06/12/2025 Hukum, Pencapaian
Di tengah percepatan pembangunan nasional dan transisi menuju energi bersih, Indonesia dihadapkan pada tantangan krusial, yakni bagaimana memastikan Proyek Strategis Nasional tetap menghormati hak masyarakat hukum adat. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, sebagai bagian dari agenda Net Zero Emission, kerap bersinggungan dengan wilayah adat sehingga menuntut peran hukum sebagai penyeimbang antara kepentingan negara, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial. Isu inilah yang diangkat oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH) melalui proposal Legal Opinion dan berhasil meraih Juara 1 Kompetisi dan Penghargaan Berkas Terbaik Kedua pada Legal Opinion The 12th Sciencesational 2025, Universitas Indonesia (SS UI) yang diselenggarakan pada November 2025.
SS UI 2025 mengusung tema “Pemaknaan Kembali Hukum Sebagai Pilar Utama dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk Mewujudkan Keberlanjutan Ekologis dan Keadilan Sosial.” Melalui kompetisi ini, mahasiswa didorong untuk mengkaji hubungan antara keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial dalam praktik hukum.
FH UPH diwakili oleh Tim ‘Lex Talionis’ dari UKM Business Law Student Community (BLSC) yang terdiri dari Brenda Putri Tanoto dan Clarissa Felicia Hidriani (angkatan 2022), serta Sheren Christabella Nathanael (angkatan 2023). Dalam karyanya, tim mengkaji perlindungan hak masyarakat hukum adat atas wilayah ulayat, yaitu tanah dan sumber daya yang secara turun-temurun dikuasai dan dikelola oleh masyarakat adat, yang direncanakan menjadi lokasi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, sebagai bagian dari percepatan agenda Net Zero Emission.
“Melalui pendapat hukum yang kami susun, kami menekankan pentingnya pengakuan hak ulayat, keterlibatan masyarakat adat sejak tahap perencanaan, serta proses pengambilan keputusan yang adil dan transparan. Bagi kami, transisi energi tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga tentang keadilan sosial,” ujar Sheren, Ketua Tim.
Pendekatan yang digunakan dalam kompetisi ini tidak hanya memperkuat kualitas pendapat hukum yang disusun, tetapi juga menjadi pengalaman pembelajaran yang kontekstual dan bermakna bagi para anggota tim. Clarissamenuturkan bahwa kompetisi ini membantunya memahami bagaimana hukum tidak hanya dipelajari secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kasus nyata.
“Melalui kompetisi ini, saya belajar menyusun pendapat hukum yang komprehensif, mempertahankan argumen, sekaligus bekerja sama dalam tim. Berkat arahan dari dosen pembimbing dan proses diskusi bersama tim, teori hukum yang kami pelajari di kelas terasa lebih nyata dan aplikatif, sekaligus melatih kepercayaan diri saya dalam menghadapi tantangan ke depan,” jelas Clarissa.
Pengalaman yang tak kalah berkesan juga dirasakan oleh Brenda. Baginya, kompetisi ini sebagai salah satu perjalanan paling berkesan selama masa perkuliahannya di UPH, sekaligus menjadi penutup yang penuh makna di tahun akhir studinya.
Di balik capaian tersebut, Tim FH UPH menjalani proses persiapan yang panjang dan terstruktur dengan dukungan berbagai pihak. Pendampingan akademik diberikan oleh Jerry Shalmont, S.H., M.H. dan Dr. Gunanegara, S.H., M.H., selaku dosen pembimbing, dengan dukungan penuh dari FH UPH dan keluarga besar BLSC.
Apresiasi juga disampaikan kepada para alumni dan praktisi hukum yang turut memberikan bimbingan dan masukan substansi, di antaranya Derryan Rahmat Putra dan Stefanus Brian (Deloitte Legal Indonesia), Carlos William Rettobjaan (DENTONS HPRP), Inara Mahesa Chaidir (AHP), Monica Tjahjono (HHP), Sianti Candra (HDPP), dan Shinta Pangesti.
Atas prestasi ini, Jerry Shalmont mengapresiasi kerja keras seluruh tim dan berharap pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal berharga bagi perjalanan karier mereka ke depan.
“Di FH UPH, kami mendorong mahasiswa hingga alumni untuk aktif terlibat dalam berbagai kompetisi agar mereka tidak hanya memperoleh ilmu di kelas, tetapi juga pengalaman nyata, jejaring profesional, dan pemahaman kontekstual tentang praktik hukum,” ujar Jerry.
Berpartisipasi dalam ajang ini bukan sekadar soal berkompetisi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang menumbuhkan keberanian, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis dalam menjawab berbagai isu hukum aktual. Prestasi ini kembali menegaskan komitmen FH UPH dalam membentuk lulusan yang takut akan Tuhan, berprestasi, dan siap berdampak nyata bagi masyarakat.