21/08/2026 UPH Fest
Memasuki dunia perkuliahan, mahasiswa biasanya membawa berbagai harapan, mulai dari lulus tepat waktu, meraih gelar, membangun karier, hingga membanggakan orang tua. Namun, apakah universitas hanya tentang gelar dan pekerjaan? Pertanyaan tersebut menjadi titik awal bagi para mahasiswa baru Universitas Pelita Harapan (UPH) untuk melihat kembali makna pendidikan tinggi melalui sesi ‘What Is a University For?’ pada UPH Festival 2026 di Kampus Utama UPH Lippo Village, Tangerang, 13 Agustus 2026.
Melalui sesi tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan pada perspektif bahwa universitas bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan dan mempersiapkan karier, tetapi juga ruang untuk mengenal diri, membentuk karakter, membangun relasi, menemukan panggilan, dan mempersiapkan diri menjalani kehidupan. Pesan ini menjadi bagian dari semangat ‘Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform’ yang menjadi tema UPH Festival 2026.
Lebih dari Sekadar Belajar: Universitas sebagai Ruang Pembentukan
Sesi “What Is a University For?” diawali dengan tayangan video yang mengajak mahasiswa melihat kembali peran pengetahuan dalam pendidikan. Dalam perspektif iman Kristen yang menjadi landasan UPH, dunia dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh. Karena itu, proses belajar tidak berhenti pada menerima informasi, tetapi mendorong mahasiswa untuk membaca, meneliti, menganalisis, bereksperimen, berkarya, bahkan berani mengalami kegagalan dan mencoba kembali.
Pendidikan juga berperan dalam membentuk karakter. Dosen, teman, buku, kebiasaan, keberhasilan, kegagalan, hingga berbagai keputusan selama masa kuliah turut membentuk pribadi mahasiswa. Karena itu, perjalanan di universitas bukan hanya tentang menjadi lebih pintar, tetapi juga bertumbuh menjadi pribadi yang disiplin, jujur, rendah hati, dan bertanggung jawab.
Menemukan Identitas dan Membangun Relasi
Pesan tersebut kemudian diperdalam oleh Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., Presiden UPH, yang mengajak mahasiswa memandang masa kuliah sebagai kesempatan untuk mengenal diri dan membentuk kepribadian. Sebelum berbicara tentang karier dan kesuksesan, mahasiswa perlu terlebih dahulu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: “Siapa saya?”
Pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan tema Imago Dei. Dalam iman Kristen, setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga kehidupan di universitas menjadi kesempatan untuk memahami identitas, potensi, serta tanggung jawab yang dimiliki.
“Di UPH, kami tidak hanya menyiapkan karier, tetapi juga menjadi tempat di mana kalian dibentuk untuk menjadi seseorang,” ujarnya.
Masa kuliah juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk bertemu dengan orang-orang dari berbagai daerah, budaya, disiplin ilmu, dan latar belakang. Interaksi tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan, baik melalui komunitas mahasiswa, diskusi dengan dosen, maupun perjumpaan dengan mahasiswa internasional. Proses ini akan membawa mahasiswa untuk belajar mendengarkan, menghargai perbedaan, membangun relasi, dan melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dari Kebebasan Menjadi Tanggung Jawab
Memasuki kehidupan kampus juga berarti memiliki kebebasan yang lebih besar dalam menentukan waktu, pergaulan, kebiasaan, dan berbagai keputusan. Namun, kebebasan berjalan bersama tanggung jawab. Karena itu, Dr. Stephanie mengajak mahasiswa memandang masa kuliah sebagai proses untuk bertumbuh dan belajar menggunakan ilmu, keahlian, talenta, serta berbagai kesempatan yang dimiliki untuk memberi dampak bagi diri sendiri dan orang lain.
“Saya berharap selama berada di UPH kalian belajar berpikir, mencari kebenaran, bekerja dengan unggul dan sepenuh hati, mengasihi sesama, melayani, serta memimpin. Semoga kalian juga menemukan talenta dan panggilan hidup, bertumbuh dalam iman, dan siap menggunakan segala sesuatu yang Tuhan percayakan untuk memberi dampak yang lebih besar,” tuturnya.
Pesan tersebut juga memberikan perspektif baru bagi Su Latt Hnin, atau yang akrab disapa Jenny, mahasiswa baru UPH asal Myanmar dari Program Studi International Teachers College (ITC). Menurutnya, sesi tersebut membuatnya melihat kehidupan universitas tidak hanya sebagai perjalanan akademik, tetapi juga sebagai kesempatan untuk bertumbuh melalui komunitas dan berbagai pengalaman.
“Dari sesi ini, saya belajar bahwa universitas bukan hanya tentang belajar, akademik, atau mengejar nilai. Universitas juga menjadi tempat untuk membangun relasi, belajar bersama dalam komunitas, mengenal berbagai budaya, bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, dan tentunya menikmati perjalanan sebagai mahasiswa,” ujarnya.
Learning to Live: Belajar Menjalani Kehidupan Kampus
Memahami kehidupan universitas tidak berhenti pada ruang kelas. Sesi ‘Learning to Live’ mengajak mahasiswa baru melihat berbagai aspek yang akan mereka hadapi selama menjalani kehidupan kampus. Melalui tayangan video, mereka diajak merefleksikan kebebasan, persahabatan, cinta dan relasi, cara berpikir, penggunaan teknologi, hingga pentingnya merawat tubuh.
Memasuki kehidupan kampus, mahasiswa memiliki kebebasan lebih besar dalam menentukan waktu, pergaulan, dan berbagai keputusan. Karena itu, mereka perlu memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi dan mempertimbangkannya dengan bijak.
Dalam hal membangun relasi, mahasiswa diperkenalkan pada pentingnya persahabatan yang sehat dan bermakna melalui sikap saling mendukung, menghargai, berkata jujur, dan menerima teguran. Dalam relasi romantis, mereka juga diingatkan untuk membangun hubungan dengan penghormatan dan tanggung jawab, dengan menyadari bahwa setiap pribadi memiliki martabat sebagai gambar dan rupa Allah.
Di tengah derasnya informasi dan pengaruh media sosial, mahasiswa juga diingatkan untuk bijak memilih apa yang mereka konsumsi karena dapat memengaruhi cara berpikir, kebiasaan, hingga arah hidup. Tayangan tersebut turut menyoroti pentingnya merawat tubuh sebagai anugerah Tuhan melalui pola hidup seimbang, seperti tidur cukup, menjaga pola makan, berolahraga, dan mengenali batas diri.
Ruang Bertumbuh melalui Pendidikan yang Transformatif
UPH menghadirkan pendidikan melalui pendekatan transformative learning yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pembentukan spiritual dan pengalaman kehidupan mahasiswa. Melalui kurikulum yang dikembangkan oleh Center for Faith and Education (CFE), mahasiswa diajak memahami ilmu dan kehidupan melalui perspektif iman yang sesuai dengan latar belakang keyakinan masing-masing. Sementara itu, melalui Student Engagement Program (SEP), mahasiswa mendapatkan berbagai pengalaman yang membantu mengembangkan karakter, kepemimpinan, relasi, keterampilan hidup, dan kepedulian terhadap sesama.
Proses tersebut semakin diperkaya melalui komunitas, mentoring, Service Learning Community (SLC), kegiatan kemahasiswaan, hingga kesempatan belajar lintas budaya. Dengan demikian, pembelajaran di UPH tidak hanya berfokus pada apa yang mahasiswa ketahui, tetapi juga pada bagaimana mereka bertumbuh sebagai pribadi, menemukan panggilan, dan menggunakan pengetahuan serta talenta untuk membawa dampak.
Berbagai sesi tersebut menjadi awal perjalanan mahasiswa baru untuk memahami bahwa universitas bukan sekadar tempat meraih gelar dan mempersiapkan karier, tetapi ruang untuk mengenal diri, membentuk karakter, membangun relasi, menemukan panggilan, dan belajar menggunakan pengetahuan serta talenta dengan penuh tanggung jawab. Melalui pendidikan holistis dan berbagai pengalaman pengembangan diri yang bermakna, UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: