16/07/2026 International
Pengalaman belajar internasional tidak hanya menjadi nilai tambah, tetapi telah menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan memberikan dampak di tingkat global. Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Pelita Harapan (UPH) menghadirkan Faculty-Led Program bersama Carl Sandburg College dan Sauk Valley Community College, Amerika Serikat, yang berlangsung pada 31 Mei–29 Juni 2026. Melalui program ini, mahasiswa internasional tidak hanya mengikuti perkuliahan bersama dosen UPH, tetapi juga memahami budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat Indonesia melalui pengalaman langsung.
Program ini diikuti oleh delapan mahasiswa dari Carl Sandburg College, satu mahasiswa dari Sauk Valley Community College, serta dua dosen pembimbing dari masing-masing universitas. Di antara para peserta tersebut, Mia Trujillo dari Sauk Valley Community College, Navaeh San Nicolas dan Diego dos Santos B. Martinez dari Carl Sandburg College, serta James Hutchings dan Emily Zimmerman selaku dosen pendamping, membagikan pengalaman mereka terkait program ini.
Selama mengikuti program, para peserta menjalani berbagai rangkaian kegiatan yang dipersiapkan oleh Global Partnership & International Office (GPIO) UPH. Dalam aspek akademik, para mahasiswa mengikuti mata kuliah International Business Strategy yang diampu oleh Ir. Leroy Samy Uguy, M.A., Ph.D. dan Benny Aristo, S.T., M.G.S.C.M., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPH. Mereka juga mengikuti Customized Class on Indonesian History, Culture, and Language yang dibawakan oleh Amelia Joan Ribka Liwe, S.S., M.A., Ph.D., Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPH.
Perkuliahan bersama dengan para dosen dan mahasiswa di UPH memberikan pengalaman belajar dan perspektif yang baru bagi para mahasiswa internasional. Menurut Navaeh, salah satu hal yang paling berkesan selama mengikuti perkuliahan di UPH adalah dedikasi para dosen dalam membimbing dan mengajar.
“Mereka selalu bersedia menjawab pertanyaan kami dan meluangkan waktu untuk menjelaskan segala sesuatu secara mendalam. Secara khusus, kelas-kelas bisnis yang saya ikuti memberikan wawasan berharga mengenai praktik bisnis dan situasi terkini di Indonesia. Menurut saya, itulah yang membuat para dosen di sini istimewa. Mereka tidak sekadar mengajarkan materi, tetapi juga membantu mahasiswa memahaminya dalam konteks Indonesia, sehingga pengalaman belajar menjadi jauh lebih kaya,” jelasnya.
Mengenal Indonesia Melalui Pengalaman dan Pertukaran Budaya
Sebagai bagian dari pendekatan pembelajaran holistis, para peserta tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mengenal Indonesia secara langsung melalui berbagai pengalaman budaya dan interaksi dengan masyarakat. Mereka mengunjungi Jakarta, Yogyakarta, dan Bali untuk memahami keberagaman budaya, praktik ekonomi lokal, serta kehidupan sosial masyarakat.
Selama perjalanan tersebut, para peserta menyaksikan pertunjukan wayang kulit dan tari kecak, mengunjungi perkebunan kopi luwak serta Teras Sawah Tegalalang, hingga mengeksplorasi berbagai situs bersejarah dan keagamaan seperti Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Diego adalah melihat bagaimana masyarakat Indonesia hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Indonesia secara resmi mengakui beberapa agama, dan hal yang membuat saya takjub adalah betapa damainya kehidupan masyarakat di sana. Anda bisa melihat pura, masjid, dan gereja di kawasan yang sama, dan semua orang saling menghormati satu sama lain. Keharmonisan seperti itu sungguh istimewa, dan saya sangat mengaguminya,” tuturnya.
Selain mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia, para peserta juga berkesempatan berinteraksi secara langsung dengan mahasiswa UPH melalui berbagai aktivitas di dalam maupun di luar kelas. Pertemuan tersebut menciptakan ruang pertukaran budaya yang memperkaya perspektif kedua belah pihak sekaligus membangun persahabatan lintas negara.
Bagi Mia Trujillo, interaksi bersama mahasiswa UPH justru menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti Faculty-Led Program.
“Para mahasiswa yang kami temui sangat baik dan ramah. Meski awalnya kedua belah pihak sempat merasa canggung untuk memulai percakapan, kami akhirnya bisa menjalin persahabatan yang indah. Saya juga sangat menikmati pengalaman belajar di UPH karena lingkungan kampusnya yang asri dan nyaman. Ke depan, saya berharap mahasiswa dari luar negeri lainnya dapat bergabung karena program ini benar-benar berharga. Pengalaman, persahabatan, dan pelajaran yang kami dapatkan selama di sini sungguh tak ternilai harganya,” ucap Mia.
Pembelajaran Kontekstual yang Memperluas Perspektif Global
Lebih dari sekadar memperkenalkan budaya Indonesia, Faculty-Led Program dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dengan menghubungkan pembelajaran akademik dan pengalaman langsung di lapangan. Melalui pendekatan tersebut, para peserta tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga memahami bagaimana konsep-konsep tersebut diterapkan dalam kehidupan masyarakat, sehingga menghasilkan pengalaman belajar yang lebih relevan dan bermakna.
Emily Zimmerman menilai bahwa perpaduan antara pembelajaran akademik dan pengalaman lapangan menjadi salah satu kekuatan utama program ini.
“Menurut saya, memadukan pembelajaran di kelas dengan pengalaman langsung selama mengunjungi berbagai destinasi budaya dan aktivitas ekonomi lokal membuat proses belajar menjadi jauh lebih bermakna. Para mahasiswa tidak hanya mempelajari materi secara akademis, tetapi juga memahami konteksnya secara langsung. Kami juga sangat mengapresiasi tim UPH yang telah memfasilitasi seluruh rangkaian program dengan sangat baik sehingga pengalaman ini berjalan lancar dan berkesan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan James Hutchings. Menurutnya, pengalaman belajar lintas negara seperti ini tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membentuk kemampuan mahasiswa untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan memahami perspektif yang berbeda.
“Program seperti ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di lingkungan yang benar-benar baru sekaligus mengenal budaya yang berbeda secara langsung. Pengalaman tersebut membantu mereka berkembang, baik secara akademik maupun personal, melalui interaksi dan perspektif yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Ke depannya, kami berharap program ini menjadi awal dari kemitraan jangka panjang yang membuka lebih banyak kesempatan bagi mahasiswa dan dosen untuk mengikuti pengalaman serupa,” jelas James.
Melalui Faculty-Led Program bersama Carl Sandburg College dan Sauk Valley Community College, UPH menegaskan komitmennya sebagai universitas berstandar global yang menghadirkan pengalaman belajar lintas budaya, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan dunia. Sejalan dengan pendidikan holistis yang diusung, berbagai pengalaman internasional dan program pengembangan diri di UPH menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa sebagai pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan, serta mampu membawa dampak positif bagi masyarakat dan dunia global.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: Beatrice Frederica Sungkono (Mahasiswa Hubungan Internasional, 2024)