NEWS & PUBLICATION

Student Leaders Conference 2026: Empat Bekal untuk Menjadi Student Leader yang Siap Memimpin dan Berdampak

14/09/2026 Student Life

Student Leaders Conference 2026: Empat Bekal untuk Menjadi Student Leader yang Siap Memimpin dan Berdampak

Menjadi pemimpin organisasi mahasiswa bukan sekadar menjalankan program kerja. Seorang student leader perlu memahami lingkungan tempat ia memimpin, membangun sistem yang terarah, menyampaikan gagasan dengan tepat, dan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar kepemimpinan mahasiswa tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi mampu berdampak.

Hal tersebut menjadi fokus dalam Student Leaders Conference (SLC) 2026 yang diselenggarakan Universitas Pelita Harapan (UPH) pada 10 September 2026, di Auditorium D-501 di Kampus UPH Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Diikuti oleh lebih dari 300 student leaders secara daring dan luring, SLC 2026 menjadi ruang bagi para pengurus organisasi mahasiswa untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan mereka.

SLC 2026 membekali para student leaders melalui empat aspek utama, yaitu memahami konteks, membangun sistem, membawa pesan, dan menciptakan kolaborasi.

Memahami Nilai UPH untuk Menjalankan Kepemimpinan

Sebelum memimpin orang lain, seorang pemimpin perlu memahami bahwa dirinya merupakan representasi organisasi yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap lingkungan universitas menjadi dasar penting bagi student leaders dalam menjalankan organisasi.

Pada sesi “UPH Knowledge”, Dr. Andry Panjaitan, M.T., CPHCM., Associate Vice President of Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH, menekankan pentingnya memahami visi, misi, nilai, profil lulusan, tujuan, hingga kode etik universitas. Pengetahuan tersebut membantu mahasiswa menjalankan organisasi dan mengambil keputusan dengan melihat konteks yang lebih luas dari sekadar kepentingan program kerja.

“Kalian bukan hanya leaders biasa, tetapi transformational servant leaders. Kepemimpinan kalian bukan sekadar tentang memimpin, tetapi tentang bagaimana kalian melayani dan melalui pelayanan itu memberikan dampak. Karena itu, menjadi pemimpin organisasi juga berarti mengambil bagian dalam menyiapkan pemimpin masa depan, sekaligus membangun kolaborasi dan sinergi dengan organisasi lain,” ujar Dr. Andry.

Dr. Andry menambahkan bahwa UPH mengembangkan kurikulum holistis yang mencakup aspek akademik, kehidupan kemahasiswaan, hingga pembentukan spiritual. Pendekatan pendidikan ini bertujuan untuk membentuk mahasiswa tidak hanya dari sisi pengetahuan dan kompetensi, tetapi juga karakter, serta nilai yang perlu diwujudkan dalam kehidupan mereka, termasuk ketika menjalankan peran sebagai student leaders.

“Untuk itu, sebagai student leaders kalian tidak hanya bertugas untuk menggerakkan kegiatan, tetapi juga harus menjadi teladan bagi komunitas kampus melalui sikap dan nilai yang kalian bawa,” tambah Dr. Andry.

Memimpin dengan Sistem yang Terarah

Ide dan program yang baik membutuhkan tata kelola yang jelas agar dapat dijalankan secara bertanggung jawab. Melalui sesi Organizational Governance, Shera Anthony, S.E., Student Development and Alumni Engagement (SDAE) Operation and Compliance Officer UPH, membekali para student leaders dengan pemahaman tentang tata kelola organisasi, mulai dari penyusunan program kerja, pembuatan proposal, pelaporan, hingga pengelolaan keuangan yang transparan.

Tata kelola yang baik tidak hanya membuat organisasi berjalan lebih tertib, tetapi juga membangun kepercayaan dan menciptakan sistem yang dapat diteruskan oleh kepengurusan berikutnya.

“Ketika terjun langsung dalam organisasi, kalian belajar merencanakan dan mengeksekusi program, mengelola keuangan dan sumber daya manusia, serta bertanggung jawab atas setiap prosesnya. Karena itu, penting untuk memegang prinsip kewajaran, keterbukaan, kemandirian, akuntabilitas, dan responsibilitas. Organisasi adalah wadah untuk belajar tata kelola yang baik dan bertanggung jawab, termasuk mendokumentasikan setiap proses agar dapat menjadi pembelajaran bagi generasi berikutnya,” jelas Shera.

Membawa Pesan dengan Komunikasi Strategis

Bagi student leaders, kemampuan menyampaikan informasi dan gagasan menjadi bagian penting dalam menjalankan organisasi. Dalam sesi “Strategic Communication for Student Leaders”, Alexandra Tatgyana Suatan, S.Gz., M.Si., Head of Corporate Communications UPH, mengajak mahasiswa melihat komunikasi bukan sekadar tentang mengikuti aturan, tetapi juga memahami intensi, tujuan, kejelasan pesan, dan tanggung jawab di balik setiap konten yang dibuat.

Menurut Alexandra, membangun komunikasi organisasi tidak cukup hanya dengan memastikan logo ditempatkan dengan tepat. Brand lebih dari sekadar elemen visual; brand adalah tentang bagaimana sebuah organisasi dikenali dan dirasakan oleh khalayaknya. Hal ini dibangun melalui identitas visual, voice and tone, pesan yang disampaikan, nilai yang dibawa, serta standar yang diterapkan secara konsisten. Bagi organisasi kemahasiswaan yang merupakan bagian dari UPH, konsistensi tersebut menjadi penting karena setiap konten yang diproduksi tidak hanya merepresentasikan organisasi masing-masing, tetapi juga turut menjadi bagian dari identitas dan cerita besar UPH.

Create with purpose. Be creative. Berani mengeksplorasi, mencoba hal-hal baru, dan bereksperimen. Be intentional, pahami betul apa yang ingin kalian komunikasikan, bagikan, atau publikasikan. Be responsible, karena ketika kalian berkomunikasi sebagai bagian dari organisasi, kalian membawa nama organisasi dan juga nama UPH. Tetapi lebih dari itu, ingatlah bahwa pada akhirnya kita hidup dan berkarya di hadapan Allah. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, sehingga apa yang kita buat dan bagaimana kita berkomunikasi juga seharusnya mencerminkan penghormatan kita kepada-Nya dan kepada sesama. Setiap konten yang kalian buat menjadi bagian dari cerita UPH, tetapi lebih dari itu, biarlah apa yang kita komunikasikan menjadi kesaksian yang dirasakan tentang siapa yang kita representasikan. Jadi, buatlah dengan kreatif, bermakna, dan bertanggung jawab,” ujar Alexandra.

Mengubah Dukungan Menjadi Kolaborasi

Kepemimpinan juga membutuhkan kemampuan membangun relasi serta mengubah dukungan menjadi kolaborasi yang bermakna. Hal ini disampaikan oleh Evangli Jiferly Langkun, S.I.Kom., Corporate Relations Officer UPH, melalui sesi “Strategic Sponsorship”. Ia mengajak para student leaders memahami bahwa sponsorship bukan sekadar upaya mencari dukungan, melainkan proses membangun kemitraan strategis yang mampu menciptakan nilai bagi kedua belah pihak.

Jiferly menjelaskan bahwa sponsorship perlu dipahami sebagai hubungan yang saling menguntungkan sehingga organisasi perlu menawarkan manfaat yang jelas bagi mitra. Organisasi juga perlu membangun komunikasi dan negosiasi yang baik untuk mencapai kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Hubungan tersebut tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi perlu dijaga melalui pemenuhan komitmen dan penyampaian laporan kepada sponsor.

Sponsorship bukan tentang meminta bantuan, tetapi membangun kerja sama jangka panjang yang memberikan value bagi kedua belah pihak. Jadi, jangan hanya datang untuk meminta, tetapi pikirkan juga apa yang bisa kita berikan. Karena pada akhirnya, sponsorship bukan hanya tentang berapa banyak yang kita dapatkan, tetapi berapa besar value yang bisa kita ciptakan bersama,” ujar Jiferly.

Membawa Bekal SLC ke Perjalanan Organisasi

Bagi para student leaders, SLC 2026 menjadi ruang untuk memahami arah dan nilai UPH sekaligus memperkuat kesiapan dalam menjalankan tanggung jawab organisasi selama satu periode kepengurusan. Hal ini dirasakan Gwen Josephine Ho Lase, mahasiswa Hubungan Internasional 2024 sekaligus Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) UPH periode 2026/2027, yang menilai pembekalan ini membantunya semakin siap menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai pemimpin organisasi.

“Student Leaders Conference ini menjadi bekal penting bagi kami, terutama bagi leaders yang baru mulai menjalankan kepengurusan. SLC mengingatkan kembali pada visi dan misi UPH serta bagaimana organisasi kami menjadi bagian dari lingkungan UPH. Berbagai pembekalan yang diberikan juga membantu kami lebih siap menjalankan tanggung jawab, menghadapi proses selama satu tahun ke depan, dan menjalankan peran sebagai pemimpin dengan lebih percaya diri,” ujar Gwen.

Melalui SLC 2026, para student leaders mendapatkan pembekalan untuk memahami bahwa kepemimpinan berarti melayani, bertanggung jawab, bekerja sama, dan berkontribusi. Bekal tersebut menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk menjalankan perannya sebagai pemimpin organisasi dengan lebih siap. Hal ini sejalan dengan komitmen UPH untuk menghadirkan pendidikan holistis dan berbagai program pengembangan diri yang mampu mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, unggul, dan berdampak bagi masyarakat.

——————-
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu