15/04/2026 Art, Culture, Music & Design, Science, Technology, Engineering & Mathematics, Social & Humanities, Tourism & Hospitality
Mahasiswa masa kini tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi problem solver yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Berbagai tantangan, mulai dari pengembangan potensi desa hingga pemberdayaan usaha lokal, membutuhkan pendekatan yang kreatif, kolaboratif, dan berbasis empati. Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Pelita Harapan (UPH) kembali menghadirkan Learning Express (LeX) Program 2026, sebuah program inovasi sosial hasil kolaborasi dengan Singapore Polytechnic.
Memasuki tahun kelima pelaksanaannya, program ini berlangsung pada 6-17 April 2026 dengan mengusung pendekatan design thinking selama 12 hari. Mahasiswa diajak terjun langsung ke lapangan untuk memahami permasalahan secara mendalam sekaligus merancang solusi yang aplikatif dan berdampak.
Tahun ini, program dilaksanakan di tiga lokasi di Tangerang, yaitu Sodong Village, Gucang Catfish Farm di Tigaraksa, dan Asal Daek Cultural & Sustainable Tourism di Ciakar. Kegiatan ini melibatkan 29 mahasiswa dan tiga dosen dari Singapore Polytechnic yang berkolaborasi dengan 29 mahasiswa UPH dari Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Desain, serta Fakultas Hospitality dan Pariwisata. Kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara ini menjadi kekuatan utama dalam menghasilkan solusi yang komprehensif dan kontekstual.
Dalam sambutannya, Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., selaku Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group sekaligus Presiden UPH, menegaskan bahwa kolaborasi lintas disiplin dan budaya menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global.
“Saya melihat program ini terus berkembang dan menghadirkan transformasi melalui kolaborasi. Di dunia saat ini, kita tidak bisa bekerja secara terkotak-kotak, tetapi perlu melihat masalah secara menyeluruh dan mencari solusi yang komprehensif. Program ini menjadi ruang pembelajaran nyata yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, solutif, serta mampu menghasilkan solusi yang relevan melalui kerja sama lintas disiplin dan kebangsaan,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Peter Ong Hock San, Dosen sekaligus SP Coordinator LeX Program tahun ini, menegaskan bahwa Learning Express merupakan bagian dari komitmen Singapore Polytechnic dalam membentuk mahasiswa yang peduli dan berdaya guna bagi masyarakat.
“Learning Express membina mahasiswa menjadi pembelajar yang inspiratif dan peduli, sekaligus berkomitmen melayani masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa diajak untuk terhubung, menciptakan solusi, dan memahami budaya lokal secara langsung. Kami senang dapat melanjutkan kolaborasi ini bersama UPH dalam menghadirkan solusi nyata di masyarakat,” ujarnya.
Kolaborasi Lintas Negara, untuk Solusi Berbasis Pengalaman Nyata
LeX Program 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan kolaborasi lintas disiplin dan budaya melalui keterlibatan langsung di masyarakat. Melalui pendekatan design thinking, mahasiswa tidak hanya ditantang untuk memahami permasalahan secara mendalam, tetapi juga merancang solusi yang relevan dan berkelanjutan sesuai dengan konteks lokal.
Di Desa Sodong, Kecamatan Tigaraksa, peserta berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk menggali potensi serta tantangan dalam pengembangan desa wisata. Di Gucang Catfish Farm, Tigaraksa, peserta mempelajari praktik budidaya lele yang diolah menjadi berbagai produk seperti abon, sekaligus memahami cara pengelolaan sumber daya yang optimal dan minim limbah. Sementara itu, di Asal Daek Cultural and Sustainable Tourism, Ciakar, peserta mendalami pengembangan wisata berbasis budaya yang berkelanjutan, serta mengeksplorasi peluang inovasi untuk meningkatkan daya tarik dan keberlangsungan desa wisata.
Eun Beyul Shin, mahasiswa Pariwisata UPH angkatan 2023, melihat program ini sebagai kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu secara langsung di lapangan.
“Sebagai mahasiswa Pariwisata, saya sangat senang ditempatkan di Asal Daek yang berfokus pada cultural and sustainable tourism. Saya berharap dapat menerapkan ilmu yang dipelajari untuk membantu mengembangkan potensi desa wisata secara berkelanjutan, sekaligus menghadirkan dampak nyata melalui kolaborasi lintas disiplin,” ungkapnya.
Sementara itu, Zenn Sim Yingcen, mahasiswa Sound and Music dari Singapore Polytechnic angkatan 2025, mengungkapkan, “Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti program pertukaran pelajar. Saya sangat antusias untuk berkolaborasi dengan mahasiswa UPH dalam memecahkan masalah di lapangan sekaligus belajar lebih banyak tentang budaya Indonesia,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Reagan Brian, S.ST., M.M., Dosen Fakultas Hospitality dan Pariwisata sekaligus Koordinator LeX Program 2026 UPH, menyampaikan bahwa program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Program ini juga diharapkan mampu memperkuat kolaborasi internasional dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
LeX Program menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang menghadirkan dampak bagi masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, serta kepekaan sosial dalam menjawab berbagai tantangan nyata.
Kemitraan strategis antara UPH dan Singapore Polytechnic melalui LeX Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan holistis, yang mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi masyarakat.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan