NEWS & PUBLICATION

Lima Dekade Mengabdi di Papua: Dr. Wally, Penerima Doktor Kehormatan UPH, Hadirkan Harapan melalui Panggilan Pemerataan Pendidikan

19/05/2026 Pencapaian

Lima Dekade Mengabdi di Papua: Dr. Wally, Penerima Doktor Kehormatan UPH, Hadirkan Harapan melalui Panggilan Pemerataan Pendidikan

Selama hampir lima dekade, Dr. Wallace Wiley atau yang akrab disapa Dr. Wally mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi masyarakat pedalaman Papua. Melalui pelayanan yang konsisten, ia tidak hanya membangun sekolah, tetapi juga menghadirkan harapan bagi generasi muda Papua melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, serta pengembangan sumber daya manusia di wilayah yang sulit dijangkau.

Atas dedikasi tersebut, Universitas Pelita Harapan (UPH) menganugerahkan gelar akademik kehormatan Doktor Honoris Causa (H.C.) di bidang Manajemen kepada Dr. Wally pada Wisuda Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung pada 7 Mei 2026 di Grand Chapel UPH, Lippo Village, Karawaci, Tangerang. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam menjadikan pendidikan sebagai jalan transformasi dan harapan bagi masyarakat Papua.

“Gelar doktor ini bukan hasil kerja saya sendiri, melainkan buah dari kerja sama banyak orang yang telah melayani bersama saya. Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, tetapi menjadi bukti bagaimana Tuhan bekerja melalui kami semua sebagai satu tim,” ujar Dr. Wally.

Dari Dunia Aviasi ke Pelayanan di Papua

Dr. Wally tumbuh sebagai anak misionaris di Meksiko, mengikuti pelayanan kedua orang tuanya bersama Mission Aviation Fellowship (MAF), sebuah organisasi misi internasional yang menggunakan penerbangan untuk menjangkau masyarakat terpencil dan kurang terlayani di berbagai belahan dunia, sekaligus memberitakan Injil. Memasuki masa remaja dan menempuh pendidikan SMA di Amerika Serikat, Dr. Wally sempat menjalani fase pencarian jati diri. Ia mencoba mengejar ukuran kesuksesan yang umum dipandang dunia, yaitu kekayaan, popularitas, dan pencapaian pribadi.

Namun, perjalanan tersebut justru membuatnya menyadari bahwa kepuasan sejati tidak ditemukan dalam ambisi duniawi. Dr. Wally pun melihat teladan hidup ayahnya yang sederhana dalam melayani Tuhan dan dari sanalah ia menemukan arah hidupnya. Pada 1976, Dr. Wally merasakan panggilan yang kuat dan akhirnya turut bergabung dalam pelayanan MAF. Setahun kemudian, pada 1977, ia diutus ke Irian Jaya yang kini dikenal sebagai Papua, Indonesia.

“Dalam perjalanan itu, Tuhan memanggil saya melalui Mission Aviation Fellowship (MAF). Awalnya saya pikir akan kembali ke Meksiko, tetapi saya justru diminta pergi ke Irian Jaya (Papua), tempat yang bahkan belum saya kenal. Saya bersyukur atas panggilan itu,” kenangnya.

Selama melayani di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, perannya terus berkembang. Ia memulai sebagai manajer konstruksi, kemudian dipercaya menjadi manajer basis, manajer program, manajer regional MAF Indonesia, hingga akhirnya menjabat sebagai Chief Advisor MAF Indonesia.

Dengan latar belakang keahlian di bidang konstruksi, tugas awalnya adalah membangun hanggar pesawat dan berbagai fasilitas pendukung pelayanan penerbangan. Namun dalam perjalanannya, Dr. Wally melihat persoalan yang jauh lebih mendasar. Ia merasa prihatin karena MAF hampir tidak pernah dapat merekrut pilot maupun mekanik pesawat dari masyarakat asli Papua.

Setelah ditelusuri lebih dalam, ia menyadari bahwa masalahnya bukan terletak pada kemampuan anak-anak Papua, melainkan pada keterbatasan akses pendidikan. Banyak anak putus sekolah karena tidak tersedia guru, bahkan di beberapa tempat tidak ada bangunan sekolah sama sekali. Kesadaran itulah yang kemudian mengubah arah pelayanannya dengan memberi perhatian lebih besar pada pengembangan pendidikan dan layanan kesehatan di Papua.

Dari Krisis Kemanusiaan hingga Lahirnya Sekolah Papua Harapan

Perjalanan pelayanan Dr. Wally di Papua terus berlanjut. Hingga pada 1997, Papua mengalami kemarau panjang yang memicu bencana kelaparan di berbagai wilayah pedalaman. Di tengah upaya penyaluran bantuan kemanusiaan, Dr. Wally bertemu dengan dua pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), yaitu Dr. (H.C.) James T. Riady dan almarhum Dr. (H.C.) Johannes Oentoro, Ph.D.

Dalam sebuah percakapan sederhana di tengah pelayanan tersebut, keduanya bertanya kepada Dr. Wally apa kebutuhan terbesar masyarakat Papua. Tanpa ragu Dr. Wally pun menjawab bahwa selain Injil, kebutuhan paling mendasar adalah pendidikan. Percakapan sederhana itu kemudian menjadi titik awal lahirnya visi menghadirkan pendidikan Kristen bagi anak-anak Papua.

Untuk mewujudkan visi tersebut, pada 2003, Dr. Wally bersama Dr. James dan almarhum Dr. Johannes Oentoro mendirikan Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHP) sebagai wadah resmi pengembangan Sekolah Papua Harapan. Dengan dukungan berbagai pihak, termasuk YPPH, Sekolah Papua Harapan resmi dimulai pada 2008 di Sentani. Sekolah ini diawali dengan delapan siswa pertama yang berasal dari daerah pedalaman Pogapa, Kabupaten Intan Jaya. Para guru pertama juga diutus dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) atau Teacher College UPH membawa visi pendidikan yang tidak hanya menekankan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, sikap, dan nilai-nilai Kristiani.

Kini, Sekolah Papua Harapan telah berkembang menjadi lebih dari 17 sekolah dari jenjang TK hingga SMA di berbagai wilayah pedalaman Papua dan melayani ratusan siswa. Pelayanan ini didukung oleh berbagai pihak, mulai dari MAF, pemerintah, donatur, hingga orang tua siswa. Namun bagi Dr. Wally, tujuan utamanya bukan sekadar membangun sekolah, melainkan menghadirkan pendidikan dan layanan kesehatan yang mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat Papua.

“Saya tidak bisa membayangkan hidup yang lebih baik selain menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan membiarkan Dia memakai hidup saya sesuai kehendak-Nya. Saya bahkan tidak berencana pensiun sampai Tuhan memanggil saya pulang,” katanya.

Buah Pendidikan yang Nyata hingga Komitmen Menjadi WNI

Bagi Dr. Wally, keberhasilan pendidikan tidak diukur melalui angka statistik, melainkan dari perubahan nyata dalam kehidupan seseorang. Setiap anak yang memperoleh kesempatan belajar, menurutnya, adalah harapan baru bagi masa depan Papua.

Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika seorang siswa dari desa terpencil yang dahulu mereka layani kini bersiap menyelesaikan pendidikan sebagai dokter. Bagi Dr. Wally, hal tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana pendidikan dapat membuka masa depan dan membawa perubahan lintas generasi.

“Bulan depan, salah satu siswa kami dari desa yang sangat terpencil akan lulus menjadi dokter. Bagi saya, itulah gambaran nyata dari harapan kami yaitu melihat orang Papua mendapat pendidikan yang baik dan memakai talenta mereka untuk kemuliaan Tuhan,” katanya.

Dedikasinya terhadap Papua juga tercermin ketika pada 2019 ia resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Keputusan tersebut bukan sekadar langkah administratif, melainkan bentuk komitmen untuk terus melayani tanah yang telah menjadi rumahnya selama puluhan tahun.

“Saya tahu Tuhan memanggil saya ke Papua. Seiring bertambahnya usia, semakin sulit bagi saya mendapatkan visa untuk tinggal. Karena itu, menjadi warga negara Indonesia adalah jalan terbaik agar saya bisa terus melakukan panggilan yang Tuhan percayakan kepada saya,” ucap Dr. Wally.

Mimpi bagi Masa Depan Papua

Meski telah melayani hampir setengah abad, perhatian Dr. Wally tetap tertuju pada masa depan Papua. Ia berharap generasi muda Papua mampu maju melalui pendidikan dan mengelola kekayaan alam daerahnya secara bijaksana.

“Mimpi saya adalah melihat orang Papua terdidik dan mampu mengelola sumber daya yang Tuhan berikan bagi kemuliaan-Nya. Saya percaya Papua dapat menjadi terang bagi dunia,” katanya.

Kepada generasi muda, ia berpesan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam pencapaian duniawi semata, melainkan melalui hidup yang memiliki tujuan untuk melayani.

“Hidup yang sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan adalah hidup yang benar-benar memuaskan. Dunia menawarkan banyak hal yang terlihat membahagiakan, tetapi sukacita sejati datang ketika kita membiarkan Tuhan memakai hidup dan talenta untuk melayani,” pesannya.

Kisah hidup Dr. Wally menunjukkan bahwa gelar Doktor Kehormatan bukanlah tujuan akhir, melainkan pengingat akan penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan pelayanannya. Selama hampir lima dekade di Kabupaten Jayapura, ia tidak hanya membangun sekolah, tetapi juga menumbuhkan harapan bahwa pendidikan mampu membuka masa depan dan menghadirkan perubahan nyata bagi generasi muda Papua. Semangat pengabdian ini sejalan dengan komitmen UPH dalam melahirkan pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan mampu berdampak bagi bangsa.

————————
Corporate Communications Universitas Pelita Harapan
corporate.communication@uph.edu