10/02/2026 Education
Kemampuan berkomunikasi lintas budaya menjadi keterampilan esensial bagi mahasiswa di era global, khususnya bagi calon pendidik. Tidak cukup hanya menguasai bahasa asing, calon guru juga dituntut memahami perbedaan budaya, membangun empati, dan menjalin relasi lintas negara. Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) atau Teachers College (TC) Universitas Pelita Harapan (UPH) menginisiasi International Service Learning Program bersama English Access Scholarship Program Centro Cultural Sampredano (CCS) Honduras.
Mengusung tema “Celebrating Cultures Through Language, Dance, and Stories”, program virtual yang berlangsung sepanjang November 2025 ini memanfaatkan bahasa Inggris sebagai jembatan pertukaran budaya. Peserta saling berbagi cerita keseharian, memperkenalkan tradisi daerah, hingga menampilkan tarian dan makanan khas. Kegiatan ini melibatkan 80 peserta, terdiri dari 20 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UPH angkatan 2024 dan 60 remaja Honduras berusia 16–19 tahun.
Michael Recard Sihombing, S.S., M.Hum., Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UPH sekaligus Koordinator International Service Learning Program, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan English Access Scholarship Program CCS Honduras dipilih untuk memperluas jejaring internasional UPH, khususnya dengan wilayah yang masih jarang terlibat dalam program pertukaran budaya.
“Inisiasi kerja sama ini berangkat dari perencanaan kurikulum yang dirancang untuk melibatkan mitra internasional. Melalui jejaring alumni program pertukaran Pemerintah Amerika Serikat (U.S. Exchange Alumni), kami kemudian terhubung dengan institusi di Honduras yang memiliki keselarasan visi dalam pengembangan International Service Learning Program,” jelas Michael.
Ia menambahkan, program ini bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris melalui interaksi langsung, sekaligus membangun lingkungan belajar kolaboratif yang mengintegrasikan bahasa, budaya, dan teknologi. Selain itu, mahasiswa TC UPH didorong untuk lebih percaya diri berkomunikasi dengan pengguna bahasa Inggris dari berbagai latar belakang budaya.
English Access Scholarship Program CCS Honduras sendiri merupakan program yang didanai oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan didukung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS). Program ini memberikan pelatihan bahasa Inggris berkualitas bagi generasi muda berbakat dari latar belakang ekonomi kurang mampu, umumnya berusia 13 hingga 20 tahun, guna membuka peluang yang lebih luas dalam melanjutkan pendidikan dan memasuki dunia kerja.
Alejandra Dubón, pengajar pada English Access Scholarship Program CCS Honduras, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri siswa dalam menggunakan bahasa Inggris sebagai sarana utama komunikasi lintas negara.
“Selain meningkatkan kemampuan berbahasa, peserta juga didorong untuk keluar dari zona nyaman melalui pertukaran wawasan budaya Honduras dan Indonesia, serta berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari latar belakang yang beragam,” tambah Alejandra.
Rayakan Keberagaman Budaya lewat Tiga Sesi Interaktif
International Service Learning Program dirancang dalam tiga sesi bertahap yang saling terhubung untuk membangun interaksi dan pemahaman lintas budaya. Sesi pertama bertajuk “Getting to Know Each Other” yang dilaksanakan pada 7 November 2025 menjadi pembuka rangkaian kegiatan. Pada tahap ini, para peserta saling memperkenalkan diri, berbagi cerita keseharian, serta bertukar kisah mengenai latar belakang budaya masing-masing sebagai fondasi awal membangun relasi.
Sesi kedua, “Cultural Exchange through Indonesian Provinces”, berlangsung pada 14 November 2025 dan dipandu oleh mahasiswa UPH. Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengenal lebih dalam kekayaan budaya Indonesia. Melalui diskusi interaktif, mahasiswa memperkenalkan tradisi daerah, nilai-nilai lokal, hingga ragam makanan khas dari berbagai provinsi, sekaligus melatih kemampuan komunikasi lintas budaya.
Rangkaian program ditutup dengan sesi ketiga, “The Celebration”, yang digelar pada 28 November 2025. Pada sesi ini, siswa dari Honduras yang mendapat kesempatan untuk memperkenalkan budaya mereka melalui penampilan tarian tradisional, pengenalan makanan khas, serta presentasi mengenai keberagaman budaya Honduras.
Pengalaman mengikuti program ini menjadi momen yang berkesan bagi Debora Natania Aji, salah satu mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UPH.
“Bagian paling menarik dari program ini adalah bagaimana setiap peserta saling menghormati perbedaan budaya. Saya menyadari bahwa budaya adalah topik yang tidak pernah habis untuk dipelajari. Program seperti ini penting bagi calon pendidik karena memberikan perspektif baru tentang pengajaran dan pembelajaran di tingkat global,” ujar Debora.
Melalui program International Service Learning, UPH menegaskan komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan di era global. Program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga menumbuhkan empati, keterbukaan, serta sikap saling menghargai. Pengalaman lintas budaya ini diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa sebagai calon pendidik, sekaligus mempersiapkan mereka menjadi pemimpin masa depan unggul yang takut akan Tuhan, profesional, dan berdampak bagi dunia.