08/05/2026 Sains, Teknologi, Teknik & Matematika
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) kini tidak hanya mengubah lanskap industri, tetapi juga menjadi faktor kunci dalam membentuk arah ekonomi dan geopolitik global. Di tengah percepatan ini, negara-negara anggota BRICS (Negara blok ekonomi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan Indonesia) semakin menunjukkan peran strategis sebagai kekuatan baru dalam inovasi teknologi dunia. Bagi Indonesia, momentum ini menjadi peluang penting untuk memperkuat kualitas talenta digital sekaligus memperluas kolaborasi internasional berbasis teknologi.
Menjawab dinamika tersebut, Faculty of Artificial Intelligence and Data Science Universitas Pelita Harapan (FAIDAS UPH) menghadirkan Exclusive Guest Lecture bertajuk ‘The Present and Future of AI with Specifics in Russia and the BRICS Countries’ pada 24 April 2026. Acara yang diselenggarakan secara daring ini diikuti lebih dari 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan staf UPH. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari kolaborasi akademik antara UPH dan Lomonosov Moscow State University (MSU) Rusia yang telah terjalin sejak Februari 2026.
Dalam sambutannya, Andree Emmanuel Widjaja, S.Kom., M.B.A., Ph.D., selaku Dekan FAIDAS UPH, menegaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah cara negara-negara merancang strategi pembangunan ekonomi dan inovasi teknologi.
“Negara-negara BRICS kini muncul sebagai poros kekuatan teknologi baru di tingkat global. Hal ini terlihat dari langkah Rusia yang menempatkan pengembangan AI sebagai prioritas nasional dengan proyeksi kontribusi ekonomi yang besar di masa depan. Pengembangan teknologi juga tidak hanya berfokus pada tingkat nasional, tetapi turut diperkuat melalui kolaborasi lintas negara untuk mengurangi kesenjangan digital. Ini menjadi pengingat penting bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk terus memperkuat riset, inovasi, dan jejaring global agar mampu berkontribusi dalam ekosistem teknologi masa depan yang semakin kompetitif,” ujar Andree.
Sejalan dengan hal tersebut, melalui kuliah tamu ini ia berharap civitas academica UPH dapat memperluas wawasan global, memahami perkembangan AI secara lebih strategis, serta terdorong untuk berperan aktif dalam ekosistem teknologi masa depan.
AI sebagai Kunci Ekonomi Global dan Tantangan Adopsinya
Kuliah tamu ini menghadirkan Dr. Archil Maysuradze, akademisi dari Faculty of Computational Mathematics & Cybernetics Lomonosov MSU. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa AI kini telah menjadi fondasi utama dalam mendorong ekonomi digital, inovasi industri, hingga perumusan kebijakan teknologi nasional di berbagai negara.
Ia juga memperkenalkan salah satu capaian teknologi Lomonosov MSU, yaitu MSU-270, superkomputer yang diluncurkan pada 2023 dengan kemampuan komputasi AI hingga 400 petaflops. Kapasitas ini setara dengan ratusan kuadriliun perhitungan per detik, yaitu proses matematis yang digunakan komputer untuk mengolah data, mengenali pola, hingga menjalankan simulasi kompleks.
“Dengan kemampuan tersebut, MSU-270 mampu mempercepat pengolahan big data serta mendukung pengembangan AI dan riset lintas disiplin, mulai dari sains dan kesehatan hingga ilmu sosial, yang sulit dilakukan dengan komputer konvensional,” jelas Dr. Archil.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Rusia telah membangun 12 pusat riset AI dan tiga pusat teknologi nasional sebagai fondasi strategi pengembangan AI. Dalam lima tahun ke depan, pemerintah Rusia menargetkan penerapan AI dapat menjangkau hingga 95 persen sektor strategis nasional.
Meski peluangnya besar, Dr. Archil menilai masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan tenaga ahli, tingginya biaya riset, serta belum meratanya pemahaman masyarakat dan pelaku industri terhadap potensi AI.
“Keberhasilan adopsi AI sangat bergantung pada kesiapan pemerintah, ketersediaan infrastruktur teknologi, serta kolaborasi lintas sektor agar implementasinya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Namun, kesiapan institusi dan masyarakat sering kali tidak bergerak secepat perkembangan teknologi. Inilah tantangan global yang harus dihadapi bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi yang efektif menjadi kunci agar suatu negara dapat menjadi pemimpin dalam pengembangan AI, termasuk melalui penguatan pendidikan sebagai fondasi utama.
Melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional ini, UPH tidak hanya menghadirkan wawasan global tentang perkembangan AI, tetapi juga memperkuat komitmennya dalam membekali mahasiswa dengan perspektif strategis dan kesiapan menghadapi dinamika teknologi dunia. Sebagai bagian dari pendekatan pendidikan holistis yang terintegrasi dengan berbagai pengalaman pembelajaran dan pengembangan diri, UPH terus mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan mampu berdampak bagi masyarakat.