MRIN-UPH Melakukan Penelitian Fungsi Antibodi Manusia Pasca Vaksin Covid-19.

Dosen Program Studi (Prodi) Biologi Universitas Pelita Harapan (UPH) yang juga merupakan peneliti di Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Dr. rer. nat. dr. Juandy Jo, melakukan penelitian terhadap titer antibodi dengan judul ‘Assessment on Anti-SARS-CoV-2 Receptor-Binding Domain Antibodies among CoronaVac-Vaccinated Indonesian Adults’. Kegiatan penelitian yang mulai dilakukan pada April 2021 ini memiliki tujuan untuk melihat fungsi antibodi manusia setelah divaksin dalam melawan virus Covid-19.

“Dulu waktu awal Covid kita melakukan tes antibodi manusia atau ketahanan tubuh kita terhadap virus Covid, yang hasilnya reaktif atau non reaktif. Nah, terlebih lagi waktu vaksinasi sudah mulai dijalankan di Indonesia, orang-orang mulai melakukan pemeriksaan titer antibodi atau kuantitas antibodi, agar dapat mengetahui antibodi mereka cukup atau tidak menghadapi virus Covid. Tetapi banyak yang tidak tahu, antibodi mereka itu apakah benar-benar bekerja atau tidak dalam melawan virus Covid. Untuk itulah penelitian ini dilakukan,” tutur Dr. dr. Juandy Jo.

Dalam penelitian ini, Dr. dr. Juandy Jo spesifik meneliti antibodi manusia yang telah divaksin Sinovac. Ia kemudian membagi ke dalam tiga kelompok sebagai perbandingan. Kelompok satu adalah orang-orang yang telah divaksinasi menggunakan vaksin Sinovac, kelompok dua adalah orang-orang penyintas Covid, dan kelompok terakhir adalah orang-orang yang belum divaksin Sinovac dan belum pernah terkonfirmasi terinfeksi Covid-19. Yang menarik, hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara kelompok satu dan kelompok dua.

Hasilnya, dari dua kali dosis vaksin Sinovac menginduksi sekonversi lengkap pada orang dewasa naif SARS-CoV-2 dengan titer anti-SARS-CoV-2 antibodi Receptor-Binding-Domain (RBD) mulai dari 9,1 hingga 151,9 U/mL. Nilai median lebih rendah dari satu diamati pada orang dewasa yang pulih dari COVID-19 bergejala ringan (38,7 berbanding 114,5 U/mL). Meskipun demikian, 93,6% dari orang dewasa yang divaksinasi, berbeda dengan 76,5% orang dewasa yang pulih, menunjukkan tingkat penghambatan di atas batas untuk memblokir pengikatan RBD-ACE2. Ini menunjukkan bahwa dua dosis CoronaVac bersifat imunogenik dan cenderung protektif di antara dewasa Indonesia.

“Kalau kita mengukur kuantitas atau jumlah antibodi saja maka hasilnya adalah kadar antibodi pada penyintas Covid yang bergejala ringan akan lebih tinggi 4x lipat dibandingkan dengan orang yang sudah divaksinasi Sinovac dua kali. Jadi kalau melihat dari hasil penelitian ini, masyarakat akan menilai bahwa vaksin Sinovac sepertinya tidak berguna. Akhirnya saya melakukan penelitian yang melihat berdasarkan fungsi antibodi yang ada pada tubuh manusia. Ternyata hasilnya fungsi antibodi yang dihasilkan dari vaksin Sinovac ini cukup bagus, kadarnya hampir sama dengan fungsi antibodi penyintas. Ini menunjukkan bahwa antibodi yang dihasilkan dari vaksin Sinovac walaupun jumlahnya kecil tetapi dapat bekerja,” jelas Dr. dr. Juandy Jo.

Menurutnya, vaksin Sinovac sangat bekerja terutama saat varian Delta sedang marak. Vaksin ini bekerja mengurangi tingkat keparahan orang yang terinfeksi dan mengurangi tingkat kematian terhadap orang yang terinfeksi. Dua hal ini sangat membantu dibandingkan dengan orang yang tidak pernah divaksin sama sekali.

“Jangan berpaku pada pengukuran jumlah antibodi saja. Jumlah antibodi yang tinggi berdasarkan hasil tes bukan jaminan seseorang akan kebal dari Covid, dan juga jumlah antibodi dapat berbeda seiring waktu. Kemudian, vaksin Sinovac dapat bekerja dengan efektif untuk mengurangi tingkat keparahan bahkan kematian,” pesannya.

MRIN-UPH tentu membutuhkan kesiapan sumber daya manusia yang handal di bidangnya. Ayo, untuk kamu yang senang dengan penelitian ilmiah di bidang biologi atau kesehatan, mari bergabung di Program Studi Kedokteran atau Program Studi Biologi UPH. Informasi lebih lanjut hubungi Student Consultants di 0811-1709-901.