NEWS & PUBLICATION

Kembangkan Smart Farming Budidaya Jamur dan Tanaman Obat, Mahasiswa S1 Farmasi UPH Raih Hibah PPK Ormawa 2026

06/10/2026 Ilmu Kesehatan, Pencapaian

Kembangkan Smart Farming Budidaya Jamur dan Tanaman Obat, Mahasiswa S1 Farmasi UPH Raih Hibah PPK Ormawa 2026

Budidaya jamur dan tanaman obat keluarga (TOGA) telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari Kelompok Wanita Tani (KWT) Cempaka Batan Indah di Kelurahan Kademangan, Tangerang Selatan. Selain membudidayakan jamur dan tanaman TOGA, kelompok ini juga mengolah bunga telang menjadi minuman teh. Namun, penyiraman tanaman dan perawatan kumbung atau tempat budidaya jamur masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, terutama karena mayoritas anggota KWT berusia 58–70 tahun.

Tantangan tersebut mendorong Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) S1 Farmasi Universitas Pelita Harapan (UPH) menghadirkan pendekatan smart farming. Melalui teknologi berbasis sensor, mahasiswa membantu KWT meningkatkan efisiensi proses budidaya.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui proposal berjudul “Implementasi Teknologi Smart Farming melalui Pemanfaatan Air Limbah Daun untuk Meningkatkan Efisiensi Tenaga Kerja Kelompok Wanita Tani Kelurahan Kademangan”. Proposal ini berhasil memperoleh hibah sebesar Rp22,5 juta melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI). Untuk mendukung pelaksanaannya, UPH turut memberikan tambahan pendanaan sebesar Rp6,5 juta.

PPK Ormawa sendiri merupakan program yang mendukung organisasi kemahasiswaan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Pada 2026, sebanyak 226 judul subproposal dari 105 perguruan tinggi menerima pendanaan, termasuk proposal HMPS S1 Farmasi UPH.

Budidaya Masih Mengandalkan Tenaga Manual

Program ini berawal dari hubungan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UPH dengan KWT Cempaka Batan Indah sebagai salah satu kelompok binaan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Berdasarkan survei pada 11 dan 14 Maret 2026, tim menemukan bahwa proses budidaya masih dilakukan secara manual. Dengan sekitar 26 anggota yang mayoritas berusia 58–70 tahun, pekerjaan menyiram tanaman TOGA dan merawat kumbung jamur cukup berat sehingga KWT perlu menyewa tenaga tambahan yang turut menambah biaya operasional.

“Di area budidaya jamur atau kumbung, suhu dan kelembapannya perlu dijaga agar jamur dapat tumbuh dengan baik. Selama ini, penyiramannya juga masih dilakukan secara manual, begitu juga di area TOGA. Selain itu, banyak daun dari pepohonan di sekitar KWT yang tidak dimanfaatkan dan akhirnya menjadi limbah,” jelas Djona Nababan, mahasiswa S1 Farmasi UPH angkatan 2024 sekaligus Ketua Tim PPK Ormawa HMPS S1 Farmasi UPH.

Smart Farming Hadirkan Sistem Penyiraman Otomatis

Bersama dosen pendamping Feronia Reni Cyrena Santoso, M.S.Farm., tim menerapkan smart farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengotomatisasi penyiraman sesuai kondisi tanaman dan lingkungan. Teknologi ini membantu mengurangi pekerjaan manual sekaligus memudahkan anggota KWT memantau kondisi budidaya.

Pada area TOGA, tim menggunakan sistem drip irrigation yang menyalurkan air langsung ke sekitar tanaman berdasarkan pembacaan sensor kelembapan tanah. Sementara itu, kumbung jamur dilengkapi sistem misting berupa semprotan air berbentuk kabut halus serta sensor suhu dan kelembapan untuk membantu menjaga kondisi lingkungan sesuai kebutuhan jamur.

Sistem tersebut didukung sejumlah perangkat, seperti mikrokontroler ESP32, sensor kelembapan tanah, sensor suhu dan kelembapan udara, pompa air, katup otomatis, nozzle mist, selang drip, filter air, serta tandon air berkapasitas 520 liter. Data sensor dapat dipantau melalui aplikasi pada smartphone, sehingga kondisi tanaman dan kumbung tidak harus selalu diperiksa secara langsung.

“Dengan cara tersebut, anggota KWT tidak perlu melakukan seluruh proses penyiraman secara manual. Sistem juga membantu menjaga kondisi lingkungan budidaya agar lebih stabil dibandingkan jika hanya mengandalkan pemeriksaan dan penyiraman secara manual,” kata Djona.

Daun yang Terbuang Jadi Pupuk

Inovasi mahasiswa tidak berhenti pada otomatisasi penyiraman. Tim juga memanfaatkan daun kering yang sebelumnya menjadi limbah di sekitar area KWT untuk mendukung kegiatan budidaya. Daun dari area pertanian, lahan TOGA, dan sekitar kumbung dikumpulkan lalu dicacah menggunakan alat yang dikembangkan mahasiswa Teknik Industri. Selanjutnya, daun tersebut diolah menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos padat yang dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman.

“Daun yang sebelumnya hanya menjadi limbah sekarang bisa dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik cair dan kompos. Cairan hasil pengolahannya juga dapat digunakan untuk penyiraman, sehingga hasil olahan daun tetap bisa dimanfaatkan untuk tanaman,” ujar Djona.

Mendorong Efisiensi dan Keberlanjutan Budidaya

Melalui penerapan smart farming, tim menargetkan waktu penyiraman dan pemeliharaan berkurang dari sekitar satu hingga dua jam menjadi 15 menit per hari. Sistem juga ditargetkan membantu menjaga kondisi kumbung pada suhu 25–28 °C dan kelembapan 70–80 persen, serta mengolah lebih dari 70 persen limbah daun menjadi POC dan kompos. Dari sisi usaha, program diharapkan dapat menurunkan biaya operasional, meningkatkan kualitas hasil pertanian, dan mendorong peningkatan laba bersih minimal 15 persen.

“Selain penggunaan teknologi, program ini juga menargetkan sedikitnya 20 anggota KWT mampu mengoperasikan sistem smart farming secara mandiri agar dapat terus berjalan setelah pendampingan mahasiswa selesai. Untuk mendukung keberlanjutan tersebut, mahasiswa memberikan pelatihan dan evaluasi kepada anggota KWT serta melakukan audiensi dengan Kelurahan Kademangan,” ucap Djona

Sinergi Tiga Program Studi

Selain melibatkan HMPS S1 Farmasi UPH, pengembangan smart farming ini juga turut melibatkan kontribusi dari mahasiswa Teknik Industri dan Teknik Elektro. Kolaborasi 13 mahasiswa lintas disiplin ini memungkinkan setiap mahasiswa berkontribusi sesuai bidang keilmuannya. Mahasiswa S1 Farmasi berperan dalam mengumpulkan data mengenai jamur dan TOGA serta mengolah daun menjadi POC dan kompos. Mahasiswa Teknik Elektro menyiapkan dan memasang sistem smart farming, sedangkan mahasiswa Teknik Industri merancang dan membuat alat pencacah daun.

“Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan di masyarakat membutuhkan pendekatan dari berbagai bidang ilmu. Pengalaman ini juga menjadi pembelajaran bagi kami untuk melihat bahwa ilmu yang diperoleh di ruang kuliah perlu diterjemahkan menjadi solusi yang mudah dipahami dan digunakan masyarakat,” kata Djona.

Menurut Feronia Reni Cyrena Santoso, M.S.Farm., keterlibatan mahasiswa dalam program ini menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di kampus dapat diterapkan secara nyata di masyarakat.

“Pengetahuan dari mata kuliah seperti Farmakognosi, Botani Farmasi, dan Fitokimia menjadi bekal untuk mengenali potensi tanaman, memahami kandungan bahan alam, serta mengembangkan pemanfaatannya menjadi sesuatu yang bernilai guna,” jelas Feronia.

Feronia menambahkan, program ini memiliki roadmap hingga 2028. Dalam jangka panjang, KWT Cempaka Batan Indah diharapkan dapat mandiri mengoperasikan dan memelihara sistem smart farming, sekaligus berkembang menjadi kelompok percontohan yang dapat direplikasi di kelurahan lain.

Dampak Inovasi Smart Farming bagi KWT  

Penerapan smart farming mulai memberikan dampak bagi KWT Cempaka Batan Indah, terutama dalam budidaya jamur. Candrawati, Ketua KWT Cempaka Batan Indah, mengatakan sistem misting membantu menjaga kondisi kumbung lebih terkontrol sehingga area yang sebelumnya belum optimal juga mulai menghasilkan jamur.

“Masa panen yang sebelumnya sekitar empat bulan kini dapat berlangsung hingga enam bulan. Area ujung kumbung yang sebelumnya belum optimal untuk pertumbuhan jamur juga mulai menghasilkan jamur. Selain membantu proses budidaya, program ini juga menambah pengetahuan kami tentang penggunaan teknologi smart farming melalui pelatihan dan evaluasi dari tim mahasiswa,” ujar Candrawati.

Melalui PPK Ormawa, mahasiswa UPH belajar mengubah ilmu menjadi solusi nyata, bekerja lintas disiplin, dan hadir bersama masyarakat untuk menciptakan dampak yang berkelanjutan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pendidikan holistis UPH yang mendorong mahasiswa aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri yang bermanfaat. Melalui proses ini, UPH mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, unggul, dan berdampak bagi masyarakat.

Selamat kepada HMPS S1 Farmasi UPH yang berhasil meraih pendanaan PPK Ormawa 2026!

Dosen Pembimbing:

Feronia Reni Cyrena Santoso, M.S.Farm.

Anggota Tim:

  1. Djona Nababan – S1 Farmasi (2024)
  2. Nadine Angelica – S1 Farmasi (2024)
  3. Bryan Nakatomi – S1 Farmasi (2024)
  4. Jenifer Gabriela – S1 Farmasi (2024)
  5. Evan Rama Christian – S1 Farmasi (2024)
  6. Fricillia Celine – S1 Farmasi (2023)
  7. Richard Yang – S1 Farmasi (2023)
  8. Satriyanto Beka – S1 Teknik Industri (2023)
  9. Thomas Ryuuvan – S1 Teknik Elektro (2024)
  10. Patrik Pairunan – S1 Teknik Elektro (2024)
  11. Gabriel Khnoel Lapik – S1 Teknik Elektro (2024)
  12. Dave Sebastian – S1 Teknik Elektro (2024)
  13. Verrell Clarence – S1 Teknik Elektro (2025)

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu