23/10/2026 Achievements
Kemampuan menganalisis isu nasional dan menyusun argumentasi yang logis mengantarkan dua tim Pelita Harapan Society of Debaters (PHASED), komunitas debat mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH), meraih prestasi dalam Kompetisi Debat Proyek Kebangsaan Nasional 2026. Beatrice Frederica Sungkono dan Fillmore Gulo, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional angkatan 2024, meraih Juara 1. Sementara itu, Joanne Ariel, mahasiswa Program Studi Musik angkatan 2023, dan Nicholas Joshua, mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2025, meraih Juara 3. Kompetisi tingkat nasional ini diselenggarakan di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, pada 1–2 Oktober 2026.
Proyek Kebangsaan Nasional merupakan inisiatif delapan universitas yang tergabung dalam Badan Kerja Sama Pendidikan Tinggi Kristen di Indonesia (BK-PKTI). Mengusung tema “Kehidupan Sehat dan Sejahtera Generasi Berkelanjutan untuk Menciptakan Insan Unggul, Berdampak, dan Inspiratif bagi Bangsa”, kegiatan ini menghadirkan tiga cabang perlombaan, yaitu debat kebangsaan, video dokumenter, dan karya tulis ilmiah.
Bagi Beatrice, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan dan memahami beragam perspektif mengenai isu kebangsaan melalui diskusi bersama mahasiswa dari perguruan tinggi Kristen lainnya di Indonesia.
“Melalui Proyek Kebangsaan, saya memperoleh kesempatan untuk berkompetisi dan bahkan berlatih bersama tim debat perguruan tinggi Kristen lainnya di Indonesia. Mosi-mosi perdebatan yang relevan dengan berbagai isu kebijakan di Indonesia mengajarkan saya tentang keberagaman perspektif dan kompleksitas persoalan yang ada, baik melalui pandangan sesama peserta maupun komentar para dewan juri,” tutur Beatrice.
Persiapan Mengasah Kemampuan Debat
Untuk menghadapi kompetisi, kedua tim PHASED UPH menjalani pelatihan peer-to-peer bersama anggota komunitas debat. Persiapan ini membantu mereka memahami struktur debat, menyusun argumentasi secara logis, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Bagi Joanne, yang baru pertama kali mengikuti kompetisi debat, proses ini menjadi kesempatan berharga untuk mempelajari dasar-dasar debat.
“Karena ini merupakan pengalaman pertama saya mengikuti kompetisi debat, persiapan bersama teman-teman debater lainnya menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk belajar. Saya mempelajari struktur debat, memahami mosi, serta menyusun argumen secara logis dan sistematis. Dari proses ini, saya juga menyadari bahwa berpikir kritis membutuhkan latihan untuk melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang,” ujar Joanne.
Selain mempelajari teknik debat, proses persiapan juga mendorong para anggota tim untuk mengenali kekurangan dan terus mengembangkan kemampuan melalui latihan serta pembelajaran dari debater yang lebih berpengalaman.
Adu Argumentasi tentang Kebijakan Makan Bergizi Gratis
Salah satu tantangan dalam kompetisi ini hadir pada babak final, ketika empat tim beradu argumentasi mengenai kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya penanganan stunting di Indonesia. Kedua tim PHASED UPH berada di posisi yang berseberangan, dengan satu tim mendukung mosi sebagai pihak pemerintah dan tim lainnya menentang mosi sebagai oposisi.
Fillmore menjelaskan bahwa timnya yang berada di pihak mendukung kebijakan MBG berupaya membangun argumentasi dengan mendefinisikan mosi secara jelas, memberikan landasan bagi kebijakan yang dibahas, serta menguraikan contoh penerapannya dalam konteks nyata. Strategi ini membantu tim menyampaikan argumen yang tidak hanya kuat secara prinsip, tetapi juga relevan dalam praktik.
“Strategi kita cukup sederhana, karena kita berada pada posisi pemerintah (mendukung mosi) maka kita harus mengkarakterisasi serta mendefinisikan pengertian dari mosi, kita mencari justifikasi terhadap kebijakan di dalam mosi dengan memaparkan berbagai contoh nyata yang sudah terjadi di status quo. Selain menjelaskan argumen secara prinsip, kita juga menjelaskan dalam konsep praksis sehingga argumen yang disampaikan komprehensif dan dapat nilai tambahan dari juri,” ungkap Fillmore.
Sementara itu, Nicholas menjelaskan bahwa tim oposisi menganalisis keseluruhan jalannya debat untuk menemukan celah dalam argumentasi lawan. Sebagai Closing Opposition (CO), timnya juga menyusun argumen tambahan, membandingkan kekuatan argumen antartim, serta menekankan dampak dari argumen mereka untuk memperkuat posisi di hadapan juri.
“Sebagai CO, strategi kami adalah mendengar seluruh alur perdebatan dan mengisi loophole yang belum disebutkan selama proses perdebatan. Kami juga membawakan argumen baru yang lebih detail dan menjelaskan mengapa poin kami bisa lebih unggul dari Opening Opposition (OO). Strategi penutup kami adalah melakukan perbandingan terakhir, menjelaskan besarnya dampak, dan alasan mengapa kontribusi CO dapat dipertimbangkan oleh juri,” jelas Nicholas.
Prestasi Juara 1 dan Juara 3 dalam Proyek Kebangsaan Nasional 2026 menjadi pengalaman berharga bagi kedua tim PHASED UPH untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi yang kuat, dan memahami beragam perspektif dalam menanggapi isu kebangsaan.
Prestasi ini sejalan dengan komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan holistis yang mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas diri melalui berbagai kegiatan pembelajaran dan pengembangan diri yang bermanfaat, termasuk kompetisi di luar kampus. Melalui kesempatan tersebut, UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang unggul, takut akan Tuhan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: Beatrice Frederica Sungkono (Mahasiswa Hubungan Internasional, 2024)