09/01/2026 Medical Sciences
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tengah mengubah wajah layanan kesehatan secara global. Dari analisis pencitraan medis, deteksi penyakit, hingga pengambilan keputusan klinis berbasis data, AI bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan strategis. Di tengah percepatan ini, pendidikan kedokteran dituntut tidak hanya mencetak dokter yang unggul secara klinis, tetapi juga adaptif, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global.
Menjawab urgensi tersebut, Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Transformasi Pendidikan dan Pelayanan Dokter Spesialis di Era Digital dan Artificial Intelligence” pada 5 Januari 2026, bertempat di Auditorium FK UPH Kampus Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Kegiatan ini diikuti lebih dari 1.000 peserta, yang terdiri atas residen PPDS, dokter muda, mahasiswa kedokteran, dosen, staf akademik, serta dokter dari Siloam Hospitals Group.
Kuliah umum ini menghadirkan para pemimpin nasional di bidang pendidikan dan layanan kesehatan, termasuk Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia; serta Dr. Mochtar Riady, Pendiri Lippo Group dan tokoh di balik berdirinya FK UPH. Turut hadir jajaran pimpinan UPH dan Siloam Hospitals Group, antara lain Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS(K), Ph.D., Dekan FK UPH; Dr. (Cand.) Hendra Thamrindinata, S.Si., M.Div., M.A., Associate Vice President of Faith and Learning UPH; Beverley Wonsono, B.A., M.A., Executive Dean & Vice Dean of Growth College of Health Sciences UPH; serta Caroline Riady, CEO dan Wakil Presiden Direktur Siloam Hospitals Group.
AI sebagai Instrumen Strategis Pendidikan dan Riset
Dalam paparannya bertajuk “Kebijakan Transformasi Pendidikan Dokter Spesialis di Era Digital dan Artificial Intelligence”, Prof. Brian Yuliarto menegaskan bahwa sektor kesehatan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pionir dalam pemanfaatan AI. Ia menekankan, bahwa pemanfaatan AI bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan langkah untuk meningkatkan kualitas layanan dan pendidikan kedokteran.
“Untuk mentransformasi pendidikan dokter spesialis secara nasional, kami mendorong program-program strategis yang memasukkan AI ke dalam kurikulum, riset klinis, dan sistem layanan kesehatan berbasis data. Transformasi ini diharapkan mampu mencetak dokter spesialis yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, sekaligus responsif terhadap tantangan kesehatan masa depan. Di dunia kedokteran, AI harus dimanfaatkan sebagai instrumen percepatan. Saya berharap, UPH dapat menjadi lokomotif pendidikan dan riset di bidang kedokteran,” ucap Prof. Brian.
Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Mochtar Riady dalam materinya “Misi dan Digitalisasi Masa Depan Dokter Spesialis”, menekankan bahwa pendidikan kedokteran saat ini harus terintegrasi dengan teknologi AI. Tanpa kesiapan teknologi dan pola pikir yang adaptif, kemajuan layanan kesehatan akan sulit dicapai secara berkelanjutan.
“Di era saat ini, teknologi yang sangat penting adalah AI. Jika ingin terus maju, kita tidak bisa mengabaikannya. AI perlu dipahami dan dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu pekerjaan manusia, karena jika tidak, kita berisiko tertinggal bahkan tergantikan. Saya harap mahasiswa FK tidak hanya fokus menimba ilmu, tetapi juga memikirkan kepentingan nasional, serta memberikan perhatian pada pengembangan AI sebagai kekuatan bagi bangsa Indonesia,” ucap Dr. Mochtar.
Dedikasi FK UPH dan Siloam Mencetak Dokter Spesialis Masa Depan
Prof. Eka menyampaikan, bahwa PPDS FK UPH terus berkembang sejak dibuka pada 2021. Hingga kini, FK UPH telah membuka tujuh program spesialis bekerja sama dengan Siloam Hospitals Group, tiga diantaranya adalah Radiologi, Kedokteran Keluarga Layanan Primer (KKLP), hingga Anestesiologi dan Terapi Intensif. Perkembangan signifikan terjadi pada 2025 dengan dibukanya empat PPDS baru sekaligus, yaitu Neurologi, Bedah Saraf, Jantung dan Pembuluh Darah, serta Penyakit Dalam. Perkembangan ini mencerminkan komitmen FK UPH dalam menyiapkan dokter spesialis yang kompeten dan sesuai kebutuhan layanan kesehatan nasional.
“PPDS merupakan tanggung jawab besar sekaligus wujud dedikasi FK UPH dan Siloam dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Komitmen tersebut juga ditegaskan oleh Caroline Riady yang menyoroti integrasi FK UPH dalam ekosistem Medical Science Group bersama Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) dan Siloam Hospitals. Sinergi ini mendorong pemanfaatan teknologi, termasuk AI, untuk memperkuat pendidikan kedokteran di FK UPH sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi pasien.
Ia mencontohkan, dalam satu dekade terakhir, Siloam Hospitals secara konsisten mengembangkan integrasi teknologi data pasien yang terpusat. Integrasi ini memungkinkan dokter di berbagai jaringan Rumah Sakit Siloam di seluruh Indonesia dapat mengakses riwayat medis pasien secara cepat dan akurat. Dengan dukungan data yang terintegrasi, dokter dapat mengambil keputusan klinis yang lebih tepat, sehingga pelayanan kesehatan menjadi lebih efektif.
“Kami berkomitmen mengembangkan pendidikan, mendukung para dokter, berinvestasi pada infrastruktur dan teknologi, serta bekerja sama dengan pemerintah untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
KKI Dorong PPDS FK UPH Adaptif di Era AI
Kuliah umum ini juga dihadiri perwakilan Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), lembaga independen di bawah Presiden yang berperan dalam pengawasan praktik tenaga medis, perlindungan masyarakat, serta penetapan standar profesi dan pendidikan kesehatan.
Dalam sambutannya, drg. Arianti Anaya, M.K.M., Ketua Pimpinan KKI periode 2024–2028 mengatakan, “PPDS perlu terus adaptif dengan perkembangan teknologi. Namun perlu diingat AI hanyalah alat pendukung, sementara keputusan medis tetap berada di tangan dokter melalui kompetensi klinis. Saya berharap, UPH terus melahirkan dokter berstandar internasional yang menjunjung etika dan profesionalisme,” tuturnya.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemaparan delapan Ketua Kolegium PPDS yang membahas perkembangan terkini dari berbagai spesialisasi, serta implementasi AI dalam pendidikan dan praktik klinis di masing-masing area spesialisasi ini. Mereka adalah Prof. Dr. dr. Rosy Setiawati, SpRad., Subsp.MSK(K), CCD (Radiologi); Dr. dr. Dhasari Vidiawati, MSc.CM-FM, Sp. KKLP, Subsp.TI(K) (Kedokteran Keluarga); Dr. dr. Reza Widianto Sudjud, Sp.An-TI, Subsp.An.KV(K), Sbsp.TI(K) (Anestesiologi); Prof. Dr. dr. Syahrul, Sp.N(K) (Neurologi); Prof. Dr. dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS, Subsp. N-Vas(K), SE, MM, FICS, FACS, IFAANS (Bedah Saraf); Dr. Renan Sukmawan, ST, SpJP(K), PhD., MARS, FIHA, FACC (Jantung & Pembuluh Darah); Dr. dr. I Gusti Putu Suka Aryana, Sp.PD, K-Ger (Penyakit Dalam); dan Prof. Dr. Dr.med. dr. Paul L. Tahalele, Sp.B, Sp.BTKV(K), Subsp.VE, FICS, FCTS, FINACS (Bedah Umum).
Melalui kolaborasi strategis dengan Siloam Hospitals Group serta pemanfaatan teknologi AI dalam pendidikan dan riset, FK UPH menegaskan perannya dalam menyiapkan dokter spesialis yang profesional, berstandar internasional, dan responsif terhadap tantangan masa depan layanan kesehatan. Sejalan dengan visi UPH, FK UPH berkomitmen melahirkan lulusan yang takut akan Tuhan, unggul, dan berdampak melalui pelayanan kesehatan yang beretika dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.