08/07/2026 Student Life
Di era ketika pilihan hidup semakin tidak terbatas, banyak generasi muda justru semakin sulit menentukan arah. Kemudahan teknologi, derasnya arus informasi, hingga budaya membandingkan diri di media sosial membuat kebebasan memilih sering berubah menjadi kebingungan, kecemasan, bahkan kehilangan makna hidup. Fenomena yang dikenal sebagai paradox of choice inilah yang menjadi sorotan dalam TEDxUPH 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Pelita Harapan (BEM UPH) pada 2 Juli 2026 di Auditorium Gedung D501, Kampus Utama UPH Lippo Village, Tangerang. Acara ini turut menghadirkan Cinta Laura Kiehl, seorang aktris, entrepreneur, sekaligus filantropis sebagai pembicara.
Melalui tema “Paradox: Searching of Meaning”, TEDxUPH 2026 menghadirkan ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa kehidupan yang bermakna tidak ditentukan oleh banyaknya pilihan yang dimiliki, melainkan oleh keberanian mengambil keputusan yang selaras dengan tujuan hidup.
Menemukan Jati Diri di Era Digital
Dalam sesi yang bertajuk ‘Technology, Identity, and Meaning in the Digital Age’, Cinta Laura mengajak mahasiswa melihat teknologi sebagai alat untuk bertumbuh, bukan sebagai ukuran yang menentukan nilai diri seseorang. Menurutnya, kemajuan teknologi memang membuka berbagai peluang, tetapi pada saat yang sama juga membuat banyak orang terjebak dalam budaya membandingkan diri hingga kehilangan arah.
“Teknologi adalah pelayan yang luar biasa, tetapi tuan yang mengerikan. Ketika kita membiarkan teknologi mengendalikan hidup, kita akan terus sibuk membandingkan diri dengan orang lain dan kehilangan arah. Padahal, teknologi seharusnya menjadi alat untuk menciptakan karya, berbagi, dan membantu sesama, bukan menentukan siapa diri kita,” ujar Cinta.
Ia menegaskan bahwa teknologi seharusnya memperluas kesempatan seseorang untuk belajar, berkarya, dan memberi dampak positif, bukan justru menjadi sumber tekanan akibat budaya perbandingan yang terus muncul di media sosial. Karena itu, setiap orang perlu memiliki kesadaran untuk menggunakan teknologi secara bijaksana agar tidak kehilangan identitas maupun tujuan hidup di tengah derasnya arus informasi.
“Jangan biarkan algoritma menentukan siapa dirimu. Kamu yang harus menentukan nilai dan tujuan hidupmu,” pesannya.
Makna Hidup Dibangun Melalui Pilihan
Berangkat dari refleksi tersebut, Cinta membagikan perjalanan hidupnya sebagai seseorang yang telah meraih berbagai pencapaian sejak usia muda. Namun, di balik berbagai keberhasilan itu, ia menyadari bahwa pencapaian demi pencapaian tidak selalu menghadirkan ketenangan. Baginya, makna hidup mulai dibangun ketika seseorang berani berhenti sejenak, menikmati keheningan, serta mengambil keputusan yang dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
“Tujuan hidup bukan ditemukan, melainkan dibangun. Satu keputusan, satu tanggung jawab, dan satu komitmen pada satu waktu. Jangan hanya mengejar kesuksesan yang terlihat dari luar, tetapi bangunlah kehidupan yang benar-benar memberi arti, baik bagi dirimu sendiri maupun bagi orang lain,” ungkap Cinta.
Menurutnya, kehidupan yang hanya berpusat pada pencapaian pribadi pada akhirnya akan terasa hampa. Sebaliknya, kehidupan yang bermakna dibangun melalui kesadaran untuk menggunakan setiap kesempatan sebagai sarana menciptakan dampak positif bagi sesama. Ia pun mengajak mahasiswa untuk terus membangun karakter, menjaga keseimbangan hidup, serta berani mengambil keputusan yang selaras dengan nilai dan tujuan hidup yang ingin diwujudkan.
Makna Hidup Tumbuh melalui Empati dan Tujuan Hidup
Selain Cinta Laura, TEDxUPH 2026 juga menghadirkan Jocelyn Winona Lie, Mahasiswi Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2023, dan Dr. Albert Surya Wanasida, S.E., M.M., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPH. Dari sudut pandang yang berbeda, keduanya mengajak peserta memahami bahwa makna hidup tidak hanya dibangun melalui keberanian menentukan arah, tetapi juga melalui kepedulian terhadap sesama serta kesediaan menjalani tujuan hidup yang Tuhan percayakan.
Dalam sesi ‘Finding Meaning Through Impact and Social Innovation’, Jocelyn membagikan pengalamannya sebagai anggota Service Learning Community (SLC) UPH melalui program Mari Membaca. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika mendampingi seorang anak korban perundungan hingga perlahan berani membangun relasi dengan teman-teman barunya. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa perubahan besar sering kali berawal dari kepedulian dan tindakan sederhana.
“Empati bukanlah emosi yang tetap, kita tidak mewarisinya. Empati adalah otot yang harus terus dilatih berulang kali. Dunia ini jauh lebih besar daripada ponselmu. Ketika kamu memilih menjadi pribadi yang bermakna, kamu belajar bukan hanya akademik, tetapi juga belajar berempati, mengenal, mengasihi, dan melayani mereka yang membutuhkan. Justru dari hal-hal sederhana itulah kita bisa membawa perubahan bagi kehidupan orang lain,” ujar Jocelyn.
Menurut Jocelyn, seseorang tidak menemukan makna hidup melalui validasi atau pencapaian semata, melainkan melalui kesediaan untuk keluar dari gelembung diri dan menghadirkan dampak nyata bagi sesama.
Sementara itu, Dr. Albert Surya Wanasida melengkapi refleksi tersebut melalui sesi ‘The Paradox of Choice and the Search for Purpose’. Berangkat dari pengalaman pribadinya yang berkali-kali mengalami penolakan kerja setelah lulus dengan predikat cum laude, ia menunjukkan bahwa setiap penolakan dapat menjadi bagian dari proses Tuhan dalam mengarahkan seseorang kepada panggilan yang lebih baik.
“Jangan gantungkan mimpimu setinggi langit, tetapi setinggi yang Tuhan kehendaki. Pintu yang tertutup mungkin bukan penolakan, bisa jadi itu adalah pengalihan arah. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi saya tahu siapa yang memegang masa depan saya,” ungkap Dr. Albert.
Melalui kisah tersebut, Dr. Albert mengajak peserta untuk memandang setiap kegagalan bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai bagian dari proses pembentukan yang menuntun seseorang kepada tujuan hidup yang telah Tuhan siapkan.
TEDxUPH 2026 mengajak mahasiswa menyadari bahwa di tengah dunia yang dipenuhi pilihan dan distraksi, makna hidup dibangun melalui keputusan yang dijalani setiap hari. Melalui refleksi dari Cinta Laura, Jocelyn Winona Lie, dan Dr. Albert Surya Wanasida, peserta diajak melihat bahwa kehidupan yang bermakna bertumbuh melalui empati, tujuan hidup, serta kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi.
Lebih dari sekadar forum berbagi gagasan, TEDxUPH 2026 menjadi bagian dari komitmen UPH dalam menghadirkan pendidikan holistis yang membentuk karakter, integritas, dan empati mahasiswa. Melalui berbagai pengalaman pembelajaran dan pengembangan diri, UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang unggul, takut akan Tuhan, serta memiliki kepedulian untuk membawa dampak bagi bangsa dan dunia.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu
Written by: Karin Angelica Putri Lay (Mahasiswa S1 Manajemen, 2024)