04/09/2026 Achievements, Science, Technology, Engineering & Mathematics
Bagi sebagian orang, tulang dan kulit ikan mungkin hanya berakhir sebagai sisa makanan. Namun, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) melihatnya sebagai peluang untuk menghasilkan produk bernilai tambah. Gagasan tersebut melahirkan LESTARI (Lele Sehat Tigaraksa Mandiri), program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dikembangkan HMPS Teknologi Pangan UPH di Kelurahan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Melalui pendekatan zero waste, mahasiswa mendorong masyarakat untuk mengolah ikan lele dengan optimal, mulai dari daging, tulang, hingga kulit. Pendekatan tersebut dilakukan untuk mengurangi sisa produksi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari komoditas yang telah dibudidayakan masyarakat.
LESTARI menjadi salah satu program yang berhasil memperoleh hibah sebesar Rp24,8 juta melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI). Untuk mendukung pelaksanaannya, UPH turut memberikan dukungan pendanaan tambahan sebesar Rp10 juta.
PPK Ormawa merupakan program nasional yang mendorong organisasi kemahasiswaan untuk menerapkan pengetahuan, kreativitas, dan kepemimpinan dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Setelah melalui proses seleksi pada Februari-Mei 2026, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemdiktisaintek RI pada 21 Mei 2026 mengumumkan 226 judul subproposal dari 105 perguruan tinggi yang menerima pendanaan. Salah satunya adalah proposal HMPS Teknologi Pangan UPH berjudul ‘LESTARI (Lele Sehat Tigaraksa Mandiri): Strategi Hilirisasi Produk Olahan Ikan Lele Berbasis Zero Waste Menuju Desa Wirausaha Tangguh’.
Potensi Lele Menjadi Inovasi Berbasis Zero Waste
Joanna Faleshia, mahasiswi Teknologi Pangan UPH angkatan 2023 sekaligus Ketua Tim PPK Ormawa HMPS Teknologi Pangan UPH, menjelaskan bahwa LESTARI berawal dari potensi budidaya ikan lele di Kelurahan Tigaraksa, salah satu wilayah binaan UPH. Wilayah tersebut memiliki sekitar 600 kolam budidaya ikan lele yang tersebar di enam RW dan dikelola oleh 25 kelompok pembudidaya. Namun, pemanfaatan hasil budidaya masih terbatas pada daging dan produksinya bergantung pada pesanan (pre-order).
“Saat ini wilayah tersebut hanya mengolah daging lele menjadi abon dan dimsum. Kami melihat potensi yang lebih besar dengan memanfaatkan bagian ikan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dan belum memiliki nilai ekonomi,” jelas Joanna.
Bersama dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Adolf J. N. Parhusip, M.Si., Joanna dan tim kemudian mengembangkan LESTARI dengan pendekatan zero waste. Menurut Prof. Adolf, pendekatan tersebut mendorong pemanfaatan bahan secara lebih optimal agar bagian yang sebelumnya terbuang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai guna dan ekonomi.
“Zero waste bukan hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga bagaimana memanfaatkan bahan secara lebih efisien dan berkelanjutan. Melalui LESTARI, kami mendorong masyarakat Tigaraksa untuk memanfaatkan bagian lele yang sebelumnya belum optimal, sehingga tidak hanya dijual sebagai ikan konsumsi, tetapi juga diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi,” jelas Prof. Adolf.
Memaksimalkan Lele, dari Pangan hingga Pupuk
Melalui konsep zero waste, tim LESTARI mengembangkan sejumlah produk dengan memanfaatkan berbagai bagian ikan lele. Salah satu pemanfaatannya adalah pengembangan cookies berbahan tulang dan kepala lele, yang terinspirasi dari penelitian Prof. Adolf bersama mahasiswa sebelumnya, mengenai pemanfaatan tulang lele. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tulang lele memiliki kandungan kalsium mencapai 1.650 mg per 100 gram, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernilai gizi.
Potensi tersebut juga disesuaikan dengan kondisi masyarakat di Tigaraksa. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tangerang, terdapat 1.632 kasus stunting di Tigaraksa pada 2025.
“Hal ini menjadi salah satu pertimbangan tim dalam mengembangkan cookies berbahan tulang lele. Selain mudah dikenal dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak, cookies berbahan tulang lele diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pangan yang turut mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat,” ucap Joanna.
Dalam proses pengolahan, tulang dan kulit lele terlebih dahulu dipisahkan. Tulang kemudian dipresto untuk membantu mengeluarkan minyak yang terkandung di dalamnya sebelum dikeringkan menggunakan cabinet dryer.
“Cabinet dryer ini prinsipnya sama seperti pengeringan menggunakan sinar matahari. Bedanya, proses menggunakan cabinet dryer lebih cepat dan waktunya lebih terkontrol. Namun, metode pengeringan dengan sinar matahari tetap bisa diterapkan oleh masyarakat,” ucap Joanna.
Sementara itu, kulit lele diolah menjadi keripik dengan mempertimbangkan karakteristik bahan dan potensi pasar. Kulit lele mengandung lemak dan kolagen, yang menjadi salah satu pertimbangan dalam pemanfaatannya sebagai bahan pangan bernilai tambah. Karakter keripik yang renyah juga dinilai sesuai dengan preferensi masyarakat terhadap makanan ringan.
Untuk mengolahnya, kulit lele dimarinasi menggunakan jeruk nipis dan garam untuk mengurangi bau amis, kemudian dicuci dan dikeringkan menggunakan food dehydrator. Masyarakat juga dapat menggunakan sinar matahari sebagai alternatif. Setelah kering, kulit dapat langsung digoreng hingga mengembang dan menghasilkan tekstur yang renyah.
Konsep zero waste LESTARI juga tidak berhenti pada pengolahan tulang dan kulit ikan lele. Bagian lain seperti organ dalam lele serta air bekas pencucian selama proses pengolahan turut dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Joanna mengatakan, organ dalam lele merupakan bahan organik yang mengandung protein dan asam amino yang dapat menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.
Pemanfaatan tersebut disesuaikan dengan potensi masyarakat Tigaraksa. Sejumlah UMKM di wilayah tersebut bergerak di bidang media tanam dan pupuk, sehingga sisa dari proses pengolahan lele dapat dimanfaatkan kembali dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi baru.
“Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan, kami melihat bahwa pangan tidak hanya dapat dinilai dari produk utamanya saja, tetapi juga dari bagaimana kita dapat memanfaatkan keseluruhan bahan secara optimal. Langkah ini sekaligus menambah nilai ekonomi dari komoditas yang ada,” kata Joanna.
Siapkan Masyarakat Bangun Usaha secara Mandiri
LESTARI tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga mempersiapkan masyarakat agar mampu mengembangkan produk tersebut menjadi usaha yang berkelanjutan. Melalui hibah tersebut, tim melaksanakan sejumlah kegiatan, dimulai dengan Sosialisasi Program PPK Ormawa LESTARI pada 22 Juni 2026, dilanjutkan Pelatihan Pembuatan Produk pada 8 Agustus 2026. Selanjutnya, pada 22 Agustus 2026, masyarakat mengikuti Pelatihan Legalitas, Branding, dan Digital Marketing yang dilaksanakan berkolaborasi dengan PT Mikrobisnis Digital Sejahtera (INAmikro).
Seluruh kegiatan berlangsung di Gucang Farm, Tigaraksa dengan melibatkan 40 masyarakat yang terdiri dari kelompok budidaya dan pengolahan lele, Ibu-Ibu PKK, Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Program ini juga melibatkan 16 mahasiswa UPH dari tujuh program studi, yakni Teknologi Pangan, Manajemen, Teknik Industri, Teknik Elektro, Desain Komunikasi Visual (DKV), Teknik Sipil, dan Hukum.
“Kami melibatkan mahasiswa dari berbagai bidang karena permasalahan yang dihadapi masyarakat cukup beragam. Tidak hanya terkait pengolahan produk, tetapi juga mencakup bisnis, legalitas, pemasaran, desain, hingga penerapan teknologi,” ucap Joanna.
Setiap program studi memiliki peran sesuai bidang keilmuannya. Mahasiswa Teknologi Pangan menangani pengembangan produk, keamanan, kualitas, dan umur simpan. Manajemen mendampingi pengelolaan bisnis, termasuk perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), strategi bisnis, dan pemasaran digital. Hukum mendampingi aspek legalitas usaha dan produk, sementara DKV mengembangkan desain kemasan dan identitas visual produk. Teknik Industri berperan dalam meningkatkan efisiensi proses produksi, Teknik Elektro menangani kebutuhan teknologi dan kelistrikan, sedangkan Teknik Sipil mendukung penyediaan sarana dan prasarana.
Inovasi Lele, Hadirkan Dampak Nyata
Pemanfaatan berbagai bagian ikan lele tersebut diarahkan untuk menghasilkan diversifikasi produk sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Melalui LESTARI, tim menargetkan masyarakat dapat memanfaatkan hingga 90% bagian ikan lele dan menghasilkan dua hingga tiga produk olahan baru. Program ini juga menargetkan peningkatan produksi hingga 60% serta kenaikan omzet hingga 50%.
“Sebelum program ini berjalan, omzet mereka hanya berkisar Rp700 ribu hingga Rp900 ribu per minggu dan masih mengandalkan penjualan daging lele. Setelah LESTARI diterapkan, omzetnya meningkat signifikan hingga mencapai sekitar Rp3,4 juta per minggu. Artinya, melalui pemanfaatan bagian ikan lele yang sebelumnya belum optimal, masyarakat tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga berhasil meningkatkan nilai ekonomi dari hasil budidayanya,” jelas Joanna.
Peningkatan tersebut memperlihatkan potensi pendekatan zero waste dalam membuka diversifikasi produk dan sumber pendapatan baru. Dengan mengolah bagian lele yang tidak dimanfaatkan secara optimal, komoditas yang telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Menghubungkan Ilmu di Kampus dengan Kebutuhan Masyarakat
Bagi tim LESTARI, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan atau peningkatan omzet selama pendampingan. Keberlanjutan usaha setelah program berakhir menjadi salah satu indikator penting, termasuk kemampuan masyarakat menjalankan usaha secara mandiri dan memenuhi aspek legalitas.
Bagi Joanna dan tim, PPK Ormawa menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya di Teknologi Pangan UPH.
“Melalui PPK Ormawa, kami mendapat kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah, khususnya dalam mata kuliah Teknologi Pengolahan Pangan, mulai dari pengolahan bahan pangan, formulasi, pemanfaatan hasil samping, keamanan pangan, hingga pengendalian kualitas produk. Ilmu tersebut kami gunakan untuk menjawab persoalan di masyarakat dengan mengolah lele secara lebih optimal, termasuk memanfaatkan bagian seperti kulit dan tulang yang sebelumnya menjadi limbah menjadi produk yang bernilai,” tutur Joanna.
Menurut Prof. Adolf, pengalaman ini juga menunjukkan bagaimana pembelajaran di perguruan tinggi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.
“Di Teknologi Pangan UPH, mahasiswa tidak hanya belajar mengolah pangan, tetapi juga didorong untuk melihat bagaimana bahan dan hasil samping dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai. Melalui praktikum, penelitian, dan pengembangan produk, mahasiswa belajar menghasilkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai tambah, tetapi juga dapat menjawab persoalan di masyarakat. Inilah yang menjadi salah satu kekuatan LESTARI karena program ini tidak sekadar memberikan pendampingan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengembangkan usahanya secara mandiri,” ujar Prof. Adolf.
Respons Positif dari Masyarakat
Program LESTARI mendapat respons positif dari masyarakat Tigaraksa. Salah satunya dari Selamet Riyadi, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Tigaraksa, mengapresiasi pengetahuan baru yang diperoleh warga dalam mengembangkan berbagai produk berbahan dasar lele.
“Kami jadi tahu bahwa lele bisa dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Rasanya juga enak, renyah, dan mantap. Sebagai perwakilan warga Tigaraksa, kami berterima kasih kepada UPH yang telah membantu masyarakat untuk terus berinovasi dan berkembang,” katanya.
Hal senada disampaikan Agus Setiawan, pengelola Gucang Farm. Menurutnya, pendampingan mahasiswa membantu masyarakat memahami pentingnya legalitas sebagai bagian dari pengembangan usaha.
“Teman-teman PPK Ormawa membantu masyarakat, terutama dalam hal legalitas usaha. Selama ini kami sudah bisa menjalankan usaha, tetapi belum memiliki legalitas sebagai identitas usaha,” ungkap Agus.
HMPS Teknologi Pangan UPH menunjukkan bahwa dari satu komoditas sederhana dapat lahir inovasi yang memberi dampak nyata. Melalui LESTARI, mahasiswa bersama masyarakat mengolah lele secara lebih optimal untuk mengurangi limbah, menghasilkan nilai tambah, dan membuka peluang usaha. Program ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu, berkolaborasi lintas disiplin, dan memahami kebutuhan masyarakat. Hal ini sejalan dengan komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan holistis dan berbagai program pengembangan diri untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi masyarakat.
Selamat kepada HMPS Teknologi Pangan UPH yang berhasil meraih pendanaan PPK Ormawa!
Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Adolf J. N. Parhusip, M.Si.
Anggota:
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu