22/04/2026 Pariwisata & Perhotelan
Perubahan cepat dalam industri hospitality dan pariwisata, mulai dari disrupsi teknologi hingga pergeseran perilaku wisatawan, menuntut lahirnya talenta yang kompeten, adaptif, dan inovatif. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa agar mampu memahami dinamika industri sekaligus meresponsnya secara strategis.
Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Hospitality dan Pariwisata Universitas Pelita Harapan (FHospar UPH) selama 17 tahun secara konsisten menyelenggarakan ajang nasional di bidang hospitality dan tourism yang memadukan kompetisi, seminar, dan pameran. Kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), khususnya pada mata kuliah Event Management, yang dijalankan mahasiswa di bawah bimbingan dosen. Melalui proses ini, mahasiswa mengembangkan kompetensi seperti teamwork, leadership, communication & relationship, serta service excellence melalui penyelenggaraan HOSPITOUR secara profesional.
Tahun ini, HOSPITOUR 2026 berlangsung pada 21–24 April 2026 di UPH Lippo Village Campus, mengusung tema “EVOLVE: Empowering Visionary Oriented Local and Virtual Experiences”. Rangkaian kegiatan HOSPITOUR 2026 menghadirkan seminar nasional, guest lecture, serta beragam kompetisi yang ditujukan bagi mahasiswa maupun siswa SMA/SMK. HOSPITOUR 2026 diikuti lebih dari 350 peserta dari 32 perguruan tinggi bidang pariwisata dan hospitality di berbagai daerah di Indonesia, seperti Palembang, Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Bali, dan Lombok, serta 14 SMA/SMK dari Jabodetabek.
Lebih dari sekadar event, HOSPITOUR merupakan platform nasional yang mengintegrasikan edukasi, kompetisi, dan kolaborasi industri untuk membentuk talenta hospitality dan pariwisata yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing.
Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., Rektor UPH menilai tema yang diangkat mencerminkan tuntutan industri pariwisata yang terus bergerak dan berinovasi di tengah tantangan global.
“Tema EVOLVE menggambarkan pentingnya kemampuan untuk terus beradaptasi, berinovasi, dan berkontribusi di tengah tantangan global yang dihadapi industri ini. Di tengah dinamika tersebut, kami bersyukur FHospar UPH terus berkembang sebagai salah satu yang unggul di Indonesia dalam mempersiapkan mahasiswa menjawab kebutuhan industri,” ungkap Rektor.
Prof. Dr. Diena M. Lemy, A.Par., M.M., CHE., Dekan FHospar UPH menambahkan bahwa dinamika global, termasuk faktor geopolitik, justru membuka ruang pembelajaran baru bagi mahasiswa.
“Tema EVOLVE mengajak kita untuk melihat setiap tantangan sebagai kesempatan. Kita sudah belajar dari masa pandemi, di tengah keterbatasan justru banyak peluang baru yang muncul di industri pariwisata. Karena itu, penting bagi kita untuk memiliki kemampuan beradaptasi dan terus menciptakan inovasi,” ujarnya.
Adaptasi sebagai Kunci Bertahan dan Bertumbuh
Pemahaman tentang pentingnya adaptasi diperdalam melalui Seminar Nasional bertajuk ‘Evolve in Practice: How Hospitality and Tourism Professionals Grow Through Change’. Sesi ini menghadirkan tiga alumni UPH dari berbagai bidang industri, yaitu Leo Satria (Digital Marketing Enthusiast & Culinary Content Creator, alumni Manajemen Perhotelan 2017), Andy Gozali (Sous Chef The Crown by Kirk Westaway Restaurant dan Co-Founder Burnt.id, alumni Manajemen Perhotelan 2011), serta Brian Kennedy (Director Dunia Travel, alumni Usaha Perjalanan Wisata 2017).
Dalam pengantarnya, Dr. Amelda Pramezwary, A. Par., M.M., CHE., selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Perhotelan UPH sekaligus moderator, menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dalam menghadapi dinamika industri yang terus berkembang. Ia juga menegaskan bahwa para pelaku hospitality dan tourism perlu mengadopsi strategi EVOLVE yang selaras dengan tema Hospitour 2026, guna tetap relevan, inovatif, dan berdaya saing di era transformasi industri.
“Perubahan adalah bagian penting dari proses pertumbuhan profesional. Oleh karena itu, akumulasi pengalaman, kedalaman pembelajaran, serta keberanian untuk berinovasi menjadi faktor kunci dalam menjaga relevansi dan daya saing di tengah dinamika perkembangan zaman,” jelasnya.
Leo Satria membuka diskusi dengan menekankan bahwa passion menjadi titik awal dalam membangun karier. Berangkat dari ketertarikan tersebut, ia mengembangkan diri sebagai content creator bidang Culinary yang mampu menangkap peluang di industri hospitality.
“Semua bisa dimulai dari apa yang kita sukai. Namun, di tengah perkembangan digital yang cepat, passion perlu diimbangi dengan kemampuan beradaptasi, kemauan untuk terus belajar, dan menjaga konsistensi dalam setiap proses yang dijalani,” pesan Leo.
Dari perspektif industri perjalanan, Brian Kennedy menyoroti bahwa keterbatasan mobilitas global akibat dinamika geopolitik justru mendorong lahirnya pendekatan baru dalam merancang pengalaman wisata yang lebih dekat, personal, dan relevan dengan kebutuhan wisatawan saat ini.
“Industri pariwisata menuntut kita untuk peka terhadap perubahan kondisi. Kita tidak hanya menjual perjalanan, tetapi menghadirkan pengalaman yang relevan dan bernilai sesuai kebutuhan wisatawan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti berkembangnya tren family-centric travel. Tren perjalanan ini dirancang untuk menciptakan kedekatan dan mempererat hubungan antaranggota keluarga melalui pengalaman berlibur bersama keluarga yang lebih bermakna.
Sementara itu, Andy Gozali menghadirkan perspektif dari praktik profesional di industri kuliner. Ia menekankan bahwa industri ini tidak hanya menuntut kualitas produk, tetapi juga konsistensi dalam membangun identitas diri melalui personal branding.
“Sekarang orang tidak hanya ingin menikmati makanan, tetapi juga mengenal siapa yang ada di balik prosesnya. Di situlah personal branding menjadi elemen penting untuk membangun kepercayaan dan koneksi dengan pelanggan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa komunikasi efektif menjadi kunci dalam lingkungan dapur yang dinamis dan penuh tekanan.
“Kemampuan bekerja dalam tim serta membangun relasi yang baik menjadi faktor krusial dalam mencapai keberhasilan di industri ini,” tambahnya.
Melalui berbagai perspektif tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa keberhasilan di industri hospitality dan pariwisata tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis, tetapi juga pada kesadaran diri, kepekaan melihat peluang, serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Hadirkan Perspektif Industri melalui Guest Lecture
Selain seminar, mahasiswa juga mendapatkan wawasan praktis melalui sesi Guest Lecture bersama para profesional dari berbagai industri hospitality dan pariwisata, di antaranya Agus Sutanto Zed (Corporate Learning & Quality Manager, JHL Collection), Sellyka Nurhalim (Learning & Development Manager, DoubleTree by Hilton Jakarta Diponegoro), Phelia Davita Rusli (Group Operations Excellence Manager, Aryaduta Hotel Group), serta Romario Garcia (Senior Learning & Development Manager, Swissôtel Jakarta PIK Avenue).
Melalui diskusi ini, mahasiswa diajak memahami gambaran nyata tentang dunia kerja, mulai dari pentingnya membangun layanan berbasis pada hubungan antarmanusia hingga kesiapan menghadapi transformasi industri. Para pembicara menekankan bahwa hospitality tidak hanya soal keterampilan teknis, tetapi berakar pada empati, komunikasi, dan pelayanan yang tulus.
Selain itu, sikap kerendahan hati, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus belajar juga menjadi kunci bagi lulusan baru untuk tetap adaptif dan berkembang di tengah perubahan industri yang dinamis.
Menyiapkan Talenta yang Siap Berdampak
HOSPITOUR 2026 menjadi wujud komitmen UPH dalam menjembatani dunia akademik dan industri melalui pengalaman belajar yang kontekstual, relevan, dan aplikatif. Mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dilatih untuk membaca peluang, beradaptasi, dan mengambil keputusan di tengah dinamika industri.
Komitmen ini mencerminkan pendekatan pendidikan holistis UPH yang terintegrasi dengan berbagai program pengembangan diri. Melalui pendekatan tersebut, UPH membentuk mahasiswanya menjadi pemimpin masa depan yang takut akan Tuhan, kompeten, dan berdampak bagi masyarakat.