa yang ia telah peroleh semasa menjadi mahasiswa di UPH.  “Menurut saya, melalui proses studi dan organisasi, UPH memiliki peran besar dan terlibat dalam pembentukan pribadi saya. UPH memberikan kesempatan bagi saya untuk bertumbuh baik dalam spiritualitas, leadership, dan karakter yang membekali saya bertahan dalam menghadapi tantangan jaman. Tidak hanya kuliah, berorganisasi, bahkan waktu itu saya juga mendapat kesempatan untuk kuliah sambil bekerja di UPH. Lebih lanjut, Rina juga merasa senang berkuliah di UPH karena atmosfir UPH menurutnya berbeda. ‘Seperti kuliah di luar negeri’ – ini ungkapan yang dilontarkan Rima sambil mengingat beragam fasilitas yang dimiliki UPH yaitu sarana kesehatan seperti gym, swimming pool, basketball court, dan soccer field, hingga perpustakaan yang menawarkan buku-buku yang lengkap. Rima yang juga aktif dalam memberikan pelatihan ke berbagai sekolah, gereja dan lembaga pendidikan lainnya, berharap agar UPH kedepannya mampu mencetak banyak pemimpin masa depan yang hidup dalam kebenaran, berkarakter, serta mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tahun Kelulusan: 04/09/2013
Mulai segala sesuatu dari yang kecil, dan fokus mengejar apa yang kita inginkan. Terus berusaha dan semangat meraih apa yang kita mau.
Frederik Rasali
Vice President PT Artha Sekuritas Indonesia

Memilih Menjadi Spesialis Bukan Generalis

 

Frederik Rasali, Vice President PT Artha Sekuritas Indonesia, sehari-hari mengamati pergerakan pasar modal dan melakukan riset fundamental secara mendalam, untuk ditulis dalam sebuah laporan dan dikomunikasikan kepada calon investor. Keahliannya sebagai financial analysis, spesialisasi di bidang investasi, mengantarnya mencapai karirnya saat ini. Selain membuat laporan pasar modal, Ia juga bertanggung jawab pada divisi corporate finance perusahaan. Frederik, lulusan Manajemen UPH 2008, melihat bahwa peluang kerja bagi lulusan Business School masih cukup luas, tetapi cukup tricky, sebab saat ini banyak perusahaan mencari pekerja yang sudah memiliki spesialisasi dari salah satu skill yang diajarkan di bangku kuliah. Karenanya, saat lulus dari Manajamen Business School UPH, Ia memilih untuk fokus di bidang investasi.

“Bila lulusan business school ingin menjadi generalis masih bisa dilakukan dengan mengikuti program management trainee dari perusahaan terkemuka. Namun, mendalami spesialisasi bidang tertentu jauh lebih penting untuk mencapai karier. Salah satunya, spesialisasi bidang investasi masih sangat dibutuhkan. Melihat meningkatnya middle income level di Indonesia dan masih belum banyak yang melakukan investasi, maka saya tertarik untuk fokus di bidang investasi,” ungkapnya. Meskipun sehari-harinya sibuk dengan tugas di kantor, namun Frederik menyempatkan diri untuk meluangkan waktu mengerjakan hobinya, seperti mendirikan sebuah komunitas “table top miniature games” yang bernama wargames.id., dan aktif menulis di blognya terkait hobi, investasi dan juga kondisi pasar modal saat ini. Dengan demikian Ia berharap dapat berbagi pengetahuan dan meningkatkan awareness dari para pembaca blognya.

Tak jarang Ia juga berpartisipasi sebagai volunteer dalam Chartered Financial Analyst (CFA) Society, sebuah asosiasi dari CFA institute di Indonesia yang berfokus pada industry investasi. Analisis dan opininya sering diminta untuk isu-isu terkait pasar modal baik melalui media masa maupun sebagai pembicara di TEDx. Pencapaian dan kerja kerasnya, patut menjadi contoh untuk para fresh graduate milenial saat ini. Ia pun menyampaikan pesan bagi para fresh graduate untuk tidak takut gagal. “Mulai segala sesuatu dari yang kecil, dan fokus mengejar apa yang kita inginkan. Terus berusaha dan semangat meraih apa yang kita mau,” tutupnya.

Tahun Kelulusan: 03/09/2012
Di bidang usaha saya, para pemain terbiasa untuk menjual produk yang monoton dengan kemasan dan kualitas yang begitu-begitu saja. Saya mengubah kebiasaan ini dengan konsep baru.
Ryan G. Limanto
Founder PT. Satya Dinamika Mandiri

Visionary Entrepreneur: Thinking Out of the Box

 

Bagi Ryan Giovanni Limanto, CEO dari PT Satya Dinamika Mandiri, visionary entrepreneur adalah kemampuan seorang entrepreneur untuk melihat dan melaksanakan suatu hal yang tidak atau belum bisa dilihat oleh orang lain (thinking out of the box). Kemampuan ini harus dipelajari dan diterapkan sepanjang waktu oleh seorang entrepreneur demi keberhasilan bisnis dalam menghadapi kompetisi yang ketat dan perubahan pasar yang cepat. Visionary entrepreneur tidak hanya konsep tetapi diwujudkan dalam bisnis yang dijalankan Ryan. Sebagai seorang pemimpin, Ryan selalu menyempatkan waktu berdiskusi dengan staff dari berbagai divisi dan tingkatan agar tahu apa yang sedang terjadi di divisi itu. Terlepas dari hal itu, tercipta koneksi personal sehingga lebih mudah mengarahkan karyawan sesuai dengan tujuan perusahaan.

“Seringkali dari diskusi tersebut muncul ide-ide yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya atau thingking out of box,” jelasnya. Kemampuannya melihat peluang pasar, membuat bisnisnya semakin berkembang sebagai penyedia kebutuhan household hardware terbaik di Indonesia. Ia pun mengupayakan untuk menghasirkan produk kualitas terbaik, layanan purna jual yang baik, dan harga yang ekonomis. Terdengar klise namun Ryan selalu berprinsip untuk jangan hanya ikut sebagai pemain di dalam pasar, tetapi harus menjadi game changer. Salah satu produk yang dijual adalah kunci pintu dan aksesoris jendela dengan brand evomab yang memberikan garansi produk hingga seumur hidup tetapi dengan harga yang ekonomis.

“Di bidang usaha saya, para pemain terbiasa untuk menjual produk yang monoton dengan kemasan dan kualitas yang begitu-begitu saja. Saya mengubah kebiasaan ini dengan konsep baru, di mana produk saya memiliki berbagai macam tipe yang fashionable, tetapi tidak mengurangi kualitas dan keamanan”, jelas Ryan. Bisnis yang didirikan tahun 2014 ini, diakui Ryan, merupakan aplikasi dari ilmu yang dipelajari dari mata kuliah entrepreneur dan marketing yang didapat saat kuliah di Manajemen UPH. Alumni Manajemen UPH 2009 ini pun memiliki strategi khusus dalam menjalankan bisnisnya, seperti diferensiasi produk (tidak terjebak di red ocean market), harga yang kompetitif, menjaga kualitas agar long lasting di pasaran, dan efisiensi di segala bidang dengan cara menghilangkan kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah demi memperbesar keuntungan perusahaan. Terbukti saat ini konsumen Ryan terus bertambah dan jangkauan semakin luas, dari Aceh hingga Papua. Kedepan, Ryan berharap dapat menjual hingga ke mancanegara.

Tahun Kelulusan: 11/09/2013
Kemampuan seperti logika berpikir, leadership, kewarganegaraan, English skill, serta communication skill tetap diperlukan dalam menunjang pekerjaan di bidang aktuaria. Semua hal ini telah saya dapat dari saat berkuliah di Matematika UPH.
Rheza Dwiputra Tamin
Senior Actuarial Associate di PwC Singapore

Pentingnya Softskill dalam Dunia Aktuari

 

Sebagai aktuaris di sebuah perusahaan jasa profesional terkemuka di dunia, Rheza menilai memiliki kemampuan softskill sangatlah penting. Alumni Program Studi (Prodi) Matematika Universitas Pelita Harapan (UPH) angkatan 2012 ini bekerja di PricewaterhouseCoopers Singapore sebagai Senior Actuarial Services Associate. Menurutnya, kemampuan seperti logika berpikir, leadership, kewarganegaraan, English skill, serta communication skill tetap diperlukan untuk menunjang pekerjaan di bidang aktuaria. “Semua kemampuan itu sudah saya dapatkan saat berkuliah di Prodi Matematika UPH. Apalagi saya mengambil konsentrasi Business Mathematics pada program double degree dengan Prodi Manajemen, sehingga lebih banyak yang bisa saya pelajari,” ujar Rheza.

Menurutnya juga, berkuliah di UPH sangat mendukungnya menjadi aktuaris, baik dari segi akademis maupun non-akademis. Ini terlihat dari dibukanya konsentrasi Aktuaria yang tidak dimiliki oleh semua universitas. Dosen pun rutin memberikan latihan soal untuk persiapan menghadapi ujian sertifikasi aktuaris. Ditambah lagi, sekarang sudah ada berbagai kerja sama dengan pihak luar untuk meningkatkan kapasitas calon lulusan aktuaris, seperti kerja sama dengan READI Project dari Pemerintah Kanada. Selain itu, ada juga beasiswa yang bisa didapatkan oleh mahasiswa. Hal ini menurut Rheza, menjadikan lulusan Prodi Matematika UPH memiliki kelebihan tersendiri yang bisa menjadi modal dalam bersaing di dunia kerja.

Tahun Kelulusan: 13/09/2016
Integritas, tanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Ketiga hal itu sangat penting bagi siapa pun dan di manapun ia bekerja. UPH mengajarkan hal itu kepada saya.
Ivan Kusumo
Spesialis Riset Pemasaran di PT Link Net Tbk

Menjadi Pribadi yang Berintegritas

 

Perkuliahan tidak hanya mempelajari teori semata, tapi juga tentang bagaimana membentuk karakter berintegritas. Hal inilah yang didapatkan oleh Ivan Kusumo selama berkuliah di UPH. Alumni Program Studi (Prodi) Teknik Elektro Universitas Pelita Harapan (UPH) angkatan 2014 ini mengaku bahwa ia setidaknya belajar tiga hal penting selama kuliah, yaitu integritas, tanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. “Ketiga hal itu sangat penting bagi siapa pun dan di manapun ia bekerja. Secara tidak langsung, UPH mengajarkan hal itu kepada saya,” ungkap Ivan.

Melalui UPH, pria berkacamata ini juga pernah berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Rumania selama lima bulan. Ini merupakan program dari Erasmus Mundus yang bekerjasama dengan Teknik Elektro UPH. Selama rentang waktu tersebut, ia belajar banyak hal, mulai dari sistem pendidikan di negara Eropa hingga bagaimana kehidupan pelajar di sana. Sepulangnya dari Rumania, saat ini Ivan bekerja di PT First Media Tbk sebagai Marketing Research Specialist. Ivan juga bercerita mengenai pengalamannya selama kuliah. Ia mengaku sangat bersyukur bisa berkuliah di UPH. “Dulu saya aktif dalam himpunan internal di Prodi Teknik Elektro. Dari sana saya mendapat kesempatan untuk belajar menganalisis masalah serta mencari solusinya. Tantangan yang saya hadapai juga ada, salah satunya bagaimana menjalankan program kerja yang ada dengan jumlah sumber daya manusia yang sedikit,” ujarnya.

Tahun Kelulusan: 14/03/2018
Di UPH saya mendapatkan Christian Worldview yang saya terapkan dalam kehidupan saya, termasuk di kantor.
Daniel Winoto
Senior Actuarial Services Associate di PwC Indonesia

Lingkungan UPH Membentuknya Menjadi Lebih Baik

 

Daniel Winoto, alumni Prodi Matematika UPH angkatan 2013, termasuk mahasiswa rebel. Perilaku tersebut dibawanya sejak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun berkat lingkungan teman-temannya di Program Studi (Prodi) Matematika Universitas Pelita Harapan (UPH), karakternya semakin dibentuk dan lebih baik. “Terus terang, lingkungan di UPH sangat membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik. Teman-teman kuliah saya baik-baik, kalaupun ada yang nakal, ya masih dalam taraf normal,” kenang Daniel. Mantan anggota Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Matematika ini juga mengakui peran besar Prodi Matematika dalam mendukung cita-citanya menjadi aktuaris. Selain pemberian pengetahuan akademik, Daniel juga bersyukur karena mendapat Christian Worldview yang ia pegang hingga sekarang. “Ini juga yang menjadi kelebihan UPH. Mungkin dari segi akademik, semua universitas akan memberikan sesuai kurikulum. Tapi di UPH, saya mendapatkan Christian Worldview yang saya terapkan dalam kehidupan saya, termasuk di kantor. Dengan begitu, saya menganggap bekerja itu sebagai bentuk pelayanan,” ujar Daniel.

Saat ini, Daniel bekerja di PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia, perusahaan yang termasuk dalam The Big Four Auditors dunia. Sejak lulus tahun 2017 hingga sekarang, ia menduduki jabatan sebagai Actuarial Services Associate, sesuai konsentrasi Aktuaria yang ia ambil saat kuliah. Pekerjaan tersebut membuatnya menerapkan semua ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah, termasuk di antaranya kemampuan analisis, logic, dan statistik. “Saya sempat menyesalkan karena dulu tidak terlalu menguasai statistik. Saat di tempat kerja, diperlukan sekali pengetahuan tentang regresi dan statistic time series, terutama dalam mengerjakan project mengenai banking,” ungkap Daniel. Menurut Daniel, Prodi Matematika UPH sekarang sudah mengalami banyak kemajuan. Salah satunya tampak pada peningkatan perhatian para dosen dalam membantu persiapan ujian demi meraih sertifikasi aktuaris. Sertifikasi tersebut dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam bidang aktuaria, dan akan memengaruhi dalam mencari pekerjaan nantinya. Daniel juga menambahkan, peluang karir di bidang aktuaria masih sangat terbuka lebar, mengingat masih sedikitnya orang yang berprofesi sebagai aktuaris. “Kuncinya never stop learning untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.”

Tahun Kelulusan: 01/03/2017
UPH sangat membantu saya. Saya menjadi bertumbuh, baik secara akademis maupun non-akademis.
Gina Karina
Manajer Interim Country di Yayasan ICLEI

Menjalani Panggilan Hidup

 

Berbincang dengan seorang Gina Karina sangatlah menyenangkan. Percaya pada rencana Tuhan, tidak takut gagal, dan mengetahui berbagai informasi adalah kunci kesuksesan alumni Hubungan Internasional (HI) UPH angkatan 2006 ini. “UPH sangat membantu saya. Saya menjadi bertumbuh, baik secara akademis maupun non-akademis. Dulu ada senior yang mengatakan ini kepada saya ‘informasi adalah kuncinya’ hanya kadang kita tidak tahu karena kita tidak aware,” ujar Manajer Interim Country Yayasan ICLEI ini. ICLEI sendiri fokus pada jejaring pemerintah daerah tingkat global.

Bekerja di ICLEI merupakan salah satu pemenuhan panggilan hidupnya. Sejak dulu Gina memang tertarik pada bidang isu lingkungan hidup. “Pekerjaan saya yang utama adalah mendorong pemerintah daerah dalam membuat perencanaan pembangunan agar menuju ke arah yang ramah lingkungan, yang berwawasan lingkungan, berketahanan iklim, dan sebagainya,” katanya. Kurang lebih sudah lima tahun Gina bekerja di ICLEI. Sebelumnya ia adalah penerima beasiswa akademik di UPH, sekaligus beasiswa studi ke Amerika Serikat selama satu semester. Sepulangnya dari sana, ia mengabdi pada Prodi HI sebagai asisten dosen selama dua tahun tujuh bulan. Selanjutnya, ia mulai fokus pada bidang lingkungan hidup dengan bergabung di unit kerja presiden untuk pengawasan pengendalian pembangunan saat era Presiden SBY selama satu tahun.

Selama berkuliah di UPH, banyak hal yang didapatnya. Salah satunya adalah soft skill melalui mata kuliah diplomasi yang tetap bisa berguna di bidang pekerjaan apapun, baik bisnis, pemerintahan, bahkan sebagai pramugari. Lalu yang tidak kalah penting, menurutnya selama di UPH, ia banyak bertumbuh secara rohani. “Yang menjadi pegangan saya adalah terus percaya pada rencana Tuhan yang jauh lebih besar daripada rencana kita. Kadang sesuatu bisa berjalan sesuai rencana kita, tapi kadang juga tidak. Dan saat itu saya belajar ‘oh berarti itu bukan yang terbaik buat saya’. Sekarang pun saya bisa mengerti bahwa kegagalan-kegagalan di masa lalu merupakan pintu menuju tempat saya berada sekarang. Walaupun saat gagal mungkin kita tidak bisa langsung melihat tujuannya. Intinya jangan menyerah, jangan melihat kegagalan sebagai jalan akhir,” ungkapnya.

Tahun Kelulusan: 06/09/2010
Bertemanlah dengan kegagalan dan rendahkan diri untuk selalu belajar.
M. Ahwy Karuniyado
CEO PT Mencerdaskan Anak Bangsa atau Widyamedia.com

Memberi Manfaat Pada Sesama Lewat Channel YouTube ‘Hipotesa’ dan ‘Neuron’

 

Keprihatinan terhadap perkembangan media di Indonesia, membuatnya ingin menghadirkan media PT. Mencerdaskan Anak Bangsa. M. Ahwi Karuniyado, atau Edo, alumni Psikologi UPH 2014, sejak awal terjun ke dunia profesional memiliki pemikiran menjadi manusia yang bermanfaat kepada sesama. Keinginan untuk menjadi bermanfaat inilah yang mendorong untuk terus belajar, kritis, dan terbuka dengan berbagai peluang tanpa gengsi harus berkarier sesuai dengan gelar pendidikan yang dimiliki. Minatnya pada media, menggiringnya untuk membangun media berbasis channel YouTube dengan konten edukatif kreatif, Hipotesa dan Neuron. “Hipotesa merupakan channel YouTube yang membahas politik, isu sosial, dan berkaitan dengan social science. Sedangkan, Neuron membahas mengenai kesehatan dan dunia medis secara animatif,” ungkap Edo.

Berawal dari Project Passion, Edo bersama rekannya, melakukan riset pada dua media luar, VOX Media dan Kurzgesagt. Mulai dari cara penyajian konten yang disajikan dengan bercerita (storytelling), hingga teknik sinematografi, dari kedua media tersebut. Bahkan, Jinri Toutiao berhasil menangkap pembaca dengan menggunakan teknologi. “Saat masalah ini kami sadari dua brand pertama pun lahir, yakni Hipotesa dan Neuron,” cetusnya.

Di bawah bendera PT Mencerdaskan Anak Bangsa atau widyamedia.com yang dibangun tahun 2018, Hipotesa dan Neuron, berhasil mendapatkan lebih dari 200.000 subscribers di YouTube dalam waktu satu tahun. Dilandasi visi go-to place saat seseorang ingin memahami apa yang sedang terjadi, Widyamedia.com menghadirkan media yang dapat menjelaskan kenapa suatu hal bisa terjadi, tidak hanya memberitahukan apa yang sedang terjadi. Ia meyakini, saat masyarakat berhasil memahami suatu hal maka kualitas pembahasan dan diskusi pun meningkat.

Apa yang dikerjakan Edo, diakui tidak terlepas dari peran networking alumni UPH. Lebih dari 80% tim Widyamedia.com pun berasal dari alumni dan mahasiswa tingkat akhir UPH. Begitu pula dengan penasihat dan pendongkrak media sosial Widyamedia.com pun berasal dari alumni UPH. Pendidikan psikologi yang diperoleh lebih berdampak kepada kehidupan personal, khususnya menjadi bagian dari pendewasaan. Edo pun berpesan untuk para fresh gradute, untuk tidak mudah menyerah. “Bertemanlah dengan kegagalan dan rendahkan diri untuk selalu belajar,” Pesan Edo.

Tahun Kelulusan: 07/09/2018
Kuncinya jangan berhenti belajar dan banyak membangun network.
Reza Aryabima
Co-Founder dan CEO PT Cempaka Kreasi Sekawan (Brand: Artisan Professionnel)

Membawa Brand Lokal ke Ranah Global

 

Bagi seorang pria tentunya tidak mudah masuk ke dalam industri yang didominasi oleh wanita. Namun bagi Reza Aryabima, Co-Founder dan CEO dari PT Cempaka Kreasi Sekawan (Brand: Artisan Professionnel), salah satu merek bulu mata yang menjadi favorit makeup artist (MUA) dan selebriti, menjadi CEO dari perusahaan produsen bulu mata bukanlah tantangan utama. Yang utama adalah bagaimana menjadi pemimpin yang mendengar.

“Kuncinya jangan berhenti belajar dan banyak membangun network,” ungkap Reza saat menceritakan awal memulai Artisan Professionnel. “Bisnis ini berawal dari kebutuhan yang partner saya temui di kalangan MUA (Makeup Artist) yang mengeluhkan mengenai sulitnya mencari bulu mata palsu dengan design yang inovatif, dan konsisten dalam ketersediaan stock dan standard kualitasnya. Selain itu kami punya mimpi untuk membawa brand asli dari Indonesia, ke ranah global. Saya dan para partner melihat peluang di industri ini. Kami mulai melakukan research & development yang mendalam, sehingga akhirnya produk hasil pengembangan kami diterima oleh market,” kisahnya.

Bagi Reza bisnis ini memiliki peluang yang cukup besar, dan terus berkembang di Indonesia, dan di banyak negara di dunia. Sehingga peluang untuk ekspor pun juga besar. Ia terus berinovasi untuk dapat scale-up dan sustainable. Di balik kegigihannya membangun dan mengembangkan bisnisnya, Reza mengaku sudah dibentuk sejak Ia kuliah di UPH. “Saya dibentuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan hidup sesuai dengan nilai yang ditanamkan UPH yaitu, Christ-centered,” ungkapnya. Lewat pengalaman berorganisasi dan terlibat dalam beragam kepanitiaan selama kuliah, membantu membentuk cara kerja Reza sehingga mampu bekerja dalam tim, hingga menghadapi tantangan dan tekanan. Sebagai alumni UPH, Reza berharap agar UPH dapat terus menjadi sarana pendidikan yang dapat dijadikan ruang untuk bertumbuh dan melahirkan lulusan yang penuh tanggung jawab dalam panggilannya.

Tahun Kelulusan: 13/03/2009
UPH telah menanamkan ke dalam diri saya untuk tetap berpegang teguh terhadap kehidupan Kristen yang berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam dunia bisnis/marketplace.
Chrystian Reynaldo Marulitua Pohan
Kepala Bagian Sumber Daya Manusia di Perum DAMRI

Chrystian Pohan: Pengalaman Luar Biasa Bergabung di BUMN

 

Urusan dengan Sumber Daya Manusia (SDM) bukan hal yang baru bagi orang yang berkecimpung di bidang ilmu psikologi. Pendidikan psikologi sudah membekali, di antaranya, untuk dapat mengenali kepribadian manusia, mengevaluasi, hingga mengembangkan SDM. Namun bagi Chrystian Reynaldo M. Pohan, alumni Psikologi UPH 2008, pengalaman pertama bergabung di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan pengalaman yang luar biasa. Tugas utama yang harus dijalankan Chrys, sebagai Human Capital Division Head di Perum DAMRI (Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia), membantu membenahi infrastruktur, sistem dan budaya Sumber Daya Manusia-nya.

“Saya harus belajar banyak hal dari segi pengetahuan dalam membangun Good Corporate Governance (GCG), Skill yang perlu dikembangkan dalam memimpin orang-orang yang sudah senior dan resistensi terhadap perubahan, serta perilaku santun dan sopan yang perlu diperdalam,” ungkap Chrys. Bekerja di BUMN selain merupakan pengalaman yang luar biasa, tentu ada tantangan tersendiri yang Chrys hadapi yaitu beradaptasi dengan pekerjaan yang diberikan dalam jangka waktu yang pendek dan berkomunikasi dengan orang internal/eksternal secara benar untuk mencapai Transformasi Perusahaan BUMN yang cepat dan tepat.

Kesempatan berkuliah di UPH diakui menjadi tempat ia belajar banyak soft skill yang diperlukan dalam menjalankan kariernya. Di antaranya pengalaman organisasi kemahasiswaan, sosial, dan organisasi kerohanian. “UPH telah menanamkan ke dalam diri saya untuk tetap berpegang teguh terhadap kehidupan Kristen yang berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam dunia bisnis/marketplace,” tutup Chrystian.

Tahun Kelulusan: 10/09/2012
Bertemanlah sebanyak-banyaknya, tidak hanya dari satu kelas tapi dari angkatan atau jurusan yang lain.
Christian Kustedi
CEO dan Co-founder Dusdusan.com

Tekad Membantu Masyarakat Kelas Menengah Melalui Dusdusan.com

 

Dusdusan.com merupakan industri e-commerce atau platform komunitas reseller terbesar di Indonesia, yang awalnya sebagai e-commerce perabotan rumah tangga, kini menjelma/ pivot menjadi komunitas reseller. Model bisnisnya yang sangat praktis dan mudah, telah terbukti membantu puluhan ribu ibu rumah tangga, karyawan kantoran, dan para pemilik toko dalam merintis bisnis mereka masing-masing. Bisnis berbasis teknologi ini digarap Christian Kustedi, lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH 2004. Tekad untuk menjadi dampak yang lebih luas, mendorong Chris membangun Dusdusan.com pada November 2014.

“Target market dari bisnis ini pertama kepada masyarakat kelas menengah yang ingin mendapatkan pendapatan tambahan. Kedua, para brand/pabrik/trader yang mau jual barang mereka. Daripada launching barang secara nasional menggunakan resources sendiri kan mahal sekali. Mending di Dusdusan aja yang punya 100ribu pasukan penjual yang siap menjual dan mendistribusikan produk mereka ke seluruh Indonesia,” jelas Chris. Keberhasilan Chris membangun Dusdusan.com, tidak terlepas dari bisnis jasa branding, Kamarupa, yang dibangun bersama dua teman kuliah di UPH pada tahun 2009.

Walau saat ini berkarir di luar bidang keilmuan yang dipelajari sewaktu kuliah, tantangan tersebut nyatanya bisa dibuktikan oleh Chris melalui kesuksesannya saat ini. Ia mengakui belajar banyak hal, mulai dari strategic partnership, keuangan dan perpajakan, hingga pemilihan, membangun dan mempertahankan core team.
Berangkat dari kisahnya, Chris memberikan pesan untuk para fresh graduate, khususnya mahasiswa DKV UPH, “Ketika kita memulai suatu bisnis, network itu sangat penting. Teman bisa jadi partner. Jadi bertemanlah sebanyak-banyaknya, tidak hanya dari satu kelas tapi dari angkatan atau jurusan yang lain. Di dunia kerja umur itu tidak relevan atau penting. Yang terpenting adalah valuenya.”

Tahun Kelulusan: 24/12/2008
Menjalankan bisnis food and beverages tidak hanya sekedar menjual makanan, tapi menawarkan pengalaman yang menarik untuk customer melalui ambiance dan desain.
Leo Einstein Franciscus
Penemu Einstein and Associates

Personal approach dan Attention to the Detail Dalam Desain

 

Personal approach dan attention to the detail merupakan fokus utama dalam desain interior karya Leo Einstein Franciscus, Designer Interior and Architecture dengan bendera Einstein and Associates. Selama kariernya tercatat 25 karya desain interior yang dihasilkannya. Diakuinya, angka tersebut memang tidak banyak, namun bagi Einstein orientasi kariernya memang bukan kuantitas proyeknya, tetapi kualitas dari proyek-proyek yang dikerjakannya. Dengan kata lain, kerja maksimal, detail, dan originalitas menjadi standar utama karya-karyanya. “Saya menerapkan hubungan yang personal dengan para klien dan melihat mereka sebagai teman, sehingga proses komunikasi menjadi lebih mudah dan bersifat dua arah”, tuturnya yang belum lama ini menyelesaikan hasil karyanya di The Garden Restaurant Lippo Mall Puri. “Saya ingin orang yang datang akan mendapat pengalaman dan perasaan berbeda dalam setiap kunjungannya ke restaurant melalui desain ruangan yang saya buat dalam setiap bagian restaurant. Karena bagi saya menjalankan bisnis food and beverages tidak hanya sekedar menjual makanan, tapi menawarkan pengalaman yang menarik untuk customer melalui ambiance dan desain contohnya,” jelas Einstein. Dibalik karya desain yang dihasilkannya, Einstein mengakui, banyak diinspirasi dari apa yang didapat selama kuliah di Arsitektur UPH. “Terlebih karena para dosennya merupakan praktisi. Sistem pembelajaran mendorong saya untuk berpikir out of the box¸ kita diminta untuk selalu mencoba hal yang berbeda, challenging. UPH juga mampu mengembangkan kemampuan leadership saya dan ini sangat berguna dalam bekerja” tambahnya.

Tahun Kelulusan: 24/09/2008
Menjadi musisi tidak hanya belajar praktik, tapi harus mau dan paham filosofi, ilmu, dan lainnya yang saya dapat selama berkuliah.
Monica Eva Sancti
Penyanyi & Penulis Lagu

CIPTAKAN MUSIK BERKUALITAS INTERNASIONAL MELALUI AJANG BEKRAF

 

Kecintaannya akan dunia musik membuat Monica Eva Sancti atau yang kerap di sapa Moneva – Conservatory of Music UPH, 2015 terus mengasah bakatnya dan tidak pantang menyerah. Hal ini dibuktikannya ketika dirinya mampu bersaing di Indonesia Creative Incorporated (ICINC) dan dikirim ke Los Angeles, Amerika, dan menghasilkan single terbarunya UPH.

“ICINC merupakan ajang pencarian bakat garapan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bersama label rekaman asal Amerika, 88rising.  Bagi saya pengalaman bisa bersaing dengan ratusan kandidat di ajang Bekraf ini bahkan bisa pergi ke Amerika, menjadi hal yang sangat berkesan dan membanggakan. Melalui program ini, saya bersama 4 orang pemenang lainnya berhasil mengikuti tahap pengembangan talenta di Los Angerles. Di sini saya berkesempatan untuk bertemu produser, pembuatan video klip, hingga tampil di festival musik bergengsi ‘Head in The Clouds Music and Arts Festival’, Los Angeles, pada 17 Agustus 2019 lalu. Kita juga dilatih untuk brandind diri kita, pembuatan dan penulisan lagu, dance, dan lainnya,” cerita Moneva yang baru saja di wisuda pada 21 November 2019 di UPH Kampus Lippo Village. Tidak hanya belajar, bahkan pengalaman satu bulan di Amerika ini membuahkan karya terbaru Moneva. ‘UP’ – single atau lagu terbaru dari Moneva yang rekaman hingga pembuatan video klip ia lakukan di Negara Paman Sam. Kini single terbarunya dapat dinikmati publik di aplikasi pemutar musik seperti Spotify, Joox, dan Youtube untuk melihat official music video.

“Melihat kebelakang, saya merasa bahwa saya telah berkembang jauh baik secara skill juga karier. Hal ini karena apa yang saya sudah peroleh semasa berkuliah di CoM UPH.  Di UPH saya diajarkan bahwa menjadi musisi tidak hanya belajar praktik, tapi harus mau dan paham filosofi, ilmu, dan lainnya yang saya dapat selama berkuliah. Saya juga semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik, terlebih dengan mengenal banyak mahasiswa lainnya yang juga musisi, kemudian dosen yang sangat mendukung hard skills juga soft skills, dan terpenting yaitu networking. UPH menawarkan networking yang sangat luas melalui kesempatan berkolaborasi dengan sesama mahasiswa, dosen, dan lainnya. Ini semua sangat menunjang karier saya,” tutur Moneva yang mengisi waktunya dengan tampil off-air dan radio, juga menulis lagu-lagu barunya.

Tahun Kelulusan: 16/09/2019
Dosen FK UPH adalah sosok pendidik yang sangat peduli dengan mahasiswa mereka dan selalu memberikan kami ruangan untuk bertanya dan belajar lebih dalam
William Disraeli Wanane
Dokter di pedalaman Papua

Kerinduan Menjadi Dokter di Tanah Papua

 

Menjadi dokter dan mengabdi di pedalaman Papua, merupakan cita-cita William Disraeli Wanane. Tekad dan ketekunannya, kini membuahkan hasil membuka jalan untuk melayani masyarakat kecil khususnya di daerah asalnya, Papua. Alumni Fakultas Kedokteran UPH 2013, resmi menyandang profesi dokter pada April 2019, dan setelah kelulusannya ia bekerja sebagai dokter internship selama 1 tahun di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Timika Jaya dan Rumah Sakit Mitra Masyarakat di Timika, Kab. Mimika, Papua. Dokter yang juga menyandang gelar Bachelor Science in Health Sciences dari Corban University, Oregon, Amerika Serikat, ini menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk melayani secara optimal. Bahkan saat ia bertugas di puskesmas atau melayani masyarakat kecil ia mengaku merasakan sukacita dan semangat mendapat kesempatan menolong orang lain.

Selama 5,5 tahun menempuh pendidikan untuk menjadi seorang dokter, William bersyukur mendapatkannya di FK UPH. Kampus yang diakuinya sangat baik dalam memberikan pendidikan kedokteran baik dari fasilitas laboratorium hinga sarana penunjang proses belajar yang sangat lengkap. “Dosen FK UPH adalah sosok pendidik yang sangat peduli dengan mahasiswa mereka dan selalu memberikan kami ruangan untuk bertanya dan belajar lebih dalam mengenai dunia pendidikan kedokteran serta pelayanan kepada masyarakat,” ungkap William. William tidak hanya mendapatkan ilmu, dia juga dibentuk menjadi dokter yang selalu berpikir kritis dan memiliki rasa ingin tahu yang besar namun secara bersamaan dapat menunjukan empati terhadap pasien yang ditangani. Semua itu didedikasikannya untuk membangun masyarakat kecil di Indonesia, di mulai dari pedalaman Papua, daerah asalnya.

Tahun Kelulusan: 08/04/2019
Kuliah bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan saja, tetapi experience juga penting untuk melengkapi pengetahuan akademik. Salah satunya di dapat dari dosen-dosen praktisi yang berpengalaman.
Michael Laurel Abraham Kandou
Asset Management Specialist di PT Tropik Energi Pandan

UPH Tempat Saya Membangun Networking

Bergabung di perusahaan Minyak dan Gas (Migas) menjadi cita-cita Michael Laurel, alumni Program Magister Manajemen UPH 2014. Berbekal pengalaman di dunia finance dan menyelesaikan studi Magisternya, Mike, begitu panggilan akrab Michael, mencoba peruntungan melamar di perusahaan Migas, dan beruntung ia bergabung sebagai Asset Management Specialist di PT Tropik Energi Pandan, sejak tahun 2018. Tugasnya memaintain material asset, rekonsiliasi physical check dengan data asset, dan juga reporting asset, masih berkaitan dengan bidang finance atau accounting, bidang perkerjaan sebelumnya. Namun, menurutnya, banyak hal-hal baru yang dia harus pelajari. “Karenanya diperlukan attitude yang mau belajar, belajar akan hal baru, belajar dan terus belajar. Karena di dalam dunia kerja saat ini pekerjaan bukan hanya dinilai etos kerja yang bagus atau berprestasi saja, namun integritas, dan good karakter juga sangat diperlukan di dunia profesional,” ujarnya.

Dalam hal profesionalitas dan integritas, Mike mengaku banyak dibekali saat kuliah di progam MM UPH. Pengalaman studi Program Magister di UPH memberinya banyak manfaat dalam menjalankan kariernya. “Bagi saya, kuliah bukan hanya untuk mendapatkan pengetahuan saja, tetapi experience juga penting untuk melengkapi pengetahuan akademik. Salah satunya di dapat dari dosen-dosen praktisi yang berpengalaman,” kata Mike menjelaskan alasannya memilih program Magister UPH. Bagi Mike, kampus harus menjadi tempat untuk membangun networking yang membantu mendapatkan banyak pertemanan dan informasi yang luas dalam setiap aspek di bidang bisnis maupun profesional.

Tahun Kelulusan: 16/03/2018
Anak muda tidak hanya memerlukan fondasi akademis, tapi juga karakter yang kuat.
Erika Widyaningsih
Direktur Rumah Kebangsaan, Founder Komunitas Jelajah Bhineka

ANAK MUDA HARUS MEMILIKI FONDASI AKADEMIS DAN KARAKTER YANG KUAT

 

“Fondasi akademis dan karakter yang kuat, merupakan hal penting yang harus dimiliki generasi muda saat ini, tanpa hal tersebut, sulit bagi anak muda untuk menjawab tantangan dunia kedepan” ungkap Erika Widyaningsih, Direktur Rumah Kebangsaan, yang juga alumni Ilmu Komunikasi, FISIP UPH 2001. Namanya sempat ramai di media usai merelease hasil surveinya pada 8 Juli 2018 perihal isu ‘radikalisme’, yang menjadi pembahasan banyak pihak. Hasil survei tersebut berhasil diserahkan kepada presiden dan telah menjadi salah satu bahan bagi pemerintah untuk membuat kebijakan dalam menangkal radikalisme. Bersama tim pegiat Rumah Kebangsaan, wanita yang satu ini kerap menyuarakan isu-isu kebangsaan di bidang sosial, politik, dan hukum. Kepeduliannya terhadap persoalan kebangsaan yang menjadi tantangan kedepan, menjadi alasan ia bergabung dengan Rumah Kebangsaan pada 2012. “Bagi saya, anak muda perlu memiliki tidak hanya fondasi akademis, tetapi juga karakter yang kuat,” ungkap Erika Widyaningsih.

Karakter pantang menyerah, kritis, dan berintegritas, mengantarnya menjadi sosok yang tepat untuk menjabat sebagai Direktur Rumah Kebangsaan, dan Founder Komunitas Jelajah Bhineka. Rumah Kebangsaan merupakan organisasi yang memiliki fokus kegiatan pada isu kebangsaan, serta upaya pencegahan intoleransi, radikalisme dan terorisme. Sedangkan Jelajah Bhineka, yang baru dimulai pertengahan tahun 2019 merupakan komunitas yang hendak mengangkat nilai-nilai budaya, tradisi, dan keragaman di Indonesia. Perjalanan kariernya tidak terlepas dari tempaan UPH, kampus yang mendidiknya menjadi seorang professional di bidang komunikasi, sekaligus sosok yang berkarakter. “Harapan saya UPH mampu memberikan akses Pendidikan bagi beragam orang. Salah satunya dengan upaya UPH melalui pemberian beasiswa bagi teman-teman berprestasi, namun memiliki kendala (ekonomi) dari daerah. Dengan begitu, UPH dapat menciptakan lebih banyak anak-anak muda penerus bangsa yang dapat berkontribusi pada peningkatan daerahnya masing-masing”, tutup Erika.

Tahun Kelulusan: 29/03/2006
DKV UPH telah memberikan pondasi yang cukup kuat untuk dituangkan dan dikembangkan dalam praktik di industri desain.
Evan Wijaya
Desainer Grafis di Thinking Room

Desainer Muda yang Selalu Mengasah Kreativitas

Evan Wijaya, usai menyelesaikan kuliahnya dari Desain Komunikasi Visual UPH pada 2017 lalu, ia memilih untuk berkarier sebagai desainer grafis di Thinking Room, sebuah perusahaan desain ternama di Jakarta. Di bawah creative direction dari founder Eric Widjaja, Evan dipercaya untuk menangani berbagai macam proyek, salah satunya untuk Sarirasa Group yang menaungi beberapa f&b brand seperti Sate Khas Senayan, Tesate, dan Gopek. Tidak hanya mendesain ulang logo Sarirasa beserta sistem identitas visualnya, bertepatan dengan anniversary Sarirasa yang ke-45 tahun ini, Thinking Room kembali dipercaya untuk membuat identitas (logo dan sistem visual) bagi anniversary campaign ini. Bersama dengan tim Thinking Room, Evan kembali dipercaya untuk membuat identitas visual untuk momentum tersebut. Di luar pengalamannya bekerja secara full-time, Evan juga menyempatkan diri untuk mengerjakan proyek-proyek freelance guna mengembangkan skill, portfolio, dan networking. Evan yang lulus dengan gelar best graduate pada Wisuda UPH XXXI ini merasa pengalamannya sebagai seorang desainer harus terus dikembangkan. Ini juga yang menjadi alasan pemuda berusia 24 tahun ini tetap menyempatkan diri untuk mengerjakan proyek freelance di sela-sela kesibukannya. “Setelah lulus dari UPH, saya menyadari bahwa kampus ini memberikan pengalaman holistis yang membantu saya dalam mempersiapkan hal-hal esensial dalam dunia kerja. Secara khusus, menurut saya DKV UPH telah memberikan pondasi yang cukup kuat untuk dituangkan dan dikembangkan dalam praktik di industri desain,” tutur Evan. Ke depannya, Evan melihat adanya peluang besar di bidang industri kreatif yang semakin berkembang ini. “Kini masyarakat semakin sadar akan pentingnya desain. Kesadaran dan terbukanya wawasan akan desain ini akan membuka peluang karier yang besar di industri kreatif di Indonesia,” tambah Evan yang tahun ini mendapatkan penghargaan desain berskala internasional dari Adobe Inc.

Tahun Kelulusan: 01/03/2017
Saat kuliah di FK UPH, saya sangat dilatih bertanggung jawab, caring, brave, dan disiplin waktu yang tinggi. Itu juga menjadi modal saya bekerja sampai sekarang.
Reisa Kartikasari
Dokter, Pembawa Acara TV

Caring, Brave, dan Disiplin yang Diajarkan di FK UPH Melekat Hingga Saat ini

 

Namanya dan juga wajahnya sudah tidak asing lagi bagi pemirsa program Dr. OZ yang ditayangkan di salah satu stasiun TV Indonesia. Ia juga peraih 3 gelar dalam berbagai ajang pemilihan puteri, mulai dari Puteri Indonesia Lingkungan 2010, Putri Indonesia 2010 dan Miss International 2011. Ya dia adalah Reisa Kartikasari atau yang bisa dikenal dengan nama dr. Reisa Broto Asmoro, alumni Fakultas Kedokteran (FK) UPH angkatan 2003. Saat ini selain masih praktek dan aktif sebagai Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Reisa disibukkan dengan aktivitas menjadi host dan narasumber untuk program kesehatan dan parentingbrand ambassador beberapa brand, serta menjadi narasumber untuk talkshows dan seminar.

Menjalankan beberapa profesi tentunya membutuhkan kedisiplinan dan komitmen tinggi. Bukan hal yang mudah memang, namun Reisa mengaku sudah dilatih sejak di bangku kuliah. “Saat kuliah di FK UPH, saya sangat dilatih bertanggung jawab, caringbrave, dan disiplin waktu yang tinggi. Itu juga menjadi modal saya bekerja sampai sekarang,” akunya. “Masa-masa kuliah sangat menyenangkan,” kenang dr. Reisa. Tidak hanya gedung kampus dan fasilitas-fasilitas yang bagus dan lengkap, yang membuatnya betah, lingkungan kampus dan teman-teman kuliah juga jadi faktor penyemangatnya. “Apalagi dengan semua dosen-dosen yang berkualitas, sabar, dan selalu mengajar dengan hati, membuat belajar menjadi menyenangkan,” akunya. Sebagai alumni FK angkatan pertama, Reisa bersyukur pada Tuhan karena dapat menyelesaikan pendidikannya tepat waktu dalam 5.5 tahun. Ia mengakui sistem perkuliahan di FK UPH memang sangat baik. Mahasiswa diajarkan untuk aktif dan kreatif. Tentunya Reisa berharap semoga UPH semakin jaya, makin menjadi pilihan kampus nomor 1, dan makin banyak mencetak dokter-doker dan para lulusan di bidang-bidang lainnya yang berkualitas.

Tahun Kelulusan: 19/01/2007
Just create your own career. You can be anything you want.
Seraphina Dominique I.
Desainer dan Konseptor di Petite Helper & Serena Sparks

“Just create your own career. You can be anything you want”. Itulah filosofi yang dipegang Seraphina Dominique, alumni Desain Produk Universitas Pelita Harapan (tahun 2000-2004). Bekal pendidikannya diperkaya dengan pendidikan lanjut di Politecnico di Milano (tahun 2006-2008), yang menambah keahliannya di bidang concept design dan decorator, dengan entrepreneuship skills. Bagi Seraphina, yang sudah mempunyai banyak pengalaman di industri desain, peluang kerja di bidang desain saat ini sangat berkembang dan banyak sekali jenis pekerjaan baru. “Setelah lulus sekolah desain, tak menentu harus menjadi seorang designer, bisa juga menjadi visual merchandiser, dekorator, bahkan balloon artists, semua jenis pekerjaan baru ini yang sedang banyak demand nya membutuhkan design base education. Just create your on career. You can be anything you want,” katanya.

Seraphina dipercaya beragam klien-klien besar seperti L’oreal Indonesia, Estee Lauder group, sampai Unilever dan Paragon Indonesia. “Project saya berkisar dari dekorasi event sampai pembuatan booth untuk exhibition, juga Art installation,” tambahnya. Tak heran bila dia mendapat kepercayaan untuk project-project besar, salah satunya dekorasi Gedung Nusantara atau Gedung ‘Kura-kura’ Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta Pusat, untuk pelantikan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024. Lewat karya ini ia ingin menyampaikan pesan perdamaian. Supaya Indonesia terus bersatu dalam keberagaman. Juga supaya anak-anak muda terus berkarya dan terus menjadi inspirasi satu sama lain. “Be a blessing to others,” serunya.

Tahun Kelulusan: 20/02/2004
Jessie Setiono
Associate at Baker McKenzie & Model Internasional

Lawyer Sekaligus Model Internasional Lulusan Magister Hukum UPH

 

Profesi hukum identik dengan karakter yang kaku dan serius, berbeda dengan profesi model yang dituntut luwes dan dinamis. Namun, siapa sangka keduanya melekat pada diri Jessie Setiono. Parasnya yang cantik dan menawan membuat wajah model papan atas asal Indonesia ini sudah tidak asing lagi dalam dunia model. Berbagai cover dan fashion spread di hampir semua majalah fashion ternama pernah memajang wajahnya sebagai cover magazine.

Model ini merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH), dan bekerja sebagai lawyer di salah satu firma hukum ternama, yaitu Baker McKenzie. Jessie, begitu biasa dia dipanggil, mengaku dengan menjadi lawyer mengajarkannya bahwa orang dapat berpikir lebih dalam dan filosofis.

Seperti yang dilansir oleh Majalah Prestige, disela-sela sesi pemotretan Louis Vuitton’s Fall/Winter 2019 Collection yang berlangsung di Tokyo, 16 September 2019, Jessie mengungkapkan pengalamannya menjalani profesi Lawyer. “Skills yang saya peroleh, orang-orang yang bekerja bersama dengan saya, dan klien di tempat saya bekerja adalah bagian dari proses pembelajaran untuk menjadikan saya sebagai seorang profesional yang lebih baik,” jelas Jessie.

Jessie juga menyampaikan pandangannya tentang gerakan global #MeToo jika diimplementasikan di Indonesia.

“Pelecehan seksual adalah masalah yang sering terjadi di Indonesia. Ini perlu ditangani dengan satu atau lain cara. Namun, gerakan #MeToo kemungkinan akan mengarah pada suara daripada substansi. Indonesia belum membahas masalah yang sangat mendasar seperti: Apakah perempuan Indonesia cukup berdaya untuk berbicara? Bisakah perempuan Indonesia bebas dari peran yang diekspektasikan oleh masyarakat terhadap mereka? Bisakah perempuan Indonesia mandiri? Apakah Indonesia memiliki sistem penegakan yang kondusif untuk mendukung hak-hak perempuan?” tutur Jessie. Jessie menilai Indonesia perlu mengatasi masalah dasar secara paralel, bersamaan dengan menerapkan gerakan #MeToo, agar gerakan ini tidak menjadi boomerang bagi perempuan Indonesia.

Sebelum mendapatkan gelar Master in International Trade, Investment and Competition Law, tahun 2014, dan Sarjana Hukum, tahun 2016 di UPH, Jessie juga sudah mendapatkan gelar Bachelor of Commerce di Curtin University Perth, Australia.

Memiliki profesi ganda di bidang yang berbeda membuat Jessie tidak lepas dari tantangan yang dihadapinya. Salah satu tantangan yang diakuinya masih sulit untuk diatasi adalah menyeimbangkan dua profesinya yang harus serba cepat dan menuntut, dengan kehidupan pribadinya.

“Akhir-akhir ini saya sedang mencoba lebih banyak meluangkan waktu untuk kehidupan pribadi saya dengan bermeditasi, olahraga, menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga, serta bepergian sesekali,” tutup Jessie.

Tahun Kelulusan: 02/04/2014
Karier yang saya miliki hari ini tidak mungkin terjadi tanpa pengenalan yang utuh dan terintegrasi tentang psikologi serta pembentukan karakter yang matang pada saat belajar di UPH.
Karel Karsten
Psikolog & Dosen Fakultas Psikologi UPH

Saat SMA, ketika teman-teman seusianya bimbang menentukan pilihan karier yang tepat untuk masa depan, Karel percaya Tuhan telah menentukan pilihan karier yang mantap untuk digelutinya, yakni menjadi akademisi dan praktisi di bidang psikologi klinis. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk memilih UPH sebagai universitas tempatnya menapaki langkah pertama dalam membangun kariernya. Sejak saat itu, tidak sekalipun Karel menyesal memilih UPH. UPH memperlengkapi Karel dengan dasar yang kuat di bidang psikologi, dan yang paling penting, UPH berperan sangat penting dalam membentuk karakter sebgai ilmuwan, pendidik, dan psikologis dengan identitas kokoh di dalam Kristus. Di dunia di mana orang-orang kerap menjunjung psikologi sebagai agamanya, Karel justru percaya bahwa psikologi kehilangan makna ketika ia dipisahkan dengan karya keselamatan Yesus.

Pada tahun 2014, Karel mendapat izin dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk berpraktik sebagai psikolog klinis. Bersama dengan istrinya, yang juga lulusan Fakultas Psikologi UPH, Karel merintis berdirinya Experiencing Life Foundation (ELF) sebagai pusat layanan psikologi di Gading Serpong, Tangerang, yang melayani berbagai kebutuhan psikologi untuk individu, seperti: konseling, psikoterapi, dan pemeriksaan psikologis. Setelah satu tahun dirintis, ELF mulai mengembangkan layanannya ke sektor yang lebih luas dengan menerima klien perusahaan dan sekolah. ELF terus berkembang menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesadaran psikologis bagi orang-orang di lingkungan sekitar, dan dengan penyertaan Tuhan, ELF terus memperluas lingkup layanannya untuk menjangkau klien-klien di tingkat regional dan nasional, seperti: melayani kebutuhan psikologi untuk merekrut karyawan bagi perusahaan, memberikan seminar dan psikoedukasi untuk berbagai kebutuhan, dan memberikan konsultasi untuk riset pengembangan ilmu psikologi.

Sebagai karier akademisinya, Karel merupakan dosen penuh waktu di Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan, sejak tahun 2013. Pada tahun 2015, Karel dipercaya menjadi Vice Persident sebuah asosiasi konseling di Indonesia (Indonesian Counseling Association). Sejak tahun 2014, Karel juga menjadi Ketua Editor Jurnal Psikologi Ulayat dan dipercaya menjadi reviewers pada berbagai jurnal terkemuka di tingkat nasional dan internasional. Pada tahun 2016, Karel mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi tingkat doktoral di Faculty of Medicine, the University of Queensland, Australia. Bidang risetnya berfokus pada hubungan romantis, khususnya pada bagaimana ketiadaan hubungan romantis berdampak pada kesejahteraan psikologis seseorang, serta bagaimana peran religiositas, spiritualitas, dan dukungan sosial dapat membantu seorang yang belum menikah untuk mengatasi tekanan menikah, terutama bagi masyarakat Indonesia.

Karel percaya rekam jejak yang telah dibangunnya sejauh ini tidak mungkin terjadi tanpa pengenalan yang utuh dan terintegrasi tentang psikologi serta pembentukan karakter yang matang pada saat belajar di UPH

Tahun Kelulusan: 04/03/2011
Jovita Irawati
Direktur Utama PT. OSO Jasa Medika (Hospital Holding Company - Member of OSO Group)

True Knowledge dan Godly Character menjawab tantangan karir masa kini.

 

Jovita Irawati adalah salah satu alumni S3 UPH Dokter Hukum yang memiliki IPK 4.0 dan menjadi wisudawan terbaik dari seluruh strata pada wisuda XXX di tahun 2016. Jovita memutuskan untuk memilih melanjutkan doktoral bidang hukum untuk memperdalam wawasan dan pengetahuan hukum yang aplikatif di bidang kesehatan. Menurut Jovita, di UPH bukan saja mendapatkan pengetahuan yang banyak tetapi juga mendapatkan komunitas akademik yang berawasan luas dan penuh dedikasi. Jovita sangat bersyukur telah menjadi salah satu alumni yang menerima true knowledge dan memperdalam mengenai nilai-nilai godly character yang dapat menjawab tantangan karir yang sedang dijalankan, sebuah dunia kerja profesional yang sarat dengan permasalahan hukum dan kemanusiaan.

Jovita berharap bahwa UPH bisa semakin maju dan memberi kontribusi nyata dalam menyiapkan SDM berkualitas dan berintegritas untuk membangun bangsa dan negara Indonesia. Adapun beberapa kontribusi yang Jovita lakukan, diantaranya disertasi di pakai sebagai acuan untuk UU kesehatan, sebagai dosen tetap Magister Hukum UPH dan dosen penguji program Doktor Hukum. Sebelum menjadi President Director PT. OSO Jasa Medika (Hospital Holding Company- Member of OSO Group), Jovita pernah menjabat sebagai Direktur Administrasi di Rumah Sakit Pluit.

Tahun Kelulusan: 20/02/2016
Dukungan yang diberikan untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti Pengadilan Semu Internasional merupakan salah satu bukti nyata akan komitmen UPH dalam meningkatkan daya saing para mahasiswanya baik di tingkat nasional maupun internasional.
Junianto James Losari
Arbitrasi Komersial Internasional dan Arbitrasi Investasi Internasional (Associate di Allen & Overy, Singapore)

Menghasilkan Generasi Muda yang Siap Bersaing Secara Global

“Kuliah di Fakultas Hukum UPH merupakan suatu kesempatan yang berharga untuk saya. Secara khusus, saya merasakan dedikasi yang sungguh dari Pak Dekan dan segenap dosen dalam mendidik dan mempersiapkan para mahasiswa agar siap bersaing di dunia kerja setelah lulus. Dukungan yang diberikan untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti Pengadilan Semu Internasional merupakan salah satu bukti nyata akan komitmen UPH dalam meningkatkan daya saing para mahasiswanya baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan ilmu dan berbagai keahlian, termasuk soft skills, yang saya dapatkan di UPH, saya dapat bersaing dengan lulusan dari universitas-universitas terkemuka di dunia dan berkontribusi secara lebih bermakna dalam pekerjaan saya saat ini sebagai seorang pengacara di bidang penyelesaian sengketa internasional yang dapat beracara di pengadilan Indonesia dan di Inggris.” Pengakuan ini disampaikan oleh Junianto James Losari, alumni UPH lulusan Ilmu Hukum, angkatan 2005. Sebagai seorang pengacara, tentunya segala ilmu dan keahlian yang pernah didapatkan James menjadi bekal untuk berkontribusi di bidang hukum. James berharap UPH bisa terus menghasilkan praktisi-praktisi hukum berkualitas, yang berkontribusi bagi bangsa Indonesia, melalui holistic education yang berstandar internasional. James merasa bahwa saat ini, untuk terjun ke dunia nyata bukan hanya bersaing dengan lingkup terbatas tetapi juga bersaing dengan lingkup global. James sangat mempercayai bahwa dengan adanya pembelajaran di UPH, setiap mahasiswa bisa memainkan peran sentral yang membentuk generasi muda yang kompeten, dan bukan hanya itu saya tetapi juga memiliki mental yang kuat dalam menghadapi berbagai macam tantangan.

Tahun Kelulusan: 30/03/2009
Saya bersyukur sekali bahwa dosen-dosen, teman-teman UPH mau memahami dan membantu saya. Saya tidak lagi takut dengan keterbatasan pendengaran saya.
Nathania Tifara
Co-Founder "Guru Bumi"

Disabilitas Tidak Membatasinya Berkontribusi bagi Negara

 

Nathania Tifara adalah mahasiswa UPH yang mengambil Program Studi Desain Komunikasi Visual, angkatan 2007. Awalnya Nathania Tifara masih mempertanyakan apa cita-cita dia kedepannya. “Saya tidak bisa membayangkan untuk masa depan. Belum memiliki passion. Sedangkan saya memiliki disabilitas pendengaran (Tuna Rungu) punya ketakutan tidak maximal memahami pelajaran kuliah. Apakah dosen dan teman-teman mau menerima kekurangan saya ini? Dunia saya masih polos. Penuh kepenasaran dan pertanyaan”, kenang Thania sang co-founder Guru Bumi ini.

Setelah masuk kuliah, perjalanan menjadi mahasiswa selama 4 tahun perlahan membuka banyak pikiran. Perlahan kemampuan dan cita-cita/passion Thania semakin lama mulai terbentuk dan membuat ia menjadi lebih percaya diri. Nathania Tifara menceritakan bahwa UPH adalah tempat belajar di mana dia dapat membentuk karakter diri dan passion/cita-cita yang diinginkan dan sebagai rumahnya karena dapat membuat lingkungannya seperti keluarga dan penuh kehangatan.

“Saya bersyukur sekali bahwa dosen-dosen, teman-teman UPH mau memahami dan membantu saya. Saya tidak lagi takut dengan keterbatasan pendengaran saya. Berkat bimbingan dosen yang bersabar mau menjelaskan dan mengarahkan saya, rupanya hasil karya saya lebih cocok di bidang anak-anak. Di situlah saya menemukan passion, saya ingin berkontribusi untuk Indonesia dengan melalui karya saya ini. Itu adalah impian saya. Yang sekarang menjadi pekerjaan saya membuat media edukasi untuk anak-anak, membantu proses belajar anak lebih mudah dan menyenangkan,” ujarnya.

Saat ini Guru Bumi yang dibangun Thania dengan rekannya sudah mengalami banyak kemajuan. Guru Bumi yang dikembangkan adalah Educational Product/Games Creator utk bahan belajar mengajar sesuai dengan kebutuhan bahan belajar mengajar di Indonesia. Proper untuk anak-anak Difabel. Harapannya melalui Guru Bumi ini Thania ingin memberikan sebuah kontribusi untuk Indonesia.

Tahun Kelulusan: 12/09/2011
Dosen-dosen yang ada di UPH telah memiliki pengalaman yang banyak dan memudahkan setiap mahasiswa untuk menerima atau mengembangkan potensi mereka lebih dalam lagi.
Arnold Reynaldi
Peneliti Pascadoktoral di The Kirby Institute, UNSW Sidney

Ilmuwan Lulusan Double Degree UPH

 

Menurut Arnold Reynaldi, belajar di UPH sangat memberikan pengetahuan dan pengalaman penting melalui karir sebagai seorang ilmuwan. Dan Arnold Reynaldi juga merasa beruntung memiliki banyak dosen dan teman yang selalu mendukungnya untuk menjalankan seluruh masa studinya di UPH. Arnold merupakan lulusan double degree dari Program Studi Matematika FaST dan Teknik Informatika FIK, angkatan 2009. Arnold melanjutkan bahwa dosen-dosen yang ada di UPH telah memiliki pengalaman yang banyak dan memudahkan setiap mahasiswa untuk menerima atau mengembangkan potensi mereka lebih dalam lagi. Bahkan dosen di UPH bukan hanya memberikan pengetahuan saja tetapi juga membuat mahasiswa termotivasi dan membuka potensi sejati seorang mahasiswa.

Arnold merasa bahwa seluruh pembelajaran yang ia terima selama di UPH telah dirancang untuk meningkatkan keterampilan soft skill dan keterampilan berpikir analitis. Mulai dari 2016 hingga sekarang, Arnold Reynaldi masih menjabat sebagai Postdoctorel Research Follow Infection Analytics Program di Sydney. Arnold Reynaldi juga telah melakukan riset interest yaitu Applied mathematical, computational and statistical methods in life science & Immunology and infectious diseases. Selain melakukan riset interest, Arnold juga telah melakukan riset title, beberapa di antaranya berjudul Backpropagation and Levenberg – Marquardt Algorithm for Training Finite Element Neural Network, Modeling of EBV Infection and Antibody Responses in Kenyan Infats with Different Levels of Malaria Exposure Shows Maternal Antibody Decay is a Major Determinant of Early EBV Infection, Fate Mapping reveals the age structure of the peripheral T Cell compartment, dan Modelling the dynamics of neonatal CD8+ T Cell responses.

Tahun Kelulusan: 05/03/2012
Untuk menjadi orang yang berhasil perlu tekad, usaha, dan tanggungjawab.
Giovani Gracianti
Aktuaris dan Direktur Eksekutif PAI (Persatuan Aktuaris Indonesia)

Lulus dengan Double Degree

 

Giovani Gracianti adalah salah satu alumni S1 UPH angkatan 2008. Tak tanggung-tanggung, ia memutuskan memilih program double degree Matematika Aktuaria dan Terapan & Teknik Informatika. Perempuan cantik yang biasa dipanggil Gio ini merupakan orang Indonesia pertama yang menerima beasiswa program Master of Actuarial Science, di University of Waterloo Canada. Pencapaian Gio tersebut tentunya merupakan suatu kebanggaan bagi Universitas Pelita Harapan. Setelah menyelesaikan program Master, Gio kembali menerima Australian Award untuk program S3 Doktor of Philosopy Univ of Melbourne.

Gio yang merupakan Direktur Eksekutif Persatuan Aktuaris Indonesia menuturkan untuk menjadi orang yang berhasil perlu tekad, usaha, dan tanggungjawab. Bukan hanya penghargaan saja yang diterima oleh Gio, tetapi ia juga berkontribusi dalam bidang Aktuaria, yaitu Aktif di READI (Risk Management, Economic Sustainability and Actuarial Science Development in Indonesia). Projeknya adalah untuk menjadikan Indonesia sebagai Pusat Keunggulan Ilmu Aktuaria dan Manajemen Risiko di kawasan regional.

Tahun Kelulusan: 05/03/2012
Ellen Tanudjaja
Peneliti di Jepang

Melanjutkan Karir Akademik di Negeri Sakura

 

Ellen Tanudjaja adalah salah satu alumni S1 UPH Program Studi Bioteknologi yang menerima beasiswa Monbukagakusho Japan untuk Program Master Bioengineering, Tohoku University di Japan. Selain itu, Ellen juga mendapat Hisho Award (Excellent Student Award of the Society for Biotechnology, Japan) pada tahun 2016. Dan bukan hanya itu saja, di tahun 2019 Ellen menerima JSPS (The Japan Society for Promotion of Science) fellowship – DC2 Special Researcher dengan riset yang berjudul Elcidation of novel functions of Escherichia coli Trk/Ktr/HKT transporter.

Selain beberapa penghargaan yang telah Ellen terima, ia juga bekerja sama dengan beberapa rekannya untuk melakukan riset publikasi. Salah satu contoh, pada tahun 2017 Ellen Tanudjaja, Naomi Hoshi, Yi-Hsin Su, Shin Hamamoto & Nobuyuki Uozumi membuat riset yang berjudul Kup-mediated Cs+ uptake and Kdp-driven K+ uptake coordinate to promote cell growth during excess Cs+ conditions in Escherichia coli. Riset ini di publikasikan di National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine. Pada bulan Juni 2019 lalu Ellen Tanudjaja bersama dengan rekannya Naomi Hoshi, Yi-Hsin Su, Nanatani Kei, Shin Hamamoto & Nobuyuki Uozumi membuat poster presentasi tentang Kup-driven Cs+ uptake promote Escherichia coli growth under K+ limited condition di event American Society of Microbiology (ASM) Microbe 2019, USA.

Tahun Kelulusan: 12/09/2011
Hery Susanto Djie
Peneliti dan Direktur Teknik Lumentum Operations LLC di Silicon Valley, California, USA.

Dari Menulis Jurnal Ilmiah Sampai Mendapat Beasiswa Doktoral

 

UPH adalah tempat yang membentuk Hery menjadi pribadi yang bisa menerima dan siap untuk terjun ke dunia nyata, selepas ia menyelesaikan pendidikannya di UPH. Hery adalah angkatan ke-2 UPH yang masuk pada tahun 1995. Ia masuk ke UPH dengan memilih Program Studi Teknik Elektro. Di dalam jurusan tersebut, Hery merasakan betul bahwa yang telah diajarkan oleh para dosen selama kuliah sangat berguna baginya saat ini. “Terlebih fasilitas-fasilitas yang ada di perpustakaan,” ungkap Hery.

Selama ini, Hery telah melakukan beberapa riset yang berbentuk jurnal ilmiah, di antaranya Plasma-induced quantum well intermixing for monolithic photonic integration, InGaAs/GaAs Quantum-Dot, Superluminescent Diode for Optical Sensor and Imaging (IEEE Journal); High-Density Plasma Enhanced Quantum Well, Intermixing in InGaAs/InGaAsP Structure Using Argon Plasma (Japanese Journal of Applied Physics). Selain itu, Hery juga memegang 5 US Patents di antaranya Zoned Optical Waveplate, Broadband Semiconductor Laser, Reflective Diffraction Grating and Fibrication Method, Optical Broadband Emitters and Methods of Making The Same, dan Reflective LC Devices including Thin Film Metal Grating. Hery mengatakan saat ini bekerja di Sillicon Valley, California, USA sebagai Engineering Director, Lumentum Operations LLC. Tempat ini merupakan sebuah perusahaan semikondaktor di Sillicon Valley. Bukan hanya itu saja tetapi, Hery juga menerima beasiswa doctoral di NTU Singapore dan meraih award sebagai Outstanding Young Alumni. Penerima award serupa dari Indonesia sampai saat ini hanya 3 orang, yaitu Merry Riana, AHY, dan Hery Susanto.

Tahun Kelulusan: 28/10/1999
Saya hanya ingin bermanfaat bagi masyarakat.
Anggrainy Santy Voulinda
Jurnalis di NET TV

Ketenaran Bukan Tujuan Utama Menjadi Seorang Jurnalis

 

Saat ini, banyak orang terutama generasi muda tertarik untuk menjadi jurnalis. Profesi ini dapat dianggap keren, seksi, mengagumkan, dan tentu saja kita dapat bertemu orang-orang yang menarik seperti aktris, pengusaha, pemerintah dan banyak lagi. Tidak menutup kemungkinan para jurnalis bisa dikenal banyak orang. Tetapi bagi Anggy, ketenaran bukan tujuan utamanya memilih profesi tersebut. “Saya hanya ingin bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Anggy yang merupakan alumni UPH Program Studi Hubungan Internasional angkatan 2007. “Sebagai jurnalis, saya harus melakukan pekerjaan secara profesional untuk mengumpulkan informasi secara terperinci, cepat, dan melaporkannya melalui Live Report. Di sisi lain, saya ingin membantu orang yang membutuhkan pada saat saya melaporkan sebuah peristiwa,” tutup Anggy.

Tahun Kelulusan: 04/03/2011
Fasilitas yang sangat lengkap membuat perkuliahan menjadi menyenangkan.
Joan Christina Pollatu
Head Division of Nursing Development & Clinical Operation di Siloam Hospital MRCCC Semanggi.

Memiliki Profesi Tidak Menyurutkan Keinginan untuk Berkuliah

 

Joan yang sebelum kuliah di Fakultas Ilmu Keperawatan UPH, berprofesi sebagai Perawat di Siloam Hospital Lippo Village di bagian Emergency, dan sudah bergabung sejak 3 Januari 2000. Tahun 2008 Joan diberikan kesempatan untuk melanjutkan kuliah di School Of Nursing UPH (yang kini namanya menjadi Faculty of Nursing UPH). Dengan beasiswa penuh dari Siloam Hospital Lippo Village. Kembali menjadi mahasiswa bukanlah hal yang mudah apalagi sambil bekerja, tetapi menjadi mahasiswa dan sekarang alumni UPH merupakan kebanggaan bagi Joan. Joan mengatakan bahwa dengan fasilitas yang sangat lengkap membuat perkuliahan menjadi menyenangkan walaupun dengan banyak tugas-tugas yang harus diselesaikan, tetapi fasilitas buku-buku di perpustakaan dan juga buku-buku online yang bisa di akses mahasiswa membuat semua tugas-tugas dapat di selesaikan dengan mudah.

Sebagai angkatan kedua dari School Of Nursing UPH (Faculty of Nursing UPH), saat itu banyak dosen-dosen yang mengajar berasal dari Australia dan Canada, sehingga mahasiswa termasuk Joan, di dorong untuk aktif berbahasa inggris, khususnya saat dosen-dosen tersebut mengajar. Ditambah metode pengajaran di FoN UPH mengkondisikan mahasiswanya harus aktif mencari tahu tentang pelajaran yang dipelajarinya. Meski harus bekerja sambil kuliah, Joan bersyukur tetap mendapat nilai yang baik.

“Tentunya berkat dukungan para dosen yang sangat membantu di setiap proses yang berlangsung,” kenangnya.

Berkat bekal akademik, aktivitas organisasi profesi dan pengalaman karirnya, kini Joan dipercayakan menjadi Head Division of Nursing Development & Clinical Operation di Siloam Hospital MRCCC Semanggi.

Joan juga berharap Faculty of Nursing UPH segera membuka perkuliahan untuk S2 Keperawatan.
“Jika kedepan program S2 dibuka, saya adalah salah satu orang yang akan mendaftar kembali menjadi mahasiswanya dan akan dengan bangga untuk kembali mengenakan Toga Wisuda UPH untuk ke tiga kalinya,” tuturnya.

Tahun Kelulusan: 12/06/2013
UPH bukan sekedar kampus, namun menjadi rumah buat kami.
Vito A. Damay

Menghapus Stigma Negatif UPH

 

Dr. Vito, seorang dokter muda dengan banyak talenta dan memiliki hati untuk menolong orang banyak melalui dunia kedokteran. Ia sangat antusias untuk berbagi pengalaman dan aktivitas yang dijalaninya saat ini, tak heran ia kerap diundang sebagai pembicara dan menjadi host program kesehatan di stasiun TV. Ia bercerita ketika mengajar dan menatap sekitar 200 mahasiswa-mahasiswi didepannya terasa beda sekali dengan tahun 2002 ketika dr Vito memulai kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan. Sekarang mahasiswa sudah menempati gedung sendiri yang satu kompleks dengan RS Siloam Lippo Village. Rumah sakit tersebut juga merupakan Teaching Hospital, tempat ia praktik sebagai spesialis jantung dan pembuluh darah setiap hari juga sekaligus mengajar dokter muda yang ikut dalam kegiatan di klinik sehari-hari. Saat ini UPH makin dikenal karena berkali-kali menjadi langganan tuan rumah acara Nasional dan Internasional, juga menjadi langganan pemenang lomba ilmiah kedokteran.

“Ketika kami masih kuliah dulu cukup menjadi tantangan menghapus stigma bahwa UPH adalah kumpulan anak-anak yang bayar kuliah mahal, dan tidak bisa kerja. Stigma tersebut menempel begitu saja karena melihat gedung UPH tanpa melihat fakta bahwa banyak dari kami yang bisa kuliah karena beasiswa. Tapi, usaha kami untuk bisa bergaul dengan universitas lain membuahkan hasil ketika kami dipercaya oleh mahasiswa-mahasiswi universitas se-Indonesia terpilih menjadi ketua pertemuan Nasional, perkumpulan Asian Medical Student Association dan dengan demikian UPH menjadi tuan rumah. Saat itu mahasiwa UPH menunjukkan bahwa kami bisa kerjasama dengan baik, mulai mencari sponsor sendiri, hingga menjadi organizer acara dan tentunya tuan rumah yang ramah dan menyenangkan bagi rekan-rekan tamu dari universitas lain.”

Sewaktu kuliah, pengalaman-pengalaman berorganisasi di UPH bagi dr Vito sangat membantu. Saat ini dr Vito dipercaya menjadi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2018-2021, presenter Ayo Hidup Sehat di salah satu program stasiun TV One, serta sudah menulis 3 buku diantaranya: Sebelum Anda Pergi ke Dokter Jantung, Tatalaksana Praktis Pasca Trombosis Vena Dalam di Yankes Primer, dan Aspek Praktis Gawat Darurat Kardiovaskular. Satu hal yang masih ada dan selalu tinggal di UPH yaitu rasa kekeluargaan yang erat. “Di UPH kami belajar untuk menerima mahasiswa baru sebagai adik-adik yang baru bergabung. UPH bukan sekedar kampus, namun menjadi rumah buat kami yang membesarkan calon-calon dokter, menjadikan dokter-dokter masa depan yang kompeten namun memiliki hati melayani” tutup dr Vito.

Tahun Kelulusan: 02/09/2013
UPH merupakan kampus yang bebas asap rokok, konsisten mengenalkan kristen dan Tuhan, serta maju secara teknologi serta inovasi.
Christian Febrianto
Founder of @indomusikgram

Mewadahi Musisi Indonesia lewat Social Media

 

Siapa yang tidak tahu dengan indomusikgram? Ya untuk generasi millennial yang aktif di social media Instagram pasti tidak asing dengan konten digital satu ini. Berawal dari creator akhirnya membawa Christian mendirikan @indomusikgram. Christian Febrianto atau yang biasa dikenal dengan panggilan Christian Bong ini merupakan alumni Seni Musik UPH. Lulus dari UPH pada tahun 2013, Christian mengawali kariernya dengan menjadi guru musik di sebuah tempat kursus.

Selama satu tahun mengajar, Christian menyadari dirinya perlu melakukan suatu hal yang lebih. Dia mulai membuat video-video cover di akun YouTube miliknya. Hingga akhirnya ia bergabung dengan komunitas pertama dan terbesar di Indonesia yaitu Indovidgram. Kemudian ia berinisiatif untuk membuat akun indomusikgram untuk mewadahi tren dari bidang musik. “Indomusikgram itu adalah komunitas video musik yang dimulai dari Instagram dan merupakan penghubung bagi orang-orang yang punya karya yang ingin menjadi lebih terkenal. Kami mewadahi musisi, content creator, dan fans,” ujarnya.

Christian mengenang semasa kuliah, UPH merupakan kampus yang bebas asap rokok, konsisten mengenalkan kristen dan Tuhan, serta maju secara teknologi serta inovasi. Christian berharap ke depan acara mahasiswa UPH sudah harus banyak diadakan di luar (tidak cuma di Lippo Group Malls) dan mahasiswa/i nya terutama Fakultas Ilmu Seni, Program Studi Seni Musik lebih banyak dapat lapangan kerja serta diberi kesempatan untuk mengadakan acara tahunan yang bergengsi seperti Jazz Goes to Campus-nya UI. It’s about time.

Tahun Kelulusan: 02/09/2013
Aurelia Trixi
Management Associate for Executive Education Program - Singapore Cambodia International Academy

Pemudi yang Gemar Mengikuti Gerakan Sosial

Perempuan muda yang aktif dalam berbagai gerakan sosial ini merupakan salah satu alumni UPH Surabaya jurusan Manajemen. Pengalamannya dalam berorganisasi baik di kampus maupun di luar kampus membuat Aurel lebih percaya diri. Beberapa kegiatan sosial yang pernah diikuti di antaranya Indonesian Civic Youth, Nusantara Worldwide Collaboration Project, Desain Kita untuk Perubahan (kolaborasi dengan DISKOMINFO Bandung) dan Aurel juga pernah masuk dalam Top 100 in Soeprema “Inspiring Sociopreneur” Competition yang diadakan di Yogyakarta. Tahun 2016, Aurel dinobatkan menjadi 1st winner dari Ambassador of UPH Surabaya.

Tahun Kelulusan:
Kampuslah menjadi titik awal mempersiapkan diri menjadi calon pemimpin.
Andika Hazrumy
Wakil Gubernur Banten 2017-2022

Pemuda untuk Pembangunan Negara

 

Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya pasti tidak asing dengan pria satu ini. Ya dia adalah Andika Hazrumy Wakil Gubernur Banten periode 2017-2022. Andika merupakan lulusan UPH angkatan 2005, Program Studi Hubungan Internasional. Selama periode masa jabatan sebagai Wakil Gubernur, Andika menerima penghargaan Adhitya Karya Mahatva Yodha 2017 untuk kategori Kader Utama Terbaik. Ia juga sering diundang untuk menjadi pembicara seminar di berbagai Universitas di Tangerang.

Dalam kuliah umum di kampus Untirta Tangerang, Andika aktif mengajak anak muda untuk ikut serta dalam pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. “Prosesi kepemimpinan ini harus betul-betul dipersiapkan dengan matang. Kampuslah menjadi titik awal mempersiapkan diri menjadi calon pemimpin,” tutup Andika.

Tahun Kelulusan: 12/09/2011
DI UPH saya mengalami pertumbuhan iman
Roby Johanes
Konsultan Ilmiah Independen Roslindale, Massachusetts

Berawal dari Ketertarikan, Berakhir menjadi Sebuah Karir

 

“Hal berharga yang saya dapatkan selama kuliah di UPH adalah nilai yang ditanamkan UPH terhadap saya sehingga iman saya bertumbuh. Dari situ saya berpikir bahwa dalam hidup kita harus selalu berpegang kepada Tuhan baik disaat senang maupun dalam menghadapi kesulitan. Selain itu, bahasa pemrograman dasar yang saya pelajari di UPH juga turut membantu karir saya saat ini,” ungkap Robby Johanes, alumni Program Studi Sistem Informasi, 1995, Universitas Pelita Harapan (UPH).

Saat ditemui di Kampus UPH Lippo Village, pada 16 Agustus 2019, saat ini Robby, biasa di dipanggil, tengah mendalami karirnya sebagai Geneticist. Rasa ketertarikannya terhadap analisa genetika ini berangkat dari rasa keingintahuannya dan penelitian yang dilakukan oleh para dosennya tentang analisa genetika. Robby yang pernah melakukan kerja praktik di NASA pada saat menjalani studi S2-nya ini juga menyampaikan, “Dulu para dosen saya sering melakukan penelitian terhadap genetika, tetapi kecenderungan mereka memperlakukan genetika tersebut hanya sebagai angka saja, konteksnya kurang. Maka dari itu, saya tertarik untuk langsung belajar otodidak.” Geneticist sendiri merupakan seorang ahli yang menganalisis gen, termasuk cara mereka diwarisi, bermutasi, diaktifkan, atau tidak aktif. Mereka sering mempelajari peran gen dalam penyakit dan kesehatan (definisi diambil dari https://www.environmentalscience.org/career/geneticist).

“Saya sendiri lebih mengarah kepada analisa gen secara numerik atau biasa disebut sebagai quantitative geneticist. Jadi, prosesnya adalah ketika mendapat permasalahan, langsung saya formulasikan masalah tersebut dengan rumus-rumus matematika atau statistika. Kemudian, saya akan pecahkan dengan pemograman di komputer, yaitu high performance computing. Nah, dari situ akan diterjermahkan makna dibalik angkanya dan bisa langsung didesain sesuai dengan gennya agar dapat memulihkan penyakit,” jelas Robby. Robby juga menambahkan dalam analisa genetika melalui berbagai macam proses. Dimulai dengan menyesuaikan antar gen, lalu ke tahapan percobaan terhadap tikus dan eksperimen terhadap sel, kemudian masuk ke dalam proses clinical research yang diawali dengan memastikan keamanan dari desain gen, menentukan dosis, dan efektivitas. Melalui karirnya saat ini, Robby berharap agar dia dapat mendesain obat baru bagi masyarakat, khususnya bagi orang-orang yang defisiensi terhadap gen (kelainan secara genetika).

Tahun Kelulusan: 28/10/1999
Bertumbuh artinya siap diproses.
Beta Mualiman Laoli
Guru dan Kepala Sekolah SLH Daboto, Papua

Menikmati Proses adalah Kunci Bertumbuh

 

Menurut Beta Mualiman Laoli yang merupakan alumni Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkatan 2009, UPH adalah tempat di mana seseorang bisa bertumbuh dengan baik. Menurut Beta, jika seseorang mau bertumbuh maka ia bisa menikmati setiap proses sulit yang ada di dalamnya. Dan jika seseorang tidak mau bertumbuh, maka ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi.

Yang pertama, mereka akan sangat menderita dalam setiap proses yang dialaminya, tetapi akhirnya bisa semakin mengenal Kristus. Yang kedua, akan sangat frustrasi karena tidak mau bertumbuh dan pada akhirnya tidak berdampak positif bagi diri sendiri. Yang ketiga, menjadi manusia yang tidak lagi peduli karena tidak mau bertumbuh dan tidak mau memperdulikan nilai-nilai yang ditawarkan setiap hari. Beta sangat merasa bersyukur bisa menjadi salah satu alumni di UPH yang sudah belajar bertumbuh untuk mengenal Tuhan Yesus lebih dalam lagi.

Walaupun Beta sudah lulus dari UPH, Beta tetap merasa rindu dengan UPH karena UPH merupakan salah satu kampus yang memiliki fasilitas yang lengkap. Bukan hanya fasilitas saja, Beta juga merasa bahwa banyak dosen-dosen dan staff yang membantu Beta untuk bertumbuh dan mengenal Yesus Kristus lebih dalam lagi. Beta adalah guru pertama di Mamit sekolah pertama interior Papua untuk SLH. Namun saat ini, Beta dipercayakan melayani di SDH Daboto sebagai guru dan kepala sekolah disana. Selain mengajar, Beta juga mendapat beasiswa untuk bisa studi lanjut di Covenant College, USA, dengan mengambil bidang kurikulum. “Terima kasih Yesus Kristus dan Terima kasih UPH,” ucapnya.

Tahun Kelulusan: 13/03/2014
Elizabeth & Maria Rahajeng
TV host di E! News Asia, Writer, Model

Si Kembar yang Menginspirasi

 

Suatu kebanggaan tersendiri bagi si kembar yang merupakan lulusan UPH Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2009 ketika mereka menjadi orang Indonesia pertama sebagai TV Host di E! News Asia. Sejak muda Elizabeth dan Maria mengaku memiliki passion yang sama dibidang fashion dan passionnyaini mendorongnya untuk terus mengembangkan diri. Bahkan kini mereka berdua menjadi salah satu influencer terkenal di media social. Tidak hanya dalam bidang fashion namun juga travel dan lifestyle.

Elizabeth berkisah bahwa ia pernah menjadi head stylist di Surabaya Fashion Parade 2015 dan Jakarta Fashion Week 2016. Maria kembarannya juga tak kalah aktif. Sewaktu kuliah dia aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti mengikuti kontes Miss UPH Scholar 2011, Program Student Exchange, dan menjadi delegasi Indonesia untuk APEC Voices of The Futurepada tahun 2013 di Bali. Tekadnya mengharumkan nama Indonesia ke ajang dunia menjadi kenyataan setelah terpilih sebagai pemenang Miss Indonesia 2014 dan mewakili Indonesia dalam ajang Miss World. Perjuangan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Maria masuk dalam Top 25 & Winner Beauty with a Purpose (BWP) di Miss World 2014. Elizabet dan Maria sepakat bahwa kuliah dan aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di UPH memberikan mereka pelajaran dan pengalaman luar biasa.

Jika ditanya satu persatu, Elizabeth mengungkapkan studi di UPH sangat mempersiapkan saya terjun di industri media, ia juga dilatih untuk menjadi pribadi yang tekun dan disiplin. Kembarannya, Maria juga mengungkapkan kuliah di UPH memberikan pelajaran dan pengalaman luar biasa. Saya bisa mengembangkan diri dan lebih percaya diri. Dosen di UPH tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga dekat dengan mahasiswa dan sangat membantu mahasiswa.

Saat ini Elizabeth bersama Maria, telah menulis sebuah buku yang berjudul Becoming Unstoppable. Buku inspirasi bahwa segala sesuatu membutuhkan perjalanan dan pejuangan, tidak ada yang instan. Riwayat pernah mengalami bullying dan depresi sewaktu kecil tidak buat mereka menyerah pada keadaan. Mereka berharap buku ini dapat menginspirasi banyak orang agar terus berusaha dan menjadi unstoppable. Diakhir kesempatan interview Maria berpesan untuk teman-teman UPH, supaya terus semangat, berusaha keras dan percaya pada Tuhan, jangan mengandalkan diri sendiri. Berserah pada Tuhan dan Dia akan membimbing kamu.

Tahun Kelulusan: 10/09/2013
Perjalanan karier saya tidak terlepas dari pembekalan yang diperoleh di Fakultas Hukum UPH.
Edy Wibowo
Asisten Koordinator Kamar Pembinaan Mahkamah Agung

Berkomitmen Membangun Peradaban Manusia Melalui Hukum Indonesia

Edy Wibowo adalah alumni S1 UPH Program Ilmu Hukum. Saat ini ia menjabat di Mahkamah Agung (MA) sebagai Asisten Koordinator Kamar Pembinaan MA. Namun sebelum itu, ia juga pernah menjadi Hakim Pengadilan Negeri di Tasikmalaya. Kemudian tahun 2015 dialih tugas menjadi Asisten Hakim Agung Mahkamah Agung RI. Ditengah kesibukannya, Edy juga tetap berkontribusi dibeberapa bidang hukum lainnya, diantaranya sebagai pembicara utama di berbagai seminar hukum tingkat nasional, memberikan pelatihan sertifikasi mediator, sebagai tim monitoring dan evaluasi mediasi di pengadilan Agama Bogor kelas 1A, dan sebagai pemateri perancangan kesepakatan AZ Law & Conflict Resolution Center.

Dalam proses pencapaian karirnya, Edy juga selalu bangga menjadi lulusan angkatan pertama FH UPH. “Perjalanan karier saya tidak terlepas dari pembekalan yang diperoleh di Fakultas Hukum UPH,” ungkapnya. “Dalam pandangan saya, hukum harus mampu membangun peradaban manusia. Artinya kalo kita melihat dari teori hukum yang ada maka hukum harus menjadi sarana pembangunan masyarakat untuk lebih baik, terutama dalam hal kesejahteraan masyarakat,” ungkap Eddy.

Berangkat dari pandangan tersebut, Edy berkomitmen mendukung reformasi hukum dalam peradilan di Indonesia. MA sebagai lembaga hukum memiliki proses reformasi terdepan. Dalam prosesnya ini, MA sudah banyak melakukan beragam hal untuk membenahi diri dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Edy berpesan khususnya kepada para mahasiswa yang mengambil Program Studi Ilmu Hukum, bagaimana dan apa pun profesi kita, ketika dijalani sesuai dengan etika maka akan membawa pemanfaatan yang besar bagi masyarakat. Ini penting karena, manusia dalam hidupnya harus bermanfaat bagi orang lain. Hakim mempunyai kewenangan yang luar biasa, kewenangan mencabut nyawa seseorang, mengambil uang orang, mengambil milik orang. Sehingga kewenangan yang luas ini harus dijaga dengan kode etik. Ini penting untuk dipahami para mahasiswa FH UPH sebagai calon pendekar hukum kelak, ungkap Edy.

Tahun Kelulusan: 14/06/2000
Dalam dunia desain, kita perlu mendengarkan customer. Sama halnya dengan berbisnis, membangun networking yang baik adalah hal yang penting
Willy Kartawidjaja
Director of PT Pracom Mitrajaya

Mahasiswa UPH adalah Seorang Pemimpin, Bukan Follower

Keterampilannya dalam berinteraksi dengan customer membuat Willy Kartawidjaja sangat menikmati pekerjaannya sebagai seorang Sales & Marketing Director di PT. Pracom Mitrajaya. Siapa yang sangka kemampuannya dalam membangun relasi yang baik dengan customer ini diperolehnya pada saat berkuliah di Desain Komunikasi Visual, UPH.

Alumni DKV UPH, angkatan 1999 ini mengaku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat dalam dunia kerja. Ia menceritakan pengalamannya pada saat UPH Alumni Golf Event yang diadakan pada 7 November 2014, di Imperial Klub Golf.

Saat memutuskan akan berkuliah dimana, Willy mendapatkan referensi dari temannya yang sudah berkuliah di DKV UPH. Saya mendapatkan rekomendasi dari teman saya yang berkuliah di DKV UPH. Pada zaman saya, Kajur DKV UPH adalah Pak Yongki Safanayong. Beliau sudah tidak asing lagi lah di dunia desain, bisa dibilang sesepuh ya. Jadi menurut saya, waktu itu universitas dengan jurusan desain tebaik itu di UPH. Akhirnya saya bergabung dengan DKV UPH di semester genap, ujar Willy.

Selama berkuliah di DKV UPH, Willy belajar mengenai pentingnya membangun hubungan yang baik dengan customer. Dalam dunia desain, kita perlu mendengarkan customer. Sama halnya dengan berbisnis, membangun networking yang baik dengan customer adalah hal yang penting. Ini yang saya terapkan dalam dunia kerja, jelas Willy.

Ia juga mengaku bahwa di UPH mahasiswa dibentuk untuk menjadi seorang pemimpin, UPH memberikan pembekalan yang berbeda dengan universitas lain. Terutama di DKV UPH, dimana mahasiswa UPH dituntut menjadi seorang pemimpin, bukan menjadi follower. Disamping menguasai skill desain, kita juga dituntut untuk bisa me-manage orang dan menjadi creator. Selain itu, mahasiswa UPH yang terdiri dari berbagai macam budaya membuat selera desain mahasiswa DKV UPH sangat variatif.

Hasil belajar menjadi seorang pemimpin dan membangun networking dengan customer inilah yang Willy terapkan dalam menjalani profesinya sebagai Sales & Marketing Director. Meski profesi yang digeluti Willy sekarang ini bergerak di bidang marketing, Willy dan istri masih merangkap menjadi freelance designer karena kecintaannya terhadap dunia desain.

Sebagai alumni, Willy memberikan pesannya kepada mahasiswa yang masih bekuliah, Saat sudah kerja kita akan sadar betapa pentingnya ilmu yang didapatkan di perkuliahan. Kita tidak harus menjadi yang terhebat dan terpintar, tapi belajar menjalin hubungan yang baik dengan orang itu jauh lebih penting dalam menjalani dunia kerja nanti.

Tahun Kelulusan: 17/06/2003
Karena lulus bukan sekedar mendapat title, tetapi harus mengenal baik dunia pekerjaan yang akan dimasuki
Renaldi Anggara Widjanarko
Audit Manager at Ernst & Young

Belajar Logical Thinking dan Rendah Hati dari Dosen

Logical thinking sangat diperlukan dalam kehidupan dan pengambilan keputusan. Dengan memiliki keterampilan tersebut dapat meningkatkan kemampuan individu dalam berpikir logis dan sistematis. Bagi seorang profesional keterampilan ini sangat membantu untuk mengorganisir informasi dan mengolahnya secara sistematis dalam menghasilkan berbagai terobosan kreatif. Itulah yang dialami profesional muda Renaldi Widjanarko, alumni Business School UPH jurusan Akuntansi angkatan 2000, yang sekarang menjabat sebagai Assistant Manager Assurance di Ernst & Young.

Untuk memenangkan persaingan di dunia kerja tidak hanya diperlukan yang pintar tapi yang paling penting adalah the way of thinking nya dalam melihat suatu persoalan, kata Renaldi menceritakan pengalamannya ketika pertama kali mengikuti interview di Ernst & Young tahun 2006. Saya tidak takut bersaing dengan alumni dari universitas lain, sekalipun itu universitas terkenal. Karena saya memiliki pengetahuan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang saya lamar dan yang membuat saya lebih percaya diri adalah logical thinking skill yang saya dapatkan dari dosen, tegasnya. Menurutnya logical thinking tidak ada dalam kurikulum di bangku kuliah. Tetapi keterampilan itu justru didapatkan dari para dosen ketika mengajar di kelas. Cara mereka mengajar dan menyampaikan materi, membentuk pola berfikir saya. Bagi saya dosen yang baik bukan di lihat dari apakah kita mendapatkan nilai tertinggi pada matakuliah yang diberikan. Tetapi dari cara dosen tersebut mengajar dan menyampaikan materi, cara berpikir, dan sikap mereka. Saya juga diajarkan supaya rendah hati, mau belajar dari berbagai sumber dan melakukan research. Itulah yang masih saya ingat dan pakai sampai sekarang, katanya.

UPH tidak hanya memiliki fasilitas dan lingkungan belajar yang lengkap dan nyaman, tetapi didukung dosen-dosen yang berkualitas. Sampai saat ini saya masih aktif berkomunikasi dengan mantan dosen-dosen saya, biasanya untuk update trend terbaru atau info-info terkait dengan bidang accounting. Untuk adik-adik kelas saya juga memberikan kesempatan untuk mereka yang berminat masuk ke bidang assurance dan memberikan gambaran tentang dunia auditor. Karena lulus bukan sekedar mendapat title, tetapi harus mengenal baik dunia pekerjaan yang akan dimasuki, katanya.

Terbukti Renaldi berhasil menyisihkan pelamar lainnya dan dipercaya mengerjakan multi project sejak awal kariernya sebagai auditor. Tidak jarang saya harus mengorbankan waktu pribadi untuk mempelajari pola menyelesaikan project supaya efisien. Buat saya ini investasi, papar Auditor yang dipercaya untuk menangani beberapa client oil and gas company besar seperti CNOOC, Beyond Petroleum (BP), Conoco Phillips, Inpex, PERTAMINA E&P, dan beberapa perusahaan lainnya.(rh)

Tahun Kelulusan: 16/06/2005
Salah satu alasan saya saat memilih UPH adalah library-nya yang lengkap dan modern, dan kini semakin modern.
Wahyu A. Wiwoho
Produser dan Pembawa Berita Senior Metro TV

Menjadi Jurnalis Sukses yang Sesuai Passion

“UPH adalah pintu gerbang saya untuk masuk ke dunia kehidupan yang sebenarnya. Saya diberikan bekal lebih dari cukup oleh para dosen dan seluruh staf pengajar, serta lingkungan yang sangat mendukung. Salah satu alasan saya saat memilih UPH adalah library-nya yang lengkap dan modern, dan kini semakin modern. Bagi saya, keberadaan library yang baik merepresentasikan kualitas suatu institusi pendidikan.”

Universitas Pelita Harapan patut berbangga dengan salah satu alumninya yang merupakan Produser dan Senior News Anchor Media Televisi Indonesia yaitu Metro TV. Wahyu Wiwoho begitu sapaan, merupakan lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi angkatan 2000. Sewaktu kuliah, Wahyu mengambil konsentrasi Public Relations yang kemudian relevan dan mendukung karirnya saat ini. Selain sebagai Produser dan News Anchor, Wahyu juga aktif di TalkInc sebagai fasilitator untuk mengisi training dan workshop public speaking di berbagai korporasi. Serta menjadi pembicara seminar di berbagai event yang berhubungan dengan Public Speaking, beberapa diantaranya dalam event Sosial Media Communication 2018 dan Persuasive Communication 2019.

Secara pribadi Wahyu mengakui bahwa UPH telah berhasil membentuk karakter dan nilai tambah melalui satu key message, yaitu “Responsibility Begins with Me”, yang mutlak harus dimiliki setiap lulusan untuk diaplikasikan ke dalam dunia industri maupun pribadi. Wahyu juga berpesan agar UPH terus sukses mencetak lulusan-lulusan terbaik, jadilah yang terdepan dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia dan cetak terus generasi yang mampu membangun dan mempererat bangsa.

Tahun Kelulusan: 29/03/2006
Untuk dapat berhasil kita perlu effort tersendiri, apalagi sebagai jurnalis. Tapi kalau memang memiliki passion pasti bisa melalui semua tantangan tersebut
Andini Effendi
Presenter berita dan jurnalis

Pentingnya Membuka Cakrawala Pikiran Seluas-luasnya

UPH mengalami banyak sekali perubahan ya, sekarang jauh lebih modern dari segi infrastrukturnya, benar-benar merepresentasikan universitas yang bonafide. Nilai yang saya pegang selama saya berkuliah di UPH adalah pentingnya menjalin networking. Di UPH kita tidak hanya belajar di kelas tetapi juga ke dunia luar. Kita bisa tahu bagaimana menjalin networking untuk karir kita kedepan. Setelah kita bekerja nanti, kita akan sadar betapa pentingnya networking dan UPH mengajarkan serta memberi saya modal itu. Gunakanlah UPH sebagai pintu masuk untuk membuka dunia pengalaman dan cakrawala kita seluas-luasnya. UPH merupakan sarana dan modal utama untuk mempersiapkan kita terjun ke dunia nyata nanti. Kita sebagai alumni diharapkan bisa lebih kuat ikatannya karena melalui alumni inilah orang bisa melihat kesuksesan UPH.

Pengakuan itulah yang disampaikan Andini Effendi, presenter acara Lawan Bicara Metro TV ketika berkunjung ke kampus UPH pada 19 Maret 2014. Keinginan untuk menjadi presenter TV sudah ada sejak lulus SMA. Pilihan untuk melanjutkan studi di jurusan jurnalistik menjadi tujuannya dalam menunjang cita-citanya terjun ke dunia TV. Saya memilih Ilmu Komunikasi UPH karena menawarkan jurusan jurnalistik broadcasting yang benar-benar sesuai dengan karier path saya. Pada saat itu, tahun 2000, belum ada universitas yang benar-benar bagus dibidang jurnalistik dan UPH lah yang menjadi modal saya terjun ke dunia jurnalistik serta membantu saya untuk fokus kepada karir saya sekarang ini. tegasnya.

Kebanggaannya pada kampus almamaternya juga diungkapkan saat melihat kampus yang terus berkembang. UPH kini jauh lebih modern dan semakin berkembang. UPH mengalami banyak sekali perubahan ya, sekarang jauh lebih modern dan infrastrukturnya jauh lebih baik. Benar-benar merepresentasikan universitas yang bonafide.

Selama belajar di UPH, Andiny mendapatkan banyak hal yang sangat membantu mempersiapkan karirnya di dunia jurnalistik. Bukan hanya melalui Ilmu yang diajarkan di kelas, tetapi juga melalui networking yang diperolehnya di luar kelas. Nilai yang saya pegang selama saya berkuliah di UPH adalah pentingnya menjalin networking. Di UPH kita tidak hanya belajar di kelas tetapi juga ke dunia luar. Kita bisa tahu bagaimana menjalin networking untuk karir kita kedepan. Setelah kita bekerja nanti, kita akan sadar betapa pentingnya networking dan UPH mengajarkan serta memberi saya modal itu, ujar Andiny.

Dalam menjalani karirnya sebagai jurnalis tentu banyak sekali tantangan yang dialaminya, banyak senior membuatnya sebagai jurnalis muda harus bisa unjuk gigi kelebihan apa yang dimiliki dan dituntut untuk mengetahui tentang segala hal yang terjadi di negeri ini dengan terjun ke lapangan langsung.

Menurut saya, untuk dapat berhasil kita perlu effort tersendiri, apa lagi sebagai jurnalis. Tetapi seiring waktu dan karena passion saya memang di bidang jurnalistik jadi saya dapat melalui tantangan tersebut Semakin lama kita menjalani karir kita tentu ekspektasi akan semakin besar dan itu menuntut usaha yang lebih besar juga.

Karenanya selagi menjalani studi Andiny mengingatkan kepada rekan-rekan mahasiswa agar menggunakan kesempatan yang ada untuk belajar banyak guna melengkapi kapasitas kita. Gunakanlah UPH sebagai pintu masuk untuk membuka dunia pengalaman dan cakrawala kita seluas-luasnya. UPH merupakan sarana dan modal utama untuk mempersiapkan kita terjun ke dunia nyata nanti. Saya bangga menjadi bagian dari UPH. Kita sebagai alumni diharapkan bisa lebih kuat ikatannya karena melalui alumni inilah orang bisa melihat kesuksesan UPH. (ca)

Tahun Kelulusan: 16/06/2004
UPH membuat saya nyaman belajar. Apalagi dari kecil saya hobi masak, jadi talenta saya bisa dikembangkan di sini. Selanjutnya tinggal mengasah talenta itu menjadi kunci sukses
Mellisa Sugianto
Founder Nanny's Pavillon

Mengembangkan Talenta dengan Membuka Restoran

Pernah dengar nama resto Nanny’s Pavillon? Resto ala western dengan menu utama pancake ini hadir dengan konsep yang unik di setiap gerainya. Sesuai namanya, resto ini menawarkan suasana kehangatan rumah. Siapa sangka kalau founder dan ownernya adalah ibu muda, 32 tahun, lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Pelita Harapan. Kisah suksesnya tentu menarik untuk dibagikan kepada para alumni. Berikut bincang-bincang Alumni Relations UPH dengan Mellisa Saputra Winata, Menejemen Perhotelan 2001 STPPH. Berawal dari hobi masak yang diturunkan ibunya, Mellisa memilih masuk sekolah kejuruan tata boga. Sang ibu juga yang mencarikan sekolah lanjutan yang tepat untuknya, Sekolah Kejuruan Tata Boga Santa Maria. Di sekolah inilah keterampilan memasaknya mulai diasah. Lulus dari SMK ia memilih untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang spesifik di bidang kuliner. Awalnya saya tidak tahu STPPH. Saya mencari sekolah yang benar-benar fokus ke bidang yang saya suka. Waktu mama saya mengusulkan STPPH, saya coba mendaftar. Saya diterima dan diinterview dengan Pak Dewanta dosen pastry. Ternyata dosen yang mewawancara, langsung menawarkan untuk menjadi asistennya di kelas praktek. Kesempatan ini saya terima, karena praktek pastry sudah saya kuasai sejak di SMK, kisahnya. Melihat kemampuannya di bidang pastry, membuat dosen di STPPH mengajukannya untuk ikut ke ajang kompetisi. Pak Dewanta dan Mam Ames dua dosen yang disebutnya aktif mendorong ia mengikuti berbagai kompetisi kuliner. ASEAN Skill Competition 2002 merupakan kompetisi tingkat ASEAN yang pertama kali diikutinya dan tanpa disangka ia bisa masuk 3 besar. Sayangnya yang ikut ke tingkat internasional hanya 1 dan 2 besar. Tapi ini pengalaman pertama yang membuat saya lebih pede ikut ke kompetisi berikutnya seperti Lomba Masak Cipta dan Kreasi Bogasari, Black Box Culinary Challenge dan lomba dekorasi kue, semuanya berhasil juara 1, kenangnya.

Sejak itu ia makin serius belajar di STPPH. Meskipun ada beberapa mata kuliah yang menurutnya kurang relevan dan tidak disukainya saat kuliah, tetapi ternyata ia akui ilmu tersebut terpakai juga di bisnisnya. Lulus dari STPPH ia ditanya dosen mengenai rencananya ke depan. Waktu itu ia sudah punya rencana untuk terjun ke dunia bisnis restoran sendiri yang bisa di-franchise. Meski demikian, sebelum terjun ke bisnis resto, beberapa pekerjaan pernah ia jalani mulai dari menjadi food stylist untuk majalah terbitan Gramedia hingga mengajar pastry privat untuk teman, dan bekerjasama dengan murid privatnya mendirikan bisnis kuliner. Resto Pancious di bilangan Permata Hijau menjadi bisnis kuliner pertama Mellisa. Tidak disangka respon customer sangat bagus. Bahkan ia sempat kebingungan karena pesanan mengalir terus sementara juru masak yang kurang. Area yang aku tangani dalam bisnis resto ini mulai dari konsep resto, development menu, resep, hingga training tukang masak. Dari yang tidak bisa masak sampai bisa.Pancious waktu pertama dibuka sempet bikin saya stress karena order datang terus, sementara yang masak kurang, katanya.

Karakter mudah bosan dan selalu ingin mencoba yang baru membuatnya berani memutuskan untuk menjual sahamnya di Pancious dan beralih membangun bisnis resto yang lain. Bisnis resto berikutnya pun sempat gagal. Sampai suatu ketika Mellisa diperkenalkan oleh ibunya dengan mitra yang mau menginvestasikan ruang usaha untuk dipakainya. Kesempat itu diambil untuk mewujudkan impian membuka resto dengan konsepnya sendiri. Muncullah ide resto dengan konsep keluarga bernama Nanny’s Pavillon di kota Bandung. Restoran yang dibuka tahun 2010 ini memang masih sepi pada saat tiga bulan pertama namun tanpa disangka selanjutnya respon customer luar biasa. Yang membuat orang suka berkunjung ke Nanny’s Pavillon tidak lain karena konsepnya yang unik. Satu lagi tips yang didapat dari kesuksesannya mengusung konsep Nanny’s Pavillon adalah cermat melihat pasar. Dari pengamatan Mellisa, orang Indonesia masih berorientasi pada brand luar. Ini terbukti ketika orang melihat restonya, orang pikir ini franchise dari luar. Bahkan mereka kira ownernya lulusan dari Amerika. Padahal ini semua merupakan produk lokal. Bisnis restoran buat saya harus punya konsep. Makanya waktu diberikan tempat yang berlokasi di Bandung, saya puter otak mau dibikin apa ruang sekecil ini. Sampai akhirnya saya dapatkan konsep homey. Saya mengambil nama nanny=pelayan dan pavillon= rumah sederhana, kata Mellisa saat ditemui di resto Nanny’s Pavillon (NP) cabang Plaza Indonesia. Hingga sekarang NP sudah memiliki 14 gerai dan masing- masing hadir dengan konsep yang berbeda. Konsep yang diusung di gerai Plaza Indonesia ini adalah Kimberly Room yang menghadirkan desain interior ala kamar seorang remaja putri lengkap dengan pernak-perniknya. Konsep ini berbeda lagi pada gerai NP yang berlokasi di Gandaria City, Pacific Place dan 11 gerai lainnya di Jakarta, Bandung dan Bali. Bahkan dalam waktu dekat, NP akan buka di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Dalam membangun bisnisnya, Mellisa berprinsip untuk mengerjakan apa yang ia suka. Karna passionnya di bidang kuliner maka memikirkan dan mengerjakan bisnis kuliner tidak pernah membuatnya bosan dan lelah. Iapun mengaku bisa berfikir lama untuk sebuah ide dan ia asik dengan dunianya.

Dalam berbisnis, uang bukan segala-galanya. Kita harus punya ide (kreatif red). Sekolah juga bukan segala-galanya. Lewat ilmu yang dipejari kita asah talent kita. Jadi yang terpenting harus punya ide dan talenta dalam diri. Setiap orang punya emas di dalam dirinya, dan itu harus terus di asah. Selanjutnya kerjakan apa yang anda suka.

Pendidikan itu harus fokus. Kalau tujuannya mau bisnis kuliner, ya dalami ilmu yang diperlukan untuk bidang kuliner. Selanjutnya pelajari juga how to running business dan maintain the business. Belajar tidak melulu di sekolah. Saya banyak mendapat ilmu dari pengalaman. Sejak terjun ke dunia bisnis saya banyak bergaul dan belajar dari orang yang lebih senior, para pengusaha yang secara usia jauh lebih tua dan sudah lebih dulu sukses, kata Mellisa. Prinsipnya pergaulan yang baik dapat meningkatkan kapasitas kita. Kalau kita tidak pernah keluar dan ketemu dengan orang sukses lain kita tidak akan bisa berkembang. Banyak pelajaran yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Sementara di dunia bisnis kita akan menemui situasi yang menantang untuk selalu kreatif dan antisipatif. Kreativitas yang dimiliki Mellisa tidak terlepas dari karakter haus akan pengetahuan. Menurutnya setiap orang harus haus akan pengetahuan. Seperti dirinya yang selalu merasa bosan. Selalu memikirkan dan mencari hal-hal yang baru. Karenanya bahaya kalau kita ada dititik nyaman dan berhenti disitu. Sukses bagi saya tidak ada ujungnya. Seperti ambisi, selalu mau lebih tinggi lagi. Kalau ditanya apakah saya sudah sukses, ya masih belum. Sukses saya kalau saya bisa memiliki bisnis franchise, tegas Mellisa. (rh)

Tahun Kelulusan: 16/06/2004
UPH memiliki kurikulum, pendidikan, lingkungan dan fasilitas yang sangat mendukung proses pembelajaran.
Riny Sari Bachtiar
Koordinator Dokter Terbang - doctorSHARE (inland of Papua)

Melayani Kesehatan di Pedalaman Papua

Menjadi alumni lulusan kedokteran UPH menjadi kebanggaan tersendiri bagi perempuan yang biasa di sapa Riny ini. Ia mengungkapkan bahwa UPH memiliki kurikulum, pendidikan, lingkungan dan fasilitas yang sangat mendukung proses pembelajaran selama ia berkuliah di UPH. Riny melanjutkan pendidikan S2 KARS di Universitas Indonesia, dan menjalani pekerjaan sebagai tenaga medis di berbagai institusi. Salah satunya, pada tahun 2014, bergabung dalam Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE) sebagai koordinator dokter terbang (flying doctor) di pedalaman Papua. Sebelum bergabung dalam doctorSHARE, pada tahun 2009 Riny pernah menjadi dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Kecamatan Kaureh, Jayapura, Papua. Kemudian Riny juga pernah membuka klinik, tutor di FK UPH dan menjadi kepala divisi kesehatan di PT SUREYohanes Surya Group.

Tahun Kelulusan: 01/08/2005
Nilai yang saya pegang sejak saya kuliah dan melekat hingga saat ini adalah compassion.
Edwin Handoyo lauw
Healthy Chef, Writer, TV Host, Model

Compassion Menjadi Nilai dari UPH yang Melekat Dalam Diri Edwin Lau

 

Pelopor healthy chef sukses Indonesia yang lebih dikenal dengan nama Edwin Lau, merupakan alumni UPH Fakultas Pariwisata dengan Program Studi Perhotelan angkatan 2000. Dimulai saat ia menjadi Chef di restoran-restoran terkenal di Jakarta, Ia kemudian berkembang menjadi penulis buku menu sehat (Healthy Express: Super Sehat dalam 2 Minggu. 2011), TV host program kesehatan (stasiun televisi TV One, Metro TV, dan Astro TV), model hingga menjadi konsultan kesehatan dan inspirator di Indonesia. Pola makan sehat yang dipromosikan di antaranya makanan dikukus atau dipanggang, tidak pakai garam, minyak, gula, dan bumbu.

Berbekal pengetahuan di bidang Manjemen Perhotelan, Edwin mengaku pengalaman kuliah di STPPH sangat berguna dalam mempersiapkan dia mengembangkan profesinya. Meskipun saat berkuliah dulu fasilitas STPPH belum seluar biasa seperti sekarang ini, namun Edwin mengaku bangga menjadi alumni STPPH. Baginya kebanggaan pada almamaternya bukan hanya karena fasilitas yang dimiliki, tetapi karena UPH memiliki nilai-nilai yang kuat dan dia pegang hingga saat ini.

“Nilai yang saya pegang sejak saya kuliah dan melekat hingga saat ini adalah compassion. Terutama yang saya rasakan dari para dosen di STPPH. Mereka bukan hanya sebatas menjadi inspirator dan pengajar, tapi juga memiliki belas kasih kepada murid-muridnya dan membangun hubungan person to person. Meskipun para dosen memiliki kemampuan dan pengalaman kaliber tinggi, tapi mereka sangat berdedikasi,” ungkap Edwin.

Tahun Kelulusan: 15/08/2003
Jacqueline Karina (Teknologi Pangan 2003)
Pendiri Kokumi

Spread Positivity through Kokumi

 

Jacqueline Karina, alumni Teknologi Pangan UPH 2003, memutuskan meninggalkan karier professional yang telah Ia jalani selama kurang lebih 10 tahun demi Kokumi. Symrise AG dan Firmenich adalah perusahaan multinasional yang pernah ia sambangi sebelum akhirnya memutuskan untuk membangun usahanya sendiri. Awal mulanya, pada tahun 2018, Kokumi bukanlah jualan produk namun lebih ke sebuah konsep yakni happiness concept. Karena itu, perlu untuk set vision dan goal yang arahnya satu yaitu menyebarkan happiness, dan bukan hanya sebagai money machines. “Melalui Kokumi saya ingin spread positivity diantara generasi X and millennials melalui pesan atau quotes positif berbeda-beda yang bisa ditemui di setiap gerai Kokumi dan juga kemasan Kokumi,” jelas Jacqueline saat ditemui disalah satu gerainya, di Lippo Mall Puri.

Hingga saat ini Kokumi yang Ia bangun sudah mempunyai 33 gerai dan terus berkembang. Di tahun 2020, Jacqueline menargetkan untuk terus membuka gerai Kokumi dengan target untuk membuka hingga gerai ke-48 di seluruh Indonesia. Menurut Jacqueline, tantangan yang dihadapi adalah seberapa besar uang yang mau dikeluarkan untuk bisnis yang belum tentu jalan dan ada resiko bangkrut. Kedepannya melalui Kokumi, Jacqueline dengan fokus menyebarkan positivitas dan pesan kebahagian akan terus mengembangkan merchandise juga konten berupa short animations di youtube.

Jacqueline mengakui bahwa keberhasilannya tidak lepas dari pengaruh ilmu yang Ia dapatkan selama kuliah selama 3,5 tahun di UPH. Lulusan cum laude ini mengakui ilmu yang diajarkan selama kuliah, fasilitas belajar yang sangat mendukung, organisasi kemahasiswaan yang diadakan serta komunitas kampus yang baik di UPH, sangat mendukungnya dalam mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja.

Tahun Kelulusan: 21/03/2006
UPH memiliki lingkungan sosial yang bagus. Ini salah satu point plus yang saya rasakan saat kuliah dan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter
Ernest Tjahjana
COO printerous.com & Founder kukuruyuk.com

Lingkungan adalah Faktor Penting dalam Proses Belajar

Faktor yang membuat seseorang dapat menguasai ilmu tidak melulu dari dosen, tapi dari keinginan atau niat untuk bisa mengerti sesuatu. Dan hal kedua yang penting dalam proses belajar adalah berelasi, belajar bersama orang lain atau teman. Belajar bisa dari berbagai sumber, dari keberhasilan orang lain, melalui buku-buku, guru, rekan kerja, atau lingkungan sekitar kita. Jangan berhenti untuk belajar, merupakan prinsip yang dipegang Ernest Tjahjana, alumni Teknik Industri UPH 2003, owner dan pengelola toko online kukuruyuk.com.

Bagi Ernest, lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses belajar. Lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter. Pengalaman ini ia rasakan saat kuliah di UPH. Di kampus UPH lingkungan sosialnya bagus. Ini salah satu point plus yang saya rasakan saat kuliah. Ketika kuliah di UPH saya bener-bener nikmati, salahsatunya berelasi dengan teman. Nilai bukan menjadi tujuan, jelas Ernest.

Untuk siap terjun ke dunia kerja tidak hanya diperlukan penguasaan ilmu tetapi yang juga karakter yang dewasa. Pembentukan karakter sangat perlu pada masa kuliah, karena itu sangat diperlukan dan penting di dunia kerja. Ini saya rasakan saat menginterview orang, banyak individu yang secara karakter belum siap kerja. Mungkin ini salah satu kekurangan lulusan universitas di Indonesia. Sangat berbeda ketika saya menginterview lulusan luar negeri. Mereka mature sekali. Menurut saya itu karena faktor lingkungannya. Jadi lingkungan sekolah itu sangat berpengaruh pada pembentukan lulusan untuk siap terjun ke dunia kerja, jelasnya.

Tekad untuk terus belajar merupakan salah satu karakter yang dimiliki Ernest. Inilah yang menjadi motivasi dalam perjalanan kariernya. Mengawali karier sebagai Management Training (MT) di perusahaan ritel Superindo dan dalam tiga tahun mendapat kesempatan dua kali naik posisi dengan jabatan terakhir sebagai Asisten Manager. Kariernya di dunia ritel berlanjut di PT Carefour sebagai Manager Merchandising.

Bagi Ernest, jabatan bukan menjadi tujuan. Yang terpenting ilmu yang diperoleh dari pengalaman, tegasnya. Keinginannya untuk terus belajar, mendorongnya untuk beralih ke bisnis digital marketing. Beruntung ia mendapat kesempatan beasiswa studi S2 di sebuah universitas internasional dengan bekal pengalamannya di bisnis ritel. Ia merepresentasikan profesional marketing dari perusahaan di Indonesia dan menjadi satu diantara 300 mahasiswa yang berasal dari 52 negara yang mengikuti program MBA di AULT international Business School yang ada di lima negara. Kesempatan studi di top 100 best university in the world dan bertemu dengan profesional dari berbagai negara, membuka wawasannya dan pengetahuannya pada bidang digital marketing. Ia memilih AULT International Business School yang ada di Boston, AS, dan menyelesaikan studinya dalam 1 tahun.

Sekembalinya dari studi, ia bergabung dengan perusahaan digital marketing Lazada. Keberhasilannya mengembangkan bisnis digital marketing, Lazada.com yang membawanya pada posisi Vice Director, memantapkan langkahnya untuk mengembangkan bisnisnya sendiri kukuruyuk.com. Berbekal ilmu di bidang digital marketing dan passionnya pada human improvement, Ernest optimis dapat mengembangkan kukuruyuk.com. kualitas produk dan layanan menjadi nomor satu, karena dalam bisnis ini kepercayaan konsumen sangat penting supaya mau balik lagi.

Niatnya mengembangkan bisnis sendiri berangkat dari passion pada human development. Dari pengalaman sebelumnya ia belajar bahwa yang menentukan keberhasilan suatu bisnis adalah kultur dan visi yang kuat yang dibangun dan dihidupi oleh pemilik atau pimpinan perusahaan.

Yang bisa buat company nyaman adalah kulturnya. Prinsip saya: kerja itu harus fun. Tidak bikin stress. Hidup harus seimbang. Kalau kita kerja di company yang tidak menghargai orang dan hanya mengeksploitasi, itu tidak sehat. Kultur perusahaan yang baik adalah yang menghargai SDM nya, papar Ernest.

Tahun Kelulusan: 14/06/2007
Life doesn’t always go on our way, but we should be strong to overcome it
Suwandy Wong
Investment Banking Associate at Credit Suisse

Pengalaman Berorganisasi Menjadi Modal Penting dalam Dunia Kerja

Bagi Suwandy, Senior Vice President Commercial Banking di Jakarta, yang merupakan alumni Manajemen UPH, angkatan 2003 ini, UPH turut memberikan kontribusi bagi karirnya hingga saat ini. Ilmu yang diperoleh di Jurusan Manajemen UPH dan pengalaman berorganisasi selama berkuliah menjadi modal untuk menghadapi dunia kerja. UPH merupakan universitas yang memiliki lingkungan yang nyaman, bagus, serta memiliki fasilitas yang mendukung proses pembelajaran mahasiswanya. UPH memiliki standard internasional baik dari lingkungan dan komunitasnya. UPH juga banyak bekerja sama dengan institusi, perusahaan, dan organisasi tingkat nasional hingga internasional. Lokasi kampus juga berada di independent city, Lippo Village, Karawaci, ujar Suwandy.

Menurutnya, UPH menanamkan pentingnya sebuah tanggung jawab kepada setiap mahasiswa melalui tagline Responsibility begins with me. Suwandy sangat setuju dengan tagline ini, Hal ini sangat dibutuhkan di dunia kerja. Jika kita bisa bertanggung jawab kepada diri sendiri dan menjadi pribadi yang positif maka kita akan bisa mempengaruhi komunitas di sekitar kita untuk bisa menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Ilmu yang diperolehnya selama berkuliah masih diaplikasikan oleh Suwandy yang bekerja di bidang perbankan. Di samping itu, pengalaman berorganisasi merupakan hal yang paling berharga. Melalui berorganisasi ini saya bisa belajar berkomunikasi dengan teman-teman dan orang baru. Saya juga belajar merencanakan suatu proyek, sama halnya dengan dunia kerja dimana kita akan berhubungan dengan orang lain dan membuat business plan, jelas Suwandy, yang pernah menjabat sebagai Ketua HMJ Manajemen saat itu. Beberapa organisasi lain yang pernah diikuti oleh Suwandy adalah Badan Eksekutif Manajemen (BEM), English Club, dan Keluarga Mahasiswa Vidya Buddhis (KMVB). Secara tidak langsung, aktif beroganisasi juga membuat Suwandy belajar mengatur waktu.

Life doesn’t always go on our way, but we should be strong to overcome it, merupakan prinsip yang selalu dipegang oleh Suwandy. Dalam kehidupan, tentu akan banyak yang kita harapkan dan inginkan, namun tidak semua dapat tercapai. Tetapi hidup harus terus berjalan, jadi kita harus bisa belajar menghadapinya. Suwandy juga menyampaikan pesannya kepada mahasiswa yang masih menjalani perkuliahan. Do what you love. Ini penting, karena selama kita mengerjakan segala sesuatu yang kita sukai pasti tidak akan berat hati menjalaninya. Begitu juga saat berkarir dan berbisnis nanti, usahakan yang sesuai dengan hobi dan passion kita, ujar Suwandy. Ia percaya bahwa disetiap jurusan pasti akan ada pemimpin-pemimpin yang tercipta. Oleh sebab itu, cintai passion yang kita miliki dan ciptakan bisnis yang sukses dari passion yang dimiliki.

Sebagai universitas yang sudah berdiri sejak 20 tahun yang lalu, Suwandy berharap komunitas alumni UPH dapat semakin dipererat juga hubungannya. Hal ini penting sebagai sarana untuk para alumni memperluas networking dan saling berbagi ilmu serta informasi. (ca)

Tahun Kelulusan: 14/06/2007
Dengan berkuliah di UPH, selain memiliki lingkungan yang nyaman dan kondusif, kita diajarkan pentingnya kehidupan spiritual dan True Knowledge
Hansel Kusnawa
Owner Sido Jodo

Pentingnya Kehidupan Spiritual dan Pengetahuan Sejati

Menjadi seorang pebisnis muda, merupakan suatu prestasi yang patut dibanggakan dari Hansel Kusnawa. Alumni Manajemen UPH, angkatan 2003 ini, menjalani perusahaannya yang bergerak dibidang Herbs and Spices bernama Sidojodo.

Dirinya mengaku pernah bekerja diperusahaan asuransi sebelum memutuskan untuk mengambil alih perusahaan keluarga. Kondisi sang ayah yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk memimpin perusahaannya, membuat Hansel harus menggantikan posisi ayahnya dan dituntut untuk bisa menjadi seorang leader yang baik.

Saat bekerja sama orang kita sudah diberitahu harus kerja apa, tidak banyak resiko, bos minta apa kita tinggal kerjakan. Tapi kalau memimpin bisnis sendiri, resiko lebih besar dan semua ditanggung oleh kita sendiri. Dari sinilah, pola pikir saya benar-benar diubah, bagaimana saya bisa memimpin suatu perusahaan dan orang-orang didalamnya, jelas Hansel.

Selama menjalani bisnis nya, Hansel selalu memegang nilai yang didapatkannya selama berkuliah di UPH yaitu pentingnya kehidupan spiritual dan pentingnya pengetahuan yang sejati. Kuliah di UPH berbeda dengan universitas lain. Selain memiliki lingkungan yang nyaman dan kondusif, fasilitas yang lengkap, kuliah di UPH kita diajarkan pentingnya kehidupan spiritual dan pentingnya True Knowledge yang merupakan visi UPH. Kita cenderung bisa menyalahgunakan pengetahuan yang kita dapat untuk meraih keuntungan bagi diri kita sendiri. Visi inilah yang paling banyak membekali saya dan menjadi kompas untuk saya bekerja lima tahun terakhir ini, ujarnya.

Hansel sangat bersyukur menjadi alumni UPH yang membawa dirinya dan membekali diri dengan hal-hal positif hingga ke dunia profesi. (ca)

Tahun Kelulusan: 14/06/2007
Dalam berkarier janganlah mencari uang dulu, tapi berupaya membangun Network, dan berkomunikasi dengan baik, atau dengan kata lain "When silent is not good anymore"
Yossa Setiadi
Direktur dan CEO Jahe Susu Assoy; Bawang SOY, NissaCorp.com, dan Kontraktor Murah

Pengusaha Sukses Bermodal Tekad

Yossa Setiadi pengusaha bawang goreng bermerek SOY yang sudah dikenal di lingkungan hotel ternama dan beberapa maskapai penerbangan lokal, sukses mengembangkan usaha berkat modal tekad. Lulusan Public Relations, Ilmu Komunikasi 2003 Universitas Pelita Harapan ini mengaku ilmu komunikasi yang didapat selama kuliah sangat bermanfaat untuk menjalankan bisnisnya. Selain pengetahuan dan keterampilan di bidang komunikasi ia juga mendapatkan banyak manfaat dengan kuliah di UPH, terutama networking.

“Dalam memilih universitas yang terbaik saya perlu melalui berbagai pertimbangan. Saya memutuskan memilih UPH karena jurusan ilmu komunikasinya banyak diminati, memiliki fasilitas pendukung kuliah yang lengkap seperti lab radio, lab broadcasting, dan lainnya. Lingkungan UPH juga sangat baik. Lingkungan yang tepat, akan membawa kita lebih tinggi dan jauh lebih sukses daripada yang lain, dan perlu memiliki 4 prinsip yaitu ambil sesuatu yang baik, buang yang buruk, ambil sesuatu yang benar, buang yang salah, artinya bertemanlah sebanyak mungkin,” jelas Yosa.

Yossa sosok yang sangat aktif dalam mencari teman baru dari berbagai kalangan, karena menurutnya dengan memiliki banyak teman akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Sejak kuliah ia aktif berorganisasi seperti kepanitiaan, BEM, HMJ, dan mengikuti berbagai lomba. Dengan menjadi aktif ia merasa dapat mencapai kepenuhan (fullest). Lulus S1, Awalnya Yossa bekerja menjadi pegawai di salah satu perusahaan Lippo Group namun hanya bertahan satu bulan, dan memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di bidang manajemen. Tekadnya untuk mendapatkan karier yang lebih baik mendorongnya untuk belajar. Selama studi S2 Yosa juga mulai menggali potensi diri dengan melakukan hal yang ia bisa dan sukai yaitu memasak, dan ia menemukan bawang goreng sebagai salah satu masakan yang dia bisa hasilkan dengan baik.

Kemampuannya membuat bawang goreng disertai dengan tekad untuk melihat peluang pasar, hingga ia menemukan kebutuhan akan bawang goreng siap saji. Kini bawang goreng produksinay dengan merek SOY sudah berkembang dan diterima di maskapai-maskapai Indonesia dan 21 hotel ternama, seperti Hotel Ritz Carlton, Alila, Shangri La, Mulia, dan lainnya. Usaha bawang gorengnya kini memiliki 43 karyawan, dan mampu memasok bawang gorengnya di sekitar Jabodetabek, Surabaya, dan kedepannya juga akan menyasar daerah Makasar. Bermodal kerja keras dan tekad kini bawang goreng SOY mampu dikenal oleh orang banyak. Dalam sehari untuk high season pesanan bawang goreng SOY mencapai 200 Kg dan untuk hari biasa juga mencapai kisaran 150-200 Kg. Dari segi pemasaran, Yossa memanfaatkan keterampilan komunikasinya dengan melakukan direct selling dan networking dengan membuat target list. Selanjutnya Yossa untuk mendukung upaya pemasaran ia juga menggunakan media sosial seperti Instagram dan mengadakan berbagai event seperti Tournament Game yang bertujuan untuk mengumpulkan masyarakat dengan cara menyenangkan walaupun game ini hanya berhadiahkan bawang goreng.

Usaha Yossa tidak berhenti hanya pada bawang goreng, kini Yossa juga menggeluti bidang konstruksi dengan membuka Jasapengaspalanjakarta.co.id. dan usaha di bidang jamu dengan Merk Jahe Susu Asoy. Jahe Susu Asoy ini adalah hasil dari usaha Yossa dalam menyisihkan keuntungannya dari penjualan bawang goreng dan jasa konstruksi sebagai upaya dalam memberdayakan masyarakat yang butuh pekerjaan seperti janda, dan pemuda pengangguran. Kemudian, 20 Desember 2015 lalu Yossa juga membuka restoran Seafood Ikan Hiu pertama di Grogol, dengan nama Seafood Hotel Kualitas Premium, Harga Tenda Dengan karier yang ia miliki, kembali Yossa menekankan bahwa keberhasilannya ini adalah hasil dari proses selama ia berkuliah.

Manfaat positif yang ia rasakan bukan hanya dari segi akademisnya, tapi dari sisi bagaimana proses berkuliah ini seseorang dapat dibentuk menjadi manusia seutuhnya, membantu dalam membuka pikiran, dan pengelolaan emosi. Selain itu menjadi bagian dari keluarga Alumni UPH juga dirasanya sangat bermanfaat karena selain untuk networking juga dapat berbagi pengalaman serta informasi yang bermanfaat. Menutup perbincangan Yossa berpesan bahwa dalam berkarier janganlah mencari uang dulu, tapi mencari teman semaksimal mungkin untuk membangun Network, dan berkomunikasi dengan baik, atau dengan kata lain When Silent is not good anymore.

Tahun Kelulusan: 14/06/2007
Seorang Manusia yang punya title tinggi tanpa bisa mengimplementasikan apa yang dia tahu itu seperti seekor singa yang mengembik
Ryan Maneka Hinze
Managing Director and Creative Director

Kerja Keras, Tekun, dan Jujur

Sebagai seorang wirausaha muda, Ryan Maneka Hinze memiliki berbagai bisnis yang digelutinya dalam waktu bersamaan. Jabatan yang diembannya tidak main-main, sebagai Managing Director of Samara Kuarsa Indonesia (Mining and Silica Sand Trading 2016-sekarang), Managing Director of Santorian Royal Mayestika (Property & Investment Group 2015-sekarang), Creative Director of Royal Mahapraja (Made of Measure Batik Clothing 2017-sekarang), Marketing Manager of Dwi Romeo Perkasa (Printing & Merchandising 2014-sekarang), serta Creative Director of Soigne (Creative Agency 2017-sekarang).

Alumni lulusan Manajemen UPH 2007 ini berharap pengalamannya dapat menginspirasi generasi muda jaman sekarang untuk menjadi seorang yang sukses dan bahkan dapat lebih sukses daripada dia sekarang.

“Saya yang begini-begini saja bisa, apalagi mahasiswa jaman sekarang, dengan fasilitas yang sangat memadai, baik itu teknologi maupun fasilitas dari orangtua. Saya yakin faktor-faktor eksternal tersebut kalau bisa dimanfaatkan dengan maksimal tentu akan membuat mereka jauh lebih sukses daripada saya,” ujarnya.

Selain mengenyam pendidikan di UPH, Ryan juga mempunyai bekal pengalaman studi di London, serta pernah menjalani internship di Connect London (Investment & Consulting Group). Ia mengaku banyak mendapatkan pelajaran dari pengalamannya itu. Namun menurutnya bekal pengalaman dan pengtahuan saja tidak cukup untuk menjadi seorang entrepreneur yang berhasil.

“Menjadi wirausaha itu membutuhkan naluri. Naluri ini tidak bisa dipaksakan, tidak bisa dipelajari. Dipelajari ilmunya iya. Bisa dari ilmu marketing, ilmu finance atau ilmu human resource, HRD, tetapi namanya insting untuk menjadi entrepreneur itu tidak bisa datang tiba-tiba. Entrepreneur is about how you look at the opportunity. Jadi opportunity itu harus diimplementasikan sehingga menjadi profit. Bisa profit jangka pendek, jangka panjang, atau jangka menengah. Kemampuan melihat opportunity yang menghasilkan uang juga sudah termasuk berwira usaha. Jadi tidak harus punya PT dulu, titel dulu. Kalau seperti itu, tidak ada yang namanya facebook, instagram, dan whatsapp. You have to learn by do it serta sisanya practice makes perfect. Tidak bisa sukses kalau tidak mencoba. Karena pegangan saya satu, seorang manusia yang punya titel tinggi tanpa bisa mengimplementasikan apa yang dia tau itu seperti seekor singa yang mengembik,” tandasnya.

Ryan menekankan pentingnya usaha lebih dahulu dengan do it, trial and error. Lakukan saja, rejeki itu akan datang sendiri. Terpenting kerja keras, tekun dan jujur.

Tahun Kelulusan: 14/06/2007
Walaupun di dunia kerja lebih banyak menggunakan soft skill, tetapi teori-teori komunikasi seperti Corporate Communication sangat terpakai saat bekerja
Irvan Tisnabudi
Entrepreneur

Mempersiapkan Diri ke Dunia Profesional Sejak Kuliah

Berawal dari karir di dunia penyiaran, sebagai seorang jurnalis dan news anchor di MNC Media Group, mengantar Irvan Tisnabudi, alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Bidang Jurnalistik UPH, berhasil mendirikan usahanya sendiri, PT Magada Tirta Mirta, Agency of Advertising Design & Event Production.

Ada kebanggaan tersendiri bila bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Itulah yang dirasakan Irvan setelah lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Begitu lulus dari UPH, saya kerja di MNC Media Group yang saat itu membawahi Global TV dan RCTI. Kemudian bergabung dengan Globe Media Group , yaitu di Jakarta Globe dan Globe Asia sebagai jurnalis dan economic researcher, papar Irvan.

Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga untuk memulai bisnis sendiri, diantaranya dalam hal tanggung jawab dan cara berfikir. Saya punya tanggung jawab lebih besar di perusahaan sendiri. Pikiran kita lebih terbagi-bagi untuk setiap detail pekerjaan. Tantangan juga lebih berat karena apa yang dipikirkan dan direncanakan bersifat menyeluruh, jelasnya.

Kemampuan untuk menjalankan profesi maupun bisnisnya saat ini diakui Irvan didapat dari pelajaran saat kuliah di UPH. Tidak hanya dari pelajaran di kelas tetapi ia juga mendapatkan banyak pelajaran dari kegaitan di luar kelas, seperti kegiatan kemahasiswaan, bergabung dalam tim basket dan kepanitiaan dalam beberapa event. Pengalaman ini menjadi bekal dalam mencapai kesuksesannya. Walaupun di dunia kerja lebih banyak praktek atau menggunakan soft skill seperti interpersonal skill, tetapi teori-teori komunikasi seperti Corporate Communication sangat terpakai saat saya bekerja. Menariknya juga, kurikulum UPH memiliki fondasi yang kuat karena difokuskan pada pengembangan diri mahasiswa, katanya.

Ketika ditanya apa yang membuatnya berkesan di UPH, Irvan mengungkapkan berbagai kesan positif mengenai almamaternya, Hal yang mengesankan bagi saya yaitu selain fasilitas UPH yang terbilang lengkap dan baik, kualitas tenaga pengajarnya juga baik. Saya juga sangat senang dengan keberadaan AlumniCenter sebagai komunitas networking bagi alumni, karena kita butuh networking di dunia kerja.

Sebagai seorang yang sudah mengenyam berbagai pengalaman, Irvan memberikan pesan kepada para mahasiswa UPH untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja . Saat saya kuliah saya kurang puas dengan semangat dan kinerja saya, dan hal itu baru saya rasakan saat bekerja. Jadi untuk adik-adik mahasiswa, gunakanlah kesempatan yang ada untuk mengembangakan potensi yang dimiliki. Dengan tetap fokus untuk menggali dan menimba ilmu sedalam mungkin. Manfaatkan fasilitas yang dimiliki UPH dan komunitas yang ada. Jadi jangan sampai disia-siakan. (aa)

Tahun Kelulusan: 12/06/2008
Di UPH karakter kita dibentuk untuk menjadi seorang leader. Sama halnya dengan di Koultoura Coffee yang memegang prinsip 'Character over skill and talent'
Kinsky Bunyamin
Co Founder Petite and The Buns Director of Marketing and Sales - AXIOO Photography and Cinematography

Mewujudkan Karakter yang Baik Melalui Bisnis

Bagi pecinta kopi, pasti sudah tidak asing lagi dengan coffee shop berkonsep unik di daerah Jakarta Barat yaitu Koultoura Coffee. Diambil dari bahasa Yunani yang berarti culture, Koultoura Coffee berhasil menjadikan kopi dan menu-menu brunch nya sebagai budaya dikalangan anak muda bahkan orang tua didaerah Jakarta Barat ini yang notabene merupakan Family Neighborhood. Keberhasilan ini tidak lepas dari usaha dan kerja keras dari sang pemilik yang merupakan alumni UPH yaitu Kinsky Bunyamin. Dalam acara Alumni Business Network yang diadakan UPH Alumni Center pada 3 Oktober 2014 lalu, Kinsky membeberkan kisah sukses dari bisnis food and beverage yang dimilikinya.

Bermula dari cita-cita Kinsky untuk mebangun sebuah tempat dimana orang-orang bisa berkumpul dan merasa nyaman berada ditempat tersebut serta kecintaan sang suami, Joe Sentoso, terhadap kopi, akhirnya mereka membuat sebuah coffee shop yang menyediakan kopi dan hidangan brunch dengan dekorasi tempat yang nyaman. Coffee shop berlogo cangkir dengan petir diatasnya ini memiliki dekorasi unik yang idenya berasal dari coffee shop diberbagai belahan dunia yang pernah di kunjungi pasangan suami istri yang hobi travelling ini.

Alumni dari Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2004 ini menjelaskan cara memulai bisnis dan mengolahnya dengan baik. Disamping menjual makanan dan minuman yang berkualitas sebuah bisnis food and beverage perlu memiliki branding dari hal yang paling terkecil seperti warna,logo, ataupun karakter-karakter unik. Melalui gelas cangkir berwarna orange serta karakter Foxy dan Papa Bear, kita mau customer bisa langsung mengenali Koultoura Coffee, jelas Kinsky.

Setiap sudut di Koultoura Coffee didesain sedemikan mungkin agar memberikan pengalaman yang berkesan yang bisa dibagikan kepada orang lain. Koultoura Coffee memanfaatkan media sosial sebagai kunci utama dalam strategi marketingnya. Menurutnya media terbaru ini memiliki keunggulan dari segi exposure juga berbiaya kecil. Melalui media sosial inilah customer dapat mebagikan pengalaman berkesannya dengan mengunduh foto dari moment berkesan tersebut dan semua orang dapat melihatnya sehingga menimbulkan brand awareness. Selain menjalin hubungan yang baik dengan customer, Koultoura Coffee juga membangun hubungan dengan influencer seperti artis dan blogger.

Dalam menjalankan bisnisnya ini tentu ada tantangan yang dihadapi. Proses dari mengolah ide hingga merealisasikannya membutuhkan waktu yang cukup lama dan bukanlah hal yang mudah. Bisnis yang dijalaninya bersama dengan partner juga memiliki kesulitan tersendiri, dimana harus bisa menyatukan ide dan visi. Namun itu semua dapat diatasi dengan kerjasama yang baik.

Sebagai alumni UPH, ia bangga bisa memperoleh pendidikan yang berkualitas dan didukung dengan fasilitas serta lingkungan belajar yang mendukung. Hal yang Kinsky tidak pernah lupa dalam menjalani bisnisnya adalah nilai yang ditanamkan kepada dirinya selama berkuliah di UPH. Saat saya berkuliah di UPH, saya tidak hanya diajarkan teori saja, melainkan juga karakter. Di UPH karakter kita benar-benar dibentuk untuk bisa menjadi seoang leader. Sama halnya dengan di Koultoura Coffee, yang memegang prinsip Chracter over skill and talent. Banyak orang yang memiliki skill dan talent yang luar bias tapi karakter mereka buruk. Skill dan talent bisa dilatih, tetapi karakter willing to learn tidak bisa didapatkan dari latihan dan itulah yang karakter itulah yang kami cari. Kami selalu terbuka kepada karyawan kami yang ingin belajar. Selain itu, saya juga selalu berpesan kepada karyawan saya, bahwa disini kalian semua harus bisa memperoleh sesuatu yang lebih dari pada skill yaitu menjadi orang dengan karakter yang lebih baik. Saya mau setelah keluar bekerja dari Koultoura ini, karyawan saya bisa menjadi seorang yang lebih sukses bahkan membuka coffee shop sendiri. Itu akan menjadi kebanggaan tersendiri buat saya, jelas Kinsky . (ca)

Tahun Kelulusan: 14/06/2007
Selain memperoleh pengetahuan mengenai teori-teori yang diberikan oleh dosen di dalam kelas, fungsi kuliah yang paling penting dan orang sering tidak sadari adalah network
Ferry Irawan
Financial Consultan di MRT Group Agency

Kuliah adalah Bekal untuk Mengembangkan Bakat yang Kita Miliki

Keterampilannya dalam berkomunikasi dengan orang disekitarnya membuat alumni Ilmu Komunikasi angkatan 2004, Ferry Irawan, sukses menjalani profesinya sebagai Financial Consulting di MRT Group Agency. Dengan konsentrasi Broadcast and Journalism yang diambilnya semasa berkuliah membuatnya menguasai teknik-teknik berkomunikasi yang baik dengan orang lain serta menjadikan dirinya tahu banyak hal.

Awal mulanya, Ferry memiliki hobi menjadi seorang presenter. Sejak SMA dan duduk di bangku kuliah, Ferry sudah memiliki banyak jam terbang hingga menjadi MC di acara pernikahan. Pada tahun 2013, Ia memutuskan untuk berhenti bergelut didunia presenting dan beralih untuk membuat bisnis sendiri. Ferry sempat membuka bisnis food and beverage selama 1 tahun yang kemudian dialihkan kepada kakak tertuanya. Ferry yang mulai memiliki ketertarikan dengan dunia finance akhirnya mengikuti sertifikasi dibidang finance dan terjun menjadi seorang Financial Consultant.

Ia mengaku mencintai pekerjaannya karena profesi ini tebuka luas untuk melayani setiap orang dari segala usia dan latar belakang baik itu personal ataupun perusahaan. Dari anak muda hingga orang tua butuh untuk me-manage keuangannya, terlebih lagi serkang ini kehidupan masyarakat di perkotaan seperti Jakarta sangatlah konsumtif, ujar Ferry.

Ferry menjelaskan bahwa pekerjaan yang digelutinya sekarang ini sangat erat kaitannya dengan apa yang dipelajarinya selama berkuliah. Kadang orang pikir pekerjaan saya tidak sesuai dengan jurusan yang saya ambil. Banyak orang berpikir bahwa kerja harus sesuai dengan jurusannya, namun mereka nggak sadar bahwa kuliah adalah bekal untuk mengembangkan dan memperluas bakat yang kita miliki. Misalnya, sebagai Financial Consultant kita justru harus memiliki communication skill yang baik, how to convince orang dan bagiamana communicate concept yang kita miliki kepada customer. Saat berbicara dengan customer kita juga perlu memiliki manner yang baik dan punya wawasan yang luas. Dan itu semua saya dapatkan semasa saya berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, jelas Ferry.

Ferry juga menekankan fungsi kuliah yang paling penting menurut dirinya, Selain memperoleh pengetahuan mengenai teori-teori yang diberikan oleh dosen didalam kelas, fungsi kuliah yang paling terpenting dan orang sering tidak sadari adalah network. Saya bersyukur berkuliah di UPH yang terdiri dari berbagai fakultas dan bidang, sehingga saya bisa mengembangkan kemampuan dan pengetahuan saya dari teman-teman di berbagai fakultas dan jurusan.

Sebagai seorang alumni, Ferry sangat bersyukur bisa berkuliah di UPH yang mendorong mahasiswanya untuk aktif dalam kegiatan berorganisasi. Ferry yang pernah menjabat sebagai wakil ketua HMJ Ilmu Komunikasi menjelaskan, Bukan kepintaran yang dibutuhkan tapi kemampuan bagaimana menjadi seorang leader. Saya ingat sekali saat saya terjun ke dunia organisasi dimana kita harus bisa lead people, susahnya mencari dana dan sponsor. Tapi itulah kehidupan, pasti ada milestone-nya yang justru melalui proses itulah kita menerima berkat dari Tuhan.

Segala yang dipelajarinya selama berkuliah, network yang diperoleh serta pengalaman berorganisasinya sangatlah berkesan dan berguna hingga dunia kerja. Kepada para mahasiswa yang sekarang masih berkuliah, Ferry berpesan Do your best and let God fulfill the rest. Banyak orang berpikir untuk menggunakan kemampuannya sendiri. Seharusnya kita perlu berbagi dengan orang lain dan saling melengkapi. Kita boleh pintar, tetapi jikalau Tuhan tidak berkehendak ya tetap tidak bisa terjadi. Jadi tugas kita adalah lakukan semaksimal mungkin, lakukan yang terbaik, lakukan dengan hati dan dengan tujuan yang tulus. Selanjutnya biar Tuhan yang melakukan bagian-Nya.

Itupun korelasi dengan prinsip yang Ferry pegang yaitu selalu persiapkan diri dan improve diri mulai dari hal kecil. Kadang kita tidak sadari apa yang sedang dipersiapkan Tuhan untuk masa depan kita. Kesuksesan tidak datang dari Tuhan begitu saja dan datang dari kemampuan yang kita miliki. Melainkan kita perlu peka terhadap panggilan tersebut dan memilih kendaraan yang tepat untuk mencapai kesuksesan tersebut. Oleh sebab itu, persiapkan diri kita dari sekarang untuk menyadari panggilan kita. Setialah terhadap perkara kecil, karena pasti anda akan dipercayakan dalam perkara besar, jelas Ferry. (ca)

Tahun Kelulusan: 18/06/2008
Teknik industri saya lihat cukup menarik, karena mempelajari hal lain di luar dunia teknik itu sendiri. Ini menjadi jalan mencari tahu passion saya
Yudhi Ronald
Operations Manager PT Hourlogy Indah Perkasa (hingga Feb 2017)

Untuk Berhasil Yang Terpenting Adalah Karakter yang Baik

Menyukai dunia teknik tetapi tidak ingin mengambil jurusan teknik yang terlalu spesifik. Itulah pertimbangan yang mendasari Yudhi Ronald, alumni Teknik Industri UPH 2005, saat memilih jurusan Teknik Industri di UPH. Sifatnya yang cepat bosan dan tidak mau membuang waktu, membuatnya harus hati-hati memilih jurusan. Teknik industri pada waktu itu saya lihat cukup menarik, karena banyak mempelajari hal-hal lain di luar dunia teknik itu sendiri. Alangkah sangat baik jika kita bisa mempunyai kesempatan untuk mempelajari banyak hal yang berbeda. Bagi saya ini bisa menjadi jalan yang baik untuk mencari tahu passion atau bakat kita, kenang Yudhi.

Bagi Yudhi, memilih universitas tidak hanya dari aspek akademiknya, tetapi juga dedikasinya untuk kemajuan para mahasiswanya. Termasuk di sini dalam hal pembangunan sarana dan prasarana pendidikan seperti olahraga, dormitory, library, lab dan lain-lain. Saya merasa kuliah di UPH tidak berasa seperti kuliah di dalam negeri. UPH seperti sebuah campus city. Berbeda dengan kampus pada umumnya di dalam negeri, ungkapnya.

Di UPH mahasiswa disambut dengan kekeluargaan. Ini membuat Yudhi nyaman memulai masa kuliahnya. Relasi mahasiswa junior dan senior tidak ada kesenjangan. Bahkan Sebagai universitas Kristen, UPH juga sangat berkomitmen dalam pembinaan iman dan karakter mahasiswanya. Salah satunya melalui quote dari bible yang dipasang pada beberapa lokasi kampus, paparnya. So, saya merasa di UPH keKeristenan bukan hanya judul saja, tapi memang benar dijalankan dalam kesehariannya, jelas Yudhi.

Dari aspek akademik mahasiswa mendapatkan ilmu yang relevan dengan dunia industri. Ini didapat dari para dosen dan professional yang mengajar di jurusan Teknik Industri UPH. Saya banyak belajar dari para dosen yang open minded, fleksibel dan mau mengikuti perkembangan jaman (tidak kolot). Lingkungan yang seperti ini lah yang sangat mendukung saya untuk bisa berpikir maju dan berani berpikir outside the box, ungkapnya. Namun Yudhi juga menekankan bahwa untuk berhasil yang diperlukan bukan prestasi atau kepintaran semata, melainkan yang terpenting adalah karakter yang baik.

Selama kuliah, banyak pelajaran yang diperoleh bahkan dari luar kelas. Diantaranya kegiatan kemahasiswaan, bisa menjadi media pembelajaran yang efektif dalam melatih keterampilan kerja di lapangan. Pelajaran berharga saya dapatkan saat menjadi panitia UPH Festival 11. Saya belajar untuk mengerjakan sesuatu sampai tuntas, tidak setengah-setengah, katanya.

Satu hal yang juga tidak terlupakan adalah motto UPH “responsibility begins with me” yang terus disosialisasikan kepada mahasiswa. Motto ini mendorong saya untuk terlebih dulu memanage diri sendiri dengan baik, untuk kemudian memanage orang lain dengan baik. Motto yang very simple, yet so meaningful, kata Yudhi yang mengaku masih memegang teguh dan mengamini motto UPH sampai saat ini.

Sebagai lulusan UPH, Yudhi mengaku bangga karena lulusan UPH cukup dikenal dan diterima baik di dunia industri. Peluang karier sangat terbuka. Ia bergabung dengan PT. Mabua Harley-Davidson Surabaya, authorized dealer of Harley-Davidson, sejak tahun 2010 sebagai Management Trainee dan sejak tahun 2011 Ia dipercaya sebagai Operation Manager. Menurutnya profesi di dunia otomotif sangat sesuai dengan passionnya. Ini yang membuat ia bekerja dengan suasana yang sangat fun, sehingga setiap harinya tidak terasa seperti bekerja, namun terasa seperti sedang menjalankan hobi saja. Ini sangat penting agar tidak cepat bosan dengan pekerjaan kita.

Tahun Kelulusan: 17/06/2009
UPH dikenal hingga di tingkat internasional. Pengakuan ini memudahkan lulusannya bersaing dalam industri global. Saya bangga menjadi bagian dari UPH
Wenny Sia
Associate Division Director at ERA Realty Network Pte Ltd

Saya Bangga Menjadi Bagian dari UPH

Saat ini saya sedang bekerja di Propnex Really Pte Ltd. sebagai konsultan properti di salah satu perusahaan real estate terbesar di Singapura. Universitas Pelita Harapan telah mengantar saya memulai karir di Singapura.

Saya masuk UPH pada tahun 2005 dimana tahun itu juga pertama kalinya UPH meluncurkan program laptop kepada setiap mahasiswa untuk mendukung program pendidikannya. Suatu terobosan yang luar biasa.

UPH memperkaya pengetahuan saya melalui dosen-dosen terbaik yang tidak hanya menguasai teori melainkan juga mengerti bagaimana implementasinya terhadap kegiatan sehari-hari.

UPH juga memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk belajar banyak hal. Diantaranya memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk bekerja partime. Pengalaman saya bekerja partime di departemen marketing UPH membuka mata saya mengenai dunia kerja yang sebenarnya. Meskipun sibuk dengan kegiatan dan kerja partime, saya beryukur dan bangga bisa menyelesaikan studi selama 3,5 tahun dengan prestasi cumlaude.

Yang menarik adalah Singapura mengizinkan saya untuk menjadi penduduk tetap (permanent residence) di negara mereka karena UPH yang telah diakui Singapura. Saat ini sudah hampir 5 tahun saya bekerja di Singapura dan masih menjadi kebanggaan saya untuk menyampaikan ke banyak orang bahwa tanpa belajar di UPH, saya pasti akan kehilangan kesempatan emas tersebut.

Tahun Kelulusan: 17/06/2009
Kuliah di Program Studi Desain Produk UPH berperan penting dalam membentuk konsep kreatif dan cara berpikir saya
Lily Suryani
Visual Merchandising & Store Planning South Asia of Richemont

Dari Desain Produk UPH ke Perusahaan Terkemuka Dunia

Saat saya memilih untuk kuliah di jurusan Desain Produk, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan UPH pada tahun 2005, masih sangat sedikit universitas di Jakarta yang menawarkan jurusan tersebut. UPH merupakan salah satu dari tiga universitas yang membuka jurusan Desain Produk. Saya membutuhkan waktu 3.5 tahun untuk menyelesaikan kuliah berikut program kerja praktek. Masa kuliah yang penuh dengan kerja keras dan ketekunan, namun sepadan dengan hasil yang didapat.

Secara umum, UPH memberi saya banyak sekali pengalaman, baik secara akademik maupun non-akademik seperti Youth Camp, UPH Festival, program mentoring, bergabung dalam program marketing, community service, dan banyak lagi. Secara khusus, kuliah di Jurusan Desain Produk berperan penting dalam membentuk konsep kreatif dan cara berpikir saya. Ditambah pengalaman melalui program kerja praktek, membuat saya semakin bertumbuh secara pribadi dan pengembangan karir.

Melalui program workshop, saya bertemu dengan para alumni yang memiliki peran penting di industrinya masing masing dan menginspirasi saya untuk mengejar karir internasional setelah lulus kuliah. Hingga saat ini, saya sudah menetap di Singapura selama 5 tahun, dan bekerja untuk adidas, perusahaan terbesar di sektor produk olahraga, dengan fokus di bidang visual merchandising dan retail marketing.

Tahun Kelulusan: 17/06/2009
Dalam menjalankan profesi medis rasa kemanusiaan itu nomor satu. Prinsip ini ditanamkan saat kuliah di FK UPH
Laura Alexandra
Pemilik Klinik Dokter Umum di Malang

Menjalani Profesi Dengan Hati

Menjalani profesi sebagai dokter dan juga pengusaha fashion merupakan dua bidang yang saat ini ditekuni dr. Laura Alexandra, alumni Fakultas Kedokteran UPH 2005. Kecintaannya pada bidang kedokteran, diawali oleh minatnya pada ilmu Biologi sejak di bangku sekolah dan juga latarbelakang keluarga yang banyak menekuni bidang kedokteran. Selama menjalani kuliah selain mendapatkan ilmu, banyak pelajaran yang didapat sebagai bekal untuk menjalani profesinya saat ini. Diantaranya dalam hal komunikasi dan bekerja sama di dalam tim. Saat kuliah, dokter pengajar dan mahasiswa memiliki relasi yang dekat, dokter pengajar juga tidak ragu untuk membagi ilmu dan pengalamannya. Pernah suatu kali kami diajak bergantian untuk ikut melihat praktek pribadi salah seorang dokter pengajar kami. Mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk belajar di rumah sakit yang dilengkapi dengan fasilitas dan suasana belajar yang nyaman, papar dr. Laura.

Bersama dengan rekan seprofesi, dr. Laura membuka klinik dokter umum di kota Malang. Dalam menjalankan profesi medis ia mengutamakan pelayanan untuk pasien. “Rasa kemanusiaan harus nomer 1, beda dengan bisnis, ujarnya.

Baginya sebagai dokter harus kreatif. Dalam hal medis harus mengedepankan art and science. “Saya tidak mengobati pasien saya yang penyakitnya sama dengan treatmen yang harus selalu sama. Setiap pasien diobati dengan dosis dan regimen yang disesuaikan dengan kondisinya, misalnya pasien A ada alergi obat tertentu , B tidak, mungkin pasien A ada komplikasi dengan penyakit lainnya, B tidak, jadi case per case. Disitulah seninya,” jelas dr. Laura yang memang menyukai seni. Ia menyelesaikan pendidikan kedokteran dalam waktu 5.5 tahun dan mengaku tidak stress, meskipun materi kuliah di FK berat. Ini ia buktikan dengan meraih IPK 3.4.

Kesukaannya pada seni dan fashion mengalir dari keluarganya yang sejak lama berkecimpung dalam usaha batik di Malang. Setelah lulus kuliah dan menyelesaikan program pendidikan profesi (koass) ia mulai menekuni fashion batik. Saya sangat menyukai fashion, dan dengan dukungan keluarga yang memiliki latar belakang batik, saya mencoba mengembangkan ide-ide saya sendiri dengan brand sendiri. Saya ingin menyasar pasar anak muda yang suka dengan konsep fashion yang unique dan stylist, dengan mengangkat batik sebagai materialnya, kata dr. Laura.

Untuk wilayah Malang, fashion batik dengan merek Laura Alexandra sudah cukup dikenal. Dan saat ini ingin merambah ke kota-kota lainnya, melalui toko online yang baru dirintis. Untuk pemasaran secara online, sekarang sedang dalam proses, segera akan diupload produk-produk terbaru kami, katanya. Sedangkan untuk ide design dr. Laura membuat kreasinya sendiri dan usaha ini dijalankan di sela-sela waktu luangnya.

Dalam menjalankan profesinya, dr. Laura memegang prinsip harus kreatif dan harus menjaga kualitas. Baik bidang medis dan fashion keduanya dijalani dengan hati. Kedepannya ia merencanakan untuk terus berpraktek sebagai dokter sambil mengembangkan bisnis batik yang dimilikinya. (rh)

Tahun Kelulusan: 17/06/2010
Dalam bidang hukum, seseorang harus bisa membangun relasi dan pandai berbicara. Saat kerja, saya baru bisa merasakan pentingnya sebuah networking
Devandra Harahap
Business Strategic and Corporate Secretary at BNI Asset Management

Investment Officer di Perusahaan PT Perusahaan Pengelola Aset

Devandra Harahap merupakan alumni Hukum UPH angkatan 2005 yang sekarang ini sedang menyelesaikan S2 nya di Finance UPH. Ia menjalani profesi sebagai Investment Officer di salah satu perusahaan BUMN, PT. Perusahaan Pengelola Aset (PT PPA). Di sela-sela acara Alumni Golf Event Devandra menceritakan pengalaman berkesannya selama berkuliah di UPH.

Di UPH teman-temannya seru, kampusnya asri banget dan nyaman. Waktu angkatan saya, Fakultas Hukum itu masih di Gedung B dan nyaman sekali, ujar Devan. Devan mengaku bahwa semua teori yang didapatnya selama berkuliah di FH UPH sangat bermanfaat dan masih diaplikasikan dalam dunia kerja. Menurutnya, ilmu di bidang hukum tidak hanya terpakai di profesi hukum seperti pengacara dan sebagainya, melainkan juga dibutuhkan oleh setiap perusahaan.

Devan juga mengakui mata kuliah umum seperti Leadership serta Learning & Communication Skill yang didapat saat kuliah sangat berguna. Karakter sebagai seorang pemimpin dan kemampuan berkomunikasi yang baik perlu dimiliki oleh setiap orang dalam dunia kerja.

Semasa berkuliah, Devan juga aktif di organisasi mahasiswa sebagai Humas SENAT FH UPH dan sempat menjadi ketua acara Natal FH UPH yang pertama. Melalui pengalaman beroganisasi, Devan banyak berinteraksi dengan dosen dan banyak menjalin relasi dengan orang baru. Sebagai seorang Humas, Devan sering menjalin relasi dengan mahasiswa dari universitas lain dan juga dengan beberapa perusahaan.

Pelajaran yang didapat selama berkuliah di UPH dan selalu dipegang oleh Devan adalah perluas networking. UPH memberikan sarana bagi mahasiswanya untuk bisa membangun networking seluas-luasnya dan ini sangat membantu saat di dunia kerja. Sejak kuliah saya sangat senang bertemu orang, cari relasi dan ngobrol dengan orang baru. Dalam bidang hukum, seseorang harus bisa mebangun relasi dan pandai berbicara. Setelah kerja, saya benar-benar bisa merasakan betul pentingnya sebuah networking, jelas Devan.

Tentunya, Devan juga berpesan kepada mahasiswa yang masih menjalani masa perkuliahannya agar memperbanyak relasi atau networking. Pelajaran juga penting tetapi perlu diimbangi dengan relasi yang luas, ungkapnya. (ca)

Tahun Kelulusan: 17/06/2010
Kurikulum di Arsitektur UPH bagus. Kita dididik dan didorong untuk siap terjun ke dunia profesi
Hendarto
Owner of HATO Architect

Tantangan Berat yang Membawa Keberhasilan

Salah satu peserta Alumni Golf Event, Hendarto, alumni Arsitektur UPH, angkatan 2005, pemilik HATO Architect menceritakan pengalamannya selama berkuliah di UPH. Menurutnya, berkuliah di UPH khususnya di jurusan Arsitektur merupakan sebuah tantangan yang berat, namun melalui inilah Hendarto bisa berhasil.

Kurikulum di Arsitektur UPH bagus. Kita dididik dan didorong untuk siap terjun ke dunia profesi. Karena itulah, mungkin sebagian mahasiswa khususnya di Arsitektur merasa ini adalah tantangan yang cukup berat. Tetapi melalui proses inilah, mental kita diasah untuk siap terjun ke dunia kerja, ujar Hendarto.
Ia juga sangat terbantu dengan dosen-dosen yang berkualitas. Saat itu, banyak dosen baru yang terdiri dari praktisi. Dari segi fasilitas, UPH juga menyediakan fasilitas yang layak, lengkap dan mendukung proses pembelajaran.

Semasa berkuliah, Hendarto juga belajar kepemimpinan melalui mata kuliah Leadership dan teknik berkomunikasi yang baik melalui mata kuliah Learning & Communication Skill. Secara tidak sadar, dalam dunia kerja kita membutuhkan ilmu-ilmu seperti leadership dan communication skill. Apalagi untuk saya yang mengelola perusahaan sendiri, tentu diperlukan karakter untuk menjadi pemimpin yang baik dan belajar berinteraksi dengan customer, jelas Hendarto.

Kepada mahasiswa yang masih berkuliah, Hendarto berpesan, Beranilah berkreasi. Jangan hdup di zona aman. Tapi push diri kita untuk kreatif, karena selama berkuliah masih ada dosen-dosen yang bisa membimbing kita, sedangkan kalau di dunia kerja orang akan langsung judge. Jadi gunakanlah masa-masa kuliah ini dengan sebaik mungkin karena dunia kerja akan jauh lebih keras.

Tahun Kelulusan: 17/06/2009
Melalui kegiatan seperti Service Learning di UPH, mahasiswa juga diajarkan untuk bisa berinteraksi dan membangun relasi yang baik dengan orang lain
Albert Hendriko
Pendiri PT Trimadulimas Indonesia

Berbekal Ilmu Teknologi Pangan, Dirikan Manufaktur Bahan Konstruksi

Albert Hendriko, seorang pebisnis muda yang gemar bermain Golf ini merupakan alumni Teknologi Pangan, angkatan 2005. Kesuksesan Albert dalam menjalani perusahaan manufaktur untuk bahan konstruksi yang dimilikinya yaitu PT Trimadulimas Indonesia, tidak lepas dari peran UPH sebagai universitas yang memberikan pengalaman berharga untuk dirinya. Pada Alumni Golf Event yang diadakan pada 7 November 2014 lalu di Imperial Klub Golf, Albert menceritakan pengalamannya.

Pada mulanya, Albert berniat untuk masuk ke Jurusan Teknik Sipil atau Arsitektur, tetapi karena terjadi kesalahannya dalam melingkari jurusan yang dipilih saat pengisian formulir pendaftaran, akhirnya Albert pun masuk ke Jurusan Teknologi Pangan. Setelah dicoba selama satu semester ternyata Albert menyukai pelajaran di jurusan ini, nilai yang diperoleh pun bagus dan ia memutuskan untuk meneruskannya hingga tamat. Albert juga menyelesaikan masa perkuliahannya dalam waktu yang tergolong cepat yaitu 3 tahun.
Ilmu yang diperolehnya selama berkuliah di Teknologi Pangan UPH masih diaplikasikan dalam menjalani bisnisnya. Di Teknologi Pangan kita banyak mempelajari kimia dan unsur kimia ini tidak pernah berubah. Kebetulan di industri manufaktur, kami memproduksi bahan mentah menjadi bahan siap sehingga akan bergelut dengan zat-zat kimia. Jadi ilmu-ilmu di Teknologi Pangan masih sangat terpakai sampai saat ini, jelas Albert.

Selain lingkungan dan fasilitas yang lengkap, hal yang berkesan dari UPH menurut Albert adalah UPH tidak hanya mengajarkan hard skill melainkan juga soft skill. Melalui kegiatan seperti Service Learning, mahasiswa juga diajarkan untuk bisa berinteraksi dan membangun relasi yang baik dengan orang lain. Kemampuan ini yang akan sangat diperlukan dalam dunia kerja nanti dan tidak didapatkan di dalam kelas, jelas Albert.

Kepada mahasiswa yang masih berkuliah, Albert berpesan agar giat belajar dan jangan menjadikan masa-masa berkuliah itu beban. Tujuan utama kuliah itu adalah lulus, dan untuk lulus kita harus belajar. Terkadang belajar menjadi suatu beban, sehingga membuat belajar tidak disenangi. Seharusnya kita akan mudah belajar saat otak kita relax. Jadi belajar harus dianggap seperti permainan, sehingga belajar menjadi suatu yang menyenangkan, jelas Albert.

Tahun Kelulusan: 11/06/2008
Ilmu Psikologi yang dapat diaplikasikan ke semua bidang, sangat sesuai dengan passion saya dealing with people. Ini juga yang menjadi dasar saya dalam menjalankan bisnis
Greta Bunawan
Founder Electronic Locker 'Popbox'

Ilmu Psikologi, Ilmu yang Aplikatif untuk Beragam Bidang

Alumni UPH yang satu ini berhasil membangun bisnis logistic untuk e-commers dengan nama Electronic locker Popbox. Dia adalah Greeta Bunawan, alumni Fakultas Psikologi UPH 2005, founder Electronic locker Popbox yang mendapatkan pendanaan tahap awal dari East Ventures, sebuah perusahaan investasi yang fokus memberikan pendanaan untuk startup. Pendanaan ini dimaksudkan untuk membantu ekspansi bisnis Popbox di Indonesia serta pengembangan fitur dan teknologi yang dimilikinya.

Menurut Greeta ide bisnis ini di luar negeri sudah banyak yang menjalankan contoh Amazon locker di Amerika, atau di China bisnis ini juga kini sudah menjamur. Peluang untuk binis logistic e-commers di Indonesia masih besar. Setiap hari orang belanja online dan menggunakan jasa logistic ini. Saya meyakini e-commers Indonesia akan berkembang, namun masalah infrastruktur akan menjadi bottle neck. Karena itu saya memilih menjalankan bisnis ini to solve one of the issues in evisiency in infrastructur problem. Jasa ini juga bisa mengatasi masalah time evisiensi dan problem polusi. Jadi bisa dibayangkan kurir yang sebelumnya harus mengirim ke 10 tempat yang berbeda membutuhkan waktu lebih banyak belum lagi masalah tidak ada orang yang menerima dan harus menunggu, maka waktu yang terbuang lebih banyak. Dengan jasa ini maka si kurir bisa mengirim lebih banyak barang ke satu tempat, jelas Greeta.

Bekal ilmu tentang manusia yang dipelajari saat kuliah di Psikologi UPH sangat membantu Greeta dalam pekerjaannya. Ilmu Psikologi dapat diaplikasikan ke semua bidang dan sangat sesuai dengan passion saya, yaitu dealing with people, memahami orang lain, berempati dengan rekan kerja, dan memudahkan kita adjust dengan lingkungan sekitar, tambah Greeta.

Ditambah bekal pengetahuan dan pengalaman kerja di bidang promotion dan exhibition yang pernah digelutinya, membuka wawasannya untuk melihat peluang bisnis yang akan booming di masa depan, yaitu layanan electronic locker. Electronic locker menyediakan layanan logistik berupa pick-up point pengambilan barang konsumen belanja online. Bagi merchant e-commers, layanan ini membuat pengiriman akan lebih cepat, efisein, aman, dan murah. Konsumen juga lebih mudah mengambil barang di lokasi terdekat kapan pun dengan keamanan yang terjamin. Untuk menjalankan bisnis ini, keterampilan dealing with people sangat membantu Greeta untuk menggandeng partner bisnis dan memperluas jaringan dengan para merchant.

Tahun Kelulusan: 17/06/2009
Desain web bukan sebatas baik atau jelek tapi bagaimana desain itu dapat memecahkan masalah dengan cara kreatif dan efektif
Patrick Andronicus
Creative Director of POCIX

Menciptakan Business Value Melalui Desain Web

Di usia yang relatif muda, Patrick Andronicus, lulusan Sistem Informasi, Universitas Pelita Harapan tahun 2010, telah memimpin sebuah perusahaan Creative Agency yang bergerak dibidang Web Design & Development, dan dipercaya menangani website beberapa perusahaan besar seperti Agung Podomoro Land, PT. Nutrifood, Leica Indonesia, Leks & Co Law Firm, Old Chang kee Singapore, PT. TOP Food dan Kedutaan Australia.

Bagi Patrick, desain sebuah web bukan hanya sebatas baik atau jelek, tapi bagaimana desain itu dapatmemecahkan masalah dengan cara yang kreatif dan efektif. “Melalui implementasi yang sederhana, saya menciptakan business value untuk client kami sehingga
situs yang kami rancang dapat terlihat dan berfungsi sebagaimana yang diharapkan oleh si client, jelas Patrick.

Konsep ini didapat melalui pengalamannya dalam membangun website beberapa clientnya dan juga dari ilmu yang diperoleh secara otodidak, ditambah pengetahuan di bangku kuliah. Tidak heran jika 7 penghargaan dari berbagai kompetisi desain web diperolehnya sejak di bangku SMA dan menjuarai National Logic and Programming Olympiade di tingkat provinsi pada saat kuliah.

Keberhasilannya juga diakui tidak terlepas dari dukungan networking dari teman-teman kuliahnya di UPH.

Sejak kuliah saya sudah mengerjakan pembuatan website dari beberapa client yang diperoleh dari teman- teman kuliah. Di UPH koneksi terbuka luas. Awalnya fee untuk pembuatan website saya tidak mahal, dan tidak jarang kami mendapatkan client dari perusahaan lumayan ternama. Pengalaman ini sangat berguna untuk menambah portfolio, kenangnya.

Setelah lulus ia menekuni usaha di bidang Creative Web Agency yang fokus pada jasa web design & development. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari mencari client, sampai administrasi. Patrick merintis dari menangani client-client perusahaan kecil dan
meningkat ke perusahaan besar. Salah satu client besar Agung Podomoro, awalnya ia mengerjakan satu project, karena mereka puas dengan pelayanan yang diberikan, ia dipercaya mengerjakan project-project Agung Podomoro lainnya. Setelah 2 tahun bekerja sendiri, ia memberanikan untuk membuka kantor dengan merekrut staff. Selain staff tetap ada juga beberapa karyawan partime serta mahasiswa magang dari universitas di sekitar lokasi kantor.

Untuk sukses, Patrick memegang prinsip selalu memberikan pelayanan menyeluruh dan memuaskan, perluas relasi atau networking, mengikuti perkembangan jaman dan jangan berhenti belajar. Terus belajar dan mengembangkan diri, dunia teknologi berkembang sangat cepat, kami selalu mengikuti perkembangan teknologi dan skill untuk melengkapi penguasaan tentang website development, ilmu lain juga perlu dipelajari, seperti ilmu menejemen, keuangan, dan leadership, katanya.

Sebagai alumni UPH Patrick berharap dapat memberikan kontribusi bagi almamaternya, baik dalam bentuk input di bidang web desain juga tidak menutup kemungkinan memberikan kesempatan magang kepada adik-adik kelasnya. (rh)

Tahun Kelulusan: 16/06/2010
Know what you want to achieve and set plan how to achieve that
Ricky Ho
Equity Research Analyst at Bahana Securities

Menjadi Businessman Melalui Dunia Finance

Bercita-cita menjadi businessman sejak awal, membuat Ricky memilih melanjutkan studi di Business School UPH pada tahun 2007. Ia pun mengambil program studi Manajemen dengan konsentrasi Applied Finance. Terbukti, Ricky sukses menjalani karir di bidang finance, mulai dari perusahaan saham hingga saat ini di Bahana Securities.

Saat kuliah di UPH selama 3,5 tahun, Ricky menilai para dosen sangat membantunya. Kelebihan UPH lainnya adalah lingkungan yang tenang untuk memberikan banyak energi dalam belajar. Sehingga ia bias bukan hanya berfokus pada teori, tapi juga mempraktekkannya. Terbukti, ia berhasil lulus dengan predikat magna cumlaude dengan IPK 3.85.

Tahun Kelulusan: 16/06/2011
Bagi saya kepuasan dalam karir tidak melulu menganai materi, tetapi ketika hobi dapat menjadi pekerjaan sekaligus dapat membantu banyak orang
Jessica Mareta Tanavin
Owner Online Cakery Shop Mamelaide

Mendapatkan Kepuasan Lewat Memberdayakan Potensi Diri

Memberdayakan potensi diri, itulah gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan Jessica Mareta Tanavin, pemilik Online Cakery Shop Mamelaide. Alumni DKV UPH angkatan 2007 ini berkiprah di bisnis cakery sejak 2013. Meskipun pemain baru, namun semangatnya untuk berbisnis cukup unik. Membantu orang lain, itulah prinsip yang selalu dipeganggnya.

Berawal dari niat untuk membantu pencarian dana dengan membuat pudding, kini usaha kuliner Jessica berkembang ke produk cakery. Bersama dua orang temannya Jessica membuat kue yang tidak hanya cantik tapi juga sehat dengan bahan-bahan yang berkualitas. Lahirlah Mamalaide, yang berasal dari bahasa Jepang, Mame berarti Healthy atau sehat dan Laide yaitu Homely atau sederhana.

Sebagai pencetus Mamalaide Cakery, Jessica mengaku belajar otodidak untuk membuat kue. Hobi memasak sudah ia tekuni sejak SMP. Ditambah dengan bekal ilmu desain dan networking yang didapat selama kuliah, menjadi modal bagi Jessica untuk menjalankan bisnis ini bersama dua rekannya.

Awalnya Jessica seorang yang pemalu. Namu pengalaman selama kuliah membentuknya menjadi pribadi pekerja keras, kreatif, mandiri dan disiplin. Menjalani kuliah selama empat tahun di jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Pelita Harapan (UPH), Jessica mengaku mempelejari banyak hal dari sisi akademik maupun non-akademik. Prinsipnya kuliah bukan hanya untuk mencari nilai tetapi juga untuk membentuk diri agar siap terjun ke masyarakat. Karenanya ia aktif di berbagai kegiatan kampus seperti MPM, SFS, UPH Choir, dan kerohanian. Hal ini menuntut Jessica melatih untuk bekerja lebih keras.

Baginya, kesulitan dalam belajar tidak menjadi masalah karena di UPH ia menemukan dosen yang selalu bersedia membantu dan membimbing, teman-teman yang selalu mendukung dan juga fasilitas kampus yang sangat membantu proses belajar.

Setelah lulus, tidak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan sebelum luluspun ia sudah mendapat tawaran untuk bekerja di tempat magangnya. Namun dorongan untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya menggiring dia membangun usaha di bidang cakery Mamelaide sejak tahun 2013. Sesuai dengan namanya Mamelaide hadir dengan konsep kue no fat yaitu tanpa telur, gula dan mentega. Awalnya ada keraguan terhadap respon pasar yang kurang menerima. Namun dengan promosi yang baik melalui media online serta mengedukasi pasar tentang produk makanan yang sehat dan no fat, lama kelamaan mulai mendapatkan respon yang baik dari pasar.

Tahun 2014 Mamelaide dilirik oleh sebuah toko, dan mendapat respon pasar yang bagus. Namun pemasaran tetap fokus by online saja. Ungkap Jessica.

Jessica mengaku puas dengan apa yang dia kerjakan saat ini. Bagi Jessica kepuasan dalam bekerja tidak melulu soal materi. Ia sangat puas jika orang-orang senang dengan produknya dan dapat menolong orang-orang yang ingin menikmati kue tetapi tidak bisa mengonsumsi gula terlalu banyak dengan memproduksi kue yang no fat ini.

Saat ini Mamelaide semakin disukai pasar, Jessica dan rekannya mendapatkan permintaan yang bertambah banyak. Seiring berjalannya waktu mulai ada permintaan untuk kue custom dari pembeli. “Sempet bingung, tapi beruntungnya karena aku belajar desain, jadi ilmu yang aku dapat waktu kuliah aku coba terapkan pada saat mendekor kue, puji Tuhan bisa. Tandas Jessica. Ia juga bercerita bahwa sejak kuliah dosennya banyak yang mengatakan bahwa dunia kerja desain itu sangat luas, namun ia juga kaget ternyata di bidang Cakery pun ilmu desain bisa diterapkan.

Sebagai pelaku bisnis online, Jessica mengoptimalkan social media untuk memasarkan produknya, seperti Instagram, facebook dan lain-lain. Khusus untuk special cake seperti wedding cake, biasanya harus ada meeting dengan client. Ke depan Jessica berencana untuk memperbesar kapasitas, yaitu untuk membuat regular cake dan special event seperti wedding cake. Untuk menjaga kualitas kue, semua produksi dilakukan oleh Jessica dan dua orang rekannya sendiri.

Belajar sungguh-sungguh pada masa kuliah, gali potensi sebanyak-banyaknya dan disiplin, merupakan prinsip yang selalu saya pegang sejak kuliah.

Dalam memilih jurusan kuliah pertama, kenali diri sendiri dan bidang apa yang disukai. Kemudian tentukan tujuan hidup, apa yang diinginkan untuk dijadikan profesi di masa depan. Terakhir, harus bertanggung jawab dengan pilihan yang dipilih, tahan banting dan terus mau belajar . Di atas ketiga hal ini yang terutama dan terpenting juga adalah menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Bagi saya kepuasan dalam karir tidak melulu menganai materi, tetapi ketika hobi dapat menjadi pekerjaan sekaligus dapat membantu banyak orang dan mendapatkan penghasilan.

Tahun Kelulusan: 15/06/2011
Saya banyak terinspirasi dari dosen yang juga praktisi di UPH, jadi tahu kondisi lapangan kerja yang akan kita jalani dan bagaimana teori dapat diaplikasikan.
Elsya Jonathan
Account Manager DM ID Group

Sukses Berkarier Dimulai dari Memilih Prodi yang Tepat

Selain berkat dosen praktisi, kesempatan magang juga sangat membantu Elsya semakin mengenal dan menyukai bidang marketing communication. Baginya, magang bukan sekedar untuk mencari nilai, melainkan kesempatan untuk belajar dan mengaplikasikan teori yang didapat di kelas.

Elsya menegaskan bahwa kesempatan magang sangat berharga. Karenanya harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh dan benar-benar aktif. Cari dan gali ilmu sebanyak-banyaknya.

Diakuinya dulu saat ia magang, perusahaan memandang kami sangat aktif dan bertanggung jawab. Perusahaan menaruh kepercayaan yang besar bagi para lulusan UPH. Ini harus terus dijaga. Sekarang, Elsya serius meniti karier di bidang marketing / branding dan kariernya berkembang pesat. Hal yang ia pelajari dari pengalaman ini adalah “commited to small things”  yang akhirnya mengantar dirinya untuk dipercaya mengerjakan proyek-proyek besar.

Tahun Kelulusan: 15/12/2011
Studi mengenai IMC di UPH, dibekali dengan teori dan ilmu praktis. Hasilnya, Lulusan UPH dipercaya dalam industri kreatif dan pemasaran
Richie Wirjan
Founder, CEO Credens Strategic Branding

Sukses Berkarier Dimulai dari Memilih Prodi yang Tepat

Bagi Richie hidup bukan hanya untuk diri sendiri tapi mampu berkontribusi kepada sekitar kita. Ini prinsip yang terus dibawanya hingga ia menjadi Founder & Strategy Director Credens Strategic Branding. Fokusnya adalah membawa Credens menjadi agensi yang fokus dalam mengarahkan dan merubah visi serta tujuan dari para klien terkait brand usaha mereka dengan memberikan strategi pengelolaan brand hingga ide-ide taktis.

Bagi Richie bekerja sebagai konsultan dapat memperbesar kapasitasnya karena ia harus mendalami beragam industri dan klien. Kariernya di industri kreatif berawal dari kesempatannya untuk magang di sebuah Advertising Agency bernama One Comm Indonesia Dialogue. Ketika magang, ia benar-benar belajar banyak hal yang terkait dengan IMC, ilmu yang dipelajarinya di Program Studi Ilmu Komunikasi. Tidak hanya itu menurutnya dengan mendapat ilmu praktis saat berkuliah, menjadikan mahasiswa dipercaya dalam industri kreatif dan pemasaran.

Tahun Kelulusan: 09/06/2011
Michael Sutedjo
Project Supervisor di PT Lippo Karawaci Tbk

Perlu Goal yang Jelas untuk Sukses

Michael Sutedjo meyakini bahwa memiliki goal atau sasaran yang jelas merupakan hal penting untuk sukses. Saat ini Michael telah berprofesi sebagai Project Supervisor di PT Lippo Karawaci Tbk Sejak 2015. Sebelumnya ia juga pernah bekerja sebagai konsultan di PT Wiratman Jakarta. Tidak lama setelahnya ia bergabung dengan sebuah kontraktor kecil dan memberinya kesempatan untuk terus belajar.

Perkembangan kariernya saat ini diakuinya tidak terlepas dari pengalaman berkuliah di UPH. Menurutnya, materi pelajaran yang diberikan di UPH tidak kalah dari universitas lain. Yang menjadi keunggulan adalah banyaknya koneksi yang didapat, karena banyak teman yang bekerja di berbagai tempat dan tidak pelit dalam berbagi informasi.

Kedepannya Michael ingin naik level menjadi Project Manager, tapi ia berprinsip apa pun yang dikerjakan dirinya tetap harus mampu menjadi pribadi bertanggung jawab.

Tahun Kelulusan: 16/06/2011
Menjadi sukses dengan perusahaan sendiri, tidak terlepas dari peran UPH selama saya berkuliah dulu
Jane Nathalia
Art Director PT IOOR Studio Indonesia

Tularkan Semangat Entrepreneurship Pada Interior Designer Muda

Jane Nathalia, alumni UPH dengan jiwa entrepreneurship yang berinisiatif membangun perushaannya sendiri. 2012, ia resmi mendirikan PT IOOR Studio, perushaan interior konsultan bersama 2 alumni Desain interior lainnya. Hingga akhirnya di 2017 Jane juga membuat sister company, HOOM sebagai perusahaan yang spesifik menangani interior home living. Sedangkan IOOR fokus pada interior public space, komersil, dan hospitality.

Bagi Jane, pencapaian ini tidak lepas dari peran UPH yang mengajarkannya konsep perencanaan interior. Itulah yang menjadi pondasinya dalam bekerja. UPH juga mengajarkan nilai Ketuhanan dan terus menjadi pegangan Jane, yaitu apapun yang kita dapatkan asalnya dari Tuhan.

Tahun Kelulusan: 11/06/2010
Peluang karier di dunia IT masih terbuka lebar. Kita harus kreatif dan selalu mengupdate skill agar dapat mengikuti perkembangan teknologi
M. Tesar Sandikapura
CEO dan Founder liteBIG Messenger

Berfikir Kreatif dan Beradaptasi dengan Perkembangan Teknologi

Ditengah-tengah ketenaran aplikasi global, seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn, yang digunakan pengguna Internet di Indonesia yang jumlahnya cukup tinggi, kini bermunculan aplikasi-aplikasi lokal karya anak bangsa. Salah satunya aplikasi ‘LiteBIG Messenger’ yang dikembangkan M. Tesar Sandikapura, alumni Magister Teknik Elektro UPH tahun 2009.

Pendidikan memberinya tidak hanya pengetahuan tetapi juga pengalaman berharga. Dengan mengambil kuliah di S2 Teknik Elektro mampu mendukung kemampuan saya dalam belajar programming juga coding. Saya juga belajar membangun teamwork dan kerjasama networking yang baik. Melalui para dosen yang juga para praktisi saya dapat belajar dari pengalaman mereka, bahwa teknologi yang umum kita pakai sekarang ini ternyata adalah hasil riset para ilmuwan sekitar 5-10 tahun ke belakang. Artinya jika kita ingin tahu apa teknologi sekitar 5-10 Tahun kedepan, harus banyak membaca jurnal ilmiah internasional, sehingga kita dapat terus terupdate dengan segala macam peneliti didunia, kesan Tesar pada almamaternya Magister Teknik Elektro UPH.
Tesar yang dikenal sebagai seorang IT profesional, selalu berpikir kreatif dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Ketekunannya membuahkan penghargaan sebagai Rising Star pada tahun 2010.
Memulai karier sebagai IT Supervisor, programmer, system analyst, hingga dipercaya sebagai Team Leader for UAT Team (GSM Operator HCPT 3). Tesar tidak pernah menyerah mengejar mimpi-mimpinya.

Bermodal kemauan untuk terus belajar dan berkembang, serta kemampuan komunikasi yang sangat baik menjadikannya sebagai asset yang berharga bagi perusahaan dimana ia bergabung.
Profesionalitas dalam kepemimpinan dan penguasaannya di bidang IT mengantarnya menjadi startup yang berhasil mengusung LiteBIG menjadi salah satu aplikasi lokal yang patut diperhitungkan.

Baginya kesuksesan harus disertai dengan tindakan untuk memberi manfaat bagi banyak orang. Tak jarang ia membagikan pengalaman dan pengetahuannya kepada rekan-rekan mahasiswa dan memberikan motivasi untuk maju dan berkembang.

Dalam kesempatan kuliah tamu kepada mahasiswa Teknik Elektro di kampus UPH, Tesar memberikan tips-tips dalam membangun bisnis teknologi dan perjuangan dalam memasuki pasar. Ia mengajak mahasiswa untuk menyadari bahwa dalam membangun sebuah usaha tidak hanya kemampuan yang dibutuhkan tapi juga karakter yang baik sebagai modal.

Tesar dan tim terus mengembangkan aplikasinya. Di akhir tahun 2015 Tesar kembali meraih penghargaan Liga Digital 2015 kategori komunikasi/sosial media, dalam kompetisi bertema Mobile Developers Gathering (MDG) yang diadakan APJII.

Penghargaan yang diraih Tesar, mengangkat aplikasi LiteBIG untuk bersaing dengan aplikasi global. Upaya tersebut didukung APJII bersama pihak lainnya seperti Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (Mikti), Klik Indonesia, dan Teknopreneur Indonesia, yang mengupayakan untuk menggenjot aplikasi lokal yang bisa diperhitungkan dan bersaing dengan aplikasi global.

Peluang karier di dunia IT masih terbuka lebar. Kita harus kreatif dan selalu mengupdate skill agar dapat mengikuti perkembangan teknologi, kata Tesar seraya berharap aplikasi LiteBIG yang diusungnya dapat menyaingi aplikasi sejenis yang sudah ada. (RH)

Tahun Kelulusan: 16/06/2011
Jangan pernah takut memulai bisnis sejak kuliah karena waktu kuliah adlah waktu yang paling tepat
Michael Surjono
Owner PAPER BAG

Kuliah di Program Studi Manajemen Mengajarkan Cara Berpikir

Michael Surjono mengajak anak muda untuk membangun bisnis sejak kuliah, sama seperti dirinya. Alumni Manajemen UPH ini telah berhasil membuat bisnis makanan Paper Bag. Momen UPH Festival merupakan sarana yang ia manfaatkan untuk mengenalkan bisnisnya ini kepada masyarakat.

Ia mengaku bahwa pengetahuan yang ia dapatkan selama berkuliah membawa dampak besar bagi perkembangan bisnisnya. Ilmu manajemen seperti tentang Brand Management sangat terpakai hingga saat ini. Peran dosen yang profesional dan ahli di bidangnya juga semakin memberikan tambahan ilmu bagi Michael.

Tahun Kelulusan:
FISIP UPH membuka wawasan dan memperlengkapi saya untuk memiliki ketrampilan di industri media. Saya bangga menjadi orang Indonesia pertama sebagai TV host di E! News Asia
Elizabeth Rahajeng
TV Host and Fashion & Lifestyle Blogger TV Host E!News Asia

Passion Sebagai Pondasi Mengejar Mimpi, Jadi Orang Indonesia Pertama Sebagai Tv Host E! News Asia

Satu kebanggan tersendiri bagi Elizabeth ketika ia menjadi orang Indonesia pertama sebagai TV Host di E! News Asia. Elizabeth mengaku memang memiliki passion di bidang fashion sejak muda, dan passionnya ini mendorongnya untuk terus mengembangkan diri. Beberapa pengalamannya antara lain menjadi head stylist di Surabaya Fashion Parade 2015 dan Jakarta Fashion Week 2016. Bahkan kini ini telah menajdi salah satu Fashion Bloger terkemuka dan influencer di dunia digital. Elizabeth bersama Maria, saudara kembarnya juga telah menulis buku Becoming Unstoppable.

Apa yang dicapai Elizabeth merupakan buah dari passion-nya. Pengalaman kuliah hingga terjun ke dunia karier yang membuatnya semakin mengenal diri sendiri. Studi di UPH sangat mempersiapkan saya terjun di industri media, ia juga dilatih untuk menjadi pribadi yang tekun dan disiplin.

Tahun Kelulusan: 12/06/2013
Salah satu yang paling saya sukai saat kuliah di Business School UPH adalah komunitasnya yang luas yang berguna untuk membangun koneksi
Stevanus Guntur
Founder Denim n Reality dan Operations Manager Pangestu

Bisnis Pekerjaan yang Mulia

Tumbuh di lingkungan keluarga pengusaha, sangat mempengaruhi minat Stevanus Guntur, alumni Menejemen Business School UPH 2010, untuk mencoba terjun ke dunia bisnis sejak remaja. Niat ini pula yang menjadi alasan dia memilih Jurusan Menejemen, Business School UPH. Pilihan jurusan memang sesuai dengan keingan saya dari dulu untuk berwirausaha. Sedangkan pilihan ke UPH karena rekomendasi koko saya, yang sudah lebih dulu masuk, aku Guntur.

Salah satu yang paling disukai Stevanus saat kuliah di Business School UPH adalah teman-teman atau komunitasnya. Teman-teman saya banyak dari anak-anak pengusaha. Jadi pembicaraan kami tidak jauh-jauh dari bisnis. Dalam bisnis koneksi sangat penting. Jadi target saya kalau lulus bisa punya relasi yang dari kalangan keluarga pebisnis, katanya.

Pilihan kuliah di UPH diakuinya memang tepat. Selain dari komunitasnya, dia juga sangat menikmati fasilitas yang tersedia di kampus dan dosen-dosen yang bagus. Sejak di awal kuliah ia juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, seperti BEM, HMJ dan kegiatan kerohanian. Di sela-sela kesibukannya, ia tetap menyempatkan diri berbisnis.
Bisnis, pertemanan, kegiatan kemahasiswaan, dan lain-lain, sangat dinikmatinya. Aktivitas-aktivitas inilah yang membuat masa kuliah jadi nikmat dan tidak membosankan.

Awalnya saya jadi sales obat diet dan ternyata berhasil. Dari situ saya bisa nabung. Saat temen saya mengajak berbisnis, saya menyambut antusias. Alasan saya waktu itu, saya punya modal sendiri, tidak mengganggu cash flow orang tua, dan msih muda. Jadi kalau gagal tidak terlalu beresiko, papar Stevanus sambil mengakui tidak pernah terpikir akan terjun ke bisnis jeans.

Pokoknya yang waktu itu saya pikirkan bagaimana berbisnis. Jadi bidangnya apa saja tidak masalah. Setelah saya jalani baru saya pelajari lebih dalam tentang produknya, dan ternyata menarik, jelasnya. Menurutnya bidang usaha bukan menjadi hal utama dalam memulai bisnis. Yang penting bagaimana mengusahakan apa yang ada untuk mendapatkan profit.

Produk jeans yang dipasarkan Stevanus bermerek Denimnreality atau dikenal dengan DNR. Dibalik nama itu ada harapan untuk menjadikan DNR sebagai realita bagi kawula muda yang menggunakannya. Ide ini muncul dari kolaborasi Stevanus dan kedua rekan kuliahnya Brian Sumito (Ilmu Komunikasi 2010) dan Andra Ramadhan (Desain Komunikasi Visual 2009).

Ia mengaku bisnisnya sangat terbantu dengan dukungan teman-teman di kampus. Strategi direct selling dan penjualan online sangat efektif. Event-event yang ada di kampus UPH diakui Stevanus menjadi ajang uji coba untuk para pebisnis pemula.

Keberhasilannya memasarkan DNR membuahkan kepercayaan orang tua untuk menjalankan bisnis keluarga. Bagi saya bisnis adalah pekerjaan mulia. Karena dalam sebuah bisnis kita bertanggung jawab pada banyak keluarga. Jadi saya harus mengusahakan perusahaan agar running well supaya bisa mensejahterakan karyawan, jelasnya.

Saat ini DNR dilanjutkan kedua rekan bisnisnya. Sementara Stevanus memfokuskan diri untuk mengembangkan bisnis keluarga pada bisnis makanan oleh-oleh khas Cirebon. Tantangan terbesar sebagai suksesor tidak hanya membuat usaha orang tua bisa berjalan, tetapi bagaimana supaya bisa berkembang, katanya dengan tegas.

Berbekal pengalaman, ia menggunakan strategi pemasaran modern, untuk memsarkan produk oleh-oleh makanan khas Cirebon, diantaranya networkning dengan berbagai pihak seperti bisnis travel, hotel, asosiasi pariwisata, usaha transportasi dll. Dengan cara ini omset bisa ditingkatkan 50-100%. Saat ini Pangestu masuk sebagai 3 besar toko oleh-oleh tradisional Cirebon. Ia terus mengupayakan peningkatan kualitas produk dengan mesin pengolahan modern dan merambah ke pasar internasional.

Tahun Kelulusan: 11/06/2014
Bioteknologi itu ilmu baru yang menarik dan terus berkembang, sehingga peluang kariernya pun terbuka lebar
Diana Priyatno
Research Assistant pada Mochtar Riady Institute for Nanotechnology ( MRIN)

Pekerjaan di bidang riset sangat menarik

Menjadi peneliti memang pekerjaan yang diidamkan Diana Priyatno, alumni Bioteknologi UPH 2010. Ia sangat bersyukur setelah lulus, diterima sebagai assitent researcher di Mochtar Riady Intitute for Nanotechnology (MRIN). Saat ini ia ditempatkan pada divisi proteomik, dan menangani projek sel kanker pada usus besar. Aktivitasnya fokus pada penelitian perkembangan sel kanker dan cara untuk menghambat pertumbuhan sel tersebut.

Pekerjaan di bidang riset buat saya sangat menarik dan selalu bervariasi setiap hari. Mochtar Riady Intitute for Nanotechnology (MRIN) memiliki peralatan yang sangat lengkap dan tim riset yang bagus, sehingga menambah pengetahuan dan kemampuan saya di bidang riset, ungkapnya.

Ia mengaku pertama kali kenal dengan Bioteknologi UPH saat ada edu fair di sekolahnya, SMA Santa Ursula Jakarta. Saat saya mencari informasi, ternyata ada jalur beasiswa, dan saya mendapatkan beasiswa di Jurusan Bioteknologi UPH, katanya.

Bagi Diana, Bioteknologi tergolong ilmu baru yang sangat menarik dan terus berkembang. Jurusan ini sesuai dengan minatnya yang menyukai ilmu biologi dan berhubungan dengan dunia medis.

Universitas Pelita Harapan merupakan salah satu kampus swasta di Indonesia yang menawarkan peminatan Bioteknologi. Konsep pembelajaran program Bioteknologi UPH tak hanya fokus pada materi, tetapi juga mengajarkan transferable skill. Diantaranya melalui proses belajar dengan tutorial, yakni mahasiswa diberikan studi mandiri dengan kasus terkait bahan kuliah. Riset menjadi kegiatan utama program Bioteknologi UPH. Kampus ini juga memiliki fasilitas riset yang sangat memadai. Integrasi antara UPH dengan pusat riset Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) memberikan benefit bagi mahasiswa bioteknologi UPH dalam melakukan praktikum dan riset.

Hasilnya terlihat dari kemampuan mahasiswa Bioteknologi UPH yang unggul dalam berbagai berkompetisi dan dalam bidang riset. Diana sudah membuktikan.

Secara umum kuliah di Bioteknologi UPH sesuai dengan harapan saya. Dosen-dosen pengajar di jurusan Bioteknologi UPH sangat ahli dan berpengalaman di bidangnya. Saya mendapatkan ilmu dan juga kesempatan untuk melakukan riset-riset yang memperkuat ilmu yang dipelajari. Peralatan lab yang tersedia cukup memadai sehingga sangat membantu proses belajar, jelas Diana.

Tahun Kelulusan: 12/06/2014
UPH mendukung proses pembelajaran melalui fasilitas, dosen yang mendorong pengembangan diri, dan Ketika berkuliah saya bebas mengeksplorasi kesukaan saya di dunia furniture
Cynthia Margareth
Heaf of Design - Kayunara

Idealis Tapi Tetap Realistis

Menurut Cynthia untuk meraih kesuksesan, menurutnya setiap orang harus idealis tapi tetap realistis. Artinya harus punya prinsip, tapi harus tetap realistis dan tidak mengawang-awang.

Alumni Program Studi Desain Produk UPH tahun 2010 ini bekerja di sebuah perusahaan furniture, Kayunara, sebagai Head of Design. Dengan posisinay ia berkesempatan mengembangkan skill, bukan hanya mendesain tapi juga membuat sketsa ide, membuat prototype, menangani manajemen perusahaan, sampai terjun dalam proses produksi. Kayunara sendiri, tiap tahun mengeluarkan produk terbaru yang dipamerkan di CASA Indonesia.

Dengan pengalamannya, Cynthia menambahkan bahwa untuk jadi sukses harus punya target. Jangan setengah, tareget pertama selesai baru cari target baru. Semua butuh proses dan jangan pernah berhenti belajar.

Tahun Kelulusan: 13/06/2014
Inisiatif dan kreatif, merupakan softskills yang saya dapat dari UPH. Pengalaman berharga di UPH menjadi modal saya bekerja
Elroy Y. Setiabudi
Senior Mobile Software Engineer (Android) di Style Theory

UPH membekali Softskill Untuk Terjun ke Dunia Profesi

Memahami logika matematika dan belajar konsep programming, sudah diminati Elroy Y Setiabudi, alumni Fakultas Ilmu Komputer (FIK) UPH 2011, sejak memasuki kuliah. Pilihan Elroy pada bidang teknik informatika dibarengi dengan harapan untuk memperoleh karir yang menjajikan di dunia software engineering. Universitas Pelita Harapan (UPH) menjadi pilihan tidak hanya untuk mendapatkan ilmu secara akademik tetapi juga softskill. Alasannya memilih UPH didukung dengan fasilitas kampus yang lengkap dan mendukung proses belajar, serta lingkungan kampus yang aman dan nyaman. Tekadnya disertai dengan aktifitas di kelas maupun di luar kelas dan membuahkan hasil yang membanggakan.

Saat ini Elroy bekerja sebagai Product Manager di Bridestory, salah satu platform wedding terbesar di dunia. Pekerjaannya adalah merancang salah satu produk dari Bridestory, yaitu aplikasi mobile (iOS dan Android). Dalam pekerjaan ini saya harus dapat melihat kebutuhan user dan juga sisi bisnis yang kemudian diimplementasikan ke dalam pengembangan aplikasi dengan mempertimbangkan sisi user experience dan isu teknikal, jelas Elroy.

Selama kuliah, saya telah mengembangkan beberapa proyek pada beberapa bahasa pemrograman. Saya juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan di kampus maupun di luar kampus. Semua aktifitas yang saya ikuti baik di kelas maupun di luar kelas sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan akademik dan non-akademik, tambahnya.

Sebagai alumni Teknik Informatika UPH, Elroy mengaku mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman, baik dari para dosen yang ahli di bidangnya dan juga melalui organisasi kemahasiswaan yang diikuti. Saya bersyukur bertemu dengan banyak orang di UPH yang membukakan wawasan saya lebih lagi. Semua pengalaman ini membuat saya memiliki dasar saat bekerja, yaitu inisiatif, hubungan interpersonal, kritis, dan kreatif. Semoga FIK UPH semakin maju dan menghasilkan lulusan yang semakin berkualitas. (RH)

Tahun Kelulusan: 12/06/2015
Saya berharap UPH terus melakukan apa yang dilakukannya: menumbuhkan orang-orang yang akan unggul dalam karier dan kehidupan mereka.
Desiree Tan
Digital Audit Senior Associate at PwC UK

Peluang untuk Mengubah Hidup

“Perkuliahan di UPH sungguh membentuk peranan terbesar dalam karier saya.” Hal ini diungkapkan oleh Desiree, salah satu alumni dari Program Studi Akuntansi UPH angkatan 2011. Ia melanjutkan bahwa kesempatannya berkuliah dan aktif dalam organisasi di UPH membantu Desiree untuk membangun hubungan dengan orang-orang yang sangat inspiratif dan mendukung, baik dosen maupun teman. Saat ini Desiree berkarir di Price Waterhouse Cooper (PWC) UK sebagai Digital Audit Senior Associate di mana sebelumnya ia memulai berkarirnya di PwC Indonesia selama setahun dari tahun 2014.

Bagi alumni yang memiliki lesung pipi ini, kegiatan yang diadakan oleh kampus memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan diri yang kemudian meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan berbicara di depan umum. Selama masa perkuliahan, Desiree aktif dalam berbagai kompetisi dan berhasil mendapat penghargaan, di antaranya: 2nd Runner-Up of Miss UPH Scholar 2012, Miss Accounting UPH 2014, 3rd Place Accounting Olympiad 2014, 3rd Place CPA Australia Accounting Competition 2014, dan 2nd Place National Accounting Battle ALESCO 2014.

“Momen saya yang paling mengesankan adalah mewakili Akuntansi untuk Miss UPH pada tahun 2012, bergabung dengan berbagai kompetisi Akuntansi dan tentu saja menjadi generasi pertama. Jika saya harus merangkum pengalaman saya belajar di UPH, tempat tersebut adalah kampus yang indah, banyak orang-orang yang mendukung, dan ada banyak peluang yang mengubah hidup. Saya berharap UPH terus melakukan apa yang dilakukannya: menumbuhkan orang-orang yang akan unggul dalam karier dan kehidupan mereka.”

Tahun Kelulusan: 12/06/2014
Teknik Industri UPH membentuk saya menjadi tangguh, karena untuk berhasil lulus kuliah harus berjuang sekuat tenaga. Ini juga yang diperlukan saya untuk jadi pemimpin perusahaan
Maulida Purnama Siwi
Owner PT Sukses Makmur, Makassar

Teknik Industri UPH Membuat Saya Jadi Wanita Tangguh

Berkeinginan untuk membuka perusahaannya sendiri menjadi alasan Maulida memilih Teknik Industri. Setelah ia lulus dari UPH, Maulida melanjutkan studi S2 di Monash University Melbourne jurusan Business Statistics.

Berbagai pelajaran yang didapatkan, baik di UPH maupun Monash, membekalinya lebih banyak pengetahuan untuk terjun di dunia industri. Saat ini Maulida sedang membangun perusahaannya yang bergerak di bidang produksi kapur aktif sekaligus juga turut mengembangkan usaha ayahnya di bidang Pakan Ternak di Makassar. Dimana ia bertugas untuk merapaikan manajemen dan sistem keuangannya.

Maulida mengakui, Teknik Industri UPH membuatnya belajar banyak ilmu baik akuntansi, critical thinking, psikologi industri, dan lainnya yang mampu membantunya mengelola perusahaan. Ditambah peran dosen UPH yang mendukungnya.

Tahun Kelulusan: 12/06/2015