NEWS & PUBLICATION

Seminar Nasional Bersama Lemhannas RI, UPH Dorong Penguatan Karakter dan Literasi Digital Generasi Muda di Era AI

28/08/2026 Law

Seminar Nasional Bersama Lemhannas RI, UPH Dorong Penguatan Karakter dan Literasi Digital Generasi Muda di Era AI

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga mengambil keputusan. Di balik peluang tersebut, muncul tantangan yang tidak kalah besar, mulai dari disinformasi, kejahatan siber, hingga risiko menurunnya kemampuan berpikir kritis. Karena itu, pendidikan berperan penting dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu menghadapi perkembangan AI. Bukan hanya melalui penguasaan teknologi, tetapi juga dengan membangun karakter, literasi digital, ketahanan kognitif, dan kemampuan beradaptasi.

Berangkat dari hal tersebut, Ikatan Keluarga Alumni Program Pendidikan Reguler Angkatan 67 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (IKAL PPRA 67 Lemhannas RI) bersama Fakultas Pascasarjana Pendidikan dan Program Doktor Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH) menggelar Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Pendidikan dan Ketahanan Nasional di Era AI: Membangun Karakter, Literasi Digital, dan Ketahanan Kognitif Bangsa Indonesia’. Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid ini berlangsung di Gedung Executive Education Center (EEC) Pascasarjana UPH, Kompleks Hotel Aryaduta, Semanggi, Jakarta Selatan, 20 Agustus 2026.

Dalam sambutannya, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., Rektor UPH, mengatakan perkembangan teknologi informasi telah menjadi perhatiannya sejak lebih dari empat dekade lalu, ketika mengikuti Kursus Reguler Angkatan (KRA) XVII Lemhannas. Menurutnya, teknologi yang dulu masih berupa prediksi, kini telah menjadi bagian dari kehidupan dan akan semakin memengaruhi masa depan bangsa.

Artificial intelligence sedang dan akan mentransformasi kehidupan kita. Karena itu, kita harus mempersiapkan generasi muda, termasuk mahasiswa agar memahami dampak dan peluangnya bagi masa depan. Kiranya seminar ini benar-benar menghasilkan sesuatu yang akan bermanfaat bagi bangsa dan negara kita, dan khususnya juga bagi pendidikan,” katanya.

Senada dengan hal tersebut, Prof. (E-ITB) Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., M.A., Ph.D., IPU., Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni (DPP IKAL) Lemhannas RI, menyampaikan empat aspek yang perlu diperkuat, yaitu kepemimpinan berkarakter, literasi digital, ketahanan kognitif, dan kemampuan beradaptasi. Ia menilai, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi melalui pendekatan Pentahelix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat sipil, dan berbagai komponen bangsa.

“Perguruan tinggi, termasuk UPH, memiliki peran penting dalam membangun literasi, karakter, talenta, riset, keamanan, dan tata kelola AI. Sementara itu, pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, dan berbagai komponen bangsa perlu membangun kolaborasi agar perkembangan teknologi dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” ucapnya.

Siapkan Generasi Tangguh, Antisipasi Ancaman Digital di Era AI

Memasuki sesi seminar, dua narasumber utama, yakni Assoc. Prof. Dr. Henry Soelistyo Budi, S.H., LL.M., Ketua Program Studi Doktor Hukum UPH, dan Dr. Jerry Sambuaga, B.A., M.I.A., Vice President of External Affairs UPH, membahas tantangan serta strategi menghadapi perkembangan AI. Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Andry M. Panjaitan, M.T., CPHCM., Associate Vice President of Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH; yang juga merupakan alumni dari program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (TAPLAI) Lemhannas RI.

Melalui materi ‘Ketahanan Nasional Indonesia di Era AI: Tantangan Nonmiliter dan Strategi Membangun Generasi Tangguh’, Assoc. Prof. Henry menyoroti berbagai ancaman nonmiliter yang berkembang seiring kemajuan teknologi. Ia menjelaskan bahwa serangan siber dapat menyasar infrastruktur strategis; sementara disinformasi, deepfake, dan provokasi digital berpotensi memengaruhi masyarakat serta mengganggu stabilitas nasional. Karena itu, generasi muda perlu dibekali literasi digital dan kemampuan berpikir kritis, rasional, serta bertanggung jawab agar mampu menyikapi perkembangan teknologi secara bijak.

“Indonesia perlu membangun kemandirian teknologi di tengah kolaborasi global, dengan memperkuat SDM, riset, inovasi, dan kemampuan mengembangkan teknologi sendiri. Kita juga perlu membangun kesadaran akan kedaulatan digital, sekaligus memastikan karakter, moral, etika, dan integritas dalam pendidikan berjalan, seiring dengan kemajuan teknologi,” ucapnya.

Sementara itu, melalui materi “Membangun Ketahanan Bangsa melalui Pendidikan, Literasi Digital, dan Kepemimpinan di Era AI,” Dr. Jerry Sambuaga menyoroti pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam memanfaatkan teknologi. Ia mencontohkan penggunaan AI seperti ChatGPT yang dapat membantu pekerjaan dan pembelajaran, tetapi tetap perlu diimbangi kemampuan manusia untuk memverifikasi informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan.

Ia menekankan bahwa kesiapan menghadapi perkembangan teknologi perlu diiringi dengan penguatan soft skills dan upskilling generasi muda agar AI dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas, industri, dan pemerintah untuk memperkuat kapasitas masyarakat.

“Di era AI, ada lima aspek yang perlu terus kita perkuat, yaitu ketahanan bangsa, literasi digital, kepemimpinan, generasi muda, dan kolaborasi. Kelima aspek ini penting agar generasi muda memiliki pemahaman dan arah yang jelas dalam menghadapi perubahan teknologi,” katanya.

Menghadapi AI dari Perspektif Pertahanan hingga Masyarakat

Pembahasan mengenai AI kemudian diperluas melalui diskusi panel yang menghadirkan perspektif sektor pertahanan hingga masyarakat sipil. Dari TNI Angkatan Darat, Brigjen TNI Aditya Nindra Pasha, S.E., M.M., menyoroti pentingnya karakter, disiplin, kepemimpinan, dan nasionalisme dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi ancaman nonmiliter yang semakin kompleks.

Sementara itu, Brigjen TNI (Mar) Rommy Hutagaol, M.Han., M.Tr.Opsla., dari TNI Angkatan Laut membahas tantangan keamanan maritim di tengah perkembangan sistem otonom dan teknologi digital, termasuk pentingnya literasi digital untuk mendukung kedaulatan Indonesia.

Dari TNI Angkatan Udara, Marsma TNI Fata Patria menekankan pentingnya penguatan pendidikan STEM, AI, data science, dan teknologi kedirgantaraan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan pertahanan di masa depan.

Melengkapi perspektif tersebut, Ir. Edison Sinaga, Ketua IKAL 67, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun kebijakan publik, etika AI, inovasi, dan kemitraan strategis. Berbagai perspektif tersebut kemudian diperdalam melalui FGD untuk membahas lebih lanjut keterkaitan antara pendidikan, perkembangan AI, dan ketahanan nasional.

Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang memiliki karakter, daya pikir kritis, ketahanan, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Melalui pendidikan holistis dan berbagai pengalaman pengembangan diri, UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan mampu membawa dampak bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu