06/10/2026 Hukum, Pencapaian
Perkembangan strategi bisnis yang semakin dinamis menghadirkan persoalan hukum yang kompleks. Salah satunya mengenai dynamic pricing, yaitu penerapan harga yang dapat berubah berdasarkan kondisi atau faktor tertentu. Fenomena ini menuntut calon praktisi hukum tidak hanya memahami peraturan, tetapi juga mampu menganalisis penerapannya terhadap praktik bisnis yang terus berkembang.
Kemampuan tersebut ditunjukkan oleh mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui prestasi Juara 3 English Legal Opinion Competition (ELOC) National Rounds 2026 yang diselenggarakan oleh Asian Law Students’ Association (ALSA) Local Chapter Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 22 Agustus 2026 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kompetisi ini menjadi wadah bagi mahasiswa FH untuk menguji kemampuan analisis dan argumentasi melalui isu dynamic pricing dalam praktik bisnis.
Prestasi tersebut diraih oleh tim FH UPH yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa International Law Moot Court Community (UKM ILMCC). Tim ini terdiri atas Ruben Chiesa Untang, Verlyn Adelaide Tzuriel Shillo, dan Keizo William Alexander, mahasiswa FH UPH angkatan 2024.
Menguji Analisis Hukum lewat Kasus Dynamic Pricing
Mengangkat tema “Challenges of Legal Certainty and Regulatory Complexity in Indonesian Business Law,” ELOC 2026 menghadirkan kasus dynamic pricing dalam industri penerbangan. Para delegasi ditantang menyusun pendapat hukum dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari hukum persaingan usaha, perlindungan konsumen, dan perlindungan data pribadi hingga kebebasan berekspresi dalam konteks ancaman gugatan pencemaran nama baik.
Bagi tim FH UPH, kompleksitas kasus tersebut menjadi tantangan sekaligus ruang untuk mengembangkan kemampuan analisis hukum dan melihat bagaimana strategi bisnis dapat dianalisis dari berbagai perspektif hukum.
“Kami tidak hanya melihat apakah suatu tindakan diperbolehkan atau tidak, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana regulasi yang ada diterapkan terhadap kondisi yang kompleks dan terus berkembang,” ujar Ruben selaku Ketua Delegasi.
Verlyn Adelaide Tzuriel Shillo menjelaskan bahwa praktik dynamic pricing tidak dapat dilihat hanya dari perubahan harga, tetapi juga perlu dikaji berdasarkan proses penetapan harga dan data yang digunakan.
“Dalam kasus ini, kami melihat bahwa dynamic pricing dapat menimbulkan persoalan ketika penentuan harga dilakukan berdasarkan data konsumen tertentu. Karena itu, kami perlu melihatnya dari beberapa rezim hukum sekaligus, seperti apakah praktik tersebut dapat memengaruhi persaingan usaha, bagaimana posisi konsumen yang menerima harga berbeda, serta bagaimana penggunaan data pribadi dalam menentukan harga tersebut,” jelas Verlyn.
Sementara itu, Keizo William Alexander menilai tantangan lain dalam kompetisi terletak pada kemampuan membangun argumentasi berdasarkan berbagai ketentuan hukum dan menghubungkannya dengan fakta dalam kasus.
“Kompetisi ini mengajarkan saya bahwa terkadang suatu permasalahan hukum sudah cukup rumit, tetapi menjelaskan alasan di balik keyakinan kita melalui hasil analisis dan pendapat merupakan tantangan yang jauh lebih menarik. Kami harus melihat persoalan dari berbagai sisi dan kemudian menyusun argumentasi yang dapat menjelaskan mengapa suatu pendekatan hukum relevan untuk diterapkan,” ungkap Keizo.
Mengasah Kompetensi untuk Praktik Hukum
Proses persiapan tersebut mengasah keterampilan yang dibutuhkan dalam praktik hukum, mulai dari melakukan riset terhadap peraturan dan putusan yang relevan, mengidentifikasi persoalan hukum, menyusun argumentasi, hingga mempertahankan pendapat melalui presentasi dan diskusi.
Dalam prosesnya, tim mendapat pendampingan dari dosen pembimbing yang memberikan masukan substantif sejak tahap riset hingga latihan mempresentasikan legal opinion. Pendampingan tersebut diberikan oleh Prisca Octavia Rumokoy, Ph.D., Prof. Dr. Fajar Sugianto, S.H., M.H., dan Jerry Shalmont, S.H., M.H. Dukungan juga diberikan oleh rekan-rekan seangkatan dari ILMCC UPH, yaitu Petranesia Evangeline, Jemimah Raphael Goliat, Valerie Elaine Tamzil, dan Celestial Darya Suryadi.
Jerry Shalmont, S.H., M.H., selaku salah satu dosen pembimbing, mengapresiasi kerja keras tim dalam menghadapi kasus dengan tingkat kompleksitas yang tinggi dalam waktu persiapan yang singkat.
“Selamat atas pencapaiannya mengingat waktu persiapan yang singkat dan kompleksitas kasus. Prestasi ini bukan hanya hasil perjuangan delegasi, tetapi juga berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Semoga pencapaian ini menjadi pengingat untuk tetap rendah hati dan terus belajar menuju prestasi berikutnya,” kata Jerry.
Prestasi di ELOC National Rounds 2026 menunjukkan bahwa pembelajaran hukum tidak berhenti di ruang kelas. UPH mendukung mahasiswa untuk aktif dalam berbagai kompetisi dan kegiatan pengembangan diri yang bermanfaat sebagai ruang untuk mengasah pengetahuan, mempertajam kemampuan analisis, serta membangun karakter dan keberanian dalam menghadapi persoalan nyata. Dukungan terhadap proses belajar di dalam dan di luar kelas tersebut menjadi bagian dari pendidikan holistis UPH untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, unggul,dan mampu menggunakan kompetensinya untuk memberikan dampak bagi masyarakat.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: Beatrice Frederica Sungkono (Mahasiswa Hubungan Internasional, 2024)