31/07/2026 Faculty of Design, Product Design
Di tengah gempuran produk fesyen impor yang membanjiri berbagai marketplace, masih ada satu segmen yang menyimpan peluang besar bagi pelaku usaha lokal, yakni busana adat anak laki-laki Nusantara. Berbeda dengan pakaian kasual yang mudah diproduksi massal, busana adat membutuhkan pemahaman budaya, ketelitian desain, dan sentuhan lokal yang sulit ditiru. Ironisnya, masih banyak penjahit rumahan di Indonesia yang memiliki keterampilan menjahit memadai, tetapi belum memiliki bekal literasi budaya maupun kemampuan memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan produk yang bernilai lebih.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Pendanaan 2026, yang dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Program Studi Desain Produk Universitas Pelita Harapan (UPH). Program ini memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Direktorat PPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Risbang Kemdiktisaintek) serta didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPH. Tim pelaksana terdiri atas Susi Hartanto sebagai ketua pelaksana, bersama Devanny Gumulja, dosen Program Studi Desain Produk UPH, serta mahasiswa Program Studi Desain Produk, yaitu Aurelia Cathleen Widjaja, Jocelyn Stefanty Lim, dan Joel Nathan Simanjuntak.
Program ini juga melibatkan Rudy Pramono, Dosen Program Studi Magister Pariwisata UPH, yang berperan dalam penyusunan instrumen evaluasi untuk mengukur hasil dan dampak program, termasuk penyusunan kuesioner pre-test, post-test, dan kepuasan mitra.
Memberdayakan Penjahit Menjadi Kreator
Program ini mendampingi Komunitas Penjahit Wiona Fashion di Tangerang untuk bertransformasi dari sekadar pelaksana pesanan menjadi kreator produk berbasis budaya. Komunitas yang berdiri sejak 2020 dengan lima anggota aktif ini selama ini melayani berbagai pesanan, mulai dari kebaya, gaun pesta, seragam sekolah, hingga pakaian adat.
Menurut Susi Hartanto, selama ini sebagian besar pekerjaan mereka masih dilakukan berdasarkan contoh yang dibawa pelanggan. Akibatnya, proses kreatif berhenti pada tahap mereplikasi desain, bukan menciptakan karya baru. Dokumentasi hasil jahitan pun masih sebatas foto sederhana menggunakan telepon genggam, sehingga belum mampu membangun katalog maupun identitas visual yang dapat meningkatkan nilai produk.
“Padahal, keterampilan teknis para penjahit sudah sangat baik. Tantangan utamanya adalah bagaimana menerjemahkan kekayaan budaya Indonesia menjadi desain yang memiliki identitas dan nilai tambah. Akibatnya, produk yang dihasilkan cenderung generik sehingga sulit bersaing dengan produk serupa di pasaran. Di sisi lain, peluang pasar busana adat anak laki-laki Nusantara justru masih sangat terbuka karena ketersediaannya terbatas, sementara kebutuhannya terus muncul dalam berbagai kegiatan sekolah, perayaan budaya, maupun pertunjukan seni,” jelas Susi.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim Program Studi Desain Produk UPH mengembangkan pendekatan yang memadukan pelestarian budaya dengan pemanfaatan teknologi digital.
“Program ini tidak hanya mengajarkan cara mendesain pakaian, tetapi juga memperkenalkan metode Desain Produk Budaya yang membantu peserta memahami makna di balik simbol, warna, motif, dan bentuk busana sebelum menerjemahkannya menjadi produk nyata,” tambahnya.
Sebagai langkah awal, peserta mempelajari kekayaan budaya dari lima daerah, yaitu Yogyakarta, Bandung, Bangka Belitung, Medan, dan Surabaya. Mereka tidak hanya mengenali elemen visualnya, tetapi juga memahami nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Dengan pendekatan ini, budaya tidak lagi dipandang sebagai objek untuk ditiru, melainkan sebagai sumber inspirasi yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.
Proses tersebut kemudian diperkaya dengan pemanfaatan Generative Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu eksplorasi desain. Setelah memahami karakter budaya setiap daerah, peserta melakukan sketsa desain, dan belajar menyusun prompt untuk menghasilkan berbagai alternatif desain. Hasil yang diproduksi AI tidak langsung menjadi produk akhir, melainkan terlebih dahulu melalui proses kurasi, diskusi, dan penyempurnaan untuk menjaga keselarasan dengan nilai budaya yang ingin diangkat.
Hasilnya melampaui target. Dari target awal menghasilkan 30 alternatif desain, peserta berhasil mengembangkan 122 alternatif desain berbasis AI. Melalui proses seleksi, lima desain terbaik kemudian diwujudkan menjadi koleksi busana adat anak laki-laki yang mengangkat identitas budaya dari masing-masing daerah, mulai dari lurik dan keris Yogyakarta; kujang dan iket Sunda; kain cual Bangka Belitung; ulos dan Rumah Bolon Medan; hingga ikon Suro dan Boyo khas Surabaya.
Mengubah Cara Berpikir Pelaku Usaha Kreatif
Perubahan terbesar yang dihasilkan program ini tidak hanya terlihat dari kemampuan peserta memanfaatkan teknologi, tetapi juga dari cara mereka memandang profesinya. Para penjahit yang sebelumnya berperan sebagai pelaksana pesanan mulai berani melihat diri sebagai kreator yang mampu menciptakan karya orisinal berbasis budaya.
Salah satu peserta pelatihan, Sri Wisunarsih, mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti PISN 2026. Sebagai contoh, menurutnya pelatihan ini membuktikan bahwa unsur budaya seperti kain ulos dapat diterjemahkan menjadi detail busana yang sederhana namun tetap sarat makna, mulai dari aksen pada bagian depan pakaian, ujung lengan, saku, hingga bordir. Di saat yang sama, pemanfaatan Generative AI membantunya mengeksplorasi berbagai alternatif desain, sehingga tidak lagi hanya bergantung pada contoh dari pelanggan.
“Sekarang saya lebih percaya diri untuk mengembangkan desain sendiri. Saya menyadari bahwa penjahit bukan hanya bisa menjahit dengan rapi, tetapi juga dapat belajar mendesain, memanfaatkan teknologi AI, dan menciptakan busana anak laki-laki yang memiliki identitas serta membawa kebanggaan budaya Indonesia,” ungkap Sri.
Transformasi tersebut juga diperkuat melalui pelatihan digitalisasi pola menggunakan Rhino dan Clo serta teknik fotografi produk berbasis AI. Dengan pendekatan ini, pelaku UMKM mampu menghasilkan katalog produk yang lebih profesional tanpa memerlukan studio foto berbiaya tinggi, sehingga produk mereka memiliki daya tarik yang lebih kuat untuk dipasarkan secara digital.
Dari seluruh proses yang ada, Tim UPH menilai bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah desain yang dihasilkan, melainkan dari perubahan pola pikir mitra. Jika sebelumnya mereka hanya menunggu pesanan datang, kini mereka mulai membangun koleksi sendiri, menyusun portofolio, serta menghadirkan produk yang memiliki identitas budaya dan nilai tambah yang lebih tinggi. Pergeseran ini merupakan langkah penting menuju usaha kreatif yang lebih berkelanjutan.
AI Memperkaya Kreativitas, Budaya Tetap Menjadi Fondasi
Pengalaman ini menunjukkan bahwa AI bukanlah pengganti kreativitas manusia, melainkan alat yang dapat memperkaya proses penciptaan karya. Ketika dimanfaatkan secara bertanggung jawab, AI membantu mempercepat eksplorasi ide sehingga pelaku usaha dapat lebih fokus pada aspek yang tidak dapat digantikan teknologi, yaitu memahami nilai budaya, melakukan interpretasi kreatif, dan menghasilkan karya yang autentik.
Di sisi lain, program ini menegaskan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Busana adat yang dikenakan anak-anak dalam kegiatan sekolah, pertunjukan seni, maupun perayaan budaya dapat menjadi media edukasi yang efektif. Ketika sebuah karya tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa cerita dan filosofi daerah asalnya, maka produk tersebut telah menjalankan fungsi budaya sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Komitmen UPH Menghadirkan Dampak bagi Masyarakat
Dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, masa depan industri kreatif tidak perlu ditentukan oleh pilihan antara budaya atau teknologi, melainkan oleh kemampuan mengintegrasikan keduanya. PISN Tahun Pendanaan 2026 menjadi bukti bahwa pemanfaatan teknologi yang tepat, dipadukan dengan kekayaan budaya dan semangat kolaborasi, mampu memberdayakan masyarakat sekaligus melahirkan inovasi yang bernilai.
Lebih dari sekadar program pemberdayaan, PISN mencerminkan komitmen UPH dalam menghadirkan dampak melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sejalan dengan visi pendidikan holistis UPH, setiap proses pembelajaran dan kolaborasi menjadi ruang bagi seluruh civitas academica untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan menghadirkan solusi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, UPH tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat mempersiapkan pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi masyarakat.
—————————————
Penulis:
Susi Hartanto, Devanny Gumulja, Aurelia Cathleen Widjaja, Jocelyn Stefanty Lim, dan Joel Nathan Simanjuntak (Program Studi Desain Produk, Universitas Pelita Harapan)
Rudy Pramono (Program Studi Magister Pariwisata, Universitas Pelita Harapan)