02/09/2026 Achievements, Law
Konflik dan bencana alam dapat memicu arus pengungsi lintas negara, sekaligus menghadirkan persoalan kompleks mengenai kedaulatan negara dan perlindungan hak pengungsi. Isu tersebut menjadi fokus Indonesia International Moot Court Competition (INTERNATION) 2026 yang diselenggarakan oleh International Law Students Association (ILSA) Chapter Universitas Airlangga pada 15–16 Agustus 2026. Dalam kompetisi tersebut, Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH) meraih 1st Runner-Up melalui tim mahasiswa angkatan 2025 yang terdiri atas Gissell Clarance Yutaka dan Victoria Eve Nirwan sebagai anggota tim, serta Celine Ariyanto dan Caitlyn Anabelle Djuli sebagai observer.
INTERNATION merupakan kompetisi bagi mooter pemula untuk mengasah pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan hukum internasional melalui simulasi persidangan. Kompetisi ini juga menjadi tahap awal bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi Moot Court tingkat internasional yang bergengsi, seperti Philip C. Jessup International Law Moot Court Competition dan International Humanitarian Law Moot Court Competition. Pada tahun ini, INTERNATION mengangkat kasus fiktif berjudul “Case Concerning Jura Island”, yang mengupas isu kompleks seputar kedaulatan (sovereignty) dan hak-hak pengungsi (rights of refugees).
Menguji Hukum Internasional melalui Isu Pengungsi
Dalam INTERNATION 2026, tim FH UPH dihadapkan pada persoalan hukum internasional yang kompleks terkait arus pengungsi akibat konflik maupun bencana alam. Kasus tersebut menuntut peserta mempertimbangkan keseimbangan antara kedaulatan negara, perlindungan hak pengungsi, serta tanggung jawab negara ketika menghadapi keterbatasan sumber daya. Untuk membangun argumentasi yang kuat, tim melakukan riset mendalam dan mengkaji berbagai prinsip serta perspektif hukum internasional yang relevan.
Bagi Gissell, pengalaman tersebut memberinya pemahaman yang lebih nyata mengenai penerapan hukum internasional dalam menghadapi persoalan lintas negara.
“Mengikuti INTERNATION membuka wawasan saya tentang bagaimana hukum internasional bekerja dalam kasus yang melibatkan kedaulatan dan perlindungan pengungsi. Kami belajar bahwa setiap argumen harus dibangun di atas riset yang kuat dan pemahaman konteks yang mendalam. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari tim ini dan membawa pulang hasil terbaik untuk UPH,” ungkapnya.
Selain memperdalam pemahaman hukum, kompetisi Moot Court menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi secara sistematis, menyampaikan pendapat dengan percaya diri, serta bekerja sama dalam tim.
Bagi Victoria, pengalaman tersebut mengajarkannya untuk lebih teliti dan berani mempertahankan argumentasi yang telah dibangun berdasarkan riset.
“Persiapan menuju INTERNATION tidak pernah mudah, tetapi semuanya terbayar ketika kami melihat hasil akhirnya. Saya belajar banyak tentang ketelitian, keberanian menyampaikan pendapat, dan pentingnya kerja sama tim. Ini adalah pencapaian yang tidak akan saya lupakan sepanjang masa studi saya di FH UPH,” ujar Victoria.
Pembelajaran juga diperoleh Celine dan Caitlyn yang berperan sebagai observer. Dengan mengikuti jalannya kompetisi secara langsung, keduanya dapat mempelajari strategi penyusunan argumentasi, dinamika persidangan, serta cara tim Moot Court mempersiapkan diri menghadapi lawan. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi keduanya untuk mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan diri mengikuti kompetisi Moot Court di masa mendatang.
Membangun Kesiapan Menuju Kompetisi
Keberhasilan tim FH UPH tidak terlepas dari persiapan intensif bersama dosen pembimbing, Jessica Los Banos, J.D., M.T.M., M.B.A., serta mentor mahasiswa FH UPH angkatan 2024, Anjarico Marlienardo dan Valerie Elaine Tamzil. Proses tersebut turut didukung oleh International Law Moot Court Community (ILMCC) UPH, yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berlatih, berdiskusi, dan mengembangkan kemampuan Moot Court.
Menurut Jessica, persiapan tidak hanya diarahkan pada kemampuan menyusun argumentasi hukum, tetapi juga membentuk ketelitian, kedisiplinan, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian mahasiswa dalam menghadapi persoalan hukum internasional.
“Kami berharap proses ini tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga membentuk mahasiswa yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan berani menyampaikan argumentasi hukum dengan baik,” jelasnya.
Prestasi 1st Runner-Up dalam INTERNATION 2026 menjadi bukti bahwa pengalaman belajar dapat membawa mahasiswa melampaui ruang kelas. Melalui kompetisi, pendampingan dosen, komunitas, dan berbagai kegiatan pengembangan diri, mahasiswa FH UPH mendapat ruang untuk menguji pengetahuan, membangun keberanian berargumentasi, serta mengembangkan kompetensi yang relevan dengan dunia profesional. Pembelajaran holistis inilah yang menjadi bagian dari upaya UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: Beatrice Frederica Sungkono (Mahasiswa Hubungan Internasional, 2024)