01/12/2025 Achievements, Law
Seiring berkembangnya industri pariwisata, pengelolaan limbah plastik sekali pakai masih menjadi tantangan dan membutuhkan solusi kebijakan konkret yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Menjawab urgensi tersebut, empat mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH) angkatan 2024 merancang solusi legislasi (kebijakan) berbasis keberlanjutan yang mendapat pengakuan internasional. Gagasan ini berhasil mengantarkan tim FH UPH meraih penghargaan Best Written Submission dan Runner-Up Legislative Proposal dalam ajang UNITWIN (University Twinning and Networking) Legislative Camp & Competition 2025 yang berlangsung pada 10–15 November 2025. Selain capaian tim, prestasi individu juga diraih Valerie yang dinobatkan sebagai 3rd Best Oralist dan Ruben sebagai penerima penghargaan Best Teamwork.
UNITWIN Legislative Camp & Competition merupakan program internasional bergengsi yang digelar oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mempertemukan mahasiswa hukum dari lima universitas di lima negara, yakni Handong Global University (Korea Selatan), Thammasat University (Thailand), Royal University of Law and Economics (Kamboja), Kathmandu School of Law (Nepal), serta UPH (Indonesia). Mengusung tema “Responsible Tourism & Sustainability”, ajang ini mensimulasikan proses legislasi lintas negara melalui kasus hukum fiktif mengenai negara Atlantis yang tengah menghadapi krisis pariwisata dan lingkungan.
“Proposal yang kami ajukan menggunakan pendekatan regulasi yang realistis dan kolaboratif. Alih-alih menerapkan larangan total, kami merancang skema pengurangan plastik sekali pakai secara bertahap dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelaku industri perhotelan, pemerintah, hingga pengelola sampah. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai dokumen hukum, tetapi dapat benar-benar diterapkan,” ujar Verlyn Adelaide Tzuriel Shillo selaku Ketua Delegasi.
Pendekatan tersebut tidak hanya memperkaya kualitas proposal, tetapi juga menjadi pengalaman pembelajaran bermakna bagi mahasiswa. Ruben mengungkapkan bahwa UNITWIN melatih cara berpikir layaknya seorang legislator.
“Kami belajar menyusun norma, mempertahankan argumen, sekaligus bekerja dalam tim lintas budaya. Semua teori yang kami pelajari di kelas terasa hidup ketika diuji dalam diskusi dan simulasi legislasi,” kata Ruben.
Pengalaman serupa juga dirasakan anggota tim lainnya. Valerie dan Livia menilai ajang ini memperluas perspektif mereka tentang peran hukum dalam konteks kolaborasi lintas negara dan isu global.
Di balik capaian tersebut, tim FH UPH telah melalui proses persiapan yang komprehensif. Untuk memastikan gagasan yang diajukan berdasar dan aplikatif, mereka melakukan riset lintas disiplin melalui wawancara mendalam dengan berbagai akademisi dan praktisi, termasuk Prof. Dr. Diena Mutiara Lemy, A.Par., M.M., CHE selaku Dekan Fakultas Pariwisata UPH, serta Dr. Taufiq Supriadi dari PT Sirkular Saka Indonesia, salah satu perusahaan solusi ekonomi sirkular yang berfokus pada pengelolaan sampah kemasan plastik, khususnya Multilayer Plastic (MLP). Dukungan juga datang dari praktisi lapangan seperti Teguh Suripto (Administrasi TPA Rawa Kucing), Edy Winoto (Kepala Bank Sampah Sumber Mutiara), dan Syaifuddin (Kepala Bank Sampah 102).
Proses persiapan yang matang tersebut turut didukung oleh pendampingan akademik terarah oleh Jerry Shalmont, S.H., M.H., selaku Wakil Ketua Program Studi Hukum UPH dan dosen pembimbing, serta para alumni FH UPH.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FH UPH tidak hanya mampu memahami teori hukum, tetapi juga dapat menerjemahkannya menjadi solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan. Proses riset, diskusi kritis, dan kerja tim yang mereka jalani mencerminkan pembelajaran hukum yang kontekstual dan berorientasi pada dampak,” jelas Jerry.
Keberhasilan tim FH UPH ini mencerminkan komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan yang mendorong mahasiswa memperoleh pengalaman belajar holistis, termasuk melalui partisipasi aktif dalam kompetisi berskala internasional. Pengalaman tersebut berperan penting dalam membentuk pola pikir kritis, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi. Melalui kurikulum yang menyeluruh, unggul, dan transformasional, serta dukungan berkelanjutan terhadap pengembangan mahasiswa, UPH berkomitmen melahirkan lulusan yang takut akan Tuhan, profesional, dan siap membawa dampak bagi masyarakat dan bangsa.