04/11/2026 Business & Management
Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan tuntutan keberlanjutan mendorong pelaku usaha untuk memikirkan kembali cara membangun bisnis yang mampu bertahan lintas generasi sekaligus beradaptasi terhadap perubahan. Tantangan ini menjadi fokus pembahasan dalam The 6th International Conference on Entrepreneurship (IConEnt) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pelita Harapan (FEB UPH) pada 22 Oktober 2026 di Auditorium D501, Kampus Utama UPH Lippo Village.
Mengusung tema “Entrepreneurial Legacy in the Intelligent and Sustainable Era: Family Business, Technology-Enabled Transformation, and Sustainable Impact”, konferensi ini menghadirkan Dr. Jacob Donald Tan, Associate Professor of Entrepreneurship di Mount Royal University, Kanada, sekaligus dosen UPH dan Roman Nedielka, Energy Transition Director di PwC Indonesia. Keduanya membahas keberlanjutan bisnis keluarga lintas generasi serta peluang kewirausahaan yang muncul dari transformasi teknologi.
Membuka IconEnt 2026, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., selaku Rektor UPH menyoroti perkembangan AI membawa perubahan signifikan terhadap lingkungan bisnis dan dunia kerja. Ia menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda, profesional, dan komunitas akademik agar mampu merespons perubahan tersebut.
“Perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara kita menjalankan bisnis, tetapi juga menuntut kesiapan untuk melihat peluang dan menjawab tantangan baru. Saya berharap konferensi ini dapat menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi dunia akademik dan pelaku bisnis, khususnya bisnis keluarga, dalam mempersiapkan diri menghadapi masa depan serta menjajaki bidang usaha baru seiring dengan perkembangan teknologi,“ ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Gracia Shinta Ugut, M.B.A., Ph.D., Executive Dean for the College of Business and Technology sekaligus Dekan FEB UPH menekankan bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangin dengan tanggung jawab terhadap manusia dan lingkungan. Menurutnya, tantangan kewirausahaan di era kecerdasan buatan tidak hanya terletak pada kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi juga pada upaya memastikan bahwa investasi dan inovasi memberikan manfaat yang berkelanjutan.
“Kita tidak bisa hanya berfokus pada pengembangan teknologi sebagai alat baru. Kita juga perlu memastikan bahwa investasi tersebut memberikan manfaat bagi manusia, memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan sosial, serta sepadan dengan sumber daya yang dibutuhkan dan dampak yang ditimbulkannya,” tegasnya.
Menjaga Nilai dan Mempersiapkan Generasi Penerus Bisnis Keluarga
Dalam pemaparannya, Jacob membahas pentingnya menjaga kesinambungan nilai dan tata kelola dalam bisnis keluarga. Ia menggunakan analogi pohon untuk menjelaskan hubungan antara fondasi keluarga, proses suksesi (peralihan kepemimpinan kepada generasi penerus), dan pertumbuhan bisnis.
“Akar yang kuat menjadi fondasi bagi keberlanjutan bisnis keluarga, sementara cabang menggambarkan tata kelola keluarga yang menopang pertumbuhan bisnis dan buahnya dinikmati oleh generasi berikutnya,” jelasnya.
Analogi tersebut menggambarkan bahwa keberlanjutan bisnis tidak hanya bergantung pada hasil usaha, tetapi juga pada nilai dan prinsip yang menjadi landasan keluarga dalam menjalankan bisnis. Nilai-nilai tersebut perlu dijaga dan diteruskan melalui tata kelola yang baik agar bisnis dapat berkembang tanpa kehilangan fondasi yang telah dibangun.
Lebih lanjut, Jacob menjelaskan bahwa suksesi bisnis keluarga tidak cukup hanya dengan mengalihkan kepemilikan kepada generasi berikutnya. Calon penerus perlu memahami nilai dan budaya keluarga sekaligus mempersiapkan kapasitas kepemimpinan untuk mengelola usaha di tengah perubahan.
“Para penerus perlu memahami sejarah, nilai, dan budaya keluarga yang menjadi fondasi bisnis, sekaligus mempersiapkan diri untuk mengambil keputusan dan menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin. Mereka juga perlu memiliki ruang untuk membawa perubahan agar bisnis tetap relevan, tanpa kehilangan nilai-nilai yang telah diwariskan,” jelasnya.
Dengan demikian, keberlanjutan bisnis keluarga tidak hanya bergantung pada keberhasilan generasi saat ini, tetapi juga pada kesiapan generasi berikutnya untuk menjaga nilai-nilai yang diwariskan sekaligus merespons perubahan kebutuhan bisnis.
Mengubah Tantangan Teknologi Menjadi Peluang Usaha
Selain menjaga keberlanjutan bisnis lintas generasi, pelaku usaha juga perlu jeli melihat peluang yang muncul dari perubahan teknologi dan lanskap industri. Dalam konteks ini, Roman Nedielka menyoroti sejumlah sektor yang berpotensi membuka peluang kewirausahaan, mulai dari energi terbarukan, pusat data, hingga mobilitas listrik. Perkembangan sektor-sektor tersebut menciptakan kebutuhan baru yang dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan solusi dan model bisnis yang relevan.
Menurut Roman, peluang usaha tidak hanya terletak pada pengembangan teknologi atau penyediaan produk utama, tetapi juga pada kemampuan mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi dalam ekosistem industri tersebut.
“Peluang usaha tidak hanya terletak pada pengembangan teknologi baru, tetapi juga pada kemampuan mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi. Karena itu, penting untuk memahami masalah yang dihadapi pasar, menemukan solusi yang tepat, menguji potensinya, lalu mengembangkannya lebih lanjut,” jelasnya.
Pandangan ini menegaskan bahwa inovasi tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Kemampuan memahami persoalan yang dihadapi pasar dan menghadirkan solusi yang tepat juga menjadi kunci untuk mengembangkan peluang usaha yang relevan dan berkelanjutan.
IConEnt 2026 menerima 139 makalah penelitian dan 17 poster penelitian, dengan 105 makalah dan 15 poster terpilih untuk dipresentasikan. Dr. Ika Suhartanti Darmo, S.E., M.M., selaku ketua panitia sekaligus dosen UPH, menyampaikan bahwa konferensi ini melibatkan akademisi dari berbagai negara, termasuk Kanada, Hungaria, Tiongkok, Jepang, Australia, dan Malaysia. Pertemuan lintas negara ini memperkaya pertukaran gagasan mengenai tantangan dan peluang kewirausahaan di tengah perubahan zaman.
Melalui IConEnt 2026, FEB UPH mendorong pertukaran pengetahuan antara akademisi dan praktisi untuk memperkuat pemahaman tentang kewirausahaan yang adaptif, berkelanjutan, dan berdampak. Semangat ini sejalan dengan komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan holistis yang transformatif dan berbagai kegiatan pengembangan diri yang membekali mahasiswanya dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan agar siap menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, kompeten, dan berdampak bagi masyarakat.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: Karin Angelica Putri Lay (Mahasiswa Manajemen, 2024)