13/03/2026 Hukum, Pencapaian
Di tengah kompleksitas persoalan agraria di Indonesia, mulai dari sengketa kepemilikan tanah hingga konflik pembangunan, calon advokat dituntut tidak hanya menguasai teori hukum, tetapi juga memiliki empati serta kemampuan merumuskan solusi yang manusiawi. Tantangan ini diangkat dalam Brown Mosten International Client Consultation Competition (ICCC) 2026, kompetisi simulasi konsultasi hukum tingkat nasional, yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa Alternative Dispute Resolution Enhancement Society Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (ATHENS FH UGM).
Dalam kompetisi yang berlangsung pada 31 Januari 2026, dua mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH) dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) International Law Moot Court Community (UKM ILMCC UPH), Gabrielle Liman dan Valerie Elaine Tamzil (angkatan 2024), berhasil meraih Juara 2.
Tahun ini, peserta menghadapi kasus bertema “The Use of Land” yang berfokus pada isu Hukum Agraria Indonesia, mulai dari persoalan legalitas kepemilikan tanah hingga konflik akibat pembangunan. Berbeda dari kompetisi peradilan semu pada umumnya, ICCC menempatkan peserta sebagai penasihat hukum yang harus melakukan sesi konsultasi langsung dengan “klien” dalam sebuah skenario kasus. Penilaian tidak hanya berfokus pada ketepatan analisis hukum, tetapi juga pada kemampuan membangun kepercayaan, mengelola emosi klien, serta menyampaikan solusi yang realistis.
“Selama persiapan, kami banyak mendalami isu penggunaan dan kepemilikan tanah, mulai dari legalitas sertifikat, potensi konflik akibat proyek pembangunan, hingga opsi penyelesaian seperti negosiasi dan mediasi. Tantangannya adalah bagaimana menjelaskan analisis hukum yang kompleks menjadi solusi yang sederhana dan mudah dipahami klien,” ujar Gabrielle.
Valerie menambahkan bahwa pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap profesi advokat. Menurutnya, “Mengikuti ICCC membuat saya belajar bahwa konsultasi hukum bukan sekadar menjawab persoalan hukum, tetapi juga mendengarkan cerita dan kekhawatiran klien. Kami harus tetap tenang, memahami situasinya secara utuh, lalu membantu mereka memilih langkah terbaik.”
Dalam proses persiapan, keduanya juga mendapatkan pendampingan intensif dari Jerry Shalmont, S.H., M.H., selaku dosen pembimbing. Ia membimbing Gabrielle dan Valerie mulai dari pendalaman materi hukum, penyusunan strategi konsultasi, hingga simulasi sesi konsultasi dengan klien.
“Kompetisi seperti ICCC menjadi ruang pembelajaran penting bagi mahasiswa hukum untuk mengembangkan profesionalisme sejak dini. Saya melihat mereka bertumbuh bukan hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga dari sikap. Mereka belajar mendengar, memahami perspektif klien, dan menyampaikan solusi secara bijak. Bagi saya, itulah esensi pendidikan hukum, yaitu membentuk pribadi yang berintegritas dan peduli pada kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Capaian ini sekaligus menegaskan komitmen FH UPH dalam mempersiapkan mahasiswa melalui pendidikan yang holistis, untuk menjadi pemimpin masa depan unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi masyarakat.