26/09/2026 Uncategorized
Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, pertanyaan mengenai identitas, tujuan hidup, serta peran manusia menjadi semakin relevan untuk direnungkan. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga hadirnya Artificial Intelligence (AI) membawa berbagai peluang sekaligus tantangan baru, termasuk dalam memahami apa yang membuat manusia bernilai dan memiliki tujuan.
Berangkat dari hal tersebut, Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) menggelar YPPH Annual Retreat 2026 pada 25 September 2026 di kampus Universitas Pelita Harapan (UPH), Lippo Village, dengan mengangkat tema “Imago Dei: Image & Likeness of God“ dan subtema “Created, Renewed, and Transformed in Christ“. Melalui tema ini, komunitas pendidik YPPH diajak untuk kembali melihat identitas manusia sebagai gambar dan rupa Allah serta memaknai kembali panggilan dalam menjalankan pendidikan Kristen di tengah perubahan zaman.
Dalam sambutannya, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng., Sc., selaku Presiden YPPH dan Rektor UPH menekankan bahwa setiap manusia memiliki martabat karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Karena itu, pendidikan Kristen tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan atau mempersiapkan peserta didik memasuki dunia kerja, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki kompetensi sekaligus karakter, mengenal Tuhan, memahami kebenaran, serta menemukan dan menjalankan panggilan hidupnya.
“Untuk itu, sebelum bertanya tentang seperti apa siswa yang ingin kita bentuk, kita perlu terlebih dahulu melihat seperti apa diri kita sebagai pendidik, pemimpin, dan komunitas Kristen yang sedang kita bangun,” ujar Dr. (Hon.) Jonathan.
Memaknai dan Menghidupi Imago Dei
Memaknai Imago Dei berarti melihat nilai manusia bukan berdasarkan prestasi, penampilan, status sosial, maupun produktivitas, melainkan dari identitasnya sebagai ciptaan menurut gambar dan rupa Allah. Bagi Hendra Thamrindinata, S.Si., M.Div., M.A. Ph.D. (Cand.), Associate Vice President of Faith and Learning UPH yang juga merupakan Ketua Panitia Pelaksana YPPH Annual Retreat 2026, pemahaman ini memiliki arti penting bagi para pendidik dan pelayan Kristus di YPPH karena berkaitan erat dengan bagaimana seseorang memahami identitas, panggilan, dan tanggung jawabnya. Sebagai Imago Dei, manusia tidak hanya menerima martabat yang agung dari Allah Tritunggal, tetapi juga dianugerahi berbagai kapasitas untuk menjalankan panggilan penatalayanan atas ciptaan berdasarkan Alkitab, di dalam ketaatan total kepada Allah Tritunggal, dan bertujuan doksologis. Dalam konteks pendidikan, kapasitas tersebut dipanggil untuk terus dikembangkan dan digunakan bagi kemuliaan Allah Tritunggal serta kebaikan sesama.
“Pemahaman yang benar tentang Imago Dei adalah jantung dari identitas dan motivasi kita sebagai pendidik dan pelayan Kristus melalui YPPH. Meyakini diri kita sebagai Imago Dei berarti meyakini bahwa kita telah diciptakan segambar dan serupa dengan Allah Tritunggal untuk melakukan karya transformasi, pengembangan, dan perawatan seluruh aspek ciptaan, secara khusus aspek pendidikan. Meskipun imago Dei itu sudah jatuh ke dalam dosa di dalam kejatuhan Adam, imago tersebut telah dan sedang dipulihkan secara progresif oleh Roh Kudus berdasarkan karya penebusan Kristus untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus yang adalah imago Dei yang sejati,” jelas Hendra.
Pemahaman tersebut juga menjadi landasan dalam menjalankan faith and learning integration. Menurut Hendra, Alkitab dan ilmu pengetahuan tidak dipandang sebagai dua hal yang bertentangan, melainkan keduanya adalah wahyu Allah yang dapat dipahami secara koheren dalam terang wawasan dunia Reformed karena Alkitab adalah wahyu khusus dan ilmu pengetahuan adalah wahyu umum di mana sumber dari keduanya adalah Allah Tritunggal sendiri. Karena itu, pendidik dipanggil untuk memahami, bernalar, dan menginterpretasikan berbagai disiplin ilmu, konsep, serta isu-isu ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam terang wawasan dunia Reformed yang berlandaskan Alkitab, sekaligus mengembangkan dan menatalayaninya secara bertanggung jawab. Dengan demikian, pendidikan menjadi salah satu ranah bagi manusia untuk menjalankan panggilannya sebagai royal steward dan priest of creation.
Lebih lanjut, Heri Yulianto, M. Min., selaku Manager of University Spiritual Formation and Faith Learning Integration (USFLI) sekaligus Koordinator Seksi Acara YPPH Annual Retreat 2026, menjelaskan bahwa pemahaman tentang Imago Dei menjadi dasar bagi setiap orang Kristen untuk mengenali nilai dirinya, memandang sesama dengan cara yang benar, serta merefleksikan karakter Allah dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui rangkaian retreat, kami berharap para komunitas pendidik di YPPH tidak hanya memahami konsep Imago Dei, tetapi juga menghidupinya dalam keseharian melalui citra diri yang sehat, hidup merefleksikan karakter Allah, menghargai orang lain, serta mengerjakan mandat budaya dengan berbagian dalam mengupayakan kebaikan bagi dunia ini,” ujar Heri.
Memahami Identitas di Tengah Perubahan Zaman
Perubahan teknologi menjadi salah satu konteks yang membuat pembahasan mengenai Imago Dei semakin relevan. Perkembangan kecerdasan buatan dan robotika, misalnya, tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai keunikan manusia, masa depan berbagai profesi, hingga makna pekerjaan itu sendiri.
Di tengah perubahan tersebut, Dr. (H.C.) James T. Riady, YPPH Founder and Trustee Chair, mengajak peserta melihat kembali pertanyaan-pertanyaan mendasar yang semakin relevan bagi generasi muda, seperti Who am I? Why am I here? What gives my life meaning? What should I believe? What will my future become? Menurutnya, meskipun generasi muda memiliki akses yang semakin luas terhadap informasi, teknologi, pilihan, dan peluang, hal tersebut juga hadir bersama ketidakpastian mengenai identitas, tujuan hidup, kesuksesan, iman, dan masa depan.
“Karena itu, pemahaman tentang Imago Dei perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam pendidikan Kristen. Imago Dei bukan sekadar sebuah doktrin yang kita pelajari, tetapi sebuah kebenaran yang perlu kembali kita hidupi. Manusia memiliki identitas dan martabat karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Nilai kita tidak ditentukan oleh pencapaian, status, kekayaan, popularitas, maupun kemampuan teknologi,” ungkap Dr. James.
Lebih lanjut, menurut Dr. James, pemahaman mengenai identitas tersebut kemudian memengaruhi cara manusia memandang talenta, pekerjaan, dan teknologi. Teknologi dapat menjadi alat untuk mengembangkan kemampuan dan mendukung pekerjaan, tetapi tidak seharusnya menjadi penentu nilai maupun tujuan hidup manusia. Dalam perspektif Imago Dei, identitas menjadi dasar untuk memahami talenta dan panggilan, sehingga setiap kemampuan dan profesi dapat dijalankan sebagai bagian dari panggilan yang lebih besar dari Allah.
Dari Penciptaan hingga Penebusan dalam Kristus
Pembahasan mengenai Imago Dei kemudian diperdalam melalui empat sesi yang dibawakan oleh Rev. Dr. Sutjipto Subeno, Gembala Sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Bintaro. Keempat sesi tersebut membawa satu benang merah yang utuh, mulai dari identitas manusia sejak penciptaan, kerusakan akibat dosa, karya penebusan Kristus, hingga proses pembaruan dan panggilan hidup manusia.
Sesi pertama, “Imago Dei: Dignity and Identity from Creation”, membawa kembali pada pertanyaan mendasar mengenai identitas dan martabat manusia. Dalam perspektif Imago Dei, manusia tidak menentukan sendiri nilai dirinya berdasarkan pencapaian, kemampuan, status, atau apa yang dimilikinya. Martabat manusia berakar pada Allah Tritunggal yang menciptakannya menurut gambar dan rupa-Nya. Karena itu, manusia dipanggil bukan hanya untuk mengenal dan mengasihi Allah, tetapi juga merepresentasikan-Nya serta menjalankan tanggung jawab untuk mengelola ciptaan di bawah kedaulatan-Nya.
Namun, identitas yang baik sejak penciptaan tersebut tidak terlepas dari realitas kejatuhan. Melalui sesi “Imago Dei: The Fallen Image,” pembahasan bergerak pada bagaimana dosa merusak natur manusia dan memengaruhi cara manusia memahami dirinya, dunia, serta tujuan hidupnya.
Perkembangan zaman pun membawa tantangan baru. Teknologi menawarkan berbagai kemungkinan bagi kehidupan manusia, tetapi ketika dilepaskan dari rancangan Allah, teknologi dapat ditempatkan sebagai sumber harapan yang seolah mampu menjawab seluruh kebutuhan manusia. Di titik ini, kemajuan tidak selalu berjalan seiring dengan pemahaman yang benar mengenai martabat dan tujuan hidup.
Dari realitas kejatuhan tersebut, pembahasan kemudian mengarah pada penebusan di dalam Kristus. Sesi “Imago Dei: Growth, Renewal, and Learning” melihat bahwa karya Kristus tidak berhenti pada pengampunan dosa. Di dalam dan melalui karya penebusan Kristus, manusia mengalami pembaruan yang bersifat progresif dan terus bertumbuh menurut gambar Sang Pencipta melalui karya Roh Kudus.
Pembaruan yang Membentuk Cara Hidup
Pembaruan dalam Kristus juga memberikan makna yang lebih dalam bagi pendidikan. Belajar tidak semata-mata menjadi proses memperoleh pengetahuan atau mengembangkan kemampuan, melainkan bagian dari pertumbuhan manusia. Pengetahuan, keterampilan, dan proses pembentukan diarahkan untuk membawa manusia semakin mengenal kebenaran, bertumbuh dalam Kristus, dan menjalani hidup sesuai dengan maksud Allah. Bagi para pendidik, hal ini menempatkan pembentukan pribadi sebagai bagian penting dari panggilan pendidikan, bukan sekadar pelengkap pencapaian akademik.
Pemahaman tersebut dilanjutkan melalui sesi “Imago Dei: Ongoing Transformation in Sanctification and Vocation”, yang melihat kehidupan Kristen sebagai proses transformasi yang terus berlangsung. Keselamatan membawa manusia kepada pengudusan, ketika Roh Kudus terus membentuk karakter, memperbarui pikiran, serta memengaruhi cara seseorang membangun relasi, bekerja, melayani, dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama.
Pemahaman Imago Dei membawa konsekuensi bahwa kehidupan manusia, termasuk pendidikan, penelitian, dan pekerjaan profesional, tidak terpisah dari iman. Setelah dosa merusak manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, pembaruan dalam Kristus memulihkan arah hidup. Melalui karya Roh Kudus, manusia terus dibentuk untuk semakin mencerminkan Kristus.
Karena itu, pendidikan dan berbagai bidang keilmuan tidak semata-mata dipandang sebagai aktivitas profesional, tetapi sebagai bagian dari panggilan (vocatio) untuk menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan Allah.
“Seluruh pendidikan, penelitian, dan karya profesional perlu dipandang bukan sekadar sebagai aktivitas yang bersifat sekuler, melainkan sebagai panggilan kudus, di mana manusia yang telah diperbarui dalam Kristus merefleksikan karya pemulihan-Nya dan mengambil bagian dalam rancangan Allah di tengah dunia yang telah jatuh,” ujar Sutjipto.
Menjalankan Pendidikan sebagai Panggilan
Pemahaman mengenai Imago Dei membawa pendidikan, penelitian, dan profesi ke dalam perspektif panggilan. Berbagai bidang kehidupan menjadi ruang untuk menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan Allah dan menghadirkan kebaikan bagi sesama. Hal tersebut tercermin dalam pengalaman Dr. Lim Lian Arn, Medical Director dan Senior Orthopaedic Surgeon di Alpha Joints & Orthopaedics, Gleneagles Hospital, Singapore. Berangkat dari bidang kedokteran dan penelitian ilmiah, ia memandang profesinya sebagai ruang untuk menjalankan stewardship yang berakar pada Imago Dei.
“Berakar pada kebenaran Imago Dei, profesi medis dan penelitian ilmiah bukanlah aktivitas sekuler, melainkan panggilan kudus (vocatio) untuk menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan Allah demi kemuliaan-Nya,” ungkap Dr. Lim.
Pemahaman serupa tercermin dalam kesaksian Asedi, siswi Sekolah Lentera Harapan (SLH) Moria, Lippo Village, yang menceritakan perjalanannya mengenal Tuhan dan memahami dirinya melalui pendidikan. Tumbuh di tengah lingkungan di Papua yang belum mengenal Kristus dan menghadapi berbagai tantangan adat dan budaya, Asedi melihat kesempatan bersekolah di SLH Moria sebagai bagian dari pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya.
“Ketika saya mendapatkan kesempatan belajar di SLH Moria, saya tidak hanya mendapatkan pendidikan secara akademis, tetapi juga mulai mengenal Tuhan dan memahami kehidupan melalui kebenaran Firman. Pendidikan yang saya terima bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu saya membangun iman, memahami siapa diri saya, dan melihat masa depan dengan pengharapan,” ungkap Asedi.
Imago Dei menjadi dasar bagi komunitas pendidik naungan YPPH dalam memandang pendidikan sebagai bagian dari panggilan Allah, yakni membentuk manusia yang mengenal identitasnya di dalam Tuhan, bertumbuh dalam Kristus, serta menggunakan pengetahuan, talenta, dan profesinya untuk melayani. Melalui YPPH Annual Retreat 2026, panggilan tersebut kembali diteguhkan agar pendidikan tidak hanya membentuk generasi yang kompeten, tetapi juga pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, menjalankan panggilannya dengan setia, dan menghadirkan kemuliaan Allah melalui setiap peran mereka di masyarakat.
——————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu