NEWS & PUBLICATION

Mengangkat Isu KDRT dari Perspektif Iman, Mahasiswi Psikologi UPH Raih Best Presenter di SEAIP 2025

12/02/2026 Pencapaian, Social & Humaniora

Mengangkat Isu KDRT dari Perspektif Iman, Mahasiswi Psikologi UPH Raih Best Presenter di SEAIP 2025

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Hingga 4 September 2025 tercatat lebih dari 10.240 perkara KDRT  dilaporkan, dengan rata-rata lebih dari 1.000 kasus tercatat setiap bulannya menurut data terbaru dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas). Di balik angka tersebut, tersimpan pengalaman personal yang kerap luput disorot, khususnya ketika KDRT dialami oleh perempuan Kristen dengan tingkat religiusitas tinggi yang telah menikah. Ketegangan antara iman, komitmen pernikahan, dan realitas kekerasan inilah yang menjadi landasan dari riset Gracia Samantha Marcell, mahasiswi Program Studi Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH) angkatan 2022.  Riset ini telah mengantarkannya meraih Best Presenter kategori mahasiswa dalam The 5th Southeast Asian Indigenous Psychology (SEAIP) Conference 2025.

SEAIP Conference merupakan forum akademik regional yang mempertemukan peneliti dan mahasiswa Asia Tenggara dalam pengembangan psikologi berbasis konteks budaya. Dalam konferensi tersebut, Gracia mempresentasikan penelitiannya yang berjudul “The Meaning of Marriage and Marital Commitment Among Highly Religious Christian Victims of Domestic Violence”. Riset ini mengkaji bagaimana perempuan Kristen dengan religiusitas tinggi memaknai pernikahan dan komitmen ketika berada dalam relasi rumah tangga yang sarat kekerasan.

“Saya sangat bersyukur dan bangga bisa meraih Best Presenter. Kesempatan mempresentasikan penelitian ini kepada audiens dari berbagai negara, memberi banyak perspektif baru dan menjadi pengalaman akademik yang sangat berharga,” ungkap Gracia.

Religiusitas dan Keputusan Bertahan dalam Relasi KDRT

Melalui pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), Gracia mewawancarai enam perempuan Kristen yang telah menikah dan mengalami KDRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat religiusitas yang tinggi berperan signifikan dalam cara korban memaknai pernikahan serta memengaruhi keputusan mereka untuk mempertahankan relasi.

Dalam temuan tersebut, pernikahan dipahami sebagai perjalanan spiritual dan emosional menuju kebahagiaan bersama. Sementara itu, kekerasan kerap dimaknai sebagai ujian dalam relasi yang melukai tubuh, jati diri, dan hubungan pernikahan itu sendiri.

Menurut Gracia, “Riset ini menonjol karena menghadirkan sudut pandang iman yang jarang diangkat dalam kajian KDRT. Bagi korban dengan religiusitas tinggi, komitmen pernikahan sering dimaknai sebagai keberanian untuk tetap mengasihi, meskipun berada dalam relasi yang penuh luka dan ketidaksempurnaan. Di satu sisi iman menjadi sumber kekuatan, namun di sisi lain juga membentuk kerangka moral yang memengaruhi keputusan untuk bertahan,” jelasnya.

Empat Makna Pernikahan dalam Pengalaman Penyintas

Lebih lanjut, riset ini menyoroti peran ganda religiusitas dalam dinamika KDRT. Iman hadir sebagai sumber kekuatan dan pengharapan bagi korban, namun sekaligus membentuk kerangka moral yang dapat membuat mereka bertahan dalam relasi yang abusif. Dari pengalaman para partisipan, Gracia mengidentifikasi empat makna utama dalam memaknai pernikahan dan komitmen.

Pertama, pernikahan dipandang sebagai perjalanan spiritual dan emosional. Kedua, kekerasan dimaknai sebagai ujian relasi. Ketiga, kesetiaan dipahami sebagai keberanian untuk tetap mengasihi di tengah penderitaan. Keempat, komitmen dilihat sebagai tekad untuk terus bertahan meski terluka..

Temuan ini membuka ruang refleksi mengenai paradoks antara iman dan penderitaan dalam pernikahan Kristen, sekaligus memperkaya kajian psikologi dengan perspektif yang lebih kontekstual dan manusiawi. Melalui penelitiannya, Gracia berharap diskusi yang lebih luas dapat terbangun di kalangan akademisi maupun praktisi, sehingga pendampingan psikologis, konseling, dan edukasi terkait KDRT dapat dirancang lebih peka terhadap konteks iman, serta benar-benar memberikan dukungan yang tepat bagi para penyintas.

Bimbingan Akademik dan Konsistensi Riset

Pencapaian Gracia merupakan hasil dari proses akademik yang panjang dan konsisten. Dukungan Karel Karsten, Ph.D., Ketua Program Studi Psikologi sekaligus dosen pembimbing, menjadi fondasi penting dalam menyelaraskan riset Gracia dengan isu-isu krusial yang diangkat dalam SEAIP Conference.

Menurut Karel, keberhasilan ini lahir dari konsistensi akademik serta keberanian mengangkat topik sensitif dengan pendekatan ilmiah yang matang.

“Penelitian mahasiswa yang baik adalah ketika isu yang kompleks diolah dengan kerangka metodologis yang tepat, sekaligus menunjukkan sensitivitas terhadap konteks kemanusiaan. Gracia menunjukkan konsistensi itu, mulai dari perumusan riset hingga penyampaian gagasan di forum akademik,” ujarnya.

Prestasi ini menegaskan bahwa riset mahasiswa tidak berhenti pada ranah akademik, tetapi berpotensi memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Sejalan dengan itu, UPH berkomitmen mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan unggul yang takut akan Tuhan, profesional di bidangnya, dan berdampak bagi sesama.