13/05/2026 Achievements, Education
Kemampuan berbicara di depan publik menjadi keterampilan penting bagi generasi muda di era global. Namun, kepercayaan diri dalam public speaking tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui keberanian untuk terus mencoba dan bertumbuh. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Abraham Nielskai Hanriddato Martin, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pelita Harapan (UPH) angkatan 2024, yang berhasil meraih Juara 3 dalam ajang @america Speech Contest 2026.
“Confidence in public speaking is not born from raw talent, but from the willingness to sound imperfect and childish until clarity replaces fear,” ungkap mahasiswa yang akrab disapa Niels tersebut.
Kompetisi yang berlangsung pada 25 April 2026 di @america yang merupakan pusat kebudayaan dan pembelajaran interaktif milik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, mempertemukan talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia. Niels berhasil masuk tiga besar setelah bersaing dengan 15 finalis terbaik dari total 150 peserta asal Jabodetabek, Padang, hingga Yogyakarta. Para finalis dinilai langsung oleh juri profesional, di antaranya Pembawa Berita Puri Anindita, Seniman Voice Over Jason Tenggara, serta Consular Officer Kedutaan Besar Amerika Serikat Nathalie Maierson.
Menariknya, Niels mengaku awalnya tidak berencana mengikuti kompetisi tersebut. Dorongan dari dosen justru menjadi titik awal yang mengubah pandangannya.
“Dari situ saya sadar bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali. Saya ingin mengasah kemampuan bahasa Inggris sekaligus public speaking yang saya miliki,” ujarnya.
Dorong Semangat Berinovasi lewat Public Speaking
Dalam kompetisi tersebut, Niels membawakan pidato berjudul “Can Anyone Become an Innovator?” yang menantang anggapan bahwa inovasi hanya dimiliki oleh orang-orang jenius atau para ahli. Menurutnya, pola pikir tersebut sering membuat banyak anak muda ragu untuk memulai.
Melalui pidatonya, Niels menegaskan bahwa inovasi dapat lahir dari siapa saja yang berani bertanya, berimajinasi, dan mengambil langkah pertama.
“Pesan utama saya adalah siapa pun bisa menjadi inovator. Inovasi tidak selalu lahir dari langkah besar, tetapi dari keberanian untuk memulai,” ucapnya.
Gagasan tersebut juga terinspirasi dari pengalamannya saat aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Manna Proxia Theatre UPH, ketika memerankan karakter Grantaire dalam pentas musikal Les Misérables. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa manusia sering kali memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada yang mereka sadari.
Kompetisi sebagai Ruang Bertumbuh
Perjalanan menuju panggung kompetisi tentu memiliki tantangan tersendiri. Bagi Niels, tantangan itu muncul ketika melihat peserta lain tampil sangat profesional, bahkan beberapa di antaranya lebih muda darinya. Situasi tersebut sempat membuatnya merasa minder. Namun, di tengah keraguan itu, ia teringat pesan dosennya bahwa kompetisi bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan kesempatan untuk menggunakan talenta yang telah Tuhan percayakan.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi, Niels meluangkan waktu satu hingga dua jam setiap hari di tengah kesibukan kuliah. Ia berlatih di depan cermin dengan batas waktu lima menit untuk melatih manajemen durasi pidato, sekaligus memperkuat artikulasi dan ekspresi. Baginya, kemenangan bukanlah tujuan utama. Kompetisi justru menjadi ruang pembelajaran dan pertumbuhan diri, terutama sebagai calon pendidik Bahasa Inggris di era global.
“Pendidik hari ini bukan hanya mengajar materi, tetapi menjadi jembatan bagi murid untuk memahami dunia global. Kemampuan bahasa Inggris membuka akses pengetahuan dan perspektif lintas budaya,” ungkapnya.
Melalui pengalaman tersebut, Niels juga membagikan pesan bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan public speaking.
“Nikmati prosesnya. Public speaking bukan tentang menjadi sempurna sejak awal, tetapi tentang keberanian untuk terus mencoba. Ketika talenta, usaha, dan iman berjalan bersama, pertumbuhan itu akan menjadi nyata,” katanya.
Perjalanan dan prestasi Niels pun mendapat apresiasi dari Michael Recard Sihombing, S.S., M.Hum., dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UPH. Menurutnya, pengalaman teater menjadi ruang latihan nyata yang membantu membentuk keberanian dan kemampuan komunikasi Niels.
“Pesan kami kepada seluruh mahasiswa, tetap rendah hati. Talenta luar biasa adalah titipan Tuhan untuk menjadi berkat bagi sesama. Saya sangat antusias melihat pertumbuhan Niels sebagai calon pendidik transformatif,” ujarnya.
Sementara itu, Simrandeep selaku Event Coordinator @america menjelaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar perlombaan, tetapi ruang belajar bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri.
“Melalui ajang ini, peserta tidak hanya berbicara dalam bahasa Inggris, tetapi juga belajar menyusun ide secara kritis dan menyampaikannya dengan percaya diri. Penampilan Niels menonjol karena substansi pidatonya kuat, strukturnya dinamis, dan ia mampu langsung melibatkan audiens sejak awal. Energi serta antusiasmenya sangat diapresiasi para juri,” jelasnya.
Prestasi Niels menjadi cerminan komitmen UPH dalam mendorong mahasiswa berkembang secara holistik, yaitu tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepercayaan diri, dan kesiapan menghadapi dunia global yang terus berubah. Melalui pendekatan pendidikan ini, UPH mendorong mahasiswa memperkaya pembelajaran di luar kelas melalui berbagai program pengembangan diri dan kompetisi. Komitmen ini diwujudkan dalam upaya mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi masyarakat.