01/10/2026 Achievements, Medical Sciences
Penguasaan ilmu kedokteran tidak hanya menuntut pemahaman teori, tetapi juga kemampuan mengintegrasikan ilmu dasar dengan kondisi klinis, menganalisis kasus, dan menentukan langkah penanganan secara tepat. Kompetensi tersebut diuji dalam Regional Medical Olympiad (RMO) 2026 Wilayah 2 yang diselenggarakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) pada 29 Agustus serta 5–6 September 2026 di Universitas Jenderal Ahmad Yani. Dalam kompetisi ini, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH) berhasil meraih titel Juara Umum dengan membawa pulang tiga medali emas dari cabang Neurologi-Psikiatri, Kardiologi-Respirasi, dan Digestif.
Prestasi ini diraih oleh tiga tim mahasiswa FK UPH angkatan 2023 dan 2024. Pada cabang Neurologi-Psikiatri, Angelina Wandana dan Michella Jeslyn Pamula berhasil meraih medali emas. Capaian serupa diraih Stefanie Valentina dan Enzo Marson pada cabang Kardiologi-Respirasi. Sementara itu, Christian Charlie Chang bersama Jennifer Eng turut menjadi juara pada cabang lain, yakni Digestif.
Bagi Angelina, keberhasilan meraih medali emas sekaligus membawa FK UPH menjadi Juara Umum merupakan pencapaian yang melampaui ekspektasinya.
“Tentu sangat senang dan bangga dapat meraih juara, terlebih ketika mengetahui bahwa FK UPH berhasil menjadi Juara Umum. Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi seluruh delegasi karena merupakan impian bersama yang telah diperjuangkan oleh generasi sebelumnya. Kami bersyukur dapat menjadi bagian dari terwujudnya impian tersebut,” ungkap Angelina.
Menguji Kompetensi Kedokteran dari Teori hingga Praktik
RMO menguji kemampuan mahasiswa melalui beberapa tahapan, mulai dari soal pilihan ganda (Multiple Choice Questions/MCQ), ujian praktikum (Objective Structured Practical Examination/OSPE), ujian keterampilan klinis terstruktur (Objective Structured Clinical Examination/OSCE), hingga Lomba Cepat Tepat (LCT). Melalui rangkaian ini, mahasiswa dituntut menguasai ilmu kedokteran dasar sekaligus menghubungkannya dengan gejala, pemeriksaan, diagnosis, dan penanganan pasien.
Pada cabang Neurologi-Psikiatri, Angelina Wandana dan Michella Jeslyn Pamula menghadapi materi seputar sistem saraf dan kesehatan jiwa. Cakupannya meliputi neuroanatomi, neurofisiologi, serta berbagai kondisi seperti stroke, epilepsi, gangguan gerak, neuroinfeksi, kecemasan, dan psikosis. Mereka juga perlu memahami pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, serta edukasi pasien.
Michella menjelaskan bahwa persiapan mereka tidak hanya berfokus pada pengenalan penyakit, tetapi juga pada pemahaman hubungan antara ilmu dasar dan manifestasi klinis yang dialami pasien.
“Kami tidak hanya mempelajari manifestasi klinis dan diagnosis, tetapi juga pemeriksaan penunjang, tatalaksana farmakologis dan nonfarmakologis, serta edukasi kepada pasien. Seluruh materi tersebut kemudian diuji dalam berbagai format kompetisi, mulai dari MCQ, OSPE, OSCE, hingga LCT,” jelas Michella.
Sementara itu, pada cabang Kardiologi-Respirasi, Stefanie Valentina dan Enzo Marson mendalami penyakit jantung, pembuluh darah, dan paru-paru, termasuk komplikasinya. Selain menguasai anatomi, fisiologi, histologi, patologi, dan mikrobiologi, mereka juga harus menerapkan pengetahuan tersebut dalam simulasi pemeriksaan klinis.
Menurut Stefanie, tahap OSCE menjadi salah satu tantangan karena mahasiswa perlu mengintegrasikan informasi dari wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis serta langkah penanganan.
“Pada tahap OSCE, kami diuji untuk berperan sebagai dokter yang menentukan diagnosis pasien berdasarkan hasil wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan interpretasi pemeriksaan penunjang. Kami juga harus mampu meresepkan obat dan memberikan edukasi kepada pasien,” ungkap Stefanie.
Pada cabang Digestif, Christian Charlie Chang dan Jennifer Eng berfokus pada sistem pencernaan. Materi yang diujikan mencakup anatomi, histologi, fisiologi, biokimia, mikrobiologi, parasitologi, dan patologi, serta penerapannya dalam diagnosis, pemeriksaan penunjang, radiologi, penatalaksanaan, farmakoterapi, pencegahan penyakit, dan gizi.
“Jadi, tidak hanya menguji kemampuan menghafal teori, tetapi juga pemahaman dan penerapan ilmu kedokteran dalam menghadapi kasus klinis,” kata Jennifer.
Mengintegrasikan Ilmu dari Ruang Kuliah ke Kasus Klinis
Kemampuan menghubungkan teori dengan kasus klinis tidak terbentuk hanya melalui penguasaan materi, tetapi juga melalui proses belajar yang melatih mahasiswa berpikir analitis dan menerapkan pengetahuan. Di FK UPH, pendekatan Problem-Based Learning (PBL) menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Mahasiswa dilatih menghubungkan ilmu dasar dengan kondisi klinis, menganalisis kasus, dan menentukan penanganan yang tepat. Pendekatan ini menjadi bekal dalam menghadapi RMO, yang menuntut mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi klinis.
Christian mengungkapkan bahwa pendekatan ini membantunya menghadapi soal kompetisi yang menuntut analisis dan pengambilan keputusan secara cepat.
“Melalui PBL, kami dilatih untuk tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memahami konsep dan menerapkannya dalam menyelesaikan kasus klinis. Hal ini sangat membantu selama kompetisi, terutama ketika dihadapkan pada soal-soal yang membutuhkan analisis dan pengambilan keputusan secara cepat,” ungkap Christian.
Selain pembelajaran di kelas, bimbingan dosen turut membantu mahasiswa memperdalam materi dan mengasah keterampilan klinis. Enzo menilai bimbingan langsung dari dokter pembimbing sangat penting, terutama dalam persiapan OSCE, agar teknik pemeriksaan dan prosedur yang dilakukan sesuai dengan standar klinis.
Dalam pendampingan cabang Kardiologi-Respirasi, Dr. dr. Sunanto, Sp.JP, K, menekankan pentingnya penalaran klinis agar mahasiswa tidak berhenti pada hafalan teori, tetapi mampu menghubungkannya dengan pengalaman praktik.
“Kami sangat bangga atas keberhasilan FK UPH meraih juara umum RMO 2026. Prestasi ini buah dari kerja keras dan konsistensi setiap mahasiswa. Dalam bimbingan, kami menekankan penalaran klinis, bukan hafalan. Pengalaman praktik klinis membantu mahasiswa mengembangkan daya nalar sekaligus memahami teori dasar,” jelas Dr. dr. Sunanto.
Sementara itu, dr. Gabriela Ellenzy, Sp.KJ, dosen pembimbing cabang Neurologi-Psikiatri, membimbing mahasiswa menganalisis kasus dan mengasah keterampilan pemeriksaan psikiatri melalui simulasi (role-play).
“Mahasiswa belajar memahami kasus, menganalisis teori dan penerapannya, serta berlatih pemeriksaan psikiatri melalui role-play. Proses ini menjadi bekal berharga dalam perjalanan mereka menjadi dokter,” ungkap dr. Gabriela.
Prestasi Juara Umum RMO 2026 Wilayah 2 mencerminkan perpaduan penguasaan ilmu, penalaran klinis, latihan yang konsisten, dan bimbingan dosen dalam mengembangkan kompetensi mahasiswa. Lebih dari pencapaian, pengalaman ini mengasah kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, dan bekerja sama. Melalui pendidikan holistis serta dukungan terhadap berbagai kegiatan pengembangan diri, termasuk kompetisi, UPH memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri. Seluruh proses ini menjadi bagian dari komitmen UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, profesional, dan berdampak bagi masyarakat.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu