NEWS & PUBLICATION

UPH Siapkan Calon Guru Berdaya Saing Global Lewat Kolaborasi Internasional dengan Siswa Mesir

06/05/2026 Education

UPH Siapkan Calon Guru Berdaya Saing Global Lewat Kolaborasi Internasional dengan Siswa Mesir

Di era global yang semakin terhubung, peran guru tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Calon pendidik dituntut memiliki kemampuan komunikasi lintas budaya, empati global, serta kesiapan berinteraksi dengan masyarakat dunia. Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) atau Teachers College Universitas Pelita Harapan (UPH) menghadirkan International Service Learning Program bekerja sama dengan Nile University Mesir dan English Access Microscholarship Program. Mengusung tema “Celebrating Cultures Through Language, Dance, and Stories”, program virtual yang berlangsung pada 31 Maret 2026 ini memanfaatkan bahasa Inggris sebagai jembatan pertukaran budaya.

Sebanyak 26 peserta terlibat, terdiri dari mahasiswa dan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UPH angkatan 2024, serta siswa asal Mesir berusia 15–16 tahun penerima beasiswa English Access Microscholarship Program.

“Sepanjang kegiatan, peserta aktif berdiskusi mengenai kehidupan sehari-hari, memperkenalkan tradisi lokal, hingga bertukar wawasan tentang perkembangan modern dan kekayaan kuliner masing-masing negara. Interaksi ini tidak hanya memperluas perspektif global mahasiswa, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan masa kini,” jelas Michael Recard Sihombing, S.S., M.Hum., Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UPH

English Access Microscholarship Program sendiri merupakan inisiatif pendidikan internasional yang didanai oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan didukung Kedutaan Besar Amerika Serikat. Program ini memberikan pelatihan bahasa Inggris bagi generasi muda berbakat dari latar belakang ekonomi kurang mampu, umumnya berusia 13 hingga 20 tahun, agar memiliki akses pendidikan dan peluang karier global yang lebih luas.

Michael menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya mengangkat budaya tradisional, tetapi juga memperkenalkan wajah modern Mesir, mulai dari isu energi ramah lingkungan, peran Terusan Suez dalam perdagangan global, hingga pengembangan smart cities dan New Administrative Capital (NAC) sebagai simbol kota masa depan.

Ia menambahkan, program serupa sebelumnya telah dilakukan bersama mitra dari Azerbaijan dan Honduras. Melalui interaksi lintas negara ini, mahasiswa tidak hanya mengenal keberagaman budaya, tetapi juga terbiasa berkomunikasi dengan berbagai aksen internasional.

“Ke depan, kami berharap semakin banyak eksposur internasional yang dapat dihadirkan bagi mahasiswa. Program ini tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun empati dan kesiapan mereka untuk menghadapi dunia yang semakin global,” ujar Michael.

Walaa Salem, pengajar pada English Access Microscholarship Program CCS Mesir, menilai pertemuan virtual ini sebagai pengalaman belajar lintas budaya yang bermakna bagi para siswa. Salah satu momen yang paling berkesan, menurutnya, terjadi saat siswa Mesir mempresentasikan topik Pyramids & Sphinx.

Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya mendorong peserta untuk memahami budaya satu sama lain, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas masing-masing.

“Program ini menjadi seperti laboratorium bahasa, di mana bahasa Inggris digunakan sebagai alat komunikasi nyata antara siswa Mesir dan mahasiswa Indonesia. Pengalaman ini juga membantu mereka lebih percaya diri, baik dalam berkomunikasi maupun memanfaatkan teknologi digital yang dibutuhkan di era modern,” ujar Walaa Salem.

Hadirkan Pertukaran Budaya hingga Wawasan Global

Program ini dikemas dalam satu sesi interaktif yang menghadirkan empat tema utama. Kegiatan diawali dengan sesi Introduction, yang menjadi ruang bagi peserta untuk saling mengenal budaya, kehidupan sehari-hari, serta pengalaman belajar di Indonesia dan Mesir.

Diskusi kemudian berlanjut ke tema Modern Egyptdan Smart Cities, yang mengulas perkembangan pembangunan dan kemajuan teknologi di Mesir. Melalui sesi ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga diajak memahami dinamika perubahan di tingkat global.

Pada sesi penutup bertajuk Food Festival, peserta dari Mesir memperkenalkan hidangan khas seperti koshari, mulukhiyah, dan falafel. Sementara itu, mahasiswa UPH memperkenalkan lapet dan saksang, kuliner tradisional khas Batak dari Sumatera Utara. Melalui cerita di balik setiap hidangan, peserta menyadari bahwa kuliner dapat menjadi bahasa universal yang menjembatani perbedaan budaya sekaligus mempererat hubungan antarbangsa.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini memberikan dampak nyata dalam pengembangan diri. Calista Sola Gracia Sinaga, mahasiswi PGSD UPH angkatan 2024, mengungkapkan bahwa program International Service Learning membantunya menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi.

“Melalui kegiatan ini, saya belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, dan menjadi lebih terbuka terhadap hal-hal baru. Ini sangat penting untuk mempersiapkan diri sebagai guru di masa depan,” ujarnya.

Melalui inisiatif ini, UPH menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berstandar global yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pengalaman lintas budaya yang dihadirkan tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga membentuk karakter, empati, dan kepemimpinan mahasiswa. Hal ini sejalan dengan pendekatan pendidikan holistis UPH dalam mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak hingga level global.

————————

Corporate Communications Universitas Pelita Harapan

corporate.communication@uph.edu