21/09/2026 Social & Humanities
Dinamika kawasan Asia Tenggara kini semakin kompleks akibat persaingan geopolitik dan isu keamanan maritim. Di tengah situasi ini, Filipina memegang Keketuaan ASEAN 2026 untuk menjaga arah strategis kawasan. Oleh karena itu, mahasiswa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat ASEAN perlu memiliki wawasan global. Sebagai calon pemimpin masa depan, pemahaman ini krusial agar mereka mampu mengambil peran strategis dalam mendorong kemajuan kawasan
Untuk memperluas wawasan global mahasiswa, FISIP UPH berkolaborasi dengan University of San Agustin, Filipina. Kedua kampus mengadakan kuliah umum bertajuk “From Manila to ASEAN: Philippines Foreign Policy and Regional Leadership” pada 7 September 2026 di UPH Lippo Village, Tangerang. Kegiatan ini diikuti mahasiswa S1 dan S2 HI UPH, serta 14 mahasiswa tingkat akhir University of San Agustin yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar di UPH. Acara ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami kebijakan luar negeri Filipina, Keketuaan ASEAN 2026, dan tantangan masa depan kawasan.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Edwin Martua Bangun Tambunan, S.I.P., M.Si., Dekan FISIP UPH, menekankan bahwa pemahaman mengenai dinamika kawasan perlu dibangun melalui ruang dialog dan pertukaran perspektif antarnegara. Menurutnya, kunjungan dan kuliah umum bersama University of San Agustin ini merupakan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan membuka peluang kolaborasi antara kedua universitas.
“Di tengah dinamika kawasan ASEAN yang kompleks, kerja sama dan saling pengertian antarnegara ASEAN menjadi semakin penting. Upaya membangun kerja sama dan saling pengertian tersebut tidak hanya dapat dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga melalui universitas, akademisi, mahasiswa, dan hubungan persahabatan antarnegara. Karena itu, kegiatan ini menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai pihak, bertukar gagasan, dan membangun hubungan yang dapat mendukung kerja sama di kawasan,” ujar Prof. Edwin.
Memahami Kebijakan Luar Negeri Filipina
Untuk memahami peran Filipina di ASEAN, mahasiswa diajak melihat cara negara tersebut menentukan arah kebijakan luar negerinya. Perspektif ini disampaikan oleh John Paul P. Mondejar, Asisten Profesor sekaligus Director of International Relations Office University of San Agustin.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Amelia Joan Ribka Liwe, S.S., M.A., Ph.D., Dosen FISIP UPH, John menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri merupakan cara sebuah negara mengelola hubungannya dengan dunia internasional untuk mencapai kepentingan nasional. Bagi Filipina, terdapat tiga pilar utama yang menjadi landasan, yaitu keamanan nasional, stabilitas ekonomi, dan perlindungan warga negaranya di luar negeri. Poin terakhir ini menjadi perhatian penting mengingat banyaknya warga Filipina yang bekerja di berbagai belahan dunia.
“Negara kami adalah pengirim migran. Kami mengirimkan sumber daya manusia yang menjadi salah satu kontribusi terbesar Filipina ke dunia. Oleh karena itu, kami memastikan hak-hak mereka terlindungi, memiliki akses terhadap bantuan hukum, serta memiliki safety net di mana pun mereka berada. Semua ini merupakan bagian dari kepentingan nasional yang diperjuangkan melalui kebijakan luar negeri,” jelas John.
Berbagai kepentingan tersebut perlu dikelola dalam konteks hubungan luar negeri, terutama di tengah persaingan geopolitik global. Menurut John, Filipina berupaya menjaga hubungan dengan berbagai negara tanpa berpihak pada salah satu kekuatan besar.
“Filipina tidak bisa begitu saja memilih untuk berpihak pada satu kekuatan besar dan mengabaikan yang lain. Hal ini karena Filipina memiliki berbagai hubungan dan kepentingan yang luas, baik dalam bidang ekonomi, keamanan, maupun diplomasi,” pungkas John.
Filipina dan Tantangan Memimpin ASEAN
Berbagai kepentingan tersebut menjadi semakin penting untuk dipahami dalam konteks Keketuaan ASEAN 2026 yang diemban Filipina. Di tengah beragamnya kepentingan negara anggota dan ketatnya persaingan kekuatan besar, Filipina harus menjaga kepentingan nasional sekaligus memperkuat kerja sama kawasan. Dalam situasi ini, John melihat ASEAN memiliki peran penting sebagai ruang untuk menjaga dialog, membangun kesepahaman, dan menjembatani perbedaan antarnegara anggota.
“ASEAN tidak boleh hanya menjadi penonton atau sekadar mengikuti arah yang ditentukan pihak lain. Kita harus mampu menentukan kepentingan sendiri, memperkuat posisi kawasan, dan memastikan ASEAN memiliki suara yang diperhitungkan di tingkat global,” ungkap John.
Oleh karena itu, memegang Keketuaan ASEAN bukan berarti menjadi ‘komandan’ bagi negara-negara anggota. Sebaliknya, negara yang memegang keketuaan berperan mengoordinasikan kerja sama, menjembatani perbedaan, mencari kesepakatan bersama, dan memastikan roda organisasi kawasan tetap berjalan.
“Negara-negara di ASEAN tentu tidak selalu memiliki kesamaan pandangan dalam setiap hal dan sejak awal kesamaan pandangan bukanlah tujuan utama. Namun, yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut dapat dikelola dengan baik sehingga tidak menghambat semangat dan keberlanjutan kerja sama di kawasan,” ujarnya.
Memperkuat Peran Generasi Muda
Upaya memperkuat kerja sama di kawasan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, generasi muda, dan institusi pendidikan. John menilai universitas dapat menjadi ruang strategis untuk mempertemukan generasi muda dari berbagai negara, bertukar gagasan, sekaligus membangun kesepahaman dan persahabatan lintas negara. Kolaborasi antara UPH dan University of San Agustin menjadi salah satu contoh nyata dari upaya tersebut.
“Kita berasal dari berbagai negara, tetapi berada dalam satu kawasan yang sama. Karena itu, kita memiliki kesempatan untuk berkolaborasi, saling belajar, dan saling menginspirasi. Melalui kolaborasi, kita dapat bersama-sama mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi Filipina, Indonesia, dan seluruh masyarakat di kawasan,” ungkap John.
Melalui kolaborasi dengan University of San Agustin, FISIP UPH memperluas wawasan internasional mahasiswa sekaligus mendorong mereka memahami dinamika kawasan dan melihat perannya sebagai bagian dari masyarakat ASEAN. Pemahaman tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa untuk tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi juga mengambil bagian dalam membentuk masa depan Indonesia, ASEAN, dan dunia. Kegiatan ini menegaskan komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan holistis dan berbagai program pengembangan diri, guna mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, unggul, dan berdampak bagi masyarakat.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: Beatrice Frederica Sungkono (Mahasiswa Hubungan Internasional, 2024)