NEWS & PUBLICATION

Mahasiswa UPH Bawa Cerita Budaya Warisan Toraja dan Makna Pandalungan ke Panggung Kompetisi Seni Nasional, Peksiminas 2026

22/09/2026 Achievements, Art, Culture, Music & Design

Mahasiswa UPH Bawa Cerita Budaya Warisan Toraja dan Makna Pandalungan ke Panggung Kompetisi Seni Nasional, Peksiminas 2026

Kebudayaan tidak hanya hidup dalam tradisi, bahasa, atau cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi. Melalui karya seni, kebudayaan juga dapat terus dikenalkan, dimaknai, dan dilestarikan. Hal inilah yang dilakukan Iam Cello Sambo Paku, mahasiswa Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Pelita Harapan (UPH) angkatan 2025, dan Hendry Zefanya Sembiring, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UPH angkatan 2025. Melalui lukisan dan puisi, keduanya membawa cerita tentang warisan budaya Toraja dan budaya Pandalungan ke panggung Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2026. Peksiminas 2026 mempertemukan 894 peserta dari 167 perguruan tinggi di Indonesia untuk berkompetisi dalam 15 tangkai seni. Diselenggarakan dari 7–11 September 2026 di Universitas Jember, ajang ini menjadi ruang bagi mahasiswa dari berbagai daerah untuk menunjukkan kreativitas sekaligus membawa cerita budaya daerah ke tingkat nasional. Sebelum tampil di tingkat nasional, Cello dan Hendry terlebih dahulu meraih juara pertama Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) DKI Jakarta 2026, yang mengantarkan keduanya mewakili DKI Jakarta pada Peksiminas 2026. Ajang ini diselenggarakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa).

Menjaga Warisan Toraja

Bagi Cello, karya seni menjadi cara untuk menceritakan sesuatu yang dekat dengan kehidupannya. Melalui lukisan berjudul “Memahat Harapan, Memelihara Kehidupan”, ia mengangkat kehidupan keluarganya yang tumbuh bersama seni dan kerajinan tradisional Toraja.

“Bagi saya, seni bukan hanya mata pencaharian, tetapi juga cara untuk menjaga budaya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Cello.

Pesan tersebut dituangkan melalui dua sosok utama dalam lukisannya, yaitu ayah dan ibu. Sang ayah digambarkan sedang memahat ornamen khas Toraja dengan simbol kerbau yang dimaknai sebagai lambang kesejahteraan dan harapan. Aktivitas memahat tidak hanya menunjukkan keterampilan sang ayah, tetapi juga menceritakan bagaimana keterampilan tradisional dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus bagian dari upaya mempertahankan warisan budaya.

Sementara itu, sosok ibu hadir bersama kain Toraja Ma’a dengan motif pohon kehidupan yang menjadi simbol kehidupan dan keberlangsungan. Bagi Cello, sosok ibu yang merawat kain tersebut juga mencerminkan peran seorang ibu dalam merawat keluarga sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap lestari.

Makna pohon kehidupan kemudian ia hubungkan dengan persoalan lingkungan. Cello melihat ancaman deforestasi bukan hanya sebagai persoalan yang berdampak pada alam, tetapi juga terhadap ruang hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

“Melalui kedua sosok tersebut, saya ingin menunjukkan bahwa seni dapat memberi dampak melalui hal-hal sederhana, yakni menghidupi, merawat, dan mewariskan. Selama tangan masih berkarya, budaya dan kehidupan yang diwariskan akan terus memiliki kesempatan untuk hidup,” tutur Cello.

Menemukan Makna Keberagaman dari Pandalungan

Jika Cello berangkat dari warisan yang dekat dengan keluarganya, Hendry menemukan gagasan melalui perjumpaan dengan masyarakat Jember. Melalui puisi berjudul “Asing yang Diterima”, Hendry mengangkat pengalamannya saat melakukan observasi di Pasar Tanjung, Jember. Ia mengamati aktivitas pasar, interaksi warga, bahasa yang digunakan, hingga suasana kehidupan masyarakat.

“Sebelum observasi, saya sempat bertanya kepada beberapa warga lokal tentang budaya Pandalungan, yaitu percampuran budaya Jawa dan Madura. Saya datang ke pasar itu sebagai orang luar yang merasa asing dengan budaya yang berbeda,” jelas Hendry.

Rasa asing tersebut perlahan berubah ketika Hendry mulai berinteraksi dengan warga setempat. Saat warga sedang berbincang menggunakan bahasa Jawa dan Madura, percakapan kemudian beralih ke bahasa Indonesia setelah Hendry bergabung.

“Di tengah rasa asing itu, saya duduk di warung kopi bersama warga lokal dan obrolan pun terjadi di antara kami. Saat itu saya menyadari makna Pandalungan yang sebenarnya. Mereka tidak menolak pendatang, tetapi justru menerima dengan sangat baik,” ungkap Hendry.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik awal Hendry mengembangkan gagasan melalui puisi. Menurutnya, Pandalungan bukan hanya tentang percampuran dua budaya, tetapi juga tentang bagaimana keberagaman dapat menciptakan ruang untuk saling menerima.

“Perbedaan tidak selalu menciptakan jarak. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, memahami, dan membangun kedekatan. Di sini, saya merasakan langsung bagaimana rasanya diterima dengan keramahan oleh warga lokal. Mereka membantu menjawab berbagai pertanyaan saya tentang Jember dan membagikan pengalaman yang mereka alami sejak lahir dan besar di kota ini. Dari interaksi sederhana tersebut, saya akhirnya mampu menemukan dan mengembangkan gagasan menjadi sebuah karya,” ucap Hendry.

Kompetisi sebagai Ruang untuk Bertumbuh

Karya yang lahir dari pengalaman tersebut kemudian dibawa Cello dan Hendry ke panggung kompetisi. Bagi keduanya, Peksiminas tidak hanya menjadi tempat untuk menunjukkan karya, tetapi juga ruang untuk menguji kemampuan, menghadapi tantangan, dan belajar dari proses.

Untuk mempersiapkan karya, Cello menjalani riset dan eksplorasi selama kurang lebih tiga minggu sebelum Peksiminas. Ia mencari referensi di perpustakaan, mengunjungi museum, dan mencoba berbagai alternatif konsep dan pendekatan visual. Pada hari perlombaan, ia harus menyelesaikan lukisan dalam waktu delapan jam.

Bagi Cello, pengalaman tersebut membuatnya semakin menghargai proses dan keberanian untuk mencoba, terlepas dari hasil akhir kompetisi.

“Saya belajar untuk tidak menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan, tetapi juga menghargai proses dan keberanian untuk mencoba. Peksiminas menjadi pengalaman bagi saya untuk mengenal diri sendiri, menghadapi ketakutan, terus berkembang, dan memberikan yang terbaik dari apa yang sudah Tuhan percayakan kepada saya,” ucap Cello.

Pengalaman bertumbuh juga dirasakan Hendry melalui proses menemukan gagasan dari lingkungan di sekitarnya. Peksiminas menjadi kesempatan baginya untuk mempertajam kepekaan, mengamati, menggali informasi, serta mengolah pengalaman sederhana menjadi karya.

Ia juga mempelajari karya para pemenang Peksiminas sebelumnya untuk melihat bagaimana pengalaman dan kekhasan daerah diterjemahkan ke dalam karya. Berbagai referensi tersebut kemudian ia padukan dengan pengalamannya hingga menghasilkan puisi dalam waktu sekitar tiga jam.

Pengalaman Hendry semakin kaya ketika bertemu dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan mendengar cerita tentang perjuangan mereka hingga dapat tampil di tingkat nasional.

“Dari pertemuan dengan mahasiswa dari berbagai daerah, saya belajar bahwa banyak hal dapat ditemukan dari lingkungan sekitar. Apa yang kita lihat, dengar, dan alami dapat membentuk cara kita melihat dan memahami sesuatu,” ucap Hendry.

Pengalaman tersebut tidak hanya mempertajam kemampuan menulis Hendry, tetapi juga membantunya belajar menghargai budaya, membangun komunikasi, serta melihat interaksi dengan orang lain sebagai sumber perspektif dan inspirasi.

Dukungan UPH

Dalam proses mengembangkan karyanya, Hendry mendapat dukungan dari lingkungan akademik UPH. Drs. Pitaya Rahmadi, M.Pd., Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UPH, memperkenalkan Hendry kepada Dhenok Kristanti, seorang penyair Indonesia, yang kemudian mendampinginya dalam latihan dan persiapan karya. Bimbingan tersebut membantu Hendry mematangkan puisi sekaligus memperluas cara pandangnya dalam mengolah pengalaman menjadi karya.

Dukungan akademik yang serupa juga dirasakan Cello melalui interaksi dengan dosen Prodi DKV UPH. Mereka adalah Eston Kamelang Mauleti, S.Sn., M.Ds; Shannon Glenda Tenardi, S.Ds., M.Ds; Hady Soenarjo, S.Sn., M.Ds; Donny Ibrahim, S.Sn., M. Ikom., serta Tiara Kiatama yang merupakan asisten dosen. Kesempatan untuk berdiskusi dan bertukar pikiran membantunya mengembangkan ide sekaligus mengevaluasi karya. Selain itu, UPH menyediakan alat, bahan, dan ruang yang menunjang proses berkarya dan berlatih.

“Selain dukungan berupa fasilitas dan pendampingan akademik, tidak kalah penting adalah dukungan secara mental dan emosional dari orang-orang di lingkungan UPH. Dukungan dari dosen, teman, dan orang-orang di sekitar saya membuat saya merasa tidak menjalani proses ini sendirian. Bagi saya, dukungan tersebut menjadi salah satu bagian penting yang membantu saya tetap percaya diri, tenang, dan fokus selama mempersiapkan diri untuk Peksiminas,” kata Cello.

Perjalanan Cello dan Hendry di Peksiminas 2026 menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang untuk merawat budaya, memahami keberagaman, mengembangkan kepekaan, dan mengolah pengalaman menjadi karya. Lebih dari hasil kompetisi, Peksiminas memberi keduanya kesempatan untuk mengembangkan talenta, belajar dari lingkungan, dan berani menyampaikan gagasan.

UPH senantiasa mendorong mahasiswa untuk aktif belajar dan mengembangkan diri, baik di dalam maupun di luar kelas. Hal ini sejalan dengan komitmen UPH menghadirkan pendidikan holistis dan berbagai kegiatan pengembangan diri untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, profesional, dan berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu