19/08/2026 UPH Fest
Penyalahgunaan narkotika masih menjadi salah satu tantangan serius yang mengancam masa depan generasi muda Indonesia, termasuk mahasiswa. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba masyarakat Indonesia di rentang usia 15-64 tahun mencapai 2,11% pada 2025, atau setara dengan lebih dari 4,15 juta orang. Angka ini menegaskan pentingnya edukasi dan pencegahan sejak dini, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.
Kondisi ini mendorong Universitas Pelita Harapan (UPH) bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Nasional Anti Narkotika (DPP GRANAT) untuk menggelar sosialisasi bahaya narkotika bagi mahasiswa baru dalam rangkaian Pre-Event UPH Festival 2026 pada 11 Agustus 2026 di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village. Mengusung tema ‘Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform’, pembekalan ini mengajak mahasiswa memahami bahwa manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Karena itu, setiap individu memiliki nilai dan martabat, sekaligus tanggung jawab untuk menjaga kehidupan yang telah diberikan Tuhan, termasuk melalui pilihan hidup sehat dan bebas dari narkotika.
Sosialisasi menghadirkan dr. Grace Beatrix, MM., Dokter Estetika; Dr. (Cand.) Renaldy Youbella Surya Winata, S.E., S.H., M.H., Kepala Bidang Kaderisasi Departemen Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi DPP GRANAT sekaligus alumni Program Studi Sarjana Hukum UPH angkatan 2019 dan Magister Hukum UPH angkatan 2023; Yemima Reina Manse, S.H., M.H., Advokat sekaligus anggota DPP GRANAT; serta Edmond Hariandja, Pendiri Vegan Runners Indonesia. Seluruh sesi dipandu oleh Yuanita Safira, S.E., dan Bagas Kurniawan, S.E., Wakil Sekretaris Jenderal DPP GRANAT.
Mengawali sesi, dr. Grace Beatrix melalui materi ‘What Drugs Can Do to Your Brain and Body: Why One Decision Can Change Everything’, menjelaskan dampak narkoba terhadap otak, khususnya sistem dopamin yang berkaitan dengan rasa senang.
“Ketika otak terus-menerus terpapar lonjakan dopamin dalam jumlah tinggi, otak akan beradaptasi dan menjadi kurang sensitif. Akibatnya, seseorang membutuhkan lebih banyak zat untuk mendapatkan efek yang sama. Inilah salah satu alasan penyalahgunaan narkoba dapat berkembang menjadi ketergantungan,” jelasnya.
Melalui materi ‘Choose Your Future, Not Drugs’,Dr. (Cand.) Renaldy Youbella Surya Winata mengajak mahasiswa memahami bahwa ajakan menggunakan narkoba dapat muncul dari lingkungan pertemanan, tekanan sosial, keinginan untuk diterima, hingga fear of missing out (FOMO).
“Berani mengatakan ‘tidak’ menunjukkan kemampuan kita menentukan batasan dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Jangan sampai karena FOMO atau takut berbeda, kita mengikuti hal yang merugikan diri. Pilihan hari ini menentukan masa depan kita,” tegasnya.
Dari perspektif hukum, Yemima Reina Manse melalui materi ‘Undang-Undang Narkotika dan Psikotropika’ menjelaskan aturan terkait narkotika, termasuk perbedaan konsekuensi hukum antara penggunaan untuk kepentingan medis, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika.
“Pengguna narkotika untuk diri sendiri dalam kondisi tertentu dapat direhabilitasi, sedangkan pelaku peredaran gelap dapat dikenai sanksi berat hingga pidana mati. Pemahaman ini penting agar narkotika digunakan sesuai tujuan medis dan tidak disalahgunakan,” jelasnya.
Pesan mengenai pilihan hidup kemudian diperkuat melalui kisah Edmond Hariandja dalam sesi ‘Your Life is Your Choice’. Ia membagikan pengalamannya mengenal ganja, alkohol, pergaulan bebas, hingga narkoba sejak SMP akibat keinginan untuk diterima dalam lingkungan pertemanan.
“Saya mulai mengenal ganja sejak kelas 2 SMP karena ingin diterima dalam pertemanan. Dari sana, semuanya berkembang semakin jauh. Saya akhirnya sadar, kalau ingin mengubah hidup, saya harus berani meninggalkan lingkungan tersebut,” ungkap Edmond.
Olahraga kemudian menjadi bagian dari titik balik kehidupannya. Ia menemukan lingkungan yang lebih positif dan kini aktif sebagai running coach sekaligus membangun komunitas Vegan Runners Indonesia.
“Orang memakai narkoba karena mengejar efek dopaminnya. Ketika saya keluar dari lingkungan tersebut dan mulai fokus pada olahraga, saya mendapatkan dopamin dan rasa bahagia dengan cara yang sehat. Olahraga membantu saya membangun kembali kehidupan dan menemukan lingkungan yang mendukung perubahan,” tuturnya.
Sosialisasi bersama DPP GRANAT menjadi pembekalan awal bagi mahasiswa baru UPH untuk memahami risiko narkoba, berani mengambil keputusan, dan membangun lingkungan hidup sehat, sejalan dengan makna Imago Dei dalam UPH Festival 2026 tentang nilai dan tanggung jawab hidup manusia.
Setelah rangkaian Pre-Event, perjalanan mahasiswa baru berlanjut dalam UPH Festival 2026 pada 13–15 Agustus 2026 di Kampus Utama UPH Lippo Village. Ke depannya, melalui pendidikan holistis dan berbagai program pengembangan diri, setiap mahasiswa dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu