19/05/2026 Alumni
Keberhasilan seorang lulusan tidak dibentuk secara instan. Dibutuhkan proses panjang yang dari pendidikan holistik yang memadukan pembelajaran akademik, pembentukan karakter, dan pengalaman nyata yang membentuk cara berpikir dan kepemimpinan seseorang. Nilai inilah yang tercermin dari para lulusan terbaik Universitas Pelita Harapan (UPH) dalam Wisuda Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan pada 7–8 Mei 2026 di Grand Chapel UPH, Lippo Village, Karawaci, Tangerang.
Para lulusan dari jenjang Sarjana, Magister, Spesialis, hingga Doktor menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga integritas, kepemimpinan, dan kesiapan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui Student Engagement Program (SEP) Point, UPH juga menghadirkan ruang pengembangan diri yang mendorong mahasiswa mengasah keterampilan, memperluas jejaring, serta membangun kompetensi profesional di luar ruang kelas.
Berikut kisah inspiratif sejumlah lulusan peraih predikat terbaik pada Wisuda UPH Mei 2026.
Prestasi yang Lahir dari Ketekunan
Momen wisuda menjadi pencapaian istimewa bagi Lisa, S.Ak., lulusan Program Studi Akuntansi yang meraih predikat Summa Cum Laude sekaligus IPK tertinggi jenjang Sarjana dengan nilai 3,97.
Bagi Lisa, pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar. Selama kuliah, ia merasakan bahwa pembelajaran di UPH tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pengalaman praktik melalui program magang yang memperkenalkannya langsung pada dunia profesional.
Ke depan, Lisa berencana berkarier di The Big 4 Company atau empat firma jasa profesional terbesar di bidang akuntansi maupun melanjutkan studi magister di luar negeri. Namun lebih dari itu, ia ingin menggunakan pengetahuannya untuk membantu masyarakat melalui layanan akuntansi dan pelaporan keuangan.
“Saya ingin menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk membantu orang lain melalui layanan akuntansi, pelaporan pajak, dan laporan keuangan. Kepada mahasiswa, saya berpesan untuk aktif berorganisasi dan mengikuti magang agar ilmu yang dipelajari benar-benar bisa dipraktikkan,” ucap Lisa.
Teknologi untuk Membawa Dampak
Predikat Summa Cum Laude dengan IPK 4,00 diraih oleh Alexander Panggabean, M.Kom., lulusan Program Magister Informatika. Baginya, pencapaian ini bukan sekadar angka akademik, melainkan refleksi perjalanan iman, pengorbanan, dan proses pembelajaran hidup.
Alexander mengungkapkan, bahwa ia sebenarnya sempat diterima di universitas lain. Namun setelah mengenal visi pendidikan UPH, yakni True Knowledge, Faith in Christ, and Godly Character, ia memutuskan memilih UPH. Baginya, pendidikan bukan hanya tentang menjadi pintar secara akademis, tetapi juga tentang dibentuknya karakter, iman, dan integritas.
Sebagai lulusan dengan konsentrasi Data Science and Artificial Intelligence, Alexander berkomitmen menghadirkan solusi teknologi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Di UPH, kami diajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengejar nilai, tetapi juga bagaimana karakter dan iman kami turut dibentuk. Ilmu tidak akan bermakna tanpa etika dan integritas. Karena itu, saya ingin mengintegrasikan pengetahuan dengan nilai-nilai yang saya pelajari selama di UPH,” katanya.
Menumbuhkan Talenta Riset di Usia Muda
Prestasi serupa juga diraih Gabriel Alvaro, M.Kom., lulusan termuda sekaligus peraih IPK tertinggi Program Magister Informatika dengan nilai 4,00 di usia 23 tahun.
Sejak kecil, Gabriel memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kecintaan pada dunia riset. Ketertarikan tersebut pula yang menjadi alasan utamanya memilih Program Magister Informatika UPH.
“Program Magister Informatika UPH menawarkan program research track. Program ini memberi kesempatan bagi saya untuk meneliti sesuai minat saya. Dukungan terhadap penelitian inilah yang menjadi alasan utama saya memilih UPH,” ungkapnya.
Ke depan, Gabriel berharap riset yang ia lakukan tidak hanya berhenti pada teori, tetapi dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Membangun Diri lewat Kompetisi
Bagi Louise Shania Sabela, S.H., perjalanan mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas. Lulusan Program Sarjana Hukum ini meraih SEP Point tertinggi dengan total 21.895 poin melalui berbagai aktivitas organisasi dan kompetisi.
Sejak awal kuliah, Louise memandang bahwa IPK bukan satu-satunya ukuran keberhasilan mahasiswa. Untuk itu ia aktif mengikuti organisasi serta berbagai kompetisi esai dan karya tulis ilmiah yang menjadi bagian penting dalam pencapaian dan proses pengembangan dirinya. Dengan manajemen waktu yang disiplin, ia mampu menjaga prestasi akademik sekaligus aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri.
“Saya meyakini IPK saja tidak cukup. Masa kuliah adalah waktu terbaik untuk menemukan passion dan memperluas cakrawala pengetahuan,” ucapnya.
Menghadirkan Harapan melalui Radiologi
Di bidang kesehatan, dr. Debora Semeia Takaliuang, Sp.Rad., menorehkan predikat Sangat Memuaskan dengan IPK 3,75 pada Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Radiologi Fakultas Kedokteran (FK) UPH. Keputusannya melanjutkan pendidikan spesialis didorong oleh pesatnya perkembangan radiologi yang menjadi bagian penting dalam layanan kesehatan modern, khususnya saat pandemi COVID-19.
Ia memilih UPH karena sistem pembelajarannya terintegrasi dengan jaringan nasional Rumah Sakit Siloam, yang memberinya pengalaman belajar lebih luas dan relevan dengan kebutuhan dunia medis saat ini.
“Di UPH dan Rumah Sakit Siloam terdapat jaringan Siloam Radiology Indonesia yang mengintegrasikan sekitar 40 rumah sakit di seluruh Indonesia. Sistem seperti ini tidak dimiliki pusat pendidikan lain, dan itu menjadi alasan utama saya memilih UPH dan radiologi sebagai bidang spesialis saya,” jelasnya.
Sebagai dokter yang perannya sering tidak terlihat langsung oleh pasien, dr. Debora memandang bahwa setiap hasil pemeriksaan radiologi bukan sekadar gambar, melainkan informasi penting yang membantu menentukan diagnosis dan penanganan pasien.
“Saya ingin memberikan dampak lebih dari sekadar membaca hasil radiologi. Setiap gambar memiliki ceritanya sendiri, dan interpretasi dari gambar tersebut dapat mengubah kehidupan pasien,” tuturnya.
Pembelajar Sejati hingga Jenjang Doktor
Perjalanan inspiratif juga ditunjukkan oleh Dr. Donny Setiawan, S.H., M.H., lulusan Program Doktor Hukum dengan predikat Magna Cum Laude dan IPK 3,94. Ia mempersembahkan pencapaiannya bagi para pendidik yang terus mendorongnya bangkit dari berbagai kegagalan di masa sekolah.
“Pencapaian ini adalah penghargaan bagi para guru saya sejak TK hingga S3. Saat saya gagal, mereka selalu berkata, ‘Ayo Donny, kamu pasti bisa.’ Semangat itulah yang membawa saya sampai di titik ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Donny menjelaskan bahwa keputusannya melanjutkan studi Doktor di UPH didasari reputasi institusi, kualitas dosen, serta fasilitas pendidikan yang terpercaya. Baginya, keberhasilan menyelesaikan studi doktor tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga iman, disiplin, dan kerendahan hati sebagai pembelajar.
“Mahasiswa doktor tetaplah mahasiswa. Kita perlu terus datang ke kampus, berdiskusi dengan dosen pembimbing dan teman-teman agar semangat penelitian tetap hidup,” katanya.
Seluruh kisah para lulusan ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya dibentuk melalui prestasi akademik, tetapi juga karakter, integritas, dan kepedulian untuk membawa dampak bagi sesama. Melalui pendidikan holistis, kurikulum yang komprehensif, serta berbagai program pengembangan diri, UPH berkomitmen mempersiapkan pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu