NEWS & PUBLICATION

Dibentuk untuk Melayani: Perjalanan Nolan, Mahasiswa FK UPH, dalam Memahami Realitas Indonesia Timur

13/07/2026 Medical Sciences

Dibentuk untuk Melayani: Perjalanan Nolan, Mahasiswa FK UPH, dalam Memahami Realitas Indonesia Timur

Menjadi dokter bagi Nolan Christopher Adam bukan sekadar tentang menguasai ilmu kedokteran, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat secara utuh agar kelak dapat menghadirkan solusi yang benar-benar berdampak. Keyakinan itu mendorong Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH) angkatan 2024 ini untuk aktif mencari pengalaman belajar di luar ruang kuliah, termasuk melalui berbagai kegiatan pengabdian masyarakat. Semangat tersebut membawanya mengikuti kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia ke Indonesia Timur pada 18–21 Juni 2026.

“Bagi saya, pengalaman ini adalah ruang belajar. Selama empat hari, saya mendapat kesempatan berdialog dengan masyarakat dan tenaga kesehatan, melihat secara langsung berbagai tantangan di lapangan, serta memahami bagaimana pembangunan dijalankan di daerah-daerah yang memiliki karakteristik berbeda. Pengalaman ini memperkaya perspektif saya sebagai calon dokter sekaligus generasi muda yang ingin berkontribusi bagi kemajuan Indonesia,” ungkap Nolan.

Kesempatan belajar tersebut diperoleh Nolan melalui kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia yang mengajak lima mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mengunjungi Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo, dan sejumlah wilayah di Papua. Melalui perjalanan ini para mahasiswa diajak melihat secara langsung implementasi berbagai program pembangunan, kondisi masyarakat secara utuh, dan kesempatan untuk memberikan perspektif yang konstruktif.

Kepercayaan itu tidak datang tanpa alasan. Sejak awal perkuliahan, Nolan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan kesehatan melalui Asian Medical Students’ Association (AMSA) UPH, organisasi mahasiswa kedokteran yang berfokus pada pengembangan akademik, kepemimpinan, dan pelayanan kesehatan masyarakat. Melalui AMSA Indonesia Volunteer Program (AIVP), ia pernah melayani masyarakat di pedalaman Sumba, NTT pada 2024 dan Pulau Maringkik, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2025. Rekam jejak tersebut mengantarkannya melewati proses wawancara dan dipercaya menjadi salah satu mahasiswa yang mengikuti kunjungan kerja tersebut.

Pengalaman tersebut semakin memperkuat pandangan Nolan mengenai pentingnya melihat persoalan pembangunan secara langsung.

“Selama ini saya banyak memahami isu pemerataan pembangunan melalui laporan dan pemberitaan. Namun ketika berada langsung di lapangan, saya menyadari bahwa setiap daerah memiliki tantangan dan konteks yang berbeda. Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa sebagai calon tenaga kesehatan, saya perlu terus membuka wawasan, mata hati, dan kepedulian agar dapat memberikan pelayanan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Nolan.

Selama kunjungan, Nolan mengikuti berbagai agenda di sejumlah daerah. Di Ende, ia melihat bagaimana pemenuhan gizi, pendidikan, dan pembangunan masyarakat saling berkaitan. Di Gorontalo dan Manokwari Selatan, ia mengamati berbagai inisiatif di bidang pertanian dan ketahanan pangan. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi di Agats, Papua Selatan, ketika mengunjungi RSUD Agats, mengikuti kegiatan Sekolah Lapang Sagu, serta berdiskusi langsung dengan tenaga kesehatan dan masyarakat setempat.

“Peninjauan ke RSUD Agats memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan selalu berjalan dalam konteks geografis, sosial, dan budaya yang khas. Tantangan kesehatan di setiap daerah tidak selalu sama dan solusinya pun tidak bisa diterapkan secara seragam. Karena itu, setiap pendekatan perlu mempertimbangkan kebutuhan, realitas, dan kearifan masyarakat setempat,” ujarnya.

Selain itu, Nolan juga mengikuti berbagai agenda lain, seperti pembukaan Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo, peninjauan Sentra Produksi Kakao Ransiki di Papua Barat, pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional XIV di Manokwari, hingga kunjungan ke Asmat Museum of Culture and Progress. Rangkaian pengalaman tersebut semakin menegaskan dirinya bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, budaya, ketahanan pangan, dan kondisi sosial masyarakat.

Belajar Memahami Tantangan Pembangunan di Daerah 3T

Salah satu pengalaman yang semakin memperkaya perspektif Nolan adalah ketika mengunjungi SMP Negeri 1 Ndona di Kabupaten Ende, NTT, dan melihat secara langsung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bagi Nolan, pengalaman tersebut bukan sekadar melihat sebuah program berjalan, tetapi memahami tantangan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Dari pengamatannya, Nolan melihat bahwa kebutuhan pemenuhan gizi, khususnya bagi balita, anak-anak, serta ibu hamil dan menyusui, masih menjadi tantangan yang perlu terus mendapat perhatian. Menurutnya, berbagai program yang dijalankan pemerintah perlu terus dievaluasi dan disempurnakan agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat secara optimal.

“Saya pribadi melihat bahwa pemenuhan nutrisi dan gizi yang baik merupakan salah satu fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Upaya untuk memenuhi kualitas nutrisi, gizi, dan kesehatan memiliki kaitan erat dengan daya saing bangsa Indonesia sekarang maupun di masa depan,” jelasnya.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan kompleksitas pembangunan di wilayah 3T. Menurut Nolan, keterbatasan infrastruktur, akses jalan, transportasi, hingga jarak yang jauh dari pusat pemerintahan menjadi tantangan besar dalam implementasi berbagai program pembangunan.

Di tengah kondisi tersebut, ia melihat pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, organisasi keagamaan, dunia pendidikan, dan masyarakat yang telah memahami kebutuhan daerah masing-masing. Menurutnya, keberhasilan pembangunan juga membutuhkan partisipasi aktif generasi muda.

“Generasi muda dapat berkontribusi dengan cara yang sesuai dengan bidang dan kapasitas masing-masing. Lakukan hal-hal sekecil apa pun yang memiliki impact, lalu lakukan secara konsisten sebelum meningkat ke hal-hal yang lebih besar,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah dapat terus memperkuat program-program strategis, baik melalui langkah darurat maupun perencanaan jangka panjang, khususnya untuk masyarakat di wilayah 3T.

“Terus lakukan, terus kaji, terus sempurnakan, dan jangan takut melibatkan banyak pihak, transparan, mengakui kekurangan, lalu memperbaikinya,” ucap Nolan.

Pendidikan di UPH Menjadi Jalan untuk Melayani

Bagi Nolan, kesempatan mengikuti kunjungan kerja ini menjadi kelanjutan dari proses pembelajaran yang telah ia jalani selama berkuliah di UPH. Pendidikan holistis yang diterimanya tidak hanya membangun kompetensi akademik, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial, semangat melayani, serta perspektif kebangsaan yang lebih luas.

“Pengalaman-pengalaman tersebut secara bertahap membentuk kepekaan dan rasa tanggung jawab saya. Dari sana saya menyadari bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi juga bertumbuh melalui perjumpaan langsung dengan praktisi, profesional, dan masyarakat. Karena itu, ketika kesempatan mengikuti kunjungan kerja ini hadir, saya melihatnya sebagai kelanjutan dari proses pembelajaran yang selama ini didukung oleh UPH,” ungkapnya.

Keterlibatannya dalam AIVP melalui AMSA semakin memperdalam pemahamannya bahwa persoalan kesehatan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan pendidikan, kondisi sosial, ekonomi, dan akses masyarakat terhadap layanan dasar.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Nolan adalah saat melayani masyarakat di pedalaman Sumba. Bersama tim mahasiswa dan tenaga kesehatan setempat, ia menempuh perjalanan sekitar 12 jam untuk menjangkau lokasi pelayanan. Di sana, Nolan terlibat dalam pemeriksaan kesehatan, pemberian pengobatan, edukasi kesehatan, serta berdialog langsung dengan warga mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman tersebut membuka matanya terhadap realitas bahwa masih banyak masyarakat yang hidup dengan keterbatasan akses terhadap layanan dasar, bahkan untuk memperoleh air bersih pun menjadi tantangan sehari-hari. Kondisi ini semakin memperkuat keyakinannya bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pelayanan medis, tetapi juga oleh pemerataan akses terhadap kebutuhan dasar dan pembangunan yang berkeadilan.

“Fakultas Kedokteran UPH mendorong saya memandang ilmu bukan sekadar untuk dikuasai, tetapi sebagai sarana untuk melayani. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa kepedulian terhadap persoalan bangsa dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten,” jelas Nolan.

Ia berharap dapat terus belajar, melayani, dan berkontribusi sesuai kapasitas yang dimilikinya agar ilmu yang dipelajarinya dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

“Saya percaya, pembangunan yang berdampak tidak selalu lahir dari langkah-langkah besar, tetapi dari upaya yang dilakukan secara konsisten, kolaboratif, dan berangkat dari kebutuhan masyarakat itu sendiri,” tuturnya.

Perjalanan Nolan mengikuti kunjungan kerja ke Indonesia Timur bukan sekadar pengalaman melihat berbagai program pembangunan, melainkan proses pembelajaran untuk memahami Indonesia secara lebih utuh melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat, tenaga kesehatan, dan berbagai realitas di lapangan. Pengalaman ini mencerminkan bagaimana pendidikan holistis di UPH mempersiapkan mahasiswa bertumbuh menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang Tuhan dan berdampak nyata bagi masyarakat dan bangsa.

————————

Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu