NEWS & PUBLICATION

Raih 2nd Runner-Up, Mahasiswa UPH Unjuk Kemampuan Debat soal Isu Energi di Ajang Pertamina English Debate Championship 2026

01/10/2026 Achievements

Raih 2nd Runner-Up, Mahasiswa UPH Unjuk Kemampuan Debat soal Isu Energi di Ajang Pertamina English Debate Championship 2026

Isu energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, tetapi juga menyangkut pilihan investasi, kebijakan publik, dan keberlanjutan lingkungan. Membahas persoalan ini membutuhkan kemampuan menganalisis berbagai perspektif, menyusun argumentasi yang logis, dan mempertahankan pendapat dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan tersebut ditunjukkan oleh dua mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH), Beatrice Frederica Sungkono dan Timothy Sean Wahyudi, yang meraih posisi 2nd Runner-Up dalam Pertamina English Debate Championship (EDC) 2026. Keduanya merupakan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional angkatan 2024 dan anggota komunitas debat UPH, Pelita Harapan Society of Debaters (PHASED).

Diselenggarakan oleh PT Pertamina (Persero) melalui program Pertamina Goes to Campus (PGTC) pada 21–23 September 2026, EDC menjadi ajang bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menguji kemampuan argumentasi dalam bahasa Inggris melalui pembahasan isu energi, keberlanjutan, dan kebijakan nasional.

Menggunakan format British Parliamentary, kompetisi ini mempertemukan empat tim dalam setiap ronde. Peserta ditantang untuk menyusun argumen yang logis dan meyakinkan, sekaligus menanggapi serta membantah argumen lawan dalam waktu terbatas. Pada 2026, sebanyak 112 tim mengikuti kompetisi yang berlangsung dalam dua tahap. Tahap awal digelar secara daring melalui tujuh ronde untuk menyaring peserta hingga tersisa 16 tim terbaik. Tim yang lolos kemudian bertanding secara langsung pada 22–23 September 2026 di Universitas Pertamina, Jakarta Selatan, dan Hotel Luminor Pecenongan, Jakarta Pusat.

Menguji Nalar Kritis lewat Debat Isu Energi

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Beatrice dan Sean adalah saat berlaga di babak final. Keduanya berada di posisi Opening Government, yaitu tim yang bertugas menyampaikan argumen awal untuk mendukung mosi atau pernyataan yang diperdebatkan. Dalam babak ini, mereka membahas arah investasi Pertamina, yakni apakah perusahaan perlu memprioritaskan pengembangan energi terbarukan atau memperluas bisnis minyak dan gas.

“Babak final menjadi pengalaman yang menegangkan bagi saya karena sebagai Opening Government, saya harus menjadi pembicara pertama. Kami menyampaikan bahwa energi terbarukan perlu diprioritaskan karena minyak dan gas memiliki keterbatasan untuk mendukung keberlanjutan dalam jangka panjang. Selain itu, tren pasar juga menunjukkan bahwa makin banyak negara dan perusahaan yang beralih ke energi terbarukan,” ungkap Beatrice.

Tantangan lainnya adalah luasnya cakupan isu yang harus dipahami peserta. Dalam format British Parliamentary, empat tim beradu argumen dalam satu ronde. Setiap tim harus menyusun argumen yang kuat sekaligus menanggapi dan membantah argumen dari tiga tim lawan. Menurut Beatrice, hal ini menuntut peserta untuk memahami bukan hanya persoalan energi, melainkan juga berbagai isu lain yang berkaitan dengan sektor tersebut.

“Isu energi tidak hanya membahas minyak dan gas, tetapi juga mencakup pasar karbon, sistem pendidikan, hukum internasional, hingga ketenagakerjaan. Karena itu, kami harus memahami berbagai topik tersebut, menyusun argumen sesuai dengan topik yang diperdebatkan, dan menanggapi argumen dari tiga tim lawan dalam waktu yang terbatas,” jelas Beatrice.

Asah Strategi Debat melalui Latihan Intensif

Selain harus memahami berbagai isu, peserta juga dituntut untuk bekerja sama dengan cepat dalam menyusun strategi debat. Sean menjelaskan bahwa mereka harus mampu membangun argumen, memperkirakan arah perdebatan, dan menyiapkan tanggapan terhadap argumen lawan.

“Dalam satu ronde, kami harus menanggapi argumen tim lain sekaligus memastikan argumen kami tetap kuat dan tidak mudah dipatahkan. Dengan waktu persiapan hanya 15 menit, kami harus bekerja sama dengan cepat untuk menyusun argumen dan memperkirakan jalannya debat,” jelas Sean.

Untuk mempersiapkan diri, Beatrice dan Sean menjalani latihan intensif secara mandiri. Mereka mempelajari berbagai teknik debat, serta berlatih bersama mahasiswa dari universitas lain untuk mengasah kemampuan berargumentasi.

“Selama sebulan penuh, kami berlatih secara mandiri dengan menonton rekaman Manchester Debating Union untuk mempelajari teknik debat tingkat lanjut, seperti tiering dan linear flow. Kami juga berlatih bersama mahasiswa dari universitas lain melalui forum debat. Selain itu, kami rutin membaca dan saling berbagi artikel tentang isu energi setiap hari untuk memperluas wawasan dan menyiapkan bahan argumen yang kuat,” jelas Sean.

Lanjutkan Pembelajaran melalui Program Pembinaan Pertamina

Capaian sebagai 2nd Runner-Up juga membuka kesempatan bagi Beatrice dan Sean untuk memperdalam pemahaman mengenai industri energi di Indonesia. Setelah kompetisi, keduanya dijadwalkan mengikuti program pembinaan lanjutan dari Pertamina untuk mengenal lebih jauh program perusahaan serta memperluas wawasan tentang energi terbarukan, minyak, dan gas.

Prestasi ini menunjukkan bagaimana kompetisi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan, mempertajam pemikiran kritis, dan membangun kemampuan berargumentasi dalam merespons persoalan nyata. Sejalan dengan komitmen menghadirkan pendidikan holistis, UPH mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas diri melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan pengembangan diri, termasuk melalui pengalaman dan kompetisi di luar kampus. Melalui kesempatan tersebut, UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, unggul, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: Beatrice Frederica Sungkono (Mahasiswa Hubungan Internasional, 2024)