NEWS & PUBLICATION

Dua Mahasiswa UPH Raih Juara 1 Peksimida DKI Jakarta 2026 lewat Lukisan dan Puisi, Siap Bersaing di Tingkat Nasional

31/07/2026 Achievements

Dua Mahasiswa UPH Raih Juara 1 Peksimida DKI Jakarta 2026 lewat Lukisan dan Puisi, Siap Bersaing di Tingkat Nasional

Dua mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) meraih juara pertama di cabang seni berbeda padaajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) DKI Jakarta 2026 danmelaju ke Pekan Seni MahasiswaNasional (Peksiminas) 2026. Keduanya yakni, Iam Cello Sambo Paku, mahasiswa Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH angkatan 2025 yang meraih Juara 1 Tangkai Lomba Lukis, dan  Hendry Zefanya Sembiring, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UPH angkatan 2025 yang meraih Juara 1 Tangkai Lomba Penulisan Puisi. Prestasi ini mencerminkan komitmen UPH dalam mendukung mahasiswa mengembangkan talenta dan berkarya melalui berbagai kesempatan.

Peksimida 2026 berlangsung pada 16–24 Juli 2026 di Universitas Tarumanegara, Jakarta Barat, dan Universitas Pertamina, Jakarta Selatan dengan diikuti 345 mahasiswa dari 24 perguruan tinggi. Seluruh pemenang terpilih berhasil melaju ke Peksiminas pada bulan September 2026. Ajang ini diselenggarakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) bekerja sama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa).

Mengangkat Identitas Budaya Toraja melalui Lukisan

(Lukisan karya Iam Cello Sambo Paku- Mahasiswa DKV UPH 2025)

Di balik prestasi tersebut, masing-masing mahasiswa membawa cerita dan proses kreatif yang berbeda. Bagi Cello, kompetisi ini menjadi kesempatan untuk mengangkat identitas budaya Toraja melalui karya yang dekat dengan kehidupannya.

Dalam lukisannya, Cello menggambarkan sosok ibunya, seorang pengrajin kain tradisional Toraja, yang direpresentasikan sebagai Ibu Pertiwi. Sosok tersebut dipadukan dengan elemen Kain Sarita, Kain Ma’a, dan kerbau sebagai simbol identitas budaya Toraja.

“Sosok ibu yang menjahit kain melambangkan ketekunan, pengorbanan, dan kasih yang tidak hanya hadir dalam keluarga, tetapi juga dalam menjaga identitas budaya. Lewat karya ini, saya ingin mengajak kita melihat bahwa harapan bagi masa depan Indonesia lahir dari proses-proses kecil yang dilakukan dengan setia,” ungkap Cello.

Karya tersebut lahir melalui persiapan yang matang. Selama empat hari, Cello melakukan riset, menyusun konsep, dan berlatih teknik melukis. Tantangan semakin besar saat perlombaan, karena setiap peserta hanya memiliki waktu enam jam untuk menyelesaikan lukisan di atas kanvas berukuran 1×1 meter tanpa diperbolehkan melihat referensi visual.

Meski demikian, Cello merasa pengalaman belajar di DKV UPH membantunya menghadapi tantangan tersebut. Melalui pembelajaran di kelas, bimbingan dosen, dan kesempatan mengikuti berbagai pameran, Cello belajar melihat karya tidak hanya dari aspek visual, tetapi juga dari gagasan dan makna yang ingin disampaikan.

“Di DKV UPH saya belajar untuk menggunakan design thinking dalam memecahkan masalah. Jadi, sebagai seniman maupun desainer, kita tidak hanya memikirkan keindahan visual, tetapi juga bagaimana karya tersebut memiliki makna dan mampu memberikan dampak bagi orang lain,” jelasnya.

Kini, Cello tengah mempersiapkan diri menghadapi Peksiminas 2026 dengan terus mengasah kemampuan melukis, terutama dalam penguasaan proporsi, pencahayaan, dan manajemen waktu. Baginya, kemenangan di Peksimida bukan sekadar prestasi, tetapi juga menjadi proses pembelajaran untuk terus berkembang.

“Proses bertumbuh tidak pernah instan, seperti besi yang ditempa melalui panas dan pukulan berkali-kali hingga menjadi sesuatu yang kuat dan bernilai. Jadi, jangan takut mencoba. Ketika kita tidak mencoba, kemungkinannya hanya satu, yaitu gagal. Namun, ketika kita berani mencoba, selalu ada dua kemungkinan: berhasil atau belajar dari kegagalan. Jadi manfaatkan setiap kesempatan sebaik mungkin, tetap rendah hati, dan terus andalkan Tuhan dalam segala hal,” pesannya.

Dari Luapan Perasaan Menjadi Karya Juara

Jika Cello menemukan ruang untuk mengekspresikan identitas budaya melalui lukisan, Hendry menemukan kekuatannya dari kebiasaan sederhana, menulis setiap malam. Kebiasaan yang awalnya menjadi cara untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman sehari-hari tersebut perlahan mengasah kemampuan menulisnya hingga membawanya ke kompetisi.

“Ini adalah pencapaian yang sangat besar bagi saya karena ini pertama kalinya saya mengikuti perlombaan. Awalnya saya hanya menulis hampir setiap malam tentang apa yang saya rasakan atau alami, sampai akhirnya memberanikan diri mengikuti kompetisi,” ujarnya.

Pada hari perlombaan, seluruh peserta baru mengetahui tema yang harus diangkat, yaitu ‘Menyulam Kata, Mengokohkan Bangsa’. Berangkat dari tema tersebut, Hendry mengembangkan analogi seorang penjahit yang menyulam kain menjadi pakaian indah, seorang tukang yang menyusun bata menjadi bangunan kokoh, dan seorang penulis yang membangun bangsa melalui rangkaian kata. Gagasan itu kemudian dituangkannya ke dalam puisi berjudul “Penjahit, Tukang, dan Penulis.”

“Saya ingin mengajak siapa saja menjadi penulis yang mampu mempersatukan dan mengokohkan, seperti penjahit yang merangkai berbagai kain menjadi gaun indah atau tukang yang membangun bangunan kokoh dari kepingan-kepingan bata kecil,” jelas Hendry.

Untuk mempersiapkan diri, Hendry memperbanyak membaca buku puisi, termasuk karya dosennya, Dr. Abednego Tri Gumono, M.Pd. Ia juga mempelajari pilihan diksi dari berbagai lagu bernuansa puitis. Pengalaman belajar di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UPH turut memperkuat kemampuan berpikir dan menulisnya, terutama dalam memahami karya sastra dan mengolah gagasan ke dalam bahasa.

“Mata kuliah Teori Sastra menjadi pengalaman belajar yang paling berpengaruh bagi saya. Saya belajar memahami berbagai pendekatan sastra sekaligus cara menuangkan ide melalui beragam gaya bahasa,” katanya.

Setelah meraih Juara 1 Peksimida dan melaju ke Peksiminas 2026, Hendry terus mempersiapkan diri dengan memperdalam penguasaan diksi dan majas. Ia menargetkan dapat menembus lima besar tingkat nasional sekaligus berharap pengalamannya dapat mendorong lebih banyak mahasiswa untuk berani mengembangkan potensi melalui berbagai kesempatan.

“Jangan takut mencoba hal baru. Ketika kita berani melangkah, selalu ada kesempatan untuk berkembang. Seperti balapan di sirkuit, untuk menjadi yang tercepat kita harus terus berpacu. Begitu juga untuk menjadi yang terbaik, kita harus terus belajar dan memperlengkapi diri. Dan yang terpenting, jangan lupa bahwa Allah berotoritas atas hidup kita. With God all things are possible. To God be the glory,” tuturnya.

Selain dua gelar juara pertama tersebut, mahasiswa UPH juga menorehkan prestasi membanggakan lainnya di kategori lomba berbeda. Shanti Dewi Lie (Musik 2025) meraih Juara 2 Lomba Pop Putri, tim Vokal Grup UPH meraih Juara 2, Christopher Manuel Hendrik (Manajemen 2025) meraih Juara Harapan I Lomba Pop Putra, serta tim Tari UPH memperoleh Juara Harapan I Lomba Tari Kelompok.

Rangkaian prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa UPH tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kreativitas, daya saing, dan kemampuan berekspresi di berbagai bidang. Melalui pendidikan holistis, pembinaan yang berkelanjutan, dan berbagai program pengembangan diri, UPH mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi masyarakat.

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu