NEWS & PUBLICATION

Dari Stadion ke Layar, FISIP UPH Ajak Mahasiswa Intip Strategi di Balik Siaran Piala Dunia 2026

16/10/2026 Social & Humanities

Dari Stadion ke Layar, FISIP UPH Ajak Mahasiswa Intip Strategi di Balik Siaran Piala Dunia 2026

Menikmati pertandingan olahraga di layar bukan hanya soal menyaksikan aksi atlet dan hasil akhir pertandingan. Di balik setiap tayangan, terdapat proses jurnalistik, produksi, penyiaran, hingga strategi komunikasi yang membentuk pengalaman penonton. Memahami proses tersebut menjadi bagian penting bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) untuk mengenal cara kerja industri olahraga dan media secara langsung.

Untuk itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (FISIP UPH) menghadirkan pengalaman belajar tersebut melalui kuliah tamu “From Stadium to Screen: Behind The World Cup 2026 Broadcast”, pada Kamis, 8 Oktober 2026, di Auditorium HOPE UPH, Lippo Village, Tangerang. Kegiatan ini menghadirkan Dr. H. Tubagus Fiki Chikara Satari, S.E., M.M., Direktur Utama LPP TVRI dan Ryan Gozali, CEO Campus League untuk membahas strategi penyiaran olahraga serta peluang pengembangan industri sport communication.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Edwin Martua Bangun Tambunan, S.I.P., M.Si., Dekan FISIP UPH, menjelaskan bahwa pertandingan olahraga yang disaksikan masyarakat merupakan hasil kerja berbagai pihak yang saling terhubung. Mulai dari jurnalis dan tim produksi hingga penyiar, setiap peran berkontribusi dalam membentuk pengalaman penonton saat mengikuti pertandingan.

“Sebuah kegiatan olahraga membutuhkan pengelolaan yang baik, pemberitaan yang dapat dipercaya, siaran yang menarik, dan komunikasi pemasaran yang bertanggung jawab. Di situlah ilmu komunikasi dapat memberi kontribusi nyata bagi perkembangan dunia olahraga. Kami berharap, perjumpaan dengan praktisi melalui kuliah tamu ini dapat melengkapi pembelajaran teoretis mahasiswa dengan pengalaman nyata di industri,” ujarnya.

Perkembangan industri olahraga kini tidak hanya terlihat dari penyelenggaraan kompetisi, tetapi juga dari cara pertandingan dikemas menjadi konten, disiarkan melalui berbagai platform, dan dikembangkan menjadi beragam kegiatan kreatif yang melibatkan atlet, komunitas, sponsor, merek, serta masyarakat. Perubahan ini membuka peluang karier yang lebih luas sekaligus meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia dengan kompetensi khusus dalam komunikasi olahraga, yang memahami karakter industri olahraga dan mampu merancang strategi komunikasi sesuai dengan karakter audiens.

Melihat perkembangan dan kebutuhan tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi UPH merancang peminatan baru sport communication. Melalui peminatan ini, mahasiswa mempelajari berbagai bidang, mulai dari sport journalism untuk menggali dan menyampaikan informasi olahraga secara akurat dan beretika, sport media dan sport broadcasting untuk mengelola konten serta menghadirkan tayangan bagi audiens. Mahasiswa juga akan mempelajari sport event management, sport marketing, sport branding dan fans management yang fokus pada pengelolaan acara olahraga serta komunikasi antara organisasi olahraga, sponsor, merek, dan masyarakat.

Pembelajaran juga dirancang untuk mendekatkan mahasiswa dengan praktik industri melalui kolaborasi dengan media dan lembaga olahraga, seperti TVRI dan Campus League. Kolaborasi ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar melalui studi kasus, kunjungan ke ruang produksi, proyek bersama, hingga magang.

Strategi Penyiaran Olahraga dan Tantangan Menjangkau Audiens Digital

Pengalaman TVRI menyiarkan Piala Dunia 2026 menunjukkan besarnya jangkauan penyiaran olahraga sekaligus potensinya dalam menggerakkan aktivitas ekonomi.  TVRI menayangkan 104 pertandingan dengan total 133,85 juta penonton, sementara jumlah penonton televisi pada pertandingan final mencapai 4,76 juta. Di luar layar, TVRI juga mengoordinasikan kegiatan nonton bareng di sekitar 270 ribu titik yang turut mendorong perputaran ekonomi hingga Rp1,1 triliun.

Menurut Tubagus atau yang akrab dipanggil Satari, keberhasilan penyiaran tidak hanya ditentukan oleh kualitas tayangan, tetapi juga oleh kemampuan memahami dan menjangkau audiens. Karena itu, TVRI memadukan kreativitas dengan pemanfaatan data, salah satunya melalui pelibatan UMKM dalam kegiatan nonton bareng. Laporan jumlah penonton dari kegiatan tersebut membantu TVRI memperoleh gambaran jangkauan audiens. Di sisi lain, pelaku UMKM yang merasakan manfaatnya turut membagikan pengalaman melalui konten user-generated content (UGC).

“Kreativitas itu penting, tetapi harus dikalibrasi dengan data. Kita perlu mengetahui bagaimana audiens mengonsumsi media dan menentukan strategi berdasarkan pemahaman tersebut. Ketika audiens kian banyak beraktivitas di ranah digital, kita juga perlu memanfaatkan media sosial untuk menarik perhatian mereka agar kemudian menyaksikan tayangan secara utuh di televisi,” jelas Tubagus.

Untuk menjangkau penonton di berbagai platform media sosial, TVRI turut menghadirkan konten digital, seperti rangkuman lima gol terbaik dan lima pertandingan terbaik. Menurut Tubagus, perubahan perilaku konsumsi media menjadi tantangan sekaligus peluang bagi calon praktisi komunikasi. Mahasiswa perlu adaptif terhadap perkembangan teknologi, memahami karakter audiens, dan mampu mengemas konten sesuai dengan platform yang digunakan.

Campus League: Membangun Cerita dan Peluang bagi Student-Athlete

Sejalan dengan upaya TVRI memperluas jangkauan audiens melalui konten digital, Campus League memanfaatkan kompetisi olahraga sebagai ruang untuk membangun keterlibatan generasi muda. Melalui kompetisi antarkampus, mahasiswa tidak hanya mendapat kesempatan untuk menunjukkan potensi dan mengasah kemampuan, tetapi juga membuka peluang untuk berkarier sebagai atlet profesional maupun mengembangkan kompetensi untuk memasuki dunia kerja.

“Melalui Campus League, kami ingin memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang melalui kompetisi, mulai dari tingkat kampus hingga nasional, bahkan berpeluang mewakili Indonesia. Menjadi student-athlete juga membentuk keterampilan penting di luar lapangan, seperti manajemen waktu, komunikasi, dan disiplin. Dengan bakat dan disiplin, everybody can be a champion,” ujar Ryan.

Ryan menambahkan bahwa industri olahraga perlu terus beradaptasi dengan kebiasaan dan cara setiap generasi memanfaatkan teknologi. Karena itu, memahami karakter audiens menjadi bekal penting bagi calon praktisi komunikasi. Baik dalam penyiaran maupun penyelenggaraan kompetisi, kemampuan membangun cerita, mengenali audiens, dan menyampaikan pesan melalui platform yang tepat berperan penting dalam menciptakan keterlibatan.

Pengalaman TVRI dalam memperluas jangkauan audiens melalui penyiaran dan konten digital, serta Campus League dalam membangun keterlibatan generasi muda melalui kompetisi olahraga, menunjukkan luasnya peran komunikasi dalam industri olahraga. Sejalan dengan perkembangan tersebut, peminatan baru sport communication di Program Studi Ilmu Komunikasi UPH memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari strategi komunikasi olahraga dan mengasah kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri. Melalui pendidikan holistis dan berbagai program pengembangan diri yang bermanfaat, UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, unggul, dan berdampak bagi masyarakat.

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu