04/02/2026 Sains, Teknologi, Teknik & Matematika
Kolaborasi internasional kini tidak lagi sebatas pertukaran akademik, tetapi menjadi ruang lahirnya solusi nyata bagi tantangan sosial dan lingkungan. Komitmen inilah yang diwujudkan Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui penelitian kolaboratif bersama Singapore Polytechnic (SP), yang melibatkan dosen dan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FAST) serta Fakultas Desain. Kolaborasi ini merupakan pengembangan dari Learning Express (LeX) Program yang telah berjalan sejak 2024, dengan fokus pada riset aplikatif, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Dr. Laurence, M.T. Ketua Program Studi (Kaprodi) Teknik Industri UPH menegaskan bahwa penelitian kolaboratif ini menjadi ruang pembelajaran komprehensif bagi mahasiswa. “Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga terjun langsung ke lapangan untuk mengidentifikasi persoalan, mengolah data, hingga merancang solusi yang relevan dan dapat diterapkan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut melahirkan berbagai inovasi yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Berikut tiga inovasi yang dihasilkan.
Persoalan pengelolaan sampah organik di Kampung Ekowisata Keranggan, Tangerang Selatan, mendorong pemanfaatan maggot sebagai solusi pengolahan limbah sampah organik menjadi sumber daya bernilai. Namun, dalam praktiknya, pemanfaatan maggot masih menghadapi tantangan, terutama pada proses pengiriman. Berangkat dari permasalahan tersebut, Christiana Gracia Monica (Teknik Industri UPH 2022) bersama Kaung Htet Shain (Civil Engineering SP 2023) melakukan penelitian berjudul “Sustainable Organic Waste Management Using Maggot Farming”.
Dalam penelitian ini, budi daya maggot dilakukan melalui pemeliharaan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang mengonsumsi sampah organik dan mengurainya menjadi pakan ternak berprotein tinggi, serta menghasilkan sisa media (kasgot) yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas.
Meski demikian, proses pengiriman maggot masih menjadi kendala karena selama ini menggunakan karung bekas yang rawan bocor dan berisiko menyebabkan kematian maggot. Menjawab tantangan tersebut, tim merancang boks pengiriman maggot yang lebih aman dan efisien.
“Boks ini dilengkapi termometer dan sistem ventilasi agar suhu serta sirkulasi udara tetap optimal selama proses distribusi. Dengan demikian, kualitas maggot dapat terjaga dan budi daya menjadi lebih berkelanjutan,” ujar Gracia.
Shain menambahkan bahwa inovasi ini juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Limbah organik dapat ditekan hingga 70–75 persen dan diolah menjadi pakan ternak serta kompos. Boks pengiriman ini telah diserahkan kepada Kampung Ekowisata Keranggan pada 16 Desember 2025 sebagai bentuk penerapan langsung di masyarakat,” jelasnya.
2. Aerogel Ramah Lingkungan untuk Efisiensi Energi Bangunan
Sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia mencapai Net Zero Emission 2060, upaya menekan konsumsi energi dan emisi karbon kian mendesak, termasuk di sektor bangunan yang berkontribusi besar terhadap penggunaan energi. Menjawab tantangan tersebut, UPH bersama SP menghadirkan riset material ramah lingkungan bertajuk “Control of Room Temperature Using Aerogel Composite.”
Penelitian ini dilakukan oleh William Ofel Boas (Teknik Industri UPH 2022) dan Anna Manickathan (Civil Engineering SP 2023), dengan fokus pada pengembangan material penahan panas berbasis aerogel untuk menjaga kestabilan suhu ruangan, menekan konsumsi energi, serta mengurangi emisi karbon.
“Dalam kolaborasi ini, tim Singapore Polytechnic mengembangkan aerogel dari abu limbah padat, material ringan berpori yang mampu menahan panas dari luar. Sementara itu, tim UPH menguji efektivitas aerogel dalam menjaga suhu ruangan tetap stabil,” ujar William.
Anna menambahkan, bahwa pengujian pada dinding bilik di Laboratorium Teknik Industri UPH menunjukkan hasil yang menggembirakan. Panas dari luar berhasil ditekan, sehingga ruangan tetap sejuk tanpa penggunaan pendingin secara berlebihan. Meski masih berskala eksperimen, William dan Anna berharap riset ini dapat dikembangkan untuk penerapan pada bangunan berskala lebih besar.
Dr. Handojo Djati Utomo, Dosen School of Architecture & the Built Environment SP, menilai proyek ini sebagai contoh nyata inovasi ramah lingkungan sekaligus kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk belajar melalui praktik langsung.
“Harapannya proyek ini dapat diperluas, bahkan hingga produksi massal agar dampaknya lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya
Sementara Dr. Li Xiaodong, Manager Advanced Materials Technology Centre SP sekaligus Supervisor Project penelitian ini, menekankan bahwa kolaborasi internasional mendorong mahasiswa untuk berani mencoba hal baru dan memanfaatkan peluang ini sebagai bagian dari pembelajaran.
3. Sensor Otomatis untuk Budidaya Anggur
Dari sektor pertanian, tim Fakultas Desain UPH bersama School of Electrical & Electronic Engineering (EEE) Singapore Polytechnic (SP) mengembangkan penelitian bertajuk “Intelligence Modular Tool Kit for Grapefruit Farming”. Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi Lim William Hasim (Desain Produk UPH 2022) dan Khin Myat Myat Min (Computer Engineering SP 2023), yang menghasilkan perangkat modular dengan sistem sensor otomatis untuk mendukung budidaya anggur di komunitas petani Kebun Pemuda NgAnggur, Ciakar, Kabupaten Tangerang.
“Inovasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan waktu dan ruang dalam merawat tanaman. Melalui prototipe modular dengan sistem otomatis, tanaman anggur tetap dapat tumbuh optimal meski dirawat secara individu,” ujar Dr. Martin L. Katoppo, S.T., M.T., Dosen Program Studi Desain Interior UPH.
Dalam kolaborasi ini, tim UPH berperan merancang desain dan struktur media tanam yang fleksibel serta mudah disesuaikan, sementara tim SP berfokus pada pengembangan perangkat teknologi, termasuk sensor untuk mengukur kelembapan, pH, kesuburan tanah, serta sistem pengairan otomatis. Perangkat hasil kolaborasi ini telah diserahkan kepada komunitas petani Kebun Pemuda NgAnggur pada 17 Desember 2025.
William menjelaskan, “Sistem pada alat ini dirancang dalam beberapa bagian yang terpisah. Pendekatan tersebut membuat setiap komponen dapat disesuaikan atau ditingkatkan sesuai kebutuhan, sehingga alat ini menjadi lebih fleksibel dan mudah dikembangkan.”
Khin Myat Myat Min menambahkan, bahwa sistem ini bisa membantu petani membuat keputusan lebih tepat karena menyediakan data secara real-time. Ia berharap, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi, mempermudah pemantauan, dan mengotomatiskan pekerjaan rutin sehingga meringankan beban fisik mereka.
Lebih lanjut proyek ini kata Dr. Boon Seng Chew, selaku Senior Manager School of EEE SP mampu membuktikan bahwa prinsip teknik dan rekayasa dapat diimplementasikan untuk menjawab kebutuhan sektor pertanian.
“Proyek ini adalah contoh dari hasil kolaborasi antara pendidikan vokasi dan universitas lintas negara yang mampu menghasilkan inovasi berdampak,” tambah Dr. Boon.
Ketiga proyek tersebut menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi internasional antara UPH dan SP dapat menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui kerja sama lintas negara ini, mahasiswa tidak hanya mengembangkan kompetensi akademik, tetapi juga belajar menerapkan ilmu secara nyata untuk menjawab tantangan sosial dan lingkungan. Dengan semangat tersebut, UPH terus berkomitmen mencetak lulusan yang kompeten, berintegritas, dan memberikan dampak positif bagi bangsa.