NEWS & PUBLICATION

Resmi Dilantik di Hari Pertama UPH Festival 2026, Hampir 7000 Peserta Didik Diajak Memahami Imago Dei sebagai Identitas dan Tujuan Hidup

13/08/2026 UPH Fest

Resmi Dilantik di Hari Pertama UPH Festival 2026, Hampir 7000 Peserta Didik Diajak Memahami Imago Dei sebagai Identitas dan Tujuan Hidup

Hampir 7.000 peserta didik Tahun Akademik 2026/2027 resmi menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui Grand Convocation dalam rangkaian hari pertama UPH Festival 2026 di Kampus Utama UPH Lippo Village, Tangerang, pada 13 Agustus 2026. Mengusung tema ‘Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform’, UPH Festival menjadi awal perjalanan mahasiswa untuk mengenal diri, memahami dunia di sekitarnya, serta menemukan tujuan dan panggilan hidup.

Tahun ini, keragaman komunitas UPH sebagai kampus global turut tercermin melalui kehadiran mahasiswa baru internasional yang berasal dari 12 negara, yakni Tiongkok, Timor Leste, India, Iran, Kenya, Myanmar, Selandia Baru, Pakistan, Polandia, Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan. Selama tiga hari, mahasiswa mengikuti rangkaian kegiatan untuk mengenal identitas, membangun relasi lintas budaya, memahami berbagai perspektif tentang kehidupan, serta merefleksikan bagaimana pengetahuan dan talenta yang dimiliki dapat digunakan dalam kehidupan dan panggilan mereka.

Memasuki kehidupan perguruan tinggi, mahasiswa berada pada fase penting untuk membangun cara berpikir, mengambil keputusan, membentuk relasi, dan menentukan arah kehidupan. Karena itu, UPH Festival tidak hanya menjadi momentum penyambutan, tetapi juga ruang awal untuk merefleksikan siapa diri mereka dan bagaimana mereka ingin menjalani perjalanan di UPH.

Grand Convocation Menandai Awal Perjalanan di UPH

Rangkaian hari pertama diawali dengan Grand Convocation yang menandai resmi bergabungnya mahasiswa baru sebagai bagian dari keluarga besar UPH. Dalam sambutannya, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., Rektor UPH, mengajak mahasiswa menjadikan tema Imago Dei sebagai kesempatan untuk memahami identitas manusia sebagai ciptaan Tuhan dan merefleksikan bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya. Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menjadikan True Knowledge, Faith in Christ, dan Godly Character sebagai fondasi selama menempuh pendidikan di UPH.

“Kami berdoa agar mahasiswa dapat melakukan yang terbaik dan menjalankan visi UPH. Kami juga berharap para mahasiswa menjalani pendidikan dengan tekun. Selamat datang di UPH dan selamat menjadi bagian dari keluarga UPH,” ucapnya.

Menemukan Panggilan Hidup, Tidak Menyia-nyiakan Waktu, dan Jangan Takut Gagal

Dr. (H.C.) James T. Riady, Founder and Trustee Chair UPH, turut memberikan pesan kepada seluruh mahasiswa baru. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak melihat masa perkuliahan sekadar sebagai perjalanan memperoleh gelar dan pekerjaan, tetapi sebagai kesempatan untuk menemukan identitas, memahami panggilan hidup, dan mempersiapkan diri membawa dampak bagi masyarakat.

“Jangan sia-siakan waktu yang kalian miliki, khususnya empat tahun yang akan kalian jalani di UPH. Kalian mungkin merasa bahwa hidup masih panjang dan masih ada banyak waktu untuk mencoba berbagai hal. Tetapi percayalah, hidup bergerak jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Karena itu, gunakan masa ini dengan sebaik-baiknya untuk belajar, bertumbuh, menemukan panggilan hidup, dan membentuk karakter Anda,” kata Dr. James.

Ia juga mengingatkan bahwa kesuksesan tidak semata-mata diukur dari nilai akademik, reputasi universitas, pekerjaan, jaringan, maupun berbagai pencapaian lainnya.

“Tidak ada yang salah dengan semua itu, tetapi saya berharap kalian mengerti bahwa semua itu terlalu kecil untuk menjadi tujuan hidup. Jangan sampai kita menghabiskan hidup mengejar hal-hal tersebut, tetapi pada akhirnya tidak pernah menjawab pertanyaan yang paling dalam: untuk apa hidup kita?” ujarnya.

Dr. James kemudian mengajak mahasiswa memahami Imago Dei sebagai bagian penting dari perjalanan mereka di UPH. Menurutnya, Imago Dei berbicara tentang menemukan identitas terdalam manusia, bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dan dipanggil untuk membawa transformasi bagi dunia di sekitarnya.

Di tengah perkembangan teknologi, Dr. James juga mendorong mahasiswa untuk memahami AI, robotika, dan berbagai perkembangan teknologi yang akan membentuk masa depan. Ia mengajak mahasiswa menjadikan masa kuliah sebagai ruang untuk mencoba, belajar, dan tidak takut gagal. Ia berharap mahasiswa nantinya tidak hanya meninggalkan UPH dengan gelar dan pekerjaan yang baik, tetapi juga memiliki pemahaman tentang kebenaran, keyakinan, karakter, serta hati mau melayani.

“Saya berharap kalian berani mencoba sesuatu yang baru, berani mengambil risiko, dan berani gagal. Belajarlah untuk gagal dan bangkit kembali. Dari kegagalan itu, kalian justru akan banyak mendapat pelajaran. Setialah, karena hidup kita adalah pemberian Allah. Gunakan waktu ini dengan sebaik-baiknya. Selamat datang di UPH. Ini adalah permulaan dari perjalanan hidup kalian,” tuturnya.

Grand Convocation kemudian dilanjutkan dengan prosesi pengalungan Smart Card kepada perwakilan mahasiswa baru oleh para Dekan Fakultas UPH. Prosesi ini menjadi simbol penyambutan sekaligus menandai dimulainya perjalanan akademik mereka sebagai bagian dari keluarga besar UPH.

UPH Festival Ajak Mahasiswa Mengenal Diri Sejak Awal Kuliah

Pertanyaan mengenai identitas melalui tayangan video berjudul ‘Who Are You’ menjadi pembuka perjalanan festival para mahasiswa baru.  Mahasiswa diajak merenungkan lima pertanyaan mendasar yang menjadi benang merah kegiatan selama tiga hari: Siapa saya? (Who am I?) Apa yang salah dengan dunia ini? (What is wrong with the world?) Apa jawabannya? (What is the answer?) Mengapa saya ada di sini? (Why am I here?) dan Apa yang akan saya lakukan dengan hidup saya? (What will I do with my life?).

Melalui pertanyaan tersebut, UPH sebagai universitas yang berlandaskan Wawasan Dunia Kristen Reformed mengajak mahasiswa memahami konsep Imago Dei, bahwa pencarian identitas dimulai dari pengenalan akan Tuhan sebagai Sang Pencipta. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, memiliki kekuatan sekaligus keterbatasan, serta tidak menentukan nilai dirinya semata-mata berdasarkan prestasi, status, popularitas, atau penilaian orang lain.

Pemahaman ini menjadi penting ketika mahasiswa memasuki fase baru kehidupan. Dengan mengenal diri, mahasiswa diharapkan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk mengambil keputusan, membangun relasi, menentukan prioritas, dan menjalani perkuliahan dengan arah yang lebih jelas.

The Wonder of Being Human: Memahami Keunikan Manusia dari Berbagai Perspektif

Pembahasan mengenai identitas manusia dilanjutkan melalui sesi ‘The Wonder of Being Human’, yang mengajak mahasiswa melihat keunikan manusia dari berbagai perspektif, mulai dari tubuh, pikiran, alam semesta, kreativitas, hingga musik.

Melalui materi The Human Body’, Prof. Dr. dr. Allen Widysanto, Sp.P, TTS, FAPSR, FISR, Wakil Dekan Bidang Akademik sekaligus Kepala Bagian Pulmonologi & Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran (FK) UPH, menjelaskan kompleksitas tubuh manusia dalam perspektif Imago Dei. Ia menekankan bahwa manusia tidak dapat dipandang hanya dari kondisi fisiknya, tetapi sebagai pribadi yang memiliki nilai dan martabat.

“Semakin kita memahami tubuh manusia, semakin kita menyadari betapa kompleks dan menakjubkannya manusia. Belajar kedokteran bukan hanya tentang pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga tentang membentuk karakter, kasih kepada sesama, dan rasa tanggung jawab. Pasien bukan sekadar seseorang dengan penyakit yang harus diobati, melainkan pribadi yang bernilai dan bermartabat. Setiap pasien harus dihormati, dihargai, dan dirawat dengan penuh kepedulian,” ucapnya.

Sementara itu, Dr. Novel Priyatna, SE, M.Th., Ketua Program Studi Pendidikan Agama Kristen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPH, melalui materi ‘The Human Mind’, menekankan kemampuan manusia untuk mengenal diri, mencari kebenaran, membedakan yang benar dan salah, serta memaknai kehidupan.

“Pikiran manusia adalah cerminan Sang Pencipta, karena kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Karena itu, belajar adalah bagian dari ibadah kepada Tuhan,” ujarnya.

Pembahasan kemudian berlanjut melalui topik The Universe is Intelligible’ oleh Dr. Niel Nielson selaku Senior Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), ‘Why Human Beings Create’ oleh Elya Kurniawan Wibowo, S.Sn., M.A., Dosen Fakultas Desain (FD) UPH, serta ‘Why We Sing’ oleh Antonius Sugeng Priyanto, S.Ag., B.CM., M.Mus., DMA., Dosen Fakultas Musik (FM) UPH. Ketiganya mengajak mahasiswa melihat keteraturan alam semesta, kemampuan manusia untuk berkreativitas, serta musik sebagai bentuk ekspresi dan kreativitas manusia.

Melalui berbagai perspektif tersebut, mahasiswa diajak memahami keunikan manusia sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah, sekaligus menyadari bahwa pengetahuan, kreativitas, dan talenta dapat digunakan untuk memuliakan Tuhan dan memberi dampak bagi sesama.

Menghubungkan Identitas dengan Kehidupan Sehari-hari

Rangkaian hari pertama berlanjut melalui sesi ‘Learning to Live’ yang membahas berbagai topik yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, mulai dari kebebasan, persahabatan, cinta, berpacaran dan seksualitas, hingga pembentukan cara berpikir, makna bahwa tubuh adalah pemberian Allah, dan refleksi diri.  Sesi ini mengajak mahasiswa menghubungkan pemahaman tentang identitas dengan berbagai pilihan dan tantangan di kehidupan kampus.

Mahasiswa juga mengikuti sesi ‘What Is a University For’ yang disampaikan oleh Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., Presiden UPH, yang mengajak mahasiswa melihat pendidikan sebagai proses pembentukan kehidupan, bukan sekadar persiapan memasuki dunia profesional. Perjalanan hari pertama dilengkapi dengan Mentor-Mentee Fellowship untuk membangun relasi dan komunitas pertama para mahasiswa baru, sebelum ditutup melalui ‘Imago Dei Night’, sebuah pagelaran musik klasik yang dilengkapi dengan visualisasi live painting persembahan FM UPH yang menjadi ruang refleksi dan perayaan mengenai identitas serta martabat manusia.

Melalui semangat Imago Dei, UPH mengajak mahasiswa memulai perjalanan perkuliahan dengan mengenal diri, memahami tujuan hidup, dan menemukan bagaimana pengetahuan serta talenta yang dimiliki dapat digunakan untuk membawa transformasi dan dampak. Perjalanan ini kemudian dilanjutkan melalui pendidikan holistis dan berbagai pengalaman pengembangan diri di UPH yang membentuk mahasiswa secara utuh, hingga mempersiapkan mereka menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi masyarakat.

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu