NEWS & PUBLICATION

Ketekunan yang Membawa Jauh: Rian Djita, Alumni Teachers College UPH, dan Panggilan di Riset Pendidikan Global

28/01/2026 Alumni

Ketekunan yang Membawa Jauh: Rian Djita, Alumni Teachers College UPH, dan Panggilan di Riset Pendidikan Global

Dedikasi, ketekunan, dan semangat belajar membawa Rian R. Djita, S.Pd., B.Sc., M.Ed., Ph.D., menapaki perjalanan karier yang inspiratif. Alumni Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)/Teachers College UPH angkatan 2008 ini, kini dipercaya menjadi Director of Research di Association of Christian Schools International (ACSI) – organisasi sekolah Kristen Protestan terbesar di dunia yang berpusat di Colorado Springs, Amerika Serikat.

Bagi Rian, perjalanan ini tidak terjadi secara instan. Kesempatan demi kesempatan ia bangun sejak masa kuliah, termasuk melalui beasiswa UPH dan paparan internasional selama kuliah, telah membentuk cara pandangnya terhadap dunia pendidikan.

“Pengalaman selama kuliah menjadi titik awal perjalanan karier saya. Banyak peluang global justru datang karena UPH memberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan berwawasan internasional,” kata Rian.

Karier yang ia jalani saat ini merupakan buah dari pelayanannya yang setia dan ketulusannya di dunia pendidikan. Perjalanan profesionalnya dimulai dengan mengajar di Sekolah Dian Harapan (SDH) Makassar, sebelum membawanya melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Selama delapan tahun di sana, Rian menempuh pendidikan magister di Vanderbilt University, bekerja di Bill & Melinda Gates Foundation di New York, dan akhirnya meraih gelar doktor di University of Arkansas.

Paparan Global di UPH yang Membentuk Arah Masa Depan

Kecintaan Rian pada matematika telah tumbuh sejak SMA. Ia menikmati proses memecahkan masalah dan dari sanalah muncul keyakinan untuk menekuni bidang yang selaras dengan minat tersebut. Ketika mendengar reputasi UPH serta adanya peluang beasiswa, keyakinan itu semakin menguat dalam menentukan pilihannya.

“Saya tahu saya suka matematika. Saat mencari tahu tentang UPH, saya melihat reputasinya yang baik dan adanya peluang beasiswa, sehingga saya mantap memilih UPH,” ungkap Rian.

Selama berkuliah, salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Rian adalah kesempatan belajar langsung dari dosen-dosen internasional. Pengajarnya datang dari berbagai negara, mulai dari Australia, Selandia Baru, hingga Amerika Serikat. Menurutnya, pengalaman ini menjadi dorongan besar untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

“Pengalaman belajar dengan pengajar dari berbagai negara benar-benar membentuk saya. Paparan internasional tersebut sangat membuka wawasan saya, dan itu yang paling saya syukuri. Dari sanalah saya terdorong untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri,” jelasnya.

Peran sebagai Director of Research di ACSI

Kini, sebagai Director of Research di ACSI, Rian mengemban tanggung jawab strategis dalam mengelola data dari ribuan sekolah anggota ACSI di seluruh dunia. Data yang mencakup guru, orang tua, hingga siswa tersebut kemudian diolah bersama timnya menjadi berbagai proyek riset yang dipublikasikan. Riset ini mampu membantu para pendidik memahami dinamika dan tantangan terbaru dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Kristen.

Beragam isu penting tengah menjadi fokus penelitian Rian dan tim, mulai dari kesejahteraan dan burnout pada guru, strategi merekrut serta mempertahankan pendidik berkualitas, hingga cara sekolah-sekolah Kristen menyikapi perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI). ACSI juga meneliti bagaimana pendidikan K–12—dari taman kanak-kanak/kindergarten hingga kelas 12/grade 12—dapat terhubung lebih efektif dengan pendidikan tinggi Kristen.

Bagi Rian, riset bukan sekadar menghasilkan laporan atau publikasi. Lebih dari itu, ia ingin penelitian yang dikerjakannya mampu menghadirkan dampak nyata.

“Menghasilkan riset yang benar-benar berdampak adalah impian saya. Harapan saya, hasil riset ini bisa membantu sekolah-sekolah Kristen di seluruh dunia untuk tidak hanya berhasil, tetapi juga bertumbuh dan berkembang,” kata Rian.

Rasa Syukur atas Perjalanan Panjangnya

Di balik pencapaian akademik dan profesionalnya, Rian menegaskan bahwa perjalanannya tidak pernah ia tempuh seorang diri. Dukungan keluarga, dosen, mentor, serta orang-orang yang hadir di setiap fase kehidupannya menjadi bagian penting yang membentuk proses tersebut.

Satu nilai yang terus ia pegang sejak masa kuliah adalah pentingnya tidak melupakan asal-usul. Berangkat dari Indonesia Timur dengan latar belakang yang sederhana, Rian menyadari bahwa pengalaman hidup itulah yang justru membentuk karakter dan ketangguhannya hari ini. Karena itu, ia mengajak siapa pun untuk tidak membiarkan latar belakang menjadi batas dalam melangkah maju.

“Kalau saya hanya mendefinisikan diri sebagai mahasiswa dari Indonesia Timur dengan kondisi sederhana, saya akan berhenti berkembang di situ saja. Namun, saya percaya bahwa Tuhan sudah memberikan talenta kepada setiap orang. Karena itu, gunakan dengan maksimal. Keadaan kita saat ini tidak menentukan hasil akhir. Lakukan yang terbaik, dan biarkan Tuhan melengkapi sisanya,” ungkapnya.

Di tengah perubahan dunia pendidikan yang berlangsung sangat cepat, Rian juga menekankan pentingnya kemauan untuk terus belajar, khususnya bagi para calon guru di Indonesia.

“Kita mengajar siswa yang berbeda, dan setiap 10 tahun kita menghadapi generasi yang benar-benar baru. Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan mereka kalau kita sendiri tidak terus belajar? Karena itu, saya mendorong semua guru di Indonesia untuk aktif mengikuti berbagai pelatihan dan pengembangan profesional,” jelasnya.

Dari pengalaman belajar di UPH hingga perannya memimpin riset di ACSI, perjalanan Rian menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, memperluas wawasan, dan mendorong lahirnya dampak nyata.

Kisah Rian menjadi salah satu gambaran bagaimana UPH mendampingi mahasiswa sejak awal masa studi hingga siap menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, profesional, dan berdampak di mana pun mereka berkarya.