NEWS & PUBLICATION

Bisakah Sel dalam Tubuh Diprogram Ulang? Kuliah Tamu UPH dan Tsinghua University Bahas Potensi iPSC bagi Dunia Kesehatan

30/09/2026 Health Sciences

Bisakah Sel dalam Tubuh Diprogram Ulang? Kuliah Tamu UPH dan Tsinghua University Bahas Potensi iPSC bagi Dunia Kesehatan

Bagaimana jika sel tubuh manusia dapat diprogram ulang menjadi jenis sel lain untuk membantu memahami penyakit dan mengembangkan pengobatan di masa depan? Teknologi induced pluripotent stem cells (iPSC) membuka peluang tersebut dengan memanfaatkan sel tubuh, seperti sel kulit atau darah, yang diprogram ulang menjadi sel punca dan kemudian dikembangkan menjadi berbagai jenis sel lainnya.

Potensi tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam International Guest Lecture yang diselenggarakan Universitas Pelita Harapan (UPH) pada 18 September 2026 di Ruang 201, Gedung Fakultas Kedokteran (FK) UPH, Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Kuliah tamu ini menghadirkan Prof. Jie Na, Ph.D., peneliti dari School of Medicine, Tsinghua University, Tiongkok, dan diikuti oleh lebih dari 300 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan FK UPH.

Dalam kuliah bertajuk “Reimagining Medicine: The Power of Induced Pluripotent Stem Cells (iPSCs) Technology and Precision Medicine”, Prof. Jie Na menjelaskan perkembangan iPSC serta potensinya dalam penelitian kesehatan.

“Kita dapat mengambil sel tubuh yang memiliki fungsi tertentu, seperti sel kulit atau sel darah, lalu memprogramnya kembali menjadi sel punca. Sel tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis sel lain, seperti sel saraf, sel otot, sel usus, sel penghasil hormon, dan jenis sel lainnya, sehingga membuka peluang baru untuk mempelajari penyakit dan mengembangkan pengobatan di masa depan,” jelas Prof. Jie Na.

Teknologi tersebut memungkinkan peneliti mempelajari sel dan penyakit dengan pendekatan yang sebelumnya sulit dilakukan. Namun, pemanfaatan iPSC sebagai terapi masih terus diteliti dan belum dapat digunakan secara luas sebagai pengobatan.

Perkembangan Penelitian iPSC

Prof. Jie Na mengungkapkan, penelitian tentang kemampuan sel untuk diprogram ulang sebenarnya sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Pada 1962, ilmuwan asal Inggris, John Gurdon, melakukan percobaan pada katak. Ia mengambil inti dari sel usus katak dan memasukkannya ke dalam sel telur yang intinya telah diambil. Hasilnya, sel tersebut dapat berkembang menjadi kecebong normal. Penelitian ini menunjukkan bahwa sel tubuh yang sudah memiliki fungsi tertentu ternyata masih menyimpan informasi yang dibutuhkan untuk membentuk berbagai jenis sel lainnya.

Penelitian kemudian terus berkembang hingga pada 1996 lahir seekor domba bernama Dolly, yaitu mamalia pertama yang berhasil dikloning. Perkembangan penting berikutnya terjadi pada 2006, ketika ilmuwan asal Jepang, Shinya Yamanaka, menemukan cara memprogram ulang sel tubuh menjadi sel punca yang dapat berkembang menjadi berbagai jenis sel. Penemuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar berkembangnya metode iPSC.

“Metode ini membuka peluang untuk mempelajari cara memperbaiki jaringan yang rusak, misalnya pada penyakit diabetes atau penyakit jantung,” ucap Prof. Jie Na.

Meneliti Jantung, Parkinson, hingga Mata

Salah satu potensi iPSC terletak pada kemampuannya membantu peneliti memahami penyakit sekaligus mengembangkan pendekatan pengobatan baru. Dalam penelitian penyakit jantung, misalnya, iPSC dapat dikembangkan menjadi sel otot jantung untuk mempelajari kerusakan dan mencari kemungkinan terapi.

Pendekatan serupa juga dikembangkan dalam penelitian penyakit Parkinson. Para peneliti dapat mengarahkan iPSC menjadi sel saraf untuk mempelajari kerusakan yang terjadi pada sistem saraf serta mengeksplorasi kemungkinan untuk menggantikan atau memperbaiki sel yang rusak.

Penelitian lainnya dilakukan pada penyakit mata, salah satunya dengan memanfaatkan sel yang berasal dari iPSC untuk mempelajari koroid, jaringan di bagian belakang mata yang memiliki banyak pembuluh darah dan berperan dalam menjaga kesehatan retina.

“Dalam penelitian yang dilakukan pada hewan, kami menemukan bahwa sel endotel yang berasal dari iPSC dapat ditransplantasikan ke bagian belakang mata yang disebut koroid dan bertahan di sana selama lebih dari 90 hari. Sel tersebut juga dapat membantu meningkatkan ketebalan koroid dan kepadatan pembuluh darah. Bahkan, sel tersebut dapat membantu meningkatkan fungsi retina,” ungkapnya.

Penelitian-penelitian tersebut, kata Prof. Jie Na, masih terus dikembangkan untuk melihat apakah temuan ini nantinya dapat digunakan sebagai terapi berbasis sel.

“Dalam pengobatan yang bertujuan memperbaiki sel atau jaringan tubuh yang rusak, tantangannya bukan hanya membuat sel baru. Kita juga harus memastikan sel tersebut dapat bertahan hidup dan bekerja dengan baik setelah dimasukkan ke dalam tubuh,” ujar Prof. Jie Na.

iPSC, Organoid, dan AI: Mengembangkan Cara Baru Memahami Penyakit

Pemanfaatan iPSC juga tidak terbatas pada upaya menghasilkan sel baru. Teknologi ini dapat digunakan untuk membuat organoid, yaitu model organ berukuran kecil berbentuk tiga dimensi (3D) yang dikembangkan di laboratorium dari sel punca. Organoid dirancang untuk menyerupai struktur dan fungsi organ manusia sehingga dapat membantu peneliti mempelajari cara kerja organ dan perkembangan penyakit. Bersama timnya, Prof. Jie Na telah mengembangkan berbagai jenis organoid, termasuk organoid jantung, pembuluh darah, dan otak.

“Organoid dapat membantu peneliti menguji obat, mempelajari penyakit, dan melihat apakah suatu obat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Peneliti juga dapat menggunakan sel dari pasien untuk membuat model penyakit yang menyerupai kondisi pasien tersebut. Dengan cara ini, peneliti bisa mempelajari penyakit dengan lebih dekat dan memahami pilihan pengobatan yang sesuai,” ungkapnya.

Perkembangan tersebut semakin didukung oleh kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Prof. Jie Na menjelaskan bahwa AI dapat membantu peneliti menganalisis perubahan pada sel, mempelajari karakteristik organoid, hingga memahami penyakit dengan lebih mendalam.

“AI dapat membantu mempercepat proses seperti pengujian obat dan pengembangan obat. Masa depan layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada satu bidang ilmu. Biologi, kedokteran, teknologi, hingga AI dapat saling melengkapi untuk menemukan cara baru dalam mencegah dan menangani penyakit,” ujarnya.

Memperluas Wawasan Mahasiswa

Kuliah tamu ini merupakan bagian dari kolaborasi akademik antara UPH, Tsinghua University, dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) yang telah berlangsung sejak Oktober 2025. Kolaborasi ini mencakup riset bersama, berbagi pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan talenta melalui program Global Health Artificial Intelligence. Melalui program tersebut, ketiga pihak mendorong pemanfaatan AI di bidang kesehatan, mulai dari meningkatkan layanan kesehatan dan membantu mencegah penyakit hingga mendukung pengembangan sistem kesehatan masyarakat di Asia.

Kehadiran Prof. Jie Na di Indonesia juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan akademik dan kesehatan. Ia turut menjadi salah satu pembicara dalam The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 yang diselenggarakan oleh Siloam Hospitals pada 18–19 September 2026.

Melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional ini, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada penelitian dan perkembangan metode medis terkait iPSC, tetapi juga diajak melihat bagaimana sebuah penemuan di laboratorium berpotensi menjawab berbagai persoalan kesehatan. Sebagai bagian dari pendekatan pendidikan holistis yang terintegrasi dengan berbagai pengalaman pembelajaran dan pengembangan diri, UPH terus mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan mampu berdampak bagi masyarakat.

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu