NEWS & PUBLICATION

Teachers College UPH Rayakan 20 Tahun: Teguhkan Peran Guru Kristen di Tengah Era AI dan Transformasi Pendidikan

26/06/2026 Education

Teachers College UPH Rayakan 20 Tahun: Teguhkan Peran Guru Kristen di Tengah Era AI dan Transformasi Pendidikan

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), muncul pertanyaan yang semakin sering dibahas dalam dunia pendidikan: apakah peran guru masih relevan? Bagi Fakultas Ilmu Pendidikan atau Teachers College Universitas Pelita Harapan (TC UPH), jawabannya justru semakin jelas. Sebagai institusi pendidikan yang berlandaskan iman Kristen, TC UPH meyakini bahwa pendidikan sejati adalah proses membentuk manusia secara utuh sebagai pribadi yang diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Karena itu, di tengah kemajuan teknologi, peran guru tetap penting dalam membentuk karakter, menumbuhkan hikmat, dan menuntun para peserta didik dalam memahami makna hidup.

Keyakinan tersebut menjadi fondasi TC UPH selama 20 tahun dalam mempersiapkan dan mengutus guru Kristen yang kompeten, berkarakter, dan berdampak. Komitmen ini dirayakan melalui Dies Natalis ke-20 TC UPH pada 20 Juni 2026 di Kampus UPH Lippo Village, Tangerang, yang dirangkai dengan Seminar Pendidikan dan Thanksgiving Service.

Mengangkat tema ‘Grace Alone: Faithfully Proclaim Christ’ (1 Korintus 15:10), perayaan ini menjadi momentum untuk mensyukuri penyertaan Tuhan, sekaligus meneguhkan kembali panggilan TC UPH dalam mempersiapkan pendidik Kristen yang berintegritas, profesional, dan berdampak bagi bangsa.

Dua Dekade Membentuk Guru Kristen untuk Indonesia

Dalam sesi Thanksgiving Service, Oh Yen Nie, Ph.D. (cand.), selaku Dekan TC UPH mengajak untuk melihat kembali perjalanan TC UPH sebagai karya penyertaan Tuhan dalam menjalankan panggilan pendidikan.

“Perayaan ini bukan tentang angka, jumlah lulusan, atau keberhasilan TC, tapi tentang bagaimana selama 20 tahun Tuhan tetap setia dengan janji-Nya. Apa yang sudah dimulai Tuhan, maka Ia yang menopang sampai akhir. Kiranya TC UPH tetap setia pada panggilannya, berani berinovasi tanpa kehilangan inti, dan terus dipakai Tuhan untuk melahirkan guru-guru Kristen yang mengasihi Tuhan, mengasihi murid, dan mengasihi Indonesia,” ujarnya.

Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., selaku Rektor UPH turut menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membentuk masa depan bangsa melalui pendidikan.

“Guru mengambil bagian dalam proses transformasi bangsa. TC menjadi bagian penting dari misi besar UPH untuk membentuk generasi yang siap melayani dan berdampak. Selama 20 tahun, TC UPH telah meluluskan hampir 4.000 guru yang melayani di lebih dari 170 sekolah di berbagai daerah Indonesia, termasuk wilayah pedalaman dan pegunungan Papua,” ungkap Rektor.

Sementara itu, Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., selaku Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group (PHG) sekaligus Presiden UPH, menegaskan bahwa pendidikan Kristen perlu terus relevan dalam menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi imannya.

“Pendidikan Kristen harus tetap berakar pada Kristus agar setiap generasi yang dibentuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang takut akan Tuhan dan hati yang melayani. Kami berharap lulusan TC terus hadir membawa dampak bagi bangsa dan menjadi berkat di mana pun mereka melayani,” tuturnya.

Pesan yang sejalan juga disampaikan oleh Dr. (H.C.) James T. Riady, Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH). Ia menyoroti bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi, tetapi juga pergumulan eksistensial.

“Tantangan utama pendidikan di era ini bukan sekadar teknologi, melainkan krisis kebenaran, identitas, dan arah hidup yang lebih mendalam. Pendidikan sejati berbicara tentang transformasi manusia dan guru Kristen memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak menggeser pusat kebenaran dari Firman Tuhan,” pesannya.

Ia menambahkan bahwa dua dekade TC bukan garis akhir, melainkan titik evaluasi untuk meneguhkan kembali panggilan yaitu tetap setia pada Firman Tuhan, pembentukan guru, dan masa depan Indonesia.

Di balik panggilan besar itu, sebuah perjalanan iman dijalani sejak awal. Aileen H. Riady, selaku YPPH Trustee, YPPH School System Chair, dan TC Founding Vision, mengungkapkan bahwa TC dapat berdiri oleh karena penyertaan Tuhan yang nyata sejak awal.

“TC adalah bukti bagaimana Tuhan memimpin langkah demi langkah dan mengizinkan saya menjadi alat-Nya. Dari awal hingga hari ini, saya melihat bahwa semua ini adalah bagian dari rancangan Tuhan yang jauh lebih besar, yang melampaui apa yang bisa kita pikirkan atau rencanakan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan Kristen harus selalu berpusat pada Kristus, dan berharap api pelayanan TC terus membangkitkan guru-guru yang siap dipakai Tuhan.

Teachers College sebagai Gerakan Pendidikan yang Membawa Transformasi

Perjalanan dua dekade TC UPH tidak hanya diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan, tetapi juga dari dampak yang dibawa para alumninya di berbagai sekolah dan komunitas pendidikan di Indonesia.

Bagi Dr. Connie Rasilim, Dekan TC UPH Periode 2006-2011 & 2016-2020, TC telah berkembang menjadi lebih dari sekadar institusi pendidikan.

“TC bukan sekadar institusi yang menghasilkan guru, melainkan bagian dari gerakan Tuhan melalui sektor pendidikan. Sejak awal, TC hadir untuk membentuk guru yang memiliki karakter, panggilan, kompetensi, dan belas kasih dalam pelayanan pendidikan. Kami percaya bahwa guru adalah living curriculum yang hadir sebagai teladan dan kesaksian bagi siswa,” ujarnya.

Perspektif tersebut diperkuat oleh Brian Cox, Relevant Head of School, SPH for Initial Teachers Training, yang menegaskan bahwa pendidikan Kristen tidak sekadar menambahkan iman dalam pengetahuan.

“Pendidikan Kristen bukan menambahkan iman sebagai lapisan atas pengetahuan, tetapi proses menolong siswa menemukan kebenaran Allah dalam seluruh aspek pembelajaran,” ujarnya.

Teaching in the Story of Redemption: Pendidikan yang Berpusat pada Kristus

Dalam khotbah Thanksgiving Service bertema Teaching in the Story of Redemption, Pdt. Dr. Yohanes Halim mengajak seluruh peserta melihat pendidikan melalui narasi besar penebusan Allah dalam Kolose 1:15–20.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan merupakan bagian dari panggilan ilahi sejak awal penciptaan. Namun karena dosa, relasi manusia dengan Allah dan ciptaan mengalami kerusakan. Melalui Kristus, pemulihan itu kembali dimungkinkan termasuk dalam dunia pendidikan.

“Semakin teknologi berkembang, semakin penting peran guru. AI tidak dapat menggantikan hikmat, kasih, maupun kemampuan seorang guru untuk membimbing dan menginspirasi murid. Karena itu, pendidikan Kristen justru semakin relevan dalam membentuk generasi yang mengenal sumber kebenaran sejati,” paparnya.

Guru di Era AI: Teknologi Mendukung, Guru Tetap Menentukan

Sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis, TC juga menghadirkan Seminar Pendidikan bertajuk From PISA to Classroom Transformation: Reimagining Science, Mathematics, and Technology Teaching through AI for High-Quality STEM Education. Dalam seminar tersebut, Kelly G. Sinaga, S.Tp., MPKim., Dosen Pendidikan Kimia UPH, menekankan pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab dalam pembelajaran STEM melalui pendekatan Three-Dimensional Learning. Peserta diajak memahami proses berpikir ilmiah melalui observasi, analisis data, hingga Claim–Evidence–Reasoning (CER).

“Teknologi membuka banyak kemungkinan baru dalam pembelajaran. Namun siswa tetap harus dipandang sebagai pribadi bermartabat yang berpikir dan bertumbuh. Ketika seluruh proses belajar diserahkan kepada AI tanpa proses refleksi dan pengolahan, kita berisiko kehilangan esensi pendidikan. Karena itu, penggunaan AI harus tetap berada dalam kendali guru sebagai pendidik yang bertanggung jawab,” paparnya.

Melalui pendekatan tersebut menurutnya, guru tetap memiliki peran sentral dalam membimbing siswa menggunakan teknologi secara bijaksana sekaligus menolong mereka memahami keteraturan ciptaan Tuhan melalui ilmu pengetahuan.

Dampak bagi Generasi Penerus

Semangat pembentukan yang menjadi ciri TC UPH dirasakan para mahasiswa. Febianti Sarunggu, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2023, mengungkapkan bahwa pengalaman belajar di TC tidak hanya mempersiapkannya menjadi guru, tetapi juga pribadi yang siap melayani.

“TC dibentuk untuk melahirkan pendidik Kristen yang menolong siswa mengenal Allah. Saya berharap pembentukan ini tidak berhenti di bangku kuliah, tetapi terus membentuk cara kami mengajar dan melayani ketika terjun ke sekolah nanti,” ungkapnya.

Memasuki usia ke-20, Teachers College UPH meneguhkan kembali komitmennya dalam menghadirkan pendidikan holistis yang membentuk guru Kristen pembawa transformasi. Di tengah perubahan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi, TC UPH menegaskan bahwa peran pendidik tetap tidak tergantikan dalam membentuk manusia seutuhnya. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan holistis UPH untuk mempersiapkan generasi pemimpin dan pendidik masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan, dan berdampak bagi bangsa serta dunia.

———————— 
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu 
Written by: Karin Angelica Putri Lay (Mahasiswa S1 Manajemen, 2024)