NEWS & PUBLICATION

5 Pelajaran Berharga dari KEYSTONE 2025: Bekal Awal Mahasiswa Baru UPH untuk Jadi Pemimpin Berdampak 

29/08/2025 Student Life

5 Pelajaran Berharga dari KEYSTONE 2025: Bekal Awal Mahasiswa Baru UPH untuk Jadi Pemimpin Berdampak 

Seorang pemimpin sejati harus mampu menata dirinya terlebih dahulu, mulai dari melatih disiplin, menjaga integritas, dan memiliki kesadaran penuh dalam setiap tindakan. Prinsip inilah yang menjadi landasan KEYSTONE 2025, program pembekalan kepemimpinan tingkat dasar bagi mahasiswa baru Universitas Pelita Harapan (UPH). Selama dua hari, 22–23 Agustus 2025, suasana Grand Chapel Universitas Pelita Harapan (UPH) Kampus Lippo Village dipenuhi energi dan antusiasme oleh lebih dari 2000 mahasiswa. Tak hanya di Karawaci, semangat ini juga menjangkau mahasiswa baru dari Kampus UPH Medan yang bergabung secara virtual. 

KEYSTONE bukan sekadar hari orientasi. Inilah saat mereka memulai perjalanan kepemimpinan—sebuah perjalanan yang UPH sebut Leadership Journey. Dan seperti setiap perjalanan besar, semua dimulai dari satu langkah: Lead Self—belajar mengenali dan menguasai diri sendiri sebelum mereka belajar memimpin orang lain (Lead Others), membangun tim (Lead Team), hingga mengelola organisasi (Lead Organizations).  

Melalui sesi-sesi inspiratif yang diisi oleh dosen, praktisi, psikolog, alumni, hingga mahasiswa aktif, mahasiswa baru UPH dibekali pelajaran praktis sekaligus nilai-nilai mendasar kepemimpinan. Berikut rangkuman lima sesi utama yang menggugah dan menginspirasi. 

Pelajaran Pertama: Kepemimpinan itu Dampak 

Sesi pertama dibawakan oleh Dr. Andry M. Panjaitan, S.T., M.T., CPHCM., Associate Vice President of Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH. Dalam topik Who Am I Becoming, Dr. Andry menekankan bahwa pemimpin sejati tidak diukur dari posisi, tetapi dari dampak yang ia hasilkan. 

 “Pemimpin itu bukan karena posisinya, tapi karena dampaknya,” tegasnya. 

Ia juga membagikan lima pilar perjalanan kepemimpinan: Be Yourself (kenali dan terima diri), Choose Your Own Battle (tentukan jurusan dan jalan hidup dengan bijak), Give Your Best (lakukan yang terbaik di setiap kesempatan), Never Give Up (bertahan menghadapi tantangan), dan Think Big (berani bermimpi besar dengan tetap menaruh percaya pada Tuhan). 

Pelajaran Kedua: Belajar dari Gagal 

Sesi berikutnya menghadirkan Nehemia Yulius Wijaya, alumni Teknik Sipil UPH angkatan 2021. Membawakan topik Fail Forward Moments, Nehemia menekankan bahwa kegagalan adalah bagian penting dari proses kepemimpinan. 

Aktif di berbagai organisasi, ia pernah terjebak dalam perfeksionisme yang justru menimbulkan tekanan besar. Namun dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kepemimpinan tumbuh ketika seseorang mampu menerima keterbatasan, belajar dari kegagalan, dan terus melangkah. 

“Kunci utama seorang pemimpin adalah bagaimana me-manage diri dengan baik. Setiap orang pasti punya kekurangan, tapi yang penting kita tahu tujuan kita memimpin untuk apa,” ujarnya. 

Pelajaran Ketiga: Emosi Adalah Kompas 

Sesi ketiga dibawakan oleh Kezia Toto, seorang Psikolog Klinis yang banyak mendampingi perempuan dan dewasa muda. Ia menjelaskan bahwa emosi adalah hasil dari perpaduan pikiran, pengalaman, hingga nilai sosial yang kita anut. Karena itu, emosi memengaruhi hampir setiap keputusan yang kita buat. 

Namun, bila tidak dikelola, emosi bisa membuat seseorang kewalahan. Untuk itu, Kezia memperkenalkan konsep sederhana: SIT with your emotions—Sadari perasaan, tentukan Intensi dari respons yang diinginkan, lalu ambil Tindakan yang tepat. 

“Mengelola emosi bukan berarti menekan perasaan, tetapi memberi ruang untuk menyadari, memahami, lalu meresponsnya dengan lebih sehat,” jelasnya. 

Bagi mahasiswa baru yang tengah beradaptasi dengan dunia kampus, pesan ini terasa seperti panduan praktis untuk menata hati di tengah segala perubahan. 

Pelajaran Keempat: Kebiasaan Membentuk Masa Depan 

Selanjutnya, giliran dua wajah sebaya memberikan pengalamannya lewat sesi yang bertajuk Habits for Success: Brenda Tanoto dan Jessica Marvelyn Lee, mahasiswi Prodi Hukum dan Psikologi UPH angkatan 2022. Mereka bukan lagi sekadar kakak tingkat, tapi role model nyata. 

Jessica menggarisbawahi pentingnya perencanaan, baik dengan aplikasi digital maupun catatan manual. Menurutnya, kunci produktivitas adalah jangan menunda pekerjaan.  

“Semakin cepat mengerjakan sesuatu, semakin banyak hal lain yang bisa diselesaikan, jadi kita lebih produktif,” jelasnya. 

Brenda menambahkan pentingnya disiplin dan fokus pada prioritas. Ia juga menyoroti bagaimana lingkungan pertemanan bisa sangat memengaruhi perkembangan diri. “Teman punya peran berbeda dalam setiap aspek kehidupan. Pilih yang bisa mendukungmu,” ujarnya. 

Keduanya menutup sesi dengan ajakan agar mahasiswa berani mengembangkan diri melalui organisasi, kompetisi, maupun kesempatan di luar kelas. 

Pelajaran Kelima: Pemimpin Sejati Bukan Mengejar Gengsi dan Dominasi 

Sesi terakhir dibawakan oleh Reza Aryabima, CEO & Co-Founder Artisan Professionel (Artisan Pro) sekaligus alumni Prodi Manajemen UPH angkatan 2005. Membawakan topik The Leader God is Forming in You, Reza menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari dominasi atau prestise semata. Dua hal ini memang bisa membuat seorang pemimpin dihormati, tetapi tidak menjamin kebahagiaan sejati. 

Menurutnya, setiap orang perlu mengajukan pertanyaan mendasar: “Why am I here? Apa perubahan yang bisa saya bawa?” Reza menekankan bahwa melalui UPH, mahasiswa diperlengkapi untuk menjadi pemimpin yang menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran. 

Untuk itu, Reza membagikan tiga langkah praktis untuk melakukan change side. Pertama, Change the Driver, yaitu menentukan siapa pengemudi hidup kita, karena hal itu akan menentukan arah perjalanan. Kedua, Change the Habit, yakni mengubah kebiasaan sehari-hari untuk membentuk karakter pemimpin sejati. Ketiga, Change the Circle, yaitu memilih lingkungan pertemanan yang tepat agar pandangan hidup lebih terarah. 

Menutup sesinya, Reza menegaskan bahwa ia sendiri membangun bisnis dengan prinsip yang berpijak pada nilai-nilai iman. “Saya menjalankan bisnis ini dengan cara Tuhan, dengan waktunya Tuhan, dengan gayanya Tuhan. Selesai dari sini, setiap keputusan yang kalian ambil akan menentukan akhir cerita hidup kalian akan seperti apa,” ujar Reza. 

Kepemimpinan Berkarakter, Fondasi Sejak Awal 

Selain menghadirkan rangkaian sesi inspiratif, pembekalan KEYSTONE 2025 diawali oleh pesan khusus dari Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Zulhadrie S. Mara, M.Han., Komandan Korem (Danrem) 052/Wijayakrama. Dalam pesannya, ia menekankan bahwa kepemimpinan sejati bukan sekadar memberi arahan, tetapi juga kemampuan untuk menginspirasi orang lain agar bekerja dengan sepenuh hati. Menurutnya, hal ini hanya dapat tercapai bila seorang pemimpin memiliki karakter yang kuat, seperti kejujuran, keberanian, kebijaksanaan, dan kerendahan hati. 

Melalui KEYSTONE 2025, UPH kembali menegaskan komitmennya untuk membentuk mahasiswa menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter. Dengan bekal sejak hari pertama perkuliahan, diharapkan setiap mahasiswa baru mampu menjalani perjalanan kepemimpinan bagi diri sendiri, masyarakat, hingga dunia yang lebih luas. Dengan prinsip ini, UPH terus mendidik mahasiswanya menjadi pemimpin yang takut akan Tuhan, unggul, dan siap berdampak positif bagi bangsa dan masyarakat.