13/03/2026 Achievements, Law
Proses belajar hukum internasional tidak hanya dibentuk di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung dalam forum kompetisi global. Hal ini dibuktikan oleh enam mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH) dalam ajang 2026 Philip C. Jessup International Law Moot Court Competition (Jessup) Indonesian National Rounds. Dalam kompetisi yang berlangsung pada 5–8 Februari 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tim FH UPH berhasil meraih tiga penghargaan sekaligus, yakni 1st Runner Up, 2nd Best Combined Memorial, dan 2nd Best Applicant Memorial, setelah bersaing dengan 22 tim dari berbagai universitas di Indonesia.
Tim FH UPH tahun ini diperkuat oleh Anjarico Marlienardo (2024), Michelle Chandra (2024), Secia Lie (2025), Gabriel Rhysson Febrianto (2025), Josephine Vivian Christy (2025), dan Gissell Clarance Yutaka (2025). Sebagai kompetisi moot court, atau kompetisi peradilan semu, terbesar di bidang hukum internasional, Jessup menantang peserta untuk menganalisis isu hukum global yang kompleks serta menyampaikan argumentasi di hadapan panel juri yang terdiri dari praktisi dan akademisi hukum internasional.
Kasus tahun ini bertajuk “The Gordian Gorge”, yang mengangkat isu peran negara ketiga di pengadilan internasional, perlindungan hak masyarakat adat dalam proyek pertambangan, hak individu dalam proses ekstradisi, serta imunitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Proses dan Dedikasi di Balik Prestasi
Capaian ini tidak diraih melalui proses yang singkat. Bagi tim FH UPH, perjalanan menuju kompetisi menjadi ruang pembelajaran yang mengasah kemampuan analisis hukum, ketahanan mental, serta kerja sama tim.
Anjarico Marlienardo mengungkapkan rasa syukur sekaligus kebanggaannya dapat mewakili UPH dalam kompetisi bergengsi tersebut.
“Bagi saya, Jessup menghadirkan tantangan intelektual yang melampaui ekspektasi. Kompetisi ini benar-benar mendorong kami untuk berpikir lebih kritis dan strategis,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh Secia Lie. Ia menuturkan bahwa proses persiapan menuntut komitmen tinggi dari seluruh anggota tim. Mereka menjalani riset, hingga melakukan berbagai latihan dan sesi persiapan intensif untuk menyempurnakan argumen yang akan disampaikan di hadapan juri.
Sementara itu, Michelle Chandra menilai bahwa pengalaman mengikuti Jessup tidak hanya memperkuat kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepercayaan diri.
“Kami dilatih untuk berpikir kritis, menyampaikan argumen secara meyakinkan, serta bekerja solid sebagai satu tim,” katanya.
Bagi Gabriel Rhysson Febrianto, pengalaman ini justru menjadi titik penting yang semakin meneguhkan minatnya untuk mendalami bidang hukum internasional. Ia menyadari bahwa disiplin, kerja keras, dan persiapan yang matang menjadi kunci untuk dapat bersaing di tingkat global.
Ekosistem Pendukung yang Kuat
Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan ekosistem akademik yang kuat di FH UPH, khususnya melalui International Law Moot Court Community (ILMCC). Komunitas ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berlatih, bertumbuh, dan saling menguatkan dalam mempersiapkan diri mengikuti kompetisi peradilan semu.
Bagi Josephine Vivian Christy, capaian ini merupakan hasil kerja bersama banyak pihak yang terlibat dalam proses panjang tersebut.
“Keberhasilan ini bukan hanya untuk kami sebagai tim, tetapi juga untuk seluruh keluarga besar ILMCC UPH. Ini adalah buah dari kerja keras, doa, dan dukungan banyak pihak sepanjang proses,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Gissell Clarance Yutaka, yang bersyukur atas komunitas yang mendukung perjalanan mereka.
“Saya bersyukur atas kemurahan dan kasih setia Tuhan. Melalui kerja sama tim dan dukungan komunitas ini, kami dapat berjuang dan meraih hasil yang membanggakan,” katanya.
Selain dukungan komunitas, para alumni, mentor, dan dosen pembimbing turut memberikan pendampingan intensif sejak tahap persiapan hingga hari kompetisi. Jessica Los Banos, J.D., M.T.M., M.B.A., selaku dosen pembimbing, mengapresiasi kerja keras tim yang sebagian besar anggotanya baru saja lulus dari bangku SMA.
“Mereka telah melampaui ekspektasi dengan berhasil melaju hingga ke Washington, D.C. Capaian ini tentu tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses persiapan yang panjang serta pembelajaran yang mereka jalani selama perkuliahan. Sejak awal, mahasiswa dilatih untuk melakukan riset mendalam, membangun argumentasi hukum, berlatih advokasi, serta terbuka menerima masukan untuk terus memperbaiki diri. Pengalaman ini menunjukkan bahwa dengan kerja keras, fokus, dan semangat belajar yang tinggi, mahasiswa mampu mencapai hal-hal luar biasa,” ujarnya.
Konsistensi Prestasi dan Langkah ke Depan
Jessup merupakan kompetisi peradilan semu hukum internasional terbesar dan tertua di dunia yang mensimulasikan sengketa antarnegara di hadapan Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ). Setiap tahunnya, ribuan mahasiswa hukum dari berbagai negara berpartisipasi dalam ajang ini.
FH UPH sendiri menunjukkan konsistensi prestasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, UPH meraih gelar Juara Nasional dan melaju ke babak internasional di Washington, D.C., Amerika Serikat. Di tingkat internasional, tim UPH berhasil menembus jajaran 49 tim terbaik dunia dari total 152 tim serta menjadi tim dengan peringkat tertinggi dari Indonesia. Melanjutkan capaian tersebut, tim Jessup FH UPH 2026 kini bersiap melangkah ke panggung internasional yang akan berlangsung pada 28 Maret–4 April 2026 di Washington, D.C.
Capaian ini tidak hanya menegaskan konsistensi FH UPH dalam meraih prestasi di tingkat internasional dan nasional, tetapi juga mencerminkan komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan yang holistik. Melalui proses pembelajaran akademik, pembinaan karakter, dan pengalaman kompetisi global, UPH terus mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan unggul yang takut akan Tuhan, profesional, dan berdampak bagi bangsa.